Thursday, February 20

[Remake] Bittersweet Rain Chapter 02

Bola mata yang cokelat itu tetap tak berkaca-kaca. Sungmin mendekatkan bunga daisy ke hidungnya dan menciumnya. Kemudian ia menoleh pada Jaejoong lagi. "Ia akan ke surga, kan?"
"Kurasa begitu... Ya, ya, pasti, ke surga."
"Kalau begitu Appa akan bersama Eomma lagi. Sudah lama Eomma berada di sana. Pasti Eomma senang berjumpa dia. Dan aku masih tetap punya kau, Boa, dan Kyuhyun." Ia melirik ke arah kandang kuda. "Dan Yunho. Yunho selalu mengirimiku surat setiap minggu. Katanya ia selalu menyayangi dan merawatku. Apakah Yunho akan melakukannya, Jaejoong?"
"Tentu saja." Jaejoong mengatupkan bibir, menahan tangis. Akankah Yunho pernah menepati janji? Bahkan terhadap adik perempuannya?
"Tetapi mengapa Yunho tidak mau tinggal bersama kita?" tanya Sungmin.
"Mungkin ia akan segera pulang." Jaejoong tidak ingin memberitahu Sungmin bahwa tidak lama lagi Yunho memang akan tiba di rumah sampai ia melihat sendiri Yunho muncul.
Bittersweet Rain
© SANDRA BROWN
YunJae version © Kitahara Saki
Yunho, Jaejoong, Siwon, Kyuhyun, Sungmin © diri mereka sendiri



