Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Chapter 15,
Jaejoong duduk di cafetaria
kantin sambil menyesap kopinya, jemarinya bergetar dan perasaannya bergemuruh.
Ekspresi sedih Yunho tadi benar-benar tak terlupakan, sarat dengan kesedihan
hingga Jaejoong tidak berani mendekati lelaki itu dan memilih melarikan diri ke
lantai bawah, menyesap kopi untuk menenangkan dirinya.
Ponselnya berbunyi, dan dia
melihat nama Changmin di sana. Changmin.... Jaejoong hampir-hampir melupakan Changmin,
bukan karena perasaannya mulai pudar tetapi karena setelah insiden itu Changmin
benar-benar menghilang dari kehidupannya, seolah-olah lelaki itu menghindari Jaejoong.
Hal itu membuat Jaejoong
bertanya-tanya. Kenapa Changmin menghindarinya? Apakah karena lelaki itu marah
kepadanya? Karena dia mengira - setelah melihat Yunho dan Jaejoong berciuman -
bahwa Yunho dan Jaejoong menjalin hubungan cinta? Changmin sudah jelas-jelas
menunjukkan ketidak setujuannya akan hubungan Jaejoong dengan Yunho, lelaki itu
memang menghormati dan mengagumi Yunho dari permainan biolanya, tetapi Changmin
mencemaskan reputasi Yunho sebagai penghancur perempuan.
Seandainya saja Jaejoong bisa
mengungkapkan kepada Changmin bahwa hubungannya dengan Yunho hanyalah
sandiwara, mungkin dia bisa menghilangkan kecemasan Changmin... sayangnya dia
tidak bisa melakukannya.
"Jaejoongie?"
Suara Changmin terdengar di sana,
memanggil-manggil Jaejoong yang masih melamun dan membuat Jaejoong mengerjapkan
kedua matanya.
"ne, oppa? Kau di mana saja?
Rasanya sudah lama sekali kita tidak bicara." Jaejoong merindukan Changmin
tentu saja.
Changmin
berdehem, "Aku... aku tidak mau mengganggumu dengan Yunho, dia kan sedang
dalam masa pemulihan. Lagipula aku sedang intens menghabiskan waktuku bersama Kyuhyun..."
Kyuhyun. Hampir saja Jaejoong
melupakan keberadaan perempuan itu. Terakhir, Changmin mengatakan bahwa dia
sudah menyatakan cintanya kepada Kyuhyun dan Kyuhyun membalas perasaannya.
Mereka berdua sekarang adalah sepasang kekasih... Kyuhyun yang memiliki Changmin.
Jaejoong berusaha menekan perasaan pedih dalam suaranya.
"Aku mengerti oppa...."
"Hari ini Kyuhyun dan abojinya
kembali ke luar negeri." Changmin melanjutkan,
"Aku akan mengantarkannya ke
bandara."
Jaejoong mengerutkan keningnya,
"Kyuhyun sudah akan pulang? Jadi kalian akan menjalin hubungan jarak
jauh?"
Suara Changmin tampak sedih dan
tidak yakin.
"Kami akan mencoba Jaejoongie,
meskipun aku tidak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak."
Keraguan dalam suara Changmin
tampak nyata,
"Karena aku... aku
padamu...." suara Changmin menghilang, membuat Jaejoong mengerutkan
keningnya semakin dalam.
"Kau kenapa oppa?"
Hening sejenak, lalu Changmin
berkata.
"Tidak. Tidak ada apa-apa.
Maafkan aku, mungkin aku hanya sedang bingung, kau tahu, aku sedih karena akan
berpisah dengan Kyuhyun."
Jaejoong tersenyum lembut,
"Aku mengerti perasaanmu, oppa."
"Kaulah yang paling mengerti,"
Ada senyum di suara Changmin,
tetapi senyum itu menghilang ketika dia bertanya kepada Jaejoong,
"Aku tadi ke rumahmu, kata hechul
ahjumma, kau sudah berkemas dan akan tinggal di rumah Yunho untuk
sementara."
Jaejoong berdehem, merasa tidak
enak karena dia tidak tahu ketidaksetujuan hubungan Jaejoong dengan Yunho.
"Ya. Yunho memintaku tinggal
di sana, karena dia ingin melatihku secara intensif. Selain itu... aku merasa
bersalah karena akulah dia terluka."
"Itu bukan sepenuhnya
kesalahanmu Jaejoongie, penyergap itulah yang bersalah melukai kalian."
