Ia melangkah masuk ke ruang kerja dan berkata, "Appa, aku sudah menemukan yeoja yang ingin kunikahi."
"Pasti kau bisa menemukannya," jawab Siwon sambil
memindahkan cerutunya dari sudut bibir yang satu ke sudut lainnya.
"Go Nam Sun meneleponku tadi malam. Ahra hamil. Sudah
tiga atau empat bulan. Ia bilang, mata putrinya sampai bengkak karena menangis
sebab kau tidak datang lagi menemuinya. Selamat, anakku. Kau sebentar lagi
menjadi suami dan appa."
.
.
Sampai detik ini kata-kata appanya
itu masih sangat dibencinya sampai ke tulang sumsum. Kata-kata bandit itu.
Kata-kata bajingan yang penuh kebencian, manipulasi, kelicikan. Dan Jaejoong, Jaejoong-nya yang
dijumpainya di tepi sungai di bawah rintik hujan, kini menjadi istri appanya.
Kini bajingan itulah yang harus didengarkan kata-katanya oleh Jaejoong, bicara
dengannya, memberikan ketenangan dan kehidupan pada Jaejoong. Dengan Siwon,
Jaejoong memberikan bibirnya yang manis, payu-daranya, pahanya.
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho
Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Version
©Kitahara Saki
Yunho menutup mata dengan telapak
tangan, sementara ingatan akan kebersamaannya dengan Jaejoong melintas seperti
film di benaknya. Membayangkan semua itu saja Yunho merasa hampir tidak
sanggup.
Sekujur tubuhnya terasa sakit.
Celakanya, tak ada benda apa pun yang bisa menyembuhkan lukanya.
.
.
.
.
"Gomawo, Kyunnie."
"Cheonmaneyo."
"Yunho bilang
pemanggang rotinya rusak. Boa harus membeli yang baru. Tetapi kata Boa, tak
perlu beli yang baru kalau yang lama ini bisa diperbaiki. Yunho ingin
memperbaikinya tetapi ia sibuk bekerja di pabrik. Aku sudah bilang padanya, tak
perlu mencemaskan benda itu. Kau mau melakukannya untukku. Kau tidak keberatan,
bukan?"
"Tentu saja tidak.
Aku senang bisa memperbaikinya." Ia menyibukkan diri dengan merapikan meja
kerja di garasi, tempat alat-alat kecil disimpan.
"Kau marah padaku, Kyunnie?"
Kyuhyun berhenti bekerja
dan menatap Sungmin. Sungmin mengenakan baju berkerah tinggi. Kulitnya
kelihatan lembut dan halus seperti bunga magnolia yang tengah merekah. Hasrat
menyergap Kyuhyun seperti palu godam. Ia berbalik seketika. "Mengapa aku
harus marah padamu?"
Sungmin mengembuskan
napas dan duduk di anak tangga paling atas. Dengan resah, jari-jarinya mempermainkan
ikat pinggang yang melilit di pinggangnya. Kepalanya ditundukkan dalam-dalam
sampai dagunya hampir menyentuh dada.
"Karena aku
menciummu kemarin," jawab Sungmin lembut. "Sejak kejadian itu, kau
marah padaku."
"Sudah kukatakan,
aku tidak marah."
"Lalu mengapa kau
tidak mau menatap wajahku?"
Kyuhyun menatapnya
kemudian. Suara Sungmin yang bernada tinggi, penuh kemarahan, memaksa Kyuhyun
mengangkat kepala dan memandang Sungmin tanpa bisa berkata-kata. Ia tidak
pernah melihat yeoja itu marah atau meninggikan suaranya tanpa alasan. Kecil
kemungkinan Sungmin berani balik menatapnya. Air muka Sungmin kelihatan seperti
ekspresi yeoja yang merasa direndahkan.
Kyuhyun menelan ludah
dengan susah. "Aku memandangmu sekarang."
"Matamu
menghindariku. Matamu tak pernah memandangiku lagi. Wae, Kyunnie?" tanya Sungmin,
sambil turun dari tangga
mendekati Kyuhyun. "Wae? Kau tidak menyukai wajahku lagi?"
Mata Kyuhyun nanar
menatap Sungmin, mulai dari rambutnya yang halus kecokelatan sampai ke kakinya
yang ramping mengenakan sandal. Ketika sekali lagi matanya tertuju pada wajah yeoja
itu,
Kyuhyun berkata dengan
suara parau, "Ani, minnie, aku sangat suka memandangimu."
Sungmin tersenyum,
tetapi sesaat senyumnya memudar. "Benarkah gara-gara aku ingin menciummu?
Apakah aku melakukan kesalahan?""
Kyuhyun
menggosok-gosokkan tangannya ke paha, mengeringkan telapak tangannya yang basah
pada celana jins. "Kau tidak melakukan kesalahan."
Sungmin mengernyitkan
dahi. "Kurasa, aku melakukan kesalahan. Yeoja yang kulihat di televisi mencium
kekasihnya lama-lama. Mereka saling memiringkan kepala. Aku rasa mereka membuka
mulut mereka ketika berciuman."
Sekujur tubuh Kyuhyun
bergetar. "Sungmin," katanya parau, "kau tidak boleh bicara
seperti itu dengan namja."
"Kau bukan namja
biasa, namamu Kyuhyun."
"Benar, kau tidak
boleh bicara soal ingin menciumku."
Sungmin kelihatan
bingung. "Wae?"
"Karena ada hal-hal
antara namja dan yeoja yang... yang... belum menikah yang tidak boleh
dibicarakan."
"Boleh
melakukannya, tetapi tidak boleh membicarakannya?" tanya Sungmin, semakin
bingung.
Kyuhyun tertawa, meskipun
tengah mengungkapkan hal serius. Rupanya Sungmin lebih cerdik darinya.
"Seperti itulah."
Sungmin menggelayut di
badan Kyuhyun dan meletakkan tangannya di dada Kyuhyun. Kepalanya ditengadahkan
ketika hendak menatap wajah Kyuhyun.
"Kalau begitu tak
perlu kita membicarakannya. Kita berciuman saja." Suara Sungmin sehalus
napasnya yang menerpa kerongkongan Kyuhyun.
Tangan Kyuhyun
menggenggam tangan Sungmin. "Kita tidak boleh melakukan hal itu juga."
"Wae, Kyunnie?"
Kemarahan seperti
menyayat-nyayat sekujur tubuhnya. Ia harus mengeraskan hati untuk melepaskan
genggaman tangan Sungmin dan dengan hati-hati menurunkannya ke samping.
"Karena tidak
boleh." Kyuhyun kembali ke meja dan mengambil pelana yang sedang
dibersihkannya ketika Sungmin masuk mencarinya.
Dengan sedih Sungmin
memandangi Kyuhyun yang keluar dari bengkel dan berjalan ke halaman. Ia
mengambil pemanggang roti, benda yang dijadikan alasan untuk menemui Kyuhyun,
dan kembali ke rumah. Ketika melihat mobil Jaejoong memasuki pekarangan, Sungmin
berhenti.
.
.
♥Kitahara Saki♥
.
.
"Hai, Minnie. Apa
yang kau lakukan dengan benda itu di halaman?" Jaejoong bertanya, sambil
menunjuk pemanggang roti.
"Kyunnie
memperbaikinya untuk Boa. Aku baru mau masuk rumah."
Gaya bicara Sungmin
menarik perhatian Jaejoong. "Bagaimana keadaan Kyuhyun? Aku tidak
melihatnya beberapa hari ini."
Sungmin mengangkat bahu.
"Ia baik-baik saja, kurasa. Sikapnya aneh kadang-kadang."
"Aneh?"
