Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Chapter 5,
"Kelas Yunho akan dimulai lusa."
Changmin yang datang pagi-pagi ke rumah Jaejoong
untuk menumpang sarapan - seperti yang biasa dilakukannya hampir setiap hari -
menatap Jaejoong dengan pandangan penuh ingin tahu,
"Jadi kau belum berubah pikiran tentang
tawaran Yunho?"
Jaejoong menelan susu cokelatnya dengan susah payah
ketika topik itu diangkat. Sebenarnya, semalaman dia memikirkan keputusannya,
dan kemudian bertanya-tanya dalam hati, apakah dia terlah bertindak terlalu
dangkal dan bodoh? Apakah sebetulnya Changmin benar-benar tidak apa-apa kalau Jaejoong
mengambil kesempatan yang ditawarkan Yunho kepadanya itu?
Changmin sendiri tampaknya tidak memperhatikan
pikiran yang berkecamuk di benak Jaejoong, dia sibuk mengunyah wafel enak
buatan ibu Jaejoong, dan kemudian lelaki itu seolah teringat sesuatu, dan
mendongakkan kepalanya,
"Biasanya sebelum kelas Yunho akan ada pesta
perayaan, sejenis pesta dansa dan diadakan di akademi dengan mengundang semua
murid, sekaligus sebagai pesta tutup tahun. Para guru akan datang, dan
orang-orang penting di dunia musik akan datang."
"Oh ya, pesta itu." Jaejoong tahu tentang
pesta itu, biasanya dihadiri oleh para murid senior, guru dan orang-orang
penting di bidang musik. Pesta itu juga menjadi ajang pertemuan antara para
siswa yang sedang menapaki karier di bidang musik dengan orang-orang penting
yang telah lebih dahulu menanjak. Tetapi sampai sekarang, Jaejoong belum pernah
sekalipun ikut ke pesta itu, selain karena dulu dia masih kelas yunior, ibu Jaejoong
melarang Jaejoong mengikuti pesta di malam hari ketika usianya masih tujuh
belas tahun atau di bawahnya.
Tetapi sekarang Jaejoong sudah delapan belas tahun.
Ibunya mungkin akan mengizinkannya mengikuti pesta itu.
Diam-diam Jaejoong melirik ke arah Changmin, lelaki
itu tampak tampan sekali dengan bibir tipis dan hidung mancung yang terpadu
sempurna. Mungkin... mungkin kalau Changmin menemaninya ke pesta itu, ibunya
akan lebih setuju lagi untuk membiarkannya datang ke pesta itu.
Jaejoong langsung membayangkan, itu adalah pesta
dansa. Jadi kalau dia datang berpasangan dengan Changmin, ada kemungkinan dia
akan berdansa dengan Changmin, diiringi musik waltz yang romantis, dalam gaun
yang seperti puteri.... ya ampun... rasanya mimpi itu indah sekali.
"Maukah kau datang ke pesta itu bersamaku?
setahuku pestanya akan diadakan besok malam."
Tiba-tiba Changmin bergumam, membuat Jaejoong
tertegun dengan mulut menganga, tidak percaya akan pendengarannya.
"Apa??"
Changmin meneguk susu cokelatnya dengan santai,
"Sebenarnya aku ada janji dengan Kyuhyun, tetapi dia akan datang dengan abojinya,
kau tahu ayahnya sangat menjaganya jadi tidak mengizinkannya datang ke pesta
dengan namja, apalagi pestanya di malam hari... Abojiku juga sama, dia terus
menerus menyuruhku melakukan riset tentang permainan biola setiap malam dan
pasti akan melarangku mendatangi pesta, nah kupikir-pikir aku akan mengajakmu
datang ke sana saja kita berangkat dari sini berbarengan, jadi. aku bisa
beralasan bahwa aku mengantarmu untuk berkompromi dengan Yunho."
Perasaan Jaejoong yang melambung langsung merosot
jatuh dengan kerasnya, benaknya terasa sakit dan beku, seperti diguyur oleh air
es. Rasa sakit langsung menyeruak di dada Jaejoong, semua impiannya untuk
berdansa bersama dengan Changmin, melewatkan malam romantis dengan hubungan
lebih dari kakak adik ataupun sahabat dekat langsung musnah begitu saja.
"Jae?" Changmin bertanya ketika Jaejoong
hanya terpaku dan tidak memberikan tanggapan apa-apa,
"Jadi bagaimana? Kau akan pergi denganku atau
tidak? kau mau membantuku bukan Jaejoong?"
Changmin melemparkan tatapan mata penuh permohonan,
"Aku mohon, karena bertemu dengan Kyuhyun amat
sangat berarti untukku."
Jaejoong tergeragap, lalu dengan pedih
menganggukkan kepalanya, "Tentu saja aku akan pergi denganmu, oppa."
.
.
.
"Pergi dengan Changmin?" ibunya
mengangkat alisnya, "Pesta itu berlangsung jam delapan sampai jauh larut
malam, dan sebenarnya diperuntukkan bagi orang dewasa."
ada ketidaksetujuan di dalam suara ibu Jaejoong,
"Lagipula eomma tidak pernah bisa datang ke
pesta itu karena eomma tidak kuat terjaga sampai malam..."
