Monday, March 17

[Remake] Choosey Lover Chapter VIII

“Aku akan menelponmu minggu depan saat mobilmu telah selesai, Ok?”
“Ok.” Yixing setuju.
Yifan mendorong Yixing ke arah pintu dan Yixing masuk ke dalam mobil. Jok kulit dan interior kayu seakan membungkus dirinya. Yifan memberitahu Yixing tentang beberapa hal mengenai kontrol dan menunjukkan pada Yixing bagaimana cara mengatur jok dan spion.
Yifan mendorong pintu mobil tertutup dan Yixing memandang ke arah Yifan untuk beberapa saat lewat jendela mobil sebelum dengan hati-hati mundur di halaman rumah Yifan.
Yifan mengamati Yixing yang membawa mobilnya keluar dan turun ke jalan. Rasa bahagia yang tajam melanda Yifan saat dia melihat Yixing mengendarai mobilnya. Mobil itu dibayar dengan uangnya. Saat Yifan menyadari kemana emosinya menuju, Yifan dengan kasar mengenyahkannya. Ya, Yifan begitu menginginkan Yixing. Yixing adalah terlarang untuknya. Jika Yifan mengambil apa yang ia inginkan, maka ia kemungkinan akan kehilangan sahabatnya.
Pandangan marah yang gelap melintasi Yifan. Situasi ini secara keseluruhan menyebalkan, jelas sekali.

Choosey Lover
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Heechul, Choi Siwon, Zhang Yixing, Wu Yifan
©their self
Marga disesuaikan, Remake dari Novel karya  Lynda Chance
Jika mengendarai mobil Yifan selama akhir pekan seharusnya membantu Yixing untuk melupakan Yifan, maka itu tidaklah berhasil. Yixing berusaha untuk fokus tentang keadaan yang berbeda diantara mereka tiap kali dia masuk ke dalam mobil, tapi Yixing tak bisa membuat pikirannya kesana. Semua yang bisa Yixing ingat hanya betapa lembutnya Yifan, betapa manis dan penyayang dia. Semua itu membuat rasa tertarik Yixing terhadap Yifan semakin besar dan Yixing fokus untuk membuat Yifan tak pernah tahu betapa dalam perasaan Yixing terhadap dirinya.
Yifan mengirimkan SMS padanya pada hari Rabu dan mengatakan bahwa perbaikan mobilnya ternyata memakan waktu lebih lama dari yang ia perkirakan. Dealer harus memesan sparepart dan Yifan akan mencoba untuk mengembalikan mobil Yixing sebelum hari Jumat.
.
.
.
.
.
Jumat malam, Yifan mengetuk pintu apartemen dan berdiri mundur untuk menunggu. Perutnya seperti terikat dalam simpul antisipasi dan ketegangan.
Yifan perlu menukar mobil Yixing dengan mobilnya dan segera pergi.
Itu yang harus dia lakukan menurut otak di dalam kepalanya.
Masalahnya, tubuh Yifan sudah tidak mau menurut perintah dari otaknya sejak Yifan berusia sekitar lima belas tahun.
Yifan berdebat dengan dirinya sendiri selama naik ke atas ke depan pintu Yixing. Yunho akan membunuhnya. Yifan mengatakan itu kepada otaknya lagi dan lagi. Yunho akan membunuh Yifan. Masalahnya adalah Yixing adalah makhluk paling manis yang pernah Yifan temui dalam waktu yang sangat lama. Dan ia gatal untuk menyentuh Yixing.
Dia perlu menukar mobil dan pergi dengan segera.
Pikiran itu terbang dari otak Yifan saat Yixing membuka pintu.
“Hai.” Suara lembut Yixing mengirimkan panah kebutuhan ke dalam dirinya.
“Hey.” Bisakah Yixing tahu bahwa Yifan ingin meraihnya dan memeluknya? Bisakah Yixing tahu bahwa diperlukan semua kontrol diri darinya hanya untuk berdiri di depan pintu dan tidak mendorong Yixing ke dalam apartemen?
Yixing berdiri di depan Yifan dengan memakai celana pendek katun berwarna merah dan kaos kuning berlengan pendek dengan kerah berbentuk V. Kulit Yixing halus dan mulus, dari wajahnya sampai kaki telanjangnya, kuku jari kaki Yixing di cat warna pink.
Perut Yifan mengencang karena dorongan kebutuhan yang sangat keras. Yifan harus segera meninggalkan Yixing. Dengan cepat. Yifan memberikan kunci mobil pada Yixing tanpa berkata-kata.
Yixing meraih dan mengambil kunci mobil dari tangan Yifan, bertekad untuk membuat Yifan masuk ke dalam apartemen. Dua teman sekamarnya keluar malam ini dan Yixing sudah memasak makanan untuk Yifan sebagai ucapan terima kasih atas pertolongan yang sudah dia berikan. Itu bukan berarti Yixing mengejar-ngejar Yifan, kan? Tidak, tentu saja bukan. Yixing hanya mencoba untuk bersikap baik.
“Masuklah.” Yixing mencoba untuk terdengar santai.
“Tidak usah.” Yifan menolak dengan datar.
“kau akan membeku. Cuaca dingin berhembus masuk entah dari mana. Aku masih memakai celana pendek.” Yixing tahu dia sedang ngelantur. Cuaca sudah membeku sejak sejam yang lalu. Yixing tidak mengikuti ramalan cuaca dan tak tahu apakah cuaca dingin benar-benar datang. Tapi, ini bulan Desember dan cuaca berubah setiap harinya.
Pandangan Yifan jatuh ke kaki Yixing. Angin berhembus masuk dari luar. Yifan tak ingin Yixing kedinginan dan Yifan tahu Yixing tidak akan menutup pintu jika Yifan masih berada di sana. Dengan enggan Yifan masuk ke dalam apartemen.
Yixing menutup pintu dan mereka berdua sekarang ada di dalam apartemen.
“Aku memasak makan malam untukmu. Apakah kau lapar?”
Yifan berpikir untuk berbohong dan mengatakan padanya bahwa dia sudah makan tapi aroma masakan datang dari dapur kecil menggoda perutnya.
Yifan tak pernah menolak satu pun tawaran masakan rumahan. “Kau tak perlu melakukan hal itu.” Yifan bisa makan lalu pergi.
“Tentu saja aku perlu. Setelah semua pertolonganmu? Aku harus melakukan sesuatu untukmu.” Yixing tersenyum. “Maksudku selain tidak merusak mobilmu.”
Yifan memberikan Yixing senyuman kecil. “Aroma masakannya enak.”
“Itu spaghetti.”
“Sepertinya enak.”
Yixing mengarahkan Yifan ke area kecil ruang makan di dapur dan menuangkan segelas es teh. “Duduklah.”
Yifan duduk dan mengamati Yixing bergerak di dalam dapur. Sosok tubuh Yixing melakukan hal gila di dalam pikiran Yifan. Saat Yixing mengisi piring dengan makanan, pandangan Yixing terus melirik ke arah Yifan. Yifan berusaha untuk tetap duduk diam dan menunggu, dan menjaga tangannya saat Yixing datang mendekati Yifan dan ia berada dalam jangkauannya lalu Yixing meletakkan piring di hadapannya.
Yifan menunggu sementara Yixing duduk dengan piring untuk dirinya sendiri lalu Yifan mengambil garpu.
Kemudian Yifan menyadari makanan di atas piringnya. Bagaimana aroma makanan ini bisa sangat mengundang selera dan terlihat sangat enak. Mienya berkumpul membentuk gumpalan dan mirip dengan jamur. Ditaburi Saus dan gumpalan cairan sisa saus yang menempel pada piring dan bertaburan di ujung piring. Daging di dalam sausnya membeku dan pinggirnya berminyak. Perut Yifan melilit, tapi Yifan mengeratkan cengkeramannya pada garpunya dan dengan berani mengambil lagi makanan dari piringnya. Yifan tidak akan menyakiti perasaan Yixing.
Yixing terlalu gugup untuk makan. Yixing mengamati Yifan mengembalikan makanannya kembali ke atas piring untuk beberapa saat sebelum Yixing mengambil makanan di atas piringnya sendiri.
Yixing mengambil suapan pertama dan menjatuhkan garpunya dengan suara keras. Yixing berusaha untuk menelan, mengambil teh dan meminumnya lalu Yixing meraih pergelangan tangan Yifan yang berada di seberangnya. “Berhenti.”
Saat Yifan memandang ke arah Yixing, Yixing melihat ekspresi lega di mata Yifan. Mata Yixing penuh dengan air mata karena malu.
Yixing mencoba untuk meminta maaf. “Aku minta maaf. Aku tidak bisa percaya kau memakannya.”
Yixing bahkan merasa lebih buruk lagi saat Yifan tersenyum padanya. “Makanannya lumayan.”
Yixing menggelengkan kepalanya. “Makanannya sangat tidak enak.”
“Kau sering memasak?”
“T-tidak. Jaejoong dan Heechul yang memasak. Aku tak pernah berpikir kalau memasak itu ternyata sulit.”
“Makanannya tidak terlalu buruk, sayang. Kau hanya butuh latihan,” Yifan mengatakannya dengan lembut.
“Aku tidak bisa membayangkan mengorbankan seseorang untuk mencoba hasil masakanku.”
Kecemburuan mengalir ke dalam diri Yifan saat memikirkan ada orang lain, seorang namja lain yang memakan makanan Yixing. Ini konyol, dan dia tahu itu. Bahwa masakan Yixing memang tidak enak.
Yifan harus mengalihkan pemikiran Yixing dari itu. “Bagaimana jika aku mengajakmu makan di luar?”
Yixing sangat malu, dia seakan ingin merangkak sembunyi ke bawah batu. Atau pergi ke tempat tidur dan meletakkan kepalanya di bawah bantal dan tidak bangun untuk beberapa hari. “Tidak terima kasih. Aku tidak lapar.” Yixing memandang ke arah Yifan, perasaan Yixing tergambar jelas di matanya.
“Tidak apa-apa, sayang.”
“Aku sangat malu.”
“Jangan khawatir soal itu. Pakai Jeans dan mari kita pergi untuk mencari makanan.”
“Tidak, sungguh, kau tak perlu melakukan hal itu. Aku tahu kau harus melakukan hal lainnya. Aku baik-baik saja.”
Yifan tidak bisa memaksa Yixing untuk pergi. Lagipula Yifan tahu bukan ide yang baik untuk berada di dekat Yixing terlalu sering. Saat Yixing berdiri untuk membersihkan meja, Yifan berdiri.
Yixing melirik ke arah Yifan dan tersenyum. “Aku akan mengambil kunci mobilmu.”
Yixing mengantar Yifan ke pintu dan baru saja akan mengucapkan terima kasih kepada Yifan saat Yifan meletakkan satu jarinya ke bawah dagu Yixing dan mengangkatnya.
“Terima kasih karena sudah mencoba untuk memasak, sayang.“ jemari Yifan menyapu bibir bawah Yixing “Kau sangat manis.”
Yixing memandang Yifan dengan seksama. Yifan bisa merasakan tubuh Yixing gemetar. Suara Yixing sangat lembut. “Terima kasih untuk pinjaman mobilnya. Terima kasih sudah memperbaiki mobilku. Terima kasih untuk setiap…”
“Shhh. Sudah Cukup. Kau tak perlu berterima kasih padaku.” Yifan tidak ingin pergi. Saat Yifan pergi, ia tak akan punya alasan yang masuk akal untuk kembali. Yifan tak tahu kapan dia bisa bertemu dengan Yixing lagi.
Persetan, Yunho.
Yifan tak dapat menghentikan dirinya dan menunduk ke bawah untuk mencium dahi Yixing. Hanya itu yang Yifan izinkan untuk dirinya lakukan. Hanya itu yang ia bisa izinkan untuk dirinya dalam keadaan seperti sekarang ini.
Kulit Yixing lembut dan mulus di bawah bibirnya dan Yifan menahan dirinya untuk tidak meraih Yixing. Yixing yang manis sudah menjadi candu bagi dirinya. Kelembutan Yixing sungguh memukau dirinya. Yifan bernafas mencium aroma Yixing, mencoba untuk mengingatnya dan kemudian dengan lembut menjauhkan Yixing dari dirinya.
“Tetaplah jadi yeoja yang manis, sayang. Jaga dirimu.” Suaranya terdengar seperti siksaan bahkan bagi dirinya sendiri.
Yifan dengan cepat berpaling dan pergi.
.
.
.
.
.
.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat. Yunho dan Jaejoong menghabiskan waktu senggang mereka bersama dan perlahan, barang-barang milik Jaejoong mulai bermigrasi ke apartment Yunho.
Yunho sepertinya tak terlihat keberatan. Bahkan, Yunho secara terang-terangan menganjurkan hal itu dengan meminta Jaejoong bermalam di apartmentnya lagi dan lagi. Yunho ingin Jaejoong merasa nyaman, jadi Yunho ingin Jaejoong meninggalkan barang-barangnya ditempat tinggalnya.
Jaejoong mulai mengkonsumsi pil kontrasepsi dan segala sesuatu diantara mereka berjalan dengan lancar.
Sampai suatu malam Yixing menelpon dan mengatakan pada Jaejoong agar jangan kembali ke apartemen karena polisi berada di mana-mana. Yixing tak tahu apakah telah terjadi perampokan atau tepatnya hal apa yang terjadi. Hanya itu semua informasi yang Yixing berikan. Jaejoong menawarkan untuk datang dan menjemput Yixing kemudian membawa Yixing ke rumah Yunho. Yixing mengatakan padanya nanti akan memberi kabar dan Heechul saat ini sedang berada di rumah orang tuanya. Jaejoong meminta Yixing untuk berhati-hati sebelum Yixing menutup telepon.
.
.
.
.
.
telepon Yifan berbunyi saat Yifan baru saja kembali ke dalam rumah setelah membuang sampah. Caller ID “Yeoja manis yang hot” berkedip padanya dari layar telepon. Panah kebahagiaan yang tidak seharusnya mengalir ke dalam dirinya saat Yifan menjawab.
“Hey. Apa kabar?” Yifan menyeringai saat Yifan mendengar antusiasme di dalam suaranya. Hey dude, santai.
Yixing mulai bicara dengan segera. “oppa aku tidak tahu apa yang harus, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.”
Rasa takut menyusup ke dalam diri Yifan mendengar kata-kata Yixing yang gemetar. ”Ada apa?”
“Aku berada di apartemen. Di tempat parkir. Ada mobil polisi dimana-mana. Aku takut untuk naik ke atas. Aku…”
Yifan menyela Yixing. “Tetap di situ. Dimana sepupumu? Dimana Heechul?”
“Jaejoong bersama Yunho. Heechul berada di rumah orang tuanya.”
“Tenang, baby. Jangan mencoba untuk masuk ke dalam apartemenmu. Tinggalkan semuanya dan datang kemari. Kau ingat jalannya?” Kekhawatiran terdengar dari Suara Yifan.
“Aku tidak bisa datang ke rumahmu…” Yixing membantah.
“Kenapa tidak?” Yifan akan pergi mencari Yixing dan menariknya ke rumahnya jika diperlukan.
“Aku tidak tahu, aku akan menelpon Jaejoong. Mungkin aku akan pergi ke rumah Yunho.”
“Tidak. Kau akan pergi ke rumahku.”
“oppa…”
“Berhenti membantah dan mulainya menyetir. Kau ingat jalan menuju ke rumahku?”
“Ya. Kupikir aku ingat.”
“Yeoja pintar. telepon aku jika kau membutuhkan arahan penunjuk jalan.”
“Ok.”
Yifan bisa mendengar kelegaan di suara Yixing.
“Yixing.”
“Ya?”
“Hati-hati, sayang.”
.
.
.
.
.
To Be Continue

1 comment:

  1. Anonymous9:57 PM

    saki terima kasih ya udah remake yg seperti ini :)

    ReplyDelete