Wednesday, November 4

[REMAKE] The Untittled Story Season 2 Chapter II

Summary: Jaejoong kecewa pada Yunho hingga membuat dia menentukan pilihan untuk meninggalkan Yunho dan semua yang membuatnya sakit. Dia memilih meninggalkan Gyongju, kota pesisir pantai yang indah lengkap dengan ceritanya bersama Yunho disana. Dia memilih kembali ke Gongju, kota dimana tempat ia kembali pulang. Karena eomma dan Jaekyung ada disana. Tetapi ketika kembali ke Gongju, dia menemukan kenyataan yang membuatnya tak bisa menetap lagi di kota itu. Lalu haruskah ia kembali ke Gyongju? Siapkah ia kembali bertemu dengan Yunho?
The Untitled Story
Season 2
©Kitahara Saki
Remake from Abby Glines Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self
Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita

Chapter 2,

Yunho
Ombak yang menerjang pantai biasanya menenangkanku. Aku sudah terbiasa duduk di dek ini mengamati air sejak aku masih kecil. Ini selalu membantuku menemukan sisi pandang yang lebih baik dalam banyak hal. Namun itu tidak berpengaruh lagi untukku.
Rumah sudah kosong. Ibuku dan...pria yang ku ingin agar ia terbakar selamanya di neraka sudah pergi, segera setelah aku kembali dari Gongju tiga minggu yang lalu. Aku marah, rusak, dan liar. Setelah mengancam nyawa pria yang dinikahi ibuku itu, aku mendesak mereka untuk segera pergi. Aku tidak ingin melihat salah satu dari mereka. Aku harus menelepon ibuku dan bicara dengannya tapi aku belum mampu memberanikan diri untuk melakukan itu.
Memaafkan ibuku lebih mudah diucapkan ketimbang dilakukan. Boa, adikku, mampir beberapa kali dan meminta aku agar bicara dengannya. Ini bukanlah kesalahan Boa tapi aku juga tidak bias bicara dengannya tentang hal ini. Dia mengingatkanku tentang sesuatu yang telah hilang. Sesuatu yang pernah hampir aku miliki. Sesuatu yang aku tak pernah berharap bisa menemukannya.
Ada gedoran keras berasal dari dalam rumah dan membuyarkan lamunanku. Berbalik, aku menoleh dan menyadari ada orang di depan pintu ketika bel pintu berdering diikuti dengan suara ketukan lagi.
Siapa itu? Tidak ada yang datang kesini lagi kecuali adikku dan Changmin sejak Jaejoong pergi. Aku meletakkan bir di atas meja sampingku dan berdiri. Siapapun itu, mereka harus punya alasan yang benar- benar kuat mengenai kedatangan mereka ke sini tanpa diundang.
Aku berjalan melintasi rumah yang tetap bersih sejak kunjungan terakhir bibi Hwang, pengurus rumah. Dengan tidak adanya pesta-pesta atau kehidupan sosial maka menjadi lebih mudah untuk menjaga segala benda dari kerusakan. Aku menyadari bahwa aku jauh lebih suka keadaan seperti ini.
Ketukan terdengar lagi ketika aku sampai di pintu depan dan aku menyentaknya hingga terbuka, bersiap untuk memberitahu siapa pun itu agar segera pergi namun tak sepatah katapun sanggup keluar dari mulutku. Dia bukan seseorang yang kuharap bisa kulihat lagi. Aku hanya bertemu pria itu sekali dan aku langsung membencinya.
Sekarang dia ada di sini, aku ingin meraih bahunya dan mengguncangnya sampai ia menceritakan bagaimana keadaan Jaejoong. Apakah dia baik-baik saja. Di mana dia tinggal? Oh Tuhan, aku berharap Jaejoong tidak tinggal bersamanya. Bagaimana jika dia telah...tidak, tidak, tidak, itu tidak mungkin terjadi. Dia tidak akan mau. Bukan BooJaeku. Tanganku mengepal erat membentuk tinju di sisi tubuhku.
"Aku perlu tahu satu hal," Yihan, pria dari masa lalu Jaejoong, berkata saat aku menatapnya dengan pandangan tak percaya dan kebingungan.
"Apakah kau," ia berhenti dan menelan ludah.
