Monday, September 21

[REMAKE] The Violinist Chapter III



Summary: Jung Yunho, violinist jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
The Violinist
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

Chapter 3,
Musik itu mengalun memenuhi aula. Dan seketika itu juga Yunho ternganga.
Anak perempuan ini.... anak perempuan ini... 
Antusiasme langsung memenuhi diri Yunho, membanjirinya, ini adalah rasa yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Jaejoong memainkan setiap gesekan nada dengan begitu mudahnya, seolah setiap nada bukanlah sesuatu yang sulit untuknya. Padahal musik yang dia mainkan membutuhkan latihan intensif dan konsentrasi tersendiri. Tchaikovsky  tentu saja adalah favorit Yunho. Dia menguasai semuanya, dan suka mendengarkannya, amat sangat tahu tingkat kesulitannya.
Jaejoong memainkannya dengan begitu mudah, gerakan tangannya menggesek biola, berpadu dengan jemarinya bergerak secara alami, semuanya begitu sempurna. Perempuan ini memiliki bakat alami, hanya saja belum terasah benar.
Jantung Yunho berdebar, anak ini adalah berlian yang belum diasah. Yunho tidak bisa melepaskannya begitu saja, antusiasme yang dibawa oleh nada-nada yang dimainkan oleh Jaejoong memberikan perasaan meluap-luap di dadanya, membuatnya ingin bermain. Dia langsung berdiri, melirik ke arah salah satu pegawai yang dengan sigap mengerti maksudnya. Pegawai itu langsung mengantarkan biolanya yang dengan hati-hati diletakkan di meja khusus.
Tentu saja Yunho tidak menggunakan biola berharga yang diwariskan oleh ayahnya, biola dari ayahnya adalah Stradivarius, buatan abad ke 17, salah satu dari biola langka dan Yunho amat sangat menjaga biola itu yang sekarang diletakkan di kotak kaca di rumah ibunya. Biola yang sering dipakai Yunho sekarang sangat mahal dan langka, diberikan oleh seorang komposer di Austria sebagai hadiah atas kekagumannya akan permainan biola Yunho, dibuat ratusan tahun yang lalu. Biola ini dibuat untuk Paganini tahun 1759, seorang pemain biola luar biasa, terkenal jenius dengan permainan biola yang sangat brilian. Biola Paganini sangat sulit dimainkan karena perbedaan yang kontras antara nada tinggi dan nada rendahnya, membuat sang violinist haruslah orang yang benar-benar ahli, tetapi jika dimainkan dengan baik hasilnya sepadan, suara yang dihasilkannya amat sangat indah, bening dan memukau. Hanya ada beberapa violinist di dunia yang mampu memainkan biola Paganini dengan baik, Yunho adalah salah satu orang yang istimewa itu.
Setelah biola berada di tangannya, Yunho membuka tempatnya, mengambilnya, lalu berdiri, dan kemudian masuk ke tengah musik, memainkan nada mengiringi permainan biola Jaejoong.
Seluruh ruangan terkesiap. Semuanya takjub akan alunan biola Yunho yang ajaib, alunan dari si violinist jenius yang sangat jarang bisa mereka dengarkan secara langsung. Sekarang Yunho bermain di depan aula, mengiringi permainan Jaejoong, menjadikan kesempatan ini sebagai kesempatan yang luar biasa bagi semua peserta audisi.
Jaejoong terperanjat ketika merasakan alunan biola yang indah dan sangat ahli mengiringinya di belakangnya, dia membuka matanya yang sedari tadi terpejam mengikuti musik yang dimainkannya, menoleh mengikuti arah suara itu, dan langsung bertatapan dengan mata indah Yunho yang tajam.
Lanjutkan. 
Yunho memberikan isyarat dengan matanya.
Antusiasme itu menular. Alunan musik biola Yunho yang indah dan tanpa cela, membuat Jaejoong seperti dibangkitkan, dia lalu memainkan setiap nadanya dengan sepenuh hatinya. Bermain biola dengan diiringi oleh maestro sekelas Yunho itu luar biasa! Astaga... benar-benar kesempatan yang luar biasa.
