Sunday, October 18

[REMAKE] The Violiniest Chapter XIV



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

 Chapter 14,

Operasi Yunho berlangsung cukup lama, lebih lama dari yang diperkirakan. Dokter mengatakan butuh waktu dua sampai dengan tiga jam untuk operasi. Tetapi sekarang sudah empat jam berlalu. 
Jaejoong duduk di sana dengan cemas, di antara keluarga Yunho. Ada ibu Yunho yang tampak keibuan dan ayahnya. Juga ada adik Yunho, Jihye yang ramah padanya, ditemani oleh suaminya, Yoochun. Seluruh keluarga Yunho baik kepada Jaejoong.... padahal semula Jaejoong mengira dirinya akan disalahkan karena menyebabkan Yunho terluka dan harus menghadapi operasi ini. Ibu Jaejoong ikut menemani Jaejoong menunggu, beliau sedang bercakap-cakap dengan ibu Yunho, posisi ibu Jaejoong sebagai guru di akademi tempat Yunho dulu pernah berlatih, membuatnya mengenal ibu Yunho jauh bertahun-tahun sebelumnya, meskipun tidak akrab.
Jihye, adik Yunho yang cantik dan ikut menunggui di sana bahkan duduk di sebelahnya dan mengajaknya bercakap-cakap selama menunggu. Sementara itu suami Jihye, Yoochun, sedang mengurus sesuatu di perusahaannya dan mengatakan akan segera menyusul datang.
"Hai Jaejoong, akhirnya kita bertemu, aku seudah penasaran sekali ingin bertemu denganmu."
Jihye bergumam ramah begitu mereka duduk bersama.
Apakah Jihye penasaran ingin tahu wajah perempuan yang membuat kakaknya terluka? Memikirkan itu, ekspresi Jaejoong langsung berubah sedih,
"Maafkan aku, aku....maafkan aku semua kejadian ini membuat Yunho terluka, dia berusaha melindungiku."
"Hei. Kami semua tidak menyalahkanmu, lagipula kami menduga itu perbuatan salah satu mantan kekasih Yunho yang cemburu, well oppaku memang banyak menyakiti yeoja di masa lalunya... jadi kau adalah korban juga dan itu semua bukan sepenuhnya kesalahanmu."
Mata Jihye tampak bercahaya, "Lagipula aku senang sekali akhirnya Yunho memiliki kekasih yang normal."
Kata 'kekasih' dan 'normal' membuat Jaejoong mengerutkan keningnya. Jihye jelas-jelas menyebutnya sebagai kekasih Yunho, apakah Jihye tahu tentang sandiwara mereka? atau Yunho juga menutupinya dari adiknya?
"Yunho mengatakan padaku bahwa kau adalah kekasihnya tadi sebelum dia operasi."
Jihye mengedipkan sebelah matanya, "Karena itulah aku tidak sabar bertemu denganmu."
Jadi ternyata Yunho serius mengatakan bahwa sandiwara sebagai pasangan kekasih ini hanya boleh diketahui oleh mereka berdua. Lelaki itu bahkan membohongi adiknya sendiri.
"Apa maksudmu dengan kekasih yang normal?"
Jaejoong langsung bertanya penuh dengan ingin tahu. Apakah itu berarti Jihye menganggap bahwa kekasih-kekasih Yunho sebelumnya bukan manusia normal?
"Kau berbeda jauh dengan kekasih-kekasih Yunho sebelumnya. Amat sangat berbeda."
Jaejoong menoleh ke arah Jihye, sedikit mengerutkan keningnya. Apakah maksud Jihye Jaejoong tidak secantik kekasih-kekasih Yunho sebelumnya? Tetapi ternyata tidak ada ejekan apapaun di wajah Jihye, perempuan itu malahan tampak senang sekali karena Yunho sekarang memiliki Jaejoong sebagai kekasihnya.
"Berbeda maksudku bukan dalam hal penampilannya. Kakakku itu suka main-main dengan wanita yang lebih tua."
Jihye mengerucutkan bibirnya dengan ironis,
"Kau pasti sudah dengar reputasinya, dia suka mencampakkan mereka semua hingga terpuruk. Herannya, wanita-wanita yang lebih tua itu tidak ada yang kapok, mereka terus berusaha menaklukkan kakakku." Mata Jihye menatap Jaejoong penuh persahabatan,
"Aku senang pada akhirnya Yunho membuka matanya dan memilihmu sebagai kekasihnya, kau akan membuatnya berlabuh dan melukapan sikap suka-main-mainnya. Aku berharap nanti kita benar-benar menjadi saudara.
