Yiha.... Akhirnya kesampean juga ngeremake/ ngejiplak/ ngadaptasi/ copy paste, apalah itu sebutannya. Saki gak ngambil keuntungan apapun dari cerita ini. mau baca silahkan gak mau silahkan klik back/ tutup tab. Cerita ini murni milik penulis Abby Glines, YunJae dan karakter lain milik mereka masing2.
.
.
Summary: Jaejoong kecewa pada Yunho hingga membuat dia
menentukan pilihan untuk meninggalkan Yunho dan semua yang membuatnya sakit.
Dia memilih meninggalkan Gyongju, kota pesisir pantai yang indah lengkap dengan
ceritanya bersama Yunho disana. Dia memilih kembali ke Gongju, kota dimana
tempat ia kembali pulang. Karena eomma dan Jaekyung ada disana. Tetapi ketika
kembali ke Gongju, dia menemukan kenyataan yang membuatnya tak bisa menetap
lagi di kota itu. Lalu haruskah ia kembali ke Gyongju? Siapkah ia kembali
bertemu dengan Yunho?
The Untitled Story
Season 2
©Kitahara Saki
Remake
from Abby Glines Story
Jung
Yunho, Kim Jaejoong © their
self
Marga
disesuaikan untuk kepentingan cerita
Chapter 1,
Yunho…
Tiga belas tahun yang lalu…
Ada ketukan di pintu kemudian seretan langkah kaki. Dadaku
terasa nyeri. Ibu telah menelponku saat mereka dalam perjalanan pulang dan
mengatakan padaku apa yang telah ia lakukan dan sekarang ia ingin pergi keluar untuk
minum bir bersama teman-temannya. Aku menjadi satu-satunya orang yang harus
menenangkan Boa. Ibuku tidak bisa mengatasinya jika melibatkan stres. Atau
begitulah seperti yang ia katakan saat menelponku
"Oppa?" Suara Boa yang tersedu. Dia menangis.
"Aku ada di sini, Boa,"
Kataku saat aku berdiri dari sofa kecil yang kududuki di
sudut ruangan. Ini adalah tempat persembunyianku. Di rumah ini kalian perlu
tempat untuk bersembunyi. Jika kalian tidak memilikinya sesuatu yang buruk akan
terjadi.
Helaian rambut Boa melekat di wajahnya yang basah. Bibir
bawahnya gemetar saat ia menatapku dengan pandangan sedihnya. Aku hampir tidak
pernah melihat matanya bahagia. Ibuku hanya memberinya perhatian ketika Boa
perlu baju baru dan menunjukkannya pada orang lain. Selain dari waktu itu Boa diabaikan.
Kecuali olehku. Aku melakukan yang terbaik untuk membuat ia
merasa diinginkan.
"Aku tidak melihatnya. Dia tidak ada di
sana," dia berbisik saat sebuah isakan kecil terlepas.
Aku tidak perlu bertanya siapa ‘dia’.
Ibu lelah mendengar Boa yang terus bertanya
tentang ayahnya. Jadi dia memutuskan untuk membawa Boa menemui ayahnya. Kuharap
Boa mengatakannya padaku. Kuharap aku bisa ikut pergi. Tatapan terluka di wajah
Boa membuat tanganku mengepal. Jika aku bias bertemu pria itu aku ingin memukul
hidungnya. Aku ingin melihatnya berdarah.
"Kemarilah," kataku,
meraih tangannya dan menarik adikku ke dalam
pelukanku. Dia membungkus erat pinggangku dan memelukku erat. Saat seperti ini
membuatku sulit bernafas. Aku tidak suka kehidupan yang telah ia jalani.
Setidaknya aku tahu ayahku menginginkanku. Dia meluangkan waktunya bersamaku.
"Dia punya anak yeoja lain. Mereka kembar.
Dan mereka… cantik. Rambut mereka seperti rambut malaikat. Dan mereka memiliki eomma
yang membiarkan mereka bermain di lumpur. Mereka memakai sepatu tenis. Sepatu
yang kotor."
Boa iri pada sepatu tenis yang kotor. Ibu kami
tidak akan membiarkannya berpenampilan tidak sempurna sepanjang waktu. Dia
tidak pernah memiliki sepasang sepatu tenis.
"Mereka tidak mungkin lebih cantik
darimu,"
Aku meyakinkan Boa karena aku sangat
mempercayainya. Boa tersedu dan kemudian menarik dirinya. Kepalanya terangkat
dan matanya menatapku.
"Mereka cantik. Aku melihat mereka. Aku
bisa melihat foto di dinding kedua yeoja itu dan bersama seorang namja. Dia
menyayangi mereka…Dia tidak menyayangiku."
Aku tidak bisa berbohong padanya. Boa benar. Dia
tidak menyayanginya.
"Dia
orang bodoh. Kau memiliki aku, Boa. Kau selalu memilikiku."
.
.
.
