"kalau bagitu tidak ada masalah bila kau hendak mengalihkan kepemilikannya. Bila kau yakin benar itu yang kau mau."
Sambil mcrenung,
Jaejoong mengangguk. "Kapan festival musim gugur itu
diselenggarakan?"
"Minggu ketiga
bulan Oktober. Masih sebulan lagi." Yoochun meletakkan tangannya pada
pegangan pintu. "Mereka minta alamat Yunho. Aku yakin mereka ingin
mengundangnya juga."
Jaejoong mengalihkan
pandangan dari Yoochun. "Apakah kau bisa mengubah aktenya sebelum minggu
ketiga bulan Oktober?" Ketika ia kembali memandang Yoochun, pria itu
tersenyum padanya dengan penuh kasih.
"Kau tahu, andai
tidak terlibat dengan keluarga Jung, kurasa aku sudah jatuh cinta padamu."
.
♥
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho
Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
♥
.
Hei!
Jaejoong berhenti di
jalan setapak dan memandang ke balik kantong belanjaannya ke arah gadis muda
yang menyapanya dengan kasar. "Kau bicara denganku?"
"Bukankah kau
Nyonya Jung?"
"Ya." Gadis
muda itu tidak lebih dari dua belas tahun, tetapi matanya memakai perona mata
ungu mengilap dan eyeliner biru yang tebal sekali. Rambutnya yang hitam
dipotong pendek, disisir tegak di bagian atas kepala. Salah satu daun
telinganya ditindik tiga. Klip kertas yang berwarna-warni tergantung di setiap
lubang itu. Daun telinga yang satunya lagi memakai anting-anting berbentuk
bintang berukuran besar yang berkilat-kilat. Bibirnya dipoles lipstik warna
putih.
Pakaiannya tak kalah
ramai dengan riasan wajahnya. rok mini warna hijau dipadu dengan blus oranye,
kemeja putih dengan gambar bibir merah darah dan lidah menjulur. Jaejoong mengira
gadis itu pasti mengenakan pakaian untuk bermain drama. Orangtua macam apa yang
membiarkan gadis dengan pakaian seperti itu berkeliaran di jalan? Namun gadis
itu menarik perhatiannya. "Dari mana kau tahu namaku?"
"Aku kenal Tuan
jung, Jung yunho. Tetapi itu dulu. Namaku Junsu."
Jaejoong membelalak
karena terkejut. Ini rupanya putri Ahra, yang sangat disayangi Yunho sebelum
ibunya memaksa mereka berpisah. "Apa kabar, Junsu?"
"Baik, kurasa. Kau
yang menikah dengan ayah Yunho, bukan?"
"Dengan Siwon. Ia
meninggal beberapa bulan yang lalu."
"Tentu, aku tahu
itu. Semua orang tahu. Beberapa waktu yang lalu aku melihatmu dan Yunho di Lotte
Mart."
"Mengapa kau tak
menyapanya?"
Gadis itu mengangkat
bahu dengan sikap tidak sopan. "Tidak ingin saja. Mungkin ia juga nggak
ingat aku."
"Tidak ingat, bukan
nggak ingat."
"Heh?"
"Maafkan aku. Aku
mengoreksi bahasamu."
"Tak apa-apa. Ibuku
selalu melakukan hal itu, tetapi nggak... tidak, tampaknya tidak berhasil
juga."
Jaejoong tertawa. Tetapi
hatinya sedih ketika melihat teman-teman yang bersama Junsu. Ia bisa mengerti
pengaruh teman sebaya jauh lebih kuat daripada nasihat orangtua dalam hal ini.
Gadis-gadis yang bersama Junsu itu seperti baru keluar dari tempat
rehabilitasi.
Seketika Jaejoong merasa
malu sendiri, telah beropini berdasarkan penampilan saja. Ia menghakimi
gadis-gadis tersebut. Bagaimanapun, ketika salah satu gadis itu, yang tidak
lebih tua daripada Junsu, menyalakan rokok, ia tidak bisa menyembunyikan rasa
terkejutnya.
"Bagaimana kabar eommamu?"
Jaejoong ingat Ahra yang bertubuh kecil tapi seksi, berambut pirang yang
panjang, bermata kebiruan dan sinis.
"Ia sudah kawin
lagi. Suaminya bajingan. Lebih parah dari sebelumnya. Aku tidak suka tinggal
bersamanya." Kemudian, seperti baru sadar ia terlalu banyak bicara tentang
dirinya, ia menarik diri dan berkata, "Yah, aku harus pergi."
