Tuesday, March 18

[Remake] Choosey Lover Chapter IX

telepon Yifan berbunyi saat Yifan baru saja kembali ke dalam rumah setelah membuang sampah. Caller ID “Yeoja manis yang hot” berkedip padanya dari layar telepon. Panah kebahagiaan yang tidak seharusnya mengalir ke dalam dirinya saat Yifan menjawab.
“Hey. Apa kabar?” Yifan menyeringai saat Yifan mendengar antusiasme di dalam suaranya. Hey dude, santai.
Yixing mulai bicara dengan segera. “oppa aku tidak tahu apa yang harus, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.”
Rasa takut menyusup ke dalam diri Yifan mendengar kata-kata Yixing yang gemetar. ”Ada apa?”
“Aku berada di apartemen. Di tempat parkir. Ada mobil polisi dimana-mana. Aku takut untuk naik ke atas. Aku…”
Yifan menyela Yixing. “Tetap di situ. Dimana sepupumu? Dimana Heechul?”
“Jaejoong bersama Yunho. Heechul berada di rumah orang tuanya.”
“Tenang, baby. Jangan mencoba untuk masuk ke dalam apartemenmu. Tinggalkan semuanya dan datang kemari. Kau ingat jalannya?” Kekhawatiran terdengar dari Suara Yifan.
“Aku tidak bisa datang ke rumahmu…” Yixing membantah.
“Kenapa tidak?” Yifan akan pergi mencari Yixing dan menariknya ke rumahnya jika diperlukan.
“Aku tidak tahu, aku akan menelpon Jaejoong. Mungkin aku akan pergi ke rumah Yunho.”
“Tidak. Kau akan pergi ke rumahku.”
“oppa…”
“Berhenti membantah dan mulainya menyetir. Kau ingat jalan menuju ke rumahku?”
“Ya. Kupikir aku ingat.”
“Yeoja pintar. telepon aku jika kau membutuhkan arahan penunjuk jalan.”
“Ok.”
Yifan bisa mendengar kelegaan di suara Yixing.
“Yixing.”
“Ya?”
“Hati-hati, sayang.”