Jaejoong menghela napas panjang, ibunya sama saja
seperti yang lain, selalu menganggapnya seperti anak kecil.
"Eomma, aku sudah delapan belas tahun.... dan
pesta itu juga dihadiri oleh siswa-siswa senior seumuranku, lagipula aku pergi
dengan Changmin oppa, dia akan menjagaku."
Sang ibu tampak merenung, mempertimbangkan
semuanya, lalu akhirnya menghela napas panjang,
"Oke baiklah, kau boleh pergi, tapi bilang
pada Changmin bahwa dia harus sudah memulangkanmu sebelum pukul sebelas
malam."
Ibu Jaejoong mengangkat alisnya sambil menatap anak
perempuan semata wayangnya yang cenderung berpenampilan tomboi itu,
"Pestanya besok, dan itu merupakan pesta dansa
resmi, apakah kau sudah mempersiapkan gaun, Jae?"
Jaejoong mengernyit. Gaun? hal itu sama sekali
tidak terpikirkan olehnya, dia menelaah isi lemarinya dan baru sadar bahwa dia
hampir tidak punya gaun yang bagus. Semua gaunnya gaun santai, bukan dipakai
untuk pesta, itupun hanya sedikit jumlahnya, selebihnya lemarinya dipenuhi oleh
T-shirt dan celana jeans serta kemeja.....
Ibunya menatap ekspresi Jaejoong dan tersenyum
geli,
"Ayo kita pergi dan berbelanja gaun."
gumamnya,
Tiba-tiba merasa bersemangat bisa mempunyai
kesempatan untuk mendandani Jaejoong yang biasanya tidak mau berdandan itu.
.
.
.
Mereka akhirnya mendapatkan sebuah gaun setelah
beberapa kali keluar masuk di kompleks perbelanjaan yang sangat ramai itu.
Gaun itu sederhana, berwarna ungu muda, nyaris
putih, modelnya melekuk di tubuh sampai ke pinggang, lalu jatuh terjuntai
melebar ke bawah, sampai semata kaki. Ibunya juga memilihkannya sepatu hak
tinggi dengan warna senada untuk melengkapi penampilannya.
Jaejoong menatap gaun yang digantungkan oleh ibunya
di lemarinya itu dan kemudian tersenyum miris.
Yah... secantik apapun penampilannya nanti, Changmin
sepertinya tidak akan meliriknya, karena lelaki itu pasti akan memusatkan
perhatiannya kepada Kyuhyun yang pasti beribu kali lebih cantik daripada Jaejoong.
.
.
.
Malam pesta itu tiba. Yunho memasang jas-nya dan
menatap cermin, lalu tersenyum muram, dia harus menjemput Ahra, kencannya malam
ini.
Yah, Yunho sedang berperan sebagai kekasih yang
sempurna sebelum nanti menghancurkan Ahra jika waktunya tepat.
Yunho memang selalu memilih pasangan yang lebih
tua, dia memilihnya dengan hati dingin dan kejam, mencari yang semirip mungkin
dengan ibunya, karena semakin mirip maka akan semakin puas hatinya ketika
menyakiti mereka nanti....
Tiba-tiba saja bayangan akan Jaejoong melintas di
benak Yunho. Apakah Jaejoong akan datang ke pesta dansa itu? Yunho tersenyum
sinis, seharusnya Jaejoong datang, dan dia pasti akan ditemani oleh Changmin,
pasangan yang dibelanya mati-matian itu.
Yah... pesta itu akan sangat menarik kalau Jaejoong
benar-benar datang, dia akan memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Jaejoong
tidak berkutik lagi....
Tiba-tiba saja Yunho tidak sabar untuk segera
datang ke pesta itu.
.
.
.
Jaejoong menatap bayangannya di cermin dan
mengernyit, dia tampak seperti perempuan yang berbeda malam ini, dengan gaun
feminim dan riasan wajah tipis yang disapukan ibunya ke pesta.
Sang ibu juga menatap cermin, tersenyum melihatnya,
"Nah, sekarang kau sudah siap untuk datang ke
pesta."
Ibu Jaejoong mengedipkan sebelah matanya,
"Ayo, temui Changmin yang sudah menunggu di
bawah, dia pasti akan sangat terpesona kepadamu." gumam sang ibu, membuat
pipi Jaejoong memerah karena malu.
Hati-hati Jaejoong melangkah ke bawah, menuruni
tangga, dia memang tidak terbiasa mengenakan sepatu hak tinggi, sekarang saja
kakinya sudah terasa pegal. Jaejoong berdoa semoga kakinya bisa bertahan, dia
tidak mau jatuh ataupun terkilir gara-gara sepatu ini.
Dan benar, sepertinya Changmin terpesona, karena
lelaki itu membelalakkan matanya, lalu bersiul memuji ketika melihat penampilan
Jaejoