Jaejoong
adalah miliknya!
.
.
“Sakit!!”
Jaejoong menjerit, berusaha
mendorong tubuh Yunho. Tubuhnya berteriak antara kesakitan dan keinginan untuk
dipenuhi gairahnya, sebutir air mata menetes dari sudut matanya, sisa-sisa dari
kesadarannya yang tertinggal. Yunho mendesakkan dirinya sedalam mungkin,
akhirnya berhasil menembus penghalang itu, mengabaikan jeritan kesakitan
Jaejoong.
salang-ui
ba
©Kitahara Saki
Kim
Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with
the Devil
©Shanty Agatha
Ketika akhirnya jeritan Jaejoong
mereda. Yunho mengangkat kepalanya, dan mengecup lembut bibir Jaejoong yang
terbuka dan terengah-engah,
“Setelah ini…. Aku akan
mengajarkanmu bagaimana memuaskanku,” ucapan itu menggema di dalam ruangan,
bagaikan janji dari sang kegelapan.
Dan Jaejoong, sudah benar-benar
kehilangan kesadarannya, tubuhnya menggeliat merasakan kenikmatan yang
menggelenyar ketika rasa sakit itu akhirnya menghilang, berganti dengan
kenikmatan panas yang membagikan gelenyar menyiksa ke seluruh tubuhnya.
Yunho merasakan gerakan pinggul
Jaejoong, merasakan denyutannya yang menggenggam panas tubuhnya, yang tertanam
jauh di dalam tubuh Jaejoong, mendesak dengan berani, menarik Yunho lebih dan
lebih dekat lagi.
Yunho menggertakkan gigi, menahan
diri, membiarkan Jaejoong menggerakkan pinggulnya, mencari kenikmatannya
sendiri dengan sesuka hati.
Dan tidak butuh waktu lama ketika
akhirnya yeoja itu mencapai pemenuhan kepuasannya,
“Oh…oh…Yun…” Jaejoong memejamkan
mata ketika kenikmatan itu meledak dan membanjiri tubuhnya dengan rasa panas
yang tak tertahankan,
Dan walaupun Yunho bisa
memperpanjang kenikmatannya sendiri. Pemandangan akan orgasme Jaejoong dan
denyutan Jaejoong yang meremas dirinya, jauh di dalam sana, membuatnya
tidak bisa menahan diri lagi, detik itu pula, Yunho meledakkan gairahnya
bergabung dengan Jaejoong dalam gairah yang melemahkan.
♥Kitahara
Saki♥
Entah apa yang membuat Jaejoong
terbangun dari tidurnya yang lelap, rasa sakit yang aneh di badannya, ataukah
cahaya terang yang mendadak muncul entah dari mana. Jaejoong membuka matanya.
Sekilas pandangannya terasa kabur, dan dia mencoba untuk memfokuskan dirinya.
Kamar itu, dengan nuansa putih yang feminim….
Kamar itu, dengan nuansa putih yang feminim….
Kilasan-kilasan ingatan berkelebat
di benaknya, dia masih di sekap di sini, di dalam kamar di rumah Yunho yang
jahat.
Dengan panik Jaejoong terduduk dari
ranjangnya, dan selimutnya melorot hampir jatuh menutupi dadanya, melorot?
Jaejoong menundukkan kepalanya, dan menyadari kalau dia telanjang bulat di
balik selimutnya, apa yang…..
“Selamat pagi Jae.”
Suara maskulin itu terdengar dekat
sekali dan Jaejoong menolehkan kepalanya kaget,
Pemandangan di hadapannya membuat jantungnya bergejolak, Yunho ada di sana, di ranjangnya, mereka ada dalam selimut yang sama, dan menilik kepada selimut Yunho yang hampir saja melorot di pinggulnya,
Pemandangan di hadapannya membuat jantungnya bergejolak, Yunho ada di sana, di ranjangnya, mereka ada dalam selimut yang sama, dan menilik kepada selimut Yunho yang hampir saja melorot di pinggulnya,
“mereka sama-sama telanjang!”
Jaejoong masih terperangah menatap
pemandangan di depannya. Yunho berbaring dengan angkuhnya, jelas-jelas
telanjang bulat di balik selimutnya, dan menatapnya dengan tatapan berhasrat
memiliki.
