Summary:
Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara
orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong
membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya
agar tidak tertarik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Aku berusaha untuk berada sejauh mungkin
darinya, aku tidak berhenti sampai akhirnya aku berdiri menempel dinding di
sisi lain ruangan.
Yunho mengikutiku masuk ke dalam dan
menutup pintu di belakangnya. Tatapan matanya melihatku seolah ia ingin
melahapku.
"Cepat. Bicaralah. Aku ingin kau pergi
dari sini." Aku berkata padanya.
Yunho terlihat kaget ketika mendengar
ucapanku. Aku tak akan membiarkan diriku untuk bersimpati padanya. Aku tidak
boleh.
"Aku mencintaimu."
Tidak. Ia tak mungkin mengatakan itu. Aku menggelengkan
kepalaku. Tidak. Aku tidak boleh mendengar semua ini. Yunho tidak mencintaiku.
Ia tak mungkin mencintaiku. Cinta tak mungkin berdusta.
"Aku tahu apa yang telah kuperbuat
tidak mencerminkan ucapanku, namun jika kau mengijinkan aku untuk menjelaskan
semua padamu. Ya tuhan, boo, aku tak sanggup melihatmu begitu menderita."
Dia tidak tahu apa itu arti penderitaan.
Dia tahu seberapa besar aku mencintai ibuku. Seberapa pentingnya ibu bagi
diriku. Seberapa besar pengorbanan ibuku. Yunho telah mengetahui semuanya,
namun ia masih tidak mengatakan padaku apa yang di pikirkan orang-orang itu
mengenai ibuku. Apa yang "dia" pikirkan mengenai ibuku. Aku tidak
bisa mencintai. Dia. Atau Siapapun yang menghina kenangan tentang ibuku. Aku
tidak akan bisa untuk mencintai. Tak akan pernah.
"Apapun yang kau katakan tidak akan
dapat memperbaiki semua ini. Wanita itu adalah ibuku, Yunho. Satu-satunya
kenangan yang mampu menyatukan semua kenangan indah di dalam hidupku. Dia
adalah sumber dari setiap kebahagiaan dari masa kecilku. Dan kau..."
Aku memejamkan mataku, tak mampu
melihatnya. "Dan kau, dan...dan mereka...Kalian semua menghinanya.
Kebohongan menjijikkan yang kalian ucapkan seolah itu adalah kebenaran."
"Aku menyesal kau mengetahuinya dengan
cara seperti ini. Aku ingin mengatakan padamu. Awalnya, aku melihatmu hanya
sebagai sebuah produk yang bisa menyakiti Boa. Aku berpikir kau akan
menyebabkan Boa lebih menderita. Masalahnya adalah, kau membuatku terpesona.
Aku akan mengakui bahwa saat pertama kali aku melihatmu aku langsung tertarik
padamu karena kecantikanmu. Itu sangat mengagumkan. Aku membencimu karena itu.
Aku tak boleh tertarik denganmu. Namun percuma, Aku begitu menginginkanmu sejak
malam pertama saat kita jumpa. Hanya untuk berada di dekatmu, ya Tuhan, aku
bahkan mengarang sebuah alasan hanya untuk bertemu denganmu.
Kemudian...Kemudian aku lebih mengenalmu. Aku terhipnotis oleh tawamu. Itu
adalah suara yang paling mengagumkan yang pernah kudengar. Kau sangat jujur dan
penuh tekad. Kau tidak merengek atau mengeluh. Kau menerima semua yang terjadi
di hidupmu dan berusaha untuk menghadapinya. Aku tidak terbiasa melihat hal
seperti itu. Setiap kali aku melihatmu, setiap saat aku berada di dekatmu
perasaanku mulai tumbuh."
Yunho melangkah maju kedepan kearahku, namun
aku mengangkat kedua tanganku untuk menahannya. Aku menarik napas panjang. Aku
tidak boleh menangis lagi. Jika ia ingin mengatakan semua ini dengan maksud
untuk membuatku lebih hancur, maka aku akan mendengarkannya. Aku akan
memberikannya kepuasan itu, karena aku tahu aku tak akan pernah dapat
mendapatkan itu untuk diriku sendiri.
"Lalu pada malam kita pergi ke Mirotic.
Setelah malam itu kau memiliki diriku. Mungkin kau tidak menyadarinya namun aku
telah terikat olehmu. Dan tak ada jalan bagiku untuk kembali. Banyak hal yang
ingin aku lakukan untuk membayar kesalahanku. Sejak kedatanganmu di rumahku,
aku telah menempatkanmu di dalam neraka, dan aku membenci diriku sendiri atas
apa yang telah kuperbuat. Aku ingin memberikanmu kebahagiaan. Tapi aku tahu, aku
tahu siapa dirimu. Ketika aku membiarkan diriku untuk mengingat siapa dirimu
sebenarnya, saat itu aku langsung menarik diri. Bagaimana bisa aku begitu
tertarik dengan seorang yeoja yang mencerminkan penderitaan untuk dongsaengku?"
Aku menutup kedua telingaku dengan
tanganku.
"Tidak. Aku tak mau mendengar semua
ini. Pergilah, Yunho. Cepat pergi!" Aku berteriak.
Aku tak ingin mendengar tentang Boa.
Kata-kata keji yang Boa ucapkan mengenai ibuku kembali terngiang di telingaku
dan keinginanku untuk berteriak bergemuruh di dalam dadaku. Apapun yang bisa
menghadang semua itu.
"Usiaku tiga tahun saat ibuku pulang
dari Rumah sakit dengan membawa Boa. Boa begitu kecil dan aku ingat saat itu
aku mengkhawatirkan apa yang akan menimpanya. Ibuku selalu menangis. Begitu
juga Boa. Aku tumbuh dewasa dengan cepat. Sejak Boa berusia tiga tahun akulah
yang mengurus semuanya, dari mulai memberikannya sarapan sampai menidurkannya
di malam hari. Ibu kami telah menikah lagi, dan saat itu kami memiliki Changmin.
Kala itu tak ada ketenangan. Hari di mana ayahku datang untuk menghabiskan
waktu bersamaku adalah hari yang kutunggu-tunggu, karena saat aku pergi bersama
ayahku, aku tak perlu bertanggung jawab atas Boa untuk beberapa hari. Aku akan
mendapatkan waktu istirahatku. Sampai kemudian Boa mulai bertanya, mengapa aku
mempunyai seorang ayah sedangkan ia tidak."
"Hentikan!"
Aku memperingatkannya, lalu melangkah lebih
jauh dari dinding. Kenapa ia melakukan ini padaku?
"Boo, tolong dengarkan aku. Hanya ini
caranya agar kau mengerti." Suaranya terdengar begitu terluka.
"Dulu eomma selalu mengatakan alasan
mengapa Boa tidak mempunyai ayah adalah karena Boa anak yang spesial. Namun
alasan itu tidak berhasil untuk waktu yang lama. Aku lalu menemui eommaku dan
memintanya untuk mengatakan padaku siapa appa Boa. Aku memaksanya untuk
mengatakannya padaku. Aku tahu dengan keberadaan appaku,eommaku pasti akan
memberitahuku. eommaku lalu mengatakan padaku bahwa appa Boa sudah memiliki
keluarga yang lain. Appanya sudah memiliki dua orang putri kecil yang lebih
dicintainya dari pada Boa. Appa Boa menginginkan anak-anak yeoja itu namun ia
tidak menginginkan Boa. Aku tidak bisa mengerti bagaimana bisa ada orang yang
tidak menginginkan Boa. Tentu saja, ada kalanya aku ingin membunuh Boa, namun
aku begitu mencintainya. Kemudian datang hari di mana eommaku memutuskan untuk
membawa Nan melihat keluarga yang telah di pilih oleh ayahnya. Setelah itu,
hampir sebulan lebih Nan selalu menangis." Yunho terdiam, dan aku terduduk
di ranjang. Dia membuatku mendengar semua ini. Aku tak bisa menghentikannya.
"Aku benci para gadis kecil itu. Aku
membenci keluarga yang lebih di pilih oleh appanya Boa dan mengabaikan Boa. Aku
bersumpah, suatu hari aku akan membuat namja itu membayar semua perbuatannya. Appa
dulu selalu berkata, mungkin saja appanya suatu hari akan datang untuk
menemuinya. Aku selalu mendengarkan impian Boa selama bertahun-tahun. Ketika
aku berusia sembilan belas tahun, aku pergi menemui namja itu. Aku tahu siapa
namanya. Aku berhasil menemukannya. Aku lalu memberikannya sebuah foto Boa
dengan Alamat kami tertulis di belakangnya. Aku mengatakan padanya bahwa ia
memiliki putri lain yang sangat spesial dan putrinya sangat ingin bertemu
dengannya. Hanya untuk berbicara dengannya."
Itu terjadi lima tahun yang lalu. Perutku
bergejolak. Aku merasa muak. Aku kehilangan Jaekyung lima tahun yang lalu. Appaku
pun pergi lima tahun yang lalu.
"Aku melakukan itu karena aku
mencintai adikku. Aku tak pernah berpikir apa yang sedang di hadapi oleh
keluarganya. Sejujurnya, aku tak perduli. Aku hanya memperdulikan Boa. Saat
itu, kau adalah musuhku. Sampai kemudian kau datang kerumahku dan mengubah
duniaku. Aku selalu bersumpah pada diriku sendiri bahwa aka tak akan pernah
merasa menyesal karena telah menghancurkan keluarga appanya Boa. Lagipula,
keluarga itu telah menghancurkan hidup Boa. Namun rasa bersalah mulai
menghantui hidupku setiap saat kau berada dekat denganku. Melihat tatapan
matamu saat kau menceritakan tentang eomma dan dongsaengmu. Ya Tuhan, demi
Tuhan malam itu kau benar-benar telah menghacurkan hatiku, Boo. Aku tak akan
pernah bisa melupakan semua itu." Yunho berjalan mendekatiku dan aku hanya
terdiam tak mampu untuk bergerak.
Aku mengerti. Aku bisa memahaminya. Namun
di dalam pemahamanku aku akan kehilangan hatiku sendiri. Semua itu adalah
kebohongan. Seluruh hidupku. Semua berisi kebohongan. Semua kenangan yang
kumiliki. eommaku memanggang kue dan appaku akan mengangkat tubuhku dan Jaekyung
keatas agar kami bisa menghias puncak pohon Natal, semua tradisi Natal yang
kami lakukan adalah sebuah kepalsuan. Semua itu tidak mungkin bisa menjadi
nyata. Aku mempercayai Yunho. Namun Itu tidak mengubah cara pandangku mengenai
ibuku. Ibuku tidak berada di sini untuk menceritakan padaku permasalahan ini
dari sisinya. Aku cukup mengenal ibuku untuk mengetahui bahwa dia tidak
bersalah. Ibuku tak seperti yang mereka kira. Ini semua adalah dosa ayahku.
"Aku bersumpah padamu sebesar cintaku
pada dongsaengku, jika saja aku bisa memutar ulang waktu dan merubah semuanya,
pasti akan kulakukan. Aku TIDAK AKAN PERNAH Pergi menemui appamu. Tak akan pernah.
Aku sangat menyesal, Boo. Maafkan aku." Suaranya tertahan, dan aku
menaikkan pandangan mataku untuk melihat matanya yang basah oleh air mata yang
tertahan.
Jika saja Yunho tidak pergi menemui ayahku,
keadaannya pasti akan berbeda. Namun tak satu pun dari kami berdua yang bisa
mengubah masa lalu tak perduli seberapa besar kami berdua menginginkannya. Tak
satupun dari kami yang bisa memperbaiki semua ini. Sekarang Boa telah memiliki seorang
ayah. Nan telah mendapatkan apa yang selama ini ia idamkan. Begitupula dengan Heechul.
Aku hanya memiliki diriku sendiri.
"Aku tak bisa mengatakan padamu bahwa aku
sudah memaafkanmu." Ucapku.
Karena aku memang belum bisa memaafkannya.
"Tapi aku bisa mengatakan padamu bahwa
aku mengerti alasan mengapa kau melakukan semua itu. Hal itu mengubah duniaku.
Semua itu tak akan pernah bisa dirubah."
Setitik air mata jatuh bergulir di wajah Yunho.
Aku tak bisa mendekatinya dan menghapus air mata itu seperti air mataku yang
kini sudah tak ada lagi.
"Aku tak bisa kehilanganmu. Aku jatuh
cinta padamu Boo. Aku tak pernah begitu menginginkan sesuatu atau seseorang
seperti sekarang aku menginginkanmu. Aku tak bisa membayangkan apa jadinya
duniaku tanpa kehadiranmu di dalamnya."
Aku hanya akan selalu memiliki diriku.
Karena pria ini telah mencuri hatiku dan menghancurkannya. Walaupun jika dia
tak pernah bermaksud seperti itu. Aku tak akan pernah lagi bisa mempercayai
untuk dapat mencintai.
"Aku tak bisa mencintaimu, Yunho."
Isakan yang tertahan mengguncang tubuhnya
saat ia menjatuhkan kepalanya di pangkuanku. Aku tidak menghiburnya. Aku tak
bisa. Bagaimana bisa aku menenangkan sakitnya saat di dalam diriku terdapat
luka dengan lubang menganga yang cukup besar, cukup besar hingga kami berdua
bisa masuk kedalamnya.
"Kau tak harus mencintaiku. Tolong
jangan tinggalkan aku." Yunho berkata, diatas kakiku.
Apakah hidupku akan selalu di penuhi oleh
kehilangan? Aku tak sempat mengucapkan selamat tinggal pada Jaekyung saat hari
itu ia meninggalkan rumah dan tak pernah kembali. Aku menolak untuk mengucapkan
selamat tinggal pada ibuku pagi itu, saat ia mengatakan padaku waktunya sudah
dekat. Ibuku menutup matanya dan tak pernah membukanya lagi. Aku tahu, saat Yunho
meninggalkan ruangan itu adalah saat terakhir aku melihatnya. Saat itu adalah
perpisahan kami. Aku tak akan sanggup melanjutkan hidupku jika dia masih ada di
dalam kehidupanku. Yunho akan selalu menjadi penghambat bagi kesembuhan diriku.
Namun kali ini aku ingin sebuah perpisahan
untukku. Ini akan menjadi salam perpisahan terakhir dan aku ingin
mengucapkannya dengan cara yang pantas. Aku tak bisa mengungkapkannya lewat
kata. Karena mulutku tak sanggup berucap. Keinginanku untuk melindungi nama
baik ibuku berdiri diantara aku dan kata-kata yang aku tahu ingin Yunho dengar
dari mulutku. Aku tidak bisa mengatakan padanya aku telah memaafkan dirinya
setelah mengetahui alasan ayahku pergi dan tak pernah kembali adalah dia. Hari
itu Yunho telah membawa ayahku pergi, walaupun ia tidak mengetahui kerusakan
yang bisa timbulkan oleh foto yang ia berikan pada ayahku.
Tidak satu pun dari itu yang mampu merubah
perasaanku terhadap Yunho sebelumnya, dia telah meledakkan duniaku menjadi
berkeping-keping. Aku akan mengucapkan salam perpisahanku.
.
.
.
.
To Be Continue

Aku nge-blank,,
ReplyDeleteSetelah ada pertemuan,,pasti ada perpisahan