Monday, February 24

[Remake] Bittersweet Rain Chapter 28


"kalau bagitu tidak ada masalah bila kau hendak mengalihkan kepemilikannya. Bila kau yakin benar itu yang kau mau."
Sambil mcrenung, Jaejoong mengangguk. "Kapan festival musim gugur itu diselenggarakan?"
"Minggu ketiga bulan Oktober. Masih sebulan lagi." Yoochun meletakkan tangannya pada pegangan pintu. "Mereka minta alamat Yunho. Aku yakin mereka ingin mengundangnya juga."
Jaejoong mengalihkan pandangan dari Yoochun. "Apakah kau bisa mengubah aktenya sebelum minggu ketiga bulan Oktober?" Ketika ia kembali memandang Yoochun, pria itu tersenyum padanya dengan penuh kasih.
"Kau tahu, andai tidak terlibat dengan keluarga Jung, kurasa aku sudah jatuh cinta padamu."
.
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
.
Hei!
Jaejoong berhenti di jalan setapak dan memandang ke balik kantong belanjaannya ke arah gadis muda yang menyapanya dengan kasar. "Kau bicara denganku?"
"Bukankah kau Nyonya Jung?"
"Ya." Gadis muda itu tidak lebih dari dua belas tahun, tetapi matanya memakai perona mata ungu mengilap dan eyeliner biru yang tebal sekali. Rambutnya yang hitam dipotong pendek, disisir tegak di bagian atas kepala. Salah satu daun telinganya ditindik tiga. Klip kertas yang berwarna-warni tergantung di setiap lubang itu. Daun telinga yang satunya lagi memakai anting-anting berbentuk bintang berukuran besar yang berkilat-kilat. Bibirnya dipoles lipstik warna putih.
Pakaiannya tak kalah ramai dengan riasan wajahnya. rok mini warna hijau dipadu dengan blus oranye, kemeja putih dengan gambar bibir merah darah dan lidah menjulur. Jaejoong mengira gadis itu pasti mengenakan pakaian untuk bermain drama. Orangtua macam apa yang membiarkan gadis dengan pakaian seperti itu berkeliaran di jalan? Namun gadis itu menarik perhatiannya. "Dari mana kau tahu namaku?"
"Aku kenal Tuan jung, Jung yunho. Tetapi itu dulu. Namaku Junsu."
Jaejoong membelalak karena terkejut. Ini rupanya putri Ahra, yang sangat disayangi Yunho sebelum ibunya memaksa mereka berpisah. "Apa kabar, Junsu?"
"Baik, kurasa. Kau yang menikah dengan ayah Yunho, bukan?"
"Dengan Siwon. Ia meninggal beberapa bulan yang lalu."
"Tentu, aku tahu itu. Semua orang tahu. Beberapa waktu yang lalu aku melihatmu dan Yunho di Lotte Mart."
"Mengapa kau tak menyapanya?"
Gadis itu mengangkat bahu dengan sikap tidak sopan. "Tidak ingin saja. Mungkin ia juga nggak ingat aku."
"Tidak ingat, bukan nggak ingat."
"Heh?"
"Maafkan aku. Aku mengoreksi bahasamu."
"Tak apa-apa. Ibuku selalu melakukan hal itu, tetapi nggak... tidak, tampaknya tidak berhasil juga."
Jaejoong tertawa. Tetapi hatinya sedih ketika melihat teman-teman yang bersama Junsu. Ia bisa mengerti pengaruh teman sebaya jauh lebih kuat daripada nasihat orangtua dalam hal ini. Gadis-gadis yang bersama Junsu itu seperti baru keluar dari tempat rehabilitasi.
Seketika Jaejoong merasa malu sendiri, telah beropini berdasarkan penampilan saja. Ia menghakimi gadis-gadis tersebut. Bagaimanapun, ketika salah satu gadis itu, yang tidak lebih tua daripada Junsu, menyalakan rokok, ia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Bagaimana kabar eommamu?" Jaejoong ingat Ahra yang bertubuh kecil tapi seksi, berambut pirang yang panjang, bermata kebiruan dan sinis.
"Ia sudah kawin lagi. Suaminya bajingan. Lebih parah dari sebelumnya. Aku tidak suka tinggal bersamanya." Kemudian, seperti baru sadar ia terlalu banyak bicara tentang dirinya, ia menarik diri dan berkata, "Yah, aku harus pergi."
