Air mata bercucuran dari mata Jaejoong ketika memeluk Yunho. Semua ketakutan, kecemasan beberapa jam lalu, tersalur lewat matanya. Yunho menarik handuk pembungkus rambut yang menutupi kepala Jaejoong dan melemparkannya ke lantai. Tangannya menyibakkan rambut Jaejoong yang basah dan ia membenamkannya wajah Jaejoong ke dadanya yang hangat. Yunho menunduk.
"Ada masalah yang belum kita selesaikan, masalah antara kau
dan aku, Jae.”
Jaejoong mengangkat wajahnya yang bercucuran air mata, menatap
Yunho. Sambil tersenyum ia berkata, "Ya, kita harus menyelesaikannya.
"Urusan itu sudah kedaluarsa," kata Yunho tenang,
membiarkan ibu jarinya menyeka air mata dari pipi Jaejoong.
"Sudah melewati batas waktu."
Yunho menjulurkan tangan ke belakang, menutup pintu.
.
♥
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho
Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
♥
.
Suara pintu ditutup
adalah satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu. Tak ada lampu yang
dinyalakan. Sinar matahari baru saja merangkak naik di ufuk timur, satu-satunya
cahaya alam, menyelinap menembus tirai tipis kamar. Wangi bunga magnolia yang
tumbuh di luar menerobos masuk.
Jaejoong memeluk Yunho,
bukan lagi pelukan gadis remaja, tetapi perempuan dewasa yang membutuhkan
Yunho, dan ingin memberikan seluruh dirinya kepada pria itu. Yunho merasa sekujur tubuhnya
panas. Sangat panas. Tubuhnya juga memancarkan gelombang energi seperti yang
dirasakan Jaejoong ketika pertama kali mengenal Yunho. Gelombang yang berdaya
isap, membuat Jaejoong hendak mendekat. Seperti yang dirasakannya saat ini.
Karena ingin gelombang energi itu menguasai dirinya, sebagaimana menguasai
Yunho, Jaejoong mendekap Yunho erat-erat, melingkarkan tangannya di pinggang
Yunho yang ramping. Bulu dada Yunho yang lebat menggelitik hidung Jaejoong. Di
dada yang bidang itu, Jaejoong tersenyum.
Yunho balas memeluk
Jaejoong. Ia memejamkan mata dengan bahagia. Tangannya mengelus punggung
Jaejoong yang ramping. Tangan itu kemudian menyelinap ke bawah, menyentuh
bokong Jaejoong yang penuh. Dipegangnya bokong itu dengan lembut, dielusnya,
kemudian diremasnya dengan penuh hasrat. Kejantanan Yunho bereaksi. Keduanya
merasakan hal itu. Desah napas mereka memburu, menggema.
"Jae, oh Jae,"
desah Yunho sambil menciumi rambut Jaejoong yang basah, lalu menjauhkan tubuh
wanita itu agar bisa menunduk dan mencium bibir Jaejoong yang membuka.
Bibir mereka saling
memagut. Lidah mereka saling menjilat. Jaejoong membiarkan Yunho mendominasinya,
membiarkan lidah Yunho menyelinap masuk ke mulutnya. Itu menunjukkan
kepemilikan Yunho, yang tak disesalinya. Lidah pria itu dengan penuh cinta
menjelajah, menjilat, berputar-putar di dalam mulut Jaejoong. Seluruh panca indra Jaejoong
tergetar. Getaran yang merayap masuk ke dalam tubuhnya dengan halus. Kemudian
mencapai puncaknya ketika Yunho menjulurkan lidah makin jauh ke dalam mulutnya,
berputar-putar makin cepat, sampai akhirnya ia merasakan tubuhnya seperti
melayang-layang.
Sekujur tubuh Jaejoong
bergetar. Rambut Yunho tersangkut di antara jemarinya, ketika ia membelai
bagian belakang kepala laki-laki tersebut. Harum sabun mandi Yunho, aroma
tubuhnya yang khas, memenuhi penciuman Jaejoong, memabukkannya. Ketika
menggigit-gigit kecil bibir Yunho, ia mengecap rasa mint pasta gigi yang
dipakai Yunho. Erangan lembut dan kata-kata mesra yang dibisikkan Yunho membuat
napas Jaejoong makin memburu dan percaya diri.
