Summary: Jaejoong kecewa pada Yunho hingga membuat dia
menentukan pilihan untuk meninggalkan Yunho dan semua yang membuatnya sakit.
Dia memilih meninggalkan Gyongju, kota pesisir pantai yang indah lengkap dengan
ceritanya bersama Yunho disana. Dia memilih kembali ke Gongju, kota dimana
tempat ia kembali pulang. Karena eomma dan Jaekyung ada disana. Tetapi ketika
kembali ke Gongju, dia menemukan kenyataan yang membuatnya tak bisa menetap
lagi di kota itu. Lalu haruskah ia kembali ke Gyongju? Siapkah ia kembali
bertemu dengan Yunho?
The
Untitled Story
Season
2
©Kitahara Saki
Remake from Abby Glines Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self
Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita
Chapter 2,
Yunho
Ombak yang menerjang pantai biasanya
menenangkanku. Aku sudah terbiasa duduk di dek ini mengamati air sejak aku
masih kecil. Ini selalu membantuku menemukan sisi pandang yang lebih baik dalam
banyak hal. Namun itu tidak berpengaruh lagi untukku.
Rumah sudah kosong. Ibuku dan...pria yang ku ingin
agar ia terbakar selamanya di neraka sudah pergi, segera setelah aku kembali
dari Gongju tiga minggu yang lalu. Aku marah, rusak, dan liar. Setelah mengancam
nyawa pria yang dinikahi ibuku itu, aku mendesak mereka untuk segera pergi. Aku
tidak ingin melihat salah satu dari mereka. Aku harus menelepon ibuku dan
bicara dengannya tapi aku belum mampu memberanikan diri untuk melakukan itu.
Memaafkan ibuku lebih mudah diucapkan ketimbang
dilakukan. Boa, adikku, mampir beberapa kali dan meminta aku agar bicara dengannya.
Ini bukanlah kesalahan Boa tapi aku juga tidak bias bicara dengannya tentang
hal ini. Dia mengingatkanku tentang sesuatu yang telah hilang. Sesuatu yang
pernah hampir aku miliki. Sesuatu yang aku tak pernah berharap bisa
menemukannya.
Ada gedoran keras berasal dari dalam rumah dan
membuyarkan lamunanku. Berbalik, aku menoleh dan menyadari ada orang di depan
pintu ketika bel pintu berdering diikuti dengan suara ketukan lagi.
Siapa itu? Tidak ada yang datang kesini lagi
kecuali adikku dan Changmin sejak Jaejoong pergi. Aku meletakkan bir di atas
meja sampingku dan berdiri. Siapapun itu, mereka harus punya alasan yang benar-
benar kuat mengenai kedatangan mereka ke sini tanpa diundang.
Aku berjalan melintasi rumah yang tetap bersih
sejak kunjungan terakhir bibi Hwang, pengurus rumah. Dengan tidak adanya
pesta-pesta atau kehidupan sosial maka menjadi lebih mudah untuk menjaga segala
benda dari kerusakan. Aku menyadari bahwa aku jauh lebih suka keadaan seperti
ini.
Ketukan terdengar lagi ketika aku sampai di
pintu depan dan aku menyentaknya hingga terbuka, bersiap untuk memberitahu
siapa pun itu agar segera pergi namun tak sepatah katapun sanggup keluar dari mulutku.
Dia bukan seseorang yang kuharap bisa kulihat lagi. Aku hanya bertemu pria itu
sekali dan aku langsung membencinya.
Sekarang dia ada di sini, aku ingin meraih
bahunya dan mengguncangnya sampai ia menceritakan bagaimana keadaan Jaejoong.
Apakah dia baik-baik saja. Di mana dia tinggal? Oh Tuhan, aku berharap Jaejoong
tidak tinggal bersamanya. Bagaimana jika dia telah...tidak, tidak, tidak, itu
tidak mungkin terjadi. Dia tidak akan mau. Bukan BooJaeku. Tanganku mengepal
erat membentuk tinju di sisi tubuhku.
"Aku perlu tahu satu hal," Yihan, pria
dari masa lalu Jaejoong, berkata saat aku menatapnya dengan pandangan tak
percaya dan kebingungan.
"Apakah kau," ia berhenti dan menelan
ludah.
"Apakah kau...meniduri—" Dia melepas
topi yang dipakainya dan mengusap rambutnya. Aku melihat lingkaran hitam di
bawah matanya dan ekspresi lelah di wajahnya.