Alunan nada dari dua biola itu berjalinan, menciptakan simponi yang indah, membius seluruh aula. Semuanya terpana seperti terhipnotis, mendengarkan dengan mata berbinar. Dan kemudian, jatah waktu lima menit untuk Jaejoong berubah menjadi dua puluh menit lebih, memainkan nada awal Tchaikovsky, Violin Concerto in D major Op.35 sampai akhir, diiringi oleh Yunho.
Ketika Jaejoong memainkan nada tinggi dan kemudian merendah dengan dramatis di akhir musik, semua peserta audisi ikut menghela napas, Yunho tentu saja mengiringi dengan sempurna. Sampai kemudian gesekan terakhir yang menyayat, semakin pelan dan menghipnotis. Lalu selesai.
Jaejoong berdiri di sana, terengah-engah menatap ke arah penonton yang terpana. Yunho berdiri di belakangnya, ada senyum puas di bibirnya.
Kemudian salah satu penonton memecah keheningan dengan tepuk tangannya. Seketika itu juga ruangan riuh rendah oleh karena tepuk tangan dan teriakan antusias, semua peserta audisi berdiri dan memuji.
Jaejoong menoleh mencari-cari Changmin, dan dia melihat lelaki itu tersenyum lebar, bertepuk tangan penuh semangat, lalu mengedipkan matanya memuji ke arah Jaejoong, membuat pipi Jaejoong memerah.
Jaejoong menoleh ke arah Yunho yang masih berdiri di sana, dan kemudian membungkukkan tubuhnya penuh penghargaan atas kesediaan lelaki itu mengiringinya, memberikan pertunjukan dan pengalaman luar biasa kepada seluruh penonton di aula itu. Setelah itu, Jaejoong melangkah mundur meninggalkan panggung depan aula.
Semua orang menyenggol dan tersenyum lebar kepadanya di jalannya menuju ke arah Changmin, beberapa memuji dan menyelamatinya atas kesempatan langka itu, bisa bermain diiringi oleh Yunho. Tapi yang dituju oleh Jaejoong hanyalah Changmin. Lelaki itu tersenyum bangga dan membuka lengannya lebar, membuat Jaejoong tanpa bisa menahan diri memeluk lelaki itu erat-erat.
"Hebat. Kau Hebat Jaejoongie."
Changmin memeluk Jaejoong, setengah mengangkat tubuh mungilnya dengan sayang. Sementara Jaejoong meluapkan seluruh perasaannya, bangga, bahagia, antusias dan takjub di pelukan Changmin.
Jauh di atas panggung, di bagian depan aula, Yunho menatap Jaejoong yang menghambur ke pelukan Changmin. 
Ternyata perempuan itu sudah punya pacar.
Yunho mengernyit. Lagipula, apa pedulinya? Tidak ada hubungannya dengannya bukan?
Salah satu mentor senior kemudian mendekati mic dan meminta seluruh peserta beristirahat dan makan di area makan yang telah disediakan sementara para mentor dan Yunho akan berdiskusi. Pengumuman nama-nama peserta yang lolos akan diumumkan satu jam kemudian.
.
.
.
"Kau pasti mau Jaejoong masuk dalam list." Mr. Kim tersenyum menatap Yunho,
"Sebelumnya aku tak pernah melihatmu bermain secara spontan seperti itu, Yunho. Permainan anak itu memang hebat, meskipun belum terasah benar, di bawah tanganmu aku yakin dia akan menjadi hebat."
"Ya. Masukkan dia." mata Yunho tampak kosong.
"Aku tidak akan bisa benar-benar mengasah berlian itu. Aku hanya akan melatihnya selama tiga bulan."
Mr. Kim menatap Yunho dan tersenyum, "Kau bisa mengangkatnya sebagai murid khususmu setelahnya. Pada usiamu, aku dulu sudah membimbing murid khususku. Dan aku hanya melakukannya pada anak-anak yang memang benar-benar kulihat bakatnya, mengembangkannya dengan sempurna."
