Kini, di lorong rumah
sakit yang dingin ini, Jaejoong menjawab pertanyaan Yunho seperti dua belas
tahun yang lalu, seperti peristiwa di malam yang sejuk itu, setelah mereka
berciuman untuk pertama kalinya.
"Gwenchana, Yunnie, nan gwenchana."
Yunho juga tampaknya terperangkap dalam kenangan itu. Dipandanginya Jaejoong beberapa saat, sebelum akhirnya buru-buru berbalik dan berkata,
"Sebaiknya kita segera berangkat."
Yunho juga tampaknya terperangkap dalam kenangan itu. Dipandanginya Jaejoong beberapa saat, sebelum akhirnya buru-buru berbalik dan berkata,
"Sebaiknya kita segera berangkat."
.
.
"Cantik sekali."
"Kau juga
cantik."
Tangan Sungmin yang
mengelus leher anak kuda itu terhenti, matanya yang hitam teduh menatap Kyuhyun,
yang bicara dengan suara sangat lembut.
"Jeongmal Kyunnie? Menurutmu aku cantik?"
"Jeongmal Kyunnie? Menurutmu aku cantik?"
© SANDRA BROWN
yunjae version © Kitahara Saki
Yunho, Jaejoong, Siwon, Kyuhyun, Sungmin © diri mereka sendiri
Ekspresi yang
diperlihatkan Sungmin membuat Kyuhyun memaki-maki dirinya sendiri. Yeoja ini
terlalu rapuh, menelan bulat-bulat segalanya. Seharusnya ia tidak mengungkapkan
apa yang melintas dalam pikirannya. Perasaan Sungmin sangat halus, dan dapat
hancur berkeping-keping dengan mudah.Kyuhyun bangkit dari
hamparan jerami yang menutupi lantai kandang kuda dengan bertumpu pada satu
kakinya yang utuh.
"nomu yeppo minnie," ulang Kyuhyun, menegaskan,
lalu memalingkan wajah dari Sungmin dan meninggalkan kandang kuda.
Mereka harus lebih
sering menjaga jarak. Sungmin tidak mengerti betapa berada di dekatnya, wangi
tubuhnya, kehangatan kulitnya yang lembut, sangat besar pengaruhnya pada diri Kyuhyun.
Andai gadis itu tahu apa yang dibangkitkannya dalam tubuhnya, tentu ia akan
merasa takut dekat dengannya.
.
.
Kyuhyun menurunkan
pelana kuda dari gantungannya di dinding. Yunho mengatakan padanya kemarin sore
ia ingin berkuda pagi-pagi sekali, dan Kyuhyun ingin menyiapkan keperluan
berkudanya sebaik mungkin. Ia paham apa sebabnya Yunho menunjukkan sikap tidak
suka padanya secara terang-terangan. Yunho bukan orang buta. Bukan pula orang
yang berperasaan tumpul. Yunho menangkap kerinduan hatinya pada Sungmin. Kyuhyun
sadar, perasaan hatinya pada Sungmin sangat jelas terlihat, seterang papan
iklan dengan lampu-lampu neon di sekelilingnya.
Kyuhyun tidak
menyalahkan Yunho yang menaruh curiga pada dirinya. Sungmin adik kandungnya,
adik yang sangat istimewa, yang membutuhkan perhatian khusus seumur hidup.
Andai Kyuhyun punya saudara perempuan seperti Sungmin dalam hidupnya, ia pun
akan melindunginya sebaik-baiknya seperti Yunho.
Kendati demikian, ia
tetap tidak bisa berhenti mencintai Sungmin, bukan? Ia tidak mencari cinta. Ia
tidak mengira dirinya bisa mencintai seseorang. Namun ternyata sekarang ia
mencintai seseorang dan sangat merindukannya saat gadis itu tidak berada di
sisinya. Saat ini Sungmin berdiri dekat sekali dengannya ketika ia mengoleskan
sabun pelana di pelana kudanya. Setiap kali tangannya menggosok pelana dengan
kain lap, ujung sikunya hampir menyentuh payudara Sungmin.
Kyuhyun berusaha
memusatkan perhatian pada pekerjaannya, bergulat mengusir bayangan bagaimana
rasa payudara itu di telapak tangannya yang kasar atau betapa halus kulit
lehernya bila disentuh bibirnya.
.
.
Sungmin, yang kelihatan
agak kecewa karena Kyuhyun tidak bicara lebih lanjut perihal kecantikannya,
mengelus-elus anak kuda sebagai ungkapan pamit lalu mengikuti Kyuhyun.
"Kakimu sakit?"
Tanpa mengangkat muka, Kyuhyun
menjawab, "Ani. wae?'
"Karena kulihat
dahimu mengerenyit, seperti yang kerap kaulakukan bila kakimu sakit."
"Aku hanya
berkonsentrasi pada pekerjaanku, itu saja."
Sungmin mendekati Kyuhyun.
"Kalau begitu biarkan aku membantu Kyunnie."
Kyuhyun menjauhkan diri
dari Sungmin, pura-pura hendak mengambil kain lap yang lain. Darahnya
bergejolak. Sungmin begitu manis, sangat manis, tetapi perasaan yang
ditumbuhkan gadis itu dalam hatinya jauh dari manis. Berada di dekat Sungmin
membuat Kyuhyun seperti orang liar yang dibelenggu tapi berada di dekat perawan
yang akan dikorbankan.
"Ani. Kau tak perlu membantuku. Aku bisa
menyelesaikannya dengan cepat."
"Kaupikir aku tidak
bisa mengerjakan hal seperti ini, begitu? Memang, tak seorang pun menganggap
aku mampu mengerjakan sesuatu."
Kyuhyun mengangkat
kepala seketika dan melemparkan kain lap. "Bukan begitu, tentu saja aku
yakin kau mampu."
Kyuhyun melihat
kekecewaan di wajah Sungmin, penderitaan di matanya yang kelam dan bagai tak
berdasar. Gadis itu menggeleng, rambutnya yang cokelat lagi halus tergerai
menyentuh bahunya.
"Semua orang menganggap aku tolol dan tidak
berguna."
"Minnie," ujar
Kyuhyun dengan suara lirih, lalu meletakkan tangan di bahu Sungmin. "Tidak
pernah sama sekali aku menganggapmu begitu."
"Lalu, mengapa kau
tidak memperbolehkan aku membantumu?"
"Karena ini
pekerjaan yang kotor, aku tidak ingin kau terkena kotoran."
Seperti anak kecil yang
minta penegasan, Sungmin melirik Kyuhyun. "Hanya itu alasannya? Jeongmal?"
"Jeongmal."
.
.
Seharusnya Kyuhyun
menarik tangannya dari bahu Sungmin, tetapi ia membiarkan tangannya tetap di
pundak gadis itu. Sungmin agak menengadah sehingga cahaya lampu kandang yang kekuningan menimpa
wajahnya. Wajah Sungmin kelihatan seperti wajah malaikat, hanya saja matanya
lebih berbinar-binar. Andai tidak mengenal Sungmin dengan baik, mungkin Kyuhyun
akan mengira binar-binar mata gadis itu mengisyaratkan keinginan bermesraan.
"Aku tahu aku bukan
perempuan cerdas. Tetapi aku terampil dalam beberapa hal."
"Tentu saja, kau
punya kelebihan." Oh, Tuhan! Bibir gadis itu begitu lembut, agak basah,
dan tampak kemerah-merahan ketika mengucapkan kata-kata itu. Betapa ingin Kyuhyun
mengecupnya. Mendekapnya erat, merapatkan tubuhnya, merasakan kelembutan tubuh
yang indah itu mendekap tubuhnya yang tinggi besar, penuh luka, dan tidak
berbentuk. Bersentuhan dengan tubuh Sungmin bak mengoleskan obat penyembuh bagi
tubuhnya yang cedera, bagi jiwanya yang terluka.
.
.
"Banyak hal yang
kuamati. Seperti, Oppa yang kutahu merasa tidak bahagia. Ia memang tertawa dan
berusaha kelihatan bahagia, tetapi sorot matanya memancarkan kesedihan. Ia dan Jongie
tidak pernah rukun. Apakah kau menyadari hal yang sama Kyunnie?"
"Ya."
"Aku tidak mengerti
apa sebabnya mereka begitu." Sungmin mengernyitkan dahi, berpikir.
"Atau barangkali mereka sebenarnya saling menyukai, tetapi berusaha
menyembunyikan perasaan itu, supaya orang-orang tidak menganggap mereka saling
menyukai."
Kyuhyun tersenyum
mendengar dugaan Sungmin. Itu pula kesimpulan yang diambilnya setelah makan
siang bersama mereka hari itu. Keduanya siap bertengkar atau berkasih-kasihan. Kyuhyun
merasa sikap mereka cenderung pada pilihan yang kedua. Kyuhyun mengelus dagu Sungmin.
"Mungkin dugaanmu benar."
Sungmin tersenyum lalu
merapatkan tubuhnya ke Kyuhyun. "Menurutmu, aku ini cerdas? Dan
cantik?"
Mata Kyuhyun yang hitam
mengamati wajah Sungmin. "Kau cantik."
"Kau juga tampan,
Kyunnie." Dengan jari-jarinya yang mulus, semulus porselen, Sungmin
mengelus pipi Kyuhyun yang kasar, kemudian jari telunjuknya menelusuri pipi Kyuhyun
sampai ke ujung dagu.
Kyuhyun merasakan
sentuhan tangan Sungmin tidak sekadar pada wajahnya saja. Sentuhan itu seperti
arus listrik, mengalir sampai ke perutnya. Kyuhyun menarik napas dalam-dalam,
dan agak menjauhkan diri, menurunkan tangannya dari bahu Sungmin. "Jangan,"
cegah Kyuhyun tanpa bermaksud menyinggung perasaan Sungmin.
Gadis itu langsung
menjauhkan diri, seperti orang habis ditampar.
"Oh Tuhan, Minnie,
mianhe." Kyuhyun menjulurkan tangan, mengelus gadis itu untuk
menghiburnya, tetapi ia tidak mampu melakukan hal itu. Sungmin menutup wajahnya
dengan telapak tangan dan menangis.
"Tolong, jangan menangis."
"Aku memang orang
yang menakutkan.” .
"Menakutkan? Kau sama sekali tidak menakutkan minnie."
Tak pernah Kyuhyun merasa perasaannya tersayat-sayat seperti saat ini. Apa beda
dirinya dengan bajingan, bila ia menyentuh gadis lugu seperti Sungmin, meskipun
ia juga kesal bila tidak menyentuhnya. Menunjukkan perasaan kasihnya pada Sungmin
sama artinya dengan bunuh diri. Yunho akan membunuhnya bila mengetahui hal itu.
Tapi bagaimana ia bisa tega melukai hati Sungmin dengan cara seperti ini,
membuat Sungmin merasa ditolak, tidak dikasihi, tidak diinginkan?
"Kau
orang yang sangat baik," ucap Kyuhyun. "Kau orang paling baik yang
pernah kukenal."
"Ani, aku tidak
baik." Sungmin mengangkat wajahnya yang masih berlinang air mata, menatap Kyuhyun.
"Aku menyayangi Oppa sepanjang hidupku. Kupikir, bila ia pulang ke rumah
lagi, semuanya akan beres. Kuanggap ia orang paling kuat, laki-laki paling baik
di dunia. Tetapi ketika sudah di rumah, ternyata ia tidak demikian." Sungmin
menjilat bibirnya.
"Ternyata, kaulah pria itu." Payudara Sungmin yang
tidak terlalu besar berguncang di balik baju musim panasnya. Air mata masih
terus menitik jatuh di pipinya.
"Kyunnie, aku lebih menyayangimu dibanding
Oppa!"
Sebelum Kyuhyun sempat
bereaksi, Sungmin sudah menjatuhkan tubuhnya ke tubuh Kyuhyun, mencium
bibirnya, lalu lari keluar dari kandang kuda.
Kyuhyun merasakan
jantungnya berdetak cepat, debarannya terasa sampai ke gendang telinga. Ia merasa
bahagia sekaligus sedih. Tuhan, apa yang harus ia lakukan menghadapi hal
seperti ini?
Tak ada. Jelas, tidak
ada.
Kyuhyun mematikan lampu
kandang kuda, lalu masuk ke tempat tinggalnya yang terawat rapi tapi sepi, yang
terletak di bagian belakang. Ia mengempaskan diri di ranjangnya yang kecil,
menutupi wajahnya dengan lengan. Ia tidak pernah merasa seputus asa ini sejak
siuman di rumah sakit angkatan darat waktu itu dan mendapati ia akan pulang
dengan... salah satu kaki yang tinggal separo.
.
.
.
.
"Oh, maafkan aku, Yunho.
Aku tidak tahu kau ada di sini."
"Tidak
apa-apa," jawabnya dalam keremangan.
"Ini kan
rumahmu."
Jaejoong membiarkan
pintu kawat kasa di belakangnya menutup dan duduk di kursi goyang. Ia menarik
napas, menghirup dalam-dalam udara malam yang sejuk. Ia memejamkan mata-nya
yang letih sambil menyandarkan kepala pada sandaran kursi goyang.