Choosey Lover
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Heechul, Choi Siwon, Zhang Yixing, Wu Yifan
©their self
Marga disesuaikan, Remake dari Novel karya  Lynda Chance
Setelah Jaejoong menerima telepon dari Yixing, Yunho tiba-tiba menjadi murka.
Yunho berdiri dan berjalan mondar-mandir di hadapan Jaejoong, mengusap rambutnya dengan pergolakan di dalam dirinya. Yunho berbalik memandang Jaejoong dan melotot.
“Kita tak akan menghadapi masalah ini jika kau sepenuhnya pindah ke rumahku. Aku tak suka kau tinggal di apartemen itu. Itu tidak aman.”
Jaejoong jadi meradang. Hampir terdengar seperti ultimatum. “Apartemen itu sepenuhnya aman.”
“Apartemen itu tidak aman,” Yunho menggeram, getaran datang dari dadanya. Kemarahan Yunho begitu terlihat.
“Heechul dan Yixing tinggal di sana…” Jaejoong berhenti bicara saat Yunho memotong kata-katanya.
“Aku tak bisa mencegah dimana Heechul harusnya tinggal. Itu urusan mereka atau urusan namja lain. Bukan aku. Bukan kau.” Suara Yunho terus menerjang Jaejoong, Yunho kehilangan kesabaran.
Jaejoong mengambil nafas dalam sebelum memulai bantahannya. “Kami berbagi uang sewa. Dan perlengkapannya. Kami baru saja memperpanjang sewa.”
Tangan Yunho membelah udara. “Aku tidak perduli. Aku akan membayar uang sewamu sampai waktu sewa berakhir. Itu bukan jadi alasan kau tidak bisa pindah kesini. Selama teman se apartemenmu mendapatkan uang sewamu, mereka akan baik-baik saja.”
“Kau tak bisa melakukan itu Yun.” Jaejoong berkata dengan suara lembut.
Mulut Yunho membentuk garis lurus saat ekspresinya menjadi gelap. Tangan Yunho mengepal saat dia membungkuk ke depan menyusup ke wilayah pribadi Jaejoong. “Ya. Aku bisa. Apakah kau menandatangani sewa untuk 6 bulan atau setahun?
“S-Setahun.” Jaejoong menjawab dengan suara gemetar.
"Aku akan membayarnya di muka. Kau tidak akan melanggar perjanjian sewa itu. Kita bisa memindahkan barang-barangmu besok." Kata-kata Yunho mutlak, menegaskan apa yang akan dilakukan.
"Yunho aku tidak tahu apakah itu adil untuk mereka, mereka tidak hanya mengharapkan uang. Mereka mengharapkan aku untuk berada di sana, Seorang teman sekamar. Seorang sahabat."
"Aku mengerti itu, tapi itu tidak bisa membantu. Kalian bertiga tidak bisa terus berpikir hal itu akan bertahan selamanya. Hal buruk terjadi. Orang melanjutkan hidupnya. Aku tidak bilang kau harus menjauhi Sahabatmu, Aku hanya mengatakan kau tidak bisa tinggal di tempat yang penuh dengan tikus"
"Penuh dengan tikus! itu komunitas tertutup! bagus, mahal.."
"Terserah apa katamu. Ok. Aku berlebihan. Tapi intinya aku ingin kau berada di sini di rumahku, Boo. Aku ingin kau berada di sini setiap detik dalam setiap hari sejak kita kembali bersama. Tidak akan kubiarkan kau kembali ke apartemen itu setelah apa yang terjadi hari ini di sana. Itu tidak akan terjadi, Boo."
Jaejoong berdiri memandang Yunho, Keragu-raguan membingungkan pikirannya. Jaejoong ingin bersama Yunho. Jaejoong menginginkan itu jauh di dalam dirinya. Jaejoong menyayangi sahabatnya, tapi Jaejoong juga mencintai...- Jaejoong memotong pikiran itu dengan cepat. Jaejoong ingin bersama sahabatnya, tapi Jaejoong lebih ingin bersama Yunho.
Kekhawatiran utamanya adalah Jaejoong sudah menelantarkan Heechul dan Yixing. Tapi mereka akan bisa mengerti. Terutama Heechul yang sudah bisa mempercayai Yunho. Semakin sering mereka bersama, semakin Heechul mengetahui siapa Yunho, Heechul semakin menyadari apa yang Jaejoong dan Yunho miliki berdua. Heechul dan Yixing menyayangi Jaejoong dan ingin agar Jaejoong bahagia.
Dan ini tidak berarti Jaejoong akan melanggar perjanjian sewa apartemennya. Yunho sudah menawarkan untuk membayar bagian sewa Jaejoong, tapi Jaejoong tak akan membiarkan Yunho melakukan hal itu. Jika Jaejoong tinggal di sini bersama Yunho, Jaejoong dapat dengan mudah terus membayar bagian uang Sewanya dan peralatan.
Dan Yunho benar. Semua hal berubah. Orang berubah. Sebuah hubungan terjadi dan hidup harus terus berlanjut. Mungkin ini waktunya. Perasaan puas yang tersembunyi dan berbahaya menjalar ke dalam tulang belakang Jaejoong dan mengisi dirinya dengan kebahagian. Jaejoong akan sangat senang tinggal disini dengan Yunho. Jaejoong tak bisa memikirkan hal lain yang begitu ia inginkan.
Dan satu hal pasti. Jika Jaejoong mengecewakan Yunho kali ini, Yunho akan menjadi begitu buas di masa depan. Jaejoong tak akan mendapatkan kedamaian sampai Jaejoong menyetujui apa yang diminta oleh Yunho.
Jaejoong mengambil waktu sebelum menjawab Yunho. Jaejoong dapat merasakan penilaian Yunho menetap kepadanya.
Yunho berdiri dengan tegang, seloroh di pipi Yunho, menghirup oksigen ke dalam paru-parunya begitu dalam sehingga Jaejoong bisa melihat dada Yunho yang turun naik. “Jika aku melakukan ini, tidak berarti kau akan selalu menang dalam segala hal. Jika aku pindah ke apartmentmu itu karena aku ingin pindah ke apartmentmu. Jangan berpikir bahwa kau bisa mengancamku untuk melakukan hal yang kau inginkan.“ Jaejoong melemparkan kembali kata-kata awal Yunho padanya.
“Itu tak akan terjadi, boo.”
Yunho terhenyak dan sedikit relaks dengan kata-kata Jaejoong. “Aku tidak mencoba untuk mengancammu, boo. Itu hal terakhir yang ingin aku lakukan. Jika kau setuju dengan hal ini, melakukan hal kecil ini untukku, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan. Ayolah boo. Keluarkan aku dari kesedihan ini dan katakan padaku kau akan tinggal bersamaku.”
“Hal kecil?” Jaejoong tercekat.
Yunho menyeringai kecil. “Mungkin tidak terlalu kecil.”
“Tidak ada hal kecil tentangmu, Yunnie.”
Yunho tertawa. “Ya, sayang, itu yang aku sedang katakan. Itu baru kekasihku. Katakan ya, Boo.”
“Ya.”
“Ya kau akan pindah ke apartmenku?”
“Ya aku akan pindah ke apartmentmu.”
Postur tubuh Yunho menjadi relaks saat legannya meraih Jaejoong dan memeluknya seutuhnya. Yunho mengguncangkan tubuh Jaejoong ke tubuhnya. ”Kau tak akan menyesalinya, sayang. Aku akan mendedikasikan hidupku untuk membuatmu bahagia.”
Hati Jaejoong tergetar dan kebahagiaan mengalir keseluruh tubuhnya. ”Kau tahu aku akan begitu jatuh cinta denganmu, kan?”
Yunho tersenyum menatap mata Jaejoong dan mencium dahi Jaejoong dengan ucapan syukur, “Aku berjanji sayang.”
.
.
.
.
.
.
Satu jam kemudian, Yixing akhirnya sampai ke rumah Yifan. Seharusnya hanya memakan waktu 40 menit paling lama bagi Yixing untuk sampai dan Yifan hampir saja menjadi panik. Kenapa Yixing terlambat? Emosi Yifan seperti terpasung saat menunggu Yixing datang.
Yifan berdiri di jalan mobil rumahnya dan membukakan pintu mobil Yixing Saat mobil Yixing berhenti. “Gwenchana?”
“ya.”
“Ayo, mari kita masuk ke dalam rumah.”
Yixing meraih tasnya, mengunci mobilnya dan mengikuti Yifan ke dalam rumahnya. Rumah Yifan se indah yang Yixing pernah bayangkan. Apakah seseorang sudah mendekorasi rumah ini untuknya? Seorang wanita? perasaan cemburu pada wanita asing yang tidak dia kenal mengalir ke dalam dirinya. Yixing ingin menjadi wanita yang merawat Yifan. Peluang yang sangat tipis. Yixing bahkan tidak bisa memasak makanan yang pantas buat Yifan.
Yifan memimpin Yixing masuk ke dalam rumah dan mengambil tas Yixing dan melemparkannya ke atas kursi. Yifan meraih bahu Yixing dan memegang lengan atas Yixing. ”Kau baik-baik saja?”
Yixing menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. “Ya.” Mata Yixing menenggelamkan Yifan jauh ke dalam. Yifan tinggi, keras dan berkulit gelap dan Yifan membuat kaki Yixing bergetar, seperti yang selalu Yifan lakukan. Yifan memakai baju kaos ketat dan jeans yang pudar. Kakinya telanjang. Ya Tuhan, Yifan bahkan memiliki kaki yang seksi.
Yifan menahan Yixing di dalam lingkaran lengannya sementara aroma Yixing membangunkan indera Yifan. Rangsangan menghantam Yifan dengan keras, di bawah perutnya. “Aku senang kau menelponku.”
Mata Yixing bercahaya saat dia memandang Yifan. “Aku tidak, aku tak tahu kenapa aku menelponmu.”
“Ya, kau tahu.”
Kesunyian menjawab kata-kata Yifan.
Mata mereka berkait saat gairah tajam dan panas mengalir di antara mereka. Tubuh Yixing gemetar di bawah tangan Yifan.
Kulit lembut Yixing terasa sempurna di bawah sentuhan Yifan. Yifan sudah selama delapan hari yang panjang tidak bertemu dengan Yixing atau mendengar kabar darinya dan saat ini terasa pas. Hal lain di dunia ini jadi terasa mulai kabur. Pikiran Yifan fokus pada Yixing. Tubuh Yifan fokus pada Yixing. Yang lain bukan masalah. Yifan tak dapat melihat kenapa hal lain atau orang lain menjadi penting. Yifan sama sekali tidak perduli terhadap apapun. Ini semua tentang Yixing.
Suara gemetar lembut dari diafraghma Yifan keluar saat dia merendahkan kepalanya ke arah Yixing. “Perduli setan dengan Yunho. Dia urus urusannya sendiri.”
.

.

.

.

.

.

To Be Continue

No comments:

Post a Comment