"Kau tinggi
sekali," komentar Sungmin. "Dan tegap." Sungmin tertawa,
memegang otot lengan Yunho.
"Kau cantik dan
begitu dewasa." Yunho mengamati tubuh Sungmin, gadis muda yang cantik dan
halus. Kemudian keduanya tertawa bahagia karena bisa berjumpa. Kembali mereka
berpelukan.
"Appa akan
meninggal, Yunho," ujar Sungmin serius ketika akhirnya mereka saling
melepaskan pelukan. "Jaejoong sudah memberitahumu...”
"Ya," jawab Yunho
pelan sambil menelusuri dagu adik perempuannya itu dengan jari telunjuknya.
"Tetapi sekarang
kau sudah ada di rumah. Boa, Jaejoong, dan Kyuhyun... Oh, ya ampun! Aku lupa
memperkenalkannya padamu."
Sungmin berbalik ke arah manajer kandang kuda itu, yang mengantarnya pulang dan sejak tadi berdiri di depan pintu kasa. Sungmin meraih tangannya dan menariknya maju.
"Cho Kyuhyun, ini kakakku, Yunho."
Sungmin berbalik ke arah manajer kandang kuda itu, yang mengantarnya pulang dan sejak tadi berdiri di depan pintu kasa. Sungmin meraih tangannya dan menariknya maju.
"Cho Kyuhyun, ini kakakku, Yunho."
Bittersweet Rain
© SANDRA BROWN
yunjae version © Kitahara Saki
Yunho, Jaejoong, Siwon, Kyuhyun, Sungmin © diri mereka sendiri
Kyuhyun melepaskan
jarinya dari genggaman tangan Sungmin untuk menyalami Yunho, yang memandangnya
dengan sorot mata penuh selidik. "Tuan Jung, apa kabar?"
"Panggil Yunho
saja," jawab Yunho, menjabat tangan Kyuhyun kuat-kuat. "Sudah berapa
lama bekerja di sini?"
"Setahun lebih
sedikit."
Yunho melirik adik
perempuannya lalu kembali memandang si manajer kandang kuda. "Sungmin
pernah menyebut namamu dalam suratnya."
"Salah satu kuda
betina melahirkan kemarin, Yunho," Sungmin memberitahu Yunho dengan suara
riang. "Kyuhyun yang menolongnya melahirkan."
"Saya harus kembali
untuk melihat keadaan mereka," kata Kyuhyun.
"Tinggallah di sini
sebentar, minum teh dan menikmati kue-kue kecil bersama kami," ajak Boa.
Sejenak Kyuhyun menatap Yunho,
lalu memalingkan wajah. "Terima kasih. Saya harus segera melihat anak kuda
yang baru lahir itu."
"Besok pagi aku
akan menjenguknya, Kyuhyun, Boleh?" Sungmin bertanya sambil menggenggam tangan
Kyuhyun lagi.
"Tentu saja,"
jawab Kyuhyun lembut sambil tersenyum melihat kepolosan sikap Sungmin. "Ia
pasti rindu sekali padamu bila kau tak menjenguknya.
Kyuhyun melepaskan
genggaman tangan Sungmin dan keluar lewat pintu belakang. "Selamat malam, Kyuhyun,"
ucap Sungmin.
"Selamat malam, Sungmin,"
jawab Kyuhyun. Kyuhyun membungkukkan badannya Sembilan puluh derajat sebagai
salam hormat kepada yang lain, menghilang di kegelapan malam dengan langkah terpincang-pincang.
.
.
Yunho menatap
kepergiannya lalu menutup pintu. Boa sibuk menyipkan tteokbokki untuk Yunho dan
es krim kesukaan Sungmin dan Jaejoong
"Aku tidak mau, Boa.
Terima kasih," ujar Jaejoong. Lewat ekor matanya, ia melihat Yunho
memandanginya. "Hari ini aku letih sekali. Kurasa aku mau istirahat dulu."
"Ada yang kau butuhkan?"
tanya Boa, prihatin.
"Tidur
nyenyak," jawab Jaejoong. Dicondongkannya badannya ke arah Sungmin, lalu
mencium pipinya. "Selamat malam. Besok pagi kita sama-sama ke rumah sakit
dan kau bisa menemui Appamu."
