Tuesday, October 20

[REMAKE] The Violiniest Chapter XV



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

 Chapter 15,

Jaejoong duduk di cafetaria kantin sambil menyesap kopinya, jemarinya bergetar dan perasaannya bergemuruh. Ekspresi sedih Yunho tadi benar-benar tak terlupakan, sarat dengan kesedihan hingga Jaejoong tidak berani mendekati lelaki itu dan memilih melarikan diri ke lantai bawah, menyesap kopi untuk menenangkan dirinya.
Ponselnya berbunyi, dan dia melihat nama Changmin di sana. Changmin.... Jaejoong hampir-hampir melupakan Changmin, bukan karena perasaannya mulai pudar tetapi karena setelah insiden itu Changmin benar-benar menghilang dari kehidupannya, seolah-olah lelaki itu menghindari Jaejoong.
Hal itu membuat Jaejoong bertanya-tanya. Kenapa Changmin menghindarinya? Apakah karena lelaki itu marah kepadanya? Karena dia mengira - setelah melihat Yunho dan Jaejoong berciuman - bahwa Yunho dan Jaejoong menjalin hubungan cinta? Changmin sudah jelas-jelas menunjukkan ketidak setujuannya akan hubungan Jaejoong dengan Yunho, lelaki itu memang menghormati dan mengagumi Yunho dari permainan biolanya, tetapi Changmin mencemaskan reputasi Yunho sebagai penghancur perempuan.
Seandainya saja Jaejoong bisa mengungkapkan kepada Changmin bahwa hubungannya dengan Yunho hanyalah sandiwara, mungkin dia bisa menghilangkan kecemasan Changmin... sayangnya dia tidak bisa melakukannya.
"Jaejoongie?"
Suara Changmin terdengar di sana, memanggil-manggil Jaejoong yang masih melamun dan membuat Jaejoong mengerjapkan kedua matanya.
"ne, oppa? Kau di mana saja? Rasanya sudah lama sekali kita tidak bicara." Jaejoong merindukan Changmin tentu saja.
Changmin berdehem, "Aku... aku tidak mau mengganggumu dengan Yunho, dia kan sedang dalam masa pemulihan. Lagipula aku sedang intens menghabiskan waktuku bersama Kyuhyun..."
Kyuhyun. Hampir saja Jaejoong melupakan keberadaan perempuan itu. Terakhir, Changmin mengatakan bahwa dia sudah menyatakan cintanya kepada Kyuhyun dan Kyuhyun membalas perasaannya. Mereka berdua sekarang adalah sepasang kekasih... Kyuhyun yang memiliki Changmin. Jaejoong berusaha menekan perasaan pedih dalam suaranya.
"Aku mengerti oppa...."
"Hari ini Kyuhyun dan abojinya kembali ke luar negeri." Changmin melanjutkan,
"Aku akan mengantarkannya ke bandara."
Jaejoong mengerutkan keningnya, "Kyuhyun sudah akan pulang? Jadi kalian akan menjalin hubungan jarak jauh?"
Suara Changmin tampak sedih dan tidak yakin.
"Kami akan mencoba Jaejoongie, meskipun aku tidak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak."
Keraguan dalam suara Changmin tampak nyata,
"Karena aku... aku padamu...." suara Changmin menghilang, membuat Jaejoong mengerutkan keningnya semakin dalam.
"Kau kenapa oppa?"
Hening sejenak, lalu Changmin berkata.
"Tidak. Tidak ada apa-apa. Maafkan aku, mungkin aku hanya sedang bingung, kau tahu, aku sedih karena akan berpisah dengan Kyuhyun."
Jaejoong tersenyum lembut, "Aku mengerti perasaanmu, oppa." 
"Kaulah yang paling mengerti,"
Ada senyum di suara Changmin, tetapi senyum itu menghilang ketika dia bertanya kepada Jaejoong,
"Aku tadi ke rumahmu, kata hechul ahjumma, kau sudah berkemas dan akan tinggal di rumah Yunho untuk sementara."
Jaejoong berdehem, merasa tidak enak karena dia tidak tahu ketidaksetujuan hubungan Jaejoong dengan Yunho.
"Ya. Yunho memintaku tinggal di sana, karena dia ingin melatihku secara intensif. Selain itu... aku merasa bersalah karena akulah dia terluka."
"Itu bukan sepenuhnya kesalahanmu Jaejoongie, penyergap itulah yang bersalah melukai kalian."
