telepon Yifan berbunyi saat Yifan baru saja kembali
ke dalam rumah setelah membuang sampah. Caller ID “Yeoja manis yang hot”
berkedip padanya dari layar telepon. Panah kebahagiaan yang tidak seharusnya
mengalir ke dalam dirinya saat Yifan menjawab.
“Hey. Apa kabar?” Yifan menyeringai saat Yifan
mendengar antusiasme di dalam suaranya. Hey dude, santai.
Yixing mulai bicara dengan segera. “oppa aku tidak
tahu apa yang harus, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.”
Rasa takut menyusup ke dalam diri Yifan mendengar
kata-kata Yixing yang gemetar. ”Ada apa?”
“Aku berada di apartemen. Di tempat parkir. Ada
mobil polisi dimana-mana. Aku takut untuk naik ke atas. Aku…”
Yifan menyela Yixing. “Tetap di situ. Dimana
sepupumu? Dimana Heechul?”
“Jaejoong bersama Yunho. Heechul berada di rumah
orang tuanya.”
“Tenang, baby. Jangan mencoba untuk masuk ke dalam
apartemenmu. Tinggalkan semuanya dan datang kemari. Kau ingat jalannya?”
Kekhawatiran terdengar dari Suara Yifan.
“Aku tidak bisa datang ke rumahmu…” Yixing
membantah.
“Kenapa tidak?” Yifan akan pergi mencari Yixing dan
menariknya ke rumahnya jika diperlukan.
“Aku tidak tahu, aku akan menelpon Jaejoong.
Mungkin aku akan pergi ke rumah Yunho.”
“Tidak. Kau akan pergi ke rumahku.”
“oppa…”
“Berhenti membantah dan mulainya menyetir. Kau
ingat jalan menuju ke rumahku?”
“Ya. Kupikir aku ingat.”
“Yeoja pintar. telepon aku jika kau membutuhkan
arahan penunjuk jalan.”
“Ok.”
Yifan bisa mendengar kelegaan di suara Yixing.
“Yixing.”
“Ya?”
“Hati-hati, sayang.”
Choosey
Lover
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung
Yunho, Kim Heechul, Choi Siwon, Zhang Yixing, Wu Yifan
©their self
Marga disesuaikan, Remake dari Novel karya Lynda
Chance
Setelah Jaejoong menerima telepon dari Yixing, Yunho tiba-tiba menjadi murka.
Yunho berdiri dan berjalan mondar-mandir di hadapan
Jaejoong, mengusap rambutnya dengan pergolakan di dalam dirinya. Yunho berbalik
memandang Jaejoong dan melotot.
“Kita tak akan menghadapi masalah ini jika kau
sepenuhnya pindah ke rumahku. Aku tak suka kau tinggal di apartemen itu. Itu
tidak aman.”
Jaejoong jadi meradang. Hampir terdengar seperti
ultimatum. “Apartemen itu sepenuhnya aman.”
“Apartemen itu tidak aman,” Yunho menggeram,
getaran datang dari dadanya. Kemarahan Yunho begitu terlihat.
“Heechul dan Yixing tinggal di sana…” Jaejoong
berhenti bicara saat Yunho memotong kata-katanya.
“Aku tak bisa mencegah dimana Heechul harusnya
tinggal. Itu urusan mereka atau urusan namja lain. Bukan aku. Bukan kau.” Suara
Yunho terus menerjang Jaejoong, Yunho kehilangan kesabaran.
Jaejoong mengambil nafas dalam sebelum memulai
bantahannya. “Kami berbagi uang sewa. Dan perlengkapannya. Kami baru saja
memperpanjang sewa.”
Tangan Yunho membelah udara. “Aku tidak perduli.
Aku akan membayar uang sewamu sampai waktu sewa berakhir. Itu bukan jadi alasan
kau tidak bisa pindah kesini. Selama teman se apartemenmu mendapatkan uang
sewamu, mereka akan baik-baik saja.”
“Kau tak bisa melakukan itu Yun.” Jaejoong berkata
dengan suara lembut.
Mulut Yunho membentuk garis lurus saat ekspresinya
menjadi gelap. Tangan Yunho mengepal saat dia membungkuk ke depan menyusup ke
wilayah pribadi Jaejoong. “Ya. Aku bisa. Apakah kau menandatangani sewa untuk 6
bulan atau setahun?
“S-Setahun.” Jaejoong menjawab dengan suara
gemetar.
"Aku akan membayarnya di muka. Kau tidak akan
melanggar perjanjian sewa itu. Kita bisa memindahkan barang-barangmu
besok." Kata-kata Yunho mutlak, menegaskan apa yang akan dilakukan.
"Yunho aku tidak tahu apakah itu adil untuk
mereka, mereka tidak hanya mengharapkan uang. Mereka mengharapkan aku untuk
berada di sana, Seorang teman sekamar. Seorang sahabat."
"Aku mengerti itu, tapi itu tidak bisa
membantu. Kalian bertiga tidak bisa terus berpikir hal itu akan bertahan
selamanya. Hal buruk terjadi. Orang melanjutkan hidupnya. Aku tidak bilang kau
harus menjauhi Sahabatmu, Aku hanya mengatakan kau tidak bisa tinggal di tempat
yang penuh dengan tikus"
"Penuh dengan tikus! itu komunitas tertutup!
bagus, mahal.."
"Terserah apa katamu. Ok. Aku berlebihan. Tapi
intinya aku ingin kau berada di sini di rumahku, Boo. Aku ingin kau berada di
sini setiap detik dalam setiap hari sejak kita kembali bersama. Tidak akan
kubiarkan kau kembali ke apartemen itu setelah apa yang terjadi hari ini di
sana. Itu tidak akan terjadi, Boo."
Jaejoong berdiri memandang Yunho, Keragu-raguan
membingungkan pikirannya. Jaejoong ingin bersama Yunho. Jaejoong menginginkan
itu jauh di dalam dirinya. Jaejoong menyayangi sahabatnya, tapi Jaejoong juga
mencintai...- Jaejoong memotong pikiran itu dengan cepat. Jaejoong ingin
bersama sahabatnya, tapi Jaejoong lebih ingin bersama Yunho.
Kekhawatiran utamanya adalah Jaejoong sudah
menelantarkan Heechul dan Yixing. Tapi mereka akan bisa mengerti. Terutama
Heechul yang sudah bisa mempercayai Yunho. Semakin sering mereka bersama,
semakin Heechul mengetahui siapa Yunho, Heechul semakin menyadari apa yang
Jaejoong dan Yunho miliki berdua. Heechul dan Yixing menyayangi Jaejoong dan
ingin agar Jaejoong bahagia.
Dan ini tidak berarti Jaejoong akan melanggar
perjanjian sewa apartemennya. Yunho sudah menawarkan untuk membayar bagian sewa
Jaejoong, tapi Jaejoong tak akan membiarkan Yunho melakukan hal itu. Jika
Jaejoong tinggal di sini bersama Yunho, Jaejoong dapat dengan mudah terus
membayar bagian uang Sewanya dan peralatan.
Dan Yunho benar. Semua hal berubah. Orang berubah.
Sebuah hubungan terjadi dan hidup harus terus berlanjut. Mungkin ini waktunya.
Perasaan puas yang tersembunyi dan berbahaya menjalar ke dalam tulang belakang
Jaejoong dan mengisi dirinya dengan kebahagian. Jaejoong akan sangat senang
tinggal disini dengan Yunho. Jaejoong tak bisa memikirkan hal lain yang begitu
ia inginkan.
Dan satu hal pasti. Jika Jaejoong mengecewakan
Yunho kali ini, Yunho akan menjadi begitu buas di masa depan. Jaejoong tak akan
mendapatkan kedamaian sampai Jaejoong menyetujui apa yang diminta oleh Yunho.
Jaejoong mengambil waktu sebelum menjawab Yunho.
Jaejoong dapat merasakan penilaian Yunho menetap kepadanya.
Yunho berdiri dengan tegang, seloroh di pipi Yunho,
menghirup oksigen ke dalam paru-parunya begitu dalam sehingga Jaejoong bisa
melihat dada Yunho yang turun naik. “Jika aku melakukan ini, tidak berarti kau
akan selalu menang dalam segala hal. Jika aku pindah ke apartmentmu itu karena
aku ingin pindah ke apartmentmu. Jangan berpikir bahwa kau bisa mengancamku
untuk melakukan hal yang kau inginkan.“ Jaejoong melemparkan kembali kata-kata
awal Yunho padanya.
“Itu tak akan terjadi, boo.”
Yunho terhenyak dan sedikit relaks dengan kata-kata
Jaejoong. “Aku tidak mencoba untuk mengancammu, boo. Itu hal terakhir yang
ingin aku lakukan. Jika kau setuju dengan hal ini, melakukan hal kecil ini
untukku, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan. Ayolah boo. Keluarkan
aku dari kesedihan ini dan katakan padaku kau akan tinggal bersamaku.”