"Ne. Sepertinya ia
tidak ingin menjadi temanku lagi."
"Aku tidak
yakin."
"Benar. Sejak aku
menciumnya."
Jaejoong menghentikan
langkah. "Kau menciumnya?" Jaejoong melihat ke sekelilingnya dengan
cemas, berharap tak ada orang yang mendengar pernyataan itu dan lega Yunho tak
ada di sekitar situ.
"Ya." Sungmin
menatap Jaejoong dengan pandangan polos dan tenang ketika melihat wajah Jaejoong
yang tampak kesal. "Aku mencintainya."
"Kau mengungkapkan
itu padanya?"
"Ya. Tidak
baikkah?"
"Tidak baik,
ya." Jaejoong tahu ia harus memilih kata-kata yang hendak diucapkannya dengan
hati-hati. Ini cinta pertama Sungmin, barangkali ini cinta monyet. Bagaimana
cara menjelaskan dengan hati-hati tetapi tidak membuatnya takut? "Mungkin
kau terlalu terburu-buru. Barangkali kau membuat Kyuhyun terkejut.
Jangan-jangan Kyuhyun yang ingin menciummu terlebih dahulu."
"Kurasa ia tidak
akan melakukan hal itu dan aku sudah tidak sabar."
Jaejoong tersenyum.
"Beri waktu untuknya, kurasa nanti ia akan melakukannya."
"Menurutmu, oppa
akan melakukannya?"
"Melakukan
apa?"
"Menciummu. Ia
ingin menciummu."
Beberapa detik dalam
enam puluh detik yang sama, Jaejoong terkesima. "Minnie, kau tidak boleh
berkata begitu. Yunho tidak akan melakukan hal itu."
"Lalu mengapa ia
selalu memandangimu?"
Bibir Jaejoong terasa
kering. "Oh ya?"
"Setiap kali, di
saat kau tidak melihatnya. Dan kata-katanya begitu tajam padamu waktu di pengolahan
ginseng."
"Bukan kepadaku.
Kepada setiap orang, para pekerja, para petani ginseng, dan juga kepada appamu."
"Tetapi kau yang
memintanya. Aku rasa, ia awalnya tidak mau, bukan?"
Jaejoong mengingat-ingat
apa yang terjadi malam itu, setelah Yunho memperbaiki mesin penumbuk. Sepanjang
petang, Jaejoong memikirkan cara untuk membangun kembali hubungannya dengan Yunho
dan mengira telah berhasil melakukannya. Namun sekembalinya ke rumah, sesudah
mandi dan duduk untuk makan malam bersama, Yunho malah menunjukkan sikap makin
bermusuhan dengannya. Jaejoong tidak tahan menerima kenyataan itu. Kendati
kemajuan yang dicapainya sedikit, Jaejoong tidak mau menyerah.
Selama makan malam dan
sesudahnya, waktu mereka duduk di ruang tamu bersama Boa dan Sungmin, Jaejoong
berusaha bersikap ramah pada Yunho, sehingga Yunho tak lagi memandang Jaejoong
dengan wajah bermusuhan. Akhirnya ia berhasil mengumpulkan keberanian meminta
tolong Yunho memeriksa beberapa mesin lainnya, yang dirasanya perlu diperiksa.
Dengan sikap enggan, Yunho mengiakan permintaan Jaejoong. Selama tiga hari
penuh Yunho bekerja keras di pabrik, sebagaimana pekerja yang makan gaji.
"Aku bersyukur, Yunho
ada di sini memberi bantuan sementara appamu sakit. Ia bekerja keras
sekali."
"Kau juga. Kau
kelihatan letih sekali, Jaejoong."
