Thursday, February 20

[Remake] Bittersweet Rain Chapter 21


Jaejoong menyeka air mata di pipinya. "Kau mengerti mengapa aku tidak bisa bersamamu, Yunho? Apa yang mereka katakan benar. Aku sangat menginginkanmu. Namun, seperti kau tidak bisa melupakannya, begitu juga mereka. Aku ini istri Siwon."
Yunho berbalik, membelakangi Jaejoong beberapa menit lamanya. Ketika ia membalikkan tubuhnya kembali menghadap Jaejoong, air mukanya sudah berubah, kelihatan keras. "Apa yang akan kau lakukan setelah pembacaan surat wasiat?"
Jaejoong tidak menyembunyikan air matanya lagi. "Satu-satunya hal yang dapat kulakukan, apa yang kutahu harus kulakukan. Aku harus meninggalkan rumah ini."
Yunho mengangguk seketika, kemudian berbalik dan berjalan ke arah hutan.
Jaejoong duduk di bangku ayunan sambil menutup muka. Ia menangis tersedu-sedu. Tak satu pun dari mereka melihat bayangan yang melintas di antara pepohonan, yang menjauh dari tempat itu.

.
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
.
“Kyu?" Tak ada cahaya lampu di dalam kamar Kyuhyun, tetapi pesawat televisi hitam-putih memantulkan riak-riak cahayanya di dinding.
"Sungmin," ujar Kyuhyun, terkejut.
"Aku tidak yakin kau ada di sini. Kau sudah tidur?"
Kyuhyun segera menarik selimut putih menutupi dadanya yang telanjang. Ia berbaring telentang di ranjangnya yang kecil. Ketika Sungmin masuk, membuka pintu cukup lebar agar bisa menyelinap, Kyuhyun berbaring sambil menopang tubuhnya dengan siku.
"Tidak, aku tidak tidur, tetapi apa yang kaulakukan disini? Kalau kakakmu tahu kau ada disini...."
"Tidak mungkin. Aku baru saja melihatnya pergi dengan mobil barunya. Ia dan Jaejoong.... Oh, Kyu. Aku jadi tak mengerti semua ini!" Sungmin menghambur masuk dan menjatuhkan dirinya ke pelukan Kyuhyun. Otomatis tangan Kyuhyun menyambut Sungmin. Sungmin yang menangis, membenamkan wajahnya di dada Kyuhyun.
"Wae? Musun iriya? Apa yang tidak kau mengerti?"
"Oppa. Aku tak mengerti dia sama sekali. Ia berkelahi denganmu gara-gara kau menciumku. Ia membuat aku merasa seakan kita melakukan perbuatan memalukan. Tetapi, kalau yang kau lakukan salah, mengapa ia dan Jaejoong melakukan hal yang sama? Kalau hal itu tidak boleh kita lakukan, mengapa mereka lakukan? Mereka kan juga tidak menikah."
"Kau melihat mereka? Berciuman?"
"Ya. Di sana, di dekat ayunan tua. Mereka tidak melihat aku ketika itu."
Kyuhyun menyibakkan rambut dengan jari-jarinya. Kyuhyun tidak ingin mengecewakan Sungmin seperti sebelumnya, maka ia menjawab dengan hati-hati, "Kurasa, kau melihat sesuatu yang seharusnya.tidak boleh kau lihat."
Sungmin mengangkat kepala. "Memang, seharusnya aku tidak diam di situ dan melihat mereka, bukan? Boa bilang kita tidak boleh mencuri dengar percakapan orang, kalau orang itu tidak tahu kau ada di situ."
"Itu tidak sopan, ya."
Sungmin berusaha mengumpulkan kekuatan. seperti anak kecil yang menyesali perbuatan salahnya. "Aku tahu aku salah. Tetapi aku mendengar suara mereka, lalu ku ikuti suara itu. Ketika aku sampai di sana, kulihat Yunho mencium Jaejoong. Mereka bersandar di pohon sambil berpelukan."
Ketika jari-jari Sungmin mempermainkan rambut yang tumbuh lebat di dadanya, baru Kyuhyun menyadari ia hanya mengenakan celana dalam di balik selimut. Sungmin duduk di pinggir ranjang, pinggul gadis itu menyentuh lekuk pinggangnya.
.
.
Sungmin menceritakan bagaimana Jaejoong mengakhiri ciuman mereka. "Jaejoong bilang mereka seharusnya tidak berciuman karena orang-orang akan menganggap mereka tidak bermoral. Ketika mendengar kata-kata Jaejoong, Yunho hanya berdiri tak bergerak. Yunho kelihatan seperti hendak memukul sesaatu, bukan Jaejoong. Yunho kelihatan ingin terus menciumi Jaejoong."