“Hal kecil?” Jaejoong tercekat.
Yunho menyeringai kecil. “Mungkin tidak terlalu
kecil.”
“Tidak ada hal kecil tentangmu, Yunnie.”
Yunho tertawa. “Ya, sayang, itu yang aku sedang
katakan. Itu baru kekasihku. Katakan ya, Boo.”
“Ya.”
“Ya kau akan pindah ke apartmenku?”
“Ya aku akan pindah ke apartmentmu.”
Postur tubuh Yunho menjadi relaks saat legannya
meraih Jaejoong dan memeluknya seutuhnya. Yunho mengguncangkan tubuh Jaejoong
ke tubuhnya. ”Kau tak akan menyesalinya, sayang. Aku akan mendedikasikan
hidupku untuk membuatmu bahagia.”
Hati Jaejoong tergetar dan kebahagiaan mengalir keseluruh
tubuhnya. ”Kau tahu aku akan begitu jatuh cinta denganmu, kan?”
Yunho tersenyum menatap mata Jaejoong dan mencium
dahi Jaejoong dengan ucapan syukur, “Aku berjanji sayang.”
.
.
.
.
.
.
Satu jam kemudian, Yixing akhirnya sampai ke rumah
Yifan. Seharusnya hanya memakan waktu 40 menit paling lama bagi Yixing untuk
sampai dan Yifan hampir saja menjadi panik. Kenapa Yixing terlambat? Emosi
Yifan seperti terpasung saat menunggu Yixing datang.
Yifan berdiri di jalan mobil rumahnya dan
membukakan pintu mobil Yixing Saat mobil Yixing berhenti. “Gwenchana?”
“ya.”
“Ayo, mari kita masuk ke dalam rumah.”
Yixing meraih tasnya, mengunci mobilnya dan
mengikuti Yifan ke dalam rumahnya. Rumah Yifan se indah yang Yixing pernah
bayangkan. Apakah seseorang sudah mendekorasi rumah ini untuknya? Seorang
wanita? perasaan cemburu pada wanita asing yang tidak dia kenal mengalir ke
dalam dirinya. Yixing ingin menjadi wanita yang merawat Yifan. Peluang yang
sangat tipis. Yixing bahkan tidak bisa memasak makanan yang pantas buat Yifan.
Yifan memimpin Yixing masuk ke dalam rumah dan
mengambil tas Yixing dan melemparkannya ke atas kursi. Yifan meraih bahu Yixing
dan memegang lengan atas Yixing. ”Kau baik-baik saja?”
Yixing menarik nafas dalam dan menghembuskannya
dengan perlahan. “Ya.” Mata Yixing menenggelamkan Yifan jauh ke dalam. Yifan
tinggi, keras dan berkulit gelap dan Yifan membuat kaki Yixing bergetar,
seperti yang selalu Yifan lakukan. Yifan memakai baju kaos ketat dan jeans yang
pudar. Kakinya telanjang. Ya Tuhan, Yifan bahkan memiliki kaki yang seksi.
Yifan menahan Yixing di dalam lingkaran lengannya
sementara aroma Yixing membangunkan indera Yifan. Rangsangan menghantam Yifan
dengan keras, di bawah perutnya. “Aku senang kau menelponku.”
Mata Yixing bercahaya saat dia memandang Yifan.
“Aku tidak, aku tak tahu kenapa aku menelponmu.”
“Ya, kau tahu.”
Kesunyian menjawab kata-kata Yifan.
Mata mereka berkait saat gairah tajam dan panas
mengalir di antara mereka. Tubuh Yixing gemetar di bawah tangan Yifan.
Kulit lembut Yixing terasa sempurna di bawah
sentuhan Yifan. Yifan sudah selama delapan hari yang panjang tidak bertemu
dengan Yixing atau mendengar kabar darinya dan saat ini terasa pas. Hal lain di
dunia ini jadi terasa mulai kabur. Pikiran Yifan fokus pada Yixing. Tubuh Yifan
fokus pada Yixing. Yang lain bukan masalah. Yifan tak dapat melihat kenapa hal
lain atau orang lain menjadi penting. Yifan sama sekali tidak perduli terhadap
apapun. Ini semua tentang Yixing.
Suara gemetar lembut dari diafraghma Yifan keluar
saat dia merendahkan kepalanya ke arah Yixing. “Perduli setan dengan Yunho. Dia
urus urusannya sendiri.”
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
No comments:
Post a Comment