Tuesday, March 25

[Remake] Sacrificio de Amor Chapter X

"Yeoja sepertiku.....?"
"Polos, jujur dan tidak berusaha memanipulasiku", senyum Yunho berubah sensual," dan masih bisa tersipu sampai memerah di sekujur kulitnya,padahal sudah berkali-kali kusentuh."
Kali ini Jaejoong hampir tersedak tehnya,dengan cepat diletakkannya cangkirnya dan ditatapnya Yunho dengan waspada. Namja itu juga sedang menyesap kopinya, tapi mata sipitnya yang tajam itu menatap serius pada Jaejoong.
"Kau seperti kelinci yang terjebak ketakutan", gumam Yunho sambil menyipitkan matanya, "apakah cara bercintaku menyakitimu?"
Pipi Jaejoong langsung memerah mendengar pertanyaan Yunho yang blak-blakan itu,
"A..ani, bukan begitu...aku....aku hanya belum....terbiasa..."
Jaejoong menelan ludah ketika Yunho beranjak dari sofanya dan berdiri di depan Jaejoong,lalu menarik Jaejoong berdiri dan langsung mencium bibirnya dengan lembut,
"Kalau begitu, tidak ada yang bisa kulakukan selain membuatmu terbiasa bukan?", suara Yunho berubah serak, lalu dengan cepat mengangkat Jaejoong dan membawanya ke kamar.

