Friday, February 21

[Remake] Bittersweet Rain Chapter 22


"Apa yang kau lakukan?"
"Menunggumu."
"Aku mendapat kehormatan itu?"
"Kurasa kita harus bicara."
"Jangan pura-pura bodoh, Yun."
"Bodoh?" ulang Yunho, alis matanya yang hitam berkerut. "Kini kau menjadi nyonya rumah, yang sejak dulu kau dambakan."
Cahaya lampu di teras itu remang-remang. Hari sudah larut malam. Karena ia tidak pulang untuk makan malam, Jaejoong tidak yakin Yunho akan pulang. Kecuali demi Sungmin. Ia tidak akan meninggalkan rumah sebelum berpamitan dengan adiknya. Oleh sebab itu ia menunggu sampai mendengar deru mobil Yunho memasuki pekarangan rumah. Cepat-cepat ia turun untuk menemuinya begitu pria itu masuk lewat pintu depan. Ia berdiri di anak tangga kedua. Yunho di anak tangga pertama. Yunho menatapnya dengan sorot mata menantang.

.
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
.
"Aku tidak menyalahkanmu bila kau marah."
"Terima kasih. Aku senang mendapat restumu."
"Yunho, jangan begitu."
"Jangan begitu apa?"
"Jangan salahkan aku gara-gara surat wasiat Siwon! Aku tak tahu-menahu soal itu. Aku sama bingungnya denganmu. Mengapa kau tidak menentangnya?"
"Membuat Siwon dan seluruh penduduk kota puas karena tahu betapa hal itu merisaukan aku? Tidak, terima kasih."
Siwon sudah mati. Begitu yang ingin diteriak-kan Jaejoong. Kapan perang antara ayah dan anak ini akan berakhir? Dengan berusaha setenang mungkin, Jaejoong berkata, "Tak peduli apa isi lembar surat wasiat itu, Jung Mansion tetap milikmu, Yun. Selamanya akan menjadi milikmu. Kau bisa tinggal di sini seumur hidupmu bila mau."
Yunho tertawa, tetapi bukan tawa gembira. "Isi surat wasiat itu menetapkan hanya Sungmin yang bisa menempati rumah ini selama hidupnya, bukan aku. Kemurahan hatimu sungguh terpuji, Omoni," kata Yunho sambil membungkukkan badan sampai pinggang.
Jaejoong tersentak mendengar kata-kata Yunho yang menyakitkan, tetapi ia tetap mengangkat dagu. "Aku mengerti, kau ingin menyakitiku. Baiklah. Andai hal itu membuat perasaanmu lebih enak, silakan. Silakan panggil aku dengan sebutan menjijikkan sekalipun."
Secepat kilat tangan Yunho terjulur, menangkap ikat pinggang yang melilit pinggang Jaejoong dan menariknya ke tubuhnya. Tindakan itu membuat napas keduanya memburu. Dililitkannya ikat pingang itu di tinjunya, menyebabkan tangannya bersentuhan dengan perut Jaejoong. Rahangnya kaku ketika ia mengertakkan gigi. Dipejamkannya matanya rapat-rapat.
Dalam waktu sekejap, setarikan napas, Yunho meletakkan kepalanya di dada Jaejoong dan merintih. Kemudian ia melepaskan Jaejoong sambil memaki-maki.
"Maafkan aku, Jae, maafkan," katanya sambil menarik napas. "Ya, aku marah besar. Bukan padamu. Padanya. Sialnya, tak ada cara untuk menghidupkannya kembali. Ia sudah mati. Aku tidak kuasa melawan bajingan itu. Aku tak punya cara untuk memuntahkan kemarahan dalam diriku."
Dipukulkannya tinjunya pada pegangan tangga yang terbuat dari kayu ek. Secara naluriah, Jaejoong mendekat untuk menenangkannya tetapi ia menarik tangannya kembali sebelum menyentuhnya. Yunho bisa salah sangka, mengira ungkapan cintanya sebagai sikap iba dan akan sangat membencinya.
"Ke mana saja kau tadi?" tanya Jaejoong lembut.