Suara Changmin tampak ragu,
"Apakah kau mencintai Yunho?"
"Apa:"
Jaejoong terbelalak, tidak
menyangka Changmin akan menanyakan pertanyaan itu.
Changmin terdengar salah tingkah,
"Aku... kau tahu, aku penasaran, Mereka semua bilang kalian adalah
sepasang kekasih, aku bertanya-tanya apakah kau benar-benar mencintai Yunho....
ataukah itu hanya didorong oleh rasa bersalahmu karena luka Yunho?"
Bagaimana Jaejoong harus
menjawab? Dada Jaejoong terasa sesak, penuh oleh rasa bingung. Tetapi pada
akhirnya dia ingat kesepakatannya dengan Yunho dan menguatkan dirinya ketika
menjawab.
"Aku... aku menjalin
hubungan dengan Yunho karena aku mencintainya, oppa."
Dia harus menghilangkan
kecurigaan siapapun tentang hubungan sandiwaranya dengan Yunho, dia sudah berjanji
kepada Yunho. Meskipun sekarang rasanya begitu perih, berbohong bahwa dirinya
mencintai lelaki lain, kepada Changmin, lelaki yang sesungguhnya dicintainya.
Hening lagi. Kali ini sedikit
agak lama. Tetapi kemudian Changmin berdehem.
"Baguslah kalau begitu.
Maafkan aku kalau sedikit mencampuri. Kau tahu aku mencemaskanmu."
Jaejoong tersenyum lembut,
"Terimakasih, Changmin oppa."
"Oke kalau begitu, aku harus
ke bandara untuk mengantar Kyuhyun, sampai ketemu nanti ya."
"Iya."
Dan kemudian percakapan mereka
terputus, dengan suasana canggung yang entah kenapa. Jaejoong sendiri mulai
meragukan perkataan Yunho bahwa hubungan pura-pura mereka akan membuat Changmin
memandang Jaejoong sebagai seorang perempuan.... rasanya tidak begitu, yang ada
malahan Changmin menjauhinya dan membuat hubungan mereka yang dulunya erat
menjadi canggung.
Dan sekarang Jaejoong terikat
dengan Yunho. Dia harus melakukan apapun yang diinginkan oleh Yunho. Tetapi Yunho
mungkin berhak memperalatnya, menjadikannya pelayannya atau apalah. Dia telah
menyebabkan kehilangan fatal bagi Yunho......
Jaejoong mengernyit, kalau sampai
Yunho tidak bisa bermain biola lagi, maka kesalahan terbesar ada di pundak Jaejoong.
Dia yang bersalah, dia yang bertanggung jawab.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi, membuat
Jaejoong terkejut dan hampir saja menjatuhkan cangkir kopinya. Dia melirik dan
jantungnya berdebar ketika mengetahui bahwa Yunho yang meneleponnya.
"Halo?"
diangkatnya telepon itu dengan
suara lemah, berusaha menyingkirkan ekspresi wajah Yunho tadi yang membuatnya
merasa sangat bersalah.
"Kau di mana? Aku menelepon
ke rumahmu, kata eommamu kau sudah berangkat sejak tadi ke rumah sakit."
Jaejoong menghela napas panjang,
berdoa semoga saja Yunho tidak menyadari bahwa Jaejoong sudah sampai ke rumah
sakit sejak tadi dan memergoki kegagalan Yunho bermain biola tadi.
"Aku... aku baru sampai
rumah sakit." Jaejoong menjawab cepat, "Aku akan segera naik."
"Aku tunggu." Yunho
langsung menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban Jaejoong.
Jaejoong menyesap kopinya untuk
terakhir kalinya, lalu beranjak berdiri. Bertemu dengan Yunho, terlebih setelah
menyaksikan ekspresi kesedihan lelaki itu karena gagal memainkan biolanya
benar-benar membuat dada Jaejoong terasa sesak.
.
.
.
"Menurutmu, apakah perempuan
bernama Jaejoong itu adalah kekasih Yunho?" Woobin meletakkan garpunya di
atas piring yang telah kosong. Mereka berada di apartemen Yunho, bekas
apartemen mereka dulu dan melewatkan pagi dengan sarapan bersama. Min Ah,
dengan keahliannya memasak seperti biasa telah membuatkan Woobin omelet keju
kesukaannya, sekaligus membawa kenangan di masa-masa dulu ketika hati mereka
belum bertaut sepenuhnya.
Min Ah menyorongkan gelas berisi
jus jeruk ke depan Woobin lalu bertopang dagu menatap suaminya,
"Kenapa kau bertanya seperti
itu?"