"Belum sempat Jaejoong menanggapi kata-kata Jihye, pintu ruang tunggu terbuka dan Yoochun, suami Jihye memasuki ruangan, mata lelaki itu langsung menemukan isterinya dan menatapnya dengan sayang. Jihye langsung beranjak dari duduknya ketika melihat suaminya datang,
"Tunggu sebentar ya."
Jemari lembutnya menyentuh tangan Jaejoong sedikit dan meminta maaf, lalu Jihye menghampiri suaminya, yang lamgsung menghelanya ke dalam pelukan dan mengecup dahinya.
Jaejoong tergugu, bingung tak tahu harus bicara apa. Jihye tampak begitu baik dan mengharapkan yang terbaik untuk Yunho, dan dia sekarang membohongi Jihye dengan semua sandiwara ini. Belum lagi, akan ada banyak orang yang mereka bohongi nantinya... ibunya, orang tua Yunho.... dan Changmin.
Hati Jaejoong tiba-tiba merasa cemas ketika memikirkan tentang Changmin. Changmin... kemana dia? Jaejoong berusaha menghubungi ponselnya tetapi tidak diangkat... dan sejak insiden Changmin memergoki dia dan Yunho berciuman, lelaki itu belum muncul lagi di rumah sakit.
Membohongi Changmin adalah yang paling berat untuk Jaejoong, apalagi karena lelaki itu ada di hatinya. Tetapi Jaejoong sudah berjanji kepada Yunho... lagipula Yunho bilang sandiwara mereka sebagai pasangan kekasih itu bisa membuat Changmin membuka matanya dan melihat Jaejoong sebagai seorang perempuan.
Seandainya saja itu benar.... seandainya saja Changmin bisa memandanganya sebagai seorang perempuan, bukan lagi adik atau sahabat.... mungkinkan Changmin bisa menumbuhkan perasaan kepadanya?
Lamunan Jaejoong tersentak ketika lift penghubung ruang operasi terbuka. Dokter yang mengoperasi Yunho keluar. Mereka semua langsung berdiri dan menunggu penjelasan.
"Operasinya berhasil." Kata dokter itu,
"Untuk pemulihannya kita harus melihat lagi nanti. Sekarang pasien sedang berada di ruang pemulihan pasca operasi, nanti setelah sadar baru akan kita pindahkan kembali ke kamarnya."
dokter itu segera memberi keterang lebih lanjut kepada orang tua Yunho yang menungggu.
Jihye sendiri hanya berdiri di kejauhan, memejamkan matanya lega. Setidaknya operasi Yunho berhasil... mereka memang belum tahu apakah kemampuan Yunho bermain biola akan terpengaruh oleh kejadian ini, tetapi semoga saja tidak.
Sungguh, Jaejoong berharap dari dalam hatinya bahwa kemampuan Yunho yang bisa memainkan biola dan menghasilkan nada-nada yang ajaib itu tidak hilang....
.
.
.
Ketika Yunho membuka matanya, dia menemukan adiknya sedang duduk menungguinya.
"Hai oppa." gumam Jihye lembut.
Yunho langsung tersenyum, mengerjapkan matanya, berusaha mengembalikan kesadarannya.
"eomma dan appa sedang bertemu dokter di bawah." Jihye menjelaskan lagi,
"Aku di sini menungguimu dengan Jaejoong."
"Jaejoong?"
Yunho menggumamkan nama perempuan itu, lalu menelan ludahnya karena tenggorokannya yang kering. Matanya menelusuri sekeliling ruangan dan menemukan Jaejoong terduduk di kursi seberang, perempuan itu masih dibebat kakinya dan hanya menggunakan satu kruk yang disandarkan di lengan kursi.
Mata Yunho terpejam lagi. Dia mengantuk. Dan kemudian kegelapan menelannya kembali.
.
.
.
Yunho terbangun hampir tengah malam. Dia membuka matanya begitu saja dan menyadari bahwa hari sudah gelap. Lampu tidur yang temaram sudah dinyalakan, dan ketika dia memandang ke sudut ruangan, ada ibunya yang menunggui di sana., tertidur di atas sofa besar.
Yunho bergerak pelan, berusaha duduk tetapi tidak bersuara sehingga tidak mengganggu tidur ibunya. Dia kemudian menatap tangannya yang diperban tebal, dan diberi pemberat agar tidak banyak bergerak. Matanya menatap ke arah tangannya itu.
Bahkan sekarang dia tidak bisa merasakan tangannya sendiri... entah karena pengaruh bius atau karena pengaruh syarafnya yang terluka....
Yunho menghela napas panjang. Nanti begitu diizinkan, dia harus segera mencoba bermain biola lagi.
.
.
.
Tak terasa sudah sepuluh hari setelah operasi Yunho. Hari ini dia diperbolehkan pulang ke rumah. Akhirnya, setelah malam-malam membosankan di rumah sakit.
Semula Yunho bersikeras kembali ke apartemen yang ditempatinya sendiri. Tetapi sang ibu memaksanya untuk pulang ke rumah dulu, karena beliau mencemaskan Yunho yang akan tinggal sendirian sementara tangannya belum sembuh benar. Pada akhirnya Yunho mengalah kepada ibunya, dan bersedia pulang ke rumah ibunya untuk sementara,
Suara pintu terbuka membuatnya menoleh, senyumnya langsung melebar.
"Kim Woo Bin." sapanya sambil tersenyum lebar,
sahabatnya datang dari australia untuk menjenguknya. Sebenarnya Woo Bin seharusnya datang berhari-hari yang lalu, tetapi karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkanya, lelaki itu meminta maaf dan menunda kepulangannya hingga hari ini.
"Kulihat kau sehat-sehat saja, tidak seperti orang habis dioperasi" Woo Bin bersedekap, mengamati Yunho dalam senyum,
"Sepertinya sayang sekali karena Min Ah benar-benar mencemaskanmu setengah mati."
Yunho hanya terkekeh mendengar celaan Woo Bin, sahabatnya itu tidak berubah meskipun lama mereka tidak bertemu, tetap saja sinis dan sarkatis. 
"Di mana Min Ah?" Yunho melirik ke belakang Woo Bin, dan beberapa detik kemudian, pintu terbuka lagi dan Min Ah masuk.
"Yunho!" Min Ah menatap Yunho dengan cemas,
"Bagaimana keadaanmu?"
"Dia baik-baik saja, kau tidak lihat?" Woo Bin mencibir,"Sia-sia saja kau menangisinya kemarin."
"Kau menangisiku?"
Yunho tersenyum menatap Min Ah yang merona pipinya, sementara itu Woo Bin langsung memeluk pundak Min Ah dengan posesif, menatap Yunho memperingatkan.
"Hei. Min Ah menangisimu karena dia mencemaskanmu sebagai saudara. Singkirkan seringaian lebarmu itu." gumamnya serius, sehingga Min Ah menyodok pinggangnya dengan siku karena malu,
"Sebenarnya bukan aku yang menangisimu, Woo Bin yang hampir menangis karena cemas ketika mendengar berita tentang musibah yang menimpamu," Min Ah terkikik ketika Woo Bin melotot kepadanya.
Yunho tersenyum,
"Terimakasih kalian sudah datang kemari menengokku."
Lelaki itu menunjukkan tangannya yang diperban.
"Tangan ini sudah agak pulih, aku sudah mencoba menggerakkan jaro-jariku."
Tiba-tiba Woo Bin menatap Yunho dengan tatapan mata prihatin,
"Apakah luka itu mempengaruhi kemampuanmu bermain biola?"
Senyum Yunho tampak dalam dan tidak terbaca,
"Aku belum tahu, aku belum mencobanya..."
Suara Yunho terhenti ketika sosok mungil yang sudah ditunggunya muncul dari pintu. Jaejoong berdiri di sana, perempuan itu sudah tidak memakai kruk lagi meskipun kakinya masih dibebat, tetapi sakitnya sudah mereda dan pergelangan kakinya yang terkilir sudah tidak bengkak lagi. Jaejoong sudah bisa berjalan tanpa kruk meskipun masih agak terpincang-pincang.
Wajah Jaejoong tampak salah tingkah ketika melihat ada dua orang asing di dalam kamar Yunho,
"Ah... maaf... aku tidak tahu kalau ada tamu."
"Tidak apa-apa. Masuklah Jae."
Yunho mengulurkan tangannya dari tengah ruangan, hingga mau tak mau Jaejoong melangkah masuk dan menyambut tangan itu. 
"Woo Bin, Min Ah kalian pasti sudah tahu Jaejoong, dia murid khususku dan sekarang dia menjadi kekasihku."
Mata Min Ah melebar, sedangkan Woo Bin berhasil menyembunyikan kekagetannya. Tetapi itu hanya berlangsung sejenak, sedetik kemudian, Min Ah memecah suasanya dengan menyalami Jaejoong dengan hangat.
"Senang sekali akhirnya Yunho bertobat dan memilih perempuan yang baik." gumamnya dalam senyuman lebar,
"Salam kenal Jaejoong..."
"Min Ah dan Woo Bin ini pasangan suami isteri, mereka sahabatku dan tinggal di Australia." Yunho menjelaskan kepada Jaejoong.
Woo Bin, lelaki berwajah dingin tapi tampan itu kemudian tersenyum lembut kepada Jaejoong yang masih tampak bingung,
"Kami datang kemari khusus untuk menengok Yunho."
Lelaki itu akhirnya melirik ke arah tas-tas Yunho yang sudah tertata rapi,
"Kau akan pulang hari ini, Yunho?
Yunho menganggukkan kepalanya. "Sudah bisa pulang kata dokter, untunglah karena aku sudah berada di batas kebosananku."
Woo Bin tersenyum dan menganggukkan kepalanya,
"Kami akan berada di Korea selama dua minggu."
lelaki itu menyebut nama hotel tempat mereka menginap,
"Kami akan mengunjungimu nanti. Kau akan pulang ke rumahmu bukan?"
"Rumah orang tuaku." Yunho mengkoreksi,
"Mereka memaksaku pulang ke sana karena takut tidak ada yang merawatku kalau aku pulang sendirian ke apartemenku."
Dia menatap Woo Bin penuh arti, "Kenapa kalian harus tinggal di hotel? Kenapa kalian tidak tinggal di apartemenku saja? Itu kan apartemen kalian juga."
"Bekas apartemen kami, Yunho. Apartemen itu sudah bukan milik kami, bukankah kau sudah membayarnya lunas kepadaku?"
Woo Bin langsung menyela membuat Yunho terkekeh,
"Yah bagaimanapun juga aku tidak akan pulang ke sana, kalian bisa menggunakannya. Aku tahu hotel itu memiliki fasilitas yang lengkap, tetapi apartemen itu penuh kenangan bagi kalian kan? Kalian bisa mengenang kembali masa-masa indah kalian yang dulu." Suara Woo Bin menggoda dan penuh arti
Sementara Jaejoong mengamati Woo Bin dan Min Ah saling bertukar pandang, ada cinta yang pekat di sana, dan pipi Min Ah memerah ketika Woo Bin menyinggung tentang kenangan di apartemen itu... bahkan... pipi Woo Bin  tampak sedikit merona. Pasangan ini sepertinya memiliki kenangan yang indah di apartemen itu...
Woo Bin berdehem, lelaki berwajah dingin itu tampak salah tingkah, lengannya merangkul pinggang isterinya dengan erat.
"Kami... eh kami mungkin akan menerima tawaranmu untuk tinggal di apartemenmu sementara, benar kan Min Ah?"
Min Ah menatap suaminya dengan senyum lembut, dan pipi yang makin merona merah,
"Iya." jawabnya pelan.
Yunho terkekeh, dan mengeluarkan kartu apartemennya dari sakunya,
“Ini. Kalian bisa tinggal di sana sesukanya." gumamnya menggoda.
.

.

.
Min Ah dan Woo Bin kemudian berpamitan untuk beristirahat dan membereskan barang-barang mereka dulu, karena mereka tadi langsung datang ke rumah sakit dari bandara. Setelah itu Yunho duduk di tepi ranjang, sementara Jaejoong berdiri canggung di depannya.
"Bagaimana kondisi... tanganmu?"
Jaejoong menatap ke arah tangan Yunho yang sekarang hanya dibalut perban tipis dan elastis. Kecemasan langsung menyergapnya. Yunho belum mencoba memegang biola lagi, sementara itu, kata Jihye dokter mengatakan tangan Yunho mungkin akan berfungsi kembali 85% dari semula.
Apakah 85% itu cukup untuk membuatnya bisa bermain biola kembali?
