Summary: Jung Yunho, violinist jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
The Violinist
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Chapter 3,
Musik itu mengalun memenuhi aula.
Dan seketika itu juga Yunho ternganga.
Anak
perempuan ini.... anak perempuan ini...
Antusiasme
langsung memenuhi diri Yunho, membanjirinya, ini adalah rasa yang tidak pernah
dirasakannya sebelumnya. Jaejoong memainkan setiap gesekan nada dengan begitu
mudahnya, seolah setiap nada bukanlah sesuatu yang sulit untuknya. Padahal
musik yang dia mainkan membutuhkan latihan intensif dan konsentrasi
tersendiri. Tchaikovsky tentu saja adalah favorit Yunho. Dia
menguasai semuanya, dan suka mendengarkannya, amat sangat tahu tingkat
kesulitannya.
Jaejoong memainkannya dengan begitu mudah, gerakan tangannya menggesek
biola, berpadu dengan jemarinya bergerak secara alami, semuanya begitu
sempurna. Perempuan ini memiliki bakat alami, hanya saja belum terasah benar.
Jantung Yunho
berdebar, anak ini adalah berlian yang belum diasah. Yunho tidak bisa
melepaskannya begitu saja, antusiasme yang dibawa oleh nada-nada yang dimainkan
oleh Jaejoong memberikan perasaan meluap-luap di dadanya, membuatnya ingin
bermain. Dia langsung berdiri, melirik ke arah salah satu pegawai yang dengan
sigap mengerti maksudnya. Pegawai itu langsung mengantarkan biolanya yang
dengan hati-hati diletakkan di meja khusus.
Tentu
saja Yunho tidak menggunakan biola berharga yang diwariskan oleh ayahnya, biola
dari ayahnya adalah Stradivarius, buatan abad ke 17, salah satu
dari biola langka dan Yunho amat sangat menjaga biola itu yang
sekarang diletakkan di kotak kaca di rumah ibunya. Biola yang sering
dipakai Yunho sekarang sangat mahal dan langka, diberikan oleh
seorang komposer di Austria sebagai hadiah atas kekagumannya akan
permainan biola Yunho, dibuat ratusan tahun yang lalu. Biola ini dibuat
untuk Paganini tahun 1759, seorang pemain biola luar biasa,
terkenal jenius dengan permainan biola yang sangat brilian. Biola Paganini sangat
sulit dimainkan karena perbedaan yang kontras antara nada tinggi dan nada
rendahnya, membuat sang violinist haruslah orang yang benar-benar ahli, tetapi
jika dimainkan dengan baik hasilnya sepadan, suara yang dihasilkannya amat
sangat indah, bening dan memukau. Hanya ada beberapa violinist di dunia yang
mampu memainkan biola Paganini dengan baik, Yunho adalah salah
satu orang yang istimewa itu.
Setelah
biola berada di tangannya, Yunho membuka tempatnya, mengambilnya, lalu berdiri,
dan kemudian masuk ke tengah musik, memainkan nada mengiringi permainan
biola Jaejoong.
Seluruh
ruangan terkesiap. Semuanya takjub akan alunan biola Yunho yang ajaib, alunan
dari si violinist jenius yang sangat jarang bisa mereka dengarkan secara
langsung. Sekarang Yunho bermain di depan aula, mengiringi permainan Jaejoong,
menjadikan kesempatan ini sebagai kesempatan yang luar biasa bagi semua peserta
audisi.
Jaejoong
terperanjat ketika merasakan alunan biola yang indah dan sangat ahli
mengiringinya di belakangnya, dia membuka matanya yang sedari tadi terpejam
mengikuti musik yang dimainkannya, menoleh mengikuti arah suara itu, dan
langsung bertatapan dengan mata indah Yunho yang tajam.
Lanjutkan.
Yunho
memberikan isyarat dengan matanya.
Antusiasme
itu menular. Alunan musik biola Yunho yang indah dan tanpa cela, membuat Jaejoong
seperti dibangkitkan, dia lalu memainkan setiap nadanya dengan sepenuh hatinya.
Bermain biola dengan diiringi oleh maestro sekelas Yunho itu luar biasa!
Astaga... benar-benar kesempatan yang luar biasa.
Alunan
nada dari dua biola itu berjalinan, menciptakan simponi yang indah, membius
seluruh aula. Semuanya terpana seperti terhipnotis, mendengarkan dengan mata
berbinar. Dan kemudian, jatah waktu lima menit untuk Jaejoong berubah menjadi
dua puluh menit lebih, memainkan nada awal Tchaikovsky, Violin Concerto
in D major Op.35 sampai akhir, diiringi oleh Yunho.
Ketika Jaejoong
memainkan nada tinggi dan kemudian merendah dengan dramatis di akhir musik,
semua peserta audisi ikut menghela napas, Yunho tentu saja mengiringi dengan
sempurna. Sampai kemudian gesekan terakhir yang menyayat, semakin pelan dan
menghipnotis. Lalu selesai.
Jaejoong
berdiri di sana, terengah-engah menatap ke arah penonton yang terpana. Yunho
berdiri di belakangnya, ada senyum puas di bibirnya.
Kemudian
salah satu penonton memecah keheningan dengan tepuk tangannya. Seketika itu
juga ruangan riuh rendah oleh karena tepuk tangan dan teriakan antusias, semua
peserta audisi berdiri dan memuji.
Jaejoong menoleh
mencari-cari Changmin, dan dia melihat lelaki itu tersenyum lebar, bertepuk
tangan penuh semangat, lalu mengedipkan matanya memuji ke arah Jaejoong,
membuat pipi Jaejoong memerah.
Jaejoong
menoleh ke arah Yunho yang masih berdiri di sana, dan kemudian membungkukkan
tubuhnya penuh penghargaan atas kesediaan lelaki itu mengiringinya, memberikan
pertunjukan dan pengalaman luar biasa kepada seluruh penonton di aula itu.
Setelah itu, Jaejoong melangkah mundur meninggalkan panggung depan aula.
Semua
orang menyenggol dan tersenyum lebar kepadanya di jalannya menuju ke arah Changmin,
beberapa memuji dan menyelamatinya atas kesempatan langka itu, bisa bermain
diiringi oleh Yunho. Tapi yang dituju oleh Jaejoong hanyalah Changmin. Lelaki
itu tersenyum bangga dan membuka lengannya lebar, membuat Jaejoong tanpa bisa
menahan diri memeluk lelaki itu erat-erat.
"Hebat.
Kau Hebat Jaejoongie."
Changmin
memeluk Jaejoong, setengah mengangkat tubuh mungilnya dengan sayang. Sementara Jaejoong
meluapkan seluruh perasaannya, bangga, bahagia, antusias dan takjub di pelukan Changmin.
Jauh di
atas panggung, di bagian depan aula, Yunho menatap Jaejoong yang menghambur ke
pelukan Changmin.
Ternyata
perempuan itu sudah punya pacar.
Yunho
mengernyit. Lagipula, apa pedulinya? Tidak ada hubungannya dengannya bukan?
Salah
satu mentor senior kemudian mendekati mic dan meminta seluruh peserta
beristirahat dan makan di area makan yang telah disediakan sementara para
mentor dan Yunho akan berdiskusi. Pengumuman nama-nama peserta yang lolos akan
diumumkan satu jam kemudian.
.
.
.
"Kau
pasti mau Jaejoong masuk dalam list." Mr. Kim tersenyum menatap Yunho,
"Sebelumnya
aku tak pernah melihatmu bermain secara spontan seperti itu, Yunho. Permainan
anak itu memang hebat, meskipun belum terasah benar, di bawah tanganmu aku
yakin dia akan menjadi hebat."
"Ya.
Masukkan dia." mata Yunho tampak kosong.
"Aku
tidak akan bisa benar-benar mengasah berlian itu. Aku hanya akan melatihnya
selama tiga bulan."
Mr. Kim
menatap Yunho dan tersenyum, "Kau bisa mengangkatnya sebagai murid
khususmu setelahnya. Pada usiamu, aku dulu sudah membimbing murid khususku. Dan
aku hanya melakukannya pada anak-anak yang memang benar-benar kulihat bakatnya,
mengembangkannya dengan sempurna."
