"Bukan urusanmu Jess."
Jessica mendengus lalu menyesap minuman kalengnya
dan meletakkannya di dasbor mobil.
"Sampai kapan kamu mau begini terus? sampai
dia menjadi nenek-nenek dan tetap tidak menyadari keberadaanmu?"
"Sttt, diamlah." Yunho bahkan tidak
menoleh ke wajah dongsaengnya yang duduk di sebelahnya, tatapannya lurus ke
depan, ke pintu keluar sebuah gerbang kampus.
Tak lama sosok yang dicarinya itu keluar, dengan
senyum manis yang sudah di hapalnya, sedang bercanda bersama teman-temannya.
"Dia tersenyum." gumam Yunho lega.
"Tentu saja dia tersenyum, dia berhasil lulus
dengan predikat cum laude", tukas Jessica dengan gusar, "Dan itu
karena siapa coba?"
"Aku tidak mau membahasnya...."
"Karena kau! Semua karena perjuanganmu."
Jessica tidak mempedulikan peringatan kakaknya dan terus melanjutkan.
"Dan sekarang kamu bahkan tidak bisa memberi
selamat kepadanya, malah mengintip dari jauh seperti ini. Kau benar-benar
menyedihkan Jung!"
Kitahara
Saki presented
MAZE
Kim
Jaejoong, Jung Yunho
© their self
Remake
again from Santhy Agatha Story
.
.
.
Chapter
I
.
.
.
Yunho terus menatap sosok itu sampai menjauh,
menghilang di dalam bis yang dikendarainya.
“Dia bahkan masih naik bis, Aku harus mengusahakan
kendaraan untuknya. Supaya dia tidak perlu capek berpanas-panasan naik bis
lagi."
Perkataan itu semakin membuat Jessica gusar karena
kakaknya yang baka itu tidak memperhatikan kata-katanya.
"Kau menyedihkan, sampai kapan kau menghukum
diri sendiri seperti ini oppa?"
Sepi.
Tampaknya Yunho mengganggap pertanyaan Jessica itu
tidak perlu dijawab. Kedua penerus dari keluarga Jung itu terdiam di dalam
mobil mewah yang sengaja di parkir agak jauh dari kampus, agar tidak mencolok.
Yunho sibuk dengan pikirannya sendiri, pikirannya melayang ke masa sepuluh
tahun lalu, saat usianya masih 18 tahun. Kaya, tampan, punya kuasa, dan tidak
tahu tentang rasa tanggung jawab........
.
.
.
.
10 tahun yang lalu,,,,,,,,
"Ini mobil hadiah ulang tahunku, baru ada dua
di negara ini.“ gumam Yunho bangga pada teman-temannya.
Semua temannya mengagumi mobil sport warna merah
yang diparkir Yunho di lapangan itu.
"Gila Jung, mobil ini sangat cocok untuk
mengebut!", seru salah satu temannya.
"Tentu saja, namanya juga mobil sport."
"C'mon Let's try." seru salah seorang
temannya yang lain.
Yunho tertawa bangga mencerminkan sedikit
kesombongannya. Malam itu mereka mabuk-mabukkan dan berpesta pora.
Dan malam itu pula Yunho belajar bahwa kesenangan
sesaat kadangkala bisa merenggut nyawa orang yang tidak bersalah. Mobil yang
dia kendarai dalam keadaan mabuk, menabrak sebuah taksi yang berjalan pelan di
jalur berlawanan.
Pengemudi taksi itu, namja tua yang tidak tahu
apa-apa, tewas seketika.
Tentu saja semua permasalahan dapat dibereskan
dengan cepat. Appa Yunho adalah pengusaha yang sangat berpengaruh karena harta
dan kekuasaannya yang melimpah.
Tidak ada yang mempermasalahkan kenapa Yunho
mengendarai kendaraannya dalam kondisi mabuk berat, uang jaminan sudah disiapkan.
Yunho sendiri waktu itu lebih mencemaskan keadaannya daripada memikirkan supir
taksi tua yang tewas itu. Toh supir taksi itu lebih beruntung langsung tewas,
tidak merasakan sakit seperti dirinya.
Limpanya terbentur keras, bengkak, sehingga
memerlukan perawatan dan pengobatan khusus, dan rasa sakitnya sungguh tidak
terkira. Bahkan Yunho sempat menyalahkan supir taksi yang menurutnya kurang
ajar. Kenapa bisa ada di jalan yang berlawanan dengan dirinya sehingga
membuatnya tertabrak.
Semua permasalahan dibereskan dengan cepat oleh
appanya. Yunho langsung di kirim ke Jepang untuk menjalani pengobatan. Sampai 6
bulan kemudian setelah kecelakaan itu, dia kembali kekorea.
Eommanya, seorang Jaejoong Cina yang sudah tinggal
di korea sejak menikah dengan Appa Yunho, mengingatkannya,
"Kau tidak pernah ingin tahu tentang
mereka?" tanya Eommanya waktu itu.
Yunho yang saat itu merasa bosan karena masih harus
beristirahat di rumah dan tidak bisa keluar rumah menatap Eommanya dengan
marah,
“Untuk apa? Bukankah Appa sudah memberikan
tunjangan yang sepadan buat mereka? Mungkin malahan lebih banyak dari yang bisa
dihasilkan supir taksi itu ketika dia hidup".
Kesombongan membuat suaranya terdengar keras.
Sang eomma menggelengkan kepalanya," Supir
taksi itu memiliki isteri yang berduka dan seorang anak yang masih membutuhkan
biaya sekolah. Apakah kau tidak menyesal atas kehilangan yang dialami anak
kecil itu, Yun?"
Yunho merasa terganggu mendengar ucapan Eommanya,
"Sebenarnya apa yang eomma inginkan dariku?"
"Eomma hanya ingin merasa sedikit lega, eomma
ingin kau kesana dan meminta maaf langsung. Bahkan selama ini hanya pegawai
appamu yang datang kesana dan mengurus semuanya."
Yunho mencibir, "Mereka itu keluarga miskin,
kalau Yunho datang kesana dan menunjukkan penyesalan, mungkin mereka akan
meminta tambahan tunjangan lagi."
"Kalau begitu beri saja. Kau sudah mengambil
nyawa seorang kepala keluarga mereka Yun. Berapapun harta yang kau berikan, itu
tak akan tergantikan."
Dan datanglah Yunho keesokan harinya, dengan
diantarkan sopir dalam mobil mewah. Tentu saja tak lupa membawa buket bunga di
tangannya.
Ternyata mobil tidak bisa masuk ke kompleks itu,
Yunho masih harus berjalan naik melewati gang sempit dan rumah-rumah yang tak
pernah dibayangkannya ada didunia ini(bayangin jalan ke rumah di I miss you).
Dengan jijik dipandanginya lumpur di sepatu mahalnya, dia akan membuang sepatu
ini, putusnya jengkel.
Rumah itu sederhana,
terletak di ujung gang, tetapi tampak paling bersih di antara semua rumah yang
berdesak-desakan di sana. Kelihatannya seseorang berusaha meletakkan pot-pot
mungil berisi bunga mawar untuk menutupi pagar jelek yang menyedihkan di depan
rumah itu. Ketika Yunho mengucapkan permisi didepan pintu, seorang yeoja
remaja, mungkin usianya beberapa tahun di bawahnya muncul di ruang tamu dan
menatapnya curiga.
“Yeppota.” Gumamnya tanpa sadar
Yeoja itu cantik, itu yang Yunho pikirkan pertama
kali melihatnya. Cantik, doe eyes yang memancarkan kecerdasan, dan meskipun
hanya berpakaian sederhana, tetap saja tidak bisa menahan keterpesonaan Yunho.
"Nugu?" tanya yeoja itu hati-hati.
Yunho memasang senyumnya yang paling mempesona,
selama ini banyak yeoja yang mengejarnya. Dia tidak pernah meragukan pesonanya.
"Saya Jung Yunho, josonghamnida saya baru bisa
kemari. Saya baru pulang dari Jepang setelah menjalani perawatan medis karena
luka setelah kecelakaan itu."
Setelah kalimat itu, Yunho bahkan tidak bisa
mengingat dengan jelas apa yang terjadi.
Yang bisa diingatnya adalah jeritan histeris penuh
kemarahan Jaejoong, tetangga-tetangga yang berdatangan untuk memisahkan mereka
karena Jaejoong tiba-tiba menyerangnya dengan tamparan bertubi-tubi.
Bunga-bunga berserakan dihancurkan, dan ancaman penuh kebencian keluar dari cherry
lips itu.
"Jangan pernah kau menampakkan wajahmu di depan
kami!, Kau manusia hina yang bersembunyi di balik kekuasaan appamu, manusia
pengecut, tidak bertanggung jawab!! Kau pikir nyawa manusia bisa diganti
semudah itu dengan uang? Kami memang miskin, tapi kami punya harga diri!! Jadi
sebelum kau bisa menunjukkan kalau kau punya harga diri, jangan berani-berani
menunjukkan wajahmu di depan kami!!!"
Hari itu, Yunho diberitahu oleh seorang tetangga, eomma
Jaejoongg jatuh sakit karena tak kuat menahan kepedihan, meninggal semalam
dalam kondisi sakit parah, menyusul suaminya.
Hari itu, Yunho menyadari, bahwa perbuatannya telah
menghancurkan hidup sebuah keluarga.
"Mereka sama sekali tidak mau menerima uang
tunjangan dari keluarga ini, itulah yang mengganjal di hati eomma." sang
eomma menatap Yunho sedih.
"Yeoja itu membenciku Eomma, baru kali ini aku
menerima tatapan kebencian seperti itu."
Yunho masih terpekur shock dengan kejadian yang
baru di alaminya. Sang eomma hanya menatapnya sedih,
"Yeoja itu kehilangan appanya dengan tragis,
dan eommanya juga, apalagi yang bisa dilakukannya selain menumpahkan kebencian
kepadamu, penyebab semua ini?"
"Dia sebatang kara, dan dia tidak mau menerima
bantuan dari kita, lalu apa yang harus aku perbuat eomma?"
Eommanya menatap Yunho dengan kebijaksanaan yang
diperolehnya dari pengalaman hidupnya bertahun-tahun,
"Mungkin kau harus memulainya dari dirimu
sendiri dulu Yunho..."
.
.
.
.
"Mau sampai kapan kita disini? yeoja itu sudah
pergi sejak tadi," suara Jessica memecahkan keheningan, hampir membuat
Yunho berjingkat karena kaget.
"Melamun lagi ya? Akhir-akhir ini kebiasaanmu
melamun semakin parah."
Yunho menarik napas lalu memundurkan mobilnya
keluar dari parkiran, "Gomawo sudah menemaniku Jess,"
Jessica menatap kakaknya seksama, lalu tatapannya
berubah penuh sayang. Kejadian kecelakaan itu sudah lama, tetapi oppanya
menanggung beban rasa berdosa itu di pundaknya tanpa henti. Hingga seolah-olah
Yunho sudah lupa bagaimana caranya tersenyum.
"Aku mencintaimu oppa, aku tidak tahan kalo
kau terus-terusan dalam kondisi seperti ini."
Yunho terdiam, tidak menanggapi.
"Dia sudah lulus kuliah, nilainya bagus, dia
pasti akan diterima di perusahaan yang juga telah susah kau dan appa siapkan." Jessica menatap Yunho penuh arti, lalu
mendesah ketika Yunho tidak mengatakan apa-apa,
"Bukankah ini waktunya kamu berhenti?"
"Berhenti untuk apa?"
"Berhenti memikul tanggung jawab ini
seolah-olah kau tidak akan pernah termaafkan."
Cengkeraman Yunho di roda kemudi semakin erat,
"Aku memang tidak akan pernah termaafkan."
"Kejadian itu sudah lama berlalu oppa, yeoja
itu bahkan mungkin sudah kehilangan kesedihannya dan menjalani hidup dengan
bahagia...."
Yunho mengernyit menggelengkan kepala, membantah
apapun yang berusaha diucapkan oleh adiknya.
"Shirro. Aku yang merenggut semua
kebahagiaannya. Sebelum semua bisa aku kembalikan kepadanya dalam kondisi utuh,
aku tidak akan berhenti."
"Kau itu menyedihkan." Jessica menatap
kakaknya dengan pandangan jengkel, merasa seperti kaset yang rusak karena
mengulang-ulang kalimatnya terus-menerus, "Aku berdoa semoga suatu saat
nanti yeoja itu tahu, siapa yang berada dibalik hidupnya yang berjalan dengan
begitu mudah selama ini",
.
.
.
.
"Surat panggilan untukmu." Boa
menyerahkan surat yang terbungkus rapi dalam amplop berbahan kertas mahal itu.
Jaejoong mengernyitkan kening, dibacanya kop di
amplop surat itu yang ditulis dengan tinta emas elegan dengan emblem lambang
perusahaan yang sangat bonafit. Perusahaan ini bergerak di bidang jasa
konstruksi dan sangat terkenal, Jaejoong tahu emblem perusahaan ini, dan dia
mengenal perusahaan ini, yang sering disebut-sebut oleh dosennya, dan juga
sering muncul di berbagai media massa terutama yang menyangkut literatur bisnis
dan keuangan.
Perusahaan ini benar-benar didirikan dari bawah, CEOnya
yang menurut gosip masih muda, memulai usaha ini setelah pulang dari sekolahnya
di Amerika. Dia mendirikan perusahaan dengan sistem yang serupa dengan joint
ventura dengan penanaman modal dari perusahaan asing yang bergerak di bidang
sejenis, dan kemudian dalam waktu lima tahun sudah merajai jajaran perusahaan
konstruksi yang patut diperhitungkan.
Sebuah surat panggilan? Itu benar-benar membuat Jaejoong
bingung, dia tidak pernah merasa mengirimkan lamaran ke perusahaan ini.
Perusahaan ini terlalu bonafit untuk seorang fresh graduate seperti dirinya.
Tapi bagaimana mungkin ada surat panggilan kalau dia tidak pernah mengajukan
surat lamaran?
Boa tersenyum melihat keragu-raguan Jaejoong,
"Sudah buka saja, mungkin isinya benar-benar panggilan kerja
untukmu."
"Tapi saya tidak pernah merasa mengirimkan
lamaran ke perusahaan ini, omoni." Jaejoong terbiasa memanggil Boa dengan
sebutan omoni.
Boa sudah seperti ibu kedua baginya, ketika dia
sebatang kara dan bumonimnya meninggal dulu, Jaejoong memutuskan untuk berhenti
sekolah dan mencari pekerjaan. Kebetulan waktu itu seorang tetangganya mengenalkannya
dengan Boa, seorang pegawai yang bertanggung jawab terhadap sebuah asrama putri
yang saat itu sedang membutuhkan pembantu dan teman untuk menunggui asrama
milik sebuah yayasan swasta tersebut.
Boa adalah seorang janda tanpa anak yang hidup
sendirian, dan kehadiran Jaejoong sangat membantunya. Bahkan kemudian Boa
mengusahakan beasiswa untuk Jaejoong agar dia bisa melanjutkan sekolahnya. Dan
kemudian semua terasa mudah bagi Jaejoong, beasiswanya terus berlanjut hingga Jaejoong
bisa lulus kuliah, tentu saja sebagian biaya hidupnya harus Jaejoong tanggung
sendiri. Dia sekolah sekaligus bekerja sebagai pegawai asrama putri tersebut,
mengurus administrasinya, bahkan kadang menjadi pegawai kebersihan kalau sedang
tidak ada tenaga kebersihan.
"Mungkin itu rekomendasi dari Universitasmu,
kau kan lulusan terbaik." Boa tersenyum lembut, "Kka, bukalah."
Dengan enggan dan sedikit takut-takut, Jaejoong
merobek amplop itu, sebelumnya dia memastikan kalau amplop itu benar-benar
ditujukan padanya. Setelah yakin dia mengeluarkan kertas surat yang tak kalah
elegan dengan amplopnya itu dan mulai membaca isinya.
Dengan Hormat,
.........maka kami memanggil
anda untuk menjalani rangkaian interview.............
Jaejoong mengerutkan keningnya, membacanya
berulang-ulang.
"Ottokkhe Jae?" Boa tampak begitu optimis
dan penasaran,
Jaejoong tersenyum, "Memang surat panggilan
pekerjaan..."
"Kau harus datang."
"Keunde, omoni... saya masih bingung..."
Boa menggelengkan kepalanya, menelan semua bantahan
Jaejoong, "Tidak semua orang berkesempatan sepertimu Jae, kau harus datang
memenuhi panggilan kerja itu."
Jaejoong terdiam, mengerutkan kening, tapi
pikirannya melayang, hidupnya terasa begitu mudah, seolah-olah Tuhan
mengulurkan tanganNya langsung dan membantunya. Dia mendapatkan semuanya dengan
begitu mudah, rumah asrama yang menampungnya gratis, beasiswa demi beasiswa
untuk melanjutkan sekolahnya, Boa sebagai pengganti bumonimnya. Pekerjaan yang
sangat fleksibel yang memungkinkannya bekerja sambil sekolah, sekaligus
menyediakan uang untuk kebutuhan pribadinya. Dan sekarang, begitu luluspun,
tawaran pekerjaan langsung datang kepadanya, dan tidak tanggung-tanggung,
langsung di sebuah perusahaan bonafit berkelas tingggi.
Jaejoong tersenyum dan otomatis memandang ke atas,
ke titik khayalan yang dibayangkannya,
"Hei malaikat pelindungku", bisiknya
pelan kepada langit, "Kau pasti sudah bekerja sangat keras, bernegosiasi
dengan Tuhan untuk membuat hidupku begitu mudah, jeongmal gomapta ne."
.
.
.
.
To Be Continue
Karena tadi SdAnya udah 2kali post, kali ini Saki ngepost MAZEnya gak papa kan?
MAZE sehari satu kok sampai SdA selesai, (maksimal 2 deh kalau Saki lagi pengen post)... hehe
oke, tinggalkan jejak kalian buat Saki, ne...

Ah bagus banget critanya. Kasihan yunho yg merasa bersalah krn udah ngebuat kedua org tua jae mati. Penasaran reaksi jae jika tau klo malaikat penolongnya adalah yunho
ReplyDeleteternyata begitu toh ceritanya,,,tapi Yun ttep jdi pengagum rahasia + pelindung rahasia lol
ReplyDeletemeskipun awalnya Yun nyebelin bgt dgn keangkuhannya tapi dia tanggung jawab meskipun diam2..
semoga Jae bisa maafin Yum deh
ni berapa chapter, Saki ???
Saki,,, TUS nya donk apdettttt
fighting !!!!!
Untung aja ummanya yunho nyuruh yunho minta maap langsung klo ga mungkin yunho ga kan pernah tau gimana menderitanya jae
ReplyDeleteLanjut saki ....
Rasa bersalah dan cinta. Membuat seorang Jung Yunho menjadi malaikat takbersayapny jaejoong. .
ReplyDeleteNice Story
bagus kok, saki. hari ini SdA gak ada update yah??
ReplyDeleteCerita yg mengarukan...
ReplyDeleteIni seperti love story, jd crita'y ga terlalu berat mengalir apa ada'y
Saki d tunggu chap selanjut'y ^^
yun malaikat pelindungmu jae
ReplyDeleteknp yun gk cb nyapa jae seh
sp tw jae udh lupa