Jantungku seakan berhenti. Aku meraih lengan
atasnya dan menggoncang tubuhnya.
"Di mana Jaejoong? Apakah dia baik-baik saja?"
"Dia baik-baik saja...Maksudku, dia tidak
dalam masalah. Lepaskan aku sebelum kau mematahkan lenganku," bentak Yihan,
ia menyentak lengannya menjauh dariku.
"Jaejoong masih hidup dan sehat di Sumit. Itu
bukan alasan kenapa aku ada di sini."
Lalu kenapa dia ada di sini? Kami hanya punya
satu keterkaitan. Jaejoong.
"Ketika dia meninggalkan Gongju ia yeoja
yang polos. Sangat polos. Aku namja chingu satu-satunya. Aku tahu betapa
polosnya dia. Kami sudah bersahabat sejak kami masih kecil. Jaejoong yang
pulang bukan gadis yang sama saat dia pergi. Dia tidak bicara soal itu. Dia
tidak mau bicara soal itu. Aku hanya perlu tahu apakah kau dan dia...apakah kalian...Aku
hanya akan mengatakan ini, apa kau pernah menidurinya?"
Pandanganku kabur saat aku bergerak tanpa
memikirkan yang lain kecuali membunuhnya. Dia telah melewati batas. Dia tidak
boleh bicara tentang Jaejoong seperti itu. Dia tidak boleh mengajukan pertanyaan
semacam itu atau meragukan kepolosannya. Jaejoong masih polos, dasar sialan.
Dia tidak punya hak.
"Astaga! Yunho, hyung, turunkan dia!"
Suara Changmin berteriak padaku.
Aku mendengar suaranya tapi seakan begitu jauh
dan terdengar seperti di dalam terowongan. Aku terfokus pada orang di depanku saat
kepalan tanganku mengenai wajahnya dan darah menyembur dari hidungnya. Dia
berdarah. Aku butuh dia berdarah. Aku butuh seseorang untuk berdarah.
Dua lengan melilit lenganku dari belakang dan
menarikku menjauh saat Yihan terhuyung mundur memegangi hidungnya dengan
tatapan panik di matanya. Well, salah satu matanya. Mata yang lain sudah bengkak
dan tertutup.
"Sebenarnya apa yang kau katakan
padanya?" Tanya Changmin dari belakangku. Ternyata Changmin yang telah
melilitku.
"Jangan kau katakan!"
Bentakku saat Yihan membuka mulutnya untuk
menjawab. Aku tidak mau mendengar dia bicara tentang Jaejoongku seperti itu.
Apa yang kami lakukan memang lebih dari sekedar sesuatu yang kotor atau salah.
Dia bertingkah seolah aku telah menghancurkan Jaejoong. Jaejoong masih polos.
Luar biasa polos. Apa yang telah Yihan lakukan tidak pernah mengubah hal itu. Lengan
Changmin mengencang di tubuhku saat ia menarikku ke dadanya.
"Kau harus pergi sekarang. Aku hanya bisa
menahannya untuk sementara waktu. Dia punya otot sepuluh kilo lebih banyak dibanding
denganku dan ini tidak semudah seperti yang terlihat. Kau harus lari. Jangan
kembali. Kau beruntung karena aku muncul."
Yihan mengangguk, dengan terhuyung kembali ke
truknya. Kemarahan sedikit mereda dalam pembuluh darahku tapi aku masih merasakannya.
Aku ingin lebih menyakitinya. Untuk mencuci bersih pikiran apapun yang mungkin
dia miliki di kepalanya bahwa Jaejoong tidak sesempurna seperti saat ia
meninggalkan Gongju.
Dia tak tahu apa saja yang telah Jaejoong lalui.
Penderitaan yang telah dia lalui karena keluargaku. Bagaimana dia bisa merawat Jaejoong?
Jaejoong membutuhkanku.
"Kalau aku melepaskanmu apa kau akan
mengejar truknya atau kita berdua sudah tenang?" Tanya Changmin mulai
melonggarkan cengkeramannya pada tubuhku.
"Aku sudah tenang,"
Aku meyakinkannya saat aku membebaskan diri dari
kungkungannya dan menghampiri pagar untuk berpegangan, lalu menarik nafas
dalam-dalam. Rasa sakit itu kembali dengan kekuatan penuh. Aku telah berhasil
mengubur rasa itu hingga hanya terasa berupa denyutan samar, tapi melihat si pengecut
itu, membuatku mengingat segalanya. Malam itu. Malam yang tak akan pernah bisa
kupulihkan ke asalnya. Malam yang telah dan akan membekas dalam diriku untuk
selamanya.