Suara Changmin tampak ragu, "Apakah kau mencintai Yunho?"
"Apa:"
Jaejoong terbelalak, tidak menyangka Changmin akan menanyakan pertanyaan itu.
Changmin terdengar salah tingkah, "Aku... kau tahu, aku penasaran, Mereka semua bilang kalian adalah sepasang kekasih, aku bertanya-tanya apakah kau benar-benar mencintai Yunho.... ataukah itu hanya didorong oleh rasa bersalahmu karena luka Yunho?"
Bagaimana Jaejoong harus menjawab? Dada Jaejoong terasa sesak, penuh oleh rasa bingung. Tetapi pada akhirnya dia ingat kesepakatannya dengan Yunho dan menguatkan dirinya ketika menjawab.
"Aku... aku menjalin hubungan dengan Yunho karena aku mencintainya, oppa."
Dia harus menghilangkan kecurigaan siapapun tentang hubungan sandiwaranya dengan Yunho, dia sudah berjanji kepada Yunho. Meskipun sekarang rasanya begitu perih, berbohong bahwa dirinya mencintai lelaki lain, kepada Changmin, lelaki yang sesungguhnya dicintainya.
Hening lagi. Kali ini sedikit agak lama. Tetapi kemudian Changmin berdehem.
"Baguslah kalau begitu. Maafkan aku kalau sedikit mencampuri. Kau tahu aku mencemaskanmu."
Jaejoong tersenyum lembut, "Terimakasih, Changmin oppa."
"Oke kalau begitu, aku harus ke bandara untuk mengantar Kyuhyun, sampai ketemu nanti ya."
"Iya." 
Dan kemudian percakapan mereka terputus, dengan suasana canggung yang entah kenapa. Jaejoong sendiri mulai meragukan perkataan Yunho bahwa hubungan pura-pura mereka akan membuat Changmin memandang Jaejoong sebagai seorang perempuan.... rasanya tidak begitu, yang ada malahan Changmin menjauhinya dan membuat hubungan mereka yang dulunya erat menjadi canggung.
Dan sekarang Jaejoong terikat dengan Yunho. Dia harus melakukan apapun yang diinginkan oleh Yunho. Tetapi Yunho mungkin berhak memperalatnya, menjadikannya pelayannya atau apalah. Dia telah menyebabkan kehilangan fatal bagi Yunho......
Jaejoong mengernyit, kalau sampai Yunho tidak bisa bermain biola lagi, maka kesalahan terbesar ada di pundak Jaejoong. Dia yang bersalah, dia yang bertanggung jawab.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi, membuat Jaejoong terkejut dan hampir saja menjatuhkan cangkir kopinya. Dia melirik dan jantungnya berdebar ketika mengetahui bahwa Yunho yang meneleponnya.
"Halo?"
diangkatnya telepon itu dengan suara lemah, berusaha menyingkirkan ekspresi wajah Yunho tadi yang membuatnya merasa sangat bersalah.
"Kau di mana? Aku menelepon ke rumahmu, kata eommamu kau sudah berangkat sejak tadi ke rumah sakit."
Jaejoong menghela napas panjang, berdoa semoga saja Yunho tidak menyadari bahwa Jaejoong sudah sampai ke rumah sakit sejak tadi dan memergoki kegagalan Yunho bermain biola tadi.
"Aku... aku baru sampai rumah sakit." Jaejoong menjawab cepat, "Aku akan segera naik."
"Aku tunggu." Yunho langsung menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban Jaejoong.
Jaejoong menyesap kopinya untuk terakhir kalinya, lalu beranjak berdiri. Bertemu dengan Yunho, terlebih setelah menyaksikan ekspresi kesedihan lelaki itu karena gagal memainkan biolanya benar-benar membuat dada Jaejoong terasa sesak.
.
.
"Menurutmu, apakah perempuan bernama Jaejoong itu adalah kekasih Yunho?" Woobin meletakkan garpunya di atas piring yang telah kosong. Mereka berada di apartemen Yunho, bekas apartemen mereka dulu dan melewatkan pagi dengan sarapan bersama. Min Ah, dengan keahliannya memasak seperti biasa telah membuatkan Woobin omelet keju kesukaannya, sekaligus membawa kenangan di masa-masa dulu ketika hati mereka belum bertaut sepenuhnya.