Sacrificio de Amor
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy Agatha
Jam dua pagi, ketika Yunho terbangun dan menyadari ada tubuh hangat dalam pelukannya. Jaejoong berbaring meringkuk di dadanya, tubuhnya begitu mungil hingga Yunho merasa bisa meremukkannya dalam sekejap kalau dia mau.
Damn! Kadangkala karena Jaejoong begitu mungilnya jika dibandingkan dengan tubuhnya yang tinggi besar, Yunho seperti merasa sedang melakukan pelecehan seksual pada anak di bawah umur.
Tanpa sadar tangan Yunho mengelus punggung polos Jaejoong, dan dalam tidurnya, Jaejoong bergumam tidak jelas, lalu meringkuk makin rapat ke dada Yunho.
Tidak! Mungkin ukuran tubuhnya seperti anak-anak, tapi tubuhnya benar-benar tubuh yeoja dewasa. Yunho tidak pernah merasa begitu bergairah sekaligus begitu terpuaskan selain dengan Jaejoong. Tubuh mungil itu telah memberikan kepuasan yang sangat dalam bagi Yunho.
"Aku mungkin tak akan pernah melepaskanmu" guman Yunho di kegelapan, "kau milikku Kim Jaejoong"
Seolah mendengar ancaman Yunho di alam bawah sadarnya, alis Jaejoong berkerut dan menggumam tak jelas.
Yunho tertawa geli melihatnya, lalu dikecupnya dahi Jaejoong dengan lembut. yeoja kecil ini benar-benar tidak terduga, tidak disangka dia akan menyerah di pelukan yeoja seperti ini.
"Min…nie...."
Yunho langsung menoleh secepat kilat ke arah Jaejoong, Apa?? Tadi yeoja itu bilang apa??!!
"Changminnie",
kali ini gumaman Jaejoong terdengar lebih jelas. Bahkan Yunho melihat ada air mata di sudut matanya.
Rahang Yunho menegang karena marah, siapa namja yang disebut Jaejoong itu? Kenapa dia tidak pernah mendengarnya? Dia sudah menyelidiki Jaejoong bukan? Selama ini Jaejoong tidak pernah dekat dengan namja manapun, dia bahkan masih perawan!
Dengan gusar Yunho menghapus air mata di sudut mata Jaejoong, lalu mengguncang tubuh Jaejoong pelan.
Dan mata lebar yang polos itu terbuka menatap Yunho dengan bingung karena dibangunkan tiba-tiba,
"Berani-beraninya kau!" desis Yunho dengan tatapan membara, "Berani-beraninya kau menyebut nama namja lain dan menangis untuknya di atas ranjangku!"
Jaejoong benar-benar tidak siap ketika Yunho menyerangnya dengan cumbuan yang sangat hangat dan menggelora. Kali ini Yunho berbeda dengan biasanya,dia seperti....seperti membara, seolah olah tidak ditahan-tahan lagi, ada apa? Ada apa sebenarnya?
Tapi Jaejoong sudah tidak dapat berpikir lagi karena Yunho sudah menenggelamkan kesadarannya dengan cumbuan dan belaian jemarinya yang sangat ahli. Sungguh nikmat....dan Jaejoong ahkirnya menyerah dalam pelukan Yunho.
.
.
.
.
.
Jaejoong terbangun sendirian di ranjang itu. Yunho sudah tidak ada. Yah namja itu mungkin sudah pergi pagi-pagi sekali kembali kerumahnya sebelum berangkat ke kantor. Dia kan punya rumah, tidak mungkin kan dia terus-terusan berada di apartement ini?
Tapi entah mengapa Jaejoong merasa ada yang kosong, setelah beberapa kali dia terbangun dengan Yunho di sisinya, entah kenapa ada yang kurang saat dia terbangun sendirian sekarang.
Babo! Apa yang kau pikirkan Kim Jaejoong? Kau hanyalah slavenya, yang dibelinya untuk memuaskan nafsunya! Jangan pernah berpikir macam-macam. Lagi pula masih ada Changmin yang harus kau cemaskan.
Sambil membungkus tubuhnya dengan seprai, Jaejoong melangkah ke kamar mandi, tubuhnya terasa agak nyeri, karena entah kenapa pagi tadi Yunho bercinta seolah-olah kesetanan dan tidak menahana-nahan diri.
Ketika mengaca dan menurunkan selimutnya Jaejoong mengernyit.
Dari Leher, buah dada sampai perutnya, semuanya penuh dengan bekas ciuman Yunho. Namja itu seolah sengaja meninggalkan jejak di mana-mana. Warnanya merah di sekujur tubuh Jaejoong, dan Jaejoong yakin tak lama lagi akan berubah menjadi ungu.
Jung Yunho brengsek! Siapapun yang melihat akan tahu kalau ini bekas ciuman, di bagian dada bisa dia sembunyikan, tapi yang di leher?
Jaejoong belum pernah mendapatkan bekas ciuman seperti ini di tubuhnya sebelumnya.
Percintaannya dengan Changmin selalu sopan dan tidak pernah sepanas itu sehingga Changmin bisa meninggalkan bekas-bekas ciuman di kulitnya. Tapi Jaejoong tahu bekas ciuman seperti ini butuh beberapa hari untuk hilang.
Dasar Yunho baka! Gerutunya sambil mencari cari turtle neck yang dapat menutupi tubuhnya sampai ke leher lalu memadankannya dengan blazer, Jaejoong hanya menyapukan bedak tipis ke mukanya, lalu segera melangkah keluar, jangan sampai dia terlambat ke kantor lagi.
Ketika berdiri di tepi jalan menanti kendaraan umum, Jaejoong merasakan sengatan sakit yang tiba-tiba di kepalanya.
Arrgghh! Di saat seperti ini migrainnya kambuh. Tapi tentu saja hal itu terjadi, dia belum sarapan, dan dia kurang tidur gara-gara Yunho hampir tidak pernah membiarkan tidur nyenyak tiap malam.
Dengan memaksakan diri Jaejoong naik ke dalam bus menuju kantornya.
.
.
.
.
.
"Wajahmu pucat sekali Jae", salah seorang temannya memandang Jaejoong dengan cemas ketika Jaejoong mendudukkan diri di kursinya. Tadi dia hampir terlambat dan setengah berlari ke mesin absen.
Jaejoong memegang pipinya, memang terasa agak panas, apakah dia demam? Dan kepalanya juga pusing sekali. Tapi tetap dipaksakannya tersenyum,
"Gwenchana, mungkin karena belum sarapan, nanti setelah minum kopi pasti lebih baik."
Tapi ternyata tidak, rasa pusing itu makin menusuk nusuk di kepalanya terasa nyeri,bahkan untuk menolehkan kepalanya saja terasa sangat sakit, badannya juga sama saja, rasanya nyeri di sekujur tubuh seperti habis dipukuli. Jaejoong bertahan dengan tidak bergerak di kursinya, tapi rasa sakitnya makin tak tertahankan,
"Jae coba kesini sebentar, lihat draft pemasaran ini bagaimana menurutmu?", salah seorang rekannya memanggilnya.
Dengan mengernyit Jaejoong mencoba berdiri, tubuhnya limbung sejenak, tapi dia berdiri dan bertahan sambil berpegangan di tepi meja.
Lalu setelah menarik napas dalam-dalam, dia melangkahkan kaki ke meja rekannya. Tapi tiba-tiba rasa nyeri tak tertahankan menyerang kepalanya dan semuanya menjadi gelap.
.
.
.
.
.
"Pingsan??!"
Yunho setengah berteriak kepada Yoochun yang menyampaikan kabar itu padanya,
"Oddie?! Dimana?!", Yunho mulai berdiri dari balik meja besarnya.
Yoochun hanya duduk santai di sofa kulit hitam di ruangan kantor Yunho, "Tadi dalam perjalanan ke sini aku mengambil arsip di sebelah klinik, ada keributan di luar, yeoja itu sedang digendong salah seorang rekannya ke klinik dan di antar beberapa rekannya yang lain juga, dalam kondisi pingsan, dia pucat sekali seperti kelelahan ", tambah Yoochun penuh arti.
"Digendong?", kali ini wajah Yunho menegang karena marah, "namja?"
Yoochun tiba-tiba saja tidak bisa menahan tawanya,
"Slavemu pingsan dan kau meributkan siapa yang menggendongnya?",
Tawa Yoochun kembali terdengar tak peduli pada wajah Yunho yang marah," Tentu saja namja, mana mungkin yeoja?"
Yunho mendengus marah dan hendak melangkah keluar ruangan, tapi Yoochun berdiri dan menahannya,
"Kau pikir kau mau kemana hyung?"
Yunho menatap tangan Yoochun yang menahan lengannya dengan marah,
"Tentu saja melihat Jaejoong!"