"Bisakah aku bertanya padamu sebenarnya apa
yang terjadi atau kau juga akan menghajarku?"
Tanya Changmin sambil menjaga jarak di antara
kami. Bagaimanapun dia adalah saudaraku, diatas semua kepentingan dan tujuan
yang melatar belakanginya. Orangtua kami dulu pernah menikah ketika kami masih
kecil. Pernikahan yang cukup lama bagi kami untuk membentuk ikatan itu.
Meskipun ibuku memiliki beberapa suami setelah itu tapi Changmin masih tetap
keluargaku. Dia cukup paham untuk mengetahui bahwa ini adalah tentang Jaejoong.
"Mantan pacar Jaejoong," jawabku tanpa
menoleh ke arahnya.
Changmin berdeham. "Jadi, eh, dia datang ke
sini untuk mengejekmu? Atau kau menghajarnya sampai babak belur hanya karena
dia pernah menyentuh Jaejoong?"
Dua-duanya. Atau bukan.
Aku menggeleng. "Tidak. Dia datang ke sini
mengajukan pertanyaan tentang aku dan Jaejoong. Sesuatu yang bukan urusannya.
Dia menanyakan sesuatu yang salah."
"Ah, aku mengerti. Itu masuk akal. Well,
dia sudah membayar perbuatannya. Namja itu mungkin mengalami patah hidung
ditambah matanya yang tertutup karena bengkak."
Aku akhirnya mengangkat kepalaku dan kembali
menatap Changmin.
"Terima kasih sudah menahanku darinya. Aku
hanya tiba-tiba sangat marah."
Changmin mengangguk lalu membuka pintu.
"Ayo. Mari kita mulai permainan dan minum
bir."
.
.
.
Jaejoong
Makam ibuku adalah satu-satunya tempat yang ada
dalam pikiran untuk kutuju. Aku tidak punya rumah. Aku tidak bisa kembali ke rumah
nenek Yihan. Yihan mungkin ada di sana menungguku. Atau mungkin tidak juga.
Mungkin aku juga sudah mendorongnya pergi. Aku duduk di ujung makam ibuku.
Aku menarik lutut di bawah dagu dan melingkarkan
tangan di kakiku. Aku pulang kembali ke Gongju karena ini satu-satunya tempat yang
kutahu akan aku datangi. Sekarang, aku harus pergi. Aku tidak bisa tinggal di
sini. Sekali lagi hidupku akan segera menikung tajam. Keadaan yang tidak siap
untuk kuhadapi.
Ketika aku masih gadis kecil ibuku pernah
membawa kami ke sekolah Minggu di gereja Baptis setempat. Aku teringat sebuah
ayat suci yang mereka bacakan untuk kami dari Alkitab tentang Tuhan tidak
memberikan beban lebih banyak daripada beban yang mampu kita hadapi. Aku mulai bertanya-tanya
apakah itu hanya untuk orang-orang yang pergi ke gereja setiap hari Minggu dan
berdoa sebelum mereka pergi tidur di malam hari. Karena Tuhan tidak
tanggung-tanggung memberikan pukulannya terhadapku.
Mengasihani diri sendiri tidak akan menolongku.
Aku tidak bias melakukannya. Aku juga harus mencari tahu jawabnya tentang yang satu
ini. Menumpang di rumah nenek Yihan dan membiarkan Yihan membantuku mengatasi
urusan hidup sehari-hari hanyalah untuk sementara. Aku tahu saat aku pindah ke
kamar tidur tamu bahwa aku tidak bisa menumpang terlalu lama. Terlalu banyak
sejarah antara Yihan dan aku. Aku tidak punya niat untuk mengulangi sejarah
itu. Jawaban tentang kapan aku akan pergi berada di sini tapi aku masih tetap
tidak mengerti kemana aku akan pergi dan apa yang akan kulakukan sama seperti
tiga minggu yang lalu.
"Aku berharap kau ada di sini, Eomma. Aku
tak tahu harus berbuat apa dan aku tidak punya siapa pun untuk kutanyai,"
bisikku sambil duduk di pemakaman yang tenang.
