Friday, March 28

[Remake] Sacrificio de Amor Chapter XVIII


Boa langsung memeluk Jaejoong. Matanya sendiri berkaca-kaca melihat penderitaan Jaejoong.
"Apakah...kau mencintainya, Jae?" tanya boa hati-hati.
Jaejoong langsung tersentak, menatap Boa dengan pandangan nanar.
"Mwo...? Itu...Itu tidak mungkin...."
"Jae, mungkin kau tidak menyadarinya, tapi kebersamaan kalian selama ini mungkin saja menumbuhkan sesuatu yang dalam di antara kalian..." boa menatap Jaejoong lembut, "Dan kau...Tidak mungkin menangis semenderita ini jika kau tidak punya perasaan apa-apa kepada Yunho, sayang."
Jaejoong hanya termangu. Air matanya masih mengalir, hatinya sakit sekali. Dan memang benar, penghinaan dan perlakuan kasar Yunho telah menyakitinya lebih daripada yang seharusnya. Tapi Jaejoong tidak mau memikirkan kemungkinan apapun. Dia tidak mau, dan tidak bisa. Ada Changmin di sisinya bukan?
Boa mendesah melihat kediaman Jaejoong.
"Yah, setidaknya, suatu saat ketika Yunho menyadari kesalahannya, dia akan menyesal dan kuharap aku ada di sana ketika dia memohon maaf padamu."

Sacrificio de Amor
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy Agatha
Boa benar, Yunho memang menyesal. Tidak perlu waktu lama, hanya selang satu jam dari kepergian Jaejoong.
"Aku mau menemuimu disini hanya demi Junsu," gumam Yunho dingin, suasana hatinya benar-benar buruk saat ini.
Ketika sekertarisnya menelepon dan memberitahu bahwa Junsu dan Yoochun ada di ruangan depan, ingin bertemu dengannya, Yunho hampir saja mengamuk seketika itu juga. Dia sudah menegaskan pada sekertarisnya bahwa dia sedang tidak ingin diganggu. Tetapi Junsu memaksa, dan seperti biasanya, paksaannya berhasil.
"Kami harus memberitahumu sesuatu yang penting." gumam Junsu penuh tekad, tidak peduli akan tatapan membunuh yang berkali-kali dihujamkan Yunho kepada Yoochun yang hanya duduk diam tanpa suara di belakangnya.
"Yun," Junsu mencoba menarik perhatian Yunho yang terus menerus mempelototi Yoochun. "Ada suatu fakta penting tentang Jaejoong yang harus kau ketahui."
Yunho langsung tertarik. Fakta apa lagi? Sebuah kebohongan lagi yang belum diceritakan kepadanya? Sebuah kepalsuan lagi yang akan menyulut kemarahannya?
Dia diam dan menunggu, bersiap-siap untuk meledak lagi, kepalanya terasa berdenyut dan mulai nyeri.
"Yunho..." Junsu mengernyit cemas ketika melihat Yunho tampak kesakitan, "Gwenchana?"
"Nan Gwenchana! Cepat selesaikan yang ingin kau katakan, dan bawa dia pergi dari ruangan ini!" Yunho bahkan tidak mau repot-repot menyebut nama Yoochun.
Junsu menarik napas panjang.
"Kau...Kita...Mengambil kesimpulan yang salah tentang Jaejoong." dengan cepat Junsu membentangkan artikel itu di meja Yunho, "Baca ini."
Yunho melirik artikel itu, semuala tidak tertarik, tetapi kemudian mengenali gambar di artikel itu sebagai Jaejoong, lebih muda beberapa tahun, tapi dia tak mungkin salah.
"Apa yang.........Oh Tuhan!" baru separuh artikel yang dibacanya, tetapi dia pucat pasi. Dengan gemetar dia membaca artikel itu. Membacanya berulang-ulang kemudian, mencoba mencari kesalahan. Tapi kebenaran yang tertulis di sana tak terbantahkan lagi.
"Gurae Yun, keluarga Jaejoong, kedua orangtuanya terenggut pada kecelakaan yang sama di jalan tol, kecelakaan yang sama yang menewaskan Enhyuk", mata Junsu berkaca-kaca ketika kenangan itu kembali.
"Oh Tuhan!" Yunho berpegangan pada meja untuk menopang tubuhnya, Ini sebabnya Jaejoong selama ini sebatang kara dan sendirian?
"Kedua orang tua saya sudah meninggal dunia, saya hidup sendirian" itu jawaban Jaejoong waktu yeoja itu terpaksa menumpang mobilnya di pagi yang hujan.
Lalu uang tiga puluh juta dan hutangnya di perusahaan itu..... Sekali lagi Yunho mengernyit.
"Tunangannya, Changmin, masih terbaring koma sejak kecelakaan itu. Jaejoong berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya. Hutang-hutangnya di rumah sakit mungkin untuk membiayai biaya perawatan Changmin, dan hutangnya kepadamu mungkin karena yeoja itu putus asa," Junsu memandang Yunho, dan tiba-tiba merasa kasihan, Yunho tampak hancur berkeping-keping,
"Aku menelepon rumah sakit tempat Changmin dirawat Yunho, Changmin saat itu harus menjalani operasi pengangkatan ginjal karena salah satu ginjalnya rusak akibat obat-obatan yang terus menerus.......biaya operasi itu sangat mahal, hampir mencapai tiga puluh juta won...Mungkin itu alasan Jaejoong menjual dirinya padamu, yeoja itu putus asa."
Yunho memejamkan matanya, mengingat hari dimana Jaejoong membuat penawaran gila itu padanya. Bagaimana mungkin dia dulu tak menyadarinya? Waktu itu Jaejoong memang terlihat putus asa, panik dan putus asa.
"Yoochun bercerita bahwa Jaejoong hilang seharian di hari minggu dan kalian mencarinya kemana-mana," Junsu mengedikkan bahunya pada Yoochun yang hanya diam dan menundukkan kepalanya, "Itu hari di mana operasi Changmin dilaksanakan."
Sebuah hantaman lagi yang menerjang Yunho. Dia mengernyit, rasanya berat sekali ketika dia sudah berpegang teguh pada suatu keyakinan bergitu lama tapi kemudian dihancurkan begitu saja.
Jaejoong yeoja baik-baik. Dia bukan yeoja bermoral rendah seperti dugaannya selama ini. Pantas saja waktu itu dia masih perawan. Keperawanan yang seharusnya untuk tunangan yang dicintainya dikorbankannya. Yunho langsung disengat rasa cemburu yang tajam. Jaejoong pasti begitu mencintai tunangannya kalau sampai berjuang mati-matian seperti itu.
"Kecelakaan itu terjadi hanya beberapa hari sebelum pernikahan mereka Yunho," Junsu menoleh secara terang-terangan kepada Yoochun, "Biarkan Yoochun yang menjelaskan sisanya kepadamu."
Yunho menoleh kepada Yoochun dengan muram, masih terbayang adegan ciuman waktu itu di matanya. Dan kemarahannya langsung membara, kalau begitu kenapa Jaejoong ada di pelukan Yoochun dan Yoochun bilang Jaejoong rela menjual diri padanya?
"Waktu itu semua sudah kurencanakan, hyung," gumam Yoochun pelan seolah bisa membaca pikiran Yunho, lalu mengernyit ketika menerima tatapan menusuk itu lagi,
"Aku.... Waktu aku mendampingimu mencari Jaejoong yang menghilang waktu itu, aku melihat betapa emosionalnya dirimu, itu menggangguku karena kau berubah, tidak seperti biasanya, aku berpikir Jaejoong telah menimbulkan pengaruh buruk padamu.....Jadi aku mengambil keputusan.....aku merekayasa semuanya.....Ciuman itu adalah paksaan dariku....Jaejoong sama sekali tidak sukarela, dia menolakku sekuat tenaga. Dia memanggil namamu..."
Yunho langsung merangsek maju dengan marah, tanpa diduga. Langsung meraih kerah kemeja Yoochun. Tak peduli tubuh Yoochun yang memar dan lebam akan kesakitan menerima sentuhan seringan apapun.
"Brengsek kau Yoochun!!! Brengsek kau!!! Aku mempercayaimu!!" Yunho menggeram di antara ke dua giginya,
"Kau tahu malam itu aku memperlakukannya sebagi pelacur rendahan??! Aku memperkosanya!!!!"
"Yun, tenanglah dulu", gumam Junsu hati-hati, berusaha membuat Yunho melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Yoochun,
"Kau menyakiti Yoochun, tidakkah kau sadar kau sudah cukup menyakitinya kemarin? Lepaskan dia Yunho", bujuknya lembut.
Yunho bergeming, sejenak seolah-olah akan menghajar Yoochun, tapi kemudian dia melepaskan namja itu dengan kasar.
"Harusnya kubunuh saja kau sekalian!", desisnya geram sambil mengacak rambutnya,
Lalu sebuah pertanyaan merasuk di benaknya.
"Kenapa harus Jaejoong yang menanggung seluruh biaya perawatan Changmin? Kenapa bukan keluarga Changmin?"
"Changmin tidak punya keluarga." Yoochun yang menyahut setelah berhasil meredakan napasnya yang terengah karena perlakuan kasar Yunho tadi, "Dia pengacara juga, kebetulan aku mengenalnya",
suaranya tertelan melihat tatapan bermusuhan Yunho, tapi dia bertekad melanjutkan, " Sebenarnya aku  tidak begitu mengenalnya, tetapi Changmin cukup terkenal di kalangan profesi kami karena reputasi baiknya, aku... Eh... Melakukan penyelidikan singkat tadi dan mendapati bahwa Changmin dibesarkan di panti asuhan, dia sebatang kara....karena itulah kabar setelah kecelakaan yang menimpanya menjadi simpang siur, dia menghilang begitu saja dan gosip yang beredar mengatakan  Changmin sudah meninggal, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya Changmin masih hidup dan ada dalam kondisi koma",
Yoochun menatap Yunho sungguh-sungguh, "Aku menyesal dan aku meminta maaf Yunho. Aku memang bodoh dan gegabah, aku juga menyesal setengah mati"
Yunho tercenung. Lama tidak mengatakan apa-apa. Sejenak ruangan itu begitu hening.
"Yunho, mungkin lebih baik kita melepaskan Jaejoong, sudah cukup berat beban yang dia tanggung," gumam Junsu pelan memecah keheningan. Lalu dia berubah ragu-ragu dan berhati-hati dengan reaksi Yunho, "mengenai hutang-hutang Jaejoong baik kepadamu dan kepada perusahaan, aku bersedia menggantinya."
"Shirro."
"Shirro?" Junsu mengernyit mendengar gumaman pelan Yunho itu.
"Aku tidak akan melepaskan Jaejoong. Aku tidak peduli dengan uang itu. Aku tidak akan pernah membiarkannya pergi."
"Yunho!!", Junsu mengernyit jengkel.
"Hentikan! Kau tidak tahu betapa banyak penderitaan yang ditanggung Jaejoong selama ini! tidak bisakah kita biarkan dia tenang bersama tunangannya? Lagipula kau bisa mencari yeoja lain untuk memuaskanmu bukan? Kau bisa mendapatkan pengganti Jaejoong dalam beberapa menit!"
Yunho mengusap wajahnya, tampak begitu menderita,
"Aku tidak bisa Su." erangnya parau.
Mata Junsu melebar melihat ekspresi Yunho, tidak pernah sebelumnya Junsu melihat Yunho begitu penuh emosi. Apakah ini berarti Yunho benar-benar mencintai Jaejoong?
"Dia punya tunangan Yun, jangan lupa, semua yang dilakukannya adalah demi menyelamatkan Changmin."
Kebenaran itu menyakiti hati Yunho, sengatan cemburu itu kembali melukainya.
"Kalau begitu aku akan membuatnya memilihku," mata Yunho penuh tekad, "Dimana alamat rumah sakitnya?"
.
.
.
.