Min Ah menyorongkan gelas berisi jus jeruk ke depan Woobin lalu bertopang dagu menatap suaminya,
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Woobin terkekeh, "Ayolah sayang, kau tahu sendiri bagaimana tipe kekasih Yunho sebelumnya, Jaejoong benar-benar di luar kategori itu, selain dia masih terlalu muda, dia adalah tipe 'perempuan baik-baik'."
Min Ah menatap suaminya dengan wajah masam,
"Jadi menurutmu Yunho selalu berpacaran dengan perempuan tidak baik-baik?"
Kali ini kekehan Woobin berubah menjadi tawa,
"Tepat seperti itu maksudku. Dia mempunyai obsesi aneh untuk menyakiti perempuan."
"Yunho selalu baik kepadaku, dia tidak memukul rata semua perempuan." Min Ah membantah
Woobin menganggukkan kepalanya, "Benar, karena itulah tipe kekasih Yunho sangat spesifik, dia selalu memilih perempuan yang lebih tua, dengan watak yang aku asumsikan mirip dengan ibu kandungnya."
Mereka berdua tentu saja tahu bagaimana jahat dan serakahnya ibu kandung Yunho. Hal itulah yang membuat Yunho menjadi seperti ini, mengumpulkan reputasi sebagai penghancur perempuan.
"Mungkin dia benar-benar serius dengan Jaejoong, kau tahu aku membaca beberapa berita tentang Jaejoong. Dia sangat berbakat dalam bermain biola, para kritikus musik itu tidak ada yang mencelanya, semuanya memujinya dan menyebutnya sebagai Yunho yang akan datang." Mata Min Ah mengerjap.
"Rekaman ketika Yunho dan Jaejoong bermain biola tersebar di media, aku melihatnya dan merasa begitu takjub, aku memang tidak tahu tentang musik, tetapi telinga awamku bisa memastikan kalau permainan mereka berdua sangat sempurna dan berpadu dengan indahnya."
"Aku juga melihat rekaman yang menghebohkan itu. Setahuku Yunho ingin membuat Jaejoong menjadi murid khususnya yang pertama. Aku tidak tahu kalau dia menjadikannya pacarnya." Mata Woobin berkilat,
"Mungkin pada akhirnya Yunho berlabuh pada perempuan yang lugu."
dia menatap Min Ah dengan tatapan menggoda, "Seperti diriku."
Pipi Min Ah langsung memerah, berusaha menghindari tatapan mata Woobin,
"Jadi sekarang kau sudah benar-benar berlabuh ya?"
Woobin terkekeh, melangkah mengitari meja dan memeluk Min Ah dari belakang, mengecup pundaknya dengan mesra dan lembut, 
"Tentu saja, aku punya isteri yang sempurna. Apalagi yang aku inginkan? Aku sudah lengkap."
Min Ah tersenyum, menyandarkan tubuhnya kepada Woobin, membalas pelukan erat suaminya,
"Aku bahagia karena kau memilihku untuk berlabuh." gumamnya serak, penuh perasaan.
"Aku berlabuh pada perempuan yang tepat."
Woobin membalik tubuh Min Ah, lalu mengecup bibirnya dengan lembut, ketika dia mengangkat kepalanya, matanya berbinar nakal,
“Kau mau mencoba ranjang di bekas kamarku itu sekali lagi? Mengenang bulan madu kita dulu?"
Min Ah terkikik, dan menurut ketika Woobin menghelanya memasuki kamar.
.
.
Jaejoong mengetuk pintu kamar Yunho, dan mendapati lelaki itu sedang duduk di kursi di samping ranjang dan merenung. Lelaki itu sudah berpakaian lengkap, siap untuk pulang.
"Junsu dan Yoochun akan menjemput kita, sebentar lagi mereka datang." 
Jaejoong menganggukkan kepalanya, melangkah mendekati Yunho ke tengah ruangan dan mengamati lelaki itu. Yunho tampak seperti biasa, dengan ekspresi datarnya yang tidak tertebak. Tidak kelihatan bahwa barusan dia telah menampilkan ekspresi sedih luar biasa yang membuat siapapun yang melihatnya merasakan kesedihan yang sama.
"Kenapa?"
Yunho mengangkat alisnya, menatap Jaejoong yang mengamatinya, membuat Jaejoong langsung mengalihkan matanya dengan gugup.
"Eh... tidak ada apa-apa."
Mata Jaejoong beralih ke arah biola Yunho, itu Paganini miliknya, yang diletakkan di atas meja.
Yunho melihat arah pandangan Jaejoong dan tersenyum,
"Aku meminta biola ini untuk diantarkan kemari."
Matanya menatap Jaejoong dengan tajam, "Aku ingin memberikan biola itu kepadamu."
Wajah Jaejoong langsung pucat pasi. Kenapa Yunho memberikan biola itu kepadanya? setahu Jaejoong, Yunho sangat menyayangi biola ini, hadiah yang diperolehnya di sebuah negara karena pertunjukan biolanya yang luar biasa. Lelaki ini selalu menggunakan biola ini di setiap pertunjukan dan konsernya. Apakah... apakah Yunho memberikan biola ini kepadanya... karena dia tidak bisa bermain biola lagi?
Yunho rupanya mengamati ekspresi Jaejoong yang berubah-ubah, lalu terkekeh pelan. 
"Jangan berpikiran terlalu jauh Jaejoong, kau tampak kebingungan dan ekspresimu seperti buku yang terbuka. Aku memberikan biola itu karena kau akan menjadi murid spesialku. Selama aku menyembuhkan diri, aku akan menggunakan waktuku untuk mengajarimu. Karena itu aku ingin memberikan kepadamu biola yang terbaik. Nanti setelah kemampuanku pulih, aku bisa menggunakan Stradivarius milikku, warisan dari ayahku."
Yunho mengatakan hal itu dengan tenang, seolah-olah ada keyakinan di dalam dirinya bahwa dia  bisa pulih seperti biasa, dan Jaejoong menggenggam keyakinan itu kuat-kuat, berharap bahwa hal itu benar adanya.
.
.
"Ini kamarmu."
Yunho membukakan sebuah pintu yang berada di sebelah kamarnya, mereka berada di rumah besar keluarga Yunho. Eomma dan Aboji Yunho tinggal di sini. Junsu dan Yoochun tinggal di kediaman mereka sendiri tentu saja, meskipun Junsu mengatakan bahwa dia akan sering berkunjung selama Yunho dalam proses pemulihan.
Jaejoong memandang kamar itu dan tersenyum kepada Yunho, 
"Kamar yang indah, terimakasih Yunho."
Yunho hanya tersenyum lembut, lalu membuka pintu kamar itu semakin lebar, dan masuk ke dalam mendahului Jaejoong,
"Ayo masuklah, kamar ini biasanya digunakan untuk tamu eomma, sudah dibersihkan karena akan kau tinggali."
Yunho melangkah ke jendela besar di ujung kamar yang menghadap ke arah taman, dan membuka jendela itu, membiarkan udara segar dan secercah sinar matahari masuk. "Kenapa tidak kau mainkan biolamu untukku sekarang?"
Lelaki itu berdiri di depan jendela, membelakangi cahaya matahari yang melingkupinya, begitu tampan dalam setengah siluetnya bagaikan seorang pangeran dari negeri antah berantah yang muncul entah dari mana. Dan beberapa saat Jaejoong terpana, terpesona akan kesempurnaan fisik lelaki di depannya.
"Jaejoong? Mainkanlah biolamu untukku."
Ekspresi Yunho sedikit mencari, tiba-tiba saja Jaejoong bisa melihat kilat kepedihan di sana,
"Aku sudah lama tidak mendengar permainan biola yang indah sejak aku sakit, aku ingin mendengarkannya."
Jantung Jaejoong serasa diremas. Permainan biola yang indah itu tentu saja bisa didengarkan dari permainan Yunho sendiri seandainya saja tangannya tidak sakit, tetapi karena Jaejoong, Yunho tidak bisa bermain bola lagi.
Jaejoong meletakkan wadah biola Paganini dari Yunho dengan hati-hati di atas meja, membukanya dan menelusuri permukaan biola berumur ratusan tahun itu dengan penuh rasa kagum. Ini kali kedua Jaejoong akan memainkan biola itu setelah dulu Yunho pernah meminjaminya dalam pertunjukan bersama mereka dulu. Dan dia masih terkagum-kagum dengan keunikan dan keindahan biola Paganini yang begitu kontras antara nada tinggi dan nada rendahnya itu.
Dia masih tidak percaya bahwa Yunho memberikan biola ini kepadanya untuk dia miliki.....
Yunho meraih sebuah kursi, duduk dan menatap Jaejoong dengan serius.
"Mainkanlah untukku."
Jaejoong menurut, mengambil biola itu dengan hati-hati, meletakkannya di pundak kirinya, dan mulai menggesek senar unik bawaan biola Paganini itu.
Nada indah langsung mengalun lembut memenuhi ruangan kamar itu. Carmen Fantasy by Pablo de Sarasate, adalah salah satu permainan biola yang menjadi musik tema untuk Opera berjudul Carmen yang sangat terkenal dan sering dimainkan di berbagai opera internasional. Jaejoong memainkan nada dengan pelan pada mulanya, lalu semakin bersemangat ke depannya, permainan biolanya mewakilkan sosok Carmen, perempuan gipsy cantik yang rapuh sekaligus kuat. Kisah seorang perempuan yang berada di antara dua pilihan, dua lelaki yang menjadi cinta sejatinya, cinta segitiga di antara Carmen dengan seorang perwira tampan dan sang matador yang notabene adalah lelaki biasa. Musik yang dimainkan Jaejoong meledak-ledak memenuhi ruangan, menggambarkan seorang perempuan yang panas dan kuat, mampu mengangkat dagunya menghadapi kekuasaan dunia yang didominasi oleh para lelaki. Dan tetap mengangkat kepalanya dalam kebanggaan meskipun kisah cintanya pada akhirnya berakhir tragis, dengan kematiannya di ujung pisau oleh karena kecemburuan lelaki yang tidak dipilihnya.
Jaejoong melupakan keberadaan Yunho yang mengamatinya di sana, dia membayangkan padang rumput yang luas, di mana seorang perempuan cantik berpakaian gipsy yang khas dengan rok lebarnya yang berwarna cerah, dengan rambut panjang bergelombang yang terurai dan tubuh indah yang tegak, melompat dengan lincah, bertelanjang kaki dan mengikuti musik, bebas merdeka membawa kebanggaannya sebagai perempuan dan tak mau takluk di kaki laki-laki manapun.
Ketika dia mengakhiri permainan biolanya dengan akhir yang indah, Jaejoong membuka matanya, napasnya terengah ketika dia menurunkan biola itu dari pundaknya, ditatapnya Yunho dan menyadari bahwa lelaki itu juga memejamkan matanya.
Ketika Yunho membuka matanya, tatapan matanya tampak tajam.
"Aku tidak pernah mendengarkan musik Carmen diamainkan dengan intepretasi seberani dan seindah itu. Suaranya serak, penuh perasaan.
Pipi Jaejoong bersemu merah mendengarkan pujian itu. Pujian dari seorang mastro seperti Yunho tentu saja amat sangat berarti.
Tiba-tiba saja Yunho berdiri, dan kemudian dengan gerakan secepat kilat, lelaki itu memeluk Jaejoong erat-erat.
Jaejoong benar-benar terkejut, dia berusaha meronta, tetapi pelukan Yunho begitu erat seolah-olah ingin meremukkan tubuhnya yang mungil. Pada akhirnya, Jaejoong menyadari bahwa Yunho gemetar.
Lelaki itu membungkukkan tubuhnya, menenggelamkan kepalanya di pundak Jaejoong.
"Aku takut."
Getaran di suara Yunho semakin dalam seiring dengan pelukannya yang semakin erat. Yunho benar-benar menenggelamkan tubuh Jaejoong ke dalam lingkaran lengannya, menekankan tubuh mungil Jaejoong seakan ingin menyerap kekuatannya. Lelaki itu menghela  napas panjang seolah sesak napas, lalu bergumam.  
"Aku takut tidak akan bisa bermain biola lagi."
.
.
.
.
To Be Continue

3 comments:

  1. Kasihan banget Yunho, duh pasti nyeseg banget kalau beneran gak bisa mai biola lagi T.T tapi disisi lain juga kasihan sama Changmin, secara gak mereka sadarari ya CM dan JJ sebenernya udah saling suka. Terus semangat ya kak! Pengen lihat JJ jatuh cinta sama Yunho XD

    ReplyDelete
  2. Duh kasihan bgt Yunho,Jae tolong jaga Yunho yaaaaa.. semangat terus dan sehat selalu kak

    ReplyDelete
  3. Changmin kasian jg yah...dia telat sih nyadarin perasaannya ke Jj.
    Tp yg lebih kasian lg yunho, untung Jj selalu bisa bikin yunho nyaman.

    ReplyDelete