Aku ingin percaya bahwa dia bisa mendengarkanku. Aku tidak senang memikirkan
dia berada di bawah tanah tapi setelah saudara kembarku, Jaekyung, meninggal
aku duduk di sini, di tempat ini bersama ibu dan kami bicara dengan Jaekyung. Eomma
mengatakan arwahnya sedang mengawasi kami dan dia bisa mendengar kami. Aku
sangat ingin percaya itu sekarang.
"Ini aku. Aku rindu kalian. Aku tidak ingin
sendirian...tapi begitulah. Dan aku takut." Suara yang terdengar hanyalah
desiran angin menerpa daun-daun di pepohonan.
"Kau pernah memberitahuku kalau aku
mendengarkan dengan cermat aku akan tahu jawabannya di dalam hatiku. Aku
mendengarkannya Eomma, tapi aku sangat bingung. Mungkin kau bisa membantuku
dengan menunjukkan padaku ke arah yang benar, entah bagaimana?"
Aku menyandarkan dagu di lututku dan memejamkan
mata, tidak mau menangis.
"Ingat saat eomma bilang aku harus
mengatakan kepada Yihan bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Bahwa aku tidak
akan merasa lebih baik sampai aku menumpahkan semuanya keluar. Aku melakukannya
hari ini eomma. Bahkan jika dia memaafkanku keadaan tidak akan pernah akan sama
lagi. Bagaimanapun aku tidak bisa terus- terusan bergantung padanya dalam
banyak hal. Sudah waktunya aku mencari tahu sendiri. Aku hanya tidak tahu
bagaimana caranya."
Hanya bertanya padanya membuatku merasa lebih
baik. Tahu bahwa aku tidak akan mendapatkan jawaban sepertinya tidak menjadi masalah.
Suara pintu mobil ditutup memecah kedamaian dan aku menurunkan tangan dari
kakiku dan menoleh kebelakang di pelataran parkir dan melihat mobil yang
terlalu mahal untuk kota kecil ini. Memutar mataku untuk melihat siapa yang
telah melangkah keluar dari dalam mobil aku terkesiap kemudian melompat. Itu Junsu.
Dia ada di sini. Di Gongju.Di kuburan ini...mengendarai mobil yang terlihat
sangat, sangat mahal.
Rambut cokelatnya yang panjang ditarik di atas
bahunya membentuk ekor kuda. Ada senyum tersungging di bibirnya saat mataku
bertemu dengan matanya. Aku tidak bisa bergerak. Aku takut aku berkhayal yang
tidak-tidak. Apa yang Junsu lakukan di sini?
"Kau tidak punya ponsel seperti seekor
burung. Bagaimana bisa aku meneleponmu dan bilang aku datang untuk menemuimu
kalau aku tak punya nomor yang harus dihubungi? Hmmm?"
Kata-katanya tidak masuk akal namun hanya
mendengar suaranya membuatku berlari mempersempit jarak di antara kami. Junsu
tertawa dan membuka lengannya saat yang aku melemparkan diriku kepadanya.
"Aku tak percaya kau ada di sini,"
kataku setelah memeluknya.
"Ya, aku juga. Ini perjalanan yang panjang.
Tapi kau sepadan dan mengingat bahwa kau meninggalkan ponselmu di Gyongju aku
tak punya cara untuk bicara denganmu."
Aku ingin menceritakan semuanya tapi aku tidak
bisa. Belum. Aku perlu waktu. Dia sudah tahu tentang ayahku. Dia tahu tentang Boa.
Tapi yang lainnya...Aku tahu dia tidak tahu.
"Aku sangat senang kau ada di sini tapi
bagaimana caranya kau menemukanku?"
Junsu menyeringai dan memiringkan kepalanya.
"Aku menyetir mengelilingi kota untuk mencari trukmu. Itu tidak sulit.
Tempat ini punya sesuatu seperti lampu merah. Kalau aku berkedip dua kali aku masih
akan melewatkannya."
"Mobil itu mungkin menarik perhatian warga
kota," kataku melirik ke arah mobil itu.
"Itu milik Yoochun. Mobilnya sangat nyaman
dikendarai."
Dia masih bersama Yoochun. Bagus. Tapi dadaku
terasa sakit. Yoochun mengingatkanku pada Gyongju. Dan Gyongju mengingatkanku pada
Yunho.
"Aku akan menanyakan bagaimana kabarmu
tapi, kau terlihat seperti tongkat yang berjalan. Apakah kau pernah makan sejak
kau pergi meninggalkan Gyongju?"
Semua pakaianku sekarang longgar. Makan sulit
dilakukan mengingat simpul besar yang terus terikat erat di dadaku setiap saat.
"Ini adalah beberapa minggu yang buruk tapi
kurasa aku semakin membaik. Melupakan banyak hal. Menghadapinya."
Junsu mengalihkan tatapannya ke kuburan di
belakangku. Keduanya. Aku bisa melihat kesedihan di matanya saat ia membaca kedua
batu nisan itu.
"Tidak ada yang bisa mengambil pergi kenanganmu.
Kau memilikinya," katanya sambil meremas tanganku.
"Aku tahu. Aku tidak percaya mereka. Appaku
seorang pembohong. Aku tidak percaya satu pun dari mereka. Dia, Eommaku, dia
tidak akan melakukan apa yang mereka tuduhkan. Jika ada yang harus disalahkan
itu adalah Appaku. Dia menyebabkan rasa sakit ini. Bukan eommaku. Eommaku tak
akan pernah."
Junsu mengangguk dan menggenggam tanganku dengan
erat. Hanya memiliki seseorang yang mendengarkanku dan tahu bahwa mereka percaya
padaku, bahwa mereka percaya Ibuku tidak bersalah sudah cukup membantu.
"Apa Jaekyung sangat mirip denganmu?"
Memori terakhirku dari Jaekyung adalah saat dia
tersenyum. Senyum riangnya jauh lebih cantik dibanding senyumku. Giginya sempurna
tanpa bantuan kawat gigi. Matanya lebih cerah dibanding mataku. Tapi semua
orang mengatakan kami identik. Mereka tidak melihat perbedaannya. Aku selalu
heran kenapa. Aku bisa melihatnya dengan jelas.
"Kami kembar identik," jawabku. Junsu
tidak akan memahami kebenaran.
"Aku tidak bisa membayangkan dua Kim
Jaejoong. Kalian pasti sudah mematahkan hati seluruh pria di kota kecil
ini." Dia mencoba untuk meringankan suasana setelah bertanya tentang
saudara perempuanku yang sudah meninggal. Aku menghargainya.
"Hanya Jaekyung. Aku bersama Yihan sejak
aku masih kecil. Aku tidak mematahkan hati siapapun."
Mata Junsu sedikit terbelalak kemudian membuang
pandangannya sebelum berdehem. Aku menunggu sampai ia berpaling lagi padaku.
"Meskipun melihatmu sangat menyenangkan dan
kita bisa benar- benar menggoncang kota ini, aku sebenarnya datang ke sini
karena suatu tujuan."
Aku menduganya, aku hanya tidak tahu dengan
tepat apa tujuannya.
"Oke," kataku menunggu lebih banyak
penjelasan.
"Bisakah kita bicara tentang ini sambil
menikmati kopi?" Dia mengerutkan kening kemudian melirik kembali ke jalan.
"Atau mungkin Dairy K karena sepertinya itu
satu-satunya tempat yang kulihat ketika aku melewati kota."
Dia tidak nyaman berbicara di kuburan seperti
aku. Itu normal. Sedangkan aku tidak.
"Ya, oke," kataku dan berjalan untuk mengambil
dompetku.
"Itu jawabanmu," bisik suara lembut
yang sangat pelan hingga aku nyaris berpikir kalau aku hanya berkhayal.
Berbalik menengok kembali ke arah Junsu dia tersenyum dengan tangannya terselip
di saku depannya.
"Apa kau mengucapkan sesuatu?" Tanyaku
bingung.
"Eh, maksudmu setelah aku menyarankan kita
pergi ke Dairy K?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Ya. Apa kau membisikkan
sesuatu?"
Dia mengernyitkan hidungnya dan kemudian
memandang ke sekeliling dengan gelisah dan menggeleng.
"Tidak...um...kenapa kita tidak keluar saja
dari sini?"
Katanya meraih lenganku dan menarikku di
belakang punggungnya menuju mobil Yoochun. Aku menengok menatap makam Ibuku dan
kedamaian dating padaku. Apakah itu merupakan...? Tidak. Jelas tidak. Menggelengkan
kepalaku, aku berbalik dan menuju ke sisi penumpang sebelum Junsu
mempersilahkan aku masuk.
.
.
.
.
To Be Continue
Lanjuuuutttt,,,,?????!!!!
ReplyDeleteAkhirnya update juga,,,yeayyyy
ReplyDeleteMakasih, Saki....
Kirain yg dateng k rumah Yun itu Jae,, ehhh malah bang Yihan tohh
Semoga mereka segera dipertemukan