Sungmin jadi tenang. "Kyuhyun menungguku. Kuda betinanya melahirkan semalam. Ayo kita lihat."
Diraihnya tangan Jaejoong, lalu ditariknya menuju kandang kuda. Jaejoong iri melihat kegembiraan Sungmin dan berharap ia pun bisa menerima kematian Siwon dengan pikiran sesederhana putri Siwon itu.
Udara di kandang kuda hangat, berbaur dengan bau kuda, kulit, dan jerami yang tajam. "Kyuhyun," panggil Sungmin riang.
"Di sini," jawab suara bernada rendah.
Cho Kyuhyun bekerja sebagai manajer kandang kuda keluarga Jung. Mengembangbiakkan kuda-kuda keturunan murni termasuk salah satu kesukaan Siwon, tapi ia tidak terlalu memedulikan perawatan kuda. Cho Kyuhyun muncul dari lorong salah satu kandang kuda. Tubuhnya tinggi, dan sangat tegap. Wajahnya persegi dan kasar, tetapi terkadang terpancar ekspresi yang melembutkan kekasarannya. Ia membiarkan rambutnya tumbuh panjang, seperti biasanya sehelai bandana diikatkan di kepalanya, dan topi koboi dari jerami menutupi kepalanya. Celana jinsnya sudah tua dan kumal, sepatu botnya penuh debu, kemejanya penuh bercak keringat. Tetapi ia tersenyum berseri-seri ketika melihat Jung Sungmin berlari mendekatinya. Hanya saja, sorot kepedihan dan keputusasaan tak pernah lenyap dari matanya, kendati bibirnya tersenyum. Wajahnya kelihatan lebih tua daripada usianya, yang baru tiga puluh tujuh tahun.
"Kyuhyun, kami ingin melihat anak kuda itu," kata Jung Sungmin terengah-engah.
"Di sana." Kyuhyun menoleh ke arah kandang kuda yang baru ditinggalkannya.
Sungmin masuk ke kandang kuda. Kyuhyun menatap Jaejoong dengan pandangan bertanya. "Kanker," ujar Jaejoong menjawab pertanyaan Kyuhyun yang tak terucap. "Tinggal menunggu waktu."
Kyuhyun menyumpah pelan sambil memandang perempuan muda yang berlutut di tumpukan jerami, mengelus-elus anak kuda. "Kau sudah memberitahunya?"
"Ya. Ia bisa menerimanya lebih baik daripada kita semua."
Kyuhyun menggangguk dan tersenyum sendu pada Jaejoong. "Ya. Pasti."
"Oh, Kyuhyun. Anak kuda betina ini cantik sekali ya?"
Kyuhyun menepuk bahu Jaejoong dengan penuh kesadaran, kemudian masuk ke dalam kandang. Jaejoong mengikutinya, dan mengawasinya saat pria itu dengan gerakan kaku berlutut di sebelah Sungmin. Perang Vietnam membuat Kyuhyun kehilangan separo kaki kirinya. Ia tidak kentara memakai kaki palsu, kecuali bila ia harus berlutut, seperti saat itu.
"Ia cantik sekali, kan? Dan induknya kelihatan sangat bangga pada anaknya." Kyuhyun mengelus surai kuda betina itu, tetapi matanya tetap tertuju pada Jung Sungmin. Jaejoong terus memerhatikannya, ketika Kyuhyun menjulurkan tangan untuk menjumput jerami yang menempel di rambut Jung Sungmin. Jari-jarinya mengelus pipi Jung Sungmin yang sangat halus. Jung Sungmin menatap Kyuhyun dan mereka saling tersenyum.
Sejenak Jaejoong tertegun menyaksikan kemesraan di antara kedua orang itu. Apakah mereka saling mengasihi? Jaejoong bingung mendapati kenyataan ini. Jaejoong bersikap taktis, ia berniat meninggalkan tempat itu, tetapi Kyuhyun melihatnya. "Nyonya Jung, bila ada yang bisa saya lakukan..." Kyuhyun tak melanjutkan kata-katanya.
"Terima kasih, Kyuhyun. Untuk sementara ini lakukan saja apa yang menjadi tugasmu seperti biasa."
"Baik, Nyonya Jung." Kyuhyun tahu, Jaejoonglah yang menolongnya bisa menjadi karyawan Siwon.
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Wanita itu masih karyawan Siwon ketika Cho Kyuhyun melamar pekerjaan sebagai manajer kandang kuda, dengan memanfaatkan air muka penuh kegetiran sebagai senjatanya di hadapan Siwon. Rambutnya diekor kuda sampai punggung, rompinya yang terbuat dari bahan denim dipenuhi lencana perdamaian dan tambalan slogan antiperang dan anti-Amerika. Dengan air mukanya yang masam dan tampak suka berkelahi, Kyuhyun menantang Siwon untuk berani memberikan pekerjaan, kesempatan padanya, sementara banyak orang lain yang menolak.