"Tunggu!"
Jaejoong terkejut sendiri ketika menyadari dirinya meneriakkan kata itu. Ketika
gadis tersebut meliriknya dari balik bulu mata yang dipoles maskara hitam
pekat, Jaejoong kehilangan kata-kata. Di balik riasan berlebihan itu Jaejoong
melihat pemberontakan, kecurigaan, dan kerapuhan. Sepertinya gadis kecil itu harus
hidup di balik topeng mengerikan dan ingin keluar dari sana. "Bagaimana
kalau kau menemuiku di rumah, Jung Mansion, sekali-sekali? Aku ingin mengenalmu
lebih jauh."
Junsu mencibir sambil
mendengus. "Tak usah pura-pura."
"Tidak, aku
sungguh-sungguh." Apa sebabnya Jaejoong memaksakan hal itu ia sendiri tak
mengerti. Gadis tersebut menyentuh hatinya dengan cara yang ia sendiri tidak
mengerti. Yunho pasti tidak suka melihat anak yang sangat dikasihinya kelihatan
seperti gadis kesepian. Andai bisa menolong, Jaejoong ingin menolongnya.
"Aku ingin menjadi sahabatmu."
Bola mata yang kebiruan
itu memancarkan sorot keraguan. "Waeyo?"
"Karena aku sering
mendengar cerita tentang dirimu dari Yunho."
"Oh ya? Apa yang ia
bilang?" Dagunya agak terangkat dengan sikap menantang. Namun Jaejoong
tahu gadis itu terkejut dan tertarik untuk mendengarnya.
"Ia bilang dulu kau
anak yang amat manis. Ia sangat menyayangimu dan tidak senang ketika harus
berpisah denganmu."
"Ia bukan ayah
kandungku."
"Arra. Tetapi ia
mengasihimu seperti anak kandungnya." Gadis kecil itu menggigit bibir dan
Jaejoong merasa sesaat jantungnya berhenti berdebar karena melihat gadis itu
seperti mau menangis. "Yunho akan datang ke sini beberapa minggu lagi
untuk menghadiri Festival musim gugur. Bagaimana kalau kau datang dan
menemuinya?"
Junsu mengangkat bahu.
"Mungkin. Aku sibuk."
"Oh, begitu. Aku
pikir Yunho akan gembira sekali bila bisa berjumpa denganmu. Ibumulah yang
mengacaukan semuanya."
Tanpa menjawab, Junsu
melirik ke arah teman-temannya di belakang, yang menantinya dengan tidak sabar.
"Maaf, aku harus pergi."
"Aku senang bisa
berkenalan denganmu, Junsu. Tolong pertimbangkan untuk menjengukku."
"Ya, baik."
Jaejoong memandang gadis
yang menyusuri trotoar itu. Anak yang malang. Namun perasaan Jaejoong lebih
ringan ketimbang minggu-minggu sebelumnya.
.
.
.
.
.
"Kau bangga pada
diriku, Kyuhyun?"
"Aku selalu bangga
padamu."
Sungmin dan suami yang
baru dinikahinya dua bulan yang lalu itu berbaring di ranjang berukuran besar
di ruangan yang dulunya kamar Siwon. Kamar, kamarnya hampir tidak bisa dikenali
lagi. Jaejoong mengubahnya sebagai hadiah pernikahan. Dindingnya sudah diganti
tetapi arsitekturnya tak diubah. Tirai jendelanya baru, handuk dan peralatan
kamar mandi, karpet yang terhampar di lantai, juga baru. Sofa panjang dan kursi
santai berikut meja untuk minum teh menggantikan meja kerja di ruang duduk.
Sungmin merapat pada
suaminya. Dengan santai jari-jarinya mengelus perut Kyuhyun. "Tetapi
maksudku kau benar-benar bangga karena aku sendiri yang membeli barang-barang
itu hari ini. Aku tidak salah menghitung uang kembaliannya, kan?"
Tangan Kyuhyun makin
rapat mendekap Sungmin. Setelah dua bulan tidur dengannya, ia hampir yakin
tidak akan pernah melepaskan pelukannya. "Kau melakukan segalanya dengan
sangat benar. Aku tahu kau mampu melakukannya."