Yunho menarik napas dalam-dalam, membuat dadanya mengembang dan kancing bajunya terbuka, menampakkan bulu dadanya yang ikal lagi lebat. "Bawa mobil. Keliling-keliling kota." Yunho menatap Jaejoong. "Ini rumahku, Jaejoong. Lepas dari ketidak sempurnaannya, aku suka kota ini. Aku tidak bisa mengingkari cintaku pada kota ini meski penduduknya punya kekurangan, sebagaimana aku tidak bisa mengurangi cintaku pada Sungmin karena ia punya kekurangan. Aku selalu merindukan pulang lagi ketika aku harus pergi meninggalkannya."
"Jadi, kau mau pergi?"
"Besok pagi."
Seperti tertusuk pisau tepat di jantung, Jaejoong memegangi dadanya. Wajahnya muram. Begitu cepat! Yunho akan pergi dan kali ini ia takkan pernah kembali lagi. Sekarang ia bisa meminta Sungmin menemuinya bila ingin bertemu dengannya. "Yunho, ia itu monster macam apa sih? Manusia macam apa dia itu, sampai tidak mewariskan apa pun kepada putranya, kepada dirimu?"
Yunho melihat air mata dan kepedihan di wajah Jaejoong dan tahu itu ditujukan untuk dirinya, untuk segala yang tak pernah ada. Betapa ingin Yunho memeluknya. Ingin ia membenamkan kepalanya di Jaejoong dan mencium aroma tubuhnya. Ingin ia menekankan bibirnya di kulir Jaejoong. Betapa ingin ia dihibur Jaejoong. Ingin ia sejenak melupakan kenangan bercinta dengan Jaejoong yang pernah dialaminya. Pada saat seperti ini, ia hampir tak mampu menahan keinginan meminta hal itu dari Jaejoong. Tetapi ia ingat kata-kata yang dimaksudkan untuk diingatnya.
“Kau tak bisa lagi memiliki perempuan itu sekarang, Yunho. Aku kenal siapa dirimu. Harga diri sebagai Winston takkan merelakan dirimu memiliki Jaejoong. Karena aku sudah terlebih dahulu memilikinya. Kau ingat itu. Jaejoong istri-ku dan aku yang memilikinya untuk pertama kali.”
"Ia memberiku warisan, Jaejoong," kata Yunho kasar. "Warisan yang amat banyak." Yunho melewati Jaejoong dan naik ke lantai dua.
Kitahara Saki
Perlahan Jaejoong mengikutinya dan masuk ke kamar tidurnya. Ia melepas mantelnya, berbaring di ranjang, membayangkan dirinya takkan pernah tenang. Tetapi ketika terdengar dering telepon beberapa saat kemudian, ia gembira dan bangun dari tidur untuk menerima telepon dan menempelkannya di telinga.
"Yeoboseyo."
Begitu mendengar suara di telepon, Jaejoong langsung meletakkan telepon dan lari ke pintu kamar, bahkan tanpa memakai mantel luarnya. Kakinya yang telanjang seperti terbang melintasi lorong berlantai kayu yang gelap itu. Ia menerobos masuk ke kamar Yunho, langsung mendekati ranjangnya. Tangannya langsung mendarat di punggung Yunho yang tanpa baju. "Yunho, Yunho, bangun."
Yunho berbalik dan memandang Jaejoong dengan mata tak percaya. Mata Jaejoong membelalak, rambutnya acak-acakan, dadanya turun-naik, payudaranya hampir tumpah ke luar dari gaun tidurnya. "Wae....?"
"Pabrik terbakar!"
Kaki Yunho yang telanjang langsung turun ke lantai berbarengan, hampir menubruk Jaejoong. Tangannya menyambar celana jins yang terlipat di kursi. "Dari mana kau tahu?"
"Changmin yang menelepon."
"Parah?”
"Ia belum tahu."
"Bagaimana pemadam kebakaran?"
"Sudah dihubungi."
"Ada apa ribut-ribut di sini?" Boa bertanya dari ambang pintu sambil mengikat tali mantelnya di pinggang. "Kedengarannya seperti orang yang lagi main basket dan...."
