Bola mata yang cokelat
itu tetap tak berkaca-kaca. Sungmin mendekatkan bunga daisy ke hidungnya dan
menciumnya. Kemudian ia menoleh pada Jaejoong lagi. "Ia akan ke surga,
kan?"
"Kurasa begitu...
Ya, ya, pasti, ke surga."
"Kalau begitu Appa
akan bersama Eomma lagi. Sudah lama Eomma berada di sana. Pasti Eomma senang
berjumpa dia. Dan aku masih tetap punya kau, Boa, dan Kyuhyun." Ia melirik
ke arah kandang kuda. "Dan Yunho. Yunho selalu mengirimiku surat setiap
minggu. Katanya ia selalu menyayangi dan merawatku. Apakah Yunho akan
melakukannya, Jaejoong?"
"Tentu saja." Jaejoong
mengatupkan bibir, menahan tangis. Akankah Yunho pernah menepati janji? Bahkan
terhadap adik perempuannya?
"Tetapi mengapa Yunho
tidak mau tinggal bersama kita?" tanya Sungmin.
"Mungkin ia akan
segera pulang." Jaejoong tidak ingin memberitahu Sungmin bahwa tidak lama
lagi Yunho memang akan tiba di rumah sampai ia melihat sendiri Yunho muncul.
Bittersweet Rain
© SANDRA BROWN
YunJae version © Kitahara Saki
Yunho, Jaejoong, Siwon, Kyuhyun, Sungmin © diri mereka sendiri
Sungmin jadi tenang.
"Kyuhyun menungguku. Kuda betinanya melahirkan semalam.
Ayo kita lihat."
Diraihnya tangan Jaejoong,
lalu ditariknya menuju kandang kuda. Jaejoong iri melihat kegembiraan Sungmin
dan berharap ia pun bisa menerima kematian Siwon dengan pikiran sesederhana
putri Siwon itu.
Udara di kandang kuda
hangat, berbaur dengan bau kuda, kulit, dan jerami yang tajam. "Kyuhyun,"
panggil Sungmin riang.
"Di sini,"
jawab suara bernada rendah.
Cho Kyuhyun bekerja sebagai manajer kandang kuda keluarga Jung.
Mengembangbiakkan kuda-kuda keturunan murni termasuk salah satu kesukaan Siwon,
tapi ia tidak terlalu memedulikan perawatan kuda. Cho Kyuhyun muncul dari
lorong salah satu kandang kuda. Tubuhnya tinggi, dan sangat tegap. Wajahnya
persegi dan kasar, tetapi terkadang terpancar ekspresi yang melembutkan
kekasarannya. Ia membiarkan rambutnya tumbuh panjang, seperti biasanya sehelai
bandana diikatkan di kepalanya, dan topi koboi dari jerami menutupi kepalanya.
Celana jinsnya sudah tua dan kumal, sepatu botnya penuh debu, kemejanya penuh
bercak keringat. Tetapi ia tersenyum berseri-seri ketika melihat Jung Sungmin
berlari mendekatinya. Hanya saja, sorot kepedihan dan keputusasaan tak pernah
lenyap dari matanya, kendati bibirnya tersenyum. Wajahnya kelihatan lebih tua
daripada usianya, yang baru tiga puluh tujuh tahun.
"Kyuhyun, kami
ingin melihat anak kuda itu," kata Jung Sungmin terengah-engah.
"Di sana." Kyuhyun
menoleh ke arah kandang kuda yang baru ditinggalkannya.
Sungmin masuk ke kandang
kuda. Kyuhyun menatap Jaejoong dengan pandangan bertanya. "Kanker,"
ujar Jaejoong menjawab pertanyaan Kyuhyun yang tak terucap. "Tinggal
menunggu waktu."
Kyuhyun menyumpah pelan
sambil memandang perempuan muda yang berlutut di tumpukan jerami, mengelus-elus
anak kuda. "Kau sudah memberitahunya?"
"Ya. Ia bisa
menerimanya lebih baik daripada kita semua."
Kyuhyun menggangguk dan
tersenyum sendu pada Jaejoong. "Ya. Pasti."