Suara Sungmin bergetar. "Jaejoong bilang, begitu pembacaan surat wasiat selesai, ia akan meninggalkan rumah." Sambil bersandar di pinggang Kyuhyun, Sungmin meletakkan kepalanya di dada Kyuhyun. "Aku tak ingin ia pergi meninggalkan rumah kami. Aku  menyayanginya. Aku juga menyayangi oppa. Aku ingin kami tinggal bersama-sama seperti sekarang selamanya."
Dengan satu tangannya Kyuhyun memegang tengkuk Sungmin, menenangkannya. Tangan yang satu lagi mengelus punggung gadis itu. Kyuhyun berhasil menyambungkan potongan-potongan cerita menjadi satu cerita utuh. Ia ingat, ia mendengar Jaejoong mengingatkan Yunho tentang perbuatan Siwon yang memisahkan mereka. Barangkali pada suatu ketika dulu, mereka saling menyayangi. Tetapi kemudian Yunho pergi dari rumah, Jaejoong menikah dengan ayah Yunho. Kini, masing-masing masih saling mencintai, keduanya terperangkap dalam situasi yang sulit untuk dipisahkan. "Ya, semuanya benar-benar kacau balau," gumam Kyuhyun di balik rambut Sungmin.
Sungmin mengangkat kepala dan memandang Kyuhyun. "Kau tahu apa yang kuharapkan?"
Jari telunjuk Kyuhyun menelusuri wajah gadis itu, mengagumi kecantikannya yang asli, kemurnian pikirannya, tak tercemar perasaan dengki. Kualitas kepribadian seperti itu sangat berharga buat Kyuhyun karena jarang ia menemukan orang dengan kualitas seperti itu. Sebelum mengenal Sungmin, Kyuhyun menganggap pikiran manusia penuh kebusukan, termasuk pikirannya sendiri. "Apa yang kau harapkan?" tanya Kyuhyun lembut.
"Bahwa mereka berdua saling mencintai seperti kita."
Betapa ingin Kyuhyun tertawa, ingin menangis, ingin mencium Sungmin. Ia memikirkan kedua hal yang pertama, dan melakukan hal yang terakhir. Ditariknya tubuh Sungmin dengan lembut ke dekatnya, diciumnya bibir perempuan itu dengan lembut pula.
.
.
"Kyu?" bisik Sungmin.
"Hmmm?" Kyuhyun mencium wajah Sungmin, terkagum-kagum merasakan kulit gadis itu yang demikian halus dan membiarkan tubuh mereka berpelukan.
"Kau tidak memakai kaki plastikmu."
Seketika Kyuhyun menghentikan ciumannya dan mengikuti arah pandangan Sungmin sampai ke ujung ranjang, ke tempat ia meletakkan kaki palsunya.
"Ya," jawab Kyuhyun tegas. "Aku tidak memakainya."
"Coba kulihat kakimu. Ayolah." Sungmin menjulurkan tangan hendak menarik seprai yang menutupi tubuh Kyuhyun.
Kyuhyun langsung menyambar kaki palsunya dan memeganginya. "Jangan."
Suara Kyuhyun terdengar dingin, keras, tidak seperti biasanya kalau ia bicara dengan Sungmin. Sejenak sikap Kyuhyun membuat gadis itu takut, tetapi hanya sesaat. Berikutnya Sungmin meletakkan tangannya di atas tangan Kyuhyun dan jarinya mencoba menarik seprai yang menutupi badan Kyuhyun.
"Ayolah, Kyu. Aku ingin melihatnya."
Dengan marah Kyuhyun menepiskan tangan Sungmin. Ia melepaskan pegangannya pada seprai, dan meletakkan tangan di bawah kepalanya. Sungmin ingin melihatnya? Baik, lebih baik membiarkannya melihat kakinya. Lebih baik membiarkan Sungmin jijik melihatnya sekarang sebelum ia jatuh cinta lebih dalam padanya,
seperti yang dialaminya. Lebih baik Sungmin lari meninggalkannya sambil berteriak ketakutan dan jijik melihatnya sekarang daripada nanti. Ia sudah lama menyembunyikan cacatnya, akan lebih baik bila Sungmin tahu lebih cepat, akan lebih baik untuk mereka berdua.
Dengan hati pedih, Kyuhyun membiarkan Sungmin menyingkapkan selimut dari tubuhnya. Udara sejuk yang bertiup dari AC menerpa tubuhnya. Rahangnya terasa sakit karena ia mengertakkan rahang. Matanya menatap langit-langit, berusaha memusatkan pandangan pada pola yang dibentuk cahaya yang dipancarkan televisi. Ia tidak ingin melihat wajah Sungmin yang ketakutan. Ia berharap dapat menutup telinganya agar tidak mendengar respons yang diperdengarkan Sungmin.