"Pabrik terbakar."
"Oh, Tuhan!"
.
.
Jaejoong meninggalkan kamar Yunho sambil lari. Yunho hampir siap berpakaian, Jaejoong hendak pergi ke pabrik bersamanya. Ia memakai baju yang diambilnya, kemeja tua dan celana selutut dari bahan denim. Kakinya hanya mengenakan sepatu sandal. Bukan pakaian yang cocok untuk melihat tempat yang kebakaran, tetapi ia sudah mendengar langkah kaki Yunho menuruni anak tangga. Cepat-cepat ia lari mengejarnya.
"Yunho, tunggu!"
"Kau di sini saja," teriak Yunho sambil lari ke pintu depan.
"Tidak bisa." Jaejoong sudah berada di belakang Yunho.
"Ada apa?" Sungmin yang keliharan seperti boneka berpipi kemerahan, memakai baju tidur, dan membelalak, menuruni anak tangga.
"Pabrik terbakar, Yunho dan Jaejoong akan pergi ke sana," Boa memberi penjelasan.
'Pabrik terbakar?" ulang Sungmin.
Sumpah serapah yang keluar dari mulut Yunho membuat telinga siapa pun yang mendengar merah, ketika ia berusaha menghidupkan mesin mobilnya. Boa dan Sungmin berdiri di teras, tangan mereka bergandengan, sementara Jaejoong meminta Yunho membukakan pintu mobil.
"Kau tak usah kesana!" teriak Yunho.
"Kalau kau tak membukakan pintu ini, aku akan naik mobilku, sehingga kau takkan tahu aku nanti berada di mana."
Kata-kata kotor keluar dari mulut Yunho, tetapi pintu mobil dibukanya juga, lalu Jaejoong naik.
Kyuhyun mendengar suara ribut-ribut itu. Ia berjalan memasuki halaman dengan langkahnya yang terpincang-pincang. Ia hanya mengenakan T-shirt. "Ada apa?"
"Kebakaran di pabrik," jawab Jaejoong.
"Aku akan membantu."
"Jangan, Kyu!" cegah Sungmin.
"Kyu, kau tinggal di rumah bersama Sungmin dan Boa," kata Jaejoong lewat jendela mobil.
"Benar. Kau di sini saja," ujar Yunho pendek. Mobil mulai bergerak, tetapi Kyuhyun masih memegangi pintu mobil dan Yunho tidak bisa mempercepat lajunya.
Sambil menatap mata Yunho dengan sorot tulus, ia berkata, "Kau butuh pertolonganku lebih daripada mereka. Aku ikut."
"Kyuhyun!" teriak Sungmin, langsung lari mendekati Kyuhyun, menyelipkan tangannya di pinggang Kyuhyun. "Jangan pergi. Aku mengkhawatirkanmu.
"Hei," jawab Kyuhyun, membuat Sungmin mengangkat kepalanya, "Aku berharap kau bisa menenangkan Boa dan menyiapkan sarapan pagi untuk kami waktu kami kembali. Oke?"
Mata Sungmin berbinar-binar memandang Kyuhyun. "Baiklah, Kyu. Hati-hati."
"Pasti." Kyuhyun cepat-cepat mencium bibir Sungmin dengan lembut, lalu mendorongnya sebelum masuk ke mobil, duduk di sebelah Jaejoong.
Sejenak Yunho menatap laki-laki itu dengan pandangan nanar, kemudian ia menekan pedal gas, dan dengan suara mencicit mobil melaju cepat.
.
.
Mereka lega. Kebakaran tidak terlalu besar, hanya satu bagian bangunan yang terbakar. Untung saja Changmin bertindak cepat, mobil pemadam kebakaran pun sudah ada di sana ketika Yunho tiba.
Tanpa memedulikan apa pun, Jaejoong lari ke ruang kerjanya untuk memeriksa buku-buku besar yang tersimpan di sana. Yunho segera mengejarnya dan menyambar pinggangnya, menariknya ke luar. Jaejoong meronta-ronta. Setelah agak tenang, Yunho memegang bahu Jaejoong dan mengguncang-guncangnya.