Woobin terkekeh, "Ayolah
sayang, kau tahu sendiri bagaimana tipe kekasih Yunho sebelumnya, Jaejoong
benar-benar di luar kategori itu, selain dia masih terlalu muda, dia adalah
tipe 'perempuan baik-baik'."
Min Ah menatap suaminya dengan
wajah masam,
"Jadi menurutmu Yunho selalu
berpacaran dengan perempuan tidak baik-baik?"
Kali ini kekehan Woobin berubah
menjadi tawa,
"Tepat seperti itu maksudku.
Dia mempunyai obsesi aneh untuk menyakiti perempuan."
"Yunho selalu baik kepadaku,
dia tidak memukul rata semua perempuan." Min Ah membantah
Woobin menganggukkan kepalanya,
"Benar, karena itulah tipe kekasih Yunho sangat spesifik, dia selalu
memilih perempuan yang lebih tua, dengan watak yang aku asumsikan mirip dengan
ibu kandungnya."
Mereka berdua tentu saja tahu
bagaimana jahat dan serakahnya ibu kandung Yunho. Hal itulah yang membuat Yunho
menjadi seperti ini, mengumpulkan reputasi sebagai penghancur perempuan.
"Mungkin dia benar-benar
serius dengan Jaejoong, kau tahu aku membaca beberapa berita tentang Jaejoong.
Dia sangat berbakat dalam bermain biola, para kritikus musik itu tidak ada yang
mencelanya, semuanya memujinya dan menyebutnya sebagai Yunho yang akan
datang." Mata Min Ah mengerjap.
"Rekaman ketika Yunho dan Jaejoong
bermain biola tersebar di media, aku melihatnya dan merasa begitu takjub, aku
memang tidak tahu tentang musik, tetapi telinga awamku bisa memastikan kalau
permainan mereka berdua sangat sempurna dan berpadu dengan indahnya."
"Aku juga melihat rekaman
yang menghebohkan itu. Setahuku Yunho ingin membuat Jaejoong menjadi murid
khususnya yang pertama. Aku tidak tahu kalau dia menjadikannya pacarnya."
Mata Woobin berkilat,
"Mungkin pada akhirnya Yunho
berlabuh pada perempuan yang lugu."
dia menatap Min Ah dengan tatapan
menggoda, "Seperti diriku."
Pipi Min Ah langsung memerah,
berusaha menghindari tatapan mata Woobin,
"Jadi sekarang kau sudah
benar-benar berlabuh ya?"
Woobin terkekeh, melangkah
mengitari meja dan memeluk Min Ah dari belakang, mengecup pundaknya dengan
mesra dan lembut,
"Tentu saja, aku punya
isteri yang sempurna. Apalagi yang aku inginkan? Aku sudah lengkap."
Min Ah tersenyum, menyandarkan
tubuhnya kepada Woobin, membalas pelukan erat suaminya,
"Aku bahagia karena kau
memilihku untuk berlabuh." gumamnya serak, penuh perasaan.
"Aku berlabuh pada perempuan
yang tepat."
Woobin membalik tubuh Min Ah,
lalu mengecup bibirnya dengan lembut, ketika dia mengangkat kepalanya, matanya
berbinar nakal,
“Kau mau mencoba ranjang di bekas
kamarku itu sekali lagi? Mengenang bulan madu kita dulu?"
Min Ah terkikik, dan menurut
ketika Woobin menghelanya memasuki kamar.
.
.
.
Jaejoong mengetuk pintu kamar Yunho,
dan mendapati lelaki itu sedang duduk di kursi di samping ranjang dan merenung.
Lelaki itu sudah berpakaian lengkap, siap untuk pulang.
"Junsu dan Yoochun akan
menjemput kita, sebentar lagi mereka datang."
Jaejoong menganggukkan kepalanya,
melangkah mendekati Yunho ke tengah ruangan dan mengamati lelaki itu. Yunho
tampak seperti biasa, dengan ekspresi datarnya yang tidak tertebak. Tidak
kelihatan bahwa barusan dia telah menampilkan ekspresi sedih luar biasa yang
membuat siapapun yang melihatnya merasakan kesedihan yang sama.
"Kenapa?"
Yunho mengangkat alisnya, menatap
Jaejoong yang mengamatinya, membuat Jaejoong langsung mengalihkan matanya
dengan gugup.
"Eh... tidak ada
apa-apa."
