“Hyunjoong!” suara Yunho sedikit keras
ketika memanggil perias wajah yang gemulai itu.
Pintu terbuka, dan
Hyunjoong terburu-buru masuk, namja itu terkesiap mendapati kondisi Jaejoong
yang penuh airmata dengan baju itu, baju eksklusif rancangan disainer
terkenal, satu-satunya di dunia, yang sangat mahal dan pasti membuat iri semua
yeoja itu, sekarang menjuntai sobek di dada Jaejoong dengan kondisi menyedihkan
dan tak karuan. Riasan mahal masterpiece-nya untuk wajah Jaejoong juga tak
karuan karena bekas air mata di wajah Jaejoong.
“Bereskan dia.”
Yunho tidak menatap Jaejoong lagi, namja itu langsung keluar dan membanting
pintu di belakangnya dengan marah.
salang-ui
ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with the Devil
©Shanty Agatha
"Kau
benar-benar nekad menantang tuan Jung seperti itu." Hyunjoong bergumam
setengah menggerutu. Dari tadi namja gemulai itu memang sibuk menggerutu karena
harus memulai dari awal mendandani Jaejoong. Apalagi ketika tatapannya terarah
pada gaun hijau Jaejoong yang sekarang teronggok seperti sampah di lantai,
Hyunjoong akan mendesah secara dramatis, lalu menggerutu lagi dengan kata-kata
tidak jelas.
Untunglah
Hyunjoong membawa gaun cadangan, Gaun itu cukup bagus meskipun tidak semewah
dan seindah gaun hijau yang sudah dirobek oleh Yunho. Warnanya merah marun dan
berpotongan sederhana, membungkus tubuh Jaejoong dengan sempurna.
"Nah sudah
selesai." Hyunjoong meletakkan kuas bibir di meja dan menatap bayangan
Jaejoong di cermin, "Lumayan cantik, meskipun tidak semewah tadi."
Jaejoong tanpa
dapat ditahan melirik ke gaun hijau di lantai itu dan menghembuskan napas
sedih, tetapi bagaimanapun juga, dibalik kekecewaannya ada kepuasan karena
setidaknya dia bisa menunjukkan kalau dia bisa melawan Yunho. Betapa
mengerikannya namja itu kalau marah.
Jaejoong
mengernyit. Sejak usahanya yang terakhir kali untuk melarikan diri, penjagaan
atas dirinya diperketat. Ada dua orang laki-laki berjas hitam dan berbadan
kekar yang berjaga di depan pintunya. Malam ini adalah pertama kalinya Jaejoong
diberi kelonggaran, untuk turun, keluar dari kamar ini. Kalau Jaejoong cukup
waspada, mungkin dia bisa melarikan diri dari rumah ini.
"Nah, pakai
sepatu ini," Hyunjoong meletakkan sepatu emas yang cantik di karpet,
"Lalu aku akan mengantarmu turun, Tuan Jung menunggu di bawah, karena
pesta sudah dimulai
♥Kitahara Saki♥
Ketika Jaejoong
menuruni tangga, seketika itu juga hatinya terasa kecut. Semua orang yang hadir
di pesta ini berpakaian spektakuler, semuanya pasti gaun rancangan terbaru dari
disainer terkenal. Para laki-laki berjas tampak berkumpul dan mengobrol di satu
sudut dekat perapian, dan para yeoja tampak berkelompok dengan
sahabat-sahabatnya menyebar di semua sisi ballroom itu.
Sebuah meja sajian
besar disudut menyajikan berbagai jenis makanan mewah. Bartender di satu sudut
sibuk melayani permintaan tamu dan para pelayan berpakaian hitam putih hilir
mudik, menawarkan nampan-nampan hidangan dan sampanye yang mengalir tak ada
habisnya.
Ketika Jaejoong
menuruni tangga, semua pandangan tertuju padanya, hingga Jaejoong merasakan
tangannya berkeringat. Jaejoong mencari-cari Yunho, tetapi namja itu sepertinya
tidak ada. Dengan gugup, merasa terasing di keramaian. Jaejoong berdiri diam,
di sudut dekat jendela, memilih untuk mengamati daripada membaur. Dia mengernyit
ketika menyadari bahwa di setiap akses pintu keluar, semuanya berdiri dua atau
tiga orang pengawal-pengawal Yunho dengan jas hitam yang serupa dan tampak
selalu waspada. Jaejoong harus melewati mereka kalau ingin keluar dari tempat
ini.