"Ne, aku mau. Selamat
malam. Kau juga gembira Yunho pulang, kan, Jaejoong?"
"Tentu saja." Jaejoong
menegakkan tubuh dan bertemu pandang dengan Yunho. "Boa sudah menyiapkan
kamarmu. Selamat malam, Yunho."
Sebelum Yunho sempat
menjawab, Jaejoong sudah keluar pintu, meninggalkan ruang makan menuju kamarnya
dilantai dua. Ternyata berat buat Jaejoong untuk berada dalam satu ruangan
dengan Yunho. Selain itu, Yunho, Sungmin, dan Boa- yang mengasuh mereka
sepeninggal Kibum-, perlu waktu bersama tanpa dirinya.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Suara langkah kakinya di
lorong atas teredam karpet Oriental yang terhampar di sepanjang lorong. Dua
lampu di sisi ranjang menerangi kamar tidurnya. Salah satu lampu itu
dimatikannya. Berada dalam kegelapan terasa lebih nyaman bagi Jaejoong malam
itu, seakan kegelapan mampu menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin dilihatnya,
tak ingin dipikirkannya. Jaejoong berdiri di dekat jendela besar yang menghadap
ke halaman belakang Jung Mansion yang luas dan dataran landai ditumbuhi
rerumputan yang mengarah ke sungai. Bulan separo tampak di langit, tetapi ia
dapat melihat pantulannya di permukaan air dari kejauhan. Segalanya terasa
begitu damai.
Jaejoong hanya butuh
ketenteraman. Tiga pukulan berat menghantamnya hari ini. Ia tahu suaminya akan
meninggal. Kyuhyun bersikap lebih daripada sekadar teman terhadap Sungmin,
bahkan lebih daripada mengasihani. Dan Yunho, yang kini pulang.
Sambil menarik napas
dalam, ia menjauhi jendela dan membuka pakaiannya. Setelah bathtub dipenuhi air
hangat, Jaejoong berendam di dalam bathtub yang penuh busa wangi sambil
memejamkan mata. Saat itulah dibiarkannya dirinya menangis. Untuk Siwon. Selama
ini Siwon frustrasi gara-gara penyakitnya, tetapi laki-laki itu berkeras tidak
mau memeriksakan diri ke dokter. Buat pria yang penuh vitalitas seperti Siwon,
kenyataan dirinya diserang penyakit sulit diterima. Barangkali akan jauh lebih
baik bila maut segera menjemputnya. Memaksa Siwon yang selalu penuh semangat
dan ambisi berbaring tak berdaya dan hanya bisa mengeluh kesakitan di ranjang
rumah sakit selama berbulan-bulan juga sangat tidak manusiawi.
.
.
Jaejoong berendam di
bathtub beberapa lama sampai air matanya mengering dan air mandinya dingin. Ia
ingin cepat-cepat tidur. Seisi rumah sudah senyap. Terdengar suara ketukan
pelan di pintu kamarnya ketika ia menarik bedcover ranjang. Jaejoong terlonjak
karena terkejut.
Dari pintu kamar yang dibukanya
sedikit, Jaejoong melihat sosok seseorang di bawah cahaya remang-remang,
berdiri di lorong rumah yang sunyi. "Ada apa?"
"Aku mau bicara
denganmu."
Yunho langsung menerobos
masuk. Karena tidak ingin menimbulkan kegaduhan, Jaejoong tak punya pilihan
lain kecuali membiarkan pria itu masuk dan menutup pintu kamarnya. Yunho berdiri
di tengah kamar, pelan-pelan berbalik, memerhatikan semua perabot yang ada di
dalam kamar. Ia melangkah ke dekat jendela, tangannya menyentuh tirai, seperti
mengingat-ingat suasana kamar itu di masa lalu. Diamatinya barang-barang antik
yang ada di meja rias. Ia melirik ke arah cermin yang memantulkan bayangan
dirinya. Apakah ia mencari sosok anak laki-laki kecil seperti dulu?
"Dulu ini kamar
tidur eommaku," ucap Yunho akhirnya.
Tangan Jaejoong yang
berkeringat saling menggenggam di pinggang. "Ya, aku tahu. Kamar yang
cantik. Salah satu yang kusuka di rumah ini.
"Cocok
untukmu," komentar Yunho, sambil mengamati pantulan tubuh Jaejoong yang
berdiri di belakangnya di cermin. "Sebagaimana cocok untuk eommaku. Kamar
ini sangat perempuan."