"Ini
rumahmu, Yunho. Aku hanya tamu selama..."
"Selama ayahku
masih hidup."
"Ya."
Yunho tidak menanggapi.
Ia terlalu letih untuk berargumentasi. "Kau tidak kembali ke rumah
sakit."
"Aku sudah
menelepon. Akhirnya mereka menyuntiknya agar ia tidur. Kata dokter, aku tidak
perlu datang. Siwon tidak mengenali siapa pun. Menurutku akan lebih baik bila
aku tinggal di rumah, banyak urusan pabrik yang harus diselesaikan. Sebentar
lagi akan panen Ginseng, segalanya harus dipersiapkan."
"Aku tidak suka
berada di rumah sakit saat Siwon sadar dan menyadari telah kehilangan waktunya
sehari."
Jaejoong mengelus
dahinya seakan kepalanya sudah sakit akibat teriakan marah yang akan dilontarkan
Siwon. "Aku juga."
"Seringkah ia
memperlakukanmu seperti hari ini?”
"Ani. Tak pernah.
Aku pernah melihat ia memarahi orang-orang. Diam-diam aku menemui dan
menenangkan mereka. Hari ini pertama kalinya aku menjadi sasaran
kemarahannya."
"Kalau begitu kau
beruntung," kata Yunho. "Ia selalu bersikap begitu pada ibuku,
selalu, bahkan hal kecil sekalipun bisa menyulut kemurkaannya.
Keterlaluan" Yunho meninju lengan kursi
"Ada saat aku ingin sekali
menghantam mulutnya yang jahat itu sekuat-kuatnya. Bahkan ketika masih kecil
pun, aku sangat membencinya karena membuat ibuku tidak bahagia padahal ibuku
sudah memberikan segalanya padanya. Segalanya." Yunho melirik Jaejoong. Jaejoong
mengira Yunho malu karena kelihatan sangat emosional di hadapannya. "Mau
kubuatkan minum?" tanya Yunho
pendek.
"Tidak, terima
kasih."
Yunho menarik napas
dalam kegelapan. "Mian, aku lupa. Kau tidak suka minuman keraskan?"
"Meski dibesarkan
di rumah Kim Hyunjoong? Tidak," jawab Jaejoong sambil tertawa kecil.
"Aku tidak suka minuman beralkohol."
"Kalau begitu aku
juga tidak minum." Yunho bersandar di salah satu pegangan kursi yang
didudukinya dan meletakkan gelas di lantai.
"Jangan begitu. Aku
tidak keberatan kau minum. Aku tahu kau bukan peminum seperti ayahku."
Komentar itu terlalu pribadi.
Jaejoong menatap Yunho kalau-kalau pria itu menangkap sesuatu dalam kata-kata
yang baru saja diucapkannya. Mata Yunho yang keemasan beradu pandang dengan
mata Jaejoong dalam kegelapan yang memisahkan mereka. Jaejoong lebih dulu
membuang muka.
"Kata Boa, appamu
sudah meninggal," ujar Yunho akhirnya. Ia sama sekali tidak menyentuh
gelas yang diletakkannya di lantai.
"Ya. Suatu pagi
mereka menemukannya tewas di dekat sungai. Katanya, serangan jantung. Kurasa akhirnya
ia berhasil juga meracuni dirinya."
"Eommamu?"
"Ia meninggal
beberapa tahun yang lalu." Tak terlihat emosi apa pun terpancar di mata Jaejoong,
karena ia memandang jauh ke depan. Usia ibu Jaejoong belum lagi lima puluh
tahun. Tetapi ia bungkuk dan keriput ketika akhirnya dengan penuh syukur meninggal
karena letih dan putus asa.
Yunho bangkit dari
kursi, lalu duduk di anak tangga paling atas, yang lebih dekat dengan tempat
duduk Jaejoong. Sambil menyilangkan kaki, Yunho memiringkan tubuh dan bertumpu
pada siku. Pundaknya menyentuh kerangka kursi goyang, hampir menyentuh betis Jaejoong.
"ceritakan padaku, Boo. Apa yang terjadi setelah peristiwa musim panas
itu, setelah aku pergi?"
Betapa ingin Jaejoong
menjulurkan tangan dan membelai rambut Yunho, menyibakkan rambut hitam tebal
itu dengan jemarinya. Tubuh Yunho tinggi lagi ramping, sifat maskulinnya tetap
terpancar biarpun ia dalam keadaan diam.
"Aku menyelesaikan
sekolahku, dan dapat beasiswa untuk melanjutkan ke universitas."
"Beasiswa?
Bagaimana bisa?" Seketika Yunho menoleh ke arah Jaejoong dan kepalanya
hampir saja mengenai tulang kering Jaejoong. Segera Yunho mundur.
"Entahlah."
Yunho menegakkan tubuh
dan memandang Jaejoong dengan tatapan mata penuh tanda tanya.
"Entahlah?"
Jaejoong menggeleng. Ia
tidak dapat memusatkan pikiran. Pikirannya berserak kacau balau bak daun-daun
yang berguguran ditiup angin musim gugur ketika disentuh Yunho. Kini Yunho
duduk sambil bertekuk lutut, kedua tangannya memeluk lutut. Jari-jari tangan
kiri Yunho yang tergantung seperti hendak terjulur menyentuh kaki Jaejoong.
Yunho menunggu
penjelasan Jaejoong, sehingga Jaejoong terpaksa harus memusatkan pikiran dan
memberikan jawaban, membuatnya tergagap ketika mulai menjawab. "Suatu
hari, Kepala Sekolah memanggilku ke kantor. Itu beberapa hari sebelum
pengumuman kelulusan. Kepala Sekolah bilang aku dapat beasiswa dari seseorang
yang tidak mau disebutkan namanya. Orang itu akan menanggung semua biaya
kuliahku. Bahkan aku dapat uang tambahan lima puluh dolar sebulan. Sampai hari
ini aku tidak tahu siapa orang yang memberikan beasiswa itu padaku."
"Ya, tuhan,"
ujar Yunho sambil menahan napas. Boa pernah menceritakan padanya di salah satu
suratnya yang biasanya berisi gosip, tentang ‘anak perempuan keluarga Kim’ yang
akan kuliah
"Kau barangkali tidak ingat padanya. Ia beberapa tahun di bawahmu. Anak Kim Hyunjoong. Begitulah, gadis itu ke kota dan melanjutkan sekolahnya, semua orang heran bagaimana ia mampu membiayai kuliahnya"
Lama sesudah itu Yunho mendapat surat dari Sungmin
"Appa menceritakan padaku hari ini, ada gadis yang bernama Kim Jaejoong menikah dengan teman kuliahnya. Appa bilang, dulu gadis itu tinggal di sini, dan katanya kau mungkin mengenalnya".
"Setelah meraih
gelar sarjana, aku kembali ke kota ini," lanjut Jaejoong.
"Pernikahanmu pasti
tidak bertahan lama."
Tatapan mata Yunho yang
penuh selidik membingungkan Jaejoong. "Pernikahan?"
"Dengan teman
kuliahmu."
Jaejoong menatap Yunho,
seakan Yunho sudah linglung. "Aku tak mengerti arah pembicaraanmu, Yunho.
Pergi kencan pun aku tak pernah, apalagi menikah. Agar bisa dapat beasiswa
terus, aku harus mempertahankan nilai kuliahku rata-rata B. Aku menghabiskan
waktu dengan terus-menerus belajar. Bagaimana kau bisa mengira aku sudah
menikah?"
Yunho juga terkejut.
Mungkinkah Sungmin mengarang-ngarang cerita itu? Tidak. Sungmin tidak mengenal Jaejoong,
setelah bekerja di perusahaan Siwon baru ia mengenalnya.
Siwon.
Sepintas kecurigaan
menyelinap di benak Yunho. Apa yang melintas di benaknya terlalu mengerikan,
bahkan untuk dipikirkan sekalipun. Tetapi bila berkaitan dengan Siwon...
"Aku dengar kau
menikah. Aku lupa siapa yang menyampaikan kabar itu padaku."
"Siapa pun orang
itu, ia keliru. Aku tidak pernah menikah selagi kuliah, aku hanya
menikah...."
"Dengan appaku."
Setelah terdiam lama, Jaejoong
menceritakan apa yang terpendam dalam hatinya selama bertahun-tahun. "Apa
yang terjadi antara kau dan Ahra?"
"Perang Korea Utara
dan Selatan,” jawab Yunho sambil tertawa.
.
.
.
To Be Continued

yun putus kan ma ahra
ReplyDeleteWaah Jae berhasil melanjutkan kuliah rupanya, waah sugoiii, eh apa mungkin yg memberi beasiswa itu Siwon?????.
ReplyDeleteLah Yunho~ perang korea utara dan selatan? Apa pula maksudnya itu
pisah?