Tangannya yang bebas
menyentuh tengkuk Jaejoong dan mendorong wajah wanita itu ke wajahnya.
"Ingat, kita sekarang keluarga," bisik-nya dengan nada mengejek.
Kemudian bibirnya mencium bibir Jaejoong, kasar dan penuh kemarahan. Diciuminya
bibir Jaejoong dengan liar, seakan hendak menghukumnya karena malam-malam
ketika ia memikirkan Jaejoong, Jaejoongnya yang polos, yang berbagi tempat
tidur, tubuhnya, dengan ayahnya.
Jaejoong menyarangkan
tinju ke dada pria itu. Terdengar suara mengerang keras. Lututnya lemas. Ia berusaha
memberontak. Ia memberontak lebih keras. Karena ia ingin memeluk laki-laki itu,
mendekapnya erat, merasakan kembali getaran yang pernah dirasakannya ketika
berada dalam pelukannya.
Tetapi ini bukanlah pelukan, ini penghinaan. Ia bergulat sekuat tenaga untuk membebaskan bibirnya.
Tetapi ini bukanlah pelukan, ini penghinaan. Ia bergulat sekuat tenaga untuk membebaskan bibirnya.
Ketika ia berhasil
melepaskan diri, Yunho memasukkan tangan ke saku celana jinsnya dan tersenyum
mengejek penuh kemenangan melihat ekspresi marah dan bibir merah Jaejoong.
"Salam, Mom," dengusnya.
Bittersweet Rain
© SANDRA BROWN
yunjae version © Kitahara Saki
Yunho, Jaejoong, Siwon, Kyuhyun, Sungmin © diri mereka sendiri
Jaejoong merasa napasnya
sesak. Dadanya turun-naik menahan amarah dan perasaan terhina. "Kasar
sekali bicaramu. Bagaimana kau bisa sekejam itu?"
"Bagaimana kau bisa
menikah dengan laki-laki tua bajingan yang kebetulan Appaku itu?"
"Ia bukan bajingan.
Ia sangat baik padaku."
Tawa Yunho pendek.
"Oh, jadi ia sangat baik padamu. Karena mutiara di telingamu itu? Berkat
berlian yang gemerlap di jarimu? Kau sekarang orang terhormat di dunia ya, Jaejoong
si gadis sungai? Kini kau penghuni Jung Mansion. Tidakkah kau ingat, kau pernah
mengatakan padaku kau bersedia melakukan apa pun agar bisa menghuni rumah
ini?"
Yunho agak memiringkan badan ke arah Jaejoong ketika mengucapkan kata-kata itu sambil mendengus. "Biar kutebak apa yang kaulakukan pada Appaku sampai ia mau menikahimu."
Yunho agak memiringkan badan ke arah Jaejoong ketika mengucapkan kata-kata itu sambil mendengus. "Biar kutebak apa yang kaulakukan pada Appaku sampai ia mau menikahimu."
Jaejoong menampar muka Yunho
keras-keras. Itu dilakukan Jaejoong tanpa berpikir panjang.
Sedetik yang lalu Yunho
melontarkan penghinaannya, detik berikutnya Jaejoong mendaratkan telapak
tangannya di pipi Yunho. Membuat telapak tangannya terasa panas. Ia berharap
demikian pula pipi Yunho.
Yunho melangkah mundur
sambil tersenyum sinis. Senyum yang membuat amarah Jaejoong lebih menggelegak
daripada ucapannya yang menyakitkan.
"Apa pun yang kulakukan pada Appamu, jauh lebih baik daripada apa yang kau lakukan padaku selama dua belas tahun ini. Appamu nelangsa, sendirian di rumah ini, menyesali dirimu.
"Apa pun yang kulakukan pada Appamu, jauh lebih baik daripada apa yang kau lakukan padaku selama dua belas tahun ini. Appamu nelangsa, sendirian di rumah ini, menyesali dirimu.