"Tunggu!" Jaejoong terkejut sendiri ketika menyadari dirinya meneriakkan kata itu. Ketika gadis tersebut meliriknya dari balik bulu mata yang dipoles maskara hitam pekat, Jaejoong kehilangan kata-kata. Di balik riasan berlebihan itu Jaejoong melihat pemberontakan, kecurigaan, dan kerapuhan. Sepertinya gadis kecil itu harus hidup di balik topeng mengerikan dan ingin keluar dari sana. "Bagaimana kalau kau menemuiku di rumah, Jung Mansion, sekali-sekali? Aku ingin mengenalmu lebih jauh."
Junsu mencibir sambil mendengus. "Tak usah pura-pura."
"Tidak, aku sungguh-sungguh." Apa sebabnya Jaejoong memaksakan hal itu ia sendiri tak mengerti. Gadis tersebut menyentuh hatinya dengan cara yang ia sendiri tidak mengerti. Yunho pasti tidak suka melihat anak yang sangat dikasihinya kelihatan seperti gadis kesepian. Andai bisa menolong, Jaejoong ingin menolongnya. "Aku ingin menjadi sahabatmu."
Bola mata yang kebiruan itu memancarkan sorot keraguan. "Waeyo?"
"Karena aku sering mendengar cerita tentang dirimu dari Yunho."
"Oh ya? Apa yang ia bilang?" Dagunya agak terangkat dengan sikap menantang. Namun Jaejoong tahu gadis itu terkejut dan tertarik untuk mendengarnya.
"Ia bilang dulu kau anak yang amat manis. Ia sangat menyayangimu dan tidak senang ketika harus berpisah denganmu."
"Ia bukan ayah kandungku."
"Arra. Tetapi ia mengasihimu seperti anak kandungnya." Gadis kecil itu menggigit bibir dan Jaejoong merasa sesaat jantungnya berhenti berdebar karena melihat gadis itu seperti mau menangis. "Yunho akan datang ke sini beberapa minggu lagi untuk menghadiri Festival musim gugur. Bagaimana kalau kau datang dan menemuinya?"
Junsu mengangkat bahu. "Mungkin. Aku sibuk."
"Oh, begitu. Aku pikir Yunho akan gembira sekali bila bisa berjumpa denganmu. Ibumulah yang mengacaukan semuanya."
Tanpa menjawab, Junsu melirik ke arah teman-temannya di belakang, yang menantinya dengan tidak sabar. "Maaf, aku harus pergi."
"Aku senang bisa berkenalan denganmu, Junsu. Tolong pertimbangkan untuk menjengukku."
"Ya, baik."
Jaejoong memandang gadis yang menyusuri trotoar itu. Anak yang malang. Namun perasaan Jaejoong lebih ringan ketimbang minggu-minggu sebelumnya.
.
.
.
.
.
"Kau bangga pada diriku, Kyuhyun?"
"Aku selalu bangga padamu."
Sungmin dan suami yang baru dinikahinya dua bulan yang lalu itu berbaring di ranjang berukuran besar di ruangan yang dulunya kamar Siwon. Kamar, kamarnya hampir tidak bisa dikenali lagi. Jaejoong mengubahnya sebagai hadiah pernikahan. Dindingnya sudah diganti tetapi arsitekturnya tak diubah. Tirai jendelanya baru, handuk dan peralatan kamar mandi, karpet yang terhampar di lantai, juga baru. Sofa panjang dan kursi santai berikut meja untuk minum teh menggantikan meja kerja di ruang duduk.
Sungmin merapat pada suaminya. Dengan santai jari-jarinya mengelus perut Kyuhyun. "Tetapi maksudku kau benar-benar bangga karena aku sendiri yang membeli barang-barang itu hari ini. Aku tidak salah menghitung uang kembaliannya, kan?"
Tangan Kyuhyun makin rapat mendekap Sungmin. Setelah dua bulan tidur dengannya, ia hampir yakin tidak akan pernah melepaskan pelukannya. "Kau melakukan segalanya dengan sangat benar. Aku tahu kau mampu melakukannya."