"Dan membuat kehebohan di luar? Seorang pemilik perusahaan yang jarang terlihat saking sibuknya, yang bahkan untuk berkonsultasi dengannya harus melalui perjanjian temu yang sulit, tiba-tiba saja turun menjenguk seorang staff biasa? Kuulangi seorang staff biasa, yang tidak ada hubungan apapun dengannya",
Yoochun menatap Yunho tajam, "dan bahkan dengan wajah pucat pasi lebih pucat dari yang pingsan kalau boleh kutambahkan", Yoochun mulai terkekeh geli.
Yunho melotot marah padanya, tapi kemudian menarik napas dan tersenyum skeptis,
"Kau benar, aku tak bisa", dengan pelan dia melangkah dan duduk di sofa.
Yoochun menuangkan minuman untuknya dari meja bar kecil dan memberikan kepada Yunho yang langsung menyesapnya.
"Kau tak pernah begitu sebelumnya hyung, dan tak kusangka kau sebegitu perhatiannya kepada yeoja kecil ini, kukira kau hanya menganggapnya tubuh yang sudah kau beli?"
Yunho meletakkan gelasnya, lalu menatap tajam Yoochun
"Dan tubuh yang kau katakan itu yang sekarang terbaring pingsan."
Yoochun tersenyum dan duduk di sebelah Yunho,
"Kemarin aku baru saja bilang kalau yeoja itu membuatmu lelah dan tidak berkonsentrasi, ternyata kau berbuat lebih parah padanya", Yoochun tak dapat menahan diri untuk tersenyum lebar, "Kau apakan saja yeoja itu hyung?"
Yunho mengacak rambutnya bingung,
"Aku juga tidak menyangka bisa jadi begitu terobsesi kepadanya, kau tahu.....rasanya tidak ingin berhenti, aku ingin terus menerus menyentuhnya, ingin terus menerus merasakannya....jadi tiap malam aku..aku.."
"Kau bermaksud bilang tiap malam kau hampir tidak pernah membiarkannya tidur?", kali ini alis Yoochun berkerut.
Yunho menghindari tatapan Yoochun,
"Aku baru beberapa hari bersamanya, aku masih belum merasa puas", gumamnya tak Jelas.
Yoochun menarik napas dalam,
"Hyung, aku tahu kau terbiasa dengan yeoja dewasa yang berpengalaman, yang mungkin akan melayani marathon seksmu dengan senang hati kalau kau mau, tapi ini, seorang perawan, seorang yeoja polos tak berpengalaman, seharusnya kau lebih menahan dirimu."
"Arra!", Yunho menyela dengan keras, frustasi kepada dirinya sendiri, "keunde..ah, kau tidak tahu rasanya Chun..."
"Gurae, aku tidak tahu, karena itulah aku tidak mengerti, kalau memang nafsumu sebegitu besarnya, kenapa kau tidak mencari yeoja lain sebagai pelampiasan? Yeoja lain yang lebih bisa mengimbangimu? Jadi kau tetap bisa menjaga kondisi tubuh yeoja itu, tubuh yang kau beli seharga tiga puluh juta won", Yoochun mengingatkannya.
"Ah ya...ya, bisakah kau jangan menyebutnya sebagai 'yeoja itu atau 'tubuh itu..? Dia punya nama Park, namanya Jaejoong."
"Baiklah, Jaejoong ini, kalau kau tidak mau menyakitinya, seharusnya kau mencari yeoja lain untuk mengimbangimu."
Yunho mengernyit, yeoja lain? Sepertinya itu ide yang bagus, kalau hasratnya membuat tubuh Jaejoong lemah, dia seharusnya menyalurkannya kepada yeoja lain, tapi. Yunho tidak bisa membayangkan yeoja manapun, dia mau Jaejoong, hanya Jaejoong yang membuat tubuhnya berhasrat sampai seperti ini,
"Tidak bisa kalau bukan dia Chun, kau tahu aku bukan maniak seks, bercinta selama ini menjadi kebutuhan nomor duaku, bahkan aku selalu mementingkan pekerjaan dibandingkan janji temuku dengan yeoja-yeoja itu, tapi Jaejoong... Dia seperti ada magnet dalam tubuhnya yang mengubahku menjadi seperti ini"
Yoochun menarik napas,
"Kalau begitu, kau harus belajar menahan diri Yunho dan lebih peka, kalau dia terlihat lelah, jangan memaksakan kehendakmu."
.
.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan padanya?",
gumam Junsu, dokter berusia 33 tahun yang sangat cantik, yang kebetulan adalah sahabat Yunho juga, ketika melihat Yunho masuk ke ruangan klinik itu, suasana sudah sepi dan dokter Junsu sudah mengusir rekan-rekan kerja Jaejoong dari klinik itu,