Dengan panik Jaejoong menarik
selimutnya hampir untuk menutupi seluruh dadanya, tetapi gerakannya itu malahan
membuat selimut Yunho melorot dan hampir memperlihatkan kejantanannya, dengan
malu Jaejoong memalingkan kepalanya dan disambut dengan senyuman jahat Yunho.
Keberanian dan kemarahan Jaejoong
langsung muncul ketika menyadari rasa pedih di antara ke dua pahanya.
“Namja ini memperkosanya!”
Entah apa yang terjadi semalam,
Jaejoong tidak ingat sama sekali, tapi yang pasti, dia sudah dinodai oleh iblis
berhati kejam ini.
“Kau sungguh iblis yang tidak
bermoral, mengambil keuntungan dari yeoja yang sangat membencimu!” desis
Jaejoong menahan marah, masih tidak mau menatap Yunho.
Yunho terkekeh mendengar suara geram Jaejoong,
Yunho terkekeh mendengar suara geram Jaejoong,
“Membenciku?” dengan santai namja
itu berdiri, tak malu dengan tubuh telanjangnya yang berotot, “Lihat aku
Jaejoong, kau meninggalkan tanda-tanda di tubuhku, kau sangat bergairah
semalam, seperti kucing betina yang mencakar di sana sini untuk dipuaskan…. Dan
atas gairahmu semalam, aku tidak yakin kalau kau membenciku.”
Jaejoong melirik sekilas ke tubuh
telanjang Yunho yang berdiri di samping ranjang, mukanya merah padam karena
malu. Bekas-bekas itu ada, tanda-tanda merah di dada, di pinggul Yunho, di
dekat kejantanannya….
“Apakah dia yang melakukannya?”
“Ya. Kau yang melakukannya.” Ada
senyum di suara Yunho, “Dengan sangat bergairah dan lapar, aku Cuma berbaring
di sana dan kau menyantapku bulat-bulat, sepanjang malam.”
Kelebatan ingatan akan percintaan
yang panas muncul di ingatan Jaejoong, samar-samar dan tidak jelas, tapi dia
tidak mampu mengingat semuanya, kenapa dia tidak mampu mengingat semuanya?
Jaejoong teringat minuman yang di
berikan Changmin semalam, dan rasa muaknya memuncak ketika menyadari ada
sesuatu yang di campurkan di situ, dengan mata menyala-nyala, dikuasai oleh
kemarahan yang campur aduk menjadi satu, Jaejoong menantang tatapan Yunho,
mencoba tidak mempedulikan ketelanjangan Yunho.
“Aku selalu mendengar kau jahat dan
licik, tapi aku sungguh tak menyangka kau serendah itu, menggunakan obat untuk
memaksa yeoja yang jijik kepadamu supaya mau melayanimu!”
Sepertinya kata-kata Jaejoong mengena di hati Yunho karena rahang namja itu tampak mengeras, marah.
Sepertinya kata-kata Jaejoong mengena di hati Yunho karena rahang namja itu tampak mengeras, marah.
Dengan kasar, Yunho menyambar jubah
satin hitamnya dan mengenakannya, lalu dengan gerakan tiba-tiba, naik ke atas
ranjang dan mencengkeram rahang Jaejoong dengan sebelah tangannya.
Cengkeraman itu terasa keras dan
menyakitkan sehingga Jaejoong mengernyit, tetapi Jaejoong menahan diri untuk
tidak mengaduh, dia tidak mau memberikan kepuasan kepada namja itu.
“Apapun yang kau katakan, satu hal yang pasti, kau sudah menjadi milikku. Dan seperti yang kubilang, segala sesuatu yang menjadi milik Jung Yunho tidak akan pernah bisa lepas, kecuali aku melepaskanmu.. atau aku membunuhmu!”
“Apapun yang kau katakan, satu hal yang pasti, kau sudah menjadi milikku. Dan seperti yang kubilang, segala sesuatu yang menjadi milik Jung Yunho tidak akan pernah bisa lepas, kecuali aku melepaskanmu.. atau aku membunuhmu!”