"Oh, Kyuhyun. Anak
kuda betina ini cantik sekali ya?"
Kyuhyun menepuk bahu Jaejoong
dengan penuh kesadaran, kemudian masuk ke dalam kandang. Jaejoong mengikutinya,
dan mengawasinya saat pria itu dengan gerakan kaku berlutut di sebelah Sungmin.
Perang Vietnam membuat Kyuhyun kehilangan separo kaki kirinya. Ia tidak kentara
memakai kaki palsu, kecuali bila ia harus berlutut, seperti saat itu.
"Ia cantik sekali,
kan? Dan induknya kelihatan sangat bangga pada anaknya." Kyuhyun mengelus
surai kuda betina itu, tetapi matanya tetap tertuju pada Jung Sungmin. Jaejoong
terus memerhatikannya, ketika Kyuhyun menjulurkan tangan untuk menjumput jerami
yang menempel di rambut Jung Sungmin. Jari-jarinya mengelus pipi Jung Sungmin
yang sangat halus. Jung Sungmin menatap Kyuhyun dan mereka saling tersenyum.
Sejenak Jaejoong
tertegun menyaksikan kemesraan di antara kedua orang itu. Apakah mereka saling
mengasihi? Jaejoong bingung mendapati kenyataan ini. Jaejoong bersikap taktis,
ia berniat meninggalkan tempat itu, tetapi Kyuhyun melihatnya. "Nyonya
Jung, bila ada yang bisa saya lakukan..." Kyuhyun tak melanjutkan
kata-katanya.
"Terima kasih, Kyuhyun.
Untuk sementara ini lakukan saja apa yang menjadi tugasmu seperti biasa."
"Baik, Nyonya Jung."
Kyuhyun tahu, Jaejoonglah yang menolongnya bisa menjadi karyawan Siwon.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Wanita
itu masih karyawan Siwon ketika Cho Kyuhyun melamar pekerjaan sebagai manajer
kandang kuda, dengan memanfaatkan air muka penuh kegetiran sebagai senjatanya
di hadapan Siwon. Rambutnya diekor kuda sampai punggung, rompinya yang terbuat
dari bahan denim dipenuhi lencana perdamaian dan tambalan slogan antiperang dan
anti-Amerika. Dengan air mukanya yang masam dan tampak suka berkelahi, Kyuhyun
menantang Siwon untuk berani memberikan pekerjaan, kesempatan padanya, sementara
banyak orang lain yang menolak.
Jaejoong tahu akal
muslihat Kyuhyun dan bisa menebak bagaimana karakter pria itu yang sebenarnya.
Ia orang yang putus asa. Jaejoong otomatis merasa dekat dengannya. Jaejoong
tahu bagaimana sakitnya hidup dengan predikat tertentu, tahu bagaimana rasanya
bila orang menilai diri kita dari penampilan dan latar belakang kehidupan yang
tidak bisa kita tolak. Karena veteran perang itu mengatakan pernah bekerja di
peternakan kuda di California sebelum perang, Jaejoong membujuk Siwon agar
bersedia mempekerjakannya.
Siwon tak pernah
menyesali keputusannya menerima Kyuhyun. Kyuhyun memotong pendek rambutnya dan
mengubah penampilannya, seakan hendak mengatakan tak perlu lagi ia memamerkan
simbol-simbol pemberontakannya. Ia bekerja giat, sepenuh hati, dan membuktikan
kemahirannya dalam merawat kuda-kuda keturunan murni. Pria itu hanya butuh
dukungan untuk memantapkan rasa percaya dirinya.
Jaejoong merenungkan
semua itu ketika kembali ke rumah. Kyuhyun dan Sungmin saling mencintai. Ia menggeleng,
tersenyum, saat memasuki serambi.
.
.
Telepon berdering, secara otomatis ia mengangkatnya sebelum Boa.
"Halo?"
.
.
Telepon berdering, secara otomatis ia mengangkatnya sebelum Boa.
"Halo?"
"Jaejoong, ini Yoochun."
"Ya?"