Yunho mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Junsu,
"Kenapa kau langsung menuduhku seperti itu?", gumamnya pura-pura tersinggung.
Junsu melirik ke arah Jaejoong yang tertidur pulas, tadi Jaejoong sempat bangun dan Junsu sengaja memberinya obat yang membuatnya mengantuk agar yeoja itu bisa beristirahat,
"Seorang staff rendahan pingsan dan beberapa waktu kemudian sang CEO perusahaan yang tidak pernah menginjakkan kakinya di klinik ini tiba-tiba datang? Kau pikir ini kebetulan?"
Yunho tersenyum miring,
"Setidaknya kecerdasanmu tidak berubah Su",
Junsu terkekeh pelan,
"Tentu saja aku sama sekali tidak menduga kalau yeoja itu ada hubungannya denganmu, waktu memeriksa tubuhnya aku melihat bekas-bekas ciuman dari leher sampai ke perut, lalu aku berfikir, namja brengsek mana yang membiarkannya sampai pingsan kelelahan begitu",
Junsu mengangkat alisnya, " Dan tiba-tiba saja namja brengsek itu muncul."
Yunho mengerutkan alisnya lalu terkekeh,
"Sayangnya kata-kata tajammu juga tidak berubah, yah aku memang namja brengsek itu", Yunho mengangkat bahu, lalu menatap ke arah Jaejoong yang terbaring pucat di ranjang klinik itu, " bagaimana kondisinya?", wajahnya berubah serius.
Junsu menarik napas,
"Aku tak mau bertanya apapun itu kehidupan pribadimu", Junsu menatap tajam ke arah Yunho," yeoja itu kelelahan, kurang tidur dan tekanan darahnya rendah sekali, kondisi tubuhnya lemah dan karena itu dia demam, sepertinya gejala flu."
Yunho mengernyitkan allisnya, menerima tatapan tajam Junsu.
"Gurae, semua salahku, Yoochun sudah mengatakannya padaku, sekarang bisakah kau meninggalkan kami sendirian sebentar?"
Junsu melirik ke arah pintu,
"Yoochun ada di luar? Bagaimana jika nanti ada karyawan yang kebetulan ke klinik?"
"Itulah gunanya Yoochun di luar, tapi kalau sampai terjadipun aku akan bilang kalau aku sedang mencarimu meminta resep."
Junsu mengangguk,
"Aku akan bergabung dengan Yoochun di luar, jangan berbuat macam-macam ya!"
Yunho tersenyum mendengar ancaman Junsu. Yeoja itu adalah istri dari sahabatnya, dan merekapun ahkirnya bersahabat. Sayangnya suami Junsu meninggal dalam kecelakaan tragis di jalan tol beberapa tahun lalu, sejak itu Junsu membentengi diri dengan mulut tajam dan sifatnya yang ketus, padahal sebenarnya dia adalah yeoja penyayang, sikap ketusnya itu tidak mempan pada Yunho dan Yoochun, Yunho melirik keluar, seandainya saja Junsu bisa melirik Yoochun, bagus sekali kalau sahabat-sahabatnya itu bersatu.
Dengan langkah pelan Yunho melangkah ke tepi ranjang berdiri di samping Jaejoong yang tertidur pulas,
Benar, wajahnya pucat sekali, kenapa Yunho tidak menyadarinya dari semalam?
Tangan Yunho menyentuh dahi Jaejoong, yeoja ini demam! Badannya panas sekali...
"Jadi kau ingin mengantar pulang Jaejoong?",
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

4 comments:

  1. jae sakit dan itu karna yunho
    yang ga bisa biarin jae istirahat
    kenapa junsu ga ama yuchun aja
    kliatnya mereka cocok
    siapa yang ngomong itu ????
    lanjuttt saki ^__^

    ReplyDelete
  2. Anonymous10:02 PM

    Sisi manusia yunho muncul karena jj. Tak disadarinya. Cinta pelan2 telah merasuk..ahahaha

    ReplyDelete
  3. Anonymous3:34 PM

    Fiuhhh Tariiiikkk Baaaannnggg chaaaannggmiiinnn.....

    Baca'y ampe nahan napaaass ><

    Ayoooo Sakiiiii d lanjutkaaannnn (ง'̀⌣'́)ง

    ReplyDelete
  4. Awwww.....Awwww.....Awwww.....
    Yunho segitu khawatirnya pas tau Jaejae sakit.
    Jangan...jangan...
    Padahal yg udah bikin sakit dia...

    ReplyDelete