Jaejoong menyeka air mata di pipinya. "Kau mengerti mengapa aku tidak bisa bersamamu, Yunho? Apa yang mereka katakan benar. Aku sangat menginginkanmu. Namun, seperti kau tidak bisa melupakannya, begitu juga mereka. Aku ini istri Siwon."
Yunho berbalik, membelakangi
Jaejoong beberapa menit lamanya. Ketika ia membalikkan tubuhnya kembali
menghadap Jaejoong, air mukanya sudah berubah, kelihatan keras. "Apa yang
akan kau lakukan setelah pembacaan surat wasiat?"
Jaejoong tidak
menyembunyikan air matanya lagi. "Satu-satunya hal yang dapat kulakukan,
apa yang kutahu harus kulakukan. Aku harus meninggalkan rumah ini."
Yunho mengangguk
seketika, kemudian berbalik dan berjalan ke arah hutan.
Jaejoong duduk di bangku
ayunan sambil menutup muka. Ia menangis tersedu-sedu. Tak satu pun dari mereka
melihat bayangan yang melintas di antara pepohonan, yang menjauh dari tempat
itu.
.
♥
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung
Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae
Vers.
©Kitahara Saki
♥
.
“Kyu?" Tak ada cahaya lampu di dalam kamar Kyuhyun, tetapi
pesawat televisi hitam-putih memantulkan riak-riak cahayanya di dinding.
"Sungmin," ujar Kyuhyun, terkejut.
"Aku tidak yakin kau ada di sini. Kau sudah tidur?"
Kyuhyun segera menarik selimut putih menutupi dadanya yang
telanjang. Ia berbaring telentang di ranjangnya yang kecil. Ketika Sungmin masuk,
membuka pintu cukup lebar agar bisa menyelinap, Kyuhyun berbaring sambil
menopang tubuhnya dengan siku.
"Tidak, aku tidak tidur, tetapi apa yang kaulakukan disini?
Kalau kakakmu tahu kau ada disini...."
"Tidak mungkin. Aku baru saja melihatnya pergi dengan mobil
barunya. Ia dan Jaejoong.... Oh, Kyu. Aku jadi tak mengerti semua ini!" Sungmin
menghambur masuk dan menjatuhkan dirinya ke pelukan Kyuhyun. Otomatis tangan Kyuhyun
menyambut Sungmin. Sungmin yang menangis, membenamkan wajahnya di dada Kyuhyun.
"Wae? Musun iriya? Apa yang tidak kau mengerti?"
"Oppa. Aku tak mengerti dia sama sekali. Ia berkelahi
denganmu gara-gara kau menciumku. Ia membuat aku merasa seakan kita melakukan
perbuatan memalukan. Tetapi, kalau yang kau lakukan salah, mengapa ia dan Jaejoong
melakukan hal yang sama? Kalau hal itu tidak boleh kita lakukan, mengapa mereka
lakukan? Mereka kan juga tidak menikah."
"Kau melihat mereka? Berciuman?"
"Ya. Di sana, di dekat ayunan tua. Mereka tidak melihat aku
ketika itu."
Kyuhyun menyibakkan rambut dengan jari-jarinya. Kyuhyun tidak
ingin mengecewakan Sungmin seperti sebelumnya, maka ia menjawab dengan
hati-hati, "Kurasa, kau melihat sesuatu yang seharusnya.tidak boleh kau
lihat."
Sungmin mengangkat kepala. "Memang, seharusnya aku tidak diam
di situ dan melihat mereka, bukan? Boa bilang kita tidak boleh mencuri dengar
percakapan orang, kalau orang itu tidak tahu kau ada di situ."
"Itu tidak sopan, ya."
Sungmin berusaha mengumpulkan kekuatan. seperti anak kecil yang
menyesali perbuatan salahnya. "Aku tahu aku salah. Tetapi aku mendengar
suara mereka, lalu ku ikuti suara itu. Ketika aku sampai di sana, kulihat Yunho
mencium Jaejoong. Mereka bersandar di pohon sambil berpelukan."
Ketika jari-jari Sungmin mempermainkan rambut yang tumbuh lebat di
dadanya, baru Kyuhyun menyadari ia hanya mengenakan celana dalam di balik
selimut. Sungmin duduk di pinggir ranjang, pinggul gadis itu menyentuh lekuk
pinggangnya.
.
.
Sungmin menceritakan bagaimana Jaejoong mengakhiri ciuman mereka.
"Jaejoong bilang mereka seharusnya tidak berciuman karena orang-orang akan
menganggap mereka tidak bermoral. Ketika mendengar kata-kata Jaejoong, Yunho
hanya berdiri tak bergerak. Yunho kelihatan seperti hendak memukul sesaatu,
bukan Jaejoong. Yunho kelihatan ingin terus menciumi Jaejoong."
Suara Sungmin bergetar. "Jaejoong bilang, begitu pembacaan
surat wasiat selesai, ia akan meninggalkan rumah." Sambil bersandar di
pinggang Kyuhyun, Sungmin meletakkan kepalanya di dada Kyuhyun. "Aku tak
ingin ia pergi meninggalkan rumah kami. Aku menyayanginya. Aku juga menyayangi oppa. Aku
ingin kami tinggal bersama-sama seperti sekarang selamanya."
Dengan satu tangannya Kyuhyun memegang tengkuk Sungmin,
menenangkannya. Tangan yang satu lagi mengelus punggung gadis itu. Kyuhyun
berhasil menyambungkan potongan-potongan cerita menjadi satu cerita utuh. Ia
ingat, ia mendengar Jaejoong mengingatkan Yunho tentang perbuatan Siwon yang
memisahkan mereka. Barangkali pada suatu ketika dulu, mereka saling menyayangi.
Tetapi kemudian Yunho pergi dari rumah, Jaejoong menikah dengan ayah Yunho.
Kini, masing-masing masih saling mencintai, keduanya terperangkap dalam situasi
yang sulit untuk dipisahkan. "Ya, semuanya benar-benar kacau balau,"
gumam Kyuhyun di balik rambut Sungmin.
Sungmin mengangkat kepala dan memandang Kyuhyun. "Kau tahu
apa yang kuharapkan?"
Jari telunjuk Kyuhyun menelusuri wajah gadis itu, mengagumi
kecantikannya yang asli, kemurnian pikirannya, tak tercemar perasaan dengki.
Kualitas kepribadian seperti itu sangat berharga buat Kyuhyun karena jarang ia
menemukan orang dengan kualitas seperti itu. Sebelum mengenal Sungmin, Kyuhyun
menganggap pikiran manusia penuh kebusukan, termasuk pikirannya sendiri.
"Apa yang kau harapkan?" tanya Kyuhyun lembut.
"Bahwa mereka berdua saling mencintai seperti kita."
Betapa ingin Kyuhyun tertawa, ingin menangis, ingin mencium Sungmin.
Ia memikirkan kedua hal yang pertama, dan melakukan hal yang terakhir.
Ditariknya tubuh Sungmin dengan lembut ke dekatnya, diciumnya bibir perempuan
itu dengan lembut pula.
.
.
"Kyu?" bisik Sungmin.
"Hmmm?" Kyuhyun mencium wajah Sungmin, terkagum-kagum
merasakan kulit gadis itu yang demikian halus dan membiarkan tubuh mereka
berpelukan.
"Kau tidak memakai kaki plastikmu."
Seketika Kyuhyun menghentikan ciumannya dan mengikuti arah
pandangan Sungmin sampai ke ujung ranjang, ke tempat ia meletakkan kaki
palsunya.
"Ya," jawab Kyuhyun tegas. "Aku tidak
memakainya."
"Coba kulihat kakimu. Ayolah." Sungmin menjulurkan
tangan hendak menarik seprai yang menutupi tubuh Kyuhyun.
Kyuhyun langsung menyambar kaki palsunya dan memeganginya.
"Jangan."
Suara Kyuhyun terdengar dingin, keras, tidak seperti biasanya
kalau ia bicara dengan Sungmin. Sejenak sikap Kyuhyun membuat gadis itu takut,
tetapi hanya sesaat. Berikutnya Sungmin meletakkan tangannya di atas tangan Kyuhyun
dan jarinya mencoba menarik seprai yang menutupi badan Kyuhyun.
"Ayolah, Kyu. Aku ingin melihatnya."
