Friday, February 21

[Remake] Bittersweet Rain Chapter 23


Air mata bercucuran dari mata Jaejoong ketika memeluk Yunho. Semua ketakutan, kecemasan beberapa jam lalu, tersalur lewat matanya. Yunho menarik handuk pembungkus rambut yang menutupi kepala Jaejoong dan melemparkannya ke lantai. Tangannya menyibakkan rambut Jaejoong yang basah dan ia membenamkannya wajah Jaejoong ke dadanya yang hangat. Yunho menunduk.
"Ada masalah yang belum kita selesaikan, masalah antara kau dan aku, Jae.”
Jaejoong mengangkat wajahnya yang bercucuran air mata, menatap Yunho. Sambil tersenyum ia berkata, "Ya, kita harus menyelesaikannya.
"Urusan itu sudah kedaluarsa," kata Yunho tenang, membiarkan ibu jarinya menyeka air mata dari pipi Jaejoong.
"Sudah melewati batas waktu."
Yunho menjulurkan tangan ke belakang, menutup pintu.

.
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
.
Suara pintu ditutup adalah satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu. Tak ada lampu yang dinyalakan. Sinar matahari baru saja merangkak naik di ufuk timur, satu-satunya cahaya alam, menyelinap menembus tirai tipis kamar. Wangi bunga magnolia yang tumbuh di luar menerobos masuk.
Jaejoong memeluk Yunho, bukan lagi pelukan gadis remaja, tetapi perempuan dewasa yang membutuhkan Yunho, dan ingin memberikan seluruh dirinya kepada pria itu. Yunho merasa sekujur tubuhnya panas. Sangat panas. Tubuhnya juga memancarkan gelombang energi seperti yang dirasakan Jaejoong ketika pertama kali mengenal Yunho. Gelombang yang berdaya isap, membuat Jaejoong hendak mendekat. Seperti yang dirasakannya saat ini. Karena ingin gelombang energi itu menguasai dirinya, sebagaimana menguasai Yunho, Jaejoong mendekap Yunho erat-erat, melingkarkan tangannya di pinggang Yunho yang ramping. Bulu dada Yunho yang lebat menggelitik hidung Jaejoong. Di dada yang bidang itu, Jaejoong tersenyum.
Yunho balas memeluk Jaejoong. Ia memejamkan mata dengan bahagia. Tangannya mengelus punggung Jaejoong yang ramping. Tangan itu kemudian menyelinap ke bawah, menyentuh bokong Jaejoong yang penuh. Dipegangnya bokong itu dengan lembut, dielusnya, kemudian diremasnya dengan penuh hasrat. Kejantanan Yunho bereaksi. Keduanya merasakan hal itu. Desah napas mereka memburu, menggema.
"Jae, oh Jae," desah Yunho sambil menciumi rambut Jaejoong yang basah, lalu menjauhkan tubuh wanita itu agar bisa menunduk dan mencium bibir Jaejoong yang membuka.
Bibir mereka saling memagut. Lidah mereka saling menjilat. Jaejoong membiarkan Yunho mendominasinya, membiarkan lidah Yunho menyelinap masuk ke mulutnya. Itu menunjukkan kepemilikan Yunho, yang tak disesalinya. Lidah pria itu dengan penuh cinta menjelajah, menjilat, berputar-putar di dalam mulut Jaejoong. Seluruh panca indra Jaejoong tergetar. Getaran yang merayap masuk ke dalam tubuhnya dengan halus. Kemudian mencapai puncaknya ketika Yunho menjulurkan lidah makin jauh ke dalam mulutnya, berputar-putar makin cepat, sampai akhirnya ia merasakan tubuhnya seperti melayang-layang.