Kyuhyun menemani Sungmin
ke toko makanan. Tetapi ketika ia meminta istrinya yang mengurus pembayarannya,
mata Sungmin memancarkan ketakutan. Namun Sungmin meneliti bon yang diberikan
pelayan kepadanya dan dengan hati-hati menghitung jumlah uang yang harus
dibayar, kemudian menunggu kembaliannya. Ketika mereka meninggalkan toko itu,
mata Sungmin berbinar-binar seperti anak kecil yang baru saja berhasil pada
konser piano pertamanya.
"Aku takut mencoba.
Aku ingat Yunho dulu sering mengajakku ke kota. Ia ingin mengajari aku
melakukan segalanya sendiri, tetapi aku selalu takut salah dan ia kecewa
padaku. Aku bahkan tidak ingin mencoba."
Kyuhyun mengubah posisi
kepalanya di bantal sehingga ia bisa melihat Sungmin. "Kau tidak takut
mengecewakan aku?" goda Kyuhyun dan istrinya menyembunyikan wajahnya di
lekuk bahu Kyuhyun.
"Sama sekali tidak.
Aku ingin menyenangkanmu lebih dari siapa pun. Karena itulah aku ingin
mencobanya, dan melakukannya sebaik mungkin. Aku tahu aku tidak sepintar orang
lain. Aku tidak ingin kau menyesal menikah denganku."
Kyuhyun berbaring
menyamping dan memeluk Sungmin. "Minnie," bisiknya di antara rambut
wanita itu. "Bagaimana mungkin aku menyesal menikah denganmu? Aku selalu
cinta padamu, apa pun yang kaulakukan, atau tidak kaulakukan. Kau tidak perlu
mengejar cintaku, Minnie, kau sudah mendapatkannya. Untuk selamanya."
"Kyu," bisik
Sungmin sambil mengelus dada suaminya. "Aku sangat mencintaimu."
Sambil duduk, Sungmin melepas gaun tidurnya lewat kepala dan melemparkannya ke
kaki ranjang.
Sikap Sungmin yang polos
itu membuat Kyuhyun makin menyayanginya. Ia seperti anak-anak jika menyangkut
soal ketelanjangan. Karena jiwanya masih polos, ia merasa tidak ada yang perlu
ditutupi pada tubuhnya. Seperti Hawa sebelum makan buah kuldi di taman Surga,
hatinya terbebas dari prasangka dan takut. Sikap spontan itu makin menyenangkan
suaminya, dan Kyuhyun malu mengingat bagaimana ia menikmati kepolosan sikap
Sungmin.
Sungmin mengajarkan
sesuatu pada Kyuhyun soal tubuhnya. Dulu Kyuhyun tak suka melihat kakinya,
semenjak ia kehilangan salah satunya. Ia benci kakinya. Yang mengejutkannya,
Sungmin justru menyayangi tubuhnya. Ia selalu mencari-cari alasan untuk
menyentuhnya. Tangan istrinya yang halus bak porselen itu terasa seperti
menyalurkan kekuatan yang menyembuhkan pada kaki kirinya. Sungmin menggetarkan
jiwanya dengan sikap ingin tahunya, dan membangkitkan gairahnya menuju puncak
hasrat yang belum pernah dirasakannya. Setiap belaiannya merupakan ungkapan
cinta yang tulus pada Kyuhyun. Selama hidupnya, belum pernah Kyuhyun
diperhatikan orang lain seperti itu.
Kini, sambil tersenyum
manis, Sungmin berbaring di samping Kyuhyun dan meletakkan tangannya yang kurus
di pinggang pria itu. Kyuhyun mempermainkan rambut Sungmin yang panjang dan
menciumnya. Tak lama kemudian mereka saling membelai. Kyuhyun mengelus punggung
Sungmin ketika wanita itu menindih tubuhnya. Sungmin meletakkan telapak
tangannya di pipi Kyuhyun dan berulang-ulang menciuminya. Lidahnya yang seperti
lidah anak kucing menggelitik telinga Kyuhyun, keterampilan baru yang didapat
Sungmin dari Kyuhyun.
Sungmin agak menurunkan
tubuhnya dan mencium leher dan dada Kyuhyun. Kyuhyun hampir terlompat dari
ranjang.
"Sungmin,"
desah Kyuhyun.
"Hmmm?" gumam
istrinya, tidak mau berhenti. "Ketika kau melakukan hal ini padaku,
rasanya nikmat. Apakah kau tidak merasa nikmat juga diperlakukan begini? Kalau
tidak nyaman, aku akan berhenti."
Tangan Kyuhyun mengelus
rambut Sungmin. "Jangan, jangan berhenti," jawab Kyuhyun tergagap.
