Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
The Violinist
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Chapter 4,
Jaejoong membelalakkan matanya, tangannya yang
sedang menyuap sarapannya terhenti begitu saja di udara, dia terperangah,
"Mworago?"
"Itu Yunho..."
Ibunya masih memasang ekspresi takjub yang sama,
"Dia menelepon sendiri tadi dan..."
lalu ibunya seolah tersadar, "Cepat Jae,
selesaikan sarapanmu, kita berangkat sekarang."
Lalu tanpa menunggunya, ibunya bangkit dari kursi,
merapikan riasannya, meraih tas dan kunci mobil. Setelah sampai di pintu, ibunya
menoleh dan mengernyit melihat Jaejoong yang masih bengong melihat tingkah sang
ibu.
"Kenapa kau masih di situ Kim Jaejoong? Ayo
cepat kita berangkat."
Jaejoong hanya mengangkat bahu, meletakkan
makanannya dan meneguk susu cokelat di depannya. Matanya melirik sayang kepada
sarapannya itu... yah padahal masih banyak... gumamnya dalam hati, mengutuk Yunho
yang menelepon pagi-pagi.
Tetapi baru kali ini ibunya bersikap terburu-buru
dan panik seperti itu. Sepertinya terpilihnya Jaejoong menjadi murid khusus Yunho
benar-benar berarti baginya. Tiba-tiba saja Jaejoong teringat akan ayahnya, ayahnya
adalah pemain biola..... mungkin jauh di dalam hatinya, sang ibu ingin agar Jaejoong
mengikuti jejak ayahnya.
.
.
.
Mereka sampai di halaman parkiran akademi musik
itu, setelah sang ibu memarkir mobil di area khusus pengajar, dia berjalan
bersama Jaejoong melalui koridor, menuju ruangan direktur tempat janji temu
mereka.
"Ini kesempatan besar, Jae, dan eomma tidak
mau kau menyia-nyiakannya. Yunho tidak pernah mengambil murid khusus
sebelumnya, jadi kau adalah pertama dan yang terbaik."
Jaejoong cuma mangut-mangut, meskipun dalam
benaknya dia kebingungan. Kenapa Yunho memilihnya? Sekarang hal itu baru
terpikir olehnya... bukankah di audisi kemarin banyak sekali anak-anak dengan
teknik dan kemampuan yang lebih tinggi darinya? Apa yang istimewa dari Jaejoong
yang hanya memiliki kemampuan musik standar?
Dan juga, Changmin pasti akan terkejut dengan
berita ini..... ah Changmin! Tiba-tiba saja Jaejoong merasa bersalah....
harusnya Changmin yang mendapatkan kesempatan ini. Kemampuan teknik bermain
biola Changmin tentu saja ada di atas Jaejoong, dan juga hasrat Changmin
bermain biola lebih besar darinya, juga kekaguman Changmin terhadap Yunho.
Jaejoong menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa
melakukan ini kepada Changmin. Lelaki itu begitu baik hati, dan begitu
mendengar kabar ini dia pasti akan menyalami Jaejoong dan mengucapkan selamat.
tetapi Jaejoong tahu Changmin pasti menyimpan kekecewaan yang disembunyikan.
"Aku tidak bisa menerimanya, eomma." Jaejoong
bergumam keras, berusaha menarik perhatian ibunya yang berjalan terburu-buru di
depannya.
Langkah ibunya terhenti, perempuan itu menoleh dan
menatap Jaejoong terkejut,
"Apa?? Apa maksud perkataanmu itu?"
Jaejoong menggelengkan kepalanya sekali lagi,
"Entah apa pertimbangan Yunho memintaku
menjadi murid khususnya, tetapi aku tidak bisa menerimanya eomma, karena ini tidak
adil terhadap mereka yang mempunyai hasrat bermain biola yang lebih murni
dariku... aku...aku..."
"Kau memikirkan Changmin?" sang ibu
mengangkat alisnya,
"Dia pasti akan mengerti, dia pemuda yang baik
dan berjiwa besar, jadi dia akan mendukungmu dan ikut senang denganmu. Jangan
sampai itu menghalangimu untuk maju, Jaejoong."
Ibunya menggandeng Jaejoong lalu mengajaknya
berjalan lebih cepat menuju ruangan itu.
Mereka sampai di depan pintu ruang temu, dan ibu Jaejoong
mengetuknya,. dalam sekejap pintu terbuka dan Mr. Kim yang membukakan pintu.
"Silahkan masuk." Lelaki itu membuka
pintunya lebar, mempersilahkan Ibu Jaejoong dan Jaejoong masuk.
Di sana, duduk di atas sofa dengan wajah dinginnya
yang begitu sempurna, ada Yunho yang menatap mereka semua dengan tatapan mata
datar. Lelaki itu sedikit mengangguk sopan kepada ibu Jaejoong yang duduk di
depannya.