"Itu kekasih
Yunho yang terbaru?" sebuah suara sinis terdengar, rupanya pemilik suara
sengaja supaya Jaejoong mendengarnya.
Jaejoong menoleh
dan mendapati segerombolan yeoja-yeoja cantik tengah berbisik-bisik dan menatapnya
dengan tatapan benci. Salah seorang yeoja, yang paling cantik dengan gaun
hitamnya yang sangat seksi terang-terangan mengamati Jaejoong dengan pandangan meremehkan
dari atas ke bawah,
"Aku
mendengar Yunho mengajaknya tinggal bersama. Bayangkan! Tidak ada satupun yeoja
yang pernah diajak Yunho tinggal bersama.... Kupikir dia yeoja yang sangat
cantik! Ternyata dia biasa saja, mungkin Yunho sedang mabuk saat membawanya
tinggal bersama."
"Aku pikir
juga begitu," yeoja di kelompok itu, yang bergaun merah muda menyahut
dengan suara yang tak kalah sinis "Mengingat sejarah kekasih-kekasih Yunho
selalu luar biasa cantiknya... Tapi lihat dia, dia tampak tak cocok berada di
sini, dia pasti bukan yeoja berkelas!"
"Gaunnya gaun
lama, rancangan keluaran bulan lalu, dia pasti gadis miskin," suara yeoja
lain berambut kemerahan dengan gaun biru muda, berbisik jahat, ikut
memanaskan suasana, "Dia mempermalukan Yunho dengan penampilannya."
"Dia tak
pantas bersanding dengan Yunho, berani bertaruh, sebentar lagi Yunho pasti muak
dan mencampakkannya," yeoja sexy berbaju hitam itu mengibaskan rambutnya
angkuh, "Begitu melihatku, Yunho pasti akan menyukaiku dan
membuangnya."
Pipi Jaejoong
memerah mendengar hinaan-hinaan yang dilemparkan terang-terangan kepadanya,
sabar Jaejoong, desisnya dalam hati. Yeoja-yeoja jalang itu terbiasa hidup kaya
sehingga kadang tak punya sopan santun.
"Menungguku,
sayang?" suara Yunho terdengar dekat sekali di belakang Jaejoong hingga ia
terlonjak kaget.
Jaejoong menoleh
dan mendapati Yunho berdiri santai sedikit bersandar di jendela di dekatnya. Namja
itu tampaknya sudah lama berdiri di sana, dia pasti mendengar jelas semua
hinaan-hinaan yang dilontarkan kepadanya tadi. Pipi Jaejoong makin merona,
merasa malu sekaligus terhina. Yunho mendekat, dan yeoja-yeoja di gerombolan
itu tampak terkesiap dengan ketampanannya.
“Namja ini memang tampan.” Jaejoong
menggumam dalam hati, merasa kesal karena mau tak mau dia harus mengakui
kebenaran yang terpampang di depannya.
Dengan rambut
coklat yang sedikit acak-acakan, mata coklat muda yang dalam tapi tajam, bibir
tipis yang melengkung jantan dan tulang pipi tinggi yang membentuk sudut
wajahnya sedemikian rupa, diimbangi dengan jas hitam legam yang membungkus
tubuh ramping berototnya dengan pas, membuatnya tampak seperti malaikat tampan
dengan nuansa jahat yang mempersona.
Yunho tampaknya
tahu sedang diperhatikan dengan terkesima oleh gerombolan yeoja itu, tetapi dia
sama sekali tidak menatap mereka, matanya terpaku menatap Jaejoong, dan senyum
miring muncul di bibirnya,
"Kau cantik
sekali sayang," Yunho meraih Jaejoong, merangkul pinggang Jaejoong dengan
lembut, lalu mengecup hidung Jaejoong mesra, "Dari semua yeoja di ruangan
ini, kau yang paling cantik. Yang lainnya cuma sampah,"
Yunho mengucapkan
kata-kata itu dengan lantang, yang terdengar langsung gerombolan yeoja itu.
Suara terkesiap terdengar dari sana, dan ketika Jaejoong menoleh, yeoja-yeoja
itu tampak berdiri dengan wajah merah padam, malu luar biasa atas hinaan Yunho.
Lalu dengan berbagai alasan, mereka membubarkan diri dan berpindah tempat.