"Aku sudah bicara
dengan Yunho. Ia akan datang secepatnya, mungkin malam ini."
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Banyak hal yang harus
diselesaikan petang itu, banyak orang yang harus diberitahu. Siwon tidak punya
sanak saudara kecuali putra dan putrinya, karena itu masalah kerabat tak perlu
dipikirkan. Tetapi penduduk kota, juga warga Seoul, ingin tahu penyakit Siwon.
Jaejoong berbagi tugas dengan Yoochun untuk menghubungi mereka lewat telepon.
"Boa, sebaiknya
segera siapkan kamar Yunho. Dia akan datang malam ini."
Mendengar berita itu,
pengurus rumah tangga tersebut tampak seperti ingin menangis.
"Puji Tuhan, Puji Tuhan. Aku sudah lama berdoa agar anakku yang satu itu mau pulang. Ibunya yang di surga pasti menari-nari hari ini. Pasti ia senang sekali. Yang dibutuhkan kamar itu hanya seprai baru. Aku selalu membersihkannya, kalau-kalau suatu hari ia kembali menempatinya. Tuhan, Tuhan, aku ingin sekali segera berjumpa dengannya."
"Puji Tuhan, Puji Tuhan. Aku sudah lama berdoa agar anakku yang satu itu mau pulang. Ibunya yang di surga pasti menari-nari hari ini. Pasti ia senang sekali. Yang dibutuhkan kamar itu hanya seprai baru. Aku selalu membersihkannya, kalau-kalau suatu hari ia kembali menempatinya. Tuhan, Tuhan, aku ingin sekali segera berjumpa dengannya."
.
.
Jaejoong berusaha tidak memikirkan saat ketika ia harus berjumpa anak kesayangan itu, berbicara dengannya. Ia menyibukkan diri dengan setumpuk tugas yang harus diselesaikannya.
.
Jaejoong berusaha tidak memikirkan saat ketika ia harus berjumpa anak kesayangan itu, berbicara dengannya. Ia menyibukkan diri dengan setumpuk tugas yang harus diselesaikannya.
Ia juga tidak memikirkan
kematian Siwon yang semakin dekat. Itu akan dipikirkannya nanti, saat ia
sendirian. Tidak juga waktu ia berkunjung ke rumah sakit petang hari itu dan
duduk di samping ranjang suaminya, ia tidak membiarkan benaknya dipenuhi
pikiran Siwon takkan pernah meninggalkan tempat itu, Suaminya masih di bawah
pengaruh obat bius, tetapi Jaejoong merasa tangannya ditekan pelan waktu ia
menggenggam tangan Siwon dan meremasnya sebelum pamit.
Saat makan malam, ia
memberitahu Jung Sungmin tentang kabar kepulangan Yunho. Gadis itu melompat dari
kursi, menyambar tangan Boa, dan menari-nari mengelilingi ruangan.
"Ia memang berjanji suatu hari akan pulang, bukan, Boa? Sekarang Yunho pulang. Aku ingin memberitahu Kyuhyun." Sungmin langsung lari keluar lewat pintu belakang menuju kandang kuda, ke tempat tinggal Kyuhyun.
"Ia memang berjanji suatu hari akan pulang, bukan, Boa? Sekarang Yunho pulang. Aku ingin memberitahu Kyuhyun." Sungmin langsung lari keluar lewat pintu belakang menuju kandang kuda, ke tempat tinggal Kyuhyun.
"Gadis itu akan
mempermalukan dirinya sendiri bila ia tidak membiarkan pemuda itu sendirian."
Jaejoong tersenyum penuh
arti.
"Aku tidak berpendapat begitu."
Boa menengadah dan menaikkan alis karena penasaran, tetapi Jaejoong tidak meneruskan kata-katanya. Ia mengambil gelas es teh lalu berjalan ke teras depan. Waktu duduk di kursi goyang bercat putih, ia menyandarkan kepala pada bantalan kursi bersarung kain kembang-kembang dan memejamkan mata.
"Aku tidak berpendapat begitu."