"Akan kupertimbangkan, aku baru melihatnya bermain satu kali." Yunho mengerutkan keningnya,
"Jadi dimana daftarnya?"
Mr. Kim menyerahkan kertas lembar daftar sementara itu, "Evaluasi dulu, kalau-kalau ada yang ingin kau ubah."
Yunho termenung menatap dua puluh nama-nama yang terpilih itu, matanya mengarah ke nomor 199 yang masuk ke dalam list, lelaki yang dia tahu dipeluk oleh Jaejoong setelah permainannya tadi. Nama lelaki itu Shim Changmin... Tiba-tiba Yunho tersenyum ketika menyadari bahwa itu adalah nama direktur Akademi musik ini. Jadi akhirnya anak lelaki direktur berhasil lolos juga. 
Dan anak lelaki direktur itu adalah pacar Jaejoong.
Sepertinya tiga bulan ke depan akan sangat menarik bagi Yunho.
.
.
.
Semua peserta audisi duduk di meja-meja yang telah disediakan di area prasmanan. Meskipun semua  tampak ceria, tetapi Jaejoong bisa melihat wajah-wajah cemas yang ada di setiap siswa, tentu saja, nasib semuanya akan ditentukan dalam beberapa menit lagi.
Jaejoong melahap roti pisang di depannya, makanan penutupnya, dengan nikmat, ternyata dia lapar. Karena mendapatkan giliran terakhir, sepertinya Jaejoong yang paling lama menahan rasa tegang, karena itulah perutnya jadi keroncongan. Setelah menghabiskan rotinya, Jaejoong meminum teh manisnya dengan senang.
Sementara itu Changmin menatapnya dan tersenyum, lelaki itu telah menghabiskan makanannya dari tadi dan meminum secangkir kopi sambil menunggu Jaejoong selesai makan,
"Melihat tubuh kecilmu, orang tak akan percaya kalau selera makanmu sebesar ini." gumamnya menggoda, membuat Jaejoong membelalakkan matanya pura-pura marah,
"Aku lapar." gumamnya sambil tertawa. 
Changmin tersenyum, menatap Jaejoong kagum, "Kau hebat sekali tadi, luar biasa bisa membuat Yunho mengiringi permainanmu, dan kau hebat, bisa mengimbangi permainannya, kalau aku berada di posisimu, aku pasti akan gugup dan jemariku membeku."
Jaejoong tertawa, "Mungkin aku hanya beruntung. Yunho sepertinya telah merencanakan memberikan penutup kejutan untuk semua peserta audisi, kebetulan aku berada di nomor urutan terakhir, jadi akulah yang beruntung."
Tidak. Jaejoong tidak sekedar beruntung, Changmin tahu pasti akan hal itu. Ketika Jaejoong memainkan biolanya, dia kebetulan sedang mengamati ekspresi Yunho. Lelaki itu telah memasang wajah datar sepanjang audisi, tetapi ketika mendengar permainan Jaejoong, matanya bercahaya, mula-mula terkejut, lalu antusias. Changmin tahu pasti bahwa Yunho ikut bermain tadi karena dorongan spontannya, bukan direncanakan.
Suara panggilan terdengar di ruang besar aula, membuat Changmin terkesiap. Itu panggilan untuk berkumpul karena nama-nama yang lolos audisi akan diumumkan. Changmin menyesap kopinya untuk terakhir kali, lalu setengah berdiri dengan bersemangat,
"Ayo Jaejoongie." ajaknya, dan tanpa kata Jaejoong mengikuti langkah-langkah cepatnya ke ruang besar aula.

.
.
Semua orang berkumpul dengan harap-harap cemas, menatap Yunho yang duduk tenang di kursinya, masih dengan wajahnya yang tak terbaca. Lelaki itu menyerahkan selembar kertas kepada mentor senior yang mendampinginya, dan mentor itupun menghadap mic, mengumumkan semua nama.
