Boa langsung memeluk Jaejoong. Matanya sendiri berkaca-kaca melihat penderitaan Jaejoong.
"Apakah...kau mencintainya, Jae?" tanya
boa hati-hati.
Jaejoong langsung tersentak, menatap Boa dengan
pandangan nanar.
"Mwo...? Itu...Itu tidak mungkin...."
"Jae, mungkin kau tidak menyadarinya, tapi
kebersamaan kalian selama ini mungkin saja menumbuhkan sesuatu yang dalam di
antara kalian..." boa menatap Jaejoong lembut, "Dan kau...Tidak
mungkin menangis semenderita ini jika kau tidak punya perasaan apa-apa kepada
Yunho, sayang."
Jaejoong hanya termangu. Air matanya masih
mengalir, hatinya sakit sekali. Dan memang benar, penghinaan dan perlakuan
kasar Yunho telah menyakitinya lebih daripada yang seharusnya. Tapi Jaejoong
tidak mau memikirkan kemungkinan apapun. Dia tidak mau, dan tidak bisa. Ada
Changmin di sisinya bukan?
Boa mendesah melihat kediaman Jaejoong.
"Yah, setidaknya, suatu saat ketika Yunho
menyadari kesalahannya, dia akan menyesal dan kuharap aku ada di sana ketika
dia memohon maaf padamu."
Sacrificio de Amor
©Kitahara
Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their
Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy
Agatha
Boa benar, Yunho memang menyesal. Tidak perlu waktu
lama, hanya selang satu jam dari kepergian Jaejoong.
"Aku mau menemuimu disini hanya demi Junsu,"
gumam Yunho dingin, suasana hatinya benar-benar buruk saat ini.
Ketika sekertarisnya menelepon dan memberitahu
bahwa Junsu dan Yoochun ada di ruangan depan, ingin bertemu dengannya, Yunho
hampir saja mengamuk seketika itu juga. Dia sudah menegaskan pada sekertarisnya
bahwa dia sedang tidak ingin diganggu. Tetapi Junsu memaksa, dan seperti
biasanya, paksaannya berhasil.
"Kami harus memberitahumu sesuatu yang
penting." gumam Junsu penuh tekad, tidak peduli akan tatapan membunuh yang
berkali-kali dihujamkan Yunho kepada Yoochun yang hanya duduk diam tanpa suara
di belakangnya.
"Yun," Junsu mencoba menarik perhatian
Yunho yang terus menerus mempelototi Yoochun. "Ada suatu fakta penting
tentang Jaejoong yang harus kau ketahui."
Yunho langsung tertarik. Fakta apa lagi? Sebuah
kebohongan lagi yang belum diceritakan kepadanya? Sebuah kepalsuan lagi yang
akan menyulut kemarahannya?
Dia diam dan menunggu, bersiap-siap untuk meledak
lagi, kepalanya terasa berdenyut dan mulai nyeri.
"Yunho..." Junsu mengernyit cemas ketika
melihat Yunho tampak kesakitan, "Gwenchana?"
"Nan Gwenchana! Cepat selesaikan yang ingin
kau katakan, dan bawa dia pergi dari ruangan ini!" Yunho bahkan tidak mau
repot-repot menyebut nama Yoochun.
Junsu menarik napas panjang.
"Kau...Kita...Mengambil kesimpulan yang salah
tentang Jaejoong." dengan cepat Junsu membentangkan artikel itu di meja
Yunho, "Baca ini."
Yunho melirik artikel itu, semuala tidak tertarik,
tetapi kemudian mengenali gambar di artikel itu sebagai Jaejoong, lebih muda
beberapa tahun, tapi dia tak mungkin salah.
"Apa yang.........Oh Tuhan!" baru separuh
artikel yang dibacanya, tetapi dia pucat pasi. Dengan gemetar dia membaca
artikel itu. Membacanya berulang-ulang kemudian, mencoba mencari kesalahan.
Tapi kebenaran yang tertulis di sana tak terbantahkan lagi.
"Gurae Yun, keluarga Jaejoong, kedua
orangtuanya terenggut pada kecelakaan yang sama di jalan tol, kecelakaan yang
sama yang menewaskan Enhyuk", mata Junsu berkaca-kaca ketika kenangan itu
kembali.
"Oh Tuhan!" Yunho berpegangan pada meja
untuk menopang tubuhnya, Ini sebabnya Jaejoong selama ini sebatang kara dan
sendirian?
"Kedua
orang tua saya sudah meninggal dunia, saya hidup sendirian" itu
jawaban Jaejoong waktu yeoja itu terpaksa menumpang mobilnya di pagi yang
hujan.
Lalu uang tiga puluh juta dan hutangnya di
perusahaan itu..... Sekali lagi Yunho mengernyit.
"Tunangannya, Changmin, masih terbaring koma
sejak kecelakaan itu. Jaejoong berjuang mati-matian untuk mempertahankan
hidupnya. Hutang-hutangnya di rumah sakit mungkin untuk membiayai biaya
perawatan Changmin, dan hutangnya kepadamu mungkin karena yeoja itu putus
asa," Junsu memandang Yunho, dan tiba-tiba merasa kasihan, Yunho tampak
hancur berkeping-keping,
"Aku menelepon rumah sakit tempat Changmin
dirawat Yunho, Changmin saat itu harus menjalani operasi pengangkatan ginjal
karena salah satu ginjalnya rusak akibat obat-obatan yang terus
menerus.......biaya operasi itu sangat mahal, hampir mencapai tiga puluh juta
won...Mungkin itu alasan Jaejoong menjual dirinya padamu, yeoja itu putus
asa."
Yunho memejamkan matanya, mengingat hari dimana
Jaejoong membuat penawaran gila itu padanya. Bagaimana mungkin dia dulu tak
menyadarinya? Waktu itu Jaejoong memang terlihat putus asa, panik dan putus
asa.
"Yoochun bercerita bahwa Jaejoong hilang
seharian di hari minggu dan kalian mencarinya kemana-mana," Junsu
mengedikkan bahunya pada Yoochun yang hanya diam dan menundukkan kepalanya,
"Itu hari di mana operasi Changmin dilaksanakan."
Sebuah hantaman lagi yang menerjang Yunho. Dia
mengernyit, rasanya berat sekali ketika dia sudah berpegang teguh pada suatu
keyakinan bergitu lama tapi kemudian dihancurkan begitu saja.
Jaejoong yeoja baik-baik. Dia bukan yeoja bermoral
rendah seperti dugaannya selama ini. Pantas saja waktu itu dia masih perawan. Keperawanan
yang seharusnya untuk tunangan yang dicintainya dikorbankannya. Yunho langsung
disengat rasa cemburu yang tajam. Jaejoong pasti begitu mencintai tunangannya
kalau sampai berjuang mati-matian seperti itu.
"Kecelakaan itu terjadi hanya beberapa hari
sebelum pernikahan mereka Yunho," Junsu menoleh secara terang-terangan
kepada Yoochun, "Biarkan Yoochun yang menjelaskan sisanya kepadamu."
Yunho menoleh kepada Yoochun dengan muram, masih
terbayang adegan ciuman waktu itu di matanya. Dan kemarahannya langsung
membara, kalau begitu kenapa Jaejoong ada di pelukan Yoochun dan Yoochun bilang
Jaejoong rela menjual diri padanya?
"Waktu itu semua sudah kurencanakan, hyung,"
gumam Yoochun pelan seolah bisa membaca pikiran Yunho, lalu mengernyit ketika
menerima tatapan menusuk itu lagi,
"Aku.... Waktu aku mendampingimu mencari
Jaejoong yang menghilang waktu itu, aku melihat betapa emosionalnya dirimu, itu
menggangguku karena kau berubah, tidak seperti biasanya, aku berpikir Jaejoong
telah menimbulkan pengaruh buruk padamu.....Jadi aku mengambil
keputusan.....aku merekayasa semuanya.....Ciuman itu adalah paksaan
dariku....Jaejoong sama sekali tidak sukarela, dia menolakku sekuat tenaga. Dia
memanggil namamu..."
Yunho langsung merangsek maju dengan marah, tanpa
diduga. Langsung meraih kerah kemeja Yoochun. Tak peduli tubuh Yoochun yang
memar dan lebam akan kesakitan menerima sentuhan seringan apapun.
"Brengsek kau Yoochun!!! Brengsek kau!!! Aku
mempercayaimu!!" Yunho menggeram di antara ke dua giginya,
"Kau tahu malam itu aku memperlakukannya
sebagi pelacur rendahan??! Aku memperkosanya!!!!"
"Yun, tenanglah dulu", gumam Junsu
hati-hati, berusaha membuat Yunho melepaskan cengkeramannya dari kerah baju
Yoochun,
"Kau menyakiti Yoochun, tidakkah kau sadar kau
sudah cukup menyakitinya kemarin? Lepaskan dia Yunho", bujuknya lembut.
Yunho bergeming, sejenak seolah-olah akan menghajar
Yoochun, tapi kemudian dia melepaskan namja itu dengan kasar.
"Harusnya kubunuh saja kau sekalian!",
desisnya geram sambil mengacak rambutnya,
Lalu sebuah pertanyaan merasuk di benaknya.
"Kenapa harus Jaejoong yang menanggung seluruh
biaya perawatan Changmin? Kenapa bukan keluarga Changmin?"
"Changmin tidak punya keluarga." Yoochun
yang menyahut setelah berhasil meredakan napasnya yang terengah karena
perlakuan kasar Yunho tadi, "Dia pengacara juga, kebetulan aku
mengenalnya",
suaranya tertelan melihat tatapan bermusuhan Yunho,
tapi dia bertekad melanjutkan, " Sebenarnya aku tidak begitu mengenalnya, tetapi Changmin
cukup terkenal di kalangan profesi kami karena reputasi baiknya, aku... Eh...
Melakukan penyelidikan singkat tadi dan mendapati bahwa Changmin dibesarkan di
panti asuhan, dia sebatang kara....karena itulah kabar setelah kecelakaan yang
menimpanya menjadi simpang siur, dia menghilang begitu saja dan gosip yang
beredar mengatakan Changmin sudah
meninggal, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya Changmin masih hidup dan ada
dalam kondisi koma",
Yoochun menatap Yunho sungguh-sungguh, "Aku
menyesal dan aku meminta maaf Yunho. Aku memang bodoh dan gegabah, aku juga
menyesal setengah mati"
Yunho tercenung. Lama tidak mengatakan apa-apa.
Sejenak ruangan itu begitu hening.
"Yunho, mungkin lebih baik kita melepaskan
Jaejoong, sudah cukup berat beban yang dia tanggung," gumam Junsu pelan
memecah keheningan. Lalu dia berubah ragu-ragu dan berhati-hati dengan reaksi
Yunho, "mengenai hutang-hutang Jaejoong baik kepadamu dan kepada
perusahaan, aku bersedia menggantinya."
"Shirro."
"Shirro?" Junsu mengernyit mendengar
gumaman pelan Yunho itu.
"Aku tidak akan melepaskan Jaejoong. Aku tidak
peduli dengan uang itu. Aku tidak akan pernah membiarkannya pergi."
"Yunho!!", Junsu mengernyit jengkel.
"Hentikan! Kau tidak tahu betapa banyak
penderitaan yang ditanggung Jaejoong selama ini! tidak bisakah kita biarkan dia
tenang bersama tunangannya? Lagipula kau bisa mencari yeoja lain untuk
memuaskanmu bukan? Kau bisa mendapatkan pengganti Jaejoong dalam beberapa
menit!"
Yunho mengusap wajahnya, tampak begitu menderita,
"Aku tidak bisa Su." erangnya parau.
Mata Junsu melebar melihat ekspresi Yunho, tidak
pernah sebelumnya Junsu melihat Yunho begitu penuh emosi. Apakah ini berarti
Yunho benar-benar mencintai Jaejoong?
"Dia punya tunangan Yun, jangan lupa, semua
yang dilakukannya adalah demi menyelamatkan Changmin."
Kebenaran itu menyakiti hati Yunho, sengatan
cemburu itu kembali melukainya.
"Kalau begitu aku akan membuatnya
memilihku," mata Yunho penuh tekad, "Dimana alamat rumah
sakitnya?"
.
.
.
.
"Dimana ruangan tempat perawatan Shim Changmin?"
Yunho berdiri di depan resepsionis.
Resepsionis itu mendongak dan ternganga. Terpesona
melihat penampilan dan ketampanan Yunho.
"Ruangan perawatan Shim Changmin?" Yunho
mengulang jengkel karena resepsionis itu hanya menatapnya seperti orang bodoh.
"Oh....Untuk Changmin...Anda...Anda mungkin
harus menemui suster Boa dulu, beliau suster kepala penanggung jawabnya."
"Oddiesoyo?" gumam Yunho tak sabar.
"Lantai tiga, ruangan perawat nomor dua."
Tanpa basa-basi Yunho meninggalkan resepsionis yang
masih ternganga itu.
Pintu itu tertutup rapat dan Yunho mengetukknya.
"Masuk" sebuah suara yang tegas terdengar
dari dalam.
Yunho masuk dan langsung berhadapan dengan Boa.
Boa langsung menyadari siapa yang berdiri di
hadapannya. Dia tidak mungkin salah mengenali.
Penggambaran Jaejoong sangat akurat. Namja ini
memang benar-benar luar biasa tampan dengan keangkuhan yang sudah seperti satu
paket dengan auranya.
"Apakah anda akhirnya berhasil menemukan
kebenaran?" gumam Boa langsung tanpa basa-basi.
Yunho mengernyit mendengar sapaan pertama Boa yang sama
sekali tidak diduganya. Tapi dia lalu teringat telelepon di tengah malam yang
tanpa sengaja dia angkat. Penelepon itu mengatakan dirinya adalah Boa...
"Ne," Yunho mengakuinya pelan, "Anda
sudah tahu semuanya?"
"Semuanya, dan pertama, sebelum anda menghina
Jaejoong lagi. Saya akan jelaskan kepada anda, semalam Jaejoong datang kepada
saya, dengan kondisi mengenaskan. Mental dan fisik yang rapuh, dan dia bilang
ingin melepaskan diri dari anda, menurut saya itu wajar mengingat perlakuan
anda padanya,"
Boa menatap Yunho dengan pandangan mencela yang
terang-terangan hingga wajah Yunho merona, "Uang yang dia pakai untuk
melunasi anda, itu adalah uang pinjaman dari saya dan beberapa staff rumah
sakit lain, bukan uang hasil menjual dirinya kepada namja lain seperti apa yang
anda tuduhkan kepadanya tadi pagi."
Sebuah kebenaran lagi. Lebih keras daripada
tamparan di pipi, lidah Yunho terasa kelu.
"Saya ingin bertemu Jaejoong" gumam Yunho
akhirnya.
Boa mengangkat alisnya.
"Untuk apa? Ketika hubungan hutang piutang itu
lunas. Tidak ada lagi perlunya kalian bertemu, lagi pula saya tidak yakin
Jaejoong bersedia menemui anda."
"Tidak ada hubungannya dengan uang! Saya tidak
peduli dengan uang!!!" Yunho hampir berteriak, lalu berdehem berusaha
meredekan emosinya, "Saya harus bertemu dengan Jaejoong, meminta maaf,
saya tahu selama ini saya salah...."
"Anda bisa menyampaikan permintaan maaf anda
melalui saya" sela Boa tegas.
Yunho mengernyit,
"Jebal.....Saya harus bertemu dengan Jaejoong,
saya butuh bertemu dengan Jaejoong."
Boa mengamati namja yang berdiri di hadapannya.
Namja ini terlalu tampan, terlalu kaya sehingga wajar dia tampak begitu arogan.
Tapi sekarang Yunho tampak begitu menderita, Boa yakin Yunho, dalam hidupnya
tak pernah sekalipun memohon, tapi sekarang dia rela memohon agar bisa bertemu
Jaejoong.
Boa menarik napas, ketika sebuah kesimpulan muncul
di benaknya.
Namja musang ini sedang jatuh cinta.
Yunho mencintai Jaejoong
Bagaimana mungkin dia menolak permintaan Yunho?
Kalau saja Yunho hanya namja sombong yang menginginkan bayaran setimpal atas
apa yang diberikannya kepada Jaejoong, Boa akan mengusirnya tanpa ragu. Tapi
Yunho yang ada di depannya ini tampak begitu kesakitan menanggung rasa
bersalah, tampak remuk redam di dera perasaannya sendiri. Namja ini sama menderitanya
dengan Jaejoong. Bagaimana mungkin Boa tega mengusirnya?
"Keunde, jangan menyakiti Jaejoong lagi jika
kalian bertemu nanti, jangan memaksanya....." mata Boa melembut
membayangkan Jaejoong, "sudah cukup beban yang ditanggung anak itu."
"Saya berjanji." Yunho menjawab yakin.
Sekilas Boa mencuri pandang ke arah Yunho. Dan
tersenyum ketika mendapati ekspresi Yunho ikut melembut karena membayangkan
Jaejoong.
Ah Jaejoong, Namja ini benar-benar sedang jatuh
cinta.......
.
.
.
.
.
To Be Continue
Berhubung banyak yang ketagihan, akhirnya Saki memutuskan untuk menambahi 1 Chapter lagi hari ini... Saki suka kalau banyak yang review, meski ini bukan cerita milik Saki, tapi Saki berasa ada yang nunggu cerita dari Saki.
Nah lo, si Yun udah ketahuan cintanya ke Jae, apakah Jae akan memaafkannya???
Tunggu chapter selanjutnya.
Saki pasti lanjutin kok. karena Sacrificio tinggal 9 chapter lagi, makanya Saki munculin MAZE, ada yang tahu arti dari MAZE?

ternyata Yun lebih tenang dari yg aq kira.
ReplyDeletetinggal Jae nih yg msih bingung ma perasaannya.
semoga Jae maafin Yun dan nerima(?) Yun lgi
bener2 nih penasaran gmn klo Min dah sadar
semoga dia bisa ngertiin Jae
semangat apdetnya Saki
dan meskipun ini ff remake, tapi kmu hebat bisa dapet cerita yg bagus dan bisa kmu jadiin versi YJ
oya,,,maze itu klo gk salah semacem 'membingungkan/simpang siur' klo hangulnya tuh 'miro' hmmmmm (mirotic) lol
fighting !!!!!!
Maze dlm bhs jepang.. aku ga tau.. hahah
ReplyDeleteIya bnr2 letagiahan snm ff ini.. daebak saki.. update 3 chapter...hohohp.. kumawwo ne.. #deepbow..
Bgmnkah pertemuan yunjae? Pertama kalinya yunho akan melihat changmin? Apa yg akan yunho lakukan selanjutnya?
Banyak pertannyaan..huaaaa.. pengantar tidur yg so sweet.. yuk Saki bubuk dl.. biar bsk lbh seger.. weekend update lg nehhh.. yg puanjanggg
Ternyata tebakan aku salah kirain yosu yang ngasih uang ke jae
ReplyDeleteternyata boa .. Knapa ga dari dulu aja ...
Si jung tetep ga mau mundur
segitu cinta nya ama jae
ga peduli sama semua penderitaan jae selama ini
yun tetep ga mau ngelepasin jae
changmin kapan bangunnya ???
Lanjuttt saki ^__^
Fighting
Aq yg udh baca bolak balik dg versi beda pun g prnh bosen sm nih cerita
ReplyDeleteYunppa udah terperangkap cinta jaeumma....
ReplyDeleteSkrg tinggal meyakinkan jae apa dy sma kya perasaan'y yunppa
Sakii up date kilat yaaaaa ^0^
Akhirnya yunho tau kebenaran yg sesungguhnya. Sampe nangis lit yunho begitu menderita mengetahui kebenaran ini. Nggak sabar liat jaejoong jg menyadari perasaannya
ReplyDeleteye,, kau telah menyakiti umma terlalu dlam jung,, ku kebiri kau nanti,,
ReplyDeleteberdoalah umma mau maafin kamu,,
Damn! I love Saki. wkwk ffnya juga, berkualitas, bagus, yunjae, gs pula. Aku padamu, saki!! hahaha :D
ReplyDelete#retno ;)
Nah lho!!
ReplyDeleteYoochun harus tanggung jwb tuh...
Kira2 Jaejae mau ga ya ketemu sama Yunho?