Sekujur tubuh Jaejoong bergetar. Rambut Yunho tersangkut di antara jemarinya, ketika ia membelai bagian belakang kepala laki-laki tersebut. Harum sabun mandi Yunho, aroma tubuhnya yang khas, memenuhi penciuman Jaejoong, memabukkannya. Ketika menggigit-gigit kecil bibir Yunho, ia mengecap rasa mint pasta gigi yang dipakai Yunho. Erangan lembut dan kata-kata mesra yang dibisikkan Yunho membuat napas Jaejoong makin memburu dan percaya diri.
Jaejoong tahu, meskipun tidak sampai bercinta dengan Yunho saat itu, ia merasakan dirinya seperti sudah menyatu dengannya. Senantiasa menyatu, dan akan selalu menyatu. Takdir telah menggaris-kan demikian. Sejak pertama kali mengenal Yunho dua belas tahun lalu, jalan hidupnya sudah ditentukan.
Sambil mengangkat kepala, Yunho meletakkan tangannya di pundak Jaejoong, menjauhkan diri dari Jaejoong beberapa inci. Mata Jaejoong yang sayu tampak berbinar-binar saat menatap mata Yunho yang juga sayu memabukkan. Perlahan-lahan Yunho membuka ritsleting celana jinsnya dan menurunkannya. Dengan pandangan yang tetap lekat pada tubuh Jaejoong, ia melemparkan celananya ke samping. Yunho berdiri telanjang bulat di hadapan Jaejoong.
Mata Jaejoong beralih ke tubuh Yunho. Andai ia pria, pasti ia akan iri hati melihat bentuk tubuh Yunho. Tubuh yang tegap, ramping, lagi lentur. Bentuk dadanya bidang. Bulu ikal yang tumbuh lebat di dadanya mengusik Jaejoong untuk mempermainkannya. Bulu-bulu halus yang tumbuh di sekujur tubuhnya membentuk garis hitam seperti pita pemisah di bagian perutnya, membentuk lingkaran di seputar pusar, dan lenyap di kerimbunan yang tumbuh di sekeliling kejantanan Yunho.
Kejantanan yang kini mengeras. Air kehidupan bagai mengaliri jantung Jaejoong ketika ia mengamatinya. Sejenak ia memejamkan mata untuk melawan rasa pening yang menyerangnya. Ia merasa seperti mau pingsan. Desakan yang menggebu menyerang dirinya seperti mencekiknya. Itulah gelora hasrat yang murni, dipicu perasaan cinta, sebagian alasan mengapa ia sangat mencintai Yunho.
"Kau tidak apa-apa?"
Jaejoong membuka mata, melihat Yunho tersenyum padanya. Jaejoong tertawa malu-malu, bak gadis remaja "Ya, ya, Yunho, aku tidak apa-apa. Hanya saja kau begitu tampan, dan aku begitu menginginkanmu."
Yunho mengecup bibir Jaejoong dengan kelembutan yang tulus. "Terima kasih untuk pujianmu. Kita lihat apa lagi yang bisa kita lakukan."
Yunho mencari-cari tali pengikat mantel Jaejoong, menggamitnya dengan jari-jarinya. Ia menarik tali itu dan membuka ikatannya. Dengan gerakan perlahan tetapi lembut, diselipkannya tangannya ke balik kerah mantel mandi yang lebar itu lalu diturunkannya.
"Ya, ampun, betapa cantiknya dirimu." Suara gumam Yunho tak terdengar lagi ketika ia melihat payudara Jaejoong. Seakan tidak percaya pada penglihatannya bahwa ada payudara sesempurna itu, cepat-cepat ia meloloskan mantel itu dari tubuh Jaejoong dan membiarkan matanya memandangi tubuh Jaejoong yang kini tanpa sehelai benang pun dengan kagum. Sorot matanya me-mancarkan gairah yang meluap-luap, dan seperti hendak menelannya bulat-bulat.
Kemudian ujung jarinya, perlahan, sangat perlahan, Jaejoong hampir tidak merasakan sentuhannya, mengarah ke tempat yang sama de-ngan arah matanya. Menatap payudara Jaejoong yang penuh, perut dan pinggulnya yang mulus. "Oh, Tuhan. Kau cantik sekali. Begitu cantik dan menawan."