Ketika Yunho tak juga
mengalihkan pandangan dari dirinya, sadarlah Jaejoong akan pakaian yang
membungkus tubuhnya. Pakaian tidur berikut jubah luarnya itulah yang jelas
membuat tatapan mata Yunho yang penuh hasrat tersebut tertuju padanya. Jaejoong
sadar ia belum mengenakan apa-apa di balik baju tidur, meskipun tubuhnya
tertutup dari dada sampai ujung kaki. Dan yang paling meresahkannya adalah
mengetahui Yunho menyadari hal itu juga.
Tatapan matanya yang
tajam berhenti di dadanya, di pinggangnya, di bawah pinggangnya. Seperti
merespons perintah tanpa kata-kata, bagian-bagian tubuh itu bangkit dan
bereaksi. Dada Jaejoong menegang. Pangkal pahanya bagai merekah. Jaejoong
memaki-maki tubuhnya, menyumpahi diri, tetapi juga tak berdaya menekan dorongan
hasrat yang menggebu-gebu, mengaliri setiap simpul saraf tubuhnya karena sorot
mata keemasan itu.
Yunho menggenggam
segelas bourbon, lalu meneguknya dengan penuh kenikmatan. Ia betul-betul
menikmati cairan minuman keras yang membakar tenggorokan itu mengalir turun menuju
perutnya. "Rupanya Appa tetap menyukai wiski mahal," komentar Yunho.
"Dan perempuan cantik. Kau kelihatan sangat cantik di dalam kamar ini, Jaejoong,
apalagi dengan sinar lampu remang-remang yang menimpa rambutmu." Kembali Yunho
mengamati sekujur tubuh Jaejoong lewat cermin, kemudian berbalik dan menjauh.
Yunho melangkah ke arah
kursi malas di pojok kamar dan merebahkan diri di kursi itu. Tetapi rupanya
kursi tersebut dirancang untuk tubuh perempuan, bukan Yunho. Ujung sepatu
botnya menggantung. Dengan satu tangan dipeganginya botol minuman keras yang
diletakkannya di perut, sementara tangannya yang satu lagi diletakkan di bawah
kepala, sambil matanya tetap memandangi Jaejoong bak musang yang mengincar
mangsa. Jaejoong berdiri resah di tempat yang sama dengan ketika Yunho memasuki
kamar.
"Eomma dan Appa
tidak pernah tidur bersama di kamar ini," kata Yunho enteng, tetapi Jaejoong
tidak tertipu. Tak pernah Yunho mengatakan sesuatu tanpa alasan. "Masih
segar dalam ingatanku peristiwa hari itu, ketika Appa meminta eommaku tidak
mempersoalkan keinginannya pindah ke kamar tidurnya sendiri setelah Sungmin
lahir. Berjam-jam lamanya Eomma menangis. Sejak itu Appa tidak pernah tidur
bersama Eomma lagi." Kembali Yunho meneguk wiskinya dan tertawa keras.
"Kurasa Appa tak pernah memaafkannya gara-gara Sungmin."
"Ia mengasihi Sungmin,"
protes Jaejoong. "Ia selalu berusaha melakukan yang terbaik buat Sungmin."
Kembali tawa Yunho
meledak, kali ini lebih keras lagi. "Oh ya? Ia memang pandai melakukan
hal-hal seperti itu. Melakukan hal yang dipikirnya baik untuk seseorang."
Jaejoong memaksa dirinya
bergerak. Ia melangkah ke arah ranjang lalu duduk di pinggirnya, mengencangkan
tali pinggang baju tidurnya. "Jadi masalah ini yang hendak kaubicarakan
denganku?"
"Tentang
suami-istri yang tidur seranjang?' tanya Yunho, sambil menaikkan salah satu
alis matanya. "Atau tentang Sungmin?"
Jelas Yunho mencari
gara-gara. Di mana kelembutan laki-laki ini? Kelembutan yang pernah ditunjukkan
pria itu kepadanya ketika mereka berjumpa sembunyi-sembunyi atau ketika mereka
saling mencurahkan isi hati? Yunho seperti orang asing baginya, padahal dulu ia
begitu akrab dengannya.
Kemeja Yunho tidak
dikancing, terbuka. Dada-nya kelihatan bergerak naik-turun tiap kali ia menarik
napas. Jaejoong masih ingat penampilan Yunho ketika ia pertama kali melihatnya,
air sungai menitik turun di dadanya yang bidang dan rambut hitamnya yang kusut.
Perutnya masih keras dan rata sekarang, tetap berotot. Sebaris rambut hitam
membelah tubuh itu menjadi dua bagian yang sempurna, sebelum akhirnya tertutup
garis pinggang celana jinsnya. Di balik celana jins yang ketat itu membayang
kejantanannya.
Dengan gugup Jaejoong
cepat-cepat membuang pandangan dari tubuh Yunho. "Mengapa kau ingin
membicarakan masalah itu denganku? Aku tidak ingin terlibat dalam pertengkaran
antara kau dan Appamu."
Yunho merasa kata-kata Jaejoong
lucu dan ia tertawa geli beberapa saat, sambil tetap dengan asyik menghabiskan
wiski. Kemudian ia bangkit dari kursi malas dan berjalan menghampiri Jaejoong.
Sinar lampu kamar yang satu-satunya itu memantulkan bayangan hitam tubuh Yunho.
Ia menakutkan, berbahaya, dan memikat. Jaejoong berusaha tidak menunjukkan
perasaan takutnya terhadap Yunho. Bukan takut membayangkan apa yang akan
dilakukan Yunho terhadap dirinya, tetapi takut terhadap respons yang muncul
dari dalam dirinya bila Yunho benar-benar melakukan sesuatu.
"Aku butuh mobil besok
pagi. Aku menemuimu untuk meminjam mobil."
"Oh, boleh,"
sahut Jaejoong sambil menarik napas lega. "Kuambilkan kuncinya." Jaejoong
bangkit dari ranjang, berusaha sebisa mungkin tidak bersinggungan dengan tubuh Yunho
ketika bangkit. Namun ketika ia melewati Yunho, sesaat pahanya menyentuh paha Yunho
dan ia merasakan ototnya berkontraksi. Jaejoong cepat-cepat bergerak menjauh
menuju lemari tempat ia menyimpan tas. Dengan jari-jari gemetar, Jaejoong mencari-cari
kunci mobilnya, yang akhirnya ditemukannya dan langsung diletakkannya di
telapak tangan Yunho. "Mau ke mana kau pagi-pagi?"
"Aku ingin menemui
dokternya sebelum bertemu Appa. Aku akan kembali menjelang siang untuk
mengantarmu dan Sungmin ke rumah sakit, bila kau bersedia."
"Ya, boleh saja.
Tetapi pagi-pagi ada urusan yang harus kuselesaikan lebih dulu."
"Urusan di pabrik ginseng?" "Ya, aku harus memeriksa
pembukuannya." "Ya, kudengar soal itu dari Yoochun. Katanya, kau
banyak membantu pekerjaan Appa sebelum menikah dengannya." Yunho maju
selangkah lebih dekat. Napasnya yang hangat dan berbau bourbon mahal menerpa
wajah Jaejoong.
"Yoochun
berlebihan." Jaejoong berusaha memiringkan tubuh, tetapi dengan sengaja Yunho
juga memiringkan tubuh. Yang terjadi, taktik yang semula dilakukan untuk
menghindari Yunho malah membuat tubuh mereka lebih rapat.
"Aku tidak yakin.
Aku berani bertaruh kau sangat diperlukan Appa dalam banyak hal, bukan?"
Mata Jaejoong berkilat
marah ketika melirik Yunho. "Mengapa kau menyindirku terus-menerus, Yunho?"
"Karena aku selalu
tergelitik untuk melihat reaksimu dengan mengganggumu, itulah alasannya. Jaejoong,
yang begitu muda, begitu manis, begitu sederhana, begitu... polos."
Kata-kata itu meluncur deras dari bibir Yunho bak air yang mengucur dari keran
yang terbuka.
Jaejoong mengangkat
tangan, tetapi Yunho menangkap tangan itu dan memelintirnya ke belakangnya,
menarik tubuh Jaejoong mendekat ke tubuhnya. Dada Jaejoong menempel di dada Yunho
yang bidang. Ibu jari kaki Jaejoong bersinggungan dengan ujung sepatu bot Yunho.
Wajah Yunho hanya beberapa inci dari wajahnya. Ketika ia berbicara, setiap kata
yang meluncur dari bibirnya diucapkan dengan penuh amarah.
"Pernah kubiarkan
kau menamparku, tetapi bila kau berani menamparku lagi, kau akan menyesali
perbuatanmu."
"Apa yang akan
kaulakukan? Balas menamparku?"
Yunho tersenyum
mengejek. "Oh, tidak akan. Bukan begitu caraku membalasnya. Aku akan
melakukan sesuatu yang sangat tidak kau sukai." Yunho merapatkan tubuh Jaejoong
ke tubuhnya yang bereaksi, membuat Jaejoong seketika mengerti maksud ucapan Yunho.
Yunho menundukkan kepalanya lebih dekat. "Atau kau menyukainya, Boo?
Hmm?" Gesper ikat pinggang Yunho menyentuh pakaian tidur Jaejoong,
menggores perutnya. "Di mata setiap orang kau memang Mrs. Jung. Tetapi
bagiku kau tetap Kim Jaejoong. Gadis muda yang melintas hutan untuk bekerja di
musim panas... sambil perlahan-lahan membuatku gila."
Jaejoong menatap Yunho.
Sorot matanya menantang. Penuh amarah, bak awan badai yang berembus dari Teluk
yang membawa hujan, angin, dan petir. Rambut Jaejoong yang tadi dipuji Yunho
tergerai dari wajahnya ke punggung. "Jadi kau masih ingat, Yunho. Aku
bertanya-tanya dalam hati apakah kau masih punya kenangan akan hal itu."
Sesaat mata Yunho
membelalak, kemudian menyipit. Ia menatap wajah Jaejoong dengan panas, lama
berhenti di bibirnya, kemudian turun dari leher ke buah dadanya, yang kini agak
menyembul dari balik baju tidurnya, lalu kembali ke atas lagi. Sorot matanya
memancarkan pergolakan, pertanda terjadi pergulatan di dalam diri Yunho.
"Ya," jawab Yunho
kasar. "Ya, brengsek! Aku masih mengingatnya."
Jaejoong dibebaskan
begitu mendadak sehingga ia terhuyung dan bersandar di meja riasnya. Ketika
keseimbangan tubuhnya kembali, Yunho melangkah keluar dari kamar dengan sikap
murka.
Sialan! Ia berharap ia
tidak ingat semua kenangan manis itu.
Di kamarnya, Yunho
membuka kemeja, mengisi gelas dengan minuman keras dari botol yang dicurinya di
tempat penyimpanan anggur Appanya, lalu merebahkan diri di kursi malas yang
selalu diletakkan di dekat jendela. Diteguknya wiski itu, tetapi karena minuman
itu sudah kehilangan rasa, diletakkannya gelas tersebut dengan jengkel. Ia
membungkuk, membuka sepatu bot, lalu melemparkannya ke permadani sehingga
menimbulkan suara gedebuk perlahan.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Sambil bersandar,
kepalanya di bantalan kursi yang empuk, dibiarkannya pikirannya menerawang ke
masa lalu, ke suatu musim panas ketika ia berusaha kabur dari pabrik ginseng, pengawasan Appanya, dan panas matahari yang menyengat. Ia pergi
ke tepi sungai, tanpa pakaian selembar pun terjun ke sungai yang airnya dingin.
Ketika ia naik ke darat kembali, sewaktu sedang mengeringkan tubuh dan memakai
celana jins, ia melihat perempuan itu....
"Omo!" teriak Yunho.
Jari-jarinya meraba-raba hendak menutup ritsleting celana jins. "Sudah
berapa lama kau di situ?" Yunho ingin tertawa melihat reaksinya. Kalau Yunho
hanya terkejut melihatnya, gadis itu seperti lumpuh.
Yunho tidak mengira
gadis itu akan menjawab, tetapi kemudian dengan tergagap ia berkata,
"Aku... aku baru saja sampai di sini."
"Hmmm, baguslah,
karena aku tadi berenang telanjang bulat. Bila kau datang lebih cepat, kita
berdua bisa malu."
Senyum Yunho lebar dan
penuh percaya diri, penuh keangkuhan. Meski si gadis yang memakai kaus kaki
pendek dan sepatu murahan itu masih terkejut dan gemetar, ia berusaha membalas
tersenyum dengan malu-malu. "Kuharap aku tidak mengganggumu," katanya
dengan kesopanan yang, dalam situasi seperti ini, membuat Yunho geli.