"Akan
kupertimbangkan, aku baru melihatnya bermain satu kali." Yunho mengerutkan
keningnya,
"Jadi
dimana daftarnya?"
Mr. Kim
menyerahkan kertas lembar daftar sementara itu, "Evaluasi dulu,
kalau-kalau ada yang ingin kau ubah."
Yunho
termenung menatap dua puluh nama-nama yang terpilih itu, matanya mengarah ke
nomor 199 yang masuk ke dalam list, lelaki yang dia tahu dipeluk oleh Jaejoong
setelah permainannya tadi. Nama lelaki itu Shim Changmin... Tiba-tiba Yunho
tersenyum ketika menyadari bahwa itu adalah nama direktur Akademi musik ini.
Jadi akhirnya anak lelaki direktur berhasil lolos juga.
Dan anak
lelaki direktur itu adalah pacar Jaejoong.
Sepertinya tiga
bulan ke depan akan sangat menarik bagi Yunho.
.
.
.
Semua
peserta audisi duduk di meja-meja yang telah disediakan di area prasmanan.
Meskipun semua tampak ceria, tetapi Jaejoong bisa melihat wajah-wajah
cemas yang ada di setiap siswa, tentu saja, nasib semuanya akan ditentukan
dalam beberapa menit lagi.
Jaejoong
melahap roti pisang di depannya, makanan penutupnya, dengan nikmat,
ternyata dia lapar. Karena mendapatkan giliran terakhir, sepertinya Jaejoong
yang paling lama menahan rasa tegang, karena itulah perutnya jadi keroncongan.
Setelah menghabiskan rotinya, Jaejoong meminum teh manisnya dengan senang.
Sementara
itu Changmin menatapnya dan tersenyum, lelaki itu telah menghabiskan makanannya
dari tadi dan meminum secangkir kopi sambil menunggu Jaejoong selesai makan,
"Melihat
tubuh kecilmu, orang tak akan percaya kalau selera makanmu sebesar ini."
gumamnya menggoda, membuat Jaejoong membelalakkan matanya pura-pura marah,
"Aku
lapar." gumamnya sambil tertawa.
Changmin
tersenyum, menatap Jaejoong kagum, "Kau hebat sekali tadi, luar biasa bisa
membuat Yunho mengiringi permainanmu, dan kau hebat, bisa mengimbangi
permainannya, kalau aku berada di posisimu, aku pasti akan gugup dan jemariku
membeku."
Jaejoong
tertawa, "Mungkin aku hanya beruntung. Yunho sepertinya telah merencanakan
memberikan penutup kejutan untuk semua peserta audisi, kebetulan aku berada di
nomor urutan terakhir, jadi akulah yang beruntung."
Tidak. Jaejoong
tidak sekedar beruntung, Changmin tahu pasti akan hal itu. Ketika Jaejoong
memainkan biolanya, dia kebetulan sedang mengamati ekspresi Yunho. Lelaki itu
telah memasang wajah datar sepanjang audisi, tetapi ketika mendengar permainan Jaejoong,
matanya bercahaya, mula-mula terkejut, lalu antusias. Changmin tahu pasti bahwa
Yunho ikut bermain tadi karena dorongan spontannya, bukan direncanakan.
Suara
panggilan terdengar di ruang besar aula, membuat Changmin terkesiap. Itu
panggilan untuk berkumpul karena nama-nama yang lolos audisi akan diumumkan. Changmin
menyesap kopinya untuk terakhir kali, lalu setengah berdiri dengan bersemangat,
"Ayo
Jaejoongie." ajaknya, dan tanpa kata Jaejoong mengikuti langkah-langkah
cepatnya ke ruang besar aula.
.
.
.
.
.
.
Semua
orang berkumpul dengan harap-harap cemas, menatap Yunho yang duduk tenang di
kursinya, masih dengan wajahnya yang tak terbaca. Lelaki itu menyerahkan
selembar kertas kepada mentor senior yang mendampinginya, dan mentor itupun
menghadap mic, mengumumkan semua nama.
Nama-nama
disebut secara berurutan. Menimbulkan berbagai emosi, bagi yang disebut namanya
tentu saja itu merupakan kebahagiaan yang luar biasa, ucapan syukur terdengar
diantara kerumunan, beberapa menerima ucapan selamat dari yang lain. Tetapi
semakin banyak jumlah nama yang diumumkan, semakin banyak pula wajah-wajah
cemas dan tegang di antara semua peserta audisi, karena kesempatan mereka
dipanggil akan semakin kecil.
Changmin
tanpa sadar menggenggam tangan Jaejoong erat-erat, Matanya menatap tegang,
terpaku pada sang mentor yang mengumumkan semua nama berurutan. Jaejoong
melirik jemari mereka yang bertaut dan tersenyum, sesungguhnya dia tidak peduli
dengan hasil pengumuman ini. Berdiri di sini, berbagi rasa tegang dengan Changmin
dan bergenggaman tangan sungguh merupakan suatu momen yang tak tergantikan.
Pengumuman
sudah sampai ke nomor sembilan belas, jantung Jaejoong tiba-tiba ikut berdebar,
tinggal dua nama lagi dan Changmin belum disebut. Dia berdoa dalam hati memohon
supaya Changmin lolos, memohon dengan sangat supaya lelaki itu tidak
mendapatkan kekecewaan lagi.
Dan
ternyata Tuhan mengabulkan doanya. nama Changmin disebut. Lelaki itu menegang,
dan kemudian tersenyum lebar ketika Jaejoong memeluknya setengah memekik dengan
bersemangat. Changmin memeluk Jaejoong erat-erat.
"Akhirnya
aku lolos Jaejoongie!" serunya penuh kegembiraan, menenggelamkan Jaejoong
dalam pelukannya.
Dan pada
saat yang sama, nama terakhir yang lolos diumumkan, dan itu adalah nama Jaejoong.
Changmin dan Jaejoong membeku, bertatapan seakan tak percaya. Lalu Changmin
tertawa bahagia,
"Kau
lolos juga!" serunya senang,
"Kita
akan masuk kelas khusus bersama-sama!" dengan bahagia dipeluknya tubuh
mungil Jaejoong, setengah diangkat.
Orang-orang
berkerumun memberi selamat. Ada wajah kecewa ada wajah bahagia dalam kerumunan
itu, sebagian pasti juga berpikir akan mencoba lagi tahun depan di kesempatan
berbeda. Setelah pengumuman ditutup, kerumunan itupun bubar.
Dalam
perjalanan ke mobil mereka, Changmin dan Jaejoong masih berangkulan, tertawa
begitu bahagia, masih tidak percaya dengan keberuntungan mereka.
"Tiga
bulan ke depan pasti akan luar biasa, aku tidak percaya kita berdua lolos
bersama-sama, sungguh menyenangkan."
Changmin
masih bergumam tidak percaya akan betapa beruntungnya mereka.
Jaejoong
sendiri tentunya terkejut. Dia tidak menyangka bahwa dia akan menjadi salah
satu dari dua puluh anak yang beruntung. Setahunya, masih banyak peserta dengan
teknik yang lebih sempurna dari dirinya. Tetapi bagaimanapun juga, dia tidak
tahu bagaimana pertimbangan penilaian audisi itu. Mungkin saja mereka semua
memiliki pertimbangan sendiri.
Tiba-tiba
langkah Changmin yang masih merangkulnya terhenti, membuat langkah Jaejoong
yang sedang melamun terhenti seketika. Jaejoong mendongak, menatap bingung ke
arah Changmin.
"Kenapa
kita berhenti...."
matanya
mengikuti arah mata Changmin yang terpaku dan tertegun, dan kemudian dia
melihat Yunho... lelaki itu berdiri dengan tenang di tempat tersembunyi di area
parkiran mobil hanya sekitar empat langkah dari posisi mereka berdiri sekarang.
Pandangannya lurus ke arah Jaejoong, dan sepertinya dia sedang menunggu
mereka....
Karena Changmin
masih terperangah membeku tak percaya akan apa yang dia lihat, Yunholah yang
melangkah mendekat lebih dulu. Tersenyum dengan senyum khasnya yang mempesona,
"Selamat,
kalian berdua lolos masuk ke kelas khusus." lelaki itu mengulurkan tangan
dengan sopan.
Changmin
tampak terpaku, tetapi dengan cepat dia menjabat tangan Yunho, tak kalah sopan,
"Terimakasih,
sungguh suatu kebanggan sendiri bisa masuk ke kelas anda. Anda adalah motivasi
terbesar saya dalam bermain biola..."
Changmin
langsung menghentikan kalimatnya, menyadari kalau dia terlalu banyak
berkata-kata.
Yunho
hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia lalu menolehkan kepalanya
kepada Jaejoong.
"Hai.
Kita bertemu lagi. Meskipun pertemuan terakhir kita sepertinya tidak begitu
menyenangkan."
tatapannya
tersirat, penuh arti membuat pipi Jaejoong memerah.
Apanya
yang tidak menyenangkan? Bukankah lelaki itu yang bersikap galak di pertemuan
terakhir mereka? Jaejoong kan hanya mengikuti alunan musik secara tidak
sengaja?
Ketika Jaejoong
hanya diam saja, Yunho melanjutkan.
"Permainan
biolamu sangat hebat, dan duet kita tadi menyenangkan. Semoga tiga bulan ke
depan banyak ilmu yang bisa kau dapatkan." gumamnya lembut.
Dan kemudian
tanpa diduga, Yunho meraih tangan Jaejoong dan mengecupnya lembut. Membuat Jaejoong
terperangah sampai lupa menutup bibirnya.
"Sampai
jumpa lagi." gumam Yunho setengah geli melihat ekspresi Jaejoong.
Lelaki
itu lalu menganggukkan kepala kepada Changmin dan kemudian melangkah pergi.
Meninggalkan Changmin dan Jaejoong yang masih terpaku kebingungan.
.
.
.
.
.
"Kenapa
kau diam saja sepanjang malam ini, sayang?" Ahra, kekasih terbaru Yunho.
Seorang janda muda dan kaya berusia tiga puluh tahun yang sangat cantik
cemberut dan melirik ke arah Yunho yang hanya diam sepanjang tadi. Mereka
berdua sedang berada di pesta yang diadakan oleh sahabat Ahra. Sejenis pesta
jamuan malam yang diakhiri dengan acara bincang-bincang. Jam sudah menunjukkan
pukul dua belas malam, tetapi pesta ini masih ramai, Ahra dan Yunho duduk di
sofa besar di sudut ruangan, bersama pasangan lainnya dan sedang membicarakan
hal-hal tidak berarti.
Yunho
melirik ke arah Ahra dan tiba-tiba saja merasa muak. Oh Tentu saja, Ahra adalah
korbannya yang berikutnya. Perempuan ini jelas-jelas murahan dan gila harta
seperti ibunya, Ahra telah memperoleh bagian cukup besar dari perceraiannya
yang menghebohkan itu dan kemudian menggunakannya untuk berfoya-foya. Perempuan
itu memang memiliki koneksi di dunia musik karena suaminya adalah mantan
promotor konser musik klasik di negara ini. Mereka bertemu tanpa sengaja di
suatu pesta dan tanpa malu-malu Ahra melemparkan umpan kepada Yunho, mengatakan
bahwa dia benar-benar tertarik kepada Yunho.
Yunho
tentu saja langsung memakan umpannya. Perempuan seperti inilah yang dicarinya,
perempuan bodoh, genit, gila harta yang akan menjadi pelampiasan tepat untuk
dendam yang masih membara di benaknya. Saat ini, seperti biasa dia sedang
berperan sebagai kekasih yang baik. Ahra akan dibuatnya jatuh cinta setengah
mati kepadanya. Dan ketika sampai di titik Ahra tidak bisa hidup tanpanya, Yunho
akan mencampakkannya dengan kejam.
"Aku
lelah, kau tahu aku baru saja mengaudisi dua ratus siswa tadi." Yunho
bergumam dingin, berusaha bersikap biasa ketika dengan menggoda Ahra duduk
merapat padanya, dengan sengaja menyenggolkan payudaranya yang ranum dan hanya
dibungkus gaun dengan belahan dada sangat rendah untuk memamerkan
belahannya.
Tapi Yunho
sedang tidak tertarik, pun ketika Ahra berusaha memberi isyarat meminta untuk
bercumbu dengannya. Lelaki itu malahan berdiri dan menggelengkan kepalanya,
"Kurasa
aku harus pulang. Aku lelah." dia mengedikkan bahunya kepada Ahra,
"Sampai nanti Ahra."
Dan
kemudian Yunho meninggalkan Ahra yang masih memanggil-manggil namanya. Dia
tidak peduli. Lagipula dia tidak berkewajiban mengantar Ahra pulang karena
perempuan itu tadi datang kemari sendiri dengan diantar oleh supirnya.
.
.
.
Sekali
lagi Yunho terbaring dalam keheningan malam di kamarnya. Matanya menatap
langit-langit kamarnya. Sekelilingnya gelap karena Yunho mematikan semua lampu.
Seharusnya
dia bisa langsung tertidur karena dia lelah sekali. Tetapi dia tidak bisa
tidur. Ketika dia memejamkan mata, alunan musik itu terbayang di benaknya,
alunan musik yang memainkan nada indah... nada duetnya bersama Jaejoong.
Anak
perempuan kecil itu adalah berlian. Yunho mengulang kembali kesimpulannya.
Berlian itu harus diasah di tangan yang benar, kalau tidak dia akan rusak. Dan Yunho
tidak akan membiarkannya rusak.
Ada yang
harus dilakukannya besok, pagi-pagi sekali.
.
.
.
"Aku
tak percaya kau lolos." Ibunya meletakkan sepiring omelet di depan Jaejoong,
yang langsung dimakan Jaejoong dengan lahap.
Mereka
sedang sarapan bersama di pagi hari. Dan ibunya masih saja membahas hasil
pengumuman kemarin.
"Mungkin
permainan biolaku cukup bagus." Jaejoong tertawa, menggoda ibunya yang
mengerutkan keningnya. Ibunya tampaknya sangat serius dalam segala hal terutama
menyangkut musik, Jaejoong takut hal itu akan menambah keriput di wajah ibunya
yang masih cantik.
"Eomma
yakin masih banyak yang lebih sempurna darimu. Kau selama ini hanya mempelajari
biola setengah-setengah, tidak sepenuh hasratmu."
Ibu Jaejoong
duduk di depan Jaejoong dan tatapannya berubah serius,
"Kalau
kau sudah menjalani kelas khusus bersama Yunho ini, kau harus menetapkan
pilihanmu pada biola dan menjalaninya dengan serius Jaejoong."
Sebelum Jaejoong
menjawab, telepon rumahnya berbunyi. Sang ibu mengerutkan keningnya, bergumam
tentang siapa yang menelepon rumah sepagi ini, lalu beranjak berdiri dan
mengangkat telepon.
Jaejoong
tentu saja tidak mendengarkan pembicaraan ibunya ditelepon yang terdengar
sangat serius itu. Dia malahan asyik melahap omelet buatan ibunya yang sangat
enak.
Sampai
kemudian ibunya meletakkan telepon, wajahnya pucat..... mungkin efek dari
pembicaraannya? Dan kemudian dia duduk di depan Jaejoong dengan mata membelalak
tak percaya.
Lama
kemudian ibunya masih seperti itu hingga Jaejoong merasa cemas,
"Eomma,
Wae gurae?"
Ibunya
tergeragap, seolah dibangunkan dari lamunannya, tetapi ekspresi takjub masih
tampak di matanya, bibirnya membuka sedikit gemetar,
"Itu
tadi..... Astaga. Itu tadi Yunho sendiri yang menelepon! Dia meminta kita
datang ke akademi, katanya dia ingin menjadikanmu murid bimbingan khususnya
yang pertama!"
.
.
.
.
To Be
Continue

Wah, ada apa nih?
ReplyDeleteYunho udah mulai cemburu tuh sama Chwang. Apa yg direncanain Yunho?
Ga nyangka yunho saking terpukaunya sama permainan biolanya Jj sampe ikutan main biola jg.
ReplyDeleteAk kl jd jj bisa2 malah pingsan diatas panggung...^^
Yunho ga cm tertarik sama bakatnya Jj nih kayaknya.