Yunho sendiri bisa membaca kecemasan di mata Jaejoong. Dia memegang tangannya yang diperban dengan tangannya yang  lain, lalu menampilkan senyuman datar
"Aku bisa menggerakkan jari-jariku dengan mudah."
Yunho menunjukkan jarinya yang bergerak-gerak kepada Jaejoong,
"Masih terasa agak kaku, tetapi aku baik-baik saja."
Jaejoong menelan ludahnya, dia ingin sekali bertanya kapan Yunho mau mencoba memegang biola lagi, tetapi dia tidak berani.
"Apakah barang-barangmu hanya itu?"
Jaejoong melirik tas Yunho yang sudah terpacking rapi.
"Kau... seperti kata Woo Bin tadi, kau akan pulang ke rumah orang tuamu?"
"Ya." Tiba-tiba tatapan mata Yunho menajam,
"Dan aku sudah meminta secara khusus kepada ibumu, agar kau diizinkan tinggal di sana juga."
Mata Jaejoong membelalak terkejut,
"Apa?"
Yunho bersedekap seolah menantang Jaejoong untuk melawannya,
"Ibumu sudah setuju. Begitupun orang tuaku. Aku melalaikan mengajarimu biola selama aku sakit, dan sekarang aku akan mengejarnya, dengan kau tinggal di rumah itu, pelatihanku kepadamu akan semakin intensif."
"Itukah alasan yang kau gunakan untuk membujuk ibuku?"
Kalau Yunho beralasan begitu, sudah pasti ibunya setuju. Lagipula ibunya benar-benar senang ketika Yunho mengatakan bahwa Jaejoong adalah kekasihnya, Ibunya benar-benar menganggap Yunho sebagai menantu idaman. Padahal hubungan mereka ini hanyalah pura-pura.... Jaejoong bisa membayangkan betapa kecewanya ibu Jaejoong nanti ketika mengetahui kebenarannya. Belum juga, Jaejoong harus menjelaskan pada Changmin nanti kalau pada akhirnya kebohongannya ini terkuak. Changmin menerima kabar bahwa Jaejoong sudah menjadi kekasih Yunho dengan baik, dan berbeda dengan apa yang dikatakan Yunho, bukannya mendekati Jaejoong, Changmin malah menjaga jarak, nanti Jaejoong akan protes kepada Yunho mengenai masalah ini. Tetapi itu nanti. Sekarang Yunho malahan melemparkan masalah baru kepadanya. Tinggal bersama di rumah orang tua Yunho? yang benar saja!
Yunho tersenyum lebar, matanya bersinar jahil.
“Ya itu alasanku untuk membujuk ibumu."
Mata Jaejoong menyipit, "Dan apa alasanmu yang sebenarnya?" gumamnya curiga.
Yunho terkekeh, "Kau harus menepati janjimu untuk bersedia melakukan 'apapun' untukku..."
mata Yunho meredup, dan jemarinya menyentuh dagu Jaejoong dengan santai, wajahnya mendekat dan suaranya berubah serak menggoda,
"Apakah kau sudah siap melakukan apapun untukku, Jae? aku ingin kau melakukan...."
Jaejoong panik. Termakan oleh janjinya sendiri, salahnya sendiri berjanji kepada Yunho yang licik dan keji, lelaki ini pasti akan memanfaatkannya, dasar lelaki mesum tukang cium sembarangan! Apakah Yunho akan memaksanya untuk berbuat mesum? Wajah Jaejoong memucat ketakutan.
Yunho melihat perubahan ekspresi Jaejoong dan langsung tahu pikiran apa yang ada di benak Jaejoong. Lelaki itu melepaskan pegangannya kepada Jaejoong dan tertawa geli,
"Singkirkan pikiran mesum dari otakmu Jaejoong, aku ingin kau menjadi suster perawatku selama kau tinggal di sana."
"Suster perawat?"
begitu Yunho melepaskan pegangan di dagu Jaejoong, dia langsung mundur selangkah untuk menjaga diri dan mengamankan jarak,
"Ya."
Sinar jahil semakin kental di mata Yunho.
"Kau akan melayani segala kebutuhanku, seperti kataku dulu. Kau akan menjadi pelayan sekaligus perawatku."