Boa menengadah dan menaikkan alis karena penasaran, tetapi Jaejoong tidak meneruskan kata-katanya. Ia mengambil gelas es teh lalu berjalan ke teras depan. Waktu duduk di kursi goyang bercat putih, ia menyandarkan kepala pada bantalan kursi bersarung kain kembang-kembang dan memejamkan mata.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Inilah saat yang paling
disukainya ketika menghuni Jung mansion, waktu hari menjelang malam, ketika
sinar lampu di dalam rumah menyelinap ke luar dari celah-celah jendela, yang
kelihatan seperti kemilau permata. Bayang-bayang memanjang dan berwarna-warni,
saling menyatu sehingga tak ada sudut atau bentuk yang jelas.
Warna langitnya sangat
khas, gradasi ungu yang cantik. Pepohonan menjulang di latar depannya. Kodok
mengorek di sungai. Suara jangkerik menggema di udara tak berangin dan lembap
dengan nada tinggi melengking. Tanah di delta itu menyebarkan bau yang subur.
Setiap kuntum bunga menghamburkan harum yang unik dan memabukkan.
.
.
Setelah lama beristirahat, Jaejoong membuka mata. Ketika itulah ia melihat pria tersebut.
.
Setelah lama beristirahat, Jaejoong membuka mata. Ketika itulah ia melihat pria tersebut.
Ia berdiri tak bergerak
di bawah dahan pohon ek yang menjulur. Jantung Jaejoong seperti berhenti
berdetak dan pandangannya kabur. Ia tidak tahu apakah sosok pria itu sungguhan
atau hanya ilusi. Kepalanya pening, dicengkeramnya gelas es teh erat-erat
supaya tidak lolos dari cengkeraman jemarinya yang kaku dan dingin.
Pria tersebut bergerak
menjauh dari dahan pohon dengan gerakan seperti harimau dan dalam diam, makin
lama makin dekat sampai akhirnya ia tiba di anak tangga batu yang menuju teras.
Ia hanya salah satu dari
banyak bayangan yang ada, tetapi siluet maskulinnya jelas terlihat ketika ia
berdiri dengan kaki terbuka lebar. Secara fisik, waktu tampaknya bermurah hati
padanya. Ia tidak lebih kurus daripada saat pertama kali Jaejoong berjumpa
dengannya. Kegelapan malam menyembunyikan wajah pria itu dari pandangan Jaejoong,
tetapi Jaejoong dapat melihat kilatan giginya yang putih ketika ia mulai
tersenyum.
Senyumnya ramah,
sebagaimana juga nada bicaranya.
"Well, kalau tak
salah, kau Kim Jaejoong."
Ia meletakkan sebelah kakinya yang mengenakan sepatu bot di anak tangga dan membungkukkan badan, satu tangan bertopang di lutut. Ia menatap Jaejoong, sinar lampu dari pintu utama menerpa wajahnya. Dada Jaejoong terasa sesak oleh perasaan sakit... dan cinta.
"Ya, tapi sekarang sudah menjadi Jung, bukan?"
Ia meletakkan sebelah kakinya yang mengenakan sepatu bot di anak tangga dan membungkukkan badan, satu tangan bertopang di lutut. Ia menatap Jaejoong, sinar lampu dari pintu utama menerpa wajahnya. Dada Jaejoong terasa sesak oleh perasaan sakit... dan cinta.
"Ya, tapi sekarang sudah menjadi Jung, bukan?"
Wajah itu! Wajah yang
selalu muncul dalam mimpi-mimpi dan khayalannya. Wajah tetap paling memesona
yang pernah dilihatnya. Tampan ketika berusia dua puluhan, dan makin tampan
dalam usia tiga puluhan. Rambut hitam, yang bagai menggambarkan keliaran
jiwanya dengan helai-helainya yang tak bisa dikendalikan. Sorot matanya, yang
memikat Jaejoong sejak pertama kali melihatnya, menggugah perasaannya lagi.
Orang yang tidak punya imajinasi akan menyebutnya cokelat muda. Padahal
warnanya keemasan, seperti warna madu murni, liquor paling mahal, seperti batu
ratna cempaka berkilau.