Jaejoong tahu, meskipun
tidak sampai bercinta dengan Yunho saat itu, ia merasakan dirinya seperti sudah
menyatu dengannya. Senantiasa menyatu, dan akan selalu menyatu. Takdir telah
menggaris-kan demikian. Sejak pertama kali mengenal Yunho dua belas tahun lalu,
jalan hidupnya sudah ditentukan.
Sambil mengangkat
kepala, Yunho meletakkan tangannya di pundak Jaejoong, menjauhkan diri dari
Jaejoong beberapa inci. Mata Jaejoong yang sayu tampak berbinar-binar saat
menatap mata Yunho yang juga sayu memabukkan. Perlahan-lahan Yunho membuka
ritsleting celana jinsnya dan menurunkannya. Dengan pandangan yang tetap lekat
pada tubuh Jaejoong, ia melemparkan celananya ke samping. Yunho berdiri
telanjang bulat di hadapan Jaejoong.
Mata Jaejoong beralih ke
tubuh Yunho. Andai ia pria, pasti ia akan iri hati melihat bentuk tubuh Yunho.
Tubuh yang tegap, ramping, lagi lentur. Bentuk dadanya bidang. Bulu ikal yang
tumbuh lebat di dadanya mengusik Jaejoong untuk mempermainkannya. Bulu-bulu
halus yang tumbuh di sekujur tubuhnya membentuk garis hitam seperti pita
pemisah di bagian perutnya, membentuk lingkaran di seputar pusar, dan lenyap di
kerimbunan yang tumbuh di sekeliling kejantanan Yunho.
Kejantanan yang kini
mengeras. Air kehidupan bagai mengaliri jantung Jaejoong ketika ia
mengamatinya. Sejenak ia memejamkan mata untuk melawan rasa pening yang
menyerangnya. Ia merasa seperti mau pingsan. Desakan yang menggebu menyerang
dirinya seperti mencekiknya. Itulah gelora hasrat yang murni, dipicu perasaan
cinta, sebagian alasan mengapa ia sangat mencintai Yunho.
"Kau tidak
apa-apa?"
Jaejoong membuka mata,
melihat Yunho tersenyum padanya. Jaejoong tertawa malu-malu, bak gadis remaja
"Ya, ya, Yunho, aku tidak apa-apa. Hanya saja kau begitu tampan, dan aku
begitu menginginkanmu."
Yunho mengecup bibir
Jaejoong dengan kelembutan yang tulus. "Terima kasih untuk pujianmu. Kita
lihat apa lagi yang bisa kita lakukan."
Yunho mencari-cari tali
pengikat mantel Jaejoong, menggamitnya dengan jari-jarinya. Ia menarik tali itu
dan membuka ikatannya. Dengan gerakan perlahan tetapi lembut, diselipkannya
tangannya ke balik kerah mantel mandi yang lebar itu lalu diturunkannya.
"Ya, ampun, betapa
cantiknya dirimu." Suara gumam Yunho tak terdengar lagi ketika ia melihat
payudara Jaejoong. Seakan tidak percaya pada penglihatannya bahwa ada payudara
sesempurna itu, cepat-cepat ia meloloskan mantel itu dari tubuh Jaejoong dan
membiarkan matanya memandangi tubuh Jaejoong yang kini tanpa sehelai benang pun
dengan kagum. Sorot matanya me-mancarkan gairah yang meluap-luap, dan seperti
hendak menelannya bulat-bulat.
Kemudian ujung jarinya,
perlahan, sangat perlahan, Jaejoong hampir tidak merasakan sentuhannya,
mengarah ke tempat yang sama de-ngan arah matanya. Menatap payudara Jaejoong
yang penuh, perut dan pinggulnya yang mulus. "Oh, Tuhan. Kau cantik
sekali. Begitu cantik dan menawan."