Jaejoong memang merasa
letih. Sangat letih. Ia masih harus bersikap sangat hati-hati terhadap Yunho,
berharap komunikasi yang berhasil dijalin di antara mereka tidak mengarah ke
hubungan yang intim. Dan Siwon. Caci makinya makin pedas setiap kali Jaejoong
menjenguknya, yang paling sedikit sekali sehari, dua kali bila ia merasa mampu
menghadapinya. Ia tidak memberitahu Siwon perihal pekerjaan yang dilakukan Yunho
di pabrik karena tahu Siwon pasti tidak akan setuju. Tak satu pun hal yang
dilakukannya kini menyenangkan hati Siwon. Semua dikritiknya, mulai dari cara
berpakaian sampai cara menerima nasihat yang diberikan dokter, seakan perintah
yang tidak boleh dilanggar.
"Aku memang merasa
letih," kata Jaejoong pada Sungmin. "Soal Kyuhyun," katanya,
kembali pada topik pembicaraan, "mungkin perasaannya lagi tidak enak saja.
Jangan terlalu memaksanya. Biasanya namja tidak suka diperlakukan begitu.
Kurasa, kalau kalian nanti mau berciuman lagi, biarkan ia yang berinisiatif, jangan
kau."
"Kurasa
begitu," gumam Sungmin, sambil menunduk.
Jaejoong memahami alasan
Kyuhyun yang tiba-tiba dingin. Jelas ia jatuh cinta pada Sungmin tetapi tidak
ingin perasaan cintanya membuat Sungmin melakukan sesuatu yang bisa menyulut
kemarahan Yunho. Ia menaruh simpati pada keduanya.
"Ayo kita
makan," ajak Jaejoong ramah, sambil mengamit tangan yeoja yang lebih muda
darinya.
"Yunho ke
mana?"
"Entahlah. Ia
bilang akan makan bersama…"
Perkataan Jaejoong
terputus suara klakson nyaring, dan ketika ia dan Sungmin berbalik, mereka
melihat Yunho menghentikan mobil pickup-nya di belakang mobil Lincoln. Yunho melompat keluar dari mobil itu.
Wajahnya yang
berseri-seri mengingatkan Jaejoong pada pemuda tampan yang pernah dikenalnya di
pinggir hutan, yang hampir mendorongnya menyongsong dan merentangkan tangan
untuk menyambutnya tanpa memedulikan sekelilingnya.
"Itu mobilmu, oppa?"
tanya Sungmin sambil berjingkrak dan bertepuk tangan kegirangan. "Aku suka
warnanya."
"Cavalier blue," jawab Yunho, sambil mengangguk pada Jaejoong. "Aku
perlu kendaraan pribadi selama di sini. Kurasa, yang kubutuhkan kendaraan jenis
pickup seperti ini. Bagaimana cara membawa mobil ini dan pesawat terbangnya
kembali ke Jepang, itu yang belum aku tahu."
Semua tertawa. Perasaan Jaejoong
luluh ketika memandang Yunho, melihat rambutnya yang tertiup angin dan sorot
matanya yang berseri-seri.
"Aku lapar sekali.
Makan malamnya sudah siap?" Yunho melingkarkan satu tangan ke bahu Jaejoong
dan tangan lainnya ke pundak Sungmin. "Mari kutemani ke ruang makan."
Sebelum mereka mencapai
teras rumah, Boa muncul di ambang pintu dan berseru, "Jaejoong, Yunho!
Syukurlah kalian sudah di sini. Dokter rumah sakit menelepon. Kondisi Siwon
memburuk. Dokter bilang sebaiknya kalian segera ke rumah sakit."
.
.
.
.
.
To Be Continued

woahh ga tahan bt nunggu updatean d ffn..
ReplyDeletesungmin haha trnyata tipe2 agresif. lol
yunjae.. sebagaimanapun klian menutupinya. tp rasa cinta yg ada ga bs nipu org disekitar kalia xD
Yunho gak mau Jaejoong jadi ibu tirinya, apa lagi hanya sekedar teman, Yunho butuh Jaejoong sebagaimana mestinya.
ReplyDelete