Tawa Yunho kembali
terdengar. "Menyesali? Indah sekali, Jaejoong. Menyesali." Yunho
menekuk salah satu lututnya, sehingga berat badannya bertumpu pada kaki yang
satu lagi dengan sikap angkuh. "Mengapa aku sulit membayangkan Appaku
menyesali sesuatu? Apalagi kepergianku."
"Aku yakin ia ingin
kau tinggal di sini."
"Ia bahagia kalau
tidak berurusan denganku, begitu juga sebaliknya," jawab Yunho kasar.
"Jangan bermanis-manis lagi. Kalau kaupikir Siwon sayang padaku, kau cuma
berkhayal."
"Aku tidak tahu apa
penyebab pertengkaran kalian dulu. Yang jelas, sekarang ia sakit parah, Yunho.
Ia sekarat. Janganlah mempersulit situasi yang sudah sulit."
"Siapa yang punya
gagasan menghubungi aku, kau atau Yoochun?"
"Siwon."
"Yoochun bilang
begitu. Tetapi aku tidak percaya."
"Tetapi begitulah
adanya."
"Kalau begiru, ia
punya alasan lain."
"Siwon ingin
melihat putranya sebelum meninggal!" teriak Jaejoong. "Itu alasan
yang cukup kuat!"
"Tidak untuk Siwon.
Ia manusia licik, manipulatif, bajingan. Andai ia ingin aku di sisinya
menjelang ajalnya, percayalah, ia pasti punya alasan."
"Tidak pantas
kaubicara seperti itu tentang Appamu padaku. Appamu suamiku."
"Itu
masalahmu."
.
.
.
"Jaejoong? Siapa… Oh,
Tuhan. Yunho!"
Boa menghambur keluar melewati pintu kasa lalu memeluk Yunho erat-erat. Yunho membalas pelukannya. Jaejoong berkaca-kaca ketika melihat kegetiran dan kesinisan di wajah Yunho berganti dengan senyum riang. Mata musangnya memancarkan kebahagiaan, giginya yang putih berkilat di balik senyumnya yang lebar.
Boa menghambur keluar melewati pintu kasa lalu memeluk Yunho erat-erat. Yunho membalas pelukannya. Jaejoong berkaca-kaca ketika melihat kegetiran dan kesinisan di wajah Yunho berganti dengan senyum riang. Mata musangnya memancarkan kebahagiaan, giginya yang putih berkilat di balik senyumnya yang lebar.
"Boa! Oh, aku
sangat merindukanmu."
"Seharusnya kau
lebih sering mengirim surat padaku," gerutu Boa sambil menegakkan tubuh
dan pura-pura marah.
"Maafkan aku,"
jawab Yunho singkat, sementara matanya tetap menyiratkan kebandelan seperti
dulu, saat Boa menangkap basah ia mencuri kue dari stoples. Dan ia selalu
berhasil meloloskan diri. Seperti yang dilakukannya sekarang lni.
"Jadi kau sudah
bertemu Jaejoong," kata Boa, sambil menatap keduanya dengan mata
berbinar-binar.
"Oh, ya. Aku sudah
bertemu Jaejoong. Kami sedang mengobrol."
Perempuan tua itu tidak
melihat lirikan mata yang sekilas dilemparkan Yunho kepada Jaejoong.
"Makanmu pasti tidak benar, aku yakin. Kerja keras mencari uang, muncul di
berbagai surat kabar terus, tetapi badanmu tetap saja seperti orang kurang
makan. Ayo masuk. Aku sudah menghangatkan makan malammu."
"Dan tteokbokki. Baunya tercium dari sini," goda Yunho,
sambil mendorong tubuh Boa ke pintu.
"Aku membuatnya
bukan khusus untukmu saja.
"Jangan begitu, Boa.
Kita kan sudah kenal lama."
"Kebetulan juga
kami masak bulgogi dan kimchi untuk makan malam."
Pada minggu-minggu
pertama kepindahannya sebagai nyonya rumah yang baru di Jung Mansion ini, Jaejoong
merasa dirinya seperti tamu tak diundang. Tetapi bulan-bulan berlalu. Sungmin
bisa menerimanya sebagai sahabat. Boa pun mulai menyukai dirinya. Tetapi saat
ini, melihat Yunho di rumah ini, mendengar derap sepatu botnya di lantai kayu
dan suaranya yang menggema di ruangan yang berlangit-langit tinggi, kembali Jaejoong
merasakan dirinya seperti orang asing. Yunho-lah pemilik rumah ini. Bukan dirinya.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Ketika mengikuti mereka
sampai ke dapur, Jaejoong melihat Boa menyuruh Yunho duduk di meja bundar dari
kayu ek yang penuh bermacam-macam hidangan. Yunho mengamati ruangan itu.
"Tak ada yang berubah," kata Yunho hangat.
"Dapurnya ku cat
lagi beberapa tahun yang lalu," ujar Boa. "Tetapi ku beritahu Appamu
aku tak akan mengganti warna catnya. Aku ingin segalanya tetap sama seperti
ketika kau masih tinggal di sini."
Yunho menelan, dan
menggeser-geser makanan di piringnya dengan garpu.
"Aku tidak akan tinggal di rumah ini selamanya, Boa. Hanya sampai Appa... kembali pulih seperti semula."
"Aku tidak akan tinggal di rumah ini selamanya, Boa. Hanya sampai Appa... kembali pulih seperti semula."
Tangan Boa yang sibuk
bekerja langsung berhenti. Ia menatap Yunho seperti menatap anak laki-laki
momongannya. "Aku tak ingin kau pergi dari rumah ini lagi, Yunho. Ini
rumahmu."
Mata Yunho melirik Jaejoong
sesaat, lalu kembali pada piring makanannya. "Tak ada gunanya lagi aku
tinggal di sini," ujar Yunho marah sebelum menyuapkan makanan ke mulut.
"Siapa bilang?
Masih ada Sungmin,"
Jaejoong mengingatkan Yunho dengan suara lembut. Karena tidak mau hanya berdiri di dekat pintu, Jaejoong memaksakan diri melangkah masuk ke dapur. Jaejoong tidak ingin Yunho tahu kedatangan pria itu di rumah ini membuatnya merasa terancam di rumahnya sendiri. Ia toh belum menjadi janda Siwon. Sebagai istri, Jaejoong merasa punya hak tetap tinggal di rumah ini. Jaejoong berjalan ke lemari es, mengambil segelas es teh yang sebetulnya tak diinginkannya.
Jaejoong mengingatkan Yunho dengan suara lembut. Karena tidak mau hanya berdiri di dekat pintu, Jaejoong memaksakan diri melangkah masuk ke dapur. Jaejoong tidak ingin Yunho tahu kedatangan pria itu di rumah ini membuatnya merasa terancam di rumahnya sendiri. Ia toh belum menjadi janda Siwon. Sebagai istri, Jaejoong merasa punya hak tetap tinggal di rumah ini. Jaejoong berjalan ke lemari es, mengambil segelas es teh yang sebetulnya tak diinginkannya.
"Diberkatilah dia, Yunho,"
ujar Boa sambil mengelap gelas yang sudah mengilap bersih. "Tiap hari ia
menyuruhku memeriksa kotak pos, kalau-kalau ada surat darimu. Demi dia, kau
tidak boleh meninggalkan rumah ini, kendati kau bertengkar hebat dengan Appamu."
"Aku benci tidak
bisa tinggal di sini untuk dia. Apakah ia baik-baik saja?" "Tentu,
tentu. Sangat cantik." "Bukan itu maksudku."
Boa meletakkan gelas di
meja. "Aku tahu yang kaumaksud," ujar Boa datar.
"Ya, Sungmin baik-baik saja. Aku tahu dari pertanyaan-pertanyaanmu tentang dia di dalam surat-suratmu bahwa kau tidak dapat membayangkan bagaimana keadaan Sungmin, Yunho. Sungmin memang tidak pandai secara akademis, tetapi banyak hal yang dipelajarinya dari sekelilingnya. Kau memang tidak ada di sini untuk melindunginya, tetapi perasaan posesifmu sekuat induk beruang terhadap anaknya. Sungmin tumbuh menjadi perempuan cantik. Ingat. Ia sudah dewasa sekarang, barangkali tak bisa lagi diperlakukan seperti benda rapuh yang mudah pecah. Ia perempuan muda yang cantik. Bila kebetulan warga setempat berjumpa dengannya, sedikit yang menyadari ia berbeda."
"Ya, Sungmin baik-baik saja. Aku tahu dari pertanyaan-pertanyaanmu tentang dia di dalam surat-suratmu bahwa kau tidak dapat membayangkan bagaimana keadaan Sungmin, Yunho. Sungmin memang tidak pandai secara akademis, tetapi banyak hal yang dipelajarinya dari sekelilingnya. Kau memang tidak ada di sini untuk melindunginya, tetapi perasaan posesifmu sekuat induk beruang terhadap anaknya. Sungmin tumbuh menjadi perempuan cantik. Ingat. Ia sudah dewasa sekarang, barangkali tak bisa lagi diperlakukan seperti benda rapuh yang mudah pecah. Ia perempuan muda yang cantik. Bila kebetulan warga setempat berjumpa dengannya, sedikit yang menyadari ia berbeda."
"Tetapi ia
berbeda," tukas Yunho.
"Tidak
terlalu," sela Jaejoong. "Ia tahu perkembangan dunia, tetapi emosinya
tidak stabil. Aku lebih mencemaskan kelabilan jiwanya ketimbang perkembangan
mentalnya. Andai orang yang dicintainya mengecewakannya, sakit hatinya pasti
sulit disembuhkan."
Mata Yunho tak beralih
sedikit pun dari wajah Jaejoong ketika ia mengelap mulutnya dengan serbet dari
bahan katun. Dilemparkannya serbet itu, lalu menarik kursinya dari meja.
"Terima kasih untuk ceramahnya, Jae Nuna. Akan selalu kucamkan hal
itu."
"Aku bukannya
bermaksud…"
"Begitulah yang kau
maksud," potong Yunho sambil mengambil teko soju, menuang isinya ke dalam
gelas.
"Jung Yunho, tidak
pantas kau bersikap begitu pada Jaejoong."
Boa terkejut melihat sikap bermusuhan kedua orang di hadapannya. Belum lima menit mereka berkenalan, tetapi sudah saling bermusuhan. Jelas Yunho tidak setuju Appanya mengambil wanita muda seperti Jaejoong sebagai istri. Namun Yunho sendiri sudah dua belas tahun meninggalkan rumah. Apakah ada pengaruh pernikahan Siwon bagi dirinya? Kecuali kalau menyangkut Jung Mansion.
"Mana tata krama yang eommamu dan aku ajarkan? Ingat, Jaejoong istri Appamu. Ia harus kau hormati sebagaimana mestinya."
Boa terkejut melihat sikap bermusuhan kedua orang di hadapannya. Belum lima menit mereka berkenalan, tetapi sudah saling bermusuhan. Jelas Yunho tidak setuju Appanya mengambil wanita muda seperti Jaejoong sebagai istri. Namun Yunho sendiri sudah dua belas tahun meninggalkan rumah. Apakah ada pengaruh pernikahan Siwon bagi dirinya? Kecuali kalau menyangkut Jung Mansion.
"Mana tata krama yang eommamu dan aku ajarkan? Ingat, Jaejoong istri Appamu. Ia harus kau hormati sebagaimana mestinya."