Dengan marah Kyuhyun menepiskan tangan Sungmin. Ia melepaskan
pegangannya pada seprai, dan meletakkan tangan di bawah kepalanya. Sungmin
ingin melihatnya? Baik, lebih baik membiarkannya melihat kakinya. Lebih baik
membiarkan Sungmin jijik melihatnya sekarang sebelum ia jatuh cinta lebih dalam
padanya,
seperti yang dialaminya. Lebih baik Sungmin lari meninggalkannya
sambil berteriak ketakutan dan jijik melihatnya sekarang daripada nanti. Ia
sudah lama menyembunyikan cacatnya, akan lebih baik bila Sungmin tahu lebih
cepat, akan lebih baik untuk mereka berdua.
Dengan hati pedih, Kyuhyun membiarkan Sungmin menyingkapkan
selimut dari tubuhnya. Udara sejuk yang bertiup dari AC menerpa tubuhnya.
Rahangnya terasa sakit karena ia mengertakkan rahang. Matanya menatap
langit-langit, berusaha memusatkan pandangan pada pola yang dibentuk cahaya
yang dipancarkan televisi. Ia tidak ingin melihat wajah Sungmin yang ketakutan.
Ia berharap dapat menutup telinganya agar tidak mendengar respons yang
diperdengarkan Sungmin.
Kyuhyun tidak menyalahkan Sungmin, tentunya. Ia selalu dijauhkan
dari hal-hal yang buruk. Dunia Sungmin adalah dunia penuh kelembutan dan
keindahan, seperti kepompong yang lembut dan anggun. Sementara dunianya, dunia
hutan belantara dengan hukum rimba, dunia asing bagi Sungmin, dunia dari planet
lain.
"Oh, Kyu."
Reaksi Sungmin ternyata tidak seperti yang dibayangkan Kyuhyun.
Suaranya membuat napasnya seperti berhenti sesaat, membuatnya gemetar. suaranya
emosional, penuh kelembutan. Kyuhyun menundukkan kepala, memandang tubuhnya
tepat ketika tangan Sungmin terjulur hendak menyentuh pahanya yang buntung.
Meskipun jelas Kyuhyun merasakan sentuhan malu-malu, lembut, walaupun ia
melihat tangan Sungmin menelusuri kulitnya yang kasar dan berbulu, ia tetap tak
percaya akan penglihatannya. Tubuhnya seperti mengerut di balik sikap Sungmin
yang manis, tetapi dadanya seperti mau meledak.
"Kyuhyun, kau menawan." Ketika menatap Kyuhyun, mata Sungmin
berkaca-kaca. Kyuhyun mencari-cari, tetapi tak menemukan kesan jijik di mata
gadis itu, tak ada rasa iba, yang ada hanya cinta dan kekaguman.
Dengan suara tercekik, Kyuhyun menarik tubuh Sungmin ke dadanya. Tangannya
memegang kedua pipi gadis tersebut, meremas rambut Sungmin ketika Sungmin
menyentuhkan bibirnya ke bibir Kyuhyun.
.
.
Kyuhyun mencium Sungmin dengan gairah baru. Dimasukkannya lidahnya
jauh ke dalam ke mulut perempuan muda itu. Diputar-putarnya lidahnya, menikmati
seluruh kemanisannya. Belajar dari Kyuhyun, Sungmin menggigit kecil bibir Kyuhyun,
mengisap lidahnya yang kembali dimasukkan ke mulutnya, dan membelai rongga di
antara kedua bibir Kyuhyun dengan lidahnya.
"Oh, Tuhan, Sungmin." Kyuhyun mendekap kepala gadis itu
di bahunya untuk menghentikan ciuman Sungmin yang penuh gairah, agar ia bisa
bernapas kembali dan akal sehatnya bekerja. Kejantanannya mengeras dan
menyentak-nyentak di balik celananya. Setiap bagian tubuhnya yang tersentuh
kulit Sungmin seperti panas terbakar. Kyuhyun berencana mengendalikan hasratnya
dengan membelai payudara Sungmin. Namun dada yang penuh lagi lembut di telapak
tangannya itu ternyata malah membuatnya makin menginginkan Sungmin, bukan
melulu karena desakan gairah tetapi berkat pertolongan yang diberikan gadis
itu.
"Aku merasa ada yang aneh dalam tubuhku," kata Sungmin.
Tangannya mengelus dada dan perut Kyuhyun.