Jaejoong tahu akal muslihat Kyuhyun dan bisa menebak bagaimana karakter pria itu yang sebenarnya. Ia orang yang putus asa. Jaejoong otomatis merasa dekat dengannya. Jaejoong tahu bagaimana sakitnya hidup dengan predikat tertentu, tahu bagaimana rasanya bila orang menilai diri kita dari penampilan dan latar belakang kehidupan yang tidak bisa kita tolak. Karena veteran perang itu mengatakan pernah bekerja di peternakan kuda di California sebelum perang, Jaejoong membujuk Siwon agar bersedia mempekerjakannya.
Siwon tak pernah menyesali keputusannya menerima Kyuhyun. Kyuhyun memotong pendek rambutnya dan mengubah penampilannya, seakan hendak mengatakan tak perlu lagi ia memamerkan simbol-simbol pemberontakannya. Ia bekerja giat, sepenuh hati, dan membuktikan kemahirannya dalam merawat kuda-kuda keturunan murni. Pria itu hanya butuh dukungan untuk memantapkan rasa percaya dirinya.
Jaejoong merenungkan semua itu ketika kembali ke rumah. Kyuhyun dan Sungmin saling mencintai. Ia menggeleng, tersenyum, saat memasuki serambi. 
.
.
Telepon berdering, secara otomatis ia mengangkatnya sebelum Boa. 
"Halo?"
"Jaejoong, ini Yoochun."
"Ya?"
"Aku sudah bicara dengan Yunho. Ia akan datang secepatnya, mungkin malam ini."
.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Banyak hal yang harus diselesaikan petang itu, banyak orang yang harus diberitahu. Siwon tidak punya sanak saudara kecuali putra dan putrinya, karena itu masalah kerabat tak perlu dipikirkan. Tetapi penduduk kota, juga warga Seoul, ingin tahu penyakit Siwon. Jaejoong berbagi tugas dengan Yoochun untuk menghubungi mereka lewat telepon.
"Boa, sebaiknya segera siapkan kamar Yunho. Dia akan datang malam ini."
Mendengar berita itu, pengurus rumah tangga tersebut tampak seperti ingin menangis. 
"Puji Tuhan, Puji Tuhan. Aku sudah lama berdoa agar anakku yang satu itu mau pulang. Ibunya yang di surga pasti menari-nari hari ini. Pasti ia senang sekali. Yang dibutuhkan kamar itu hanya seprai baru. Aku selalu membersihkannya, kalau-kalau suatu hari ia kembali menempatinya. Tuhan, Tuhan, aku ingin sekali segera berjumpa dengannya."
.
.
Jaejoong berusaha tidak memikirkan saat ketika ia harus berjumpa anak kesayangan itu, berbicara dengannya. Ia menyibukkan diri dengan setumpuk tugas yang harus diselesaikannya.
Ia juga tidak memikirkan kematian Siwon yang semakin dekat. Itu akan dipikirkannya nanti, saat ia sendirian. Tidak juga waktu ia berkunjung ke rumah sakit petang hari itu dan duduk di samping ranjang suaminya, ia tidak membiarkan benaknya dipenuhi pikiran Siwon takkan pernah meninggalkan tempat itu, Suaminya masih di bawah pengaruh obat bius, tetapi Jaejoong merasa tangannya ditekan pelan waktu ia menggenggam tangan Siwon dan meremasnya sebelum pamit.
Saat makan malam, ia memberitahu Jung Sungmin tentang kabar kepulangan Yunho. Gadis itu melompat dari kursi, menyambar tangan Boa, dan menari-nari mengelilingi ruangan. 
"Ia memang berjanji suatu hari akan pulang, bukan, Boa? Sekarang Yunho pulang. Aku ingin memberitahu Kyuhyun." Sungmin langsung lari keluar lewat pintu belakang menuju kandang kuda, ke tempat tinggal Kyuhyun.
"Gadis itu akan mempermalukan dirinya sendiri bila ia tidak membiarkan pemuda itu sendirian."
Jaejoong tersenyum penuh arti.
"Aku tidak berpendapat begitu."
Boa menengadah dan menaikkan alis karena penasaran, tetapi Jaejoong tidak meneruskan kata-katanya. Ia mengambil gelas es teh lalu berjalan ke teras depan. Waktu duduk di kursi goyang bercat putih, ia menyandarkan kepala pada bantalan kursi bersarung kain kembang-kembang dan memejamkan mata.