Jaejoong merasakan ketulusan kata-kata Yunho yang menggetarkan tubuhnya saat pria itu menundukkan wajah ke dekat payudaranya. Dengan penuh kekaguman Yunho menggenggam salah satu dan memijatnya. Jaejoong mengangkat tangan dan meletakkannya di rambut Yunho. Ia mencondongkan tubuh ke dekat Yunho, agak terhuyung-huyung.
Yunho mencium Jaejoong. Dengan ibu jarinya, ia menelusuri puncak payudaranya. Yunho memandanginya, tersenyum, kemudian mencondongkan badan dan menciuminya. Berulang-ulang.
"Yunho," ujar Jaejoong, lirih memanggil namanya. Pria itu tidak memedulikannya.
Yunho terus beraksi makin panas. Jaejoong menjerit, tersentak kaget, dan melengkungkan punggungnya sehingga Yunho makin leluasa bergerak. Yunho merasakan pipinya panas ketika makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Jaejoong. Yunho menciumi payudara Jaejoong yang satu lagi, membuat Jaejoong mengerang, mendesah, dan menjambak rambutnya.
"Oh boo." Yunho membenamkan wajahnya di antara payudara Jaejoong, sudah lama ia ingin sekali melakukannya. Sambil merentangkan tangan di punggung Jaejoong, ia menarik tubuh wanita itu serapat mungkin ke tubuhnya. Didekapnya erat-erat beberapa saat, kemudian ditegakkannya tubuhnya. Dengan sorot mata penuh cinta ia menatap wajah wanita tersebut. Ia mengangkat salah satu tangan Jaejoong, mendekatkannya ke bibir, menciumnya, dan berkata, "Sentuh aku Jae."
Yunho menuntun tangan Jaejoong ke bagian tubuhnya yang seakan memiliki nyawa sendiri itu. Ketika Yunho menarik tangannya sendiri, tangan Jaejoong tinggal di bagian tubuhnya ter-sebut. Dengan napas tercekat karena takut me-nyakiti, Jaejoong menggenggamnya.
"Oh, Tuhan." Sambil membisikkan nama Jaejoong dan kata-kata cinta, Yunho menggenggam tangan kekasihnya itu dan menuntunnya melakukan hal yang memberikan kenikmatan padanya sampai ia tak kuasa lagi menahan perasaan itu lebih lama. Napasnya yang memburu menerpa telinga Jaejoong ketika ia mengerang, "Jae, boo... cukup, hentikan."
Sambil memegang kedua pipi Jaejoong, Yunho menciumi wanita itu dengan penuh gairah, lidahnya bermain-main di dalam mulut Jaejoong. Tanpa menghentikan ciumannya, Yunho merebahkan Jaejoong di ranjang, lalu menindihnya. Jaejoong siap menyambutnya, dan Yunho menyusupkan pinggulnya di antara paha Jaejoong yang membuka. Perut Yunho bergesekan dengan perut wanita itu, dadanya bergesekan dengan payudara Jaejoong.
Yunho mendaratkan hujan ciuman pada tenggorokan dan leher Jaejoong dengan penuh gairah. "Kalau harus menunggu lebih lama...."
"Jangan tunggu lagi," sahut Jaejoong, sambil melengkungkan tubuh ke arah Yunho.
Karena butuh waktu dua belas tahun untuk mengalami hal seperti ini, Yunho tidak mau terburu-buru mewujudkan keinginannya. Tangannya meluncur di atas payudara wanita itu. Puncaknya menunggu belaian lembut jari-jarinya. Yunho menyingkirkan jari-jarinya dan menggantinya dengan mulut, menciumi payudara Jaejoong sampai wanita itu nyaris lupa diri.