Nama-nama disebut secara berurutan. Menimbulkan berbagai emosi, bagi yang disebut namanya tentu saja itu merupakan kebahagiaan yang luar biasa, ucapan syukur terdengar diantara kerumunan, beberapa menerima ucapan selamat dari yang lain. Tetapi semakin banyak jumlah nama yang diumumkan, semakin banyak pula wajah-wajah cemas dan tegang di antara semua peserta audisi, karena kesempatan mereka dipanggil akan semakin kecil.
Changmin tanpa sadar menggenggam tangan Jaejoong erat-erat, Matanya menatap tegang, terpaku pada sang mentor yang mengumumkan semua nama berurutan. Jaejoong melirik jemari mereka yang bertaut dan tersenyum, sesungguhnya dia tidak peduli dengan hasil pengumuman ini. Berdiri di sini, berbagi rasa tegang dengan Changmin dan bergenggaman tangan sungguh merupakan suatu momen yang tak tergantikan.
Pengumuman sudah sampai ke nomor sembilan belas, jantung Jaejoong tiba-tiba ikut berdebar, tinggal dua nama lagi dan Changmin belum disebut. Dia berdoa dalam hati memohon supaya Changmin lolos, memohon dengan sangat supaya lelaki itu tidak mendapatkan kekecewaan lagi.
Dan ternyata Tuhan mengabulkan doanya. nama Changmin disebut. Lelaki itu menegang, dan kemudian tersenyum lebar ketika Jaejoong memeluknya setengah memekik dengan bersemangat. Changmin memeluk Jaejoong erat-erat.
"Akhirnya aku lolos Jaejoongie!" serunya penuh kegembiraan, menenggelamkan Jaejoong dalam pelukannya.
Dan pada saat yang sama, nama terakhir yang lolos diumumkan, dan itu adalah nama Jaejoong. Changmin dan Jaejoong membeku, bertatapan seakan tak percaya. Lalu Changmin tertawa bahagia,
"Kau lolos juga!" serunya senang,
"Kita akan masuk kelas khusus bersama-sama!" dengan bahagia dipeluknya tubuh mungil Jaejoong, setengah diangkat.
Orang-orang berkerumun memberi selamat. Ada wajah kecewa ada wajah bahagia dalam kerumunan itu, sebagian pasti juga berpikir akan mencoba lagi tahun depan di kesempatan berbeda. Setelah pengumuman ditutup, kerumunan itupun bubar.
Dalam perjalanan ke mobil mereka, Changmin dan Jaejoong masih berangkulan, tertawa begitu bahagia, masih tidak percaya dengan keberuntungan mereka.
"Tiga bulan ke depan pasti akan luar biasa, aku tidak percaya kita berdua lolos bersama-sama, sungguh menyenangkan."
Changmin masih bergumam tidak percaya akan betapa beruntungnya mereka.
Jaejoong sendiri tentunya terkejut. Dia tidak menyangka bahwa dia akan menjadi salah satu dari dua puluh anak yang beruntung. Setahunya, masih banyak peserta dengan teknik yang lebih sempurna dari dirinya. Tetapi bagaimanapun juga, dia tidak tahu bagaimana pertimbangan penilaian audisi itu. Mungkin saja mereka semua memiliki pertimbangan sendiri.
Tiba-tiba langkah Changmin yang masih merangkulnya terhenti, membuat langkah Jaejoong yang sedang melamun terhenti seketika. Jaejoong mendongak, menatap bingung ke arah Changmin.
"Kenapa kita berhenti...."
matanya mengikuti arah mata Changmin yang terpaku dan tertegun, dan kemudian dia melihat Yunho... lelaki itu berdiri dengan tenang di tempat tersembunyi di area parkiran mobil hanya sekitar empat langkah dari posisi mereka berdiri sekarang. Pandangannya lurus ke arah Jaejoong, dan sepertinya dia sedang menunggu mereka....
Karena Changmin masih terperangah membeku tak percaya akan apa yang dia lihat, Yunholah yang melangkah mendekat lebih dulu. Tersenyum dengan senyum khasnya yang mempesona,
"Selamat, kalian berdua lolos masuk ke kelas khusus." lelaki itu mengulurkan tangan dengan sopan.