.
.
_Kitahara Saki_
.
.
Inilah saat yang paling disukainya ketika menghuni Jung mansion, waktu hari menjelang malam, ketika sinar lampu di dalam rumah menyelinap ke luar dari celah-celah jendela, yang kelihatan seperti kemilau permata. Bayang-bayang memanjang dan berwarna-warni, saling menyatu sehingga tak ada sudut atau bentuk yang jelas.
Warna langitnya sangat khas, gradasi ungu yang cantik. Pepohonan menjulang di latar depannya. Kodok mengorek di sungai. Suara jangkerik menggema di udara tak berangin dan lembap dengan nada tinggi melengking. Tanah di delta itu menyebarkan bau yang subur. Setiap kuntum bunga menghamburkan harum yang unik dan memabukkan.
.

Setelah lama beristirahat, Jaejoong membuka mata. Ketika itulah ia melihat pria tersebut.
Ia berdiri tak bergerak di bawah dahan pohon ek yang menjulur. Jantung Jaejoong seperti berhenti berdetak dan pandangannya kabur. Ia tidak tahu apakah sosok pria itu sungguhan atau hanya ilusi. Kepalanya pening, dicengkeramnya gelas es teh erat-erat supaya tidak lolos dari cengkeraman jemarinya yang kaku dan dingin.
Pria tersebut bergerak menjauh dari dahan pohon dengan gerakan seperti harimau dan dalam diam, makin lama makin dekat sampai akhirnya ia tiba di anak tangga batu yang menuju teras.
Ia hanya salah satu dari banyak bayangan yang ada, tetapi siluet maskulinnya jelas terlihat ketika ia berdiri dengan kaki terbuka lebar. Secara fisik, waktu tampaknya bermurah hati padanya. Ia tidak lebih kurus daripada saat pertama kali Jaejoong berjumpa dengannya. Kegelapan malam menyembunyikan wajah pria itu dari pandangan Jaejoong, tetapi Jaejoong dapat melihat kilatan giginya yang putih ketika ia mulai tersenyum.
Senyumnya ramah, sebagaimana juga nada bicaranya.
"Well, kalau tak salah, kau Kim Jaejoong."
Ia meletakkan sebelah kakinya yang mengenakan sepatu bot di anak tangga dan membungkukkan badan, satu tangan bertopang di lutut. Ia menatap Jaejoong, sinar lampu dari pintu utama menerpa wajahnya. Dada Jaejoong terasa sesak oleh perasaan sakit... dan cinta. 
"Ya, tapi sekarang sudah menjadi Jung, bukan?"
Wajah itu! Wajah yang selalu muncul dalam mimpi-mimpi dan khayalannya. Wajah tetap paling memesona yang pernah dilihatnya. Tampan ketika berusia dua puluhan, dan makin tampan dalam usia tiga puluhan. Rambut hitam, yang bagai menggambarkan keliaran jiwanya dengan helai-helainya yang tak bisa dikendalikan. Sorot matanya, yang memikat Jaejoong sejak pertama kali melihatnya, menggugah perasaannya lagi. Orang yang tidak punya imajinasi akan menyebutnya cokelat muda. Padahal warnanya keemasan, seperti warna madu murni, liquor paling mahal, seperti batu ratna cempaka berkilau.
Terakhir kali ia berjumpa pria itu, mata tersebut penuh gairah. Besok... Besok, sayangku. Di sini. Di tempat kita ini. Oh, Tuhan, Jaejoong, cium aku lagi. Kemudian: Besok, besok. Hanya saja ia tidak muncul keesokan harinya, dan selamanya.
"Lucu," komentarnya dengan nada yang membuat Jaejoong berpikir sebaliknya, "kita menyandang nama keluarga yang sama."
Tak ada tanggapan untuk yang satu itu. Ingin rasanya Jaejoong berteriak bahwa mereka bisa memakai nama keluarga yang sama beberapa tahun yang lalu andai pria itu bukan penipu, andai ia tidak mengkhianatinya. Ada beberapa hal yang lebih baik tidak diungkapkan. 
"Aku tidak melihat mobilmu."
"Aku terbang, mendarat, dan berjalan kaki kesini.
Landasan pacu kira-kira satu setengah kilo-meter jauhnya. "Oh. Mengapa?"
"Mungkin karena ingin tahu bagaimana sambutan yang akan kuterima."
"Ini kan rumahmu, Yunho."
Ia memaki. "Yeah, tentu rumahku."
Jaejoong membasahi bibir dengan lidah dan berharap punya keberanian untuk tetap menghadapinya. Ia takut kakinya tak mampu menopang tubuhnya. 
"Kau tidak menanyakan kabar ayahmu."
"Yoochun sudah memberitahu aku."
"Kalau begitu kau tahu ia sekarat."
"Ya. Dan ia ingin bertemu aku. Rupanya keajaiban tak pernah lenyap."
Komentarnya yang menyakitkan itu membuat Jaejoong bangkit dari duduk tanpa berpikir dua kali. "Ia sakit keras, Yunho. Bukan seperti yang kaukenal dulu."