Yunho terkekeh, melihat tingkah mereka, lalu menunduk dan menatap Jaejoong, senyumnya langsung hilang,
Yunho terkekeh, melihat tingkah mereka, lalu menunduk dan menatap Jaejoong, senyumnya langsung hilang,
"Jangan
coba-coba melarikan diri, dan jangan mencoba meminta tolong pada siapapun
disini, mereka tidak akan bisa menolongmu, dan kalau sampai aku tahu kau
melakukannya, kau akan dihukum."
bisiknya dingin, sikapnya berubah kaku dan dia melepaskan pelukannya dari
Jaejoong, dan tanpa kata-kata lagi meninggalkan Jaejoong.
Jaejoong termangu,
masih terpesona oleh pertunjukan sandiwara kasih sayang yang diperagakan Yunho tadi,
apakah namja itu sengaja melakukannya untuk membelanya dari gerombolan
yeoja-yeoja jahat itu?
"Sungguh
kekasih yang baik," sebuah suara lembut terdengar di belakangnya, Jaejoong
menoleh dan berhadapan dengan yeoja cantik berbaju putih yang tersenyum lembut
kepadanya. Mungkin yeoja inilah satu-satunya tamu pesta ini yang mau
menyapanya.
"Nugu?"
Jaejoong mengernyit ketika menyadari komentar yeoja itu barusan,
Yeoja itu tertawa kecil, bahkan tawanyapun terdengar merdu, Jaejoong membatin dalam hatinya.
Yeoja itu tertawa kecil, bahkan tawanyapun terdengar merdu, Jaejoong membatin dalam hatinya.
"Jung Yunho,
kekasihmu," Yeoja itu mengedikkan bahunya ke arah kepergian Yunho,
"Dia membelamu dengan gagah berani dihadapan yeoja-yeoja menjengkelkan
itu..ups," yeoja itu menutup bibirnya dengan jemarinya yang lentik,
"Aku tidak
boleh mengatakannya, tapi mereka memang menjengkelkan bukan? Kalau bukan karena
suamiku, aku tidak akan mau menghadiri pesta ini dan berbaur dengan mereka."
yeoja itu tertawa lagi.
Dia yeoja bahagia.
Jaejoong membatin dalam hati. Yeoja cantik yang bahagia. Ralat Jaejoong. Dengan
gaun putih keemasannya yang indah, tatanan rambut sempurna, make-up sederhana,
dan tatapan matanya yang berbinar-binar penuh cinta, yeoja di depannya ini
tampak memancarkan kebahagiaan. Suaminya pasti sangat mencintainya. Jaejoong
mengambil kesimpulan dalam hati.
"Ah ya maaf,
aku mengoceh kesana kemari tetapi lupa memperkenalkan diri," yeoja itu
mengulurkan tangannya dan tersenyum, "Aku Junsu."
Senyum ramah yeoja
itu menular, Jaejoong membalas uluran tangan Junsu dan ikut tersenyum lebar, "Jaejoong,"
gumamnya memperkenalkan dirinya, "Terimakasih sudah mau menyapaku."
Junsu tersenyum
lagi, dan menatap ke arah gerombolan yeoja-yeoja tadi yang sekarang sudah
saling berpencar dan asyik bergosip satu sama lain, "Jangan pedulikan mereka,
mereka hanya iri padamu."
Jaejoong
mengernyit, "Iri padaku? Wae?"
"Ah kau pasti
tak pernah mendengar dunia luar," Junsu tertawa lagi, "Gosip menyebar
dengan cepat di dunia elit ini, kau adalah yeoja yang paling hangat dibicarakan
akhir-akhir ini."
"wae?"
Jaejoong menatap Junsu penuh ingin tahu.
"Karena Jung
Yunho, playboy paling dingin di sini, mengajakmu tinggal bersamanya di
rumahnya," Junsu mengedikkan dagunya, "Meskipun memiliki banyak
kekasih, Yunho dikenal berprinsip mensterilkan rumahnya dari kehadiran yeoja.
Tidak pernah ada satu yeojapun, selain pelayan yang bisa tinggal dirumah
ini. Bahkan katanya, kekasih-kekasihnya yang dulu belum pernah ada yang
menginap di rumah ini, Yunho lebih memilih menemui kekasih-kekasihnya di hotel
miliknya,"
Junsu
menatap Jaejoong dan tersenyum, "Kaulah satu-satunya yeoja yang
diajaknya tinggal dirumahnya, dan bahkan tak keluar-keluar sampai sekarang,
mereka semua merasa iri, karena apa yang kau alami adalah impian mereka semua,
tinggal bersama dengan bujangan paling diminati di sini."
