Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Chapter 14,
Operasi Yunho berlangsung cukup lama, lebih lama
dari yang diperkirakan. Dokter mengatakan butuh waktu dua sampai dengan tiga
jam untuk operasi. Tetapi sekarang sudah empat jam berlalu.
Jaejoong duduk di sana dengan cemas, di antara
keluarga Yunho. Ada ibu Yunho yang tampak keibuan dan ayahnya. Juga ada adik Yunho,
Jihye yang ramah padanya, ditemani oleh suaminya, Yoochun. Seluruh keluarga Yunho
baik kepada Jaejoong.... padahal semula Jaejoong mengira dirinya akan
disalahkan karena menyebabkan Yunho terluka dan harus menghadapi operasi ini. Ibu
Jaejoong ikut menemani Jaejoong menunggu, beliau sedang bercakap-cakap dengan ibu
Yunho, posisi ibu Jaejoong sebagai guru di akademi tempat Yunho dulu pernah
berlatih, membuatnya mengenal ibu Yunho jauh bertahun-tahun sebelumnya,
meskipun tidak akrab.
Jihye, adik Yunho yang cantik dan ikut menunggui di
sana bahkan duduk di sebelahnya dan mengajaknya bercakap-cakap selama menunggu.
Sementara itu suami Jihye, Yoochun, sedang mengurus sesuatu di perusahaannya
dan mengatakan akan segera menyusul datang.
"Hai Jaejoong, akhirnya kita bertemu, aku
seudah penasaran sekali ingin bertemu denganmu."
Apakah Jihye penasaran ingin tahu wajah perempuan
yang membuat kakaknya terluka? Memikirkan itu, ekspresi Jaejoong langsung
berubah sedih,
"Maafkan aku, aku....maafkan aku semua
kejadian ini membuat Yunho terluka, dia berusaha melindungiku."
"Hei. Kami semua tidak menyalahkanmu, lagipula
kami menduga itu perbuatan salah satu mantan kekasih Yunho yang cemburu, well oppaku
memang banyak menyakiti yeoja di masa lalunya... jadi kau adalah korban juga
dan itu semua bukan sepenuhnya kesalahanmu."
Mata Jihye tampak bercahaya, "Lagipula aku
senang sekali akhirnya Yunho memiliki kekasih yang normal."
Kata 'kekasih' dan 'normal' membuat Jaejoong mengerutkan
keningnya. Jihye jelas-jelas menyebutnya sebagai kekasih Yunho, apakah Jihye
tahu tentang sandiwara mereka? atau Yunho juga menutupinya dari adiknya?
"Yunho mengatakan padaku bahwa kau adalah
kekasihnya tadi sebelum dia operasi."
Jihye mengedipkan sebelah matanya, "Karena
itulah aku tidak sabar bertemu denganmu."
Jadi ternyata Yunho serius mengatakan bahwa
sandiwara sebagai pasangan kekasih ini hanya boleh diketahui oleh mereka
berdua. Lelaki itu bahkan membohongi adiknya sendiri.
"Apa maksudmu dengan kekasih yang
normal?"
Jaejoong langsung bertanya penuh dengan ingin tahu.
Apakah itu berarti Jihye menganggap bahwa kekasih-kekasih Yunho sebelumnya
bukan manusia normal?
"Kau berbeda jauh dengan kekasih-kekasih Yunho
sebelumnya. Amat sangat berbeda."
Jaejoong menoleh ke arah Jihye, sedikit mengerutkan
keningnya. Apakah maksud Jihye Jaejoong tidak secantik kekasih-kekasih Yunho
sebelumnya? Tetapi ternyata tidak ada ejekan apapaun di wajah Jihye, perempuan
itu malahan tampak senang sekali karena Yunho sekarang memiliki Jaejoong
sebagai kekasihnya.
"Berbeda maksudku bukan dalam hal
penampilannya. Kakakku itu suka main-main dengan wanita yang lebih tua."
Jihye mengerucutkan bibirnya dengan ironis,
"Kau pasti sudah dengar reputasinya, dia suka
mencampakkan mereka semua hingga terpuruk. Herannya, wanita-wanita yang lebih
tua itu tidak ada yang kapok, mereka terus berusaha menaklukkan kakakku."
Mata Jihye menatap Jaejoong penuh persahabatan,
"Aku senang pada akhirnya Yunho membuka
matanya dan memilihmu sebagai kekasihnya, kau akan membuatnya berlabuh dan
melukapan sikap suka-main-mainnya. Aku berharap nanti kita benar-benar menjadi
saudara.
"Belum sempat Jaejoong menanggapi kata-kata Jihye,
pintu ruang tunggu terbuka dan Yoochun, suami Jihye memasuki ruangan, mata
lelaki itu langsung menemukan isterinya dan menatapnya dengan sayang. Jihye
langsung beranjak dari duduknya ketika melihat suaminya datang,
"Tunggu sebentar ya."
Jemari lembutnya menyentuh tangan Jaejoong sedikit
dan meminta maaf, lalu Jihye menghampiri suaminya, yang lamgsung menghelanya ke
dalam pelukan dan mengecup dahinya.
Jaejoong tergugu, bingung tak tahu harus bicara
apa. Jihye tampak begitu baik dan mengharapkan yang terbaik untuk Yunho, dan
dia sekarang membohongi Jihye dengan semua sandiwara ini. Belum lagi, akan ada
banyak orang yang mereka bohongi nantinya... ibunya, orang tua Yunho.... dan Changmin.
Hati Jaejoong tiba-tiba merasa cemas ketika
memikirkan tentang Changmin. Changmin... kemana dia? Jaejoong berusaha
menghubungi ponselnya tetapi tidak diangkat... dan sejak insiden Changmin
memergoki dia dan Yunho berciuman, lelaki itu belum muncul lagi di rumah sakit.
Membohongi Changmin adalah yang paling berat untuk Jaejoong,
apalagi karena lelaki itu ada di hatinya. Tetapi Jaejoong sudah berjanji kepada
Yunho... lagipula Yunho bilang sandiwara mereka sebagai pasangan kekasih itu
bisa membuat Changmin membuka matanya dan melihat Jaejoong sebagai seorang
perempuan.
Seandainya saja itu benar.... seandainya saja Changmin
bisa memandanganya sebagai seorang perempuan, bukan lagi adik atau sahabat....
mungkinkan Changmin bisa menumbuhkan perasaan kepadanya?
Lamunan Jaejoong tersentak ketika lift penghubung
ruang operasi terbuka. Dokter yang mengoperasi Yunho keluar. Mereka semua
langsung berdiri dan menunggu penjelasan.
"Operasinya berhasil." Kata dokter itu,
"Untuk pemulihannya kita harus melihat lagi
nanti. Sekarang pasien sedang berada di ruang pemulihan pasca operasi, nanti
setelah sadar baru akan kita pindahkan kembali ke kamarnya."
dokter itu segera memberi keterang lebih lanjut
kepada orang tua Yunho yang menungggu.
Jihye sendiri hanya berdiri di kejauhan, memejamkan
matanya lega. Setidaknya operasi Yunho berhasil... mereka memang belum tahu
apakah kemampuan Yunho bermain biola akan terpengaruh oleh kejadian ini, tetapi
semoga saja tidak.
Sungguh, Jaejoong berharap dari dalam hatinya bahwa
kemampuan Yunho yang bisa memainkan biola dan menghasilkan nada-nada yang ajaib
itu tidak hilang....
.
.
.
Ketika Yunho membuka matanya, dia menemukan adiknya
sedang duduk menungguinya.
"Hai oppa." gumam Jihye lembut.
Yunho langsung tersenyum, mengerjapkan matanya,
berusaha mengembalikan kesadarannya.
"eomma dan appa sedang bertemu dokter di
bawah." Jihye menjelaskan lagi,
"Aku di sini menungguimu dengan Jaejoong."
"Jaejoong?"
Yunho menggumamkan nama perempuan itu, lalu menelan
ludahnya karena tenggorokannya yang kering. Matanya menelusuri sekeliling
ruangan dan menemukan Jaejoong terduduk di kursi seberang, perempuan itu masih
dibebat kakinya dan hanya menggunakan satu kruk yang disandarkan di lengan
kursi.
Mata Yunho terpejam lagi. Dia mengantuk. Dan
kemudian kegelapan menelannya kembali.
.
.
.
Yunho terbangun hampir tengah malam. Dia membuka
matanya begitu saja dan menyadari bahwa hari sudah gelap. Lampu tidur yang
temaram sudah dinyalakan, dan ketika dia memandang ke sudut ruangan, ada ibunya
yang menunggui di sana., tertidur di atas sofa besar.
Yunho bergerak pelan, berusaha duduk tetapi tidak
bersuara sehingga tidak mengganggu tidur ibunya. Dia kemudian menatap tangannya
yang diperban tebal, dan diberi pemberat agar tidak banyak bergerak. Matanya
menatap ke arah tangannya itu.
Bahkan sekarang dia tidak bisa merasakan tangannya sendiri...
entah karena pengaruh bius atau karena pengaruh syarafnya yang terluka....
Yunho menghela napas panjang. Nanti begitu
diizinkan, dia harus segera mencoba bermain biola lagi.
.
.
.
Tak terasa sudah sepuluh hari setelah operasi Yunho.
Hari ini dia diperbolehkan pulang ke rumah. Akhirnya, setelah malam-malam
membosankan di rumah sakit.
Semula Yunho bersikeras kembali ke apartemen yang
ditempatinya sendiri. Tetapi sang ibu memaksanya untuk pulang ke rumah dulu,
karena beliau mencemaskan Yunho yang akan tinggal sendirian sementara tangannya
belum sembuh benar. Pada akhirnya Yunho mengalah kepada ibunya, dan bersedia
pulang ke rumah ibunya untuk sementara,
Suara pintu terbuka membuatnya menoleh, senyumnya
langsung melebar.
"Kim Woo Bin." sapanya sambil tersenyum
lebar,
sahabatnya datang dari australia untuk
menjenguknya. Sebenarnya Woo Bin seharusnya datang berhari-hari yang lalu,
tetapi karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkanya, lelaki itu meminta
maaf dan menunda kepulangannya hingga hari ini.
"Kulihat kau sehat-sehat saja, tidak seperti
orang habis dioperasi" Woo Bin bersedekap, mengamati Yunho dalam senyum,
"Sepertinya sayang sekali karena Min Ah
benar-benar mencemaskanmu setengah mati."
Yunho hanya terkekeh mendengar celaan Woo Bin,
sahabatnya itu tidak berubah meskipun lama mereka tidak bertemu, tetap saja
sinis dan sarkatis.
"Di mana Min Ah?" Yunho melirik ke
belakang Woo Bin, dan beberapa detik kemudian, pintu terbuka lagi dan Min Ah
masuk.
"Yunho!" Min Ah menatap Yunho dengan
cemas,
"Bagaimana keadaanmu?"
"Dia baik-baik saja, kau tidak lihat?" Woo
Bin mencibir,"Sia-sia saja kau menangisinya kemarin."
"Kau menangisiku?"
Yunho tersenyum menatap Min Ah yang merona pipinya,
sementara itu Woo Bin langsung memeluk pundak Min Ah dengan posesif, menatap Yunho
memperingatkan.
"Hei. Min Ah menangisimu karena dia
mencemaskanmu sebagai saudara. Singkirkan seringaian lebarmu itu."
gumamnya serius, sehingga Min Ah menyodok pinggangnya dengan siku karena malu,
"Sebenarnya bukan aku yang menangisimu, Woo
Bin yang hampir menangis karena cemas ketika mendengar berita tentang musibah
yang menimpamu," Min Ah terkikik ketika Woo Bin melotot kepadanya.
Yunho tersenyum,
"Terimakasih kalian sudah datang kemari
menengokku."
Lelaki itu menunjukkan tangannya yang diperban.
"Tangan ini sudah agak pulih, aku sudah
mencoba menggerakkan jaro-jariku."
Tiba-tiba Woo Bin menatap Yunho dengan tatapan mata
prihatin,
"Apakah luka itu mempengaruhi kemampuanmu
bermain biola?"
Senyum Yunho tampak dalam dan tidak terbaca,
"Aku belum tahu, aku belum mencobanya..."
Suara Yunho terhenti ketika sosok mungil yang sudah
ditunggunya muncul dari pintu. Jaejoong berdiri di sana, perempuan itu sudah
tidak memakai kruk lagi meskipun kakinya masih dibebat, tetapi sakitnya sudah
mereda dan pergelangan kakinya yang terkilir sudah tidak bengkak lagi. Jaejoong
sudah bisa berjalan tanpa kruk meskipun masih agak terpincang-pincang.
Wajah Jaejoong tampak salah tingkah ketika melihat
ada dua orang asing di dalam kamar Yunho,
"Ah... maaf... aku tidak tahu kalau ada
tamu."
"Tidak apa-apa. Masuklah Jae."
Yunho mengulurkan tangannya dari tengah ruangan,
hingga mau tak mau Jaejoong melangkah masuk dan menyambut tangan itu.
"Woo Bin, Min Ah kalian pasti sudah tahu Jaejoong,
dia murid khususku dan sekarang dia menjadi kekasihku."
Mata Min Ah melebar, sedangkan Woo Bin berhasil
menyembunyikan kekagetannya. Tetapi itu hanya berlangsung sejenak, sedetik kemudian,
Min Ah memecah suasanya dengan menyalami Jaejoong dengan hangat.
"Senang sekali akhirnya Yunho bertobat dan
memilih perempuan yang baik." gumamnya dalam senyuman lebar,
"Salam kenal Jaejoong..."
"Min Ah dan Woo Bin ini pasangan suami isteri,
mereka sahabatku dan tinggal di Australia." Yunho menjelaskan kepada Jaejoong.
Woo Bin, lelaki berwajah dingin tapi tampan itu
kemudian tersenyum lembut kepada Jaejoong yang masih tampak bingung,
"Kami datang kemari khusus untuk menengok Yunho."
Lelaki itu akhirnya melirik ke arah tas-tas Yunho
yang sudah tertata rapi,
"Kau akan pulang hari ini, Yunho?
Yunho menganggukkan kepalanya. "Sudah bisa
pulang kata dokter, untunglah karena aku sudah berada di batas
kebosananku."
Woo Bin tersenyum dan menganggukkan kepalanya,
"Kami akan berada di Korea selama dua
minggu."
lelaki itu menyebut nama hotel tempat mereka
menginap,
"Kami akan mengunjungimu nanti. Kau akan
pulang ke rumahmu bukan?"
"Rumah orang tuaku." Yunho mengkoreksi,
"Mereka memaksaku pulang ke sana karena takut
tidak ada yang merawatku kalau aku pulang sendirian ke apartemenku."
Dia menatap Woo Bin penuh arti, "Kenapa kalian
harus tinggal di hotel? Kenapa kalian tidak tinggal di apartemenku saja? Itu
kan apartemen kalian juga."
"Bekas apartemen kami, Yunho. Apartemen itu
sudah bukan milik kami, bukankah kau sudah membayarnya lunas kepadaku?"
Woo Bin langsung menyela membuat Yunho terkekeh,
"Yah bagaimanapun juga aku tidak akan pulang
ke sana, kalian bisa menggunakannya. Aku tahu hotel itu memiliki fasilitas yang
lengkap, tetapi apartemen itu penuh kenangan bagi kalian kan? Kalian bisa
mengenang kembali masa-masa indah kalian yang dulu." Suara Woo Bin
menggoda dan penuh arti
Sementara Jaejoong mengamati Woo Bin dan Min Ah
saling bertukar pandang, ada cinta yang pekat di sana, dan pipi Min Ah memerah
ketika Woo Bin menyinggung tentang kenangan di apartemen itu... bahkan... pipi Woo
Bin tampak sedikit merona. Pasangan ini sepertinya memiliki kenangan yang
indah di apartemen itu...
Woo Bin berdehem, lelaki berwajah dingin itu tampak
salah tingkah, lengannya merangkul pinggang isterinya dengan erat.
"Kami... eh kami mungkin akan menerima
tawaranmu untuk tinggal di apartemenmu sementara, benar kan Min Ah?"
Min Ah menatap suaminya dengan senyum lembut, dan
pipi yang makin merona merah,
"Iya." jawabnya pelan.
Yunho terkekeh, dan mengeluarkan kartu apartemennya
dari sakunya,
“Ini. Kalian bisa tinggal di sana sesukanya."
gumamnya menggoda.
.
.
.
Min Ah dan Woo Bin kemudian berpamitan untuk
beristirahat dan membereskan barang-barang mereka dulu, karena mereka tadi
langsung datang ke rumah sakit dari bandara. Setelah itu Yunho duduk di tepi
ranjang, sementara Jaejoong berdiri canggung di depannya.
"Bagaimana kondisi... tanganmu?"
Jaejoong menatap ke arah tangan Yunho yang sekarang
hanya dibalut perban tipis dan elastis. Kecemasan langsung menyergapnya. Yunho
belum mencoba memegang biola lagi, sementara itu, kata Jihye dokter mengatakan
tangan Yunho mungkin akan berfungsi kembali 85% dari semula.
Apakah 85% itu cukup untuk membuatnya bisa bermain
biola kembali?
Yunho sendiri bisa membaca kecemasan di mata Jaejoong.
Dia memegang tangannya yang diperban dengan tangannya yang lain, lalu
menampilkan senyuman datar
"Aku bisa menggerakkan jari-jariku dengan
mudah."
Yunho menunjukkan jarinya yang bergerak-gerak
kepada Jaejoong,
"Masih terasa agak kaku, tetapi aku baik-baik
saja."
Jaejoong menelan ludahnya, dia ingin sekali
bertanya kapan Yunho mau mencoba memegang biola lagi, tetapi dia tidak berani.
"Apakah barang-barangmu hanya itu?"
Jaejoong melirik tas Yunho yang sudah terpacking
rapi.
"Kau... seperti kata Woo Bin tadi, kau akan
pulang ke rumah orang tuamu?"
"Ya." Tiba-tiba tatapan mata Yunho
menajam,
"Dan aku sudah meminta secara khusus kepada ibumu,
agar kau diizinkan tinggal di sana juga."
Mata Jaejoong membelalak terkejut,
"Apa?"
Yunho bersedekap seolah menantang Jaejoong untuk
melawannya,
"Ibumu sudah setuju. Begitupun orang tuaku.
Aku melalaikan mengajarimu biola selama aku sakit, dan sekarang aku akan
mengejarnya, dengan kau tinggal di rumah itu, pelatihanku kepadamu akan semakin
intensif."
"Itukah alasan yang kau gunakan untuk membujuk
ibuku?"
Kalau Yunho beralasan begitu, sudah pasti ibunya setuju.
Lagipula ibunya benar-benar senang ketika Yunho mengatakan bahwa Jaejoong
adalah kekasihnya, Ibunya benar-benar menganggap Yunho sebagai menantu idaman.
Padahal hubungan mereka ini hanyalah pura-pura.... Jaejoong bisa membayangkan
betapa kecewanya ibu Jaejoong nanti ketika mengetahui kebenarannya. Belum juga,
Jaejoong harus menjelaskan pada Changmin nanti kalau pada akhirnya
kebohongannya ini terkuak. Changmin menerima kabar bahwa Jaejoong sudah menjadi
kekasih Yunho dengan baik, dan berbeda dengan apa yang dikatakan Yunho,
bukannya mendekati Jaejoong, Changmin malah menjaga jarak, nanti Jaejoong akan
protes kepada Yunho mengenai masalah ini. Tetapi itu nanti. Sekarang Yunho
malahan melemparkan masalah baru kepadanya. Tinggal bersama di rumah orang tua Yunho?
yang benar saja!
Yunho tersenyum lebar, matanya bersinar jahil.
“Ya itu alasanku untuk membujuk ibumu."
Mata Jaejoong menyipit, "Dan apa alasanmu yang
sebenarnya?" gumamnya curiga.
Yunho terkekeh, "Kau harus menepati janjimu
untuk bersedia melakukan 'apapun' untukku..."
mata Yunho meredup, dan jemarinya menyentuh dagu Jaejoong
dengan santai, wajahnya mendekat dan suaranya berubah serak menggoda,
"Apakah kau sudah siap melakukan apapun
untukku, Jae? aku ingin kau melakukan...."
Jaejoong panik. Termakan oleh janjinya sendiri,
salahnya sendiri berjanji kepada Yunho yang licik dan keji, lelaki ini pasti
akan memanfaatkannya, dasar lelaki mesum tukang cium sembarangan! Apakah Yunho
akan memaksanya untuk berbuat mesum? Wajah Jaejoong memucat ketakutan.
Yunho melihat perubahan ekspresi Jaejoong dan
langsung tahu pikiran apa yang ada di benak Jaejoong. Lelaki itu melepaskan
pegangannya kepada Jaejoong dan tertawa geli,
"Singkirkan pikiran mesum dari otakmu Jaejoong,
aku ingin kau menjadi suster perawatku selama kau tinggal di sana."
"Suster perawat?"
begitu Yunho melepaskan pegangan di dagu Jaejoong,
dia langsung mundur selangkah untuk menjaga diri dan mengamankan jarak,
"Ya."
Sinar jahil semakin kental di mata Yunho.
"Kau akan melayani segala kebutuhanku, seperti
kataku dulu. Kau akan menjadi pelayan sekaligus perawatku."
Dasar pria licik sialan! Jaejoong menggertakkan
gigi karena tidak bisa membantah perkataan Yunho. Pria mesum dan licik ini
benar-benar memanfaatkan posisinya yang berada di atas angin. Jaejoong dengan
bodohnya menjanjikan 'apapun' kepada Yunho, dan dengan kejam, lelaki itu
menjadikan Jaejoong budaknya!
"Kau tidak boleh membantah Jaejoong. Jadi
pulanglah dan kemasi barang-barangmu, aku akan menunggumu di sini, setelah
keluargaku datang menjemputku kita akan pulang dari rumah sakit bersama-sama ke
rumah orang tuaku."
Yunho mengangkat alisnya melihat Jaejoong hendak
membantah,
"Lagipula ini rencana yang bagus untuk
memancing orang yang mencoba melukaimu, dia akan semakin cemburu ketika kabar
bahwa kau tinggal bersamaku tersebar.... dengan kecemburuannya, dia akan lengah
dan bertindak bodoh."
Jaejoong terdiam, dan mau tak mau, dia menyetujui
perkataan Yunho.
.
.
.
Satu jam kemudian, Jaejoong kembali ke rumah sakit
sambil membawa tas pakaiannya, lebih cepat dari yang direncanakan. Jaejoong
tadi berpikir dia mungkin bisa kembali ke rumah sakit ini tiga jam lagi karena
dia harus membereskan barang-barangnya. Ternyata ibunya yang antusias sudah membereskan
semua barang untuknya, seluruh perlengkapan menginapnya untuk tinggal di rumah Yunho
sudah disiapkan.
Dasar.
Jaejoong cemberut memikirkan ibunya yang melepasnya
tadi dengan senyuman lebar. Ibunya benar-benar tidak bisa menyembunyikan
kegirangannya karena Jaejoong menjadi kekasih Yunho...
Jaejoong melalui lorong-lorong rumah sakit menuju
kamar Yunho, tasnya dia tinggalkan di penitipan tas di area lobby rumah sakit.
Ketika langkahnya semakin mendekat ke kamar Yunho, Jaejoong mengerut.
Suara biola terdengar sayup-sayup.
Yunho?
Jaejoong mempercepat langkahnya di atas karpet
lorong rumah sakit yang tebal itu. Dan alunan biola yang indah itu semakin
pekat terdengar ketika dia semakin mendekat ke kamar Yunho.
Pintu kamar Yunho sedikit terbuka sehingga Jaejoong
bisa mengintip di sana, tidak berani masuk karena takut akan mengganggu
konsentrasi Yunho bermain biola...
Dan kemudian, Jaejoong melihat Yunho memainkan
biola itu, menjepit biola itu di pundak kirinya dan memainkan nada yang
indah...
Senyum Jaejoong melebar...
Jadi Yunho bisa bermain biola lagi?
Tetapi senyumnya ternyata tidak bertahan lama.
Ketika mengamati ekspresi Yunho, Jaejoong menyadari bahwa Yunho mengerutkan
keningnya seolah menahan kesakitan, bahkan keringat menetes di dahi Yunho...
seolah-olah memainkan biola itu sangat menyakitkan untuknya.
Lalu nada yang dimainkan Yunho berhenti mendadak.
Sepertinya sakit yang dialami Yunho tak tertahankan, memaksa tangannya berhenti
menggesek senar biolanya. Lelaki itu terengah, ekspresinya kesakitan. Dan
kemudian, dengan ekspresi yang luar biasa sedih, Yunho meletakkan biola dan
penggeseknya di meja.
Tatapan matanya nanar, menatap satu titik yang tak
terlihat di meja, ekspresi Yunho bercampur antara kekecewaan, kemarahan dan
kesedihan.
Jaejoong langsung menyingkir dan bersandar jauh di
dinding luar kamar Yunho, air matanya menetes,
Dia telah menyaksikan sang maestro, jenius berbakat
dalam permainan biola, tidak mampu memainkan biolanya.... tidak mampu
menyelesaikan lagunya sampai akhir.
.
.
.
.
To Be Continue

Aku rasanya pengen nangis waktu baca scene terakhir itu T.T gak tega liat Yunho kayak gitu, pasti JJ merasa bersalah banget deh T.T semangat terus ya kak! Makasih hari ini udah update dua ff XD
ReplyDeleteYa ampun...sedih bgt ya pas bagian terakhirnya.
ReplyDeleteTapi harusnya yunho ga sedih2 amat ya?
Secara dia kan punya Jj yg bakalan ngelakuin 'apapun' utk dia...^^v