Dasar pria licik sialan! Jaejoong menggertakkan gigi karena tidak bisa membantah perkataan Yunho. Pria mesum dan licik ini benar-benar memanfaatkan posisinya yang berada di atas angin. Jaejoong dengan bodohnya menjanjikan 'apapun' kepada Yunho, dan dengan kejam, lelaki itu menjadikan Jaejoong budaknya!
"Kau tidak boleh membantah Jaejoong. Jadi pulanglah dan kemasi barang-barangmu, aku akan menunggumu di sini, setelah keluargaku datang menjemputku kita akan pulang dari rumah sakit bersama-sama ke rumah orang tuaku."
Yunho mengangkat alisnya melihat Jaejoong hendak membantah,
"Lagipula ini rencana yang bagus untuk memancing orang yang mencoba melukaimu, dia akan semakin cemburu ketika kabar bahwa kau tinggal bersamaku tersebar.... dengan kecemburuannya, dia akan lengah dan bertindak bodoh."
Jaejoong terdiam, dan mau tak mau, dia menyetujui perkataan Yunho.
.
.
.
Satu jam kemudian, Jaejoong kembali ke rumah sakit sambil membawa tas pakaiannya, lebih cepat dari yang direncanakan. Jaejoong tadi berpikir dia mungkin bisa kembali ke rumah sakit ini tiga jam lagi karena dia harus membereskan barang-barangnya. Ternyata ibunya yang antusias sudah membereskan semua barang untuknya, seluruh perlengkapan menginapnya untuk tinggal di rumah Yunho sudah disiapkan.
Dasar. 
Jaejoong cemberut memikirkan ibunya yang melepasnya tadi dengan senyuman lebar. Ibunya benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegirangannya karena Jaejoong menjadi kekasih Yunho...
Jaejoong melalui lorong-lorong rumah sakit menuju kamar Yunho, tasnya dia tinggalkan di penitipan tas di area lobby rumah sakit. Ketika langkahnya semakin mendekat ke kamar Yunho, Jaejoong mengerut.
Suara biola terdengar sayup-sayup.
Yunho?
Jaejoong mempercepat langkahnya di atas karpet lorong rumah sakit yang tebal itu. Dan alunan biola yang indah itu semakin pekat terdengar ketika dia semakin mendekat ke kamar Yunho.
Pintu kamar Yunho sedikit terbuka sehingga Jaejoong bisa mengintip di sana, tidak berani masuk karena takut akan mengganggu konsentrasi Yunho bermain biola...
Dan kemudian, Jaejoong melihat Yunho memainkan biola itu, menjepit biola itu di pundak kirinya dan memainkan nada yang indah...
Senyum Jaejoong melebar... 
Jadi Yunho bisa bermain biola lagi?
Tetapi senyumnya ternyata tidak bertahan lama. Ketika mengamati ekspresi Yunho, Jaejoong menyadari bahwa Yunho mengerutkan keningnya seolah menahan kesakitan, bahkan keringat menetes di dahi Yunho... seolah-olah memainkan biola itu sangat menyakitkan untuknya.
Lalu nada yang dimainkan Yunho berhenti mendadak. Sepertinya sakit yang dialami Yunho tak tertahankan, memaksa tangannya berhenti menggesek senar biolanya. Lelaki itu terengah, ekspresinya kesakitan. Dan kemudian, dengan ekspresi yang luar biasa sedih, Yunho meletakkan biola dan penggeseknya di meja.
Tatapan matanya nanar, menatap satu titik yang tak terlihat di meja, ekspresi Yunho bercampur antara kekecewaan, kemarahan dan kesedihan.
Jaejoong langsung menyingkir dan bersandar jauh di dinding luar kamar Yunho, air matanya menetes,
Dia telah menyaksikan sang maestro, jenius berbakat dalam permainan biola, tidak mampu memainkan biolanya.... tidak mampu menyelesaikan lagunya sampai akhir.
.
.
.
.
To Be Continue

2 comments:

  1. Aku rasanya pengen nangis waktu baca scene terakhir itu T.T gak tega liat Yunho kayak gitu, pasti JJ merasa bersalah banget deh T.T semangat terus ya kak! Makasih hari ini udah update dua ff XD

    ReplyDelete
  2. Ya ampun...sedih bgt ya pas bagian terakhirnya.
    Tapi harusnya yunho ga sedih2 amat ya?
    Secara dia kan punya Jj yg bakalan ngelakuin 'apapun' utk dia...^^v

    ReplyDelete