"Jangan pernah lakukan hal tolol seperti itu lagi. Kau membuat aku ketakutan setengah mati." Melihat air muka Yunho yang menakutkan, Jaejoong tidak berani membantah sepatah kata pun.
.
.
Banyak hal yang harus dilakukan. Yunho mengawasi para pekerja yang memindahkan karung-karung berisi ginseng yang siap dikirim. Kyuhyun, meskipun kakinya pincang, bekerja lebih keras daripada siapa pun. Jaejoong menghalau orang-orang menjauh. Ia harus merasa yakin tak seorang pun ada di dalam bangunan itu. Dalam waktu dua jam, api bisa dipadamkan.
Jaejoong dan Yunho dipanggil kepala pemadam kebakaran dan polisi. "Tempat ini dibakar, Yun," kata kepala pemadam kebakaran. "Mereka membakarnya secara sengaja, tetapi kabel-kabel pabrik yang sudah tua ikut mempercepat kebakaran."
Yunho mengibaskan rambut. "Ya, aku tahu kondisinya sangat menyedihkan. Parahkah kerusakannya?'
"Tak seberapa bila kami tidak segera sampai di sini."
"Untung ginseng-ginseng itu banyak yang sudah dikemas dan dikirim ke gudang." Setelah tidak sibuk kerja lagi, Jaejoong baru menyadari keletihan yang menggayuti tubuhnya.
"Anda tahu siapa kira-kira yang membakar pabrik, Mrs. Lancaster?" tanya polisi kepada Jaejoong.
"Saya tahu." Changmin, mandor pabrik yang menjawab. "Salah seorang pembakar pabrik menelepon saya. Saya rasa ia sadar telah melakukan kejahatan dan merasa ketakutan pada menit terakhir. Ia tidak memberitahukan namanya, tetapi saya yakin ia salah seorang karyawan yang kau pecat beberapa minggu lalu, Yunho."
Atas permintaan polisi, Yunho menyebutkan nama para karyawan yang ia pecat. Petugas itu menggaruk-garuk telinga. "Memalukan sekali. Apa yang mereka kerjakan ketika bekerja pada Anda?"
"Mereka tidak bekerja padaku. Mereka bekerja pada ayahku," jawab Yunho. Yunho melirik Jaejoong yang keletihan. "Aku rasa cukup untuk saat ini, aku ingin mengantar Jaejoong pulang."
"Silakan. Kami akan menghubungi Anda bila ada yang perlu kami bicarakan."
.
.
Kyuhyun memilih duduk di bak truk mobil Yunho sewaktu pulang. Ia tidur telentang dan tidak bergerak sampai Yunho menghentikan mobil di pintu belakang rumah. Boa dan Sungmin tergopoh-gopoh menemui mereka.
Yunho lari ke pintu mobil satu lagi, membukakan pintu bagi Jaejoong. Jaejoong terpeleset dari mobil dan jatuh ke pelukan Yunho. Kyuhyun bangun dari tidurnya tepat ketika Sungmin mendekatinya, langsung memeluknya, tanpa memedulikan jelaga dan debu hitam yang melekat di tubuh Kyuhyun.
"Kau tidak apa-apa, Kyu?"
"Tentu, aku baik-baik saja."
"Hmmm, tidak kelihatan kau tidak apa-apa," sela Boa. "Ya, ampun, lihat tampang kalian bertiga. Belum pernah aku melihat muka seperti kalian. Sebaiknya kalian bertiga cepat mandi. Aku sudah menyediakan sarapan untuk kalian."
Mereka masuk rumah. Sungmin melepaskan pelukannya pada Kyuhyun dengan enggan, Kyuhyun melangkah menuju tempat tinggalnya.
"Kyu." Veteran itu menghentikan langkah dan berbalik menghadap Yunho, yang berhenti di ambang pintu dan berkata kepada pria itu, "Gomapta."
"Cheonma," jawab Kyuhyun. Mereka berpandangan beberapa saat, kemudian saling melempar senyum lebar.
Mata Sungmin memancarkan sorot penuh kasih kepada dua laki-laki itu. Boa berusaha menahan air mata yang hampir menitik di pipinya. Jaejoong menggenggam tangan Yunho.
Kitahara Saki