Tanpa kegembiraan sedikit pun Kyuhyun tertawa. Hasratnya
bergejolak. "Aku pun demikian."
"Jantungku berdetak cepat." Diambilnya tangan Kyuhyun,
lalu ditekankannya ke dada kirinya.
Tangan Kyuhyun menyentuh bagian lunak itu dengan lembut. Ia
mengertakkan gigi. "Begitu pun jantungku."
"Apakah begini rasanya kalau orang bercinta?" bisik Sungmin,
bertanya.
Kyuhyun tidak mampu menjawab dengan kata-kata, tetapi dengan
anggukan.
"Kita tidak bisa bercinta karena kita belum menikah,
bukan?"
Kyuhyun mengerang dan mendekap Sungmin erat-erat. "Ya,
Sayang, tidak boleh. Kita tidak boleh melakukannya. Tidak fair buat
dirimu."
Tidak fair juga buat dirinya. Bila ia mulai melakukannya, Kyuhyun
yakin ia akan menginginkan hal itu setiap hari sepanjang hidupnya.
Sungmin yang kini duduk, meletakkan tangannya di pipi Kyuhyun.
"Kalau begitu, Kyu," katanya dengan cara berpikir sederhana, "sebaiknya
kita menikah."
♥
♥Kitahara Saki♥
♥
Segerombolan orang berkumpul di pekarangan Jung Mansion. Hari itu
cuaca mendung. Awan kelabu pekat menutupi seluruh bumi. Hujan belum turun.
Andai hujan turun, tentu akan disambut gembira karena cuaca takkan lembap lagi.
Hari ini hari yang ditunggu-tunggu sekaligus ditakuti. Dua kali Park
yoochun mengatur waktu untuk pembacaan surat wasiat Siwon. Sudah dua kali
tertunda. Pada kesempatan pertama, Yunho tanpa diduga dipanggil pulang ke Jepang
untuk mengurus masalah perusahaan penerbangan. Yang kedua, Yoochun yang minta
ditunda. Karena ada kliennya yang lain yang lebih membutuhkan pertolongannya.
Diam-diam Jaejoong gembira dengan penundaan-penundaaan tersebut.
Ia butuh waktu beberapa minggu untuk mencari tempat tinggal, rumah yang lebih
kecil tetapi cantik, rumah yang jauh dari kota tetapi tidak terlalu terpencil
untuk perempuan yang tinggal sendirian. Namun, sampai saat ini ia merasa tidak
punya semangat untuk memulai pencariannya. Pekerjaan di pabrik dijadikannya
alasan.
Mereka mengolah ginseng lebih banyak daripada sebelumnya. Ia dan Yunho
selalu ke pabrik dini hari dan pulang ke rumah setelah malam. Panen ginseng
musim ini hampir sudah dikerjakan semua, dikemas dan siap dibawa ke gudang
untuk dijual ke beberapa pedagang. Pesanan Kim Corp sudah diterbangkan ke Seoul
seperti yang dijanjikan Yunho.
Mereka berdua sama-sama merasakan kepuasan yang amat sangat,
tetapi juga perasaan kehilangan yang tak terucapkan dengan kata-kata. Kalau
bukan tuntutan pekerjaan di pabrik, mereka tak punya alasan untuk menghabiskan
waktu bersama. Sejak kejadian malam itu, di ayunan, tak pernah ada kesempatan
buat mereka untuk bermesraan. Tetapi hasrat mereka tetap hidup, tetap
menggelora, tetap memancar di antara mereka.
Yoochun batuk-batuk sambil menutup mulut dengan tangan untuk
menarik perhatian mereka. "Kurasa, kita sudah siap." Ia duduk di
samping meja kecil, tempat ia meletakkan amplop manila.
Sungmin dan Yunho duduk berdekatan. Tangan mereka saling
menggenggam penuh kasih.
Jaejoong duduk di kursi sebelah kiri. Boa, yang, juga diundang,,
duduk di sebelah kanan mereka, agak di belakang.
Yoochun mengambil kacamata berkerangka metal dari saku kemejanya
dan meletakkannya di hidungnya yang besar. Dengan hati-hati ia membuka amplop,
mengeluarkan dokumen yang berhalaman-halaman dan meluruskan dokumen yang kaku
itu. Ia mulai membacakan isinya.
.
.