Dengan kasar Yunho melepaskan
cengkeramannya di rahang Jaejoong, membuat tubuh Jaejoong terdorong lagi ke
ranjang, lalu dengan langkah tegas, Yunho melangkah keluar kamar sambil
membanting pintu di belakangnya.
♥Kitahara
Saki♥
Jaejoong masih termangu di ranjang,
lalu kilasan rasa sakit di antara pahanya menyadarkannya.
Noda darah itu tampak mencolok di sprei putih itu, tampak menertawakannya.
Sungguh ironis, keperawanannya terenggut oleh bajingan berhati iblis yang ingin dibunuhnya. Tubuh Jaejoong gemetar, dipenuhi oleh rasa campur aduk yang menyesakkan ketika dia mencoba berdiri.
Noda darah itu tampak mencolok di sprei putih itu, tampak menertawakannya.
Sungguh ironis, keperawanannya terenggut oleh bajingan berhati iblis yang ingin dibunuhnya. Tubuh Jaejoong gemetar, dipenuhi oleh rasa campur aduk yang menyesakkan ketika dia mencoba berdiri.
Noda merah di ranjang itu sangat
mengganggunya,hingga dengan kasar Jaejoong merenggut sprei itu dan
membantingnya ke lantai, Napas Jaejoong terengah-engah dan entah kenapa
kemudian tubuhnya ambruk ke lantai, menangis penuh emosi.
Ingatannya melayang kepada ayah dan
ibunya, kepada dendamnya yang belum terbalaskan dan kepada nasibnya yang
membuatnya terperangkap di sini, dalam cengkeraman musuh besarnya.
Kini dia terpuruk di sini, dalam cengkeraman Yunho, dan yang sangat menyakitkan dia tidak berdaya menghadapi namja itu.
Kini dia terpuruk di sini, dalam cengkeraman Yunho, dan yang sangat menyakitkan dia tidak berdaya menghadapi namja itu.
Jaejoong mengusap air matanya
tiba-tiba. Tidak! Dia sudah cukup menangis, dia harus melawan, dengan segala
cara!
Dengan pelan Jaejoong melangkah ke
kamar mandi, dia harus mandi dan menghapus semua jejak dan noda yang
ditinggalkan Yunho di tubuhnya.
Yunho boleh saja menodainya, tetapi
bukan berarti namja itu memilikinya. Jaejoong wanita bebas, wanita bebas yang
bertekad untuk menghancurkan Yunho. Tunggu saja, dia hanya belum punya
kesempatan.
♥Kitahara
Saki♥
Jaejoong hanya duduk di kursi putih
itu putus asa sebab setelah sekian lama berkeliling ruangan, memeriksa
setiap sudut di kamar mandi dan jendela, tetap benar-benar tidak ada celah yang
bisa digunakan sebagai jalannya untuk melarikan diri.
Putus asa, Jaejoong duduk sambil memeluk lututnya,
Putus asa, Jaejoong duduk sambil memeluk lututnya,
“Kalau begini, bagaimana caranya
dia bisa keluar dari rumah ini?”
Sedangkan keluar dari kamar ini saja
dia tidak mampu. Matanya melirik ke pintu kamar. Pintu yang terkunci itu
satu-satunya jalan.
Tetapi yang bisa keluar masuk dari
pintu itu hanya Yunho, dan juga seorang namja bertampang dingin bernama Changmin,
yang selalu ada di sebelah Yunho setiap ada kesempatan. Namja bertampang dingin
itu sepertinya ditugaskan untuk mengantarkan makanannya.
Pikiran Jaejoong berputar… memang
rasanya tidak mungkin, jika tidak dicoba dia tidak akan tahu…
Seperti sudah diatur, pintu kamar
itu terbuka, dan Jaejoong langsung terduduk tegak waspada, menanti siapapun
yang akan masuk.
Changmin muncul di sana membawa
nampan makanan, wajahnya datar tanpa ekspresi seperti biasa. Dan Jaejoong
langsung sengaja memasang wajah kesakitan,
“Aku minta tolong….” rintihnya
sesakit mungkin.
Changmin mengernyit dan mendekat,
“Ada apa nona?’