Jaejoong
tercenung. Mereka semua tak tahu apa yang terjadi sebenarnya, Jaejoong bukan
kekasih Yunho, dia tinggal di rumah ini bukan sebagai kekasih Yunho, tetapi
lebih seperti tawanan, dia disekap dan dilecehkan semau Yunho.
"Apakah kau
juga salah satu dari mereka? Mengagumi ketampanan Yunho?"
Spontan Junsu
tertawa mendengar pertanyaan Jaejoong, "Ani, menurutku suamiku yang paling
tampan di dunia ini, aku tidak sempat mengagumi namja lain." Junsu
tersenyum dan matanya berbinar penuh cinta ketika membayangkan suaminya.
Jaejoong
memalingkan muka, tiba-tiba merasa sedih menyadari betapa beruntungnya Junsu
dibandingkan dirinya, yeoja itu tampak begitu bahagia dan tanpa beban, sedang
dirinya, bahkan dia tidak tahu akan dijadikan apa dirinya oleh Yunho, mata
Jaejoong berkaca-kaca ketika membayangkan kegagalan rencananya untuk melukai
Yunho yang malam membuatnya terjebak dalam cengkeraman namja iblis itu.
Junsu
memperhatikan raut kesedihan di wajah Jaejoong, dan dahinya berkerut,
"Waeyo Jae? Kau sakit?"
"Waeyo Jae? Kau sakit?"
Jaejoong menatap
Junsu lagi, yeoja ini baik hati, mungkin saja Junsu bisa menolongnya...
"Tolong aku..." Jaejoong berbisik lemah, takut suaranya ketahuan.oleh Yunho ataupun para pengawalnya yang bertebaran di mana-mana, "Tolong aku keluar dari sini."
"Tolong aku..." Jaejoong berbisik lemah, takut suaranya ketahuan.oleh Yunho ataupun para pengawalnya yang bertebaran di mana-mana, "Tolong aku keluar dari sini."
Junsu mengernyit,
jelas-jelas merasa kaget mendengar permintaan Jaejoong, matanya menatap penuh
tanda tanya, "Apa Jae? Tapi... Bukankah.."
"Disini kau
rupanya, aku mencarimu kemana-mana sayang." suara yang dalam itu
mengalihkan perhatian Junsu dari Jaejoong.
Jaejoong menoleh
dan terpesona menatap Namja yang melingkarkan lengannya di pinggang Junsu
dengan posesif. Namja itu luar biasa tampan, dengan rambut cokelat yang berpadu
nuansa keemasan, dan mata sebiru langit. Junsu rupanya tidak main-main ketika
mengatakan bahwa suaminya luar biasa tampan. Jaejoongpun, kalau memiliki suami
setampan itu, pasti tidak akan mau melirik namja lain.
"Yoochun."
Junsu bergumam lembut, pipinya memerah, tampak malu-malu atas kemesraan terang
terangan yang dilakukan Yoochun.
Suami Junsu tampak
amat sangat mencintai isterinya. Jaejoong berkesimpulan dalam hati. Namja itu
menatap Junsu seolah-olah akan melahapnya.
"Kita harus
segera pulang, mari kita berpamitan dulu pada tuan rumah."
"Tapi Chunnie,
kita baru sebentar di sini... Apakah sopan kalau..."
"Ssshh,"
Yoochun menghentikan protes Junsu dan menyentuh bibir Junsu dengan jemarinya
lembut, "Aku lebih ingin berada di rumah, bersama isteriku." gumamnya
penuh arti.
Siapapun mengerti
apa maksud kata-kata Yoochun. Bukan hanya Junsu, pipi Jaejoongpun memerah mendengar
nada kepemilikan penuh gairah Yoochun kepada isterinya. Junsu menyentuh lengan
Yoochun lembut, mengalihkan perhatian Yoochun yang tampaknya tidak bisa lepas dari
isterinya kepada Jaejoong,
"Ini,
kenalkan, Jaejoong." gumam Junsu lembut.
Jaejoong mengulurkan
tangannya dengan sopan, dan Yoochun menjabat tangannya, lalu menatapnya dengan
tajam. Membuat Jaejoong merasa nyalinya sedikit menciut di bawah hujaman
tatapan tajam dari mata sebiru langit itu.
"Jaejoong
yang itu?" ada tanya dalam suara Yoochun,
Junsu menyentuh lengan Yoochun lagi, mengingatkannya, lalu menatap Jaejoong penuh permintaan maaf,
Junsu menyentuh lengan Yoochun lagi, mengingatkannya, lalu menatap Jaejoong penuh permintaan maaf,
"Gosip cepat
menyebar, bahkan di kalangan laki-laki." gumamnya pada Jaejoong, meminta
pengertian.
Jaejoong tersenyum
dan menganggukkan kepalanya. Ada sedikit kekecewaan terbersit di hatinya.
Yoochun sepertinya rekan bisnis Yunho. Kalau begitu, pupus sudah harapannya
meminta bantuan kepada Junsu.
"Ayo sayang,
kita berpamitan." Yoochun mengangguh pada Junsu, lalu menarik pinggang
isterinya untuk mengikutinya.
"Chankamman,"
Junsu mengeluarkan kartu emas kecil dari tasnya, "ini kartu namaku,"
digenggamkannya kartu nama itu di jemari Jaejoong, "Hubungi aku kapan saja
kau mau, aku pikir kita bisa bersahabat."
Dan kemudian,
pasangan sempurna itu menjauh dan tenggelam di keramaian pesta. Meninggalkan
Jaejoong yang masih berdiri terpaku di sana, menggenggam kartu nama itu
erat-erat seolah hanya itulah tiket penyelamatannya.
♥Kitahara Saki♥
"Dia meminta tolong kepadaku." Junsu mengernyit sambil merebahkan
kepalanya di dada Yoochun. Namja itu masih berbaring santai dengan mata
terpejam , menikmati saat-saat tenang setelah percintaan mereka yang panas,
Mata Yoochun
terbuka, menatap Junsu penuh ingin tahu, "Nugu baby?"
"Jaejoong,
kekasih Yunho."
Yoochun tercenung,
lalu mengangkat bahunya, "Kurasa kita tidak usah ikut campur dalam urusan
Jung Yunho. Dia rekan bisnis yang luar biasa, dan aku senang perusahaanku
menjalin kerjasama dengan perusahaannya, Tetapi dari segi pribadi..."
Yoochun mengusap-usapkan jemarinya di punggung telanjang Junsu, "Aku tidak
terlalu menyukainya."
"Kenapa?"
Junsu menatap Yoochun ingin tahu,
"Yah... Yunho
terkenal sangat.... Kejam. Dia berpenampilan dingin dan kaku, tetapi ketika
terusik, dia tak punya ampun, kadang-kadang aku sedikit tak simpati atas sikap
tak berbelas kasihannya."
"Kalau begitu
aku semakin mencemaskan Jaejoong," Junsu mengingat permohonan Jaejoong
tadi kepadanya, "Dia minta tolong kepadaku untuk membantunya melepaskan
diri dari rumah itu, pandangannya begitu tersiksa, apakah mungkin Yunho
menyanderanya di rumah itu dengan paksa?"
"Mungkin
saja," Yoochun mengecup dahi Junsu lembut, "tetapi seperti kataku
tadi, itu bukan urusan kita."
"Setidaknya
maukah kau mencoba berbicara dengan Yunho? Kau ada pertemuan besok pagi
dengannya kan?" Junsu menatap Yoochun penuh permohonan. Ada kecemasan di
suaranya, apalagi ketika mengingat betapa Jaejoong tampak sangat tersiksa
ketika memohon kepadanya tadi.
Yoochun terkekeh,
lalu menggulingkan tubuhnya menindih tubuh Junsu, "Baiklah tuan puteri,
akan kucoba," di dekatkannya wajahnya ke wajah Junsu, menggoda bibir Junsu
dengan usapan bibirnya yang panas, "Sekarang bisakah kita mengehentikan pembicaraan
kita tentang orang lain dan bercinta lagi?"
Junsu tidak
menolak, bercinta dengan Yoochun selalu menjadi kegiatan yang luar biasa
menyenangkan.
.
.
.
To Be Continued

Yoochun apa mau nolong? Junsu bisa nolongkah?
ReplyDeleteTapi saya jadi khawatir, takutnya jadi target ketegaan Yunho. tapi gak yakin juga #plak
Tapi saya juga berharap Jaejoong bisa dapetin hidupnya.
Jae emang special tapi perlakuan Yunho , Jae tentu gak nyaman.
Lama2 kasian jg sama Jaejoong, hopeless gt hidupnya di rumah Yunho.
ReplyDeleteYunho pasti sebenernya baik tp Jaejoong belum tau & pasti dia ketakutan tinggal lama2 di rumah Yunho.