Mr. Kim menyusul duduk di seberang sofa, menatap
semuanya,
"Saya rasa kita sudah tahu tujuan pertemuan
ini. Yunho menawarkan Jaejoong menjadi murid pribadinya. Dan saya rasa kita
sepakat dengan itu bukan?"
Jaejoong mengerutkan kening, menatap Yunho yang
hanya terdiam dengan wajah datar, kenapa lelaki itu tidak bicara? kenapa dia
mewakilkan pembicaraan kepada Mr. Kim?
"Tentu saja kita sepakat. Saya sungguh merasa
terhormat, anak saya yang terpilih menjadi murid khusus." gumam Ibu Jaejoong
cepat.
Mr. Kim mengangguk, "Kami melihat bahwa
permainan biolanya istimewa, bukan begitu Jaejoong? Mulai sekarang kau akan
berada di bawah bimbingan Yunho."
"Aninde yo."
Tiba-tiba saja Jaejoong mempunyai keberanian untuk
berbicara, dan kalimatnya itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu
tertegun.
Yunho yang pertama kali bergumam pada akhirnya,
matanya menatap tajam ke arah Jaejoong,
"Mworago?" desis lelaki itu setengah
marah setengah tak percaya.
"Jyosong hamnida."
Jaejoong berdiri, membungkukkan badannya setengah
meminta maaf kepada semua yang ada di ruangan itu,
"Itu benar-benar kehormatan yang luar biasa
untuk saya, tetapi saya tidak bisa menerimanya, karena itu terasa tidak benar,
masih banyak siswa lain yang lebih berhak daripada saya. Sekali lagi
terimakasih, tetapi saya tidak bisa menerimanya. Permisi." Jaejoong
membungkukkan badannya sekali lagi lalu berbalik dan melangkah pergi.
"Jaejoongie!" ibunya memanggilnya gusar,
"Ibu sudah bilang jangan lakukan ini demi Changmin!"
sang ibu berdiri hendak mengejar Jaejoong, tetapi Yunho
sudah berdiri duluan, menoleh dingin ke arah ibu Jaejoong.
"Biarkan saya yang berbicara kepadanya."
gumam Yunho cepat, lalu melangkah keluar mengejar Jaejoong.
.
.
.
Jaejoong berjalan melalui koridor itu, hendak
menuju area parkir.
Ibunya pasti akan marah besar kepadanya. Mungkin
nanti dia akan diomeli habis-habisan di rumah, dan mungkin ibunya akan
terus-menerus jengkel kepadanya selama beberapa lama karena menyia-nyiakan
kesempatan ini, tetapi bagaimanapun juga Jaejoong merasa bahwa ini adalah hal
yang benar. Demi Changmin... dia tidak akan melangkahi ataupun mengkhianati Changmin.
"Apakah kau pikir ini sepadan?" suara Yunho
yang tenang membuat Jaejoong terperanjat dan hampir menjerit.
Entah kapan, Yunho ternyata sudah melangkah di
sebelahnya, Jaejoong mungkin terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga
tidak menyadari Yunho mendekat.
"Maksudmu?"
Jaejoong mengerutkan keningnya, sedikit mendongak
menatap Yunho yang melangkah di sebelahnya. Yah, Yunho cukup tinggi sementara Jaejoong
mungil dan pendek.
"Mengorbankan kesempatan besarmu hanya demi
pacarmu?"
Jaejoong mengerutkan keningnya, Pacarnya?
"Ibumu bilang kau melakukan ini demi Changmin,
dia pacarmu bukan? Apakah kau pikir sepadan mengorbankan kesempatan besarmu
untuk menguasai biola dengan baik hanya demi menjaga perasaan pacarmu?"
"Bukan hanya demi Changmin." Jaejoong
membantah meskipun dalam hati dia mengakui bahwa sebagian besar alasannya
adalah Changmin. "Juga demi anak-anak lain yang saya rasa lebih pantas
dengan kemampuan yang lebih tinggi daripada saya."
Langkah Yunho terhenti seketika, membuat Jaejoong
juga menghentikan langkahnya, dia menoleh dan melihat Yunho berdiri di sana,
menatapnya dengan tatapan mata tersinggung,
Lelaki itu lalu berjalan mendekat, melangkah di
depan Jaejoong yang terpaku karena mata tajamnya, jemarinya terulur dan
menyentuh dagu Jaejoong, mendongakkannya.
"Dengarkan aku baik-baik." bibir Yunho
menipis, tampak marah ketika berkata,
"Aku tidak pernah main-main dalam memilih
murid. Jangan pernah mempertanyakan keputusanku. Aku memilihmu karena aku
melihat kau seperti berlian yang belum diasah."
