Thursday, October 1

[REMAKE] The Untittled Story Chapter XXVI



Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertarik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Chapter 26
Aku berusaha untuk berada sejauh mungkin darinya, aku tidak berhenti sampai akhirnya aku berdiri menempel dinding di sisi lain ruangan.
Yunho mengikutiku masuk ke dalam dan menutup pintu di belakangnya. Tatapan matanya melihatku seolah ia ingin melahapku.
"Cepat. Bicaralah. Aku ingin kau pergi dari sini." Aku berkata padanya.
Yunho terlihat kaget ketika mendengar ucapanku. Aku tak akan membiarkan diriku untuk bersimpati padanya. Aku tidak boleh.
"Aku mencintaimu."
Tidak. Ia tak mungkin mengatakan itu. Aku menggelengkan kepalaku. Tidak. Aku tidak boleh mendengar semua ini. Yunho tidak mencintaiku. Ia tak mungkin mencintaiku. Cinta tak mungkin berdusta.
"Aku tahu apa yang telah kuperbuat tidak mencerminkan ucapanku, namun jika kau mengijinkan aku untuk menjelaskan semua padamu. Ya tuhan, boo, aku tak sanggup melihatmu begitu menderita."
Dia tidak tahu apa itu arti penderitaan. Dia tahu seberapa besar aku mencintai ibuku. Seberapa pentingnya ibu bagi diriku. Seberapa besar pengorbanan ibuku. Yunho telah mengetahui semuanya, namun ia masih tidak mengatakan padaku apa yang di pikirkan orang-orang itu mengenai ibuku. Apa yang "dia" pikirkan mengenai ibuku. Aku tidak bisa mencintai. Dia. Atau Siapapun yang menghina kenangan tentang ibuku. Aku tidak akan bisa untuk mencintai. Tak akan pernah.
"Apapun yang kau katakan tidak akan dapat memperbaiki semua ini. Wanita itu adalah ibuku, Yunho. Satu-satunya kenangan yang mampu menyatukan semua kenangan indah di dalam hidupku. Dia adalah sumber dari setiap kebahagiaan dari masa kecilku. Dan kau..."
Aku memejamkan mataku, tak mampu melihatnya. "Dan kau, dan...dan mereka...Kalian semua menghinanya. Kebohongan menjijikkan yang kalian ucapkan seolah itu adalah kebenaran."
"Aku menyesal kau mengetahuinya dengan cara seperti ini. Aku ingin mengatakan padamu. Awalnya, aku melihatmu hanya sebagai sebuah produk yang bisa menyakiti Boa. Aku berpikir kau akan menyebabkan Boa lebih menderita. Masalahnya adalah, kau membuatku terpesona. Aku akan mengakui bahwa saat pertama kali aku melihatmu aku langsung tertarik padamu karena kecantikanmu. Itu sangat mengagumkan. Aku membencimu karena itu. Aku tak boleh tertarik denganmu. Namun percuma, Aku begitu menginginkanmu sejak malam pertama saat kita jumpa. Hanya untuk berada di dekatmu, ya Tuhan, aku bahkan mengarang sebuah alasan hanya untuk bertemu denganmu. Kemudian...Kemudian aku lebih mengenalmu. Aku terhipnotis oleh tawamu. Itu adalah suara yang paling mengagumkan yang pernah kudengar. Kau sangat jujur dan penuh tekad. Kau tidak merengek atau mengeluh. Kau menerima semua yang terjadi di hidupmu dan berusaha untuk menghadapinya. Aku tidak terbiasa melihat hal seperti itu. Setiap kali aku melihatmu, setiap saat aku berada di dekatmu perasaanku mulai tumbuh."
Yunho melangkah maju kedepan kearahku, namun aku mengangkat kedua tanganku untuk menahannya. Aku menarik napas panjang. Aku tidak boleh menangis lagi. Jika ia ingin mengatakan semua ini dengan maksud untuk membuatku lebih hancur, maka aku akan mendengarkannya. Aku akan memberikannya kepuasan itu, karena aku tahu aku tak akan pernah dapat mendapatkan itu untuk diriku sendiri.
"Lalu pada malam kita pergi ke Mirotic. Setelah malam itu kau memiliki diriku. Mungkin kau tidak menyadarinya namun aku telah terikat olehmu. Dan tak ada jalan bagiku untuk kembali. Banyak hal yang ingin aku lakukan untuk membayar kesalahanku. Sejak kedatanganmu di rumahku, aku telah menempatkanmu di dalam neraka, dan aku membenci diriku sendiri atas apa yang telah kuperbuat. Aku ingin memberikanmu kebahagiaan. Tapi aku tahu, aku tahu siapa dirimu. Ketika aku membiarkan diriku untuk mengingat siapa dirimu sebenarnya, saat itu aku langsung menarik diri. Bagaimana bisa aku begitu tertarik dengan seorang yeoja yang mencerminkan penderitaan untuk dongsaengku?"
Aku menutup kedua telingaku dengan tanganku.
"Tidak. Aku tak mau mendengar semua ini. Pergilah, Yunho. Cepat pergi!" Aku berteriak.
Aku tak ingin mendengar tentang Boa. Kata-kata keji yang Boa ucapkan mengenai ibuku kembali terngiang di telingaku dan keinginanku untuk berteriak bergemuruh di dalam dadaku. Apapun yang bisa menghadang semua itu.
"Usiaku tiga tahun saat ibuku pulang dari Rumah sakit dengan membawa Boa. Boa begitu kecil dan aku ingat saat itu aku mengkhawatirkan apa yang akan menimpanya. Ibuku selalu menangis. Begitu juga Boa. Aku tumbuh dewasa dengan cepat. Sejak Boa berusia tiga tahun akulah yang mengurus semuanya, dari mulai memberikannya sarapan sampai menidurkannya di malam hari. Ibu kami telah menikah lagi, dan saat itu kami memiliki Changmin. Kala itu tak ada ketenangan. Hari di mana ayahku datang untuk menghabiskan waktu bersamaku adalah hari yang kutunggu-tunggu, karena saat aku pergi bersama ayahku, aku tak perlu bertanggung jawab atas Boa untuk beberapa hari. Aku akan mendapatkan waktu istirahatku. Sampai kemudian Boa mulai bertanya, mengapa aku mempunyai seorang ayah sedangkan ia tidak."
"Hentikan!"
Aku memperingatkannya, lalu melangkah lebih jauh dari dinding. Kenapa ia melakukan ini padaku?
"Boo, tolong dengarkan aku. Hanya ini caranya agar kau mengerti." Suaranya terdengar begitu terluka.
"Dulu eomma selalu mengatakan alasan mengapa Boa tidak mempunyai ayah adalah karena Boa anak yang spesial. Namun alasan itu tidak berhasil untuk waktu yang lama. Aku lalu menemui eommaku dan memintanya untuk mengatakan padaku siapa appa Boa. Aku memaksanya untuk mengatakannya padaku. Aku tahu dengan keberadaan appaku,eommaku pasti akan memberitahuku. eommaku lalu mengatakan padaku bahwa appa Boa sudah memiliki keluarga yang lain. Appanya sudah memiliki dua orang putri kecil yang lebih dicintainya dari pada Boa. Appa Boa menginginkan anak-anak yeoja itu namun ia tidak menginginkan Boa. Aku tidak bisa mengerti bagaimana bisa ada orang yang tidak menginginkan Boa. Tentu saja, ada kalanya aku ingin membunuh Boa, namun aku begitu mencintainya. Kemudian datang hari di mana eommaku memutuskan untuk membawa Nan melihat keluarga yang telah di pilih oleh ayahnya. Setelah itu, hampir sebulan lebih Nan selalu menangis." Yunho terdiam, dan aku terduduk di ranjang. Dia membuatku mendengar semua ini. Aku tak bisa menghentikannya.
"Aku benci para gadis kecil itu. Aku membenci keluarga yang lebih di pilih oleh appanya Boa dan mengabaikan Boa. Aku bersumpah, suatu hari aku akan membuat namja itu membayar semua perbuatannya. Appa dulu selalu berkata, mungkin saja appanya suatu hari akan datang untuk menemuinya. Aku selalu mendengarkan impian Boa selama bertahun-tahun. Ketika aku berusia sembilan belas tahun, aku pergi menemui namja itu. Aku tahu siapa namanya. Aku berhasil menemukannya. Aku lalu memberikannya sebuah foto Boa dengan Alamat kami tertulis di belakangnya. Aku mengatakan padanya bahwa ia memiliki putri lain yang sangat spesial dan putrinya sangat ingin bertemu dengannya. Hanya untuk berbicara dengannya."
Itu terjadi lima tahun yang lalu. Perutku bergejolak. Aku merasa muak. Aku kehilangan Jaekyung lima tahun yang lalu. Appaku pun pergi lima tahun yang lalu.
"Aku melakukan itu karena aku mencintai adikku. Aku tak pernah berpikir apa yang sedang di hadapi oleh keluarganya. Sejujurnya, aku tak perduli. Aku hanya memperdulikan Boa. Saat itu, kau adalah musuhku. Sampai kemudian kau datang kerumahku dan mengubah duniaku. Aku selalu bersumpah pada diriku sendiri bahwa aka tak akan pernah merasa menyesal karena telah menghancurkan keluarga appanya Boa. Lagipula, keluarga itu telah menghancurkan hidup Boa. Namun rasa bersalah mulai menghantui hidupku setiap saat kau berada dekat denganku. Melihat tatapan matamu saat kau menceritakan tentang eomma dan dongsaengmu. Ya Tuhan, demi Tuhan malam itu kau benar-benar telah menghacurkan hatiku, Boo. Aku tak akan pernah bisa melupakan semua itu." Yunho berjalan mendekatiku dan aku hanya terdiam tak mampu untuk bergerak.
Aku mengerti. Aku bisa memahaminya. Namun di dalam pemahamanku aku akan kehilangan hatiku sendiri. Semua itu adalah kebohongan. Seluruh hidupku. Semua berisi kebohongan. Semua kenangan yang kumiliki. eommaku memanggang kue dan appaku akan mengangkat tubuhku dan Jaekyung keatas agar kami bisa menghias puncak pohon Natal, semua tradisi Natal yang kami lakukan adalah sebuah kepalsuan. Semua itu tidak mungkin bisa menjadi nyata. Aku mempercayai Yunho. Namun Itu tidak mengubah cara pandangku mengenai ibuku. Ibuku tidak berada di sini untuk menceritakan padaku permasalahan ini dari sisinya. Aku cukup mengenal ibuku untuk mengetahui bahwa dia tidak bersalah. Ibuku tak seperti yang mereka kira. Ini semua adalah dosa ayahku.
"Aku bersumpah padamu sebesar cintaku pada dongsaengku, jika saja aku bisa memutar ulang waktu dan merubah semuanya, pasti akan kulakukan. Aku TIDAK AKAN PERNAH Pergi menemui appamu. Tak akan pernah. Aku sangat menyesal, Boo. Maafkan aku." Suaranya tertahan, dan aku menaikkan pandangan mataku untuk melihat matanya yang basah oleh air mata yang tertahan.
Jika saja Yunho tidak pergi menemui ayahku, keadaannya pasti akan berbeda. Namun tak satu pun dari kami berdua yang bisa mengubah masa lalu tak perduli seberapa besar kami berdua menginginkannya. Tak satupun dari kami yang bisa memperbaiki semua ini. Sekarang Boa telah memiliki seorang ayah. Nan telah mendapatkan apa yang selama ini ia idamkan. Begitupula dengan Heechul.
Aku hanya memiliki diriku sendiri.
"Aku tak bisa mengatakan padamu bahwa aku sudah memaafkanmu." Ucapku.
Karena aku memang belum bisa memaafkannya.
"Tapi aku bisa mengatakan padamu bahwa aku mengerti alasan mengapa kau melakukan semua itu. Hal itu mengubah duniaku. Semua itu tak akan pernah bisa dirubah."
Setitik air mata jatuh bergulir di wajah Yunho. Aku tak bisa mendekatinya dan menghapus air mata itu seperti air mataku yang kini sudah tak ada lagi.
"Aku tak bisa kehilanganmu. Aku jatuh cinta padamu Boo. Aku tak pernah begitu menginginkan sesuatu atau seseorang seperti sekarang aku menginginkanmu. Aku tak bisa membayangkan apa jadinya duniaku tanpa kehadiranmu di dalamnya."
Aku hanya akan selalu memiliki diriku. Karena pria ini telah mencuri hatiku dan menghancurkannya. Walaupun jika dia tak pernah bermaksud seperti itu. Aku tak akan pernah lagi bisa mempercayai untuk dapat mencintai.
"Aku tak bisa mencintaimu, Yunho."
Isakan yang tertahan mengguncang tubuhnya saat ia menjatuhkan kepalanya di pangkuanku. Aku tidak menghiburnya. Aku tak bisa. Bagaimana bisa aku menenangkan sakitnya saat di dalam diriku terdapat luka dengan lubang menganga yang cukup besar, cukup besar hingga kami berdua bisa masuk kedalamnya.    
"Kau tak harus mencintaiku. Tolong jangan tinggalkan aku." Yunho berkata, diatas kakiku.
Apakah hidupku akan selalu di penuhi oleh kehilangan? Aku tak sempat mengucapkan selamat tinggal pada Jaekyung saat hari itu ia meninggalkan rumah dan tak pernah kembali. Aku menolak untuk mengucapkan selamat tinggal pada ibuku pagi itu, saat ia mengatakan padaku waktunya sudah dekat. Ibuku menutup matanya dan tak pernah membukanya lagi. Aku tahu, saat Yunho meninggalkan ruangan itu adalah saat terakhir aku melihatnya. Saat itu adalah perpisahan kami. Aku tak akan sanggup melanjutkan hidupku jika dia masih ada di dalam kehidupanku. Yunho akan selalu menjadi penghambat bagi kesembuhan diriku.
Namun kali ini aku ingin sebuah perpisahan untukku. Ini akan menjadi salam perpisahan terakhir dan aku ingin mengucapkannya dengan cara yang pantas. Aku tak bisa mengungkapkannya lewat kata. Karena mulutku tak sanggup berucap. Keinginanku untuk melindungi nama baik ibuku berdiri diantara aku dan kata-kata yang aku tahu ingin Yunho dengar dari mulutku. Aku tidak bisa mengatakan padanya aku telah memaafkan dirinya setelah mengetahui alasan ayahku pergi dan tak pernah kembali adalah dia. Hari itu Yunho telah membawa ayahku pergi, walaupun ia tidak mengetahui kerusakan yang bisa timbulkan oleh foto yang ia berikan pada ayahku.
Tidak satu pun dari itu yang mampu merubah perasaanku terhadap Yunho sebelumnya, dia telah meledakkan duniaku menjadi berkeping-keping. Aku akan mengucapkan salam perpisahanku.
.
.
.
.
To Be Continue

1 comment:

  1. Aku nge-blank,,
    Setelah ada pertemuan,,pasti ada perpisahan

    ReplyDelete