Yunho, yang terus
menatap Jaejoong, mencibir sinis. "Eomma tiriku. Aku selalu lupa hal
itu."
"Itu Sungmin
datang," seru Boa sambil memandang kedua orang yang ada di dapur tersebut.
"Jangan kacaukan hatinya, Yunho. Cukup satu kejutan yang harus ia terima
hari ini dan ia berhasil mengatasinya dengan baik."
.
.
Suara Sungmin yang lembut menembus pintu kasa sebelum ia membukanya. Sungmin berdiri tertegun. Tubuhnya yang ramping seperti patung dewi Yunani, diam tak bergerak di ambang pintu ketika melihat kakak laki-lakinya. Sesaat ia bengong, baru kemudian tampak berseri-seri, keceriaan terpancar di matanya, di pipinya, dan akhirnya seulas senyum ceria tersungging di bibirnya.
"Yunho oppa," panggilnya lirih.
.
Suara Sungmin yang lembut menembus pintu kasa sebelum ia membukanya. Sungmin berdiri tertegun. Tubuhnya yang ramping seperti patung dewi Yunani, diam tak bergerak di ambang pintu ketika melihat kakak laki-lakinya. Sesaat ia bengong, baru kemudian tampak berseri-seri, keceriaan terpancar di matanya, di pipinya, dan akhirnya seulas senyum ceria tersungging di bibirnya.
"Yunho oppa," panggilnya lirih.
Ia langsung menghambur
mendekati Yunho, melingkarkan tangannya yang kurus di leher kakak laki-lakinya
itu dan membenamkan wajah di leher kemeja Yunho. Yunho balas memeluk Sungmin,
mengangkatnya, lalu mengayun-ayunkannya ke depan dan ke belakang sambil tetap
mendekapnya. Matanya dipejamkannya rapat-rapat untuk menekan emosi yang
menguasai perasaannya. Sungminlah yang pertama melepaskan pelukan. Dengan
jemarinya yang kelihatan rapuh seperti tanpa semangat hidup, dielusnya wajah
kakak laki-lakinya, rambutnya, bahunya, seakan hendak meyakinkan diri bahwa
kakaknya benar-benar ada di hadapannya.
"Kau tinggi
sekali," komentar Sungmin. "Dan tegap." Sungmin tertawa,
memegang otot lengan Yunho.
"Kau cantik dan
begitu dewasa." Yunho mengamati tubuh Sungmin, gadis muda yang cantik dan
halus. Kemudian keduanya tertawa bahagia karena bisa berjumpa. Kembali mereka
berpelukan.
"Appa akan
meninggal, Yunho," ujar Sungmin serius ketika akhirnya mereka saling
melepaskan pelukan. "Jaejoong sudah memberitahumu...”
"Ya," jawab Yunho
pelan sambil menelusuri dagu adik perempuannya itu dengan jari telunjuknya.
"Tetapi sekarang
kau sudah ada di rumah. Boa, Jaejoong, dan Kyuhyun... Oh, ya ampun! Aku lupa
memperkenalkannya padamu."
Sungmin berbalik ke arah manajer kandang kuda itu, yang mengantarnya pulang dan sejak tadi berdiri di depan pintu kasa. Sungmin meraih tangannya dan menariknya maju.
"Cho Kyuhyun, ini kakakku, Yunho."
Sungmin berbalik ke arah manajer kandang kuda itu, yang mengantarnya pulang dan sejak tadi berdiri di depan pintu kasa. Sungmin meraih tangannya dan menariknya maju.
"Cho Kyuhyun, ini kakakku, Yunho."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

bermusuhan bgt ntu yun ma jae
ReplyDeleteKala misalnya Siwon beneran.....
ReplyDeleteGimana dengan Jae yah, duuuh Yunho Jaejoong ada apa sih di masalalu