Yunho menundukkan kepalanya, dan kemudian mengecup
bibir Jaejoong dengan kecupan tipis dan singkat,
"Hanya aku yang bisa mengasahmu sehingga
cemerlang. Jadi aku akan tetap mempertahankan tawaranku, kapanpun kau berubah
pikiran, datanglah kepadaku." bisiknya pelan di telinga Jaejoong ,
dan kemudian tanpa kata lelaki itu membalikkan
badan, meninggalkan Jaejoong yang membeku karena ciuman itu. Tak bisa
berkata-kata, hanya menatap tertegun ke arah punggung Yunho yang makin menjauh.
.
.
.
"Eomma sangat kecewa kepadamu, Kim Jaejoong."
sang ibu berkata kemudian ketika mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan
pulang,
"Kenapa kau lakukan itu?"
Jaejoong hanya terdiam, menatap lurus ke depan, dia
bahkan hampir-hampir tidak mendengar perkataan ibunya. Bibirnya masih terasa
panas.... Yunho.. lelaki itu, kenapa lelaki itu mengecup bibirnya? Apakah itu
pelecehan? Kenapa Yunho melakukannya? Apa jangan-jangan Yunho memang biasa
melakukannya kepada siapapun? Tetapi kenapa dia? Jaejoong tahu bahwa Yunho
terkenal sebagai penakluk perempuan, tetapi korbannya selalu
perempuan-perempuan yang lebih tua....bukankah itu memang selera Yunho? tetapi
kenapa dia? kenapa Yunho menciumnya?
Pertanyaan itu terngiang-ngiang terus di benaknya,
membuat Jaejoong mengerutkan keningnya.
"Kim Jaejoong!" sang ibu memanggilnya,
membawa pikirannya kembali ke dunia nyata,
"Apakah kau mendengar perkataan ibu?"
Jaejoong mengehela napas panjang, "Maafkan aku
eomma... aku rasa ini keputusan yang terbaik."
Ibunya melirik sedikit kepadanya dari balik kemudi,
"Segera setelah kau memikirkannya baik-baik,
kau pasti akan menyesali keputusan ini, Jae."
.
.
.
Ketika masih merenung di kamarnya, terdengar suara
ketukan di sana, Jaejoong mengerutkan keningnya.
Siapa yang datang malam-malam begini?
Jaejoong melangkah ke pintu kamarnya dan
membukanya, Changmin berdiri di sana, tersenyum lebar.
“Eommamu menyuruhku langsung ke sini, bolehkah aku
masuk?"
Sebenarnya Jaejoong merasa agak canggung, sejak
kecil mereka memang berteman akrab dan Changmin sering sekali bermain di kamarnya,
tetapi menjelang mereka remaja sampai sekarang, Changmin hampir tidak pernah
masuk ke kamarnya lagi.
"Aku akan membiarkan pintunya terbuka."
Changmin tampak geli membaca keraguan Jaejoong,
dan kemudian tanpa permisi dia masuk ke kamar Jaejoong, dan duduk di
kursi belajar Jaejoong.
"Wow, sudah lama aku tidak kesini, dan kamarmu
tidak berubah, seperti kamar anak sepuluh tahun."
Changmin terkekeh, matanya memandang ke sekeliling
ruangan Jaejoong yang didominasi warna pink dan boneka-boneka kelinci dengan
warna senada.
Jaejoong mendengus, pura-pura kesal, "Jangan
mengomentari kamarku. Dan katakan kepadaku, kenapa kau datang ke sini
malam-malam begini. Eomma yang menyuruhmu ya?" Jaejoong melangkah di depan
Changmin dan duduk di tepi ranjang,
Changmin mengangkat bahunya,
"Ya, eommamu menghubungiku dan menceritakan
semua kejadiannya."
Jaejoong memalingkan muka, "Aku tidak akan
berubah pikiran meskipun kau membujukku."
"Jaejoongie."
suara Changmin tampak sabar, seperti suara yang
selalu digunakannya ketika Jaejoong merajuk di waktu mereka kecil,
"Itu kesempatan besar, dan mendengar kau
menolaknya hanya karena aku, itu membuatku sangat sedih."
Jaejoong memasang wajah datar, "Bukan hanya
karenamu oppa, aku hanya merasa aku tak pantas menerima kesempatan itu."
"Kau pantas." Changmin menyela.
"Penilaian Yunho bukan main-main, Jaejoongie.
Ingat dia adalah seorang pemain biola jenius, dia bisa melihat kemampuan
tersembunyi yang orang lain tidak bisa melihat, Jae." Changmin tersenyum
lembut,
"Dan lagipula, menurut penilaianku, permainan
biolamu sangat indah."
Ketika Jaejoong hanya terdiam, Changmin bangkit
dari kursi dan berlutut di tepi ranjang, tepat di depan Jaejoong, wajah mereka
berhadapan sangat dekat, membuat Jaejoong tersipu.