"Apakah kau...meniduri—" Dia melepas topi yang dipakainya dan mengusap rambutnya. Aku melihat lingkaran hitam di bawah matanya dan ekspresi lelah di wajahnya.
Jantungku seakan berhenti. Aku meraih lengan atasnya dan menggoncang tubuhnya.
"Di mana Jaejoong? Apakah dia baik-baik saja?"
"Dia baik-baik saja...Maksudku, dia tidak dalam masalah. Lepaskan aku sebelum kau mematahkan lenganku," bentak Yihan, ia menyentak lengannya menjauh dariku.
"Jaejoong masih hidup dan sehat di Sumit. Itu bukan alasan kenapa aku ada di sini."
Lalu kenapa dia ada di sini? Kami hanya punya satu keterkaitan. Jaejoong.
"Ketika dia meninggalkan Gongju ia yeoja yang polos. Sangat polos. Aku namja chingu satu-satunya. Aku tahu betapa polosnya dia. Kami sudah bersahabat sejak kami masih kecil. Jaejoong yang pulang bukan gadis yang sama saat dia pergi. Dia tidak bicara soal itu. Dia tidak mau bicara soal itu. Aku hanya perlu tahu apakah kau dan dia...apakah kalian...Aku hanya akan mengatakan ini, apa kau pernah menidurinya?"
Pandanganku kabur saat aku bergerak tanpa memikirkan yang lain kecuali membunuhnya. Dia telah melewati batas. Dia tidak boleh bicara tentang Jaejoong seperti itu. Dia tidak boleh mengajukan pertanyaan semacam itu atau meragukan kepolosannya. Jaejoong masih polos, dasar sialan. Dia tidak punya hak.
"Astaga! Yunho, hyung, turunkan dia!" Suara Changmin berteriak padaku.
Aku mendengar suaranya tapi seakan begitu jauh dan terdengar seperti di dalam terowongan. Aku terfokus pada orang di depanku saat kepalan tanganku mengenai wajahnya dan darah menyembur dari hidungnya. Dia berdarah. Aku butuh dia berdarah. Aku butuh seseorang untuk berdarah.
Dua lengan melilit lenganku dari belakang dan menarikku menjauh saat Yihan terhuyung mundur memegangi hidungnya dengan tatapan panik di matanya. Well, salah satu matanya. Mata yang lain sudah bengkak dan tertutup.
"Sebenarnya apa yang kau katakan padanya?" Tanya Changmin dari belakangku. Ternyata Changmin yang telah melilitku.
"Jangan kau katakan!"
Bentakku saat Yihan membuka mulutnya untuk menjawab. Aku tidak mau mendengar dia bicara tentang Jaejoongku seperti itu. Apa yang kami lakukan memang lebih dari sekedar sesuatu yang kotor atau salah. Dia bertingkah seolah aku telah menghancurkan Jaejoong. Jaejoong masih polos. Luar biasa polos. Apa yang telah Yihan lakukan tidak pernah mengubah hal itu. Lengan Changmin mengencang di tubuhku saat ia menarikku ke dadanya.
"Kau harus pergi sekarang. Aku hanya bisa menahannya untuk sementara waktu. Dia punya otot sepuluh kilo lebih banyak dibanding denganku dan ini tidak semudah seperti yang terlihat. Kau harus lari. Jangan kembali. Kau beruntung karena aku muncul."
Yihan mengangguk, dengan terhuyung kembali ke truknya. Kemarahan sedikit mereda dalam pembuluh darahku tapi aku masih merasakannya. Aku ingin lebih menyakitinya. Untuk mencuci bersih pikiran apapun yang mungkin dia miliki di kepalanya bahwa Jaejoong tidak sesempurna seperti saat ia meninggalkan Gongju.
Dia tak tahu apa saja yang telah Jaejoong lalui. Penderitaan yang telah dia lalui karena keluargaku. Bagaimana dia bisa merawat Jaejoong? Jaejoong membutuhkanku.
"Kalau aku melepaskanmu apa kau akan mengejar truknya atau kita berdua sudah tenang?" Tanya Changmin mulai melonggarkan cengkeramannya pada tubuhku.
"Aku sudah tenang,"
Aku meyakinkannya saat aku membebaskan diri dari kungkungannya dan menghampiri pagar untuk berpegangan, lalu menarik nafas dalam-dalam. Rasa sakit itu kembali dengan kekuatan penuh. Aku telah berhasil mengubur rasa itu hingga hanya terasa berupa denyutan samar, tapi melihat si pengecut itu, membuatku mengingat segalanya. Malam itu. Malam yang tak akan pernah bisa kupulihkan ke asalnya. Malam yang telah dan akan membekas dalam diriku untuk selamanya.