"Tidak, aku sudah
selesai. Udara panas sekali. Aku jadi ingin berenang."
"Ya, udaranya
memang panas. Karena itulah aku mengambil jalan pintas ini. Di sini lebih teduh
ketimbang di jalan raya."
Sejak awal Yunho sudah
tertarik pada gadis itu. Bukan hanya karena wajahnya yang cantik, tetapi juga
karena penampilannya yang berbeda. Roknya yang terbuat bahan katun bersih dan
licin, tetapi sudah ketinggalan zaman. Blusnya juga terbuat dari bahan katun
berwarna putih, menebarkan aroma sabun cuci, bukan parfum yang sepertinya
dipakai semua yeoja masa itu.
Di balik blus gadis
tersebut, Yunho melihat garis-garis branya yang putih, yang pastilah sangat
tidak nyaman. Gadis-gadis umumnya memakai model yang disebut push-up bra—bra
untuk menaikkan payudara, yang bertujuan, Yunho yakin, membuat teman kencan
mereka tergila-gila.
Ia mengalihkan
pandangannya dari payudara si gadis, merasa malu pada dirinya sendiri karena
membuat analisis seperti yang dilakukannya terhadap gadis-gadis yang
dikenalnya. Ia hanya gadis kecil. Lima belas? Enam belas? Paling-paling. Ia
tampaknya takut sekali padanya.
Tetapi ya ampun, gadis
itu cantik sekali. Kulitnya bersih, matanya kelabu bagai kabut yang melayang
rendah di rawa-rawa. Tubuhnya indah, molek, menunjukkan lekuk feminin.
Rambutnya mengilap, seperti kayu mahoni yang dipernis. Tiap kali angin meniup
pepohonan di atas kepalanya, sinar matahari menerpa rambutnya seperti kilatan
cahaya di rambut yang lebat itu.
"Kau mau ke
mana?"
"Ke kota. Aku kerja
di Hanbang kafe."
Yunho tidak pernah
mengenal gadis yang harus bekerja pada musim panas. Umumnya mereka menghabiskan
musim panas dengan berjemur di dekat kolam renang, milik pribadi atau milik
umum, sampai bertemu seseorang yang mereka kenal dan merencanakan pesta untuk
malam harinya.
"Namaku Jung Yunho."
Ia menatap Yunho dengan
sorot mata aneh. Yunho mengira karena ia telanjang bulat. Gadis itu berusaha
menekan rasa ingin tahunya, tetapi matanya terus berkelebat ke dada Yunho,
perutnya, dan ritsleting celana jinsnya yang belum tertutup. Biasanya itu
justru menaikkan rasa percaya diri Yunho, meyakinkannya bahwa dengan mudah
gadis itu bisa ditaklukkannya. Ia menganggap reaksi seperti itu sebagai
pemberitahuan si gadis tertarik padanya dan bisa diajak kencan. Tetapi sorot
mata gadis tersebut yang demikian polos justru menjengkelkan hatinya. Dengan
tatapan matanya yang selalu tertuju ke ritsleting celananya, Yunho resah
menyadari hasrat yang tak diinginkannya makin menggebu saat itu.
Untuk menunjukkan sikap
santunnya, ia maju selangkah hendak menyalaminya. Sesaat gadis itu terkejut,
tetapi kemudian ia pun menyambut tangan Yunho dengan malu-malu. "Kim
Jaejoong," jawabnya dengan suara gemetar, sambil menatap mata Yunho.
Mereka berpandangan.
Waktu bergulir, serangga
berderik di atas ke-pala mereka, pesawat menderu di langit tinggi, air mengalir
membasahi batu-batuan di tepi sungai yang berlumut. Sesudah beberapa lama
barulah keduanya bergerak dan melepaskan tangan masing-masing.
"Kim?' Yunho
mengulang nama keluarga si gadis dan heran mendengar suaranya sendiri jadi sama
seperti sepuluh tahun yang lalu, sebelum terjadi "perubahan".
"Putri Kim Hyunjoong?"