Yunho menurunkan tubuhnya. Tangannya membelai perut Jaejoong, terus ke bawah, terkagum-kagum merasakan kehalusan kulitnya. Kemudian jari-jarinya tiba di delta yang putih lembut itu dan menikmatinya. Diletakkannya telapak tangannya di situ dan dibiarkannya jari-jarinya bergerak di antara kedua paha Jaejoong.
Yunho menjauh, memberi jarak agar ia bisa mendekati bagian tubuh sensitif Jaejoong. Mereka saling menatap, mengamati perasaan mendalam yang terpancar di wajah masing-masing setiap kali kejantanan Yunho menyentuh bagian paling intim Jaejoong itu. Tak kenal malu dan harga diri lagi, Jaejoong mengelus dada Yunho dan mencengkeram bulu-bulu di dada itu.
"Yunho, lakukan sekarang…"
Dengan sekujur tubuh tegang, Yunho mengarahkan dirinya memasuki pelabuhan hangat di tubuh Jaejoong dan menurunkan tubuhnya sendiri. Ia menekan, terus menekan, sampai akhirnya....
Tubuh Yunho kaku dan matanya, mendadak terang, menatap tajam Jaejoong. Napas memburu membuat dadanya bergerak naik-turun dengan cepat ketika ia menumpukan badannya pada siku.
"Jae." Jaejoong melihat bibir Yunho menyebut namanya. Ia menyebutkannya dengan suara yang hampir tak terdengar saking takjubnya. "Kau masih perawan…"
"Ya, ya!" pekik Jaejoong gembira. Ia memegangi leher Yunho, mencegah pria itu mengangkat tubuhnya. "Aku selalu milikmu, Yunho. Hanya kau. Aku milikmu."
Yunho terdiam sejenak, tapi kemudian sambil menggeram senang, kembali ia memeluk Jaejoong dan menindihnya di ranjang. Gerakan tubuhnya kali ini lembut tetapi mantap. Pemanasan panjang tadi membuat Jaejoong siap menerimanya. Ketika tubuhnya menyerah pada laki-laki itu, Jaejoong merasakan kesakitan sesaat. Jeritannya dibungkam bibir Yunho. Keduanya mendesah se-rentak karena emosi luar biasa ketika akhirnya Yunho menyatu seutuhnya dengannya.
Mereka melebur. Tubuh Jaejoong mendekap-nya. Lama keduanya tak bergerak. Mereka menikmati perasaan menyatu, keintiman dua anak manusia, meleburnya mereka karena cinta, hasrat, dan penderitaan.
"Aku tak percaya. Betapa nikmatnya. Oh, Jae, jangan sampai ini hanya sekadar mimpi."
"Ini bukan mimpi, Yunho," bisik Jaejoong. "Aku bisa merasakan tubuhmu menyatu dengan tubuhku."
Sambil mengangkat kepala, Yunho tersenyum. Dikecupnya bibir Jaejoong. "Benarkah?" bisik Yunho, dan memastikan Jaejoong bisa merasakannya.
Jaejoong menengadah sambil menggeram pelan. "Ya Yun, oh bear."
Yunho mulai bergerak. Karena ia memikirkan Jaejoong, gerakannya tak terlalu dalam dan pelan, tetapi kenikmatannya tidak kurang, menarik Jaejoong ke dunia yang menghanyutkan. "Apakah aku menyakitimu?"
"Ani bear, ani."
"Jae... boo.."
Yunho tak lagi mampu menahan gairahnya yang terus meninggi. Ketika mencapai puncaknya, Yunho merasakan kenik-matan paling dahsyat yang pernah dirasakannya selama hidupnya. Kenikmatan itu terus membuncah bagai takkan berakhir. Dan ketika akhirnya kenikmatan itu berlalu, Yunho terkulai di pelukan cinta Jaejoong dalam keadaan lelah, puas, dan bahagia.
.
.
.
.
.
"Lama sekali Yunho dan Jaejoong turun," keluh Sungmin. Ia khawatir sarapan yang disiapkannya bersama Boa menjadi dingin dan tak bisa dinikmati Kyuhyun lagi.
"Kalian sarapan saja dulu," saran Boa.
"Aku tak keberatan menunggu mereka," jawab Kyuhyun.
"Jangan, kau sudah kelaparan. Aku tahu kau sudah lapar." Sungmin menuangkan sesendok telur orak-arik ke piring Kyuhyun. "Berapa lembar ham yang kau mau?"
"Dua," jawab Kyuhyun.
"Tiga saja," ujar Sungmin.
Boa meletakkan teko kopi di meja. "Aku akan naik, menyuruh mereka segera turun. Aku yakin mereka tertidur. Tetapi mereka perlu makan setelah begadang semalaman." Boa naik sambil mengoceh,  tetapi Kyuhyun dan Sungmin tidak memedulikannya. Mereka asyik sendiri.
.
.
Dari anak tangga paling atas, Boa melirik pintu kamar Yunho dengan perasaan ingin tahu. Pintu itu terbuka, tetapi ketika ia melongokkan kepala ke dalam, ia tidak melihat Yunho di sana. Begitu pun di kamar mandi, tidak ada. Paling tidak, ia tidak menjawab ketika Boa memanggilnya perlahan.
"Hmmm!" Boa mendengus, sambil memukulkan tangan ke paha. "Di mana kau berada...?' Boa melirik kamar tidur Jaejoong. Pintunya tertutup rapat.
Boa menyipitkan mata. "Tadi aku menyuruh Yunho naik membawa baki untuk Jaejoong. Sekarang, baki itu tidak ada, ia pun lenyap. Pintu kamar Jaejoong tertutup, aku yakin mereka berduaan."
Boa berbalik ke arah tangga lagi. "Hmmm, jelas aku tak mau tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana, tetapi aku tidak mendengar mereka bercakap-cakap."
.
.
Ketika sampai di anak tangga paling bawah, Boa mendongakkan kepala menatap ke atas, mengangguk gembira. "Memang lebih pantas ia dengan Yunho daripada menikah dengan ayahnya, si bandot tua itu," gumam Boa sambil melangkah balik ke dapur.
"Mereka akan turun?" tanya Sungmin.
"Tidak. Sebentar lagi barangkali." Boa berbalik, hendak mencuci piring.
"Mengapa tidak sekarang?"
"Mereka lagi tidur, itulah sebabnya."
"Tetapi mereka kan harus mengisi perut dulu. Kau yang bilang begitu. Biar aku yang membangunkan mereka dan menyuruh mereka...."
"Kau duduk saja," perintah Boa, membalikkan tubuh dari bak cucian dan membersihkan air sabun dari jarinya. "Mereka sangat letih. Sudahlah, kau urus saja urusanmu sendiri, urus pria kelaparan yang duduk bersamamu itu."
Tersinggung mendengar suara Boa yang tegas, Sungmin perlahan kembali ke tempat duduknya. Kyuhyun menangkap sorot mata Boa tapi tidak memahaminya. Sekilas Kyuhyun melempar pandang ke langit-langit. Boa memerhatikan Kyuhyun ketika perlahan-lahan pria itu memahami situasi yang terjadi.
Mata Kyuhyun berbinar jail. "Sungmin, bagaimana kalau sesudah sarapan kau ikut aku ke kandang kuda? Sudah beberapa hari kau tidak menengok anak kudanya."
Sungmin memandang Kyuhyun, kegembiraannya kembali. "Tetapi kurasa kau butuh tidur pagi lni.
"Tidak," jawab Kyuhyun santai. "Aku tidak letih. Bila Boa mengizinkan, aku ingin kau bersamaku sepagian ini, membantuku."
"Oh, Kyu," ujar Sungmin, sambil mengepalkan tangan. "Aku mau."
Boa bertukar pandang dengan Kyuhyun, dan Kyuhyun mengedipkan mata.
.
.
.
.
"Mengapa kau tidak berterus terang padaku?" tanya Yunho sambil menjumput rambut Jaejoong dan mengusapkannya di bibir. Yunho berbaring telentang. Jaejoong menelungkup, bersandar di tubuh Yunho.