"Dimana ruangan tempat perawatan Shim Changmin?" Yunho berdiri di depan resepsionis.
Resepsionis itu mendongak dan ternganga. Terpesona melihat penampilan dan ketampanan Yunho.
"Ruangan perawatan Shim Changmin?" Yunho mengulang jengkel karena resepsionis itu hanya menatapnya seperti orang bodoh.
"Oh....Untuk Changmin...Anda...Anda mungkin harus menemui suster Boa dulu, beliau suster kepala penanggung jawabnya."
"Oddiesoyo?" gumam Yunho tak sabar.
"Lantai tiga, ruangan perawat nomor dua."
Tanpa basa-basi Yunho meninggalkan resepsionis yang masih ternganga itu.
Pintu itu tertutup rapat dan Yunho mengetukknya.
"Masuk" sebuah suara yang tegas terdengar dari dalam.
Yunho masuk dan langsung berhadapan dengan Boa.
Boa langsung menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. Dia tidak mungkin salah mengenali.
Penggambaran Jaejoong sangat akurat. Namja ini memang benar-benar luar biasa tampan dengan keangkuhan yang sudah seperti satu paket dengan auranya.
"Apakah anda akhirnya berhasil menemukan kebenaran?" gumam Boa langsung tanpa basa-basi.
Yunho mengernyit mendengar sapaan pertama Boa yang sama sekali tidak diduganya. Tapi dia lalu teringat telelepon di tengah malam yang tanpa sengaja dia angkat. Penelepon itu mengatakan dirinya adalah Boa...
"Ne," Yunho mengakuinya pelan, "Anda sudah tahu semuanya?"
"Semuanya, dan pertama, sebelum anda menghina Jaejoong lagi. Saya akan jelaskan kepada anda, semalam Jaejoong datang kepada saya, dengan kondisi mengenaskan. Mental dan fisik yang rapuh, dan dia bilang ingin melepaskan diri dari anda, menurut saya itu wajar mengingat perlakuan anda padanya,"
Boa menatap Yunho dengan pandangan mencela yang terang-terangan hingga wajah Yunho merona, "Uang yang dia pakai untuk melunasi anda, itu adalah uang pinjaman dari saya dan beberapa staff rumah sakit lain, bukan uang hasil menjual dirinya kepada namja lain seperti apa yang anda tuduhkan kepadanya tadi pagi."
Sebuah kebenaran lagi. Lebih keras daripada tamparan di pipi, lidah Yunho terasa kelu.
"Saya ingin bertemu Jaejoong" gumam Yunho akhirnya.
Boa mengangkat alisnya.
"Untuk apa? Ketika hubungan hutang piutang itu lunas. Tidak ada lagi perlunya kalian bertemu, lagi pula saya tidak yakin Jaejoong bersedia menemui anda."
"Tidak ada hubungannya dengan uang! Saya tidak peduli dengan uang!!!" Yunho hampir berteriak, lalu berdehem berusaha meredekan emosinya, "Saya harus bertemu dengan Jaejoong, meminta maaf, saya tahu selama ini saya salah...."
"Anda bisa menyampaikan permintaan maaf anda melalui saya" sela Boa tegas.
Yunho mengernyit,
"Jebal.....Saya harus bertemu dengan Jaejoong, saya butuh bertemu dengan Jaejoong."
Boa mengamati namja yang berdiri di hadapannya. Namja ini terlalu tampan, terlalu kaya sehingga wajar dia tampak begitu arogan. Tapi sekarang Yunho tampak begitu menderita, Boa yakin Yunho, dalam hidupnya tak pernah sekalipun memohon, tapi sekarang dia rela memohon agar bisa bertemu Jaejoong.
Boa menarik napas, ketika sebuah kesimpulan muncul di benaknya.
Namja musang ini sedang jatuh cinta.
Yunho mencintai Jaejoong
Bagaimana mungkin dia menolak permintaan Yunho? Kalau saja Yunho hanya namja sombong yang menginginkan bayaran setimpal atas apa yang diberikannya kepada Jaejoong, Boa akan mengusirnya tanpa ragu. Tapi Yunho yang ada di depannya ini tampak begitu kesakitan menanggung rasa bersalah, tampak remuk redam di dera perasaannya sendiri. Namja ini sama menderitanya dengan Jaejoong. Bagaimana mungkin Boa tega mengusirnya?
"Keunde, jangan menyakiti Jaejoong lagi jika kalian bertemu nanti, jangan memaksanya....." mata Boa melembut membayangkan Jaejoong, "sudah cukup beban yang ditanggung anak itu."
"Saya berjanji." Yunho menjawab yakin.
Sekilas Boa mencuri pandang ke arah Yunho. Dan tersenyum ketika mendapati ekspresi Yunho ikut melembut karena membayangkan Jaejoong.
Ah Jaejoong, Namja ini benar-benar sedang jatuh cinta.......
.
.
.
.
.
To Be Continue
Berhubung banyak yang ketagihan, akhirnya Saki memutuskan untuk menambahi 1 Chapter lagi hari ini... Saki suka kalau banyak yang review, meski ini bukan cerita milik Saki, tapi Saki berasa ada yang nunggu cerita dari Saki.
Nah lo, si Yun udah ketahuan cintanya ke Jae, apakah Jae akan memaafkannya???
Tunggu chapter selanjutnya.
Saki pasti lanjutin kok. karena Sacrificio tinggal 9 chapter lagi, makanya Saki munculin MAZE, ada yang tahu arti dari MAZE?