"Andai masih tersisa satu tarikan napas dalam tubuhnya pun, ia persis seperti aku mengingatnya."
"Aku tak mau berdebat denganmu tentang hal itu."
"Aku bukan berdebat."
"Dan aku takkan membiarkan kau mengecewakannya, Sungmin dan Boa. Mereka ingin bertemu denganmu."
"Kau tidak akan membiarkan? Astaga, astaga. Kau betul-betul menganggap dirimu nyonya rumah Jung mansion, ya?"
"Tolonglah, Yunho. Beberapa minggu ke depan segalanya akan cukup sulit tanpa...."
"Aku tahu, aku tahu." Tarikan napas panjangnya terdengar sampai ke tempat Jaejoong berdiri tegang di teras, tangannya mengepal erat. Ia meletakkan gelas es teh di pagar teras karena takut menjatuhkannya. 
"Aku juga tidak sabar hendak bertemu mereka," katanya dan melirik ke arah kandang kuda. "Aku lihat Sungmin keluar dari rumah itu beberapa saat yang lalu, tetapi aku tidak ingin muncul tiba-tiba dalam gelap dan mengejutkannya. Aku mengingatnya sebagai gadis kecil. Tak kusangka ia sudah dewasa sekarang."
Ingatan akan Sungmin dan Kyuhyun yang berlutut di tumpukan jerami di kandang kuda, jari-jari Kyuhyun mengelus pipi Sungmin, melintas di benak Jaejoong. Ia tidak tahu apa pendapat Yunho bila tahu hubungan asmara adik perempuannya itu. Ia jadi resah menerka-nerka. 
"Ia perempuan dewasa sekarang, Yunho."
Jaejoong merasakan tatapan mata Yunho pada dirinya, menelusuri, menganalisis, menilai. Tubuhnya seperti dilumuri Anggur yang menyentuh setiap inci. 
"Dan kau," katanya lembut. "Kau juga perempuan dewasa sekarang, bukan, Jaejoong? Perempuan dewasa."
Jaejoong sama sekali tidak berubah. Kecantikan gadis lima belas tahun yang dikenalnya kini mendewasa. Ia berharap bertemu Jaejoong yang gendut, kumal, kusut, berambut kusam, dan berpaha besar. Ternyata ia masih ramping, dengan pinggang yang seolah akan patah bila ditiup angin. Dadanya berisi dan lembut, namun tetap tegak, bulat, dan mengundang. Sialan! Seberapa sering ayahnya menyentuhnya?
Ia menaiki anak tangga perlahan-lahan, seperti pemangsa yang kelaparan tetapi hendak menyiksa korban sebelum melahapnya. Mata musangnya, berkilat dalam kegelapan, nanar menatap Jaejoong. Senyum lebar di bibir hatinya menyiratkan pemahaman yang licik, seakan pria itu tahu apa yang ada dalam benak Jaejoong yang ingin dilupakannya, bagaimana bibir pria itu menyentuh bibirnya, lehernya, dadanya.
Jaejoong berbalik. "Aku panggilkan Boa. Mungkin ia...."
Tangan Yunho menyambar pinggang Jaejoong, membuat langkahnya terhenti. Ia memaksa Jaejoong menghadap ke arahnya 
"Tunggu sebentar," katanya tenang. "Setelah dua belas tahun, tidakkah kau merasa kita bisa saling menyapa dengan lebih akrab?"
Tangannya yang bebas menyentuh tengkuk Jaejoong dan mendorong wajah wanita itu ke wajahnya. "Ingat, kita sekarang keluarga," bisiknya dengan nada mengejek. 
Kemudian bibirnya mencium bibir Jaejoong, kasar dan penuh kemarahan. Diciuminya bibir Jaejoong dengan liar, seakan hendak menghukumnya karena malam-malam ketika ia memikirkan Jaejoong, Jaejoongnya yang polos, yang berbagi tempat tidur, tubuhnya, dengan ayahnya.
Jaejoong menyarangkan tinju ke dada pria itu. Terdengar suara mengerang keras. Lututnya lemas. Ia berusaha memberontak. Ia memberontak lebih keras. Karena ia ingin memeluk laki-laki itu, mendekapnya erat, merasakan kembali getaran yang pernah dirasakannya ketika berada dalam pelukannya.
Tetapi ini bukanlah pelukan, ini penghinaan. Ia bergulat sekuat tenaga untuk membebaskan bibirnya.
Ketika ia berhasil melepaskan diri, Yunho memasukkan tangan ke saku celana jinsnya dan tersenyum mengejek penuh kemenangan melihat ekspresi marah dan bibir merah Jaejoong. 
"Salam, Mom," dengusnya.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

2 comments:

  1. jae gk tw hrs bersikap apa ma yun

    ReplyDelete
  2. Jae tumbuh menjadi wanita yang indah dan sexy sekarang. Yunho dulu mengkhianati Jae ? Aw~ benarkah?

    Yun ingin memiliki Jae eoh? aku sih gak apa-apa hehege

    ReplyDelete