Saturday, March 29

[Remake] MAZE Chapter I

"Oppa, Kau sangat menyedihkan", Jessica menoleh ke namja di sebelahnya, yang kebetulan kakaknya.
"Bukan urusanmu Jess."
Jessica mendengus lalu menyesap minuman kalengnya dan meletakkannya di dasbor mobil.
"Sampai kapan kamu mau begini terus? sampai dia menjadi nenek-nenek dan tetap tidak menyadari keberadaanmu?"
"Sttt, diamlah." Yunho bahkan tidak menoleh ke wajah dongsaengnya yang duduk di sebelahnya, tatapannya lurus ke depan, ke pintu keluar sebuah gerbang kampus.
Tak lama sosok yang dicarinya itu keluar, dengan senyum manis yang sudah di hapalnya, sedang bercanda bersama teman-temannya.
"Dia tersenyum." gumam Yunho lega.
"Tentu saja dia tersenyum, dia berhasil lulus dengan predikat cum laude", tukas Jessica dengan gusar, "Dan itu karena siapa coba?"
"Aku tidak mau membahasnya...."
"Karena kau! Semua karena perjuanganmu." Jessica tidak mempedulikan peringatan kakaknya dan terus melanjutkan.
"Dan sekarang kamu bahkan tidak bisa memberi selamat kepadanya, malah mengintip dari jauh seperti ini. Kau benar-benar menyedihkan Jung!"

Kitahara Saki presented
MAZE
Kim Jaejoong, Jung Yunho
© their self
Remake again from Santhy Agatha Story
.
.
.
Chapter I
.
.
.
Yunho terus menatap sosok itu sampai menjauh, menghilang di dalam bis yang dikendarainya.
“Dia bahkan masih naik bis, Aku harus mengusahakan kendaraan untuknya. Supaya dia tidak perlu capek berpanas-panasan naik bis lagi."
Perkataan itu semakin membuat Jessica gusar karena kakaknya yang baka itu tidak memperhatikan kata-katanya.
"Kau menyedihkan, sampai kapan kau menghukum diri sendiri seperti ini oppa?"
Sepi.
Tampaknya Yunho mengganggap pertanyaan Jessica itu tidak perlu dijawab. Kedua penerus dari keluarga Jung itu terdiam di dalam mobil mewah yang sengaja di parkir agak jauh dari kampus, agar tidak mencolok. Yunho sibuk dengan pikirannya sendiri, pikirannya melayang ke masa sepuluh tahun lalu, saat usianya masih 18 tahun. Kaya, tampan, punya kuasa, dan tidak tahu tentang rasa tanggung jawab........
.
.
.
.
10 tahun yang lalu,,,,,,,,
"Ini mobil hadiah ulang tahunku, baru ada dua di negara ini.“ gumam Yunho bangga pada teman-temannya.
Semua temannya mengagumi mobil sport warna merah yang diparkir Yunho di lapangan itu.
"Gila Jung, mobil ini sangat cocok untuk mengebut!", seru salah satu temannya.
"Tentu saja, namanya juga mobil sport."
"C'mon Let's try." seru salah seorang temannya yang lain.
Yunho tertawa bangga mencerminkan sedikit kesombongannya. Malam itu mereka mabuk-mabukkan dan berpesta pora.
Dan malam itu pula Yunho belajar bahwa kesenangan sesaat kadangkala bisa merenggut nyawa orang yang tidak bersalah. Mobil yang dia kendarai dalam keadaan mabuk, menabrak sebuah taksi yang berjalan pelan di jalur berlawanan.
Pengemudi taksi itu, namja tua yang tidak tahu apa-apa, tewas seketika.
Tentu saja semua permasalahan dapat dibereskan dengan cepat. Appa Yunho adalah pengusaha yang sangat berpengaruh karena harta dan kekuasaannya yang melimpah.
Tidak ada yang mempermasalahkan kenapa Yunho mengendarai kendaraannya dalam kondisi mabuk berat, uang jaminan sudah disiapkan. Yunho sendiri waktu itu lebih mencemaskan keadaannya daripada memikirkan supir taksi tua yang tewas itu. Toh supir taksi itu lebih beruntung langsung tewas, tidak merasakan sakit seperti dirinya.
Limpanya terbentur keras, bengkak, sehingga memerlukan perawatan dan pengobatan khusus, dan rasa sakitnya sungguh tidak terkira. Bahkan Yunho sempat menyalahkan supir taksi yang menurutnya kurang ajar. Kenapa bisa ada di jalan yang berlawanan dengan dirinya sehingga membuatnya tertabrak.
Semua permasalahan dibereskan dengan cepat oleh appanya. Yunho langsung di kirim ke Jepang untuk menjalani pengobatan. Sampai 6 bulan kemudian setelah kecelakaan itu, dia kembali kekorea.
Eommanya, seorang Jaejoong Cina yang sudah tinggal di korea sejak menikah dengan Appa Yunho, mengingatkannya,
"Kau tidak pernah ingin tahu tentang mereka?" tanya Eommanya waktu itu.
Yunho yang saat itu merasa bosan karena masih harus beristirahat di rumah dan tidak bisa keluar rumah menatap Eommanya dengan marah,
“Untuk apa? Bukankah Appa sudah memberikan tunjangan yang sepadan buat mereka? Mungkin malahan lebih banyak dari yang bisa dihasilkan supir taksi itu ketika dia hidup".
Kesombongan membuat suaranya terdengar keras.
Sang eomma menggelengkan kepalanya," Supir taksi itu memiliki isteri yang berduka dan seorang anak yang masih membutuhkan biaya sekolah. Apakah kau tidak menyesal atas kehilangan yang dialami anak kecil itu, Yun?"
Yunho merasa terganggu mendengar ucapan Eommanya, "Sebenarnya apa yang eomma inginkan dariku?"
"Eomma hanya ingin merasa sedikit lega, eomma ingin kau kesana dan meminta maaf langsung. Bahkan selama ini hanya pegawai appamu yang datang kesana dan mengurus semuanya."
Yunho mencibir, "Mereka itu keluarga miskin, kalau Yunho datang kesana dan menunjukkan penyesalan, mungkin mereka akan meminta tambahan tunjangan lagi."
"Kalau begitu beri saja. Kau sudah mengambil nyawa seorang kepala keluarga mereka Yun. Berapapun harta yang kau berikan, itu tak akan tergantikan."
Dan datanglah Yunho keesokan harinya, dengan diantarkan sopir dalam mobil mewah. Tentu saja tak lupa membawa buket bunga di tangannya.
Ternyata mobil tidak bisa masuk ke kompleks itu, Yunho masih harus berjalan naik melewati gang sempit dan rumah-rumah yang tak pernah dibayangkannya ada didunia ini(bayangin jalan ke rumah di I miss you). Dengan jijik dipandanginya lumpur di sepatu mahalnya, dia akan membuang sepatu ini, putusnya jengkel.
Rumah itu sederhana, terletak di ujung gang, tetapi tampak paling bersih di antara semua rumah yang berdesak-desakan di sana. Kelihatannya seseorang berusaha meletakkan pot-pot mungil berisi bunga mawar untuk menutupi pagar jelek yang menyedihkan di depan rumah itu. Ketika Yunho mengucapkan permisi didepan pintu, seorang yeoja remaja, mungkin usianya beberapa tahun di bawahnya muncul di ruang tamu dan menatapnya curiga.
“Yeppota.” Gumamnya tanpa sadar
Yeoja itu cantik, itu yang Yunho pikirkan pertama kali melihatnya. Cantik, doe eyes yang memancarkan kecerdasan, dan meskipun hanya berpakaian sederhana, tetap saja tidak bisa menahan keterpesonaan Yunho.
"Nugu?" tanya yeoja itu hati-hati.
Yunho memasang senyumnya yang paling mempesona, selama ini banyak yeoja yang mengejarnya. Dia tidak pernah meragukan pesonanya.
"Saya Jung Yunho, josonghamnida saya baru bisa kemari. Saya baru pulang dari Jepang setelah menjalani perawatan medis karena luka setelah kecelakaan itu."
Setelah kalimat itu, Yunho bahkan tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi.
Yang bisa diingatnya adalah jeritan histeris penuh kemarahan Jaejoong, tetangga-tetangga yang berdatangan untuk memisahkan mereka karena Jaejoong tiba-tiba menyerangnya dengan tamparan bertubi-tubi. Bunga-bunga berserakan dihancurkan, dan ancaman penuh kebencian keluar dari cherry lips itu.
"Jangan pernah kau menampakkan wajahmu di depan kami!, Kau manusia hina yang bersembunyi di balik kekuasaan appamu, manusia pengecut, tidak bertanggung jawab!! Kau pikir nyawa manusia bisa diganti semudah itu dengan uang? Kami memang miskin, tapi kami punya harga diri!! Jadi sebelum kau bisa menunjukkan kalau kau punya harga diri, jangan berani-berani menunjukkan wajahmu di depan kami!!!"
Hari itu, Yunho diberitahu oleh seorang tetangga, eomma Jaejoongg jatuh sakit karena tak kuat menahan kepedihan, meninggal semalam dalam kondisi sakit parah, menyusul suaminya.
Hari itu, Yunho menyadari, bahwa perbuatannya telah menghancurkan hidup sebuah keluarga.
"Mereka sama sekali tidak mau menerima uang tunjangan dari keluarga ini, itulah yang mengganjal di hati eomma." sang eomma menatap Yunho sedih.
"Yeoja itu membenciku Eomma, baru kali ini aku menerima tatapan kebencian seperti itu."
Yunho masih terpekur shock dengan kejadian yang baru di alaminya. Sang eomma hanya menatapnya sedih,
"Yeoja itu kehilangan appanya dengan tragis, dan eommanya juga, apalagi yang bisa dilakukannya selain menumpahkan kebencian kepadamu, penyebab semua ini?"
"Dia sebatang kara, dan dia tidak mau menerima bantuan dari kita, lalu apa yang harus aku perbuat eomma?"
Eommanya menatap Yunho dengan kebijaksanaan yang diperolehnya dari pengalaman hidupnya bertahun-tahun,
"Mungkin kau harus memulainya dari dirimu sendiri dulu Yunho..."
.
.
.
.
"Mau sampai kapan kita disini? yeoja itu sudah pergi sejak tadi," suara Jessica memecahkan keheningan, hampir membuat Yunho berjingkat karena kaget.
"Melamun lagi ya? Akhir-akhir ini kebiasaanmu melamun semakin parah."
Yunho menarik napas lalu memundurkan mobilnya keluar dari parkiran, "Gomawo sudah menemaniku Jess,"
Jessica menatap kakaknya seksama, lalu tatapannya berubah penuh sayang. Kejadian kecelakaan itu sudah lama, tetapi oppanya menanggung beban rasa berdosa itu di pundaknya tanpa henti. Hingga seolah-olah Yunho sudah lupa bagaimana caranya tersenyum.
"Aku mencintaimu oppa, aku tidak tahan kalo kau terus-terusan dalam kondisi seperti ini."
Yunho terdiam, tidak menanggapi.
"Dia sudah lulus kuliah, nilainya bagus, dia pasti akan diterima di perusahaan yang juga telah susah kau dan appa siapkan."  Jessica menatap Yunho penuh arti, lalu mendesah ketika Yunho tidak mengatakan apa-apa,
"Bukankah ini waktunya kamu berhenti?"
"Berhenti untuk apa?"
"Berhenti memikul tanggung jawab ini seolah-olah kau tidak akan pernah termaafkan."
Cengkeraman Yunho di roda kemudi semakin erat, "Aku memang tidak akan pernah termaafkan."
"Kejadian itu sudah lama berlalu oppa, yeoja itu bahkan mungkin sudah kehilangan kesedihannya dan menjalani hidup dengan bahagia...."
Yunho mengernyit menggelengkan kepala, membantah apapun yang berusaha diucapkan oleh adiknya.
"Shirro. Aku yang merenggut semua kebahagiaannya. Sebelum semua bisa aku kembalikan kepadanya dalam kondisi utuh, aku tidak akan berhenti."
"Kau itu menyedihkan." Jessica menatap kakaknya dengan pandangan jengkel, merasa seperti kaset yang rusak karena mengulang-ulang kalimatnya terus-menerus, "Aku berdoa semoga suatu saat nanti yeoja itu tahu, siapa yang berada dibalik hidupnya yang berjalan dengan begitu mudah selama ini",
.
.
.
.
"Surat panggilan untukmu." Boa menyerahkan surat yang terbungkus rapi dalam amplop berbahan kertas mahal itu.
Jaejoong mengernyitkan kening, dibacanya kop di amplop surat itu yang ditulis dengan tinta emas elegan dengan emblem lambang perusahaan yang sangat bonafit. Perusahaan ini bergerak di bidang jasa konstruksi dan sangat terkenal, Jaejoong tahu emblem perusahaan ini, dan dia mengenal perusahaan ini, yang sering disebut-sebut oleh dosennya, dan juga sering muncul di berbagai media massa terutama yang menyangkut literatur bisnis dan keuangan.
Perusahaan ini benar-benar didirikan dari bawah, CEOnya yang menurut gosip masih muda, memulai usaha ini setelah pulang dari sekolahnya di Amerika. Dia mendirikan perusahaan dengan sistem yang serupa dengan joint ventura dengan penanaman modal dari perusahaan asing yang bergerak di bidang sejenis, dan kemudian dalam waktu lima tahun sudah merajai jajaran perusahaan konstruksi yang patut diperhitungkan.
Sebuah surat panggilan? Itu benar-benar membuat Jaejoong bingung, dia tidak pernah merasa mengirimkan lamaran ke perusahaan ini. Perusahaan ini terlalu bonafit untuk seorang fresh graduate seperti dirinya. Tapi bagaimana mungkin ada surat panggilan kalau dia tidak pernah mengajukan surat lamaran?
Boa tersenyum melihat keragu-raguan Jaejoong, "Sudah buka saja, mungkin isinya benar-benar panggilan kerja untukmu."
"Tapi saya tidak pernah merasa mengirimkan lamaran ke perusahaan ini, omoni." Jaejoong terbiasa memanggil Boa dengan sebutan omoni.
Boa sudah seperti ibu kedua baginya, ketika dia sebatang kara dan bumonimnya meninggal dulu, Jaejoong memutuskan untuk berhenti sekolah dan mencari pekerjaan. Kebetulan waktu itu seorang tetangganya mengenalkannya dengan Boa, seorang pegawai yang bertanggung jawab terhadap sebuah asrama putri yang saat itu sedang membutuhkan pembantu dan teman untuk menunggui asrama milik sebuah yayasan swasta tersebut.
Boa adalah seorang janda tanpa anak yang hidup sendirian, dan kehadiran Jaejoong sangat membantunya. Bahkan kemudian Boa mengusahakan beasiswa untuk Jaejoong agar dia bisa melanjutkan sekolahnya. Dan kemudian semua terasa mudah bagi Jaejoong, beasiswanya terus berlanjut hingga Jaejoong bisa lulus kuliah, tentu saja sebagian biaya hidupnya harus Jaejoong tanggung sendiri. Dia sekolah sekaligus bekerja sebagai pegawai asrama putri tersebut, mengurus administrasinya, bahkan kadang menjadi pegawai kebersihan kalau sedang tidak ada tenaga kebersihan.
"Mungkin itu rekomendasi dari Universitasmu, kau kan lulusan terbaik." Boa tersenyum lembut, "Kka, bukalah."
Dengan enggan dan sedikit takut-takut, Jaejoong merobek amplop itu, sebelumnya dia memastikan kalau amplop itu benar-benar ditujukan padanya. Setelah yakin dia mengeluarkan kertas surat yang tak kalah elegan dengan amplopnya itu dan mulai membaca isinya.
Dengan Hormat,
.........maka kami memanggil anda untuk menjalani rangkaian interview.............
Jaejoong mengerutkan keningnya, membacanya berulang-ulang.
"Ottokkhe Jae?" Boa tampak begitu optimis dan penasaran,
Jaejoong tersenyum, "Memang surat panggilan pekerjaan..."
"Kau harus datang."
"Keunde, omoni... saya masih bingung..."
Boa menggelengkan kepalanya, menelan semua bantahan Jaejoong, "Tidak semua orang berkesempatan sepertimu Jae, kau harus datang memenuhi panggilan kerja itu."
Jaejoong terdiam, mengerutkan kening, tapi pikirannya melayang, hidupnya terasa begitu mudah, seolah-olah Tuhan mengulurkan tanganNya langsung dan membantunya. Dia mendapatkan semuanya dengan begitu mudah, rumah asrama yang menampungnya gratis, beasiswa demi beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya, Boa sebagai pengganti bumonimnya. Pekerjaan yang sangat fleksibel yang memungkinkannya bekerja sambil sekolah, sekaligus menyediakan uang untuk kebutuhan pribadinya. Dan sekarang, begitu luluspun, tawaran pekerjaan langsung datang kepadanya, dan tidak tanggung-tanggung, langsung di sebuah perusahaan bonafit berkelas tingggi.
Jaejoong tersenyum dan otomatis memandang ke atas, ke titik khayalan yang dibayangkannya,
"Hei malaikat pelindungku", bisiknya pelan kepada langit, "Kau pasti sudah bekerja sangat keras, bernegosiasi dengan Tuhan untuk membuat hidupku begitu mudah, jeongmal gomapta ne."
.
.
.
.
To Be Continue
Karena tadi SdAnya udah 2kali post, kali ini Saki ngepost MAZEnya gak papa kan?
MAZE sehari satu kok sampai SdA selesai, (maksimal 2 deh kalau Saki lagi pengen post)... hehe
oke, tinggalkan jejak kalian buat Saki, ne...

7 comments:

  1. Ah bagus banget critanya. Kasihan yunho yg merasa bersalah krn udah ngebuat kedua org tua jae mati. Penasaran reaksi jae jika tau klo malaikat penolongnya adalah yunho

    ReplyDelete
  2. ternyata begitu toh ceritanya,,,tapi Yun ttep jdi pengagum rahasia + pelindung rahasia lol

    meskipun awalnya Yun nyebelin bgt dgn keangkuhannya tapi dia tanggung jawab meskipun diam2..

    semoga Jae bisa maafin Yum deh

    ni berapa chapter, Saki ???

    Saki,,, TUS nya donk apdettttt

    fighting !!!!!

    ReplyDelete
  3. Untung aja ummanya yunho nyuruh yunho minta maap langsung klo ga mungkin yunho ga kan pernah tau gimana menderitanya jae
    Lanjut saki ....

    ReplyDelete
  4. Jeanna ♥3:23 PM

    Rasa bersalah dan cinta. Membuat seorang Jung Yunho menjadi malaikat takbersayapny jaejoong. .
    Nice Story

    ReplyDelete
  5. Anonymous10:57 PM

    bagus kok, saki. hari ini SdA gak ada update yah??

    ReplyDelete
  6. Anonymous10:52 PM

    Cerita yg mengarukan...
    Ini seperti love story, jd crita'y ga terlalu berat mengalir apa ada'y

    Saki d tunggu chap selanjut'y ^^

    ReplyDelete
  7. yun malaikat pelindungmu jae
    knp yun gk cb nyapa jae seh
    sp tw jae udh lupa

    ReplyDelete