Siwon tidak suka menyumbang. Ia mengomel tiap kali melihat
istrinya, Kibum, menyumbangkan uangnya untuk kegiatan amal. Bila ia menyumbang,
sumbangan yang dilakukannya bukan dilakukan atas dasar kemurahan hati, tetapi
lebih untuk menghindari pajak. Dalam surat wasiatnya, anehnya, Siwon mewariskan
sejumlah uang kepada gereja, sebagai anggota gereja yang tidak setia, dan
kepada berbagai komunitas sosial lainnya.
Yoochun berhenti sejenak, menuang air ke gelas dari teko yang
disediakan di meja oleh Boa untuknya, meneguknya, lalu melanjutkan. Ia membaca
dengan suara tanpa emosi, tetapi dengan sikap berat hati. Setelah seluruh isi
surat wasiat dibacakan, jelaslah apa sebabnya ia membacakan surat wasiat
tersebut dengan sikap demikian. Setelah selesai membacakan, ia melipat
kertas-kertas itu lalu memasukkannya kembali ke amplop. Ia melepas kacamatanya
dan me-masukkannya kembali ke saku kemeja.
Ketiga orang lainnya di dalam ruangan itu diam tak bergerak.
Bahkan Sungmin, yang tidak memahami isi surat wasiat ayahnya sepenuhnya,
mengerti isi surat wasiat yang sangat tidak fair itu.
"Ia tidak mewariskan apa pun untuk Yunho," kata Sungmin
kepada Yoochun, tetapi matanya perlahan menyapu ruangan sampai akhirnya tertuju
pada saudara laki-lakinya, yang wajahnya tampak seperti terbuat dari batu...
atau es.
"Bajingan tua brengsek," maki Boa sambil menarik napas
ketika meninggalkan ruangan dengan gusar. Ia menolak uang yang diwariskan
untuknya sebagai imbalan "bertahun-tahun mengabdikan diri merawat Sungmin".
Perlahan Jaejoong bangkit dari duduk dan dengan ragu-ragu
melangkah ke arah orang yang seharusnya menjadi ahli waris. "Yunho, aku ma.."
Yunho mendongak seketika, matanya nanar menatap Jaejoong, menghentikan
kata-kata Jaejoong sebelum keluar dari mulutnya. Yunho bangkit dari kursi
dengan gaya anggun seperti macan tutul, tapi juga sekaligus memancarkan
kebencian di air mukanya. Ia meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun.
Dengan perasaan sangat menyesal Jaejoong memandanginya. Sungmin dengan gugup
mempermainkan saputangan dengan jemarinya.
.
.
Yoochun mengikuti Yunho dan berhasil mengejarnya di halaman.
"Yunho, maafkan aku." Ia menyambar lengan kemeja Yunho dan berhasil
menghentikan langkahnya keluar dari rumah. "Aku tidak suka membacakan isi
surat wasiat itu. Aku sudah membujuk Siwon agar mempertimbangkannya
kembali."
"Kau lebih tahu apa yang terjadi, selamatkan saja
dirimu," jawab Yunho ketus.
"Aku sudah membujuk ibumu untuk mempertahankan rumah ini dan pabrik
atas namanya. Ibumu menandatangani surat wasiat jauh sebelum ia meningggal,
bahwa ia mewariskan rumah itu kepada Siwon, bila ia meninggal dunia. Waktu itu
aku sudah berpikir itu bukan gagasan yang baik. Tentu saja, sekarang...."
"Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada orang yang tidak
berdarah Jung memiliki Jung Mansion. Rumah itu sekarang menjadi milik keluarga
Kim." Nada bicaranya pedas lagi tajam ketika menyebut nama Kim.
"Bila kau mengira Jaejoong memengaruhi keputusan Siwon, kau
keliru."
"Begitukah?"
"Ya," jawab si pengacara. "Jaejoong sama sekali
tidak peduli soal rumah itu, sebagaimana sikapnya ketika mendapatkan
beasiswa."
Yunho memutar kepala seketika. "Apa yang kautahu tentang hal
itu?"
"Aku tahu," jawab Yoochun sambil merendahkan suara.