"Bisakah aku bertanya padamu sebenarnya apa yang terjadi atau kau juga akan menghajarku?"
Tanya Changmin sambil menjaga jarak di antara kami. Bagaimanapun dia adalah saudaraku, diatas semua kepentingan dan tujuan yang melatar belakanginya. Orangtua kami dulu pernah menikah ketika kami masih kecil. Pernikahan yang cukup lama bagi kami untuk membentuk ikatan itu. Meskipun ibuku memiliki beberapa suami setelah itu tapi Changmin masih tetap keluargaku. Dia cukup paham untuk mengetahui bahwa ini adalah tentang Jaejoong.
"Mantan pacar Jaejoong," jawabku tanpa menoleh ke arahnya.
Changmin berdeham. "Jadi, eh, dia datang ke sini untuk mengejekmu? Atau kau menghajarnya sampai babak belur hanya karena dia pernah menyentuh Jaejoong?"
Dua-duanya. Atau bukan.
Aku menggeleng. "Tidak. Dia datang ke sini mengajukan pertanyaan tentang aku dan Jaejoong. Sesuatu yang bukan urusannya. Dia menanyakan sesuatu yang salah."
"Ah, aku mengerti. Itu masuk akal. Well, dia sudah membayar perbuatannya. Namja itu mungkin mengalami patah hidung ditambah matanya yang tertutup karena bengkak."
Aku akhirnya mengangkat kepalaku dan kembali menatap Changmin.
"Terima kasih sudah menahanku darinya. Aku hanya tiba-tiba sangat marah."
Changmin mengangguk lalu membuka pintu.
"Ayo. Mari kita mulai permainan dan minum bir."
.
.
.
Jaejoong
Makam ibuku adalah satu-satunya tempat yang ada dalam pikiran untuk kutuju. Aku tidak punya rumah. Aku tidak bisa kembali ke rumah nenek Yihan. Yihan mungkin ada di sana menungguku. Atau mungkin tidak juga. Mungkin aku juga sudah mendorongnya pergi. Aku duduk di ujung makam ibuku.
Aku menarik lutut di bawah dagu dan melingkarkan tangan di kakiku. Aku pulang kembali ke Gongju karena ini satu-satunya tempat yang kutahu akan aku datangi. Sekarang, aku harus pergi. Aku tidak bisa tinggal di sini. Sekali lagi hidupku akan segera menikung tajam. Keadaan yang tidak siap untuk kuhadapi.
Ketika aku masih gadis kecil ibuku pernah membawa kami ke sekolah Minggu di gereja Baptis setempat. Aku teringat sebuah ayat suci yang mereka bacakan untuk kami dari Alkitab tentang Tuhan tidak memberikan beban lebih banyak daripada beban yang mampu kita hadapi. Aku mulai bertanya-tanya apakah itu hanya untuk orang-orang yang pergi ke gereja setiap hari Minggu dan berdoa sebelum mereka pergi tidur di malam hari. Karena Tuhan tidak tanggung-tanggung memberikan pukulannya terhadapku.
Mengasihani diri sendiri tidak akan menolongku. Aku tidak bias melakukannya. Aku juga harus mencari tahu jawabnya tentang yang satu ini. Menumpang di rumah nenek Yihan dan membiarkan Yihan membantuku mengatasi urusan hidup sehari-hari hanyalah untuk sementara. Aku tahu saat aku pindah ke kamar tidur tamu bahwa aku tidak bisa menumpang terlalu lama. Terlalu banyak sejarah antara Yihan dan aku. Aku tidak punya niat untuk mengulangi sejarah itu. Jawaban tentang kapan aku akan pergi berada di sini tapi aku masih tetap tidak mengerti kemana aku akan pergi dan apa yang akan kulakukan sama seperti tiga minggu yang lalu.
"Aku berharap kau ada di sini, Eomma. Aku tak tahu harus berbuat apa dan aku tidak punya siapa pun untuk kutanyai,"
bisikku sambil duduk di pemakaman yang tenang. Aku ingin percaya bahwa dia bisa mendengarkanku. Aku tidak senang memikirkan dia berada di bawah tanah tapi setelah saudara kembarku, Jaekyung, meninggal aku duduk di sini, di tempat ini bersama ibu dan kami bicara dengan Jaekyung. Eomma mengatakan arwahnya sedang mengawasi kami dan dia bisa mendengar kami. Aku sangat ingin percaya itu sekarang.
"Ini aku. Aku rindu kalian. Aku tidak ingin sendirian...tapi begitulah. Dan aku takut." Suara yang terdengar hanyalah desiran angin menerpa daun-daun di pepohonan.
"Kau pernah memberitahuku kalau aku mendengarkan dengan cermat aku akan tahu jawabannya di dalam hatiku. Aku mendengarkannya Eomma, tapi aku sangat bingung. Mungkin kau bisa membantuku dengan menunjukkan padaku ke arah yang benar, entah bagaimana?"
Aku menyandarkan dagu di lututku dan memejamkan mata, tidak mau menangis.
"Ingat saat eomma bilang aku harus mengatakan kepada Yihan bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Bahwa aku tidak akan merasa lebih baik sampai aku menumpahkan semuanya keluar. Aku melakukannya hari ini eomma. Bahkan jika dia memaafkanku keadaan tidak akan pernah akan sama lagi. Bagaimanapun aku tidak bisa terus- terusan bergantung padanya dalam banyak hal. Sudah waktunya aku mencari tahu sendiri. Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya."
Hanya bertanya padanya membuatku merasa lebih baik. Tahu bahwa aku tidak akan mendapatkan jawaban sepertinya tidak menjadi masalah. Suara pintu mobil ditutup memecah kedamaian dan aku menurunkan tangan dari kakiku dan menoleh kebelakang di pelataran parkir dan melihat mobil yang terlalu mahal untuk kota kecil ini. Memutar mataku untuk melihat siapa yang telah melangkah keluar dari dalam mobil aku terkesiap kemudian melompat. Itu Junsu. Dia ada di sini. Di Gongju.Di kuburan ini...mengendarai mobil yang terlihat sangat, sangat mahal.
Rambut cokelatnya yang panjang ditarik di atas bahunya membentuk ekor kuda. Ada senyum tersungging di bibirnya saat mataku bertemu dengan matanya. Aku tidak bisa bergerak. Aku takut aku berkhayal yang tidak-tidak. Apa yang Junsu lakukan di sini?
"Kau tidak punya ponsel seperti seekor burung. Bagaimana bisa aku meneleponmu dan bilang aku datang untuk menemuimu kalau aku tak punya nomor yang harus dihubungi? Hmmm?"
Kata-katanya tidak masuk akal namun hanya mendengar suaranya membuatku berlari mempersempit jarak di antara kami. Junsu tertawa dan membuka lengannya saat yang aku melemparkan diriku kepadanya.
"Aku tak percaya kau ada di sini," kataku setelah memeluknya.
"Ya, aku juga. Ini perjalanan yang panjang. Tapi kau sepadan dan mengingat bahwa kau meninggalkan ponselmu di Gyongju aku tak punya cara untuk bicara denganmu."
Aku ingin menceritakan semuanya tapi aku tidak bisa. Belum. Aku perlu waktu. Dia sudah tahu tentang ayahku. Dia tahu tentang Boa. Tapi yang lainnya...Aku tahu dia tidak tahu.
"Aku sangat senang kau ada di sini tapi bagaimana caranya kau menemukanku?"
Junsu menyeringai dan memiringkan kepalanya. "Aku menyetir mengelilingi kota untuk mencari trukmu. Itu tidak sulit. Tempat ini punya sesuatu seperti lampu merah. Kalau aku berkedip dua kali aku masih akan melewatkannya."
"Mobil itu mungkin menarik perhatian warga kota," kataku melirik ke arah mobil itu.
"Itu milik Yoochun. Mobilnya sangat nyaman dikendarai."
Dia masih bersama Yoochun. Bagus. Tapi dadaku terasa sakit. Yoochun mengingatkanku pada Gyongju. Dan Gyongju mengingatkanku pada Yunho.
"Aku akan menanyakan bagaimana kabarmu tapi, kau terlihat seperti tongkat yang berjalan. Apakah kau pernah makan sejak kau pergi meninggalkan Gyongju?"
Semua pakaianku sekarang longgar. Makan sulit dilakukan mengingat simpul besar yang terus terikat erat di dadaku setiap saat.
"Ini adalah beberapa minggu yang buruk tapi kurasa aku semakin membaik. Melupakan banyak hal. Menghadapinya."
Junsu mengalihkan tatapannya ke kuburan di belakangku. Keduanya. Aku bisa melihat kesedihan di matanya saat ia membaca kedua batu nisan itu.
"Tidak ada yang bisa mengambil pergi kenanganmu. Kau memilikinya," katanya sambil meremas tanganku.
"Aku tahu. Aku tidak percaya mereka. Appaku seorang pembohong. Aku tidak percaya satu pun dari mereka. Dia, Eommaku, dia tidak akan melakukan apa yang mereka tuduhkan. Jika ada yang harus disalahkan itu adalah Appaku. Dia menyebabkan rasa sakit ini. Bukan eommaku. Eommaku tak akan pernah."
Junsu mengangguk dan menggenggam tanganku dengan erat. Hanya memiliki seseorang yang mendengarkanku dan tahu bahwa mereka percaya padaku, bahwa mereka percaya Ibuku tidak bersalah sudah cukup membantu.
"Apa Jaekyung sangat mirip denganmu?"
Memori terakhirku dari Jaekyung adalah saat dia tersenyum. Senyum riangnya jauh lebih cantik dibanding senyumku. Giginya sempurna tanpa bantuan kawat gigi. Matanya lebih cerah dibanding mataku. Tapi semua orang mengatakan kami identik. Mereka tidak melihat perbedaannya. Aku selalu heran kenapa. Aku bisa melihatnya dengan jelas.
"Kami kembar identik," jawabku. Junsu tidak akan memahami kebenaran.
"Aku tidak bisa membayangkan dua Kim Jaejoong. Kalian pasti sudah mematahkan hati seluruh pria di kota kecil ini." Dia mencoba untuk meringankan suasana setelah bertanya tentang saudara perempuanku yang sudah meninggal. Aku menghargainya.
"Hanya Jaekyung. Aku bersama Yihan sejak aku masih kecil. Aku tidak mematahkan hati siapapun."
Mata Junsu sedikit terbelalak kemudian membuang pandangannya sebelum berdehem. Aku menunggu sampai ia berpaling lagi padaku.
"Meskipun melihatmu sangat menyenangkan dan kita bisa benar- benar menggoncang kota ini, aku sebenarnya datang ke sini karena suatu tujuan."
Aku menduganya, aku hanya tidak tahu dengan tepat apa tujuannya.
"Oke," kataku menunggu lebih banyak penjelasan.
"Bisakah kita bicara tentang ini sambil menikmati kopi?" Dia mengerutkan kening kemudian melirik kembali ke jalan.
"Atau mungkin Dairy K karena sepertinya itu satu-satunya tempat yang kulihat ketika aku melewati kota."
Dia tidak nyaman berbicara di kuburan seperti aku. Itu normal. Sedangkan aku tidak.
"Ya, oke," kataku dan berjalan untuk mengambil dompetku.
"Itu jawabanmu," bisik suara lembut yang sangat pelan hingga aku nyaris berpikir kalau aku hanya berkhayal. Berbalik menengok kembali ke arah Junsu dia tersenyum dengan tangannya terselip di saku depannya.
"Apa kau mengucapkan sesuatu?" Tanyaku bingung.
"Eh, maksudmu setelah aku menyarankan kita pergi ke Dairy K?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Ya. Apa kau membisikkan sesuatu?"
Dia mengernyitkan hidungnya dan kemudian memandang ke sekeliling dengan gelisah dan menggeleng.
"Tidak...um...kenapa kita tidak keluar saja dari sini?"
Katanya meraih lenganku dan menarikku di belakang punggungnya menuju mobil Yoochun. Aku menengok menatap makam Ibuku dan kedamaian dating padaku. Apakah itu merupakan...? Tidak. Jelas tidak. Menggelengkan kepalaku, aku berbalik dan menuju ke sisi penumpang sebelum Junsu mempersilahkan aku masuk.
.
.
.
.

To Be Continue

2 comments:

  1. Lanjuuuutttt,,,,?????!!!!

    ReplyDelete
  2. Akhirnya update juga,,,yeayyyy
    Makasih, Saki....

    Kirain yg dateng k rumah Yun itu Jae,, ehhh malah bang Yihan tohh
    Semoga mereka segera dipertemukan

    ReplyDelete