Jaejoong menarik beberapa helai rambut di dada Yunho dan mempermainkannya dengan jari-jarinya. "Karena aku ingin tahu seberapa dalam cintamu padaku. Bila aku memberitahumu appamu dan aku tak pernah berhubungan intim, kau akan percaya?"
"Bisa saja. Aku bisa tahu cukup cepat."
Jaejoong menggeleng. "Aku tidak ingin hubungan intim pertama kita hanya sekadar ujian."
Mata Yunho menatap wajah Jaejoong dengan penuh kasih sayang. "Aku paham maksudmu. Tetapi bagaimana bila aku memercayaimu dengan seluruh jiwa ragaku?"
"Kalau begitu tak ada yang merintangimu mendatangiku, Yunho." Jaejoong menyentuh dada Yunho dan melihatnya bereaksi. "Tetapi aku tidak akan pernah tahu seberapa dalam cintamu padaku. Karena kau yang datang padaku, meskipun yakin aku sudah ternoda tetapi kau tetap mencintaiku, aku tahu kau bersedia mengorbankan keangkuhanmu demi cintamu."
Sambil menarik tubuh Jaejoong, Yunho menciuminya. Ketika akhirnya menghentikan ciumannya, ia berkata, "Aku bukan hendak mendiskusikan masalah ini sekarang, tetapi mengapa kau tidak pernah tidur dengan Siwon? Jangan bilang ia begitu baik sehingga membiarkanmu tetap perawan."
"Tidak, aku tidak ingin meyakinkanmu soal itu. Kurasa, ia ingin melakukannya pada malam pengantin kami." Jaejoong memejamkan mata dan tubuhnya gemetar.
"Ia masuk ke kamar ini. Waktu itu aku tidak tahu bagaimana menjalaninya, karena aku masih mencintaimu." Jaejoong meletakkan tangan Yunho ke pipinya, seperti orang linglung ia menggosok-gosokkan punggung jari-jari Yunho ke pipinya. "Tetapi aku telah membuat kesepakatan dan berniat menjalaninya."
Jaejoong terdiam. Yunho menatap langit-langit, tidak ingin sedikit pun membayangkan Jaejoong berada di tempat yang sama, menghirup udara yang sama dengan bandit tua itu. "Apa yang terjadi kemudian, Jae?"
"Ia menciumku beberapa kali. Hanya itu. Kemudian ia meninggalkan aku tanpa sepatah kata pun. Aku bingung. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Baru beberapa hari kemudian aku tahu, waktu itu ia sedang sakit. Aku melihat hal-hal yang tak mungkin dapat kulihat sehari hari bila tidak tinggal bersamanya. Ia menelan sejumlah obat sakit perut, obat-obat seperti itulah.
"Aku sadar ketika ia tidak datang ke kamarku lagi, ia rupanya impoten….
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

5 comments:

  1. sexy hotta!!!
    nom nom nom..
    jae trnyata msh perawan ting ting hehe
    thanks for siwon yg impoten ㅋㅋㅋ

    ReplyDelete
  2. Anonymous6:27 PM

    Hahahaha.. pantesan siwon cemburu berap pd yunho.. tak mampu eohhh

    ReplyDelete
  3. akhirnya jebol juga, haha
    syukur deh :)

    ReplyDelete
  4. akhirnya jebol juga, haha
    syukur deh :)

    ReplyDelete
  5. Anggap aja ini hadiah dari siwon secara gak langsung, bisakah? Im apa tadi , aigooo bersyukur deh.

    Tapi waktu Yun bilang Jae perawan, di kira cuma buat nyenengi hati masing-masing, ternyata beneran , lol~

    Yunho orang pertama yg mencium Jae, sekarang Yun orang pertama yg ... ah sudahlan >//////<
    Yunho pertama dan yg terakhir untuk Jaejoong, begitu pun sebaliknya
    Yah walau bukan suami pertama tapi akan menjadi suami terakhirnya dooong~

    ReplyDelete