Wednesday, September 23

[REMAKE] The Violinist Chapter IV



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
The Violinist
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e


Chapter 4,
Jaejoong membelalakkan matanya, tangannya yang sedang menyuap sarapannya terhenti begitu saja di udara, dia terperangah,
"Mworago?"
"Itu Yunho..."
Ibunya masih memasang ekspresi takjub yang sama,
"Dia menelepon sendiri tadi dan..."
lalu ibunya seolah tersadar, "Cepat Jae, selesaikan sarapanmu, kita berangkat sekarang."
Lalu tanpa menunggunya, ibunya bangkit dari kursi, merapikan riasannya, meraih tas dan kunci mobil. Setelah sampai di pintu, ibunya menoleh dan mengernyit melihat Jaejoong yang masih bengong melihat tingkah sang ibu.
"Kenapa kau masih di situ Kim Jaejoong? Ayo cepat kita berangkat."
Jaejoong hanya mengangkat bahu, meletakkan makanannya dan meneguk susu cokelat di depannya. Matanya melirik sayang kepada sarapannya itu... yah padahal masih banyak... gumamnya dalam hati, mengutuk Yunho yang menelepon pagi-pagi.
Tetapi baru kali ini ibunya bersikap terburu-buru dan panik seperti itu. Sepertinya terpilihnya Jaejoong menjadi murid khusus Yunho benar-benar berarti baginya. Tiba-tiba saja Jaejoong teringat akan ayahnya, ayahnya adalah pemain biola..... mungkin jauh di dalam hatinya, sang ibu ingin agar Jaejoong mengikuti jejak ayahnya.
.
.
.
Mereka sampai di halaman parkiran akademi musik itu, setelah sang ibu memarkir mobil di area khusus pengajar, dia berjalan bersama Jaejoong melalui koridor, menuju ruangan direktur tempat janji temu mereka.
"Ini kesempatan besar, Jae, dan eomma tidak mau kau menyia-nyiakannya. Yunho tidak pernah mengambil murid khusus sebelumnya, jadi kau adalah pertama dan yang terbaik."
Jaejoong cuma mangut-mangut, meskipun dalam benaknya dia kebingungan. Kenapa Yunho memilihnya? Sekarang hal itu baru terpikir olehnya... bukankah di audisi kemarin banyak sekali anak-anak dengan teknik dan kemampuan yang lebih tinggi darinya? Apa yang istimewa dari Jaejoong yang hanya memiliki kemampuan musik standar?
Dan juga, Changmin pasti akan terkejut dengan berita ini..... ah Changmin! Tiba-tiba saja Jaejoong merasa bersalah.... harusnya Changmin yang mendapatkan kesempatan ini. Kemampuan teknik bermain biola Changmin tentu saja ada di atas Jaejoong, dan juga hasrat Changmin bermain biola lebih besar darinya, juga kekaguman Changmin terhadap Yunho.
Jaejoong menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa melakukan ini kepada Changmin. Lelaki itu begitu baik hati, dan begitu mendengar kabar ini dia pasti akan menyalami Jaejoong dan mengucapkan selamat. tetapi Jaejoong tahu Changmin pasti menyimpan kekecewaan yang disembunyikan.
"Aku tidak bisa menerimanya, eomma." Jaejoong bergumam keras, berusaha menarik perhatian ibunya yang berjalan terburu-buru di depannya.
Langkah ibunya terhenti, perempuan itu menoleh dan menatap Jaejoong terkejut, 
"Apa?? Apa maksud perkataanmu itu?"
Jaejoong menggelengkan kepalanya sekali lagi,
"Entah apa pertimbangan Yunho memintaku menjadi murid khususnya, tetapi aku tidak bisa menerimanya eomma, karena ini tidak adil terhadap mereka yang mempunyai hasrat bermain biola yang lebih murni dariku... aku...aku..."
"Kau memikirkan Changmin?" sang ibu mengangkat alisnya,
"Dia pasti akan mengerti, dia pemuda yang baik dan berjiwa besar, jadi dia akan mendukungmu dan ikut senang denganmu. Jangan sampai itu menghalangimu untuk maju, Jaejoong."
Ibunya menggandeng Jaejoong lalu mengajaknya berjalan lebih cepat menuju ruangan itu.
Mereka sampai di depan pintu ruang temu, dan ibu Jaejoong mengetuknya,. dalam sekejap pintu terbuka dan Mr. Kim yang membukakan pintu.
"Silahkan masuk." Lelaki itu membuka pintunya lebar, mempersilahkan Ibu Jaejoong dan Jaejoong masuk.