Kyuhyun tidak menyalahkan Sungmin, tentunya. Ia selalu dijauhkan dari hal-hal yang buruk. Dunia Sungmin adalah dunia penuh kelembutan dan keindahan, seperti kepompong yang lembut dan anggun. Sementara dunianya, dunia hutan belantara dengan hukum rimba, dunia asing bagi Sungmin, dunia dari planet lain.
"Oh, Kyu."
Reaksi Sungmin ternyata tidak seperti yang dibayangkan Kyuhyun. Suaranya membuat napasnya seperti berhenti sesaat, membuatnya gemetar. suaranya emosional, penuh kelembutan. Kyuhyun menundukkan kepala, memandang tubuhnya tepat ketika tangan Sungmin terjulur hendak menyentuh pahanya yang buntung. Meskipun jelas Kyuhyun merasakan sentuhan malu-malu, lembut, walaupun ia melihat tangan Sungmin menelusuri kulitnya yang kasar dan berbulu, ia tetap tak percaya akan penglihatannya. Tubuhnya seperti mengerut di balik sikap Sungmin yang manis, tetapi dadanya seperti mau meledak.
"Kyuhyun, kau menawan." Ketika menatap Kyuhyun, mata Sungmin berkaca-kaca. Kyuhyun mencari-cari, tetapi tak menemukan kesan jijik di mata gadis itu, tak ada rasa iba, yang ada hanya cinta dan kekaguman.
Dengan suara tercekik, Kyuhyun menarik tubuh Sungmin ke dadanya. Tangannya memegang kedua pipi gadis tersebut, meremas rambut Sungmin ketika Sungmin menyentuhkan bibirnya ke bibir Kyuhyun.
.
.
Kyuhyun mencium Sungmin dengan gairah baru. Dimasukkannya lidahnya jauh ke dalam ke mulut perempuan muda itu. Diputar-putarnya lidahnya, menikmati seluruh kemanisannya. Belajar dari Kyuhyun, Sungmin menggigit kecil bibir Kyuhyun, mengisap lidahnya yang kembali dimasukkan ke mulutnya, dan membelai rongga di antara kedua bibir Kyuhyun dengan lidahnya.
"Oh, Tuhan, Sungmin." Kyuhyun mendekap kepala gadis itu di bahunya untuk menghentikan ciuman Sungmin yang penuh gairah, agar ia bisa bernapas kembali dan akal sehatnya bekerja. Kejantanannya mengeras dan menyentak-nyentak di balik celananya. Setiap bagian tubuhnya yang tersentuh kulit Sungmin seperti panas terbakar. Kyuhyun berencana mengendalikan hasratnya dengan membelai payudara Sungmin. Namun dada yang penuh lagi lembut di telapak tangannya itu ternyata malah membuatnya makin menginginkan Sungmin, bukan melulu karena desakan gairah tetapi berkat pertolongan yang diberikan gadis itu.
"Aku merasa ada yang aneh dalam tubuhku," kata Sungmin. Tangannya mengelus dada dan perut Kyuhyun.
Tanpa kegembiraan sedikit pun Kyuhyun tertawa. Hasratnya bergejolak. "Aku pun demikian."
"Jantungku berdetak cepat." Diambilnya tangan Kyuhyun, lalu ditekankannya ke dada kirinya.
Tangan Kyuhyun menyentuh bagian lunak itu dengan lembut. Ia mengertakkan gigi. "Begitu pun jantungku."
"Apakah begini rasanya kalau orang bercinta?" bisik Sungmin, bertanya.
Kyuhyun tidak mampu menjawab dengan kata-kata, tetapi dengan anggukan.
"Kita tidak bisa bercinta karena kita belum menikah, bukan?"
Kyuhyun mengerang dan mendekap Sungmin erat-erat. "Ya, Sayang, tidak boleh. Kita tidak boleh melakukannya. Tidak fair buat dirimu."
Tidak fair juga buat dirinya. Bila ia mulai melakukannya, Kyuhyun yakin ia akan menginginkan hal itu setiap hari sepanjang hidupnya.
Sungmin yang kini duduk, meletakkan tangannya di pipi Kyuhyun. "Kalau begitu, Kyu," katanya dengan cara berpikir sederhana, "sebaiknya kita menikah."
Kitahara Saki
Segerombolan orang berkumpul di pekarangan Jung Mansion. Hari itu cuaca mendung. Awan kelabu pekat menutupi seluruh bumi. Hujan belum turun. Andai hujan turun, tentu akan disambut gembira karena cuaca takkan lembap lagi.
Hari ini hari yang ditunggu-tunggu sekaligus ditakuti. Dua kali Park yoochun mengatur waktu untuk pembacaan surat wasiat Siwon. Sudah dua kali tertunda. Pada kesempatan pertama, Yunho tanpa diduga dipanggil pulang ke Jepang untuk mengurus masalah perusahaan penerbangan. Yang kedua, Yoochun yang minta ditunda. Karena ada kliennya yang lain yang lebih membutuhkan pertolongannya.
Diam-diam Jaejoong gembira dengan penundaan-penundaaan tersebut. Ia butuh waktu beberapa minggu untuk mencari tempat tinggal, rumah yang lebih kecil tetapi cantik, rumah yang jauh dari kota tetapi tidak terlalu terpencil untuk perempuan yang tinggal sendirian. Namun, sampai saat ini ia merasa tidak punya semangat untuk memulai pencariannya. Pekerjaan di pabrik dijadikannya alasan.
Mereka mengolah ginseng lebih banyak daripada sebelumnya. Ia dan Yunho selalu ke pabrik dini hari dan pulang ke rumah setelah malam. Panen ginseng musim ini hampir sudah dikerjakan semua, dikemas dan siap dibawa ke gudang untuk dijual ke beberapa pedagang. Pesanan Kim Corp sudah diterbangkan ke Seoul seperti yang dijanjikan Yunho.
Mereka berdua sama-sama merasakan kepuasan yang amat sangat, tetapi juga perasaan kehilangan yang tak terucapkan dengan kata-kata. Kalau bukan tuntutan pekerjaan di pabrik, mereka tak punya alasan untuk menghabiskan waktu bersama. Sejak kejadian malam itu, di ayunan, tak pernah ada kesempatan buat mereka untuk bermesraan. Tetapi hasrat mereka tetap hidup, tetap menggelora, tetap memancar di antara mereka.
Yoochun batuk-batuk sambil menutup mulut dengan tangan untuk menarik perhatian mereka. "Kurasa, kita sudah siap." Ia duduk di samping meja kecil, tempat ia meletakkan amplop manila.
Sungmin dan Yunho duduk berdekatan. Tangan mereka saling menggenggam penuh kasih.
Jaejoong duduk di kursi sebelah kiri. Boa, yang, juga diundang,, duduk di sebelah kanan mereka, agak di belakang.
Yoochun mengambil kacamata berkerangka metal dari saku kemejanya dan meletakkannya di hidungnya yang besar. Dengan hati-hati ia membuka amplop, mengeluarkan dokumen yang berhalaman-halaman dan meluruskan dokumen yang kaku itu. Ia mulai membacakan isinya.
.
.
Siwon tidak suka menyumbang. Ia mengomel tiap kali melihat istrinya, Kibum, menyumbangkan uangnya untuk kegiatan amal. Bila ia menyumbang, sumbangan yang dilakukannya bukan dilakukan atas dasar kemurahan hati, tetapi lebih untuk menghindari pajak. Dalam surat wasiatnya, anehnya, Siwon mewariskan sejumlah uang kepada gereja, sebagai anggota gereja yang tidak setia, dan kepada berbagai komunitas sosial lainnya.
Yoochun berhenti sejenak, menuang air ke gelas dari teko yang disediakan di meja oleh Boa untuknya, meneguknya, lalu melanjutkan. Ia membaca dengan suara tanpa emosi, tetapi dengan sikap berat hati. Setelah seluruh isi surat wasiat dibacakan, jelaslah apa sebabnya ia membacakan surat wasiat tersebut dengan sikap demikian. Setelah selesai membacakan, ia melipat kertas-kertas itu lalu memasukkannya kembali ke amplop. Ia melepas kacamatanya dan me-masukkannya kembali ke saku kemeja.
Ketiga orang lainnya di dalam ruangan itu diam tak bergerak. Bahkan Sungmin, yang tidak memahami isi surat wasiat ayahnya sepenuhnya, mengerti isi surat wasiat yang sangat tidak fair itu.
"Ia tidak mewariskan apa pun untuk Yunho," kata Sungmin kepada Yoochun, tetapi matanya perlahan menyapu ruangan sampai akhirnya tertuju pada saudara laki-lakinya, yang wajahnya tampak seperti terbuat dari batu... atau es.
"Bajingan tua brengsek," maki Boa sambil menarik napas ketika meninggalkan ruangan dengan gusar. Ia menolak uang yang diwariskan untuknya sebagai imbalan "bertahun-tahun mengabdikan diri merawat Sungmin".
Perlahan Jaejoong bangkit dari duduk dan dengan ragu-ragu melangkah ke arah orang yang seharusnya menjadi ahli waris. "Yunho, aku ma.." Yunho mendongak seketika, matanya nanar menatap Jaejoong, menghentikan kata-kata Jaejoong sebelum keluar dari mulutnya. Yunho bangkit dari kursi dengan gaya anggun seperti macan tutul, tapi juga sekaligus memancarkan kebencian di air mukanya. Ia meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun. Dengan perasaan sangat menyesal Jaejoong memandanginya. Sungmin dengan gugup mempermainkan saputangan dengan jemarinya.
.
.
Yoochun mengikuti Yunho dan berhasil mengejarnya di halaman. "Yunho, maafkan aku." Ia menyambar lengan kemeja Yunho dan berhasil menghentikan langkahnya keluar dari rumah. "Aku tidak suka membacakan isi surat wasiat itu. Aku sudah membujuk Siwon agar mempertimbangkannya kembali."
"Kau lebih tahu apa yang terjadi, selamatkan saja dirimu," jawab Yunho ketus.
"Aku sudah membujuk ibumu untuk mempertahankan rumah ini dan pabrik atas namanya. Ibumu menandatangani surat wasiat jauh sebelum ia meningggal, bahwa ia mewariskan rumah itu kepada Siwon, bila ia meninggal dunia. Waktu itu aku sudah berpikir itu bukan gagasan yang baik. Tentu saja, sekarang...."
"Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada orang yang tidak berdarah Jung memiliki Jung Mansion. Rumah itu sekarang menjadi milik keluarga Kim." Nada bicaranya pedas lagi tajam ketika menyebut nama Kim.
"Bila kau mengira Jaejoong memengaruhi keputusan Siwon, kau keliru."
"Begitukah?"
"Ya," jawab si pengacara. "Jaejoong sama sekali tidak peduli soal rumah itu, sebagaimana sikapnya ketika mendapatkan beasiswa."
Yunho memutar kepala seketika. "Apa yang kautahu tentang hal itu?"
"Aku tahu," jawab Yoochun sambil merendahkan suara. "Sama seperti aku tahu segala yang dilakukannya terhadap Jaejoong secara sembunyi-sembunyi. Aku tidak mengerti sikapnya. Aku mengira ia seperti bandit yang suka daun muda, kecuali... yah, ia melakukan itu dengan perempuan lain." Ia menatap Yunho dalam-dalam. "Baru belakangan aku tahu. Baru belakangan. Bertahun-tahun lamanya ia memperalat Jaejoong untuk menarikmu pulang, bukan?"
Yunho tidak menjawab. Jelas, si pengacara tahu segala yang terjadi, hanya satu potongan penting yang kurang. Ia tidak tahu apa yang pernah terjadi antara Yunho dan Jaejoong bertahun-tahun sebelumnya. "Yah, bila itu yang ia inginkan sebelum ia meninggal, sudah terkabul. Karena ia sangat yakin berhasil mendapatkan aku kali ini."
Ia pergi, membiarkan pintu di belakangnya terbanting.
.
.
Dari kamar tamu, Jaejoong melihatnya pergi. Ia sudah mendapatkan apa yang selalu didambakannya. Jung Mansion. Tetapi apa imbalannya? Pria yang dicintainya.
"Jaejoong, apa yang bisa kulakukan dengan pabrik itu?" tanya Sungmin bingung ketika muncul di belakang ibu tirinya. "Aku hanya pernah ke sana beberapa kali dalam hidupku."
Perasaan iba melihat perempuan muda yang bingung itu mengalihkan kepedihan yang melanda Jaejoong. Ia memeluk Sungmin. "Kau jangan terlalu mengkhawatirkan pabrik. Ayahmu hanya mewarisimu keuntungan yang didapat dari pabrik."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku dapat gaji tahunan untuk mengawasi pabrik itu bagimu. Yoochun akan memberi tahu kita berdua dan mengawasi segalanya. Tak usah cemas. Semuanya akan berjalan sebagaimana dulu."
"Kau akan tinggal di sini, kan? Kau tidak akan pergi?"
"Kau dengar apa yang dibacakan Yoochun. Appamu memberikan Jung Mansion ini padaku." Ia meletakkan pipinya ke rambut Sungmin dan membiarkan rambut itu mengisap air mata yang menitik jatuh dari matanya. Jaejoong tidak bisa dikelabui. Keputusan Siwon bukan atas dasar kebajikan. Siwon tahu, dengan memberikan Jung Mansion kepadanya, ia yakin akan membuat Yunho sangat membencinya. Ia kini memang menjadi pemilik rumah ibu Yunho. Andai ada sesuatu yang dicintai Yunho, itu adalah Jung Mansion.
"Kau tetap di sini, tetapi Yunho akan pergi," kata Sungmin sedih.
"Ya, Yunho tidak akan tinggal di sini." Kemudian Jaejoong menyuruh gadis itu menemui Boa, supaya ia bisa menangis sendirian.
Kitahara Saki

"Apa yang kau lakukan?"
"Menunggumu."
"Aku mendapat kehormatan itu?"
"Kurasa kita harus bicara."
"Jangan pura-pura bodoh, Yun."
"Bodoh?" ulang Yunho, alis matanya yang hitam berkerut. "Kini kau menjadi nyonya rumah, yang sejak dulu kau dambakan."
Cahaya lampu di teras itu remang-remang. Hari sudah larut malam. Karena ia tidak pulang untuk makan malam, Jaejoong tidak yakin Yunho akan pulang. Kecuali demi Sungmin. Ia tidak akan meninggalkan rumah sebelum berpamitan dengan adiknya. Oleh sebab itu ia menunggu sampai mendengar deru mobil Yunho memasuki pekarangan rumah. Cepat-cepat ia turun untuk menemuinya begitu pria itu masuk lewat pintu depan. Ia berdiri di anak tangga kedua. Yunho di anak tangga pertama. Yunho menatapnya dengan sorot mata menantang.
.
.
.
To Be Continued

4 comments:

  1. yunjaeddiction10:06 PM

    kyumin... asdfghjkl :)
    siwon bnrn deh.. udh mati aja msh bs menyakiti yunho ;-;

    ReplyDelete
  2. Anonymous12:17 PM

    Yunjae jd makin jauh neee

    ReplyDelete
  3. jangan pergi yunho..
    siwon emang jahat banget k yun

    ReplyDelete
  4. Gak bisa tah tinggal bersama, Yun jangan pergi dong, cukup 12thn terlewat jangan di tambah lagi

    ReplyDelete