Terakhir kali ia
berjumpa pria itu, mata tersebut penuh gairah. Besok... Besok, sayangku. Di
sini. Di tempat kita ini. Oh, Tuhan, Jaejoong, cium aku lagi. Kemudian: Besok,
besok. Hanya saja ia tidak muncul keesokan harinya, dan selamanya.
"Lucu,"
komentarnya dengan nada yang membuat Jaejoong berpikir sebaliknya, "kita
menyandang nama keluarga yang sama."
Tak ada tanggapan untuk
yang satu itu. Ingin rasanya Jaejoong berteriak bahwa mereka bisa memakai nama
keluarga yang sama beberapa tahun yang lalu andai pria itu bukan penipu, andai
ia tidak mengkhianatinya. Ada beberapa hal yang lebih baik tidak diungkapkan.
"Aku tidak melihat mobilmu."
"Aku tidak melihat mobilmu."
"Aku terbang,
mendarat, dan berjalan kaki kesini.
Landasan pacu kira-kira
satu setengah kilo-meter jauhnya. "Oh. Mengapa?"
"Mungkin karena
ingin tahu bagaimana sambutan yang akan kuterima."
"Ini kan rumahmu, Yunho."
Ia memaki. "Yeah,
tentu rumahku."
Jaejoong membasahi bibir
dengan lidah dan berharap punya keberanian untuk tetap menghadapinya. Ia takut
kakinya tak mampu menopang tubuhnya.
"Kau tidak menanyakan kabar ayahmu."
"Kau tidak menanyakan kabar ayahmu."
"Yoochun sudah
memberitahu aku."
"Kalau begitu kau
tahu ia sekarat."
"Ya. Dan ia ingin
bertemu aku. Rupanya keajaiban tak pernah lenyap."
Komentarnya yang
menyakitkan itu membuat Jaejoong bangkit dari duduk tanpa berpikir dua kali.
"Ia sakit keras, Yunho. Bukan seperti yang kaukenal dulu."
"Andai masih
tersisa satu tarikan napas dalam tubuhnya pun, ia persis seperti aku
mengingatnya."
"Aku tak mau
berdebat denganmu tentang hal itu."
"Aku bukan
berdebat."
"Dan aku takkan
membiarkan kau mengecewakannya, Sungmin dan Boa. Mereka ingin bertemu
denganmu."
"Kau tidak akan
membiarkan? Astaga, astaga. Kau betul-betul menganggap dirimu nyonya rumah Jung
mansion, ya?"
"Tolonglah, Yunho.
Beberapa minggu ke depan segalanya akan cukup sulit tanpa...."
"Aku tahu, aku
tahu." Tarikan napas panjangnya terdengar sampai ke tempat Jaejoong
berdiri tegang di teras, tangannya mengepal erat. Ia meletakkan gelas es teh di
pagar teras karena takut menjatuhkannya.
"Aku juga tidak sabar hendak bertemu mereka," katanya dan melirik ke arah kandang kuda. "Aku lihat Sungmin keluar dari rumah itu beberapa saat yang lalu, tetapi aku tidak ingin muncul tiba-tiba dalam gelap dan mengejutkannya. Aku mengingatnya sebagai gadis kecil. Tak kusangka ia sudah dewasa sekarang."
"Aku juga tidak sabar hendak bertemu mereka," katanya dan melirik ke arah kandang kuda. "Aku lihat Sungmin keluar dari rumah itu beberapa saat yang lalu, tetapi aku tidak ingin muncul tiba-tiba dalam gelap dan mengejutkannya. Aku mengingatnya sebagai gadis kecil. Tak kusangka ia sudah dewasa sekarang."
Ingatan akan Sungmin dan
Kyuhyun yang berlutut di tumpukan jerami di kandang kuda, jari-jari Kyuhyun
mengelus pipi Sungmin, melintas di benak Jaejoong. Ia tidak tahu apa pendapat Yunho
bila tahu hubungan asmara adik perempuannya itu. Ia jadi resah menerka-nerka.
"Ia perempuan dewasa sekarang, Yunho."