Jaejoong
Saat ini…
Lima belas mil di luar kota ternyata sudah cukup
jauh. Tidak ada seorangpun yang pergi sejauh ini dari Gongju hanya untuk pergi
ke apotik. Kecuali, tentu saja kalau mereka berusia sembilan belas tahun dan
sedang memerlukan sesuatu yang tidak ingin warga kota mengetahui apa yang
mereka beli. Sesuatu yang di beli di apotik lokal akan tersebar ke seluruh kota
dalam beberapa jam.
Terutama jika kau belum menikah dan membeli kondom…atau
alat tes kehamilan.
Aku meletakkan alat tes kehamilan di atas meja
dan tidak menatap pada kasir. Aku tidak bisa. Rasa takut dan bersalah di mataku
adalah sesuatu yang tidak ingin kubagi dengan orang asing. Ini adalah sesuatu
yang tidak bisa kukatakan pada Yihan. Sejak aku mendorong pergi Yunho keluar
dari kehidupanku tiga minggu lalu aku perlahan – lahan kembali ke rutinitasku
dulu dengan menghabiskan waktu bersama Yihan. Ini mudah. Dia tidak menekanku
untuk berbicara tapi ketika aku membicarakannya dia mendengarkan.
"dua puluh lima ribu won," wanita di
samping meja kasir berkata.
Aku bisa mendengar nada keprihatian dalam
suaranya. Tidak mengejutkan. Ini adalah sesuatu yang memalukan bagi seorang
gadis. Aku memberinya tiga puluh ribu won tanpa mengangkat mataku dari kantong
kecil yang ia letakkan di depanku. Kantong itu menyimpan satu jawaban yang
kubutuhkan dan itu membuatku takut. Mengabaikan fakta bahwa siklusku sudah dua
minggu terlambat dan menganggap hal seperti ini tidak terjadi dengan mudah.
Tapi aku harus tahu.
"Kembalianmu lima ribu won," katanya
saat aku meraih dan mengambil uang itu dari tangannya yang terulur.
"Terima kasih," gumamku dan mengambil
kantongnya.
"Kuharap semuanya baik-baik saja,"
kata wanita itu dengan suara lembut.
Aku mengangkat mataku dan bertemu sepasang mata
coklat penuh simpati. Dia orang asing yang tidak akan pernah kulihat lagi tapi
saat ini sangat membantu jika ada orang lain yang kukenal. Aku tidak merasa
begitu kesepian.
"Aku juga," Aku menjawab sebelum
berbalik dan berjalan menuju pintu.
Kembali ke matahari musim panas yang menyengat. Aku
mengambil dua langkah menuju tempat parkir ketika mataku menatap pada sisi
kemudi trukku. Yihan bersandar di sana dengan lengan bersedekap. Topi yang
dipakainya ditarik kebawah menutupi dengan rendah tatapan matanya dariku. Aku
berhenti dan menatapnya. Tidak ada kebohongan tentang ini. Dia tahu aku tidak
ke sini untuk membeli kondom. Ada satu kesimpulan lain. Meskipun tak mampu
melihat ekspresi matanya aku tahu…kalau dia tahu.
Aku menelan gumpalan di tenggorokanku yang sudah
kutahan sejak aku mengendarai truk pagi ini dan pergi ke luar kota. Sekarang bukan
hanya aku dan orang asing di balik meja yang tahu. Sahabat baikku juga tahu. Aku
memaksakan diriku untuk melangkah mendekat. Dia akan bertanya sesuatu dan aku
akan menjawab. Setelah beberapa minggu berlalu dia layak mendapatkan jawaban.
Dia layak tahu yang sebenarnya. Tapi bagaimana aku menjelaskan ini?
Aku berhenti hanya beberapa kaki di depannya.
Aku senang bahwa topi yang dia pakai menutupi wajahnya. Akan lebih mudah untuk menjelaskan
jika aku tidak bisa melihat apa yang dia pikirkan melalui matanya. Kami berdiri
dalam keheningan. Aku ingin dia bicara terlebih dulu tapi setelah beberapa
menit dia tidak mengatakan apapun sehingga aku tahu dia ingin aku bicara lebih
dulu.
"Bagaimana kau tahu aku ada di sini?"
Aku akhirnya bertanya.
"Kau tinggal di rumah nenekku. Saat kau
pergi dengan bersikap aneh, nenek menelponku. Aku khawatir padamu,"
jawabnya.
Air mata menggantung di mataku. Aku tidak boleh
menangis karena hal ini. Aku akan menangisi semua yang ingin kutangisi. Menggenggam
tas yang berisi tes kehamilan lebih erat aku meluruskan pundakku.
"Kau mengikutiku," kataku.
Ini bukanlah pertanyaan.
"Tentu saja," jawabnya,
kemudian menggelengkan kepalanya dan mengalihkan
tatapannya dariku dan beralih pada hal lain.
"Apakah kau akan mengatakannya padaku, Joongie?"
Apakah aku akan mengatakan padanya? Aku tak
tahu. Aku tidak berpikir sejauh itu.
"Aku tidak yakin ada yang harus
kukatakan." Jawabku jujur.
Yihan menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan
tawa kecil yang sama sekali tidak terdengar lucu.
"Tidak yakin, hah? Kau datang kesini karena
tidak yakin?"
Dia marah. Atau apakah dia terluka? Dia tidak
punya alasan untuk keduanya.
"Sampai aku memakai tes ini aku tidak
yakin. Aku terlambat. Itu saja. Tidak ada alasan aku harus mengatakan padamu tentang
ini. Ini bukan urusanmu."
Perlahan, Yihan mengangkat pandangannya hingga
tatapannya tertuju padaku. Dia mengangkat tangannya dan memiringkan topinya kebelakang.
Bayangan telah hilang dari matanya. Ada rasa tak percaya dan rasa sakit di
sana. Aku tidak ingin melihatnya seperti ini. Rasanya hampir sama buruknya
melihat penghakiman dimatanya. Dimana penghakiman sepertinya lebih baik.
"Benarkah? Itukah yang kau rasakan? Setelah
semua yang telah kita lalui itukah yang sejujurnya kau rasakan?"
Apa yang pernah kami lalui adalah masa lalu. Dia
adalah masa laluku. Aku pernah melalui banyak hal bersamanya. Sementara dia menikmati
kehidupan SMAnya aku berjuang untuk mempertahankan hidup. Dia sebenarnya menderita
karena apa? Rasa marah perlahan mendidih dalam darahku dan aku mengangkat
mataku untuk menatapnya.
"Ya, Yihan. Itu yang kurasakan. Aku tak
yakin apa sebenarnya yang telah kita lalui. Kita teman baik, kemudian kita
pacaran, kemudian eommaku sakit dan kau butuh kejantananmu dihisap jadi kau
selingkuh dariku. Aku menjaga eommaku yang sakit sendirian. Tidak ada tempat bersandar.
Kemudian eommaku meninggal dan aku pindah. Aku patah hati dan dunia berantakan
dan pulang. Kau ada di sini untukku. Aku tidak memintamu tapi kau melakukannya.
Aku berterima kasih untuk itu tapi ini tidak membuat semua masalah lain
menghilang. Itu tidak akan memperbaiki keadaan bahwa kau meninggalkan aku
ketika aku sangat membutuhkanmu. Jadi maafkan aku kalau duniaku sekali lagi runtuh
kau bukanlah orang pertama yang akan kuhubungi. Kau bahkan belum pantas
menerimanya."
Aku terengah-engah dan air mata yang tidak
inginku tumpahkan menuruni wajahku. Aku tidak ingin tangis sialan ini. Aku memperkecil
jarak diantara kami dan menggunakan semua kekuatanku untuk mendorongnya dari
hadapanku jadi aku bisa meraih gagang pintu dan membukanya. Aku harus keluar
dari sini. Jauh darinya.
"Minggir,"
Teriakku saat aku berusaha keras untuk membuka
pintu sementara tubuhnya masih ada di sana. Aku mengira dia akan mendebatku.
Aku mengira ia akan melakukan hal lain selain yang kuminta. Aku memanjat ke
tempat duduk di belakang kemudi dan melemparkan kantong plastik kecil pada
kursi di sampingku sebelum menyalakan truk dan mundur dari tempat parkir. Aku bisa
melihat Yihan tetap berdiri di sana. Dia tidak banyak bergerak. Hanya cukup
memberiku ruang agar bisa masuk ke dalam trukku. Dia tidak memandangku. Dia
menunduk menatap tanah seolah semua jawabannya ada di sana.
Aku tak perlu kuatir tentang dia sekarang. Aku
perlu pergi jauh. Mungkin aku tidak seharusnya berkata seperti itu kepadanya. Mungkin
aku harus tetap menyimpannya di dalam hati di mana aku mengubur semuanya
bertahun-tahun lamanya. Tapi ini sudah terlambat sekarang. Dia menekanku di
saat yang salah. Aku tidak merasa bersalah tentang ini.
Aku juga tidak bisa kembali ke rumah neneknya.
Neneknya berpihak padanya. Yihan mungkin akan menelponnya dan mengatakan
padanya. Jika tidak mengatakan yang sebenarnya, mungkin sesuatu yang nyaris
mendekati. Aku tidak punya pilihan lain. Aku akan menggunakan tes kehamilan itu
di toilet pompa bensin. Akankah keadaan ini bisa menjadi lebih buruk lagi?
.
.
.
.
To Be Continue
Yihaaaaaaaaa season 2 nya udah muncul ;-; aku penasaran banget sama hasil test pack nya JJ, duh jangan jangan dia hamil anak Yunho. Kalaupun iya, YA GAPAPA BAGUS ITU BERARTI YUNHO JOSS :v eiiiiii wkwkwkwkwkwk semangat terus ya kakkkk!
ReplyDeleteAkhirnya season 2 update
ReplyDeleteJae hamil gituu ???
Semoga gak terlalu menguras emosi, baik YunJae atopun readers hhhh
Fighting, Saki... update terus ya !!!!!
Like it. Yg ni update duluan ya??? Coz, penasaran bgt :-D
ReplyDelete