Di sana, duduk di atas sofa dengan wajah dinginnya yang begitu sempurna, ada Yunho yang menatap mereka semua dengan tatapan mata datar. Lelaki itu sedikit mengangguk sopan kepada ibu Jaejoong yang duduk di depannya.
Mr. Kim menyusul duduk di seberang sofa, menatap semuanya,
"Saya rasa kita sudah tahu tujuan pertemuan ini. Yunho menawarkan Jaejoong menjadi murid pribadinya. Dan saya rasa kita sepakat dengan itu bukan?"
Jaejoong mengerutkan kening, menatap Yunho yang hanya terdiam dengan wajah datar, kenapa lelaki itu tidak bicara? kenapa dia mewakilkan pembicaraan kepada Mr. Kim?
"Tentu saja kita sepakat. Saya sungguh merasa terhormat, anak saya yang terpilih menjadi murid khusus." gumam Ibu Jaejoong cepat.
Mr. Kim mengangguk, "Kami melihat bahwa permainan biolanya istimewa, bukan begitu Jaejoong? Mulai sekarang kau akan berada di bawah bimbingan Yunho."
"Aninde yo."
Tiba-tiba saja Jaejoong mempunyai keberanian untuk berbicara, dan kalimatnya itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertegun.
Yunho yang pertama kali bergumam pada akhirnya, matanya menatap tajam ke arah Jaejoong,
"Mworago?" desis lelaki itu setengah marah setengah tak percaya.
"Jyosong hamnida."
Jaejoong berdiri, membungkukkan badannya setengah meminta maaf kepada semua yang ada di ruangan itu,
"Itu benar-benar kehormatan yang luar biasa untuk saya, tetapi saya tidak bisa menerimanya, karena itu terasa tidak benar, masih banyak siswa lain yang lebih berhak daripada saya. Sekali lagi terimakasih, tetapi saya tidak bisa menerimanya. Permisi." Jaejoong membungkukkan badannya sekali lagi lalu berbalik dan melangkah pergi.
"Jaejoongie!" ibunya memanggilnya gusar,
"Ibu sudah bilang jangan lakukan ini demi Changmin!"
sang ibu berdiri hendak mengejar Jaejoong, tetapi Yunho sudah berdiri duluan, menoleh dingin ke arah ibu Jaejoong.
"Biarkan saya yang berbicara kepadanya." gumam Yunho cepat, lalu melangkah keluar mengejar Jaejoong.
.
.
.
Jaejoong berjalan melalui koridor itu, hendak menuju area parkir. 
Ibunya pasti akan marah besar kepadanya. Mungkin nanti dia akan diomeli habis-habisan di rumah, dan mungkin ibunya akan terus-menerus jengkel kepadanya selama beberapa lama karena menyia-nyiakan kesempatan ini, tetapi bagaimanapun juga Jaejoong merasa bahwa ini adalah hal yang benar. Demi Changmin... dia tidak akan melangkahi ataupun mengkhianati Changmin.
"Apakah kau pikir ini sepadan?" suara Yunho yang tenang membuat Jaejoong terperanjat dan hampir menjerit. 
Entah kapan, Yunho ternyata sudah melangkah di sebelahnya, Jaejoong mungkin terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari Yunho mendekat.
"Maksudmu?"
Jaejoong mengerutkan keningnya, sedikit mendongak menatap Yunho yang melangkah di sebelahnya. Yah, Yunho cukup tinggi sementara Jaejoong mungil dan pendek.
"Mengorbankan kesempatan besarmu hanya demi pacarmu?"
Jaejoong mengerutkan keningnya, Pacarnya?
"Ibumu bilang kau melakukan ini demi Changmin, dia pacarmu bukan? Apakah kau pikir sepadan mengorbankan kesempatan besarmu untuk menguasai biola dengan baik hanya demi menjaga perasaan pacarmu?"
"Bukan hanya demi Changmin." Jaejoong membantah meskipun dalam hati dia mengakui bahwa sebagian besar alasannya adalah Changmin. "Juga demi anak-anak lain yang saya rasa lebih pantas dengan kemampuan yang lebih tinggi daripada saya."
Langkah Yunho terhenti seketika, membuat Jaejoong juga menghentikan langkahnya, dia menoleh dan melihat Yunho berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan mata tersinggung,
Lelaki itu lalu berjalan mendekat, melangkah di depan Jaejoong yang terpaku karena mata tajamnya, jemarinya terulur dan menyentuh dagu Jaejoong, mendongakkannya.
"Dengarkan aku baik-baik." bibir Yunho menipis, tampak marah ketika berkata,
"Aku tidak pernah main-main dalam memilih murid. Jangan pernah mempertanyakan keputusanku. Aku memilihmu karena aku melihat kau seperti berlian yang belum diasah."
Yunho menundukkan kepalanya, dan kemudian mengecup bibir Jaejoong dengan kecupan tipis dan singkat,
"Hanya aku yang bisa mengasahmu sehingga cemerlang. Jadi aku akan tetap mempertahankan tawaranku, kapanpun kau berubah pikiran, datanglah kepadaku." bisiknya pelan di telinga Jaejoong ,
dan kemudian tanpa kata lelaki itu membalikkan badan, meninggalkan Jaejoong yang membeku karena ciuman itu. Tak bisa berkata-kata, hanya menatap tertegun ke arah punggung Yunho yang makin menjauh.
.
.
.
"Eomma sangat kecewa kepadamu, Kim Jaejoong." sang ibu berkata kemudian ketika mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang,
"Kenapa kau lakukan itu?"
Jaejoong hanya terdiam, menatap lurus ke depan, dia bahkan hampir-hampir tidak mendengar perkataan ibunya. Bibirnya masih terasa panas.... Yunho.. lelaki itu, kenapa lelaki itu mengecup bibirnya? Apakah itu pelecehan? Kenapa Yunho melakukannya? Apa jangan-jangan Yunho memang biasa melakukannya kepada siapapun? Tetapi kenapa dia? Jaejoong tahu bahwa Yunho terkenal sebagai penakluk perempuan, tetapi korbannya selalu perempuan-perempuan yang lebih tua....bukankah itu memang selera Yunho? tetapi kenapa dia? kenapa Yunho menciumnya?
Pertanyaan itu terngiang-ngiang terus di benaknya, membuat Jaejoong mengerutkan keningnya. 
"Kim Jaejoong!" sang ibu memanggilnya, membawa pikirannya kembali ke dunia nyata,
"Apakah kau mendengar perkataan ibu?"
Jaejoong mengehela napas panjang, "Maafkan aku eomma... aku rasa ini keputusan yang terbaik."
Ibunya melirik sedikit kepadanya dari balik kemudi,
"Segera setelah kau memikirkannya baik-baik, kau pasti akan menyesali keputusan ini, Jae."
.
.
.
Ketika masih merenung di kamarnya, terdengar suara ketukan di sana, Jaejoong mengerutkan keningnya.
Siapa yang datang malam-malam begini?
Jaejoong melangkah ke pintu kamarnya dan membukanya, Changmin berdiri di sana, tersenyum lebar.
“Eommamu menyuruhku langsung ke sini, bolehkah aku masuk?"
Sebenarnya Jaejoong merasa agak canggung, sejak kecil mereka memang berteman akrab dan Changmin sering sekali bermain di kamarnya, tetapi menjelang mereka remaja sampai sekarang, Changmin hampir tidak pernah masuk ke kamarnya lagi.
"Aku akan membiarkan pintunya terbuka."
Changmin tampak geli membaca keraguan Jaejoong,  dan kemudian tanpa permisi dia masuk ke kamar Jaejoong, dan duduk di  kursi belajar Jaejoong.
"Wow, sudah lama aku tidak kesini, dan kamarmu tidak berubah, seperti kamar anak sepuluh tahun."
Changmin terkekeh, matanya memandang ke sekeliling ruangan Jaejoong yang didominasi warna pink dan boneka-boneka kelinci dengan warna senada.
Jaejoong mendengus, pura-pura kesal, "Jangan mengomentari kamarku. Dan katakan kepadaku, kenapa kau datang ke sini malam-malam begini. Eomma yang menyuruhmu ya?" Jaejoong melangkah di depan Changmin dan duduk di tepi ranjang,
Changmin mengangkat bahunya, 
"Ya, eommamu menghubungiku dan menceritakan semua kejadiannya."
Jaejoong memalingkan muka, "Aku tidak akan berubah pikiran meskipun kau membujukku."
"Jaejoongie."
suara Changmin tampak sabar, seperti suara yang selalu digunakannya ketika Jaejoong merajuk di waktu mereka kecil,
"Itu kesempatan besar, dan mendengar kau menolaknya hanya karena aku, itu membuatku sangat sedih."
Jaejoong memasang wajah datar, "Bukan hanya karenamu oppa, aku hanya merasa aku tak pantas menerima kesempatan itu."
"Kau pantas." Changmin menyela.
"Penilaian Yunho bukan main-main, Jaejoongie. Ingat dia adalah seorang pemain biola jenius, dia bisa melihat kemampuan tersembunyi yang orang lain tidak bisa melihat, Jae." Changmin tersenyum lembut,
"Dan lagipula, menurut penilaianku, permainan biolamu sangat indah."
Ketika Jaejoong hanya terdiam, Changmin bangkit dari kursi dan berlutut di tepi ranjang, tepat di depan Jaejoong, wajah mereka berhadapan sangat dekat, membuat Jaejoong tersipu.
“Terimalah tawaran itu Jae, demi aku. Oke?"
Jaejoong memalingkan wajahnya yang terasa panas, "Aku akan memikirkannya, tapi aku tidak janji."
Changmin terkekeh, "Oke. Dasar anak keras kepala, aku akan menunggu kabar baik darimu."
Lelaki itu menghela napas panjang,  "Dan juga aku harus menyiapkan waktu untuk kelas tiga bulan yang akan di ajarkan oleh Yunho, kau tahu Kyuhyun mungkin sedikit sedih karena aku tidak bisa menyediakan banyak waktu untuknya, padahal aku sudah berjanji."
"Kyuhyun?" Jaejoong menyambar,
sedikit bingung ketika Changmin menyebut nama Kyuhyun, Kyuhyun adalah teman seangkatan Changmin di akademi musik dulu, dia seorang pemain piano, sangat cantik dengan penampilan yang sangat feminim dan lembut, begitu bertolak belakang kalau dibandingkan dengan Jaejoong.
"Iya, Kyuhyun, kau masih mengingatnya bukan? Saking sibuknya dengan persiapan audisi aku sampai lupa menceritakannya kepadamu." Senyum Changmin melebar,
"Kami tidak sengaja bertemu ketika aku mengikuti sebuah pesta bersama ayah, dia sibuk dengan pendidikan musiknya di Italia.... tetapi sekarang, untuk beberapa lama dia akan berada di Korea karena liburan semester, dan kemudian aku berjanji kepadanya untuk menemaninya selama di sini." Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya,
"Siapa yang tahu kalau hubungan kami bisa lebih dari pertemanan, kau tahu bukan dulu aku naksir kepadanya. Dan sekarang dia sedang tidak terikat dengan siapapun."
Jaejoong tahu, dan ketika itu, di masa lalu, masa-masa Changmin begitu memuja Kyuhyun membuatnya menyimpan perih yang dalam, yang disembunyikan jauh di dalam hatinya. Tetapi waktu itu Kyuhyun sudah punya pacar, dan Changmin tidak punya kesempatan, jadi Jaejoong bisa tenang. Setelah Changmin dan Kyuhyun lulus dari akademi, dan Kyuhyun melanjutkan pendidikannya di luar negeri, Jaejoong merasa tenang... apalagi setelah itu Changmin tampaknya tidak dekat dengan perempuan manapun.
Dan sekarang Kyuhyun kembali? .... tidak sedang terikat dengan siapapun... begitu kata Changmin tadi. 
Jaejoong langsung merasakan dadanya diremas oleh perasaan pedih yang sama, perasaan yang sudah hampir dilupakannya bertahun lalu.
"Kalau begitu aku pulang dulu Jae, sudah malam."
Changmin melirik jam tangannya, lalu melempar senyum manis kepada Jaejoong sebelum pergi,
"Ingat, aku akan menjadi orang pertama yang sangat bahagia kalau kau menerima kesempatan itu."
.
.
.
Kenapa dia mencium Jaejoong? Kenapa dia mencium anak perempuan ingusan itu?
Yunho merenung di tengah hingar bingar pesta itu, merasa marah kepada dirinya sendiri. Oh Astaga, Yunho yang begitu berpengalaman kepada perempuan, tidak bisa menahan diri dan mencium Jaejoong, anak ingusan yang lebih muda delapan tahun darinya, yang mungkin bahkan belum pernah berciuman sebelumnya!
Dan kenapa pula Jaejoong berani-beraninya menolak tawarannya? Tawaran istimewa yang mungkin tidak akan pernah diberikannya kepada orang lain?
Hati Yunho dipenuhi kemarahan. Dia akan membuat Jaejoong memohon-mohon untuk menjadi muridnya. Dia pasti bisa melakukannya.
Jaejoong mungkin jenis perempuan yang suka membuat lelaki mengejarnya, pura-pura menolak sebelum meminta bagian yang lebih besar.... mungkin saja Jaejoong sengaja memanipulasi Yunho. Mungkin saja Jaejoong seculas perempuan-perempuan lain yang dikenalnya selama ini, seculas ibunya....
Dan Yunho tidak akan membiarkan Jaejoong melakukan itu kepadanya, dia akan memberi Jaejoong pelajaran karena berani-beraninya menolaknya.
.
.
.
.
To Be Continue

2 comments:

  1. Kasian Jaejoong. Ternyata Chwang suka sama Kyu :(
    Yunho mau jahatin Jae? Semoga Yun cepet sadarnya XD

    ReplyDelete
  2. Jadi gemes sama Jj, kesempatan emas gt disia2in karena mikirin perasaan changmin padahal changmin udh suka sama kyu.
    Itu apa2an yunho maen cipok2 aja!

    ReplyDelete