Jaejoong merasakan
ketulusan kata-kata Yunho yang menggetarkan tubuhnya saat pria itu menundukkan
wajah ke dekat payudaranya. Dengan penuh kekaguman Yunho menggenggam salah satu
dan memijatnya. Jaejoong mengangkat tangan dan meletakkannya di rambut Yunho.
Ia mencondongkan tubuh ke dekat Yunho, agak terhuyung-huyung.
Yunho mencium Jaejoong.
Dengan ibu jarinya, ia menelusuri puncak payudaranya. Yunho memandanginya,
tersenyum, kemudian mencondongkan badan dan menciuminya. Berulang-ulang.
"Yunho," ujar
Jaejoong, lirih memanggil namanya. Pria itu tidak memedulikannya.
Yunho terus beraksi
makin panas. Jaejoong menjerit, tersentak kaget, dan melengkungkan punggungnya
sehingga Yunho makin leluasa bergerak. Yunho merasakan pipinya panas ketika
makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Jaejoong. Yunho menciumi payudara Jaejoong
yang satu lagi, membuat Jaejoong mengerang, mendesah, dan menjambak rambutnya.
"Oh boo."
Yunho membenamkan wajahnya di antara payudara Jaejoong, sudah lama ia ingin
sekali melakukannya. Sambil merentangkan tangan di punggung Jaejoong, ia
menarik tubuh wanita itu serapat mungkin ke tubuhnya. Didekapnya erat-erat
beberapa saat, kemudian ditegakkannya tubuhnya. Dengan sorot mata penuh cinta
ia menatap wajah wanita tersebut. Ia mengangkat salah satu tangan Jaejoong,
mendekatkannya ke bibir, menciumnya, dan berkata, "Sentuh aku Jae."
Yunho menuntun tangan
Jaejoong ke bagian tubuhnya yang seakan memiliki nyawa sendiri itu. Ketika
Yunho menarik tangannya sendiri, tangan Jaejoong tinggal di bagian tubuhnya
ter-sebut. Dengan napas tercekat karena takut me-nyakiti, Jaejoong
menggenggamnya.
"Oh, Tuhan."
Sambil membisikkan nama Jaejoong dan kata-kata cinta, Yunho menggenggam tangan
kekasihnya itu dan menuntunnya melakukan hal yang memberikan kenikmatan padanya
sampai ia tak kuasa lagi menahan perasaan itu lebih lama. Napasnya yang memburu
menerpa telinga Jaejoong ketika ia mengerang, "Jae, boo... cukup,
hentikan."
Sambil memegang kedua
pipi Jaejoong, Yunho menciumi wanita itu dengan penuh gairah, lidahnya
bermain-main di dalam mulut Jaejoong. Tanpa menghentikan ciumannya, Yunho
merebahkan Jaejoong di ranjang, lalu menindihnya. Jaejoong siap menyambutnya,
dan Yunho menyusupkan pinggulnya di antara paha Jaejoong yang membuka. Perut
Yunho bergesekan dengan perut wanita itu, dadanya bergesekan dengan payudara
Jaejoong.
Yunho mendaratkan hujan
ciuman pada tenggorokan dan leher Jaejoong dengan penuh gairah. "Kalau
harus menunggu lebih lama...."
"Jangan tunggu
lagi," sahut Jaejoong, sambil melengkungkan tubuh ke arah Yunho.
Karena butuh waktu dua
belas tahun untuk mengalami hal seperti ini, Yunho tidak mau terburu-buru
mewujudkan keinginannya. Tangannya meluncur di atas payudara wanita itu.
Puncaknya menunggu belaian lembut jari-jarinya. Yunho menyingkirkan
jari-jarinya dan menggantinya dengan mulut, menciumi payudara Jaejoong sampai
wanita itu nyaris lupa diri.
Yunho menurunkan
tubuhnya. Tangannya membelai perut Jaejoong, terus ke bawah, terkagum-kagum
merasakan kehalusan kulitnya. Kemudian jari-jarinya tiba di delta yang putih
lembut itu dan menikmatinya. Diletakkannya telapak tangannya di situ dan
dibiarkannya jari-jarinya bergerak di antara kedua paha Jaejoong.
Yunho menjauh, memberi
jarak agar ia bisa mendekati bagian tubuh sensitif Jaejoong. Mereka saling
menatap, mengamati perasaan mendalam yang terpancar di wajah masing-masing
setiap kali kejantanan Yunho menyentuh bagian paling intim Jaejoong itu. Tak
kenal malu dan harga diri lagi, Jaejoong mengelus dada Yunho dan mencengkeram
bulu-bulu di dada itu.
"Yunho, lakukan
sekarang…"
Dengan sekujur tubuh
tegang, Yunho mengarahkan dirinya memasuki pelabuhan hangat di tubuh Jaejoong
dan menurunkan tubuhnya sendiri. Ia menekan, terus menekan, sampai akhirnya....
Tubuh Yunho kaku dan
matanya, mendadak terang, menatap tajam Jaejoong. Napas memburu membuat dadanya
bergerak naik-turun dengan cepat ketika ia menumpukan badannya pada siku.
"Jae."
Jaejoong melihat bibir Yunho menyebut namanya. Ia menyebutkannya dengan suara
yang hampir tak terdengar saking takjubnya. "Kau masih perawan…"
"Ya, ya!"
pekik Jaejoong gembira. Ia memegangi leher Yunho, mencegah pria itu mengangkat
tubuhnya. "Aku selalu milikmu, Yunho. Hanya kau. Aku milikmu."
Yunho terdiam sejenak,
tapi kemudian sambil menggeram senang, kembali ia memeluk Jaejoong dan
menindihnya di ranjang. Gerakan tubuhnya kali ini lembut tetapi mantap.
Pemanasan panjang tadi membuat Jaejoong siap menerimanya. Ketika tubuhnya
menyerah pada laki-laki itu, Jaejoong merasakan kesakitan sesaat. Jeritannya
dibungkam bibir Yunho. Keduanya mendesah se-rentak karena emosi luar biasa
ketika akhirnya Yunho menyatu seutuhnya dengannya.
Mereka melebur. Tubuh
Jaejoong mendekap-nya. Lama keduanya tak bergerak. Mereka menikmati perasaan
menyatu, keintiman dua anak manusia, meleburnya mereka karena cinta, hasrat,
dan penderitaan.
"Aku tak percaya.
Betapa nikmatnya. Oh, Jae, jangan sampai ini hanya sekadar mimpi."
"Ini bukan mimpi,
Yunho," bisik Jaejoong. "Aku bisa merasakan tubuhmu menyatu dengan
tubuhku."
Sambil mengangkat
kepala, Yunho tersenyum. Dikecupnya bibir Jaejoong. "Benarkah?" bisik
Yunho, dan memastikan Jaejoong bisa merasakannya.
Jaejoong menengadah
sambil menggeram pelan. "Ya Yun, oh bear."
Yunho mulai bergerak.
Karena ia memikirkan Jaejoong, gerakannya tak terlalu dalam dan pelan, tetapi
kenikmatannya tidak kurang, menarik Jaejoong ke dunia yang menghanyutkan.
"Apakah aku menyakitimu?"
"Ani bear, ani."
"Jae... boo.."
Yunho tak lagi mampu menahan
gairahnya yang terus meninggi. Ketika mencapai puncaknya, Yunho merasakan
kenik-matan paling dahsyat yang pernah dirasakannya selama hidupnya. Kenikmatan
itu terus membuncah bagai takkan berakhir. Dan ketika akhirnya kenikmatan itu
berlalu, Yunho terkulai di pelukan cinta Jaejoong dalam keadaan lelah, puas,
dan bahagia.
.
.
.
.
.
"Lama sekali Yunho
dan Jaejoong turun," keluh Sungmin. Ia khawatir sarapan yang disiapkannya
bersama Boa menjadi dingin dan tak bisa dinikmati Kyuhyun lagi.
"Kalian sarapan
saja dulu," saran Boa.
"Aku tak keberatan
menunggu mereka," jawab Kyuhyun.
"Jangan, kau sudah
kelaparan. Aku tahu kau sudah lapar." Sungmin menuangkan sesendok telur
orak-arik ke piring Kyuhyun. "Berapa lembar ham yang kau mau?"
"Dua," jawab
Kyuhyun.
"Tiga saja,"
ujar Sungmin.
Boa meletakkan teko kopi
di meja. "Aku akan naik, menyuruh mereka segera turun. Aku yakin mereka
tertidur. Tetapi mereka perlu makan setelah begadang semalaman." Boa naik
sambil mengoceh, tetapi Kyuhyun dan
Sungmin tidak memedulikannya. Mereka asyik sendiri.
.
.
Dari anak tangga paling
atas, Boa melirik pintu kamar Yunho dengan perasaan ingin tahu. Pintu itu
terbuka, tetapi ketika ia melongokkan kepala ke dalam, ia tidak melihat Yunho
di sana. Begitu pun di kamar mandi, tidak ada. Paling tidak, ia tidak menjawab
ketika Boa memanggilnya perlahan.
"Hmmm!" Boa
mendengus, sambil memukulkan tangan ke paha. "Di mana kau berada...?' Boa
melirik kamar tidur Jaejoong. Pintunya tertutup rapat.
Boa menyipitkan mata.
"Tadi aku menyuruh Yunho naik membawa baki untuk Jaejoong. Sekarang, baki
itu tidak ada, ia pun lenyap. Pintu kamar Jaejoong tertutup, aku yakin mereka
berduaan."
Boa berbalik ke arah
tangga lagi. "Hmmm, jelas aku tak mau tahu apa yang mereka lakukan di
dalam sana, tetapi aku tidak mendengar mereka bercakap-cakap."
.
.
Ketika sampai di anak
tangga paling bawah, Boa mendongakkan kepala menatap ke atas, mengangguk
gembira. "Memang lebih pantas ia dengan Yunho daripada menikah dengan
ayahnya, si bandot tua itu," gumam Boa sambil melangkah balik ke dapur.
"Mereka akan
turun?" tanya Sungmin.
"Tidak. Sebentar
lagi barangkali." Boa berbalik, hendak mencuci piring.
"Mengapa tidak
sekarang?"
"Mereka lagi tidur,
itulah sebabnya."
"Tetapi mereka kan
harus mengisi perut dulu. Kau yang bilang begitu. Biar aku yang membangunkan
mereka dan menyuruh mereka...."
"Kau duduk
saja," perintah Boa, membalikkan tubuh dari bak cucian dan membersihkan
air sabun dari jarinya. "Mereka sangat letih. Sudahlah, kau urus saja
urusanmu sendiri, urus pria kelaparan yang duduk bersamamu itu."
Tersinggung mendengar
suara Boa yang tegas, Sungmin perlahan kembali ke tempat duduknya. Kyuhyun
menangkap sorot mata Boa tapi tidak memahaminya. Sekilas Kyuhyun melempar
pandang ke langit-langit. Boa memerhatikan Kyuhyun ketika perlahan-lahan pria
itu memahami situasi yang terjadi.
Mata Kyuhyun berbinar
jail. "Sungmin, bagaimana kalau sesudah sarapan kau ikut aku ke kandang
kuda? Sudah beberapa hari kau tidak menengok anak kudanya."
Sungmin memandang
Kyuhyun, kegembiraannya kembali. "Tetapi kurasa kau butuh tidur pagi lni.
"Tidak," jawab
Kyuhyun santai. "Aku tidak letih. Bila Boa mengizinkan, aku ingin kau
bersamaku sepagian ini, membantuku."
"Oh, Kyu,"
ujar Sungmin, sambil mengepalkan tangan. "Aku mau."
Boa bertukar pandang
dengan Kyuhyun, dan Kyuhyun mengedipkan mata.
.
.
.
.
"Mengapa kau tidak
berterus terang padaku?" tanya Yunho sambil menjumput rambut Jaejoong dan
mengusapkannya di bibir. Yunho berbaring telentang. Jaejoong menelungkup,
bersandar di tubuh Yunho.