Kyuhyun menemani Sungmin ke toko makanan. Tetapi ketika ia meminta istrinya yang mengurus pembayarannya, mata Sungmin memancarkan ketakutan. Namun Sungmin meneliti bon yang diberikan pelayan kepadanya dan dengan hati-hati menghitung jumlah uang yang harus dibayar, kemudian menunggu kembaliannya. Ketika mereka meninggalkan toko itu, mata Sungmin berbinar-binar seperti anak kecil yang baru saja berhasil pada konser piano pertamanya.
"Aku takut mencoba. Aku ingat Yunho dulu sering mengajakku ke kota. Ia ingin mengajari aku melakukan segalanya sendiri, tetapi aku selalu takut salah dan ia kecewa padaku. Aku bahkan tidak ingin mencoba."
Kyuhyun mengubah posisi kepalanya di bantal sehingga ia bisa melihat Sungmin. "Kau tidak takut mengecewakan aku?" goda Kyuhyun dan istrinya menyembunyikan wajahnya di lekuk bahu Kyuhyun.
"Sama sekali tidak. Aku ingin menyenangkanmu lebih dari siapa pun. Karena itulah aku ingin mencobanya, dan melakukannya sebaik mungkin. Aku tahu aku tidak sepintar orang lain. Aku tidak ingin kau menyesal menikah denganku."
Kyuhyun berbaring menyamping dan memeluk Sungmin. "Minnie," bisiknya di antara rambut wanita itu. "Bagaimana mungkin aku menyesal menikah denganmu? Aku selalu cinta padamu, apa pun yang kaulakukan, atau tidak kaulakukan. Kau tidak perlu mengejar cintaku, Minnie, kau sudah mendapatkannya. Untuk selamanya."
"Kyu," bisik Sungmin sambil mengelus dada suaminya. "Aku sangat mencintaimu." Sambil duduk, Sungmin melepas gaun tidurnya lewat kepala dan melemparkannya ke kaki ranjang.
Sikap Sungmin yang polos itu membuat Kyuhyun makin menyayanginya. Ia seperti anak-anak jika menyangkut soal ketelanjangan. Karena jiwanya masih polos, ia merasa tidak ada yang perlu ditutupi pada tubuhnya. Seperti Hawa sebelum makan buah kuldi di taman Surga, hatinya terbebas dari prasangka dan takut. Sikap spontan itu makin menyenangkan suaminya, dan Kyuhyun malu mengingat bagaimana ia menikmati kepolosan sikap Sungmin.
Sungmin mengajarkan sesuatu pada Kyuhyun soal tubuhnya. Dulu Kyuhyun tak suka melihat kakinya, semenjak ia kehilangan salah satunya. Ia benci kakinya. Yang mengejutkannya, Sungmin justru menyayangi tubuhnya. Ia selalu mencari-cari alasan untuk menyentuhnya. Tangan istrinya yang halus bak porselen itu terasa seperti menyalurkan kekuatan yang menyembuhkan pada kaki kirinya. Sungmin menggetarkan jiwanya dengan sikap ingin tahunya, dan membangkitkan gairahnya menuju puncak hasrat yang belum pernah dirasakannya. Setiap belaiannya merupakan ungkapan cinta yang tulus pada Kyuhyun. Selama hidupnya, belum pernah Kyuhyun diperhatikan orang lain seperti itu.
Kini, sambil tersenyum manis, Sungmin berbaring di samping Kyuhyun dan meletakkan tangannya yang kurus di pinggang pria itu. Kyuhyun mempermainkan rambut Sungmin yang panjang dan menciumnya. Tak lama kemudian mereka saling membelai. Kyuhyun mengelus punggung Sungmin ketika wanita itu menindih tubuhnya. Sungmin meletakkan telapak tangannya di pipi Kyuhyun dan berulang-ulang menciuminya. Lidahnya yang seperti lidah anak kucing menggelitik telinga Kyuhyun, keterampilan baru yang didapat Sungmin dari Kyuhyun.
Sungmin agak menurunkan tubuhnya dan mencium leher dan dada Kyuhyun. Kyuhyun hampir terlompat dari ranjang.
"Sungmin," desah Kyuhyun.
"Hmmm?" gumam istrinya, tidak mau berhenti. "Ketika kau melakukan hal ini padaku, rasanya nikmat. Apakah kau tidak merasa nikmat juga diperlakukan begini? Kalau tidak nyaman, aku akan berhenti."
Tangan Kyuhyun mengelus rambut Sungmin. "Jangan, jangan berhenti," jawab Kyuhyun tergagap.
"Jangan sampai...." Kyuhyun membetulkan posisi tubuh istrinya di atas tubuhnya dan dengan gerakan perlahan tapi menyenangkan Kyuhyun menyatukan tubuh mereka.
Sambil bertopang pada tangan, Sungmin memajukan tubuhnya dan menyentuhkan salah satu payudaranya ke bibir Kyuhyun. Kyuhyun menciuminya sampai kemerahan. Lidahnya beraksi. Wanita itu mendesah.
Hasrat dalam tubuh mereka menggelegak sampai akhirnya Kyuhyun memegangi pinggul Sungmin dan bergerak. Sungmin membenamkan kepala Kyuhyun ke payudaranya yang kecil sementara tubuh mereka sama-sama bergetar. Lama sesudah itu mereka tetap berpelukan. Kemudian dengan lembut Sungmin mencium dahi suaminya dan berbaring di sampingnya.
"Aku bahagia kau mengajariku cara bercinta," kata Sungmin.
Kyuhyun tertawa. "Begitu juga aku."
"Aku berharap semoga semua orang di dunia ini sebahagia kita."
"Aku rasa tidak mungkin. Tak ada orang yang sebahagia aku." Kyuhyun mendaratkan ciuman mesra di bibir istrinya.
"Aku berharap Jaejoong bisa bahagia. Sejak oppa pergi, ia kelihatan tidak pernah gembira." Persepsi Sungmin yang seperti itu seharusnya mengejutkan Kyuhyun, tapi ternyata tidak. Kyuhyun merasa kadang-kadang istrinya jauh lebih peka daripada orang lain. "Apa kaupikir ia merindukan Yunho?"
"Ya, kurasa begitu, Kyunnie."
"Nado." Sejenak Sungmin terdiam dan Kyuhyun mengira wanita itu tertidur. Kemudian Sungmin berkata, "Aku khawatir Jaejoong akan meninggal seperti Appa."
Kyuhyun memegang dagu istrinya dan menaikkannya. "Apa maksudmu?"
"Jaejoong sakit."
"Ia tidak sakit. Dan ia tidak akan meninggal."
"Appa sering mengelus perut ketika mengira tak ada yang melihat. Atau ia memejamkan mata seperti merasa ada yang sakit di bagian tubuhnya."
"Apa hubungannya dengan Jaejoong?"
"Ia melakukan hal yang sama. Kemarin malam, ketika pulang dari pabrik, aku memerhatikannya dari teras. Ia menggantung jaketnya dan menaiki dua anak rangga pertama. Kemudian ia berhenti dan bersandar pada pegangan tangga. Ia memegang kepala lama sekali. Kelihatannya ia seperti sesak napas. Aku baru ingin mendekati dan menolongnya tetapi ia kembali tegak. Kelihatannya ia harus bersusah payah sampai ke atas."
Terdorong perasaan peduli atas apa yang dilihatnya, Sungmin membungkuk. "Kyunnie, Jaejoong belum akan meninggal dunia, bukan?"
"Tidak, tidak, pasti tidak," sahut Kyuhyun, meyakinkan Sungmin dan mengeluselus rambutnya. "Ia mungkin hanya letih saja."
"Aku berharap begitu. Aku tidak ingin ada yang meninggal lagi sampai aku meninggal. Terutama kyunnie," kata Sungmin sambil mendekap Kyuhyun erat-erat. "Jangan meninggalkan aku."
Kyuhyun balas mendekap erat Sungmin. Ia merasakan napas istrinya yang lembut menyentuh kulitnya dan tahu Sungmin tertidur. Ditutupinya tubuh wanita itu dengan selimut lalu dipeluknya sekali lagi. Tetapi Kyuhyun tidak bisa tidur. Pikirannya menerawang di kegelapan kamar, dahinya berkerut. Ia juga mengkhawatirkan Jaejoong. Apalagi mengingat apa yang baru saja disampaikan Sungmin padanya, perasaannya jadi makin khawatir.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

2 comments:

  1. Anonymous3:44 PM

    Wahh... jae knp ?? Enggak knp2 khan..?? Apa hamil??

    ReplyDelete
  2. Mungkin Jae hamil? Mengingat betapa rajinnya Yunho~

    Aigooo Suie, saya juga paham pasti itu hanya topengmu saja, memang biasanya orang yg kesepian dan gak tau harus apa bisa mengubah dirinya, untuk menyembunyikan dirinya yg asli.

    ReplyDelete