“Aku… aku mau muntah… tolong aku,”
Jaejoong meremas perutnya, berusaha semeyakinkan mungkin.
Dan sepertinya Changmin tidak
curiga, namja itu mendekat, dan menatap Jaejoong, “Kau mau di bantu ke kamar
mandi?”
Jaejoong mengangguk lemah,
Dengan tangan kuatnya, Changmin
membantu Jaejoong berdiri dan memapah tubuh Jaejoong yang lunglai ke kamar
mandi,
Ketika Changmin membuka pintu kamar
mandi, Jaejoong berakting seolah-olah muntahnya akan keluar, hingga Changmin
langsung bergegas membawanya ke kamar Mandi,
Di wastafel Jaejoong menundukkan
kepalanya seolah-olah akan muntah hebat, “Handuk… tolong….” gumam Jaejoong
lemah, melirik ke arah lemari handuk yang ada di ujung ruangan kamar mandi,
Masih tanpa curiga, Changmin
melangkah ke arah lemari handuk. Saat itulah dengan secepat kilat Jaejoong
melompat dan berlari ke arah pintu keluar kamar mandi.
Changmin menyadari kalau dia ditipu
ketika melihat kelebatan langkah cepat Jaejoong, dia berusaha mengejar tapi
terlambat, Jaejoong yang melompat gesit sudah keluar dari kamar mandi dan
membanting pintunya dari luar, lalu menguncinya rapat-rapat.
Dengan napas terengah karena pacuan
adrenalin Jaejoong menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi, memejamkan mata,
tak peduli akan gedoran-gedoran marah Changmin dari dalam,
“Kau tidak akan bisa melarikan
diri,” ancam Changmin, berteriak dari dalam, “Tuan Yunho pasti akan
menemukanmu, dan aku bersumpah, kalau kau sampai membuat Tuan Yunho marah, kau akan menyesalinya.”
Teriakan-teriakan Changmin makin
keras dibarengi dengan gedoran-gedorannya di pintu, kata-kata Changmin sempat
membuat hati Jaejoong kecut, tapi dia menggelengkan kepalanya, Yunho memang namja
kejam, tetapi Jaejoong tidak boleh takut. Dia harus berani menantang Yunho,
menunjukkan pada namja itu kalau dia bukanlah yeoja yang bisa ditundukkan
dengan begitu mudahnya.
Dengan langkah hati-hati, Jaejoong
membuka pintu putih yang tak terkunci itu, matanya mengintip sedikit keluar,
khawatir kalau-kalau ada penjaga yang menjaga di pintu. Tetapi rupanya Yunho
beranggapan Jaejoong terlalu lemah sehingga tidak perlu menempatkan penjaga di
pintu, Lorong itu kosong. Dengan hati-hati Jaejoong melangkah keluar. Suara
gedoran-gedoran pintu kamar mandi dan teriakan Changmin masih terdengar ketika
Jaejoong keluar, tetapi ketika Jaejoong menutup pintu putih besar itu, suara
itu lenyap dan menjadi senyap. Rupanya ruangan putih tempatnya dikurung itu
kedap suara.
Jaejoong melangkah lagi melewati
lorong itu. Tidak ada pintu lain di lorong itu, arahnya langsung ke arah tangga
spiral yang besar menuju ke pintu depan. Dengan hati-hati, Jaejoong mengintip
dari ujung tangga ke arah bawah. Kosong. Kemanakah para penjaga yang dia lihat
kemarin?
Pelan dan waspada, Jaejoong
melangkah menuruni tangga. Dia sudah berhasil menyeberangi ruangan dan memegang
handle pintu besar itu, ketika suara dingin yang mulai dikenalnya terdengar
tepat di belakangnya,
“Kau pikir kau akan kemana?”
♥Kitahara
Saki♥
Terlonjak kaget, Jaejoong
membalikkan badan dan hampir menabrak dada bidang Yunho.
Namja itu berdiri dekat sekali di belakangnya, dan menekannya ke pintu, tatapannya menyala penuh kemarahan, seperti iblis yang siap membakar musuh-musuhnya.