9 comments:

  1. ternyata Yun lebih tenang dari yg aq kira.
    tinggal Jae nih yg msih bingung ma perasaannya.
    semoga Jae maafin Yun dan nerima(?) Yun lgi

    bener2 nih penasaran gmn klo Min dah sadar
    semoga dia bisa ngertiin Jae

    semangat apdetnya Saki
    dan meskipun ini ff remake, tapi kmu hebat bisa dapet cerita yg bagus dan bisa kmu jadiin versi YJ

    oya,,,maze itu klo gk salah semacem 'membingungkan/simpang siur' klo hangulnya tuh 'miro' hmmmmm (mirotic) lol

    fighting !!!!!!

    ReplyDelete
  2. Jaenna ♥12:19 AM

    Maze dlm bhs jepang.. aku ga tau.. hahah
    Iya bnr2 letagiahan snm ff ini.. daebak saki.. update 3 chapter...hohohp.. kumawwo ne.. #deepbow..

    Bgmnkah pertemuan yunjae? Pertama kalinya yunho akan melihat changmin? Apa yg akan yunho lakukan selanjutnya?

    Banyak pertannyaan..huaaaa.. pengantar tidur yg so sweet.. yuk Saki bubuk dl.. biar bsk lbh seger.. weekend update lg nehhh.. yg puanjanggg

    ReplyDelete
  3. Ternyata tebakan aku salah kirain yosu yang ngasih uang ke jae
    ternyata boa .. Knapa ga dari dulu aja ...

    Si jung tetep ga mau mundur
    segitu cinta nya ama jae
    ga peduli sama semua penderitaan jae selama ini
    yun tetep ga mau ngelepasin jae

    changmin kapan bangunnya ???
    Lanjuttt saki ^__^
    Fighting

    ReplyDelete
  4. Aq yg udh baca bolak balik dg versi beda pun g prnh bosen sm nih cerita

    ReplyDelete
  5. Anonymous6:32 AM

    Yunppa udah terperangkap cinta jaeumma....

    Skrg tinggal meyakinkan jae apa dy sma kya perasaan'y yunppa

    Sakii up date kilat yaaaaa ^0^

    ReplyDelete
  6. Akhirnya yunho tau kebenaran yg sesungguhnya. Sampe nangis lit yunho begitu menderita mengetahui kebenaran ini. Nggak sabar liat jaejoong jg menyadari perasaannya

    ReplyDelete
  7. jaejae2:23 PM

    ye,, kau telah menyakiti umma terlalu dlam jung,, ku kebiri kau nanti,,
    berdoalah umma mau maafin kamu,,

    ReplyDelete
  8. Anonymous11:11 PM

    Damn! I love Saki. wkwk ffnya juga, berkualitas, bagus, yunjae, gs pula. Aku padamu, saki!! hahaha :D
    #retno ;)

    ReplyDelete
  9. Nah lho!!
    Yoochun harus tanggung jwb tuh...
    Kira2 Jaejae mau ga ya ketemu sama Yunho?

    ReplyDelete