“Terimalah tawaran itu Jae, demi aku. Oke?"
Jaejoong memalingkan wajahnya yang terasa panas,
"Aku akan memikirkannya, tapi aku tidak janji."
Changmin terkekeh, "Oke. Dasar anak keras
kepala, aku akan menunggu kabar baik darimu."
Lelaki itu menghela napas panjang, "Dan
juga aku harus menyiapkan waktu untuk kelas tiga bulan yang akan di ajarkan
oleh Yunho, kau tahu Kyuhyun mungkin sedikit sedih karena aku tidak bisa
menyediakan banyak waktu untuknya, padahal aku sudah berjanji."
"Kyuhyun?" Jaejoong menyambar,
sedikit bingung ketika Changmin menyebut nama Kyuhyun,
Kyuhyun adalah teman seangkatan Changmin di akademi musik dulu, dia seorang
pemain piano, sangat cantik dengan penampilan yang sangat feminim dan lembut,
begitu bertolak belakang kalau dibandingkan dengan Jaejoong.
"Iya, Kyuhyun, kau masih mengingatnya bukan?
Saking sibuknya dengan persiapan audisi aku sampai lupa menceritakannya
kepadamu." Senyum Changmin melebar,
"Kami tidak sengaja bertemu ketika aku
mengikuti sebuah pesta bersama ayah, dia sibuk dengan pendidikan musiknya di
Italia.... tetapi sekarang, untuk beberapa lama dia akan berada di Korea karena
liburan semester, dan kemudian aku berjanji kepadanya untuk menemaninya selama
di sini." Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya,
"Siapa yang tahu kalau hubungan kami bisa
lebih dari pertemanan, kau tahu bukan dulu aku naksir kepadanya. Dan sekarang
dia sedang tidak terikat dengan siapapun."
Jaejoong tahu, dan ketika itu, di masa lalu,
masa-masa Changmin begitu memuja Kyuhyun membuatnya menyimpan perih yang dalam,
yang disembunyikan jauh di dalam hatinya. Tetapi waktu itu Kyuhyun sudah punya
pacar, dan Changmin tidak punya kesempatan, jadi Jaejoong bisa tenang. Setelah Changmin
dan Kyuhyun lulus dari akademi, dan Kyuhyun melanjutkan pendidikannya di luar
negeri, Jaejoong merasa tenang... apalagi setelah itu Changmin tampaknya tidak
dekat dengan perempuan manapun.
Dan sekarang Kyuhyun kembali? .... tidak sedang
terikat dengan siapapun... begitu kata Changmin tadi.
Jaejoong langsung merasakan dadanya diremas oleh
perasaan pedih yang sama, perasaan yang sudah hampir dilupakannya bertahun
lalu.
"Kalau begitu aku pulang dulu Jae, sudah malam."
Changmin melirik jam tangannya, lalu melempar
senyum manis kepada Jaejoong sebelum pergi,
"Ingat, aku akan menjadi orang pertama yang
sangat bahagia kalau kau menerima kesempatan itu."
.
.
.
Kenapa dia mencium Jaejoong? Kenapa dia mencium
anak perempuan ingusan itu?
Yunho merenung di tengah hingar bingar pesta itu,
merasa marah kepada dirinya sendiri. Oh Astaga, Yunho yang begitu berpengalaman
kepada perempuan, tidak bisa menahan diri dan mencium Jaejoong, anak ingusan
yang lebih muda delapan tahun darinya, yang mungkin bahkan belum pernah
berciuman sebelumnya!
Dan kenapa pula Jaejoong berani-beraninya menolak
tawarannya? Tawaran istimewa yang mungkin tidak akan pernah diberikannya kepada
orang lain?
Hati Yunho dipenuhi kemarahan. Dia akan membuat Jaejoong
memohon-mohon untuk menjadi muridnya. Dia pasti bisa melakukannya.
Jaejoong mungkin jenis perempuan yang suka membuat
lelaki mengejarnya, pura-pura menolak sebelum meminta bagian yang lebih
besar.... mungkin saja Jaejoong sengaja memanipulasi Yunho. Mungkin saja Jaejoong
seculas perempuan-perempuan lain yang dikenalnya selama ini, seculas ibunya....
Dan Yunho tidak akan membiarkan Jaejoong melakukan
itu kepadanya, dia akan memberi Jaejoong pelajaran karena berani-beraninya
menolaknya.
.
.
.
.
To Be
Continue

Kasian Jaejoong. Ternyata Chwang suka sama Kyu :(
ReplyDeleteYunho mau jahatin Jae? Semoga Yun cepet sadarnya XD
Jadi gemes sama Jj, kesempatan emas gt disia2in karena mikirin perasaan changmin padahal changmin udh suka sama kyu.
ReplyDeleteItu apa2an yunho maen cipok2 aja!