Changmin tampak terpaku, tetapi dengan cepat dia menjabat tangan Yunho, tak kalah sopan,
"Terimakasih, sungguh suatu kebanggan sendiri bisa masuk ke kelas anda. Anda adalah motivasi terbesar saya dalam bermain biola..."
Changmin langsung menghentikan kalimatnya, menyadari kalau dia terlalu banyak berkata-kata.
Yunho hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia lalu menolehkan kepalanya kepada Jaejoong.
"Hai. Kita bertemu lagi. Meskipun pertemuan terakhir kita sepertinya tidak begitu menyenangkan."
tatapannya tersirat, penuh arti membuat pipi Jaejoong memerah. 
Apanya yang tidak menyenangkan? Bukankah lelaki itu yang bersikap galak di pertemuan terakhir mereka? Jaejoong kan hanya mengikuti alunan musik secara tidak sengaja?
Ketika Jaejoong hanya diam saja, Yunho melanjutkan.
"Permainan biolamu sangat hebat, dan duet kita tadi menyenangkan. Semoga tiga bulan ke depan banyak ilmu yang bisa kau dapatkan." gumamnya lembut.
Dan kemudian tanpa diduga, Yunho meraih tangan Jaejoong dan mengecupnya lembut. Membuat Jaejoong terperangah sampai lupa menutup bibirnya.
"Sampai jumpa lagi." gumam Yunho setengah geli melihat ekspresi Jaejoong.
Lelaki itu lalu menganggukkan kepala kepada Changmin dan kemudian melangkah pergi. Meninggalkan Changmin dan Jaejoong yang masih terpaku kebingungan.
.
.
.
"Kenapa kau diam saja sepanjang malam ini, sayang?" Ahra, kekasih terbaru Yunho. Seorang janda muda dan kaya berusia tiga puluh tahun yang sangat cantik cemberut dan melirik ke arah Yunho yang hanya diam sepanjang tadi. Mereka berdua sedang berada di pesta yang diadakan oleh sahabat Ahra. Sejenis pesta jamuan malam yang diakhiri dengan acara bincang-bincang. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tetapi pesta ini masih ramai, Ahra dan Yunho duduk di sofa besar di sudut ruangan, bersama pasangan lainnya dan sedang membicarakan hal-hal tidak berarti.
Yunho melirik ke arah Ahra dan tiba-tiba saja merasa muak. Oh Tentu saja, Ahra adalah korbannya yang berikutnya. Perempuan ini jelas-jelas murahan dan gila harta seperti ibunya, Ahra telah memperoleh bagian cukup besar dari perceraiannya yang menghebohkan itu dan kemudian menggunakannya untuk berfoya-foya. Perempuan itu memang memiliki koneksi di dunia musik karena suaminya adalah mantan promotor konser musik klasik di negara ini. Mereka bertemu tanpa sengaja di suatu pesta dan tanpa malu-malu Ahra melemparkan umpan kepada Yunho, mengatakan bahwa dia benar-benar tertarik kepada Yunho.
Yunho tentu saja langsung memakan umpannya. Perempuan seperti inilah yang dicarinya, perempuan bodoh, genit, gila harta yang akan menjadi pelampiasan tepat untuk dendam yang masih membara di benaknya. Saat ini, seperti biasa dia sedang berperan sebagai kekasih yang baik. Ahra akan dibuatnya jatuh cinta setengah mati kepadanya. Dan ketika sampai di titik Ahra tidak bisa hidup tanpanya, Yunho akan mencampakkannya dengan kejam.
"Aku lelah, kau tahu aku baru saja mengaudisi dua ratus siswa tadi." Yunho bergumam dingin, berusaha bersikap biasa ketika dengan menggoda Ahra duduk merapat padanya, dengan sengaja menyenggolkan payudaranya yang ranum dan hanya dibungkus gaun dengan belahan dada sangat rendah untuk memamerkan belahannya. 