Gadis itu menunduk dan Yunho
melihat bahunya terkulai. Bodoh! Mengapa ia mengajukan pertanyaan dengan nada
tidak percaya seperti itu? Setiap orang kenal siapa Kim Hyunjoong. Sepanjang
hari kerjanya main kartu, minta uang pada orang bodoh yang kebetulan bertemu
atau berbicara dengannya, sampai ia mendapat uang cukup untuk membeli minuman
yang bisa dinikmatinya sampai keesokan hari.
"Ne," jawab
gadis itu lembut. Kemudian, meski agak gemetar, ia mengangkat kepala dengan
sikap percaya diri yang membuat Yunho lega kembali, dan berkata, "Aku
harus segera pergi, kalau tidak nanti aku terlambat kerja."
"Aku senang
berkenalan denganmu."
"Aku juga."
"Hati-hati berjalan
di hutan." Gadis itu tertawa. "Apa yang lucu?"
"Kau memperingatkanku
agar berhati-hati, sementara kau sendiri berenang di sungai." Gadis itu
menunjuk sungai. "Mungkin saja di sana ada ular berbisa, dan siapa yang
tahu ada makhluk-makhluk lain apa di sana. Mengapa kau tidak berenang di kolam
renang di kota saja?"
Yunho mengangkat bahu.
"Aku merasa kepanasan."
Ia kepanasan. Tuhan, ia
merasa sangat kepanasan. Ketika tertawa, gadis itu menengadahkan kepalanya ke
belakang, menampakkan lehernya yang putih, mulus, dan begitu mengundang.
Rambutnya mengilap menutupi leher dan bahu. Bau sabun cuci dan tepung kanji
mulai tercium lebih wangi di hidung Yunho daripada parfum mahal mana pun. Bau
itu begitu membaur dengan aroma kulitnya yang segar. Tawanya yang renyah dan
tulus menyentuh hati Yunho. Tawa itu mengelus bagian hatinya yang sakit luar
biasa.
Ya, Yunho kepanasan.
Terbakar karena cuaca yang panas. "Pukul berapa kau pulang kerja?" Yunho
sama terkejutnya seperti Jaejoong ketika mendengar pertanyaan yang mendadak
meluncur keluar dari mulutnya tersebut.
"Pukul delapan."
Dengan hati-hati Jaejoong mulai melangkah mundur.
"Malam hari? Kau
pulang sendirian malam hari?'
"Ya. Tetapi aku
tidak lewat hutan. Aku hanya lewat di sini pada siang hari."
Sejenak Yunho
membayangkannya. Gadis ini berbeda dengan gadis-gadis yang pernah dikenal-nya,
di kota Geumsan ini atau Gyeongsang.
"Aku akan terlambat
kerja," ujar Jaejoong dan makin menjauhkan diri, namun Yunho merasakan
keengganan dalam diri gadis itu.
"Ya, tentu. Jangan
sampai terlambat. Sampai nanti, Jaejoong."
"Sampai jumpa, Yunho."
Banyak yang tak
terucapkan dengan kata-kata pada waktu mereka berpisah. Yunho ingin mereka
bertemu lagi. Jaejoong tak pernah membayangkan mereka bisa berjumpa lagi.
Yunho masuk ke mobil Audi-nya.
tanpa lewat pintu. Ia langsung melaju pulang ke rumahnya, Jung Mansion, dengan
kecepatan tinggi dan masuk ke kamarnya, naik dua anak tangga sekali langkah,
dan....
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Kini, sebagaimana
sebelumnya, bayangan Jaejoong memenuhi benaknya. Yunho ingat memasuki kamar
yang sama di suatu sore dua belas tahun yang lalu. Dilemparkannya pakaiannya ke
lantai tetapi ternyata pakaian itu jatuh ke kursi yang sama. Ia duduk santai di
kursi yang sama saat ini, dengan bayangan perempuan yang sama memenuhi
benaknya. Jaejoong masih menyimpan misteri, masih sulit dipahami, menghantui
dan menguasainya.
Dan kini, seperti waktu
itu, ia sadar, upaya apa pun yang ia lakukan tak mungkin bisa mengobati luka
hatinya, tak bisa meredam gejolak hasratnya yang membara.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

mrk dulu berhub eoh
ReplyDeletekekasihkah
Ternyata baru awal pertemuan aja udah pervert Yunho, apa lagi sekarang, makin menggila pasti hasratnya.
ReplyDelete