Mata Jaejoong beralih ke arah
biola Yunho, itu Paganini miliknya, yang diletakkan di atas meja.
Yunho melihat arah pandangan Jaejoong
dan tersenyum,
"Aku meminta biola ini untuk
diantarkan kemari."
Matanya menatap Jaejoong dengan
tajam, "Aku ingin memberikan biola itu kepadamu."
Wajah Jaejoong langsung pucat
pasi. Kenapa Yunho memberikan biola itu kepadanya? setahu Jaejoong, Yunho
sangat menyayangi biola ini, hadiah yang diperolehnya di sebuah negara karena
pertunjukan biolanya yang luar biasa. Lelaki ini selalu menggunakan biola ini
di setiap pertunjukan dan konsernya. Apakah... apakah Yunho memberikan biola
ini kepadanya... karena dia tidak bisa bermain biola lagi?
Yunho rupanya mengamati ekspresi Jaejoong
yang berubah-ubah, lalu terkekeh pelan.
"Jangan berpikiran terlalu
jauh Jaejoong, kau tampak kebingungan dan ekspresimu seperti buku yang terbuka.
Aku memberikan biola itu karena kau akan menjadi murid spesialku. Selama aku
menyembuhkan diri, aku akan menggunakan waktuku untuk mengajarimu. Karena itu
aku ingin memberikan kepadamu biola yang terbaik. Nanti setelah kemampuanku
pulih, aku bisa menggunakan Stradivarius milikku, warisan dari ayahku."
Yunho mengatakan hal itu dengan
tenang, seolah-olah ada keyakinan di dalam dirinya bahwa dia bisa pulih
seperti biasa, dan Jaejoong menggenggam keyakinan itu kuat-kuat, berharap bahwa
hal itu benar adanya.
.
.
.
"Ini kamarmu."
Yunho membukakan sebuah pintu
yang berada di sebelah kamarnya, mereka berada di rumah besar keluarga Yunho. Eomma
dan Aboji Yunho tinggal di sini. Junsu dan Yoochun tinggal di kediaman mereka
sendiri tentu saja, meskipun Junsu mengatakan bahwa dia akan sering berkunjung
selama Yunho dalam proses pemulihan.
Jaejoong memandang kamar itu dan
tersenyum kepada Yunho,
"Kamar yang indah,
terimakasih Yunho."
Yunho hanya tersenyum lembut,
lalu membuka pintu kamar itu semakin lebar, dan masuk ke dalam mendahului Jaejoong,
"Ayo masuklah, kamar ini
biasanya digunakan untuk tamu eomma, sudah dibersihkan karena akan kau
tinggali."
Yunho melangkah ke jendela besar
di ujung kamar yang menghadap ke arah taman, dan membuka jendela itu,
membiarkan udara segar dan secercah sinar matahari masuk. "Kenapa tidak
kau mainkan biolamu untukku sekarang?"
Lelaki itu berdiri di depan
jendela, membelakangi cahaya matahari yang melingkupinya, begitu tampan dalam
setengah siluetnya bagaikan seorang pangeran dari negeri antah berantah yang
muncul entah dari mana. Dan beberapa saat Jaejoong terpana, terpesona akan
kesempurnaan fisik lelaki di depannya.
"Jaejoong? Mainkanlah
biolamu untukku."
Ekspresi Yunho sedikit mencari,
tiba-tiba saja Jaejoong bisa melihat kilat kepedihan di sana,
"Aku sudah lama tidak
mendengar permainan biola yang indah sejak aku sakit, aku ingin
mendengarkannya."
Jantung Jaejoong serasa diremas.
Permainan biola yang indah itu tentu saja bisa didengarkan dari permainan Yunho
sendiri seandainya saja tangannya tidak sakit, tetapi karena Jaejoong, Yunho
tidak bisa bermain bola lagi.
Jaejoong meletakkan wadah biola
Paganini dari Yunho dengan hati-hati di atas meja, membukanya dan menelusuri
permukaan biola berumur ratusan tahun itu dengan penuh rasa kagum. Ini kali
kedua Jaejoong akan memainkan biola itu setelah dulu Yunho pernah meminjaminya
dalam pertunjukan bersama mereka dulu. Dan dia masih terkagum-kagum dengan
keunikan dan keindahan biola Paganini yang begitu kontras antara nada tinggi
dan nada rendahnya itu.
Dia masih
tidak percaya bahwa Yunho memberikan biola ini kepadanya untuk dia miliki.....