"Jangan
sampai...." Kyuhyun membetulkan posisi tubuh istrinya di atas tubuhnya dan
dengan gerakan perlahan tapi menyenangkan Kyuhyun menyatukan tubuh mereka.
Sambil bertopang pada tangan,
Sungmin memajukan tubuhnya dan menyentuhkan salah satu payudaranya ke bibir
Kyuhyun. Kyuhyun menciuminya sampai kemerahan. Lidahnya beraksi. Wanita itu
mendesah.
Hasrat dalam tubuh
mereka menggelegak sampai akhirnya Kyuhyun memegangi pinggul Sungmin dan
bergerak. Sungmin membenamkan kepala Kyuhyun ke payudaranya yang kecil
sementara tubuh mereka sama-sama bergetar. Lama sesudah itu mereka tetap
berpelukan. Kemudian dengan lembut Sungmin mencium dahi suaminya dan berbaring
di sampingnya.
"Aku bahagia kau
mengajariku cara bercinta," kata Sungmin.
Kyuhyun tertawa.
"Begitu juga aku."
"Aku berharap
semoga semua orang di dunia ini sebahagia kita."
"Aku rasa tidak
mungkin. Tak ada orang yang sebahagia aku." Kyuhyun mendaratkan ciuman
mesra di bibir istrinya.
"Aku berharap
Jaejoong bisa bahagia. Sejak oppa pergi, ia kelihatan tidak pernah
gembira." Persepsi Sungmin yang seperti itu seharusnya mengejutkan
Kyuhyun, tapi ternyata tidak. Kyuhyun merasa kadang-kadang istrinya jauh lebih
peka daripada orang lain. "Apa kaupikir ia merindukan Yunho?"
"Ya, kurasa begitu,
Kyunnie."
"Nado." Sejenak
Sungmin terdiam dan Kyuhyun mengira wanita itu tertidur. Kemudian Sungmin
berkata, "Aku khawatir Jaejoong akan meninggal seperti Appa."
Kyuhyun memegang dagu
istrinya dan menaikkannya. "Apa maksudmu?"
"Jaejoong
sakit."
"Ia tidak sakit.
Dan ia tidak akan meninggal."
"Appa sering
mengelus perut ketika mengira tak ada yang melihat. Atau ia memejamkan mata
seperti merasa ada yang sakit di bagian tubuhnya."
"Apa hubungannya
dengan Jaejoong?"
"Ia melakukan hal
yang sama. Kemarin malam, ketika pulang dari pabrik, aku memerhatikannya dari
teras. Ia menggantung jaketnya dan menaiki dua anak rangga pertama. Kemudian ia
berhenti dan bersandar pada pegangan tangga. Ia memegang kepala lama sekali.
Kelihatannya ia seperti sesak napas. Aku baru ingin mendekati dan menolongnya
tetapi ia kembali tegak. Kelihatannya ia harus bersusah payah sampai ke
atas."
Terdorong perasaan
peduli atas apa yang dilihatnya, Sungmin membungkuk. "Kyunnie, Jaejoong
belum akan meninggal dunia, bukan?"
"Tidak, tidak,
pasti tidak," sahut Kyuhyun, meyakinkan Sungmin dan mengeluselus
rambutnya. "Ia mungkin hanya letih saja."
"Aku berharap
begitu. Aku tidak ingin ada yang meninggal lagi sampai aku meninggal. Terutama
kyunnie," kata Sungmin sambil mendekap Kyuhyun erat-erat. "Jangan
meninggalkan aku."
Kyuhyun balas mendekap
erat Sungmin. Ia merasakan napas istrinya yang lembut menyentuh kulitnya dan
tahu Sungmin tertidur. Ditutupinya tubuh wanita itu dengan selimut lalu
dipeluknya sekali lagi. Tetapi Kyuhyun tidak bisa tidur. Pikirannya menerawang
di kegelapan kamar, dahinya berkerut. Ia juga mengkhawatirkan Jaejoong. Apalagi
mengingat apa yang baru saja disampaikan Sungmin padanya, perasaannya jadi
makin khawatir.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

Wahh... jae knp ?? Enggak knp2 khan..?? Apa hamil??
ReplyDeleteMungkin Jae hamil? Mengingat betapa rajinnya Yunho~
ReplyDeleteAigooo Suie, saya juga paham pasti itu hanya topengmu saja, memang biasanya orang yg kesepian dan gak tau harus apa bisa mengubah dirinya, untuk menyembunyikan dirinya yg asli.