Di loteng, di dalam kamarnya, Jaejoong melepaskan bajunya. Dibiarkannya pakaiannya tergeletak di lantai kamar mandi. Ia ingin membuang baju-baju itu. Bau asap yang melekat di baju itu tidak bisa hilang meskipun dicuci. Ia hanya berharap bau asap tidak melekat di rambutnya.
Bau asap di rambut Jaejoong bisa dihilangkan dengan shampoo. Jaejoong berdiri di bawah keran pancuran, membiarkan air hangat menghilangkan kotoran dan jelaga. Ketika akhirnya mematikan keran, Jaejoong merasa tubuhnya segar kembali. Kakinya menginjak tumpukan pakaiannya, tak berani mengangkatnya. Ia menggelung rambutnya dengan handuk. Ia baru saja selesai memakai mantel mandi ketika terdengar suara pintu kamarnya diketuk.
"Masuk."
Jaejoong mengira yang datang Boa atau Sungmin. Bahwa yang muncul adalah Yunho sungguh di luar dugaannya. Namun pria itulah yang kini melangkah masuk ke kamarnya, membawa baki berisi secangkir kopi dan segelas jus jeruk.
"Boa bilang sebaiknya kau minum ini dulu sebelum turun ke ruang makan."
Pikiran Yunho tak tertuju pada apa yang dikatakannya. Kata-kata itu meluncur keluar dengan sendirinya dari mulutnya karena seluruh konsentrasinya tertuju pada perempuan yang rambutnya digelung dengan handuk basah dan mengenakan mantel, menonjolkan lekuk liku tubuhnya. Kulitnya begitu halus. Bau sabun beraroma bunga honeysuckle tertangkap penciumannya. Matanya besar dan berbinar-binar ketika menatap Yunho. Suara Jaejoong agak tercekat ketika bicara.
"Terima kasih. Kopinya wangi sekali."
Jaejoong juga rupanya terkesima. Rambut Yunho basah. Ia mengenakan celana jins belel model ketat yang pinggangnya rendah, menonjolkan kejantanannya. Dadanya yang bidang tertutup bulu hitam, ikal dan agak basah. Matanya berbinar-binar ketika menatap Jaejoong.
Yunho meletakkan baki di meja, tetapi tampak enggan meninggalkan kamar Jaejoong. Kemudian sulit mengatakan siapa yang bergerak lebih dulu. Apakah ia merentangkan tangan, seperti hendak memeluk Jaejoong? Atau Jaejoong yang melangkah mendekati Yunho lebih dulu? Mereka tidak ingat. Yang mereka tahu, tiba-tiba saja Jaejoong sudah berada dalam pelukan Yunho dan Yunho mendekapnya erat-erat.
.
.
Air mata bercucuran dari mata Jaejoong ketika memeluk Yunho. Semua ketakutan, kecemasan beberapa jam lalu, tersalur lewat matanya. Yunho menarik handuk pembungkus rambut yang menutupi kepala Jaejoong dan melemparkannya ke lantai. Tangannya menyibakkan rambut Jaejoong yang basah dan ia membenamkannya wajah Jaejoong ke dadanya yang hangat. Yunho menunduk.
"Ada masalah yang belum kita selesaikan, masalah antara kau dan aku, Jae.”
Jaejoong mengangkat wajahnya yang bercucuran air mata, menatap Yunho. Sambil tersenyum ia berkata, "Ya, kita harus menyelesaikannya.
"Urusan itu sudah kedaluarsa," kata Yunho tenang, membiarkan ibu jarinya menyeka air mata dari pipi Jaejoong.
"Sudah melewati batas waktu."
Yunho menjulurkan tangan ke belakang, menutup pintu.
.
.
.
To Be Continued

3 comments:

  1. yunjaeddiction10:27 PM

    wahhh yunjae mau pecah telor nie.. haha

    ReplyDelete
  2. mau ngapain itu nutup pintu?
    curiga, haha

    ReplyDelete
  3. Naniiii??? Mereka mau apa? Apa akan sangat jauuh? atau dekat? #plaaak

    ReplyDelete