Namja itu berdiri dekat sekali di belakangnya, dan menekannya ke pintu, tatapannya menyala penuh kemarahan, seperti iblis yang siap membakar musuh-musuhnya.
“Berani sekali kau mempermalukan Changmin
seperti itu, dan berani sekali kau mencoba melarikan diri dari rumahku.” Tangan
besar Yunho mencengkeram lengan Jaejoong dengan kasar lalu menyeret Jaejoong
yang tidak bersedia.
Jaejoong meronta-ronta, mencoba bertahan,
tetapi Yunho tidak peduli, tetap menyeret Jaejoong dengan kekuatan besarnya,
hingga Jaejoong mau tidak mau harus terseret-seret mengikuti daripada tangannya
putus,
Yunho menyeret Jaejoong menaiki
tangga dan kembali menuju kamar putih tempat Jaejoong tadi dikurung, Di sana
beberapa pengawal Yunho berkumpul, dan Changmin berdiri di sana, rupanya dia
berhasil menghubungi Yunho dan di bebaskan dari kamar mandi.
Jaejoong mengernyit dalam hati,
seharusnya tadi dia lebih cepat, atau mungkin dia pukul kepala Changmin dengan
sesuatu sehingga namja itu pingsan dan tidak bisa menghubungi teman-temannya
dengan segera. Yunho melepaskan cengkeramannya lalu mendorong Jaejoong ke depan
dengan kasar,
“Kau lihat Min? Yeoja kecil seperti
ini, dan kau, pengawalku yang sudah bertahun-tahun lamanya bisa-bisanya dibodohi seperti ini.”
Changmin hanya terdiam, menatap Yunho
dengan muka datar sepenuhnya mengabaikan keberadaan Jaejoong, hingga Jaejoong
mengernyit, apakah namja ini memang tidak punya ekspresi?
“Dan kau Jae,” Yunho melepas jasnya
dan menggulung lengan kemejanya, “Ini adalah peringatan untukmu, kalau kau
membodohi salah satu pegawaiku lagi untuk melarikan diri, kau akan membuang
satu nyawa, karena aku akan langsung membunuh pegawaiku.”
Tanpa dinyana, Yunho menghantam Changmin
dengan satu pukulan telak hingga kepala Changmin mundur ke belakang, darah
menetes dari sudut bibirnya.
Jaejoong terkesiap mundur dan makin
terkesiap ketika Yunho menghajar Changmin, lagi dan lagi tanpa perlawanan
hingga namja itu jatuh berlutut dengan memar dan bibir berdarah yang mengotori
kemejanya.
Yunho mundur satu langkah ketika Changmin
terjatuh, dia menoleh dan menatap Jaejoong,
“Kalu lihat itu Jae? Setiap kau mencoba melarikan diri, aku bersumpah akan ada nyawa yang berkorban untukmu, mereka semua yang lengah hingga memberi kesempatan padamu untuk lari, akan kubunuh!”
“Kalu lihat itu Jae? Setiap kau mencoba melarikan diri, aku bersumpah akan ada nyawa yang berkorban untukmu, mereka semua yang lengah hingga memberi kesempatan padamu untuk lari, akan kubunuh!”
Dengan kejam Yunho mengarahkan
pukulannya sekali lagi ke arah Changmin.
Jaejoong berteriak, spontan mencengkram lengan Yunho yang terayun, mencegah Yunho menghabisi Changmin,
Jaejoong berteriak, spontan mencengkram lengan Yunho yang terayun, mencegah Yunho menghabisi Changmin,
“Jangan….! Jangan! aku yang salah, aku yang salah! Jangan bunuh
dia! Aku yang salah! “
teriaknya panik.
Yunho terdiam dan mematung, ketika
akhirnya dia menatap Jaejoong, matanya sedingin es. Namja itu tampak amat
sangat marah kepada Jaejoong.
“Jadi kau mengaku salah,” Yunho
mundur lagi dan Jaejoong merasa lega luar biasa karena namja itu tidak jadi
melampiaskan kemarahannya kepada Changmin yang sudah berlutut tak berdaya di
lantai.
“Aku hanya ingin keluar dari tempat
ini.” teriak Jaejoong marah, frustrasi karena Yunho menggunakan ancaman licik
untuk mencegahnya melarikan diri.