"Sama seperti aku tahu segala yang dilakukannya terhadap Jaejoong secara
sembunyi-sembunyi. Aku tidak mengerti sikapnya. Aku mengira ia seperti bandit
yang suka daun muda, kecuali... yah, ia melakukan itu dengan perempuan
lain." Ia menatap Yunho dalam-dalam. "Baru belakangan aku tahu. Baru
belakangan. Bertahun-tahun lamanya ia memperalat Jaejoong untuk menarikmu
pulang, bukan?"
Yunho tidak menjawab. Jelas, si pengacara tahu segala yang
terjadi, hanya satu potongan penting yang kurang. Ia tidak tahu apa yang pernah
terjadi antara Yunho dan Jaejoong bertahun-tahun sebelumnya. "Yah, bila
itu yang ia inginkan sebelum ia meninggal, sudah terkabul. Karena ia sangat
yakin berhasil mendapatkan aku kali ini."
Ia pergi, membiarkan pintu di belakangnya terbanting.
.
.
Dari kamar tamu, Jaejoong melihatnya pergi. Ia sudah mendapatkan
apa yang selalu didambakannya. Jung Mansion. Tetapi apa imbalannya? Pria yang
dicintainya.
"Jaejoong, apa yang bisa kulakukan dengan pabrik itu?"
tanya Sungmin bingung ketika muncul di belakang ibu tirinya. "Aku hanya
pernah ke sana beberapa kali dalam hidupku."
Perasaan iba melihat perempuan muda yang bingung itu mengalihkan
kepedihan yang melanda Jaejoong. Ia memeluk Sungmin. "Kau jangan terlalu
mengkhawatirkan pabrik. Ayahmu hanya mewarisimu keuntungan yang didapat dari
pabrik."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku dapat gaji tahunan untuk mengawasi pabrik itu bagimu. Yoochun
akan memberi tahu kita berdua dan mengawasi segalanya. Tak usah cemas. Semuanya
akan berjalan sebagaimana dulu."
"Kau akan tinggal di sini, kan? Kau tidak akan pergi?"
"Kau dengar apa yang dibacakan Yoochun. Appamu memberikan Jung
Mansion ini padaku." Ia meletakkan pipinya ke rambut Sungmin dan
membiarkan rambut itu mengisap air mata yang menitik jatuh dari matanya. Jaejoong
tidak bisa dikelabui. Keputusan Siwon bukan atas dasar kebajikan. Siwon tahu,
dengan memberikan Jung Mansion kepadanya, ia yakin akan membuat Yunho sangat
membencinya. Ia kini memang menjadi pemilik rumah ibu Yunho. Andai ada sesuatu
yang dicintai Yunho, itu adalah Jung Mansion.
"Kau tetap di sini, tetapi Yunho akan pergi," kata Sungmin
sedih.
"Ya, Yunho tidak akan tinggal di sini." Kemudian Jaejoong
menyuruh gadis itu menemui Boa, supaya ia bisa menangis sendirian.
♥
♥Kitahara Saki♥
♥
"Apa yang kau lakukan?"
"Menunggumu."
"Aku mendapat kehormatan itu?"
"Kurasa kita harus bicara."
"Jangan pura-pura bodoh, Yun."
"Bodoh?" ulang Yunho, alis matanya yang hitam berkerut.
"Kini kau menjadi nyonya rumah, yang sejak dulu kau dambakan."
Cahaya lampu di teras itu remang-remang. Hari sudah larut malam.
Karena ia tidak pulang untuk makan malam, Jaejoong tidak yakin Yunho akan
pulang. Kecuali demi Sungmin. Ia tidak akan meninggalkan rumah sebelum
berpamitan dengan adiknya. Oleh sebab itu ia menunggu sampai mendengar deru
mobil Yunho memasuki pekarangan rumah. Cepat-cepat ia turun untuk menemuinya
begitu pria itu masuk lewat pintu depan. Ia berdiri di anak tangga kedua. Yunho
di anak tangga pertama. Yunho menatapnya dengan sorot mata menantang.
.
.
.
To Be Continued

kyumin... asdfghjkl :)
ReplyDeletesiwon bnrn deh.. udh mati aja msh bs menyakiti yunho ;-;
Yunjae jd makin jauh neee
ReplyDeletejangan pergi yunho..
ReplyDeletesiwon emang jahat banget k yun
Gak bisa tah tinggal bersama, Yun jangan pergi dong, cukup 12thn terlewat jangan di tambah lagi
ReplyDelete