Yunho meraih sebuah kursi, duduk
dan menatap Jaejoong dengan serius.
"Mainkanlah untukku."
Jaejoong menurut, mengambil biola
itu dengan hati-hati, meletakkannya di pundak kirinya, dan mulai menggesek
senar unik bawaan biola Paganini itu.
Nada indah langsung mengalun
lembut memenuhi ruangan kamar itu. Carmen Fantasy by Pablo de Sarasate, adalah
salah satu permainan biola yang menjadi musik tema untuk Opera berjudul Carmen
yang sangat terkenal dan sering dimainkan di berbagai opera internasional. Jaejoong
memainkan nada dengan pelan pada mulanya, lalu semakin bersemangat ke depannya,
permainan biolanya mewakilkan sosok Carmen, perempuan gipsy cantik yang rapuh
sekaligus kuat. Kisah seorang perempuan yang berada di antara dua pilihan, dua
lelaki yang menjadi cinta sejatinya, cinta segitiga di antara Carmen dengan
seorang perwira tampan dan sang matador yang notabene adalah lelaki biasa.
Musik yang dimainkan Jaejoong meledak-ledak memenuhi ruangan, menggambarkan
seorang perempuan yang panas dan kuat, mampu mengangkat dagunya menghadapi
kekuasaan dunia yang didominasi oleh para lelaki. Dan tetap mengangkat kepalanya
dalam kebanggaan meskipun kisah cintanya pada akhirnya berakhir tragis, dengan
kematiannya di ujung pisau oleh karena kecemburuan lelaki yang tidak
dipilihnya.
Jaejoong melupakan keberadaan Yunho
yang mengamatinya di sana, dia membayangkan padang rumput yang luas, di mana
seorang perempuan cantik berpakaian gipsy yang khas dengan rok lebarnya yang
berwarna cerah, dengan rambut panjang bergelombang yang terurai dan tubuh indah
yang tegak, melompat dengan lincah, bertelanjang kaki dan mengikuti musik, bebas
merdeka membawa kebanggaannya sebagai perempuan dan tak mau takluk di kaki
laki-laki manapun.
Ketika dia mengakhiri permainan
biolanya dengan akhir yang indah, Jaejoong membuka matanya, napasnya terengah
ketika dia menurunkan biola itu dari pundaknya, ditatapnya Yunho dan menyadari
bahwa lelaki itu juga memejamkan matanya.
Ketika Yunho membuka matanya,
tatapan matanya tampak tajam.
"Aku tidak pernah
mendengarkan musik Carmen diamainkan dengan intepretasi seberani dan seindah
itu. Suaranya serak, penuh perasaan.
Pipi Jaejoong bersemu merah
mendengarkan pujian itu. Pujian dari seorang mastro seperti Yunho tentu saja
amat sangat berarti.
Tiba-tiba saja Yunho berdiri, dan
kemudian dengan gerakan secepat kilat, lelaki itu memeluk Jaejoong erat-erat.
Jaejoong benar-benar terkejut,
dia berusaha meronta, tetapi pelukan Yunho begitu erat seolah-olah ingin
meremukkan tubuhnya yang mungil. Pada akhirnya, Jaejoong menyadari bahwa Yunho
gemetar.
Lelaki itu membungkukkan
tubuhnya, menenggelamkan kepalanya di pundak Jaejoong.
"Aku takut."
Getaran di suara Yunho semakin
dalam seiring dengan pelukannya yang semakin erat. Yunho benar-benar
menenggelamkan tubuh Jaejoong ke dalam lingkaran lengannya, menekankan tubuh
mungil Jaejoong seakan ingin menyerap kekuatannya. Lelaki itu menghela
napas panjang seolah sesak napas, lalu bergumam.
"Aku takut tidak akan bisa
bermain biola lagi."
.
.
.
.
To Be Continue

Kasihan banget Yunho, duh pasti nyeseg banget kalau beneran gak bisa mai biola lagi T.T tapi disisi lain juga kasihan sama Changmin, secara gak mereka sadarari ya CM dan JJ sebenernya udah saling suka. Terus semangat ya kak! Pengen lihat JJ jatuh cinta sama Yunho XD
ReplyDeleteDuh kasihan bgt Yunho,Jae tolong jaga Yunho yaaaaa.. semangat terus dan sehat selalu kak
ReplyDeleteChangmin kasian jg yah...dia telat sih nyadarin perasaannya ke Jj.
ReplyDeleteTp yg lebih kasian lg yunho, untung Jj selalu bisa bikin yunho nyaman.