Jaejoong menarik
beberapa helai rambut di dada Yunho dan mempermainkannya dengan jari-jarinya.
"Karena aku ingin tahu seberapa dalam cintamu padaku. Bila aku
memberitahumu appamu dan aku tak pernah berhubungan intim, kau akan
percaya?"
"Bisa saja. Aku
bisa tahu cukup cepat."
Jaejoong menggeleng.
"Aku tidak ingin hubungan intim pertama kita hanya sekadar ujian."
Mata Yunho menatap wajah
Jaejoong dengan penuh kasih sayang. "Aku paham maksudmu. Tetapi bagaimana
bila aku memercayaimu dengan seluruh jiwa ragaku?"
"Kalau begitu tak
ada yang merintangimu mendatangiku, Yunho." Jaejoong menyentuh dada Yunho
dan melihatnya bereaksi. "Tetapi aku tidak akan pernah tahu seberapa dalam
cintamu padaku. Karena kau yang datang padaku, meskipun yakin aku sudah ternoda
tetapi kau tetap mencintaiku, aku tahu kau bersedia mengorbankan keangkuhanmu
demi cintamu."
Sambil menarik tubuh
Jaejoong, Yunho menciuminya. Ketika akhirnya menghentikan ciumannya, ia berkata,
"Aku bukan hendak mendiskusikan masalah ini sekarang, tetapi mengapa kau
tidak pernah tidur dengan Siwon? Jangan bilang ia begitu baik sehingga
membiarkanmu tetap perawan."
"Tidak, aku tidak
ingin meyakinkanmu soal itu. Kurasa, ia ingin melakukannya pada malam pengantin
kami." Jaejoong memejamkan mata dan tubuhnya gemetar.
"Ia masuk ke kamar
ini. Waktu itu aku tidak tahu bagaimana menjalaninya, karena aku masih
mencintaimu." Jaejoong meletakkan tangan Yunho ke pipinya, seperti orang
linglung ia menggosok-gosokkan punggung jari-jari Yunho ke pipinya.
"Tetapi aku telah membuat kesepakatan dan berniat menjalaninya."
Jaejoong terdiam. Yunho
menatap langit-langit, tidak ingin sedikit pun membayangkan Jaejoong berada di
tempat yang sama, menghirup udara yang sama dengan bandit tua itu. "Apa
yang terjadi kemudian, Jae?"
"Ia menciumku
beberapa kali. Hanya itu. Kemudian ia meninggalkan aku tanpa sepatah kata pun.
Aku bingung. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Baru beberapa hari kemudian
aku tahu, waktu itu ia sedang sakit. Aku melihat hal-hal yang tak mungkin dapat
kulihat sehari hari bila tidak tinggal bersamanya. Ia menelan sejumlah obat
sakit perut, obat-obat seperti itulah.
"Aku sadar ketika ia tidak datang ke
kamarku lagi, ia rupanya impoten….
.
.
.
.
.
.
To Be
Continue

sexy hotta!!!
ReplyDeletenom nom nom..
jae trnyata msh perawan ting ting hehe
thanks for siwon yg impoten ㅋㅋㅋ
Hahahaha.. pantesan siwon cemburu berap pd yunho.. tak mampu eohhh
ReplyDeleteakhirnya jebol juga, haha
ReplyDeletesyukur deh :)
akhirnya jebol juga, haha
ReplyDeletesyukur deh :)
Anggap aja ini hadiah dari siwon secara gak langsung, bisakah? Im apa tadi , aigooo bersyukur deh.
ReplyDeleteTapi waktu Yun bilang Jae perawan, di kira cuma buat nyenengi hati masing-masing, ternyata beneran , lol~
Yunho orang pertama yg mencium Jae, sekarang Yun orang pertama yg ... ah sudahlan >//////<
Yunho pertama dan yg terakhir untuk Jaejoong, begitu pun sebaliknya
Yah walau bukan suami pertama tapi akan menjadi suami terakhirnya dooong~