“Kau milikku, dan tidak ada milikku
yang bisa keluar dari sini tanpa seizinku.”
“Atas dasar apa??” Jaejoong
berteriak marah, “Aku bukan milik siapa-siapa, apalagi namja jahat sepertimu,
aku cuma mau keluar dari ini, aku muak terhadapmu, muak atas semua yang ada di
sini….Aku cuma mau keluarr!!!!
“Kau mau keluar hah??” Yunho
mencengkeram lengan Jaejoong lagi, di tempat yang sama hingga Jaejoong merasa
lengannya memar, “Ayo kita keluar!”
♥Kitahara
Saki♥
Tak ada yang berani menolong ketika
Jaejoong berteriak-teriak dalam seretan Yunho.
Sepertinya kemarahan Yunho adalah hal biasa di rumah ini dan tidak ada satupun yang berani melawan laki-laki itu.
Sepertinya kemarahan Yunho adalah hal biasa di rumah ini dan tidak ada satupun yang berani melawan laki-laki itu.
Yunho membawa Jaejoong ke ujung
lorong, ke jendela kaca lantai dua yang mengarah langsung ke balkon. Dengan
kasar Yunho mendorong Jaejoong keluar lalu mendesaknya ke ujung balkon, hingga
kepala Jaejoong mengarah ke bawah dan menatap ngeri ke kolam renang yang sangat
luas di bawahnya.
Kolam itu tampak sangat bening dan
dalam. Jaejoong bergidik. Dia tidak bisa berenang, “apakah Yunho akan
mendorongnya ke bawah?”
Yunho benar-benar mendesak tubuh
Jaejoong sampai ke ujung balkon, membuat kepalanya terbungkuk ke bawah,
sementara tangannya di kekang oleh Yunho di belakangnya,
“Kau lihat itu? Salah sedikit aku
melemparmu ke bawah kepalamu bisa pecah terkena ubin pinggiran kolam,” napas Yunho
sedikit terengah oleh kemarahan, “Kau yeoja tak tahu diuntung, harusnya kau
bersyukur atas kebaikan hatiku padamu dan keluargamu, hingga kau masih bisa
hidup sampai sekarang…. Tahukah kau kalau aku bisa dengan mudah mencabut
nyawamu kapanpun aku mau.”
“Tuhan yang berhak mencabut nyawaku,
bukan ibilis seperti kau.” Jaejoong berteriak berusaha menantang meski
jantungnya makin berpacu kencang diliputi ketakutan luar biasa.
“Yeoja tidak tahu terimakasih,” Yunho
mendorong Jaejoong lagi sampai ke ujung, “Ada kata-kata terakhir?”
Jaejoong memalingkan kepalanya
sehingga tatapan matanya yang penuh kebencian bertemu dengan mata dingin Yunho,
“Gomapta karena sudah membebaskanku tuan Jung.”
Lalu tubuh Jaejoong terlempar,
melayang di udara kemudian meluncur ke bawah, ke kolam renang dalam itu..
“Setidaknya kalau aku mati aku sudah
mencoba membalaskan dendam kita, ayah….”
Sedetik kemudian, tubuh Jaejoong
terbanting menembus permukaan kolam lalu tenggelam, Jaejoong tidak berusaha
menyelamatkan diri, membiarkan tubuhnya makin tenggelam dalam kolam itu.
Matanya menggelap dan memejam, dan entah berapa banyak air kolam yang tertelan
olehnya, napasnya terasa sesak dan paru-parunya terasa mau pecah.
“Oh Tuhan… aku akan mati….”
.
.
.
To Be Continued

huaaa jae diterjunin tuch
ReplyDeleteaigoo yun ini sadis deh
Yah, Yunho! Wah parah , parah.
ReplyDeletedi pikir Jae itu batu, bisa di lempar ke kolam seenaknya , haduuh~
Yunho dengan posesifnya , otoriternya, tapi tetap mengagumkan #plakkk
Yunho serem bgt kalo lg marah tp lebih serem kalo di ranjang. hehehe...
ReplyDeleteTp ga nyangka Yunho bakal setega itu dorong Jaejoong ke kolam.