"Ia perempuan dewasa sekarang, Yunho."
Jaejoong merasakan
tatapan mata Yunho pada dirinya, menelusuri, menganalisis, menilai. Tubuhnya
seperti dilumuri Anggur yang menyentuh setiap inci.
"Dan kau," katanya lembut. "Kau juga perempuan dewasa sekarang, bukan, Jaejoong? Perempuan dewasa."
"Dan kau," katanya lembut. "Kau juga perempuan dewasa sekarang, bukan, Jaejoong? Perempuan dewasa."
Jaejoong sama sekali
tidak berubah. Kecantikan gadis lima belas tahun yang dikenalnya kini
mendewasa. Ia berharap bertemu Jaejoong yang gendut, kumal, kusut, berambut kusam,
dan berpaha besar. Ternyata ia masih ramping, dengan pinggang yang seolah akan
patah bila ditiup angin. Dadanya berisi dan lembut, namun tetap tegak, bulat,
dan mengundang. Sialan! Seberapa sering ayahnya menyentuhnya?
Ia menaiki anak tangga
perlahan-lahan, seperti pemangsa yang kelaparan tetapi hendak menyiksa korban
sebelum melahapnya. Mata musangnya, berkilat dalam kegelapan, nanar menatap Jaejoong.
Senyum lebar di bibir hatinya menyiratkan pemahaman yang licik, seakan pria itu
tahu apa yang ada dalam benak Jaejoong yang ingin dilupakannya, bagaimana bibir
pria itu menyentuh bibirnya, lehernya, dadanya.
Jaejoong berbalik.
"Aku panggilkan Boa. Mungkin ia...."
Tangan Yunho menyambar
pinggang Jaejoong, membuat langkahnya terhenti. Ia memaksa Jaejoong menghadap
ke arahnya
"Tunggu sebentar," katanya tenang. "Setelah dua belas tahun, tidakkah kau merasa kita bisa saling menyapa dengan lebih akrab?"
"Tunggu sebentar," katanya tenang. "Setelah dua belas tahun, tidakkah kau merasa kita bisa saling menyapa dengan lebih akrab?"
Tangannya yang bebas
menyentuh tengkuk Jaejoong dan mendorong wajah wanita itu ke wajahnya.
"Ingat, kita sekarang keluarga," bisiknya dengan nada mengejek.
Kemudian bibirnya mencium bibir Jaejoong, kasar dan penuh kemarahan. Diciuminya bibir Jaejoong dengan liar, seakan hendak menghukumnya karena malam-malam ketika ia memikirkan Jaejoong, Jaejoongnya yang polos, yang berbagi tempat tidur, tubuhnya, dengan ayahnya.
Kemudian bibirnya mencium bibir Jaejoong, kasar dan penuh kemarahan. Diciuminya bibir Jaejoong dengan liar, seakan hendak menghukumnya karena malam-malam ketika ia memikirkan Jaejoong, Jaejoongnya yang polos, yang berbagi tempat tidur, tubuhnya, dengan ayahnya.
Jaejoong menyarangkan
tinju ke dada pria itu. Terdengar suara mengerang keras. Lututnya lemas. Ia berusaha
memberontak. Ia memberontak lebih keras. Karena ia ingin memeluk laki-laki itu,
mendekapnya erat, merasakan kembali getaran yang pernah dirasakannya ketika
berada dalam pelukannya.
Tetapi ini bukanlah
pelukan, ini penghinaan. Ia bergulat sekuat tenaga untuk membebaskan bibirnya.
Ketika ia berhasil
melepaskan diri, Yunho memasukkan tangan ke saku celana jinsnya dan tersenyum
mengejek penuh kemenangan melihat ekspresi marah dan bibir merah Jaejoong.
"Salam, Mom," dengusnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

jae gk tw hrs bersikap apa ma yun
ReplyDeleteJae tumbuh menjadi wanita yang indah dan sexy sekarang. Yunho dulu mengkhianati Jae ? Aw~ benarkah?
ReplyDeleteYun ingin memiliki Jae eoh? aku sih gak apa-apa hehege