Tapi Yunho sedang tidak tertarik, pun ketika Ahra berusaha memberi isyarat meminta untuk bercumbu dengannya. Lelaki itu malahan berdiri dan menggelengkan kepalanya,
"Kurasa aku harus pulang. Aku lelah." dia mengedikkan bahunya kepada Ahra, "Sampai nanti Ahra."
Dan kemudian Yunho meninggalkan Ahra yang masih memanggil-manggil namanya. Dia tidak peduli. Lagipula dia tidak berkewajiban mengantar Ahra pulang karena perempuan itu tadi datang kemari sendiri dengan diantar oleh supirnya.
.
.
.
Sekali lagi Yunho terbaring dalam keheningan malam di kamarnya. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Sekelilingnya gelap karena Yunho mematikan semua lampu.
Seharusnya dia bisa langsung tertidur karena dia lelah sekali. Tetapi dia tidak bisa tidur. Ketika dia memejamkan mata, alunan musik itu terbayang di benaknya, alunan musik yang memainkan nada indah... nada duetnya bersama Jaejoong.
Anak perempuan kecil itu adalah berlian. Yunho mengulang kembali kesimpulannya. Berlian itu harus diasah di tangan yang benar, kalau tidak dia akan rusak. Dan Yunho tidak akan membiarkannya rusak.
Ada yang harus dilakukannya besok, pagi-pagi sekali.
.
.
.
"Aku tak percaya kau lolos." Ibunya meletakkan sepiring omelet di depan Jaejoong, yang langsung dimakan Jaejoong dengan lahap.
Mereka sedang sarapan bersama di pagi hari. Dan ibunya masih saja membahas hasil pengumuman kemarin. 
"Mungkin permainan biolaku cukup bagus." Jaejoong tertawa, menggoda ibunya yang mengerutkan keningnya. Ibunya tampaknya sangat serius dalam segala hal terutama menyangkut musik, Jaejoong takut hal itu akan menambah keriput di wajah ibunya yang masih cantik.
"Eomma yakin masih banyak yang lebih sempurna darimu. Kau selama ini hanya mempelajari biola setengah-setengah, tidak sepenuh hasratmu."
Ibu Jaejoong duduk di depan Jaejoong dan tatapannya berubah serius,
"Kalau kau sudah menjalani kelas khusus bersama Yunho ini, kau harus menetapkan pilihanmu pada biola dan menjalaninya dengan serius Jaejoong."
Sebelum Jaejoong menjawab, telepon rumahnya berbunyi. Sang ibu mengerutkan keningnya, bergumam tentang siapa yang menelepon rumah sepagi ini, lalu beranjak berdiri dan mengangkat telepon.
Jaejoong tentu saja tidak mendengarkan pembicaraan ibunya ditelepon yang terdengar sangat serius itu. Dia malahan asyik melahap omelet buatan ibunya yang sangat enak.
Sampai kemudian ibunya meletakkan telepon, wajahnya pucat..... mungkin efek dari pembicaraannya? Dan kemudian dia duduk di depan Jaejoong dengan mata membelalak tak percaya.
Lama kemudian ibunya masih seperti itu hingga Jaejoong merasa cemas,
"Eomma, Wae gurae?"
Ibunya tergeragap, seolah dibangunkan dari lamunannya, tetapi ekspresi takjub masih tampak di matanya, bibirnya membuka sedikit gemetar,
"Itu tadi..... Astaga. Itu tadi Yunho sendiri yang menelepon! Dia meminta kita datang ke akademi, katanya dia ingin menjadikanmu murid bimbingan khususnya yang pertama!"
.
.
.
.
To Be Continue


2 comments:

  1. Wah, ada apa nih?
    Yunho udah mulai cemburu tuh sama Chwang. Apa yg direncanain Yunho?

    ReplyDelete
  2. Ga nyangka yunho saking terpukaunya sama permainan biolanya Jj sampe ikutan main biola jg.
    Ak kl jd jj bisa2 malah pingsan diatas panggung...^^
    Yunho ga cm tertarik sama bakatnya Jj nih kayaknya.

    ReplyDelete