"Yeoja sepertiku.....?"
"Polos, jujur dan tidak berusaha
memanipulasiku", senyum Yunho berubah sensual," dan masih bisa
tersipu sampai memerah di sekujur kulitnya,padahal sudah berkali-kali
kusentuh."
Kali ini Jaejoong hampir tersedak tehnya,dengan
cepat diletakkannya cangkirnya dan ditatapnya Yunho dengan waspada. Namja itu
juga sedang menyesap kopinya, tapi mata sipitnya yang tajam itu menatap serius
pada Jaejoong.
"Kau seperti kelinci yang terjebak
ketakutan", gumam Yunho sambil menyipitkan matanya, "apakah cara
bercintaku menyakitimu?"
Pipi Jaejoong langsung memerah mendengar pertanyaan
Yunho yang blak-blakan itu,
"A..ani, bukan begitu...aku....aku hanya
belum....terbiasa..."
Jaejoong menelan ludah ketika Yunho beranjak dari
sofanya dan berdiri di depan Jaejoong,lalu menarik Jaejoong berdiri dan
langsung mencium bibirnya dengan lembut,
"Kalau begitu, tidak ada yang bisa kulakukan
selain membuatmu terbiasa bukan?", suara Yunho berubah serak, lalu dengan
cepat mengangkat Jaejoong dan membawanya ke kamar.
Sacrificio de Amor
©Kitahara
Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their
Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy
Agatha
Jam
dua pagi, ketika Yunho terbangun dan menyadari ada tubuh hangat dalam
pelukannya. Jaejoong berbaring meringkuk di dadanya, tubuhnya begitu mungil
hingga Yunho merasa bisa meremukkannya dalam sekejap kalau dia mau.
Damn!
Kadangkala karena Jaejoong begitu mungilnya jika dibandingkan dengan tubuhnya
yang tinggi besar, Yunho seperti merasa sedang melakukan pelecehan seksual pada
anak di bawah umur.
Tanpa
sadar tangan Yunho mengelus punggung polos Jaejoong, dan dalam tidurnya,
Jaejoong bergumam tidak jelas, lalu meringkuk makin rapat ke dada Yunho.
Tidak!
Mungkin ukuran tubuhnya seperti anak-anak, tapi tubuhnya benar-benar tubuh
yeoja dewasa. Yunho tidak pernah merasa begitu bergairah sekaligus begitu
terpuaskan selain dengan Jaejoong. Tubuh mungil itu telah memberikan kepuasan
yang sangat dalam bagi Yunho.
"Aku
mungkin tak akan pernah melepaskanmu" guman Yunho di kegelapan, "kau
milikku Kim Jaejoong"
Seolah
mendengar ancaman Yunho di alam bawah sadarnya, alis Jaejoong berkerut dan
menggumam tak jelas.
Yunho
tertawa geli melihatnya, lalu dikecupnya dahi Jaejoong dengan lembut. yeoja
kecil ini benar-benar tidak terduga, tidak disangka dia akan menyerah di
pelukan yeoja seperti ini.
"Min…nie...."
Yunho
langsung menoleh secepat kilat ke arah Jaejoong, Apa?? Tadi yeoja itu bilang
apa??!!
"Changminnie",
kali
ini gumaman Jaejoong terdengar lebih jelas. Bahkan Yunho melihat ada air mata
di sudut matanya.
Rahang
Yunho menegang karena marah, siapa namja yang disebut Jaejoong itu? Kenapa dia
tidak pernah mendengarnya? Dia sudah menyelidiki Jaejoong bukan? Selama ini
Jaejoong tidak pernah dekat dengan namja manapun, dia bahkan masih perawan!
Dengan
gusar Yunho menghapus air mata di sudut mata Jaejoong, lalu mengguncang tubuh
Jaejoong pelan.
Dan
mata lebar yang polos itu terbuka menatap Yunho dengan bingung karena
dibangunkan tiba-tiba,
"Berani-beraninya
kau!" desis Yunho dengan tatapan membara, "Berani-beraninya kau
menyebut nama namja lain dan menangis untuknya di atas ranjangku!"
Jaejoong
benar-benar tidak siap ketika Yunho menyerangnya dengan cumbuan yang sangat
hangat dan menggelora. Kali ini Yunho berbeda dengan biasanya,dia
seperti....seperti membara, seolah olah tidak ditahan-tahan lagi, ada apa? Ada
apa sebenarnya?
Tapi
Jaejoong sudah tidak dapat berpikir lagi karena Yunho sudah menenggelamkan
kesadarannya dengan cumbuan dan belaian jemarinya yang sangat ahli. Sungguh
nikmat....dan Jaejoong ahkirnya menyerah dalam pelukan Yunho.
.
.
.
.
.
Jaejoong
terbangun sendirian di ranjang itu. Yunho sudah tidak ada. Yah namja itu
mungkin sudah pergi pagi-pagi sekali kembali kerumahnya sebelum berangkat ke
kantor. Dia kan punya rumah, tidak mungkin kan dia terus-terusan berada di
apartement ini?
Tapi
entah mengapa Jaejoong merasa ada yang kosong, setelah beberapa kali dia
terbangun dengan Yunho di sisinya, entah kenapa ada yang kurang saat dia
terbangun sendirian sekarang.
Babo!
Apa yang kau pikirkan Kim Jaejoong? Kau hanyalah slavenya, yang dibelinya untuk
memuaskan nafsunya! Jangan pernah berpikir macam-macam. Lagi pula masih ada
Changmin yang harus kau cemaskan.
Sambil
membungkus tubuhnya dengan seprai, Jaejoong melangkah ke kamar mandi, tubuhnya
terasa agak nyeri, karena entah kenapa pagi tadi Yunho bercinta seolah-olah
kesetanan dan tidak menahana-nahan diri.
Ketika
mengaca dan menurunkan selimutnya Jaejoong mengernyit.
Dari
Leher, buah dada sampai perutnya, semuanya penuh dengan bekas ciuman Yunho.
Namja itu seolah sengaja meninggalkan jejak di mana-mana. Warnanya merah di
sekujur tubuh Jaejoong, dan Jaejoong yakin tak lama lagi akan berubah menjadi
ungu.
Jung
Yunho brengsek! Siapapun yang melihat akan tahu kalau ini bekas ciuman, di
bagian dada bisa dia sembunyikan, tapi yang di leher?
Jaejoong
belum pernah mendapatkan bekas ciuman seperti ini di tubuhnya sebelumnya.
Percintaannya
dengan Changmin selalu sopan dan tidak pernah sepanas itu sehingga Changmin
bisa meninggalkan bekas-bekas ciuman di kulitnya. Tapi Jaejoong tahu bekas
ciuman seperti ini butuh beberapa hari untuk hilang.
Dasar
Yunho baka! Gerutunya sambil mencari cari turtle neck yang dapat menutupi
tubuhnya sampai ke leher lalu memadankannya dengan blazer, Jaejoong hanya
menyapukan bedak tipis ke mukanya, lalu segera melangkah keluar, jangan sampai
dia terlambat ke kantor lagi.
Ketika
berdiri di tepi jalan menanti kendaraan umum, Jaejoong merasakan sengatan sakit
yang tiba-tiba di kepalanya.
Arrgghh!
Di saat seperti ini migrainnya kambuh. Tapi tentu saja hal itu terjadi, dia
belum sarapan, dan dia kurang tidur gara-gara Yunho hampir tidak pernah
membiarkan tidur nyenyak tiap malam.
Dengan
memaksakan diri Jaejoong naik ke dalam bus menuju kantornya.
.
.
.
.
.
"Wajahmu
pucat sekali Jae", salah seorang temannya memandang Jaejoong dengan cemas
ketika Jaejoong mendudukkan diri di kursinya. Tadi dia hampir terlambat dan
setengah berlari ke mesin absen.
Jaejoong
memegang pipinya, memang terasa agak panas, apakah dia demam? Dan kepalanya
juga pusing sekali. Tapi tetap dipaksakannya tersenyum,
"Gwenchana,
mungkin karena belum sarapan, nanti setelah minum kopi pasti lebih baik."
Tapi
ternyata tidak, rasa pusing itu makin menusuk nusuk di kepalanya terasa
nyeri,bahkan untuk menolehkan kepalanya saja terasa sangat sakit, badannya juga
sama saja, rasanya nyeri di sekujur tubuh seperti habis dipukuli. Jaejoong
bertahan dengan tidak bergerak di kursinya, tapi rasa sakitnya makin tak
tertahankan,
"Jae
coba kesini sebentar, lihat draft pemasaran ini bagaimana menurutmu?", salah
seorang rekannya memanggilnya.
Dengan
mengernyit Jaejoong mencoba berdiri, tubuhnya limbung sejenak, tapi dia berdiri
dan bertahan sambil berpegangan di tepi meja.
Lalu
setelah menarik napas dalam-dalam, dia melangkahkan kaki ke meja rekannya. Tapi
tiba-tiba rasa nyeri tak tertahankan menyerang kepalanya dan semuanya menjadi
gelap.
.
.
.
.
.
"Pingsan??!"
Yunho
setengah berteriak kepada Yoochun yang menyampaikan kabar itu padanya,
"Oddie?!
Dimana?!", Yunho mulai berdiri dari balik meja besarnya.
Yoochun
hanya duduk santai di sofa kulit hitam di ruangan kantor Yunho, "Tadi dalam
perjalanan ke sini aku mengambil arsip di sebelah klinik, ada keributan di
luar, yeoja itu sedang digendong salah seorang rekannya ke klinik dan di antar
beberapa rekannya yang lain juga, dalam kondisi pingsan, dia pucat sekali
seperti kelelahan ", tambah Yoochun penuh arti.
"Digendong?",
kali ini wajah Yunho menegang karena marah, "namja?"
Yoochun
tiba-tiba saja tidak bisa menahan tawanya,
"Slavemu
pingsan dan kau meributkan siapa yang menggendongnya?",
Tawa
Yoochun kembali terdengar tak peduli pada wajah Yunho yang marah," Tentu
saja namja, mana mungkin yeoja?"
Yunho
mendengus marah dan hendak melangkah keluar ruangan, tapi Yoochun berdiri dan
menahannya,
"Kau
pikir kau mau kemana hyung?"
Yunho
menatap tangan Yoochun yang menahan lengannya dengan marah,
"Tentu
saja melihat Jaejoong!"
"Dan
membuat kehebohan di luar? Seorang pemilik perusahaan yang jarang terlihat
saking sibuknya, yang bahkan untuk berkonsultasi dengannya harus melalui
perjanjian temu yang sulit, tiba-tiba saja turun menjenguk seorang staff biasa?
Kuulangi seorang staff biasa, yang tidak ada hubungan apapun dengannya",
Yoochun
menatap Yunho tajam, "dan bahkan dengan wajah pucat pasi lebih pucat dari
yang pingsan kalau boleh kutambahkan", Yoochun mulai terkekeh geli.
Yunho
melotot marah padanya, tapi kemudian menarik napas dan tersenyum skeptis,
"Kau
benar, aku tak bisa", dengan pelan dia melangkah dan duduk di sofa.
Yoochun
menuangkan minuman untuknya dari meja bar kecil dan memberikan kepada Yunho
yang langsung menyesapnya.
"Kau
tak pernah begitu sebelumnya hyung, dan tak kusangka kau sebegitu perhatiannya
kepada yeoja kecil ini, kukira kau hanya menganggapnya tubuh yang sudah kau
beli?"
Yunho
meletakkan gelasnya, lalu menatap tajam Yoochun
"Dan
tubuh yang kau katakan itu yang sekarang terbaring pingsan."
Yoochun
tersenyum dan duduk di sebelah Yunho,
"Kemarin
aku baru saja bilang kalau yeoja itu membuatmu lelah dan tidak berkonsentrasi,
ternyata kau berbuat lebih parah padanya", Yoochun tak dapat menahan diri
untuk tersenyum lebar, "Kau apakan saja yeoja itu hyung?"
Yunho
mengacak rambutnya bingung,
"Aku
juga tidak menyangka bisa jadi begitu terobsesi kepadanya, kau tahu.....rasanya
tidak ingin berhenti, aku ingin terus menerus menyentuhnya, ingin terus menerus
merasakannya....jadi tiap malam aku..aku.."
"Kau
bermaksud bilang tiap malam kau hampir tidak pernah membiarkannya tidur?",
kali ini alis Yoochun berkerut.
Yunho
menghindari tatapan Yoochun,
"Aku
baru beberapa hari bersamanya, aku masih belum merasa puas", gumamnya tak
Jelas.
Yoochun
menarik napas dalam,
"Hyung,
aku tahu kau terbiasa dengan yeoja dewasa yang berpengalaman, yang mungkin akan
melayani marathon seksmu dengan senang hati kalau kau mau, tapi ini, seorang
perawan, seorang yeoja polos tak berpengalaman, seharusnya kau lebih menahan
dirimu."
"Arra!",
Yunho menyela dengan keras, frustasi kepada dirinya sendiri, "keunde..ah,
kau tidak tahu rasanya Chun..."
"Gurae,
aku tidak tahu, karena itulah aku tidak mengerti, kalau memang nafsumu sebegitu
besarnya, kenapa kau tidak mencari yeoja lain sebagai pelampiasan? Yeoja lain
yang lebih bisa mengimbangimu? Jadi kau tetap bisa menjaga kondisi tubuh yeoja
itu, tubuh yang kau beli seharga tiga puluh juta won", Yoochun
mengingatkannya.
"Ah
ya...ya, bisakah kau jangan menyebutnya sebagai 'yeoja itu atau 'tubuh itu..?
Dia punya nama Park, namanya Jaejoong."
"Baiklah,
Jaejoong ini, kalau kau tidak mau menyakitinya, seharusnya kau mencari yeoja
lain untuk mengimbangimu."
Yunho
mengernyit, yeoja lain? Sepertinya itu ide yang bagus, kalau hasratnya membuat
tubuh Jaejoong lemah, dia seharusnya menyalurkannya kepada yeoja lain, tapi.
Yunho tidak bisa membayangkan yeoja manapun, dia mau Jaejoong, hanya Jaejoong
yang membuat tubuhnya berhasrat sampai seperti ini,
"Tidak
bisa kalau bukan dia Chun, kau tahu aku bukan maniak seks, bercinta selama ini
menjadi kebutuhan nomor duaku, bahkan aku selalu mementingkan pekerjaan
dibandingkan janji temuku dengan yeoja-yeoja itu, tapi Jaejoong... Dia seperti
ada magnet dalam tubuhnya yang mengubahku menjadi seperti ini"
Yoochun
menarik napas,
"Kalau
begitu, kau harus belajar menahan diri Yunho dan lebih peka, kalau dia terlihat
lelah, jangan memaksakan kehendakmu."
.
.
.
.
.
"Apa
yang kau lakukan padanya?",
gumam
Junsu, dokter berusia 33 tahun yang sangat cantik, yang kebetulan adalah
sahabat Yunho juga, ketika melihat Yunho masuk ke ruangan klinik itu, suasana
sudah sepi dan dokter Junsu sudah mengusir rekan-rekan kerja Jaejoong dari
klinik itu,
Yunho
mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Junsu,
"Kenapa
kau langsung menuduhku seperti itu?", gumamnya pura-pura tersinggung.
Junsu
melirik ke arah Jaejoong yang tertidur pulas, tadi Jaejoong sempat bangun dan
Junsu sengaja memberinya obat yang membuatnya mengantuk agar yeoja itu bisa
beristirahat,
"Seorang
staff rendahan pingsan dan beberapa waktu kemudian sang CEO perusahaan yang
tidak pernah menginjakkan kakinya di klinik ini tiba-tiba datang? Kau pikir ini
kebetulan?"
Yunho
tersenyum miring,
"Setidaknya
kecerdasanmu tidak berubah Su",
Junsu
terkekeh pelan,
"Tentu
saja aku sama sekali tidak menduga kalau yeoja itu ada hubungannya denganmu,
waktu memeriksa tubuhnya aku melihat bekas-bekas ciuman dari leher sampai ke
perut, lalu aku berfikir, namja brengsek mana yang membiarkannya sampai pingsan
kelelahan begitu",
Junsu
mengangkat alisnya, " Dan tiba-tiba saja namja brengsek itu muncul."
Yunho
mengerutkan alisnya lalu terkekeh,
"Sayangnya
kata-kata tajammu juga tidak berubah, yah aku memang namja brengsek itu",
Yunho mengangkat bahu, lalu menatap ke arah Jaejoong yang terbaring pucat di
ranjang klinik itu, " bagaimana kondisinya?", wajahnya berubah
serius.
Junsu
menarik napas,
"Aku
tak mau bertanya apapun itu kehidupan pribadimu", Junsu menatap tajam ke
arah Yunho," yeoja itu kelelahan, kurang tidur dan tekanan darahnya rendah
sekali, kondisi tubuhnya lemah dan karena itu dia demam, sepertinya gejala
flu."
Yunho
mengernyitkan allisnya, menerima tatapan tajam Junsu.
"Gurae,
semua salahku, Yoochun sudah mengatakannya padaku, sekarang bisakah kau
meninggalkan kami sendirian sebentar?"
Junsu
melirik ke arah pintu,
"Yoochun
ada di luar? Bagaimana jika nanti ada karyawan yang kebetulan ke klinik?"
"Itulah
gunanya Yoochun di luar, tapi kalau sampai terjadipun aku akan bilang kalau aku
sedang mencarimu meminta resep."
Junsu
mengangguk,
"Aku
akan bergabung dengan Yoochun di luar, jangan berbuat macam-macam ya!"
Yunho
tersenyum mendengar ancaman Junsu. Yeoja itu adalah istri dari sahabatnya, dan
merekapun ahkirnya bersahabat. Sayangnya suami Junsu meninggal dalam kecelakaan
tragis di jalan tol beberapa tahun lalu, sejak itu Junsu membentengi diri
dengan mulut tajam dan sifatnya yang ketus, padahal sebenarnya dia adalah yeoja
penyayang, sikap ketusnya itu tidak mempan pada Yunho dan Yoochun, Yunho
melirik keluar, seandainya saja Junsu bisa melirik Yoochun, bagus sekali kalau
sahabat-sahabatnya itu bersatu.
Dengan
langkah pelan Yunho melangkah ke tepi ranjang berdiri di samping Jaejoong yang
tertidur pulas,
Benar,
wajahnya pucat sekali, kenapa Yunho tidak menyadarinya dari semalam?
Tangan
Yunho menyentuh dahi Jaejoong, yeoja ini demam! Badannya panas sekali...
"Jadi
kau ingin mengantar pulang Jaejoong?",
.
.
.
.
.
.
To Be
Continue

jae sakit dan itu karna yunho
ReplyDeleteyang ga bisa biarin jae istirahat
kenapa junsu ga ama yuchun aja
kliatnya mereka cocok
siapa yang ngomong itu ????
lanjuttt saki ^__^
Sisi manusia yunho muncul karena jj. Tak disadarinya. Cinta pelan2 telah merasuk..ahahaha
ReplyDeleteFiuhhh Tariiiikkk Baaaannnggg chaaaannggmiiinnn.....
ReplyDeleteBaca'y ampe nahan napaaass ><
Ayoooo Sakiiiii d lanjutkaaannnn (ง'̀⌣'́)ง
Awwww.....Awwww.....Awwww.....
ReplyDeleteYunho segitu khawatirnya pas tau Jaejae sakit.
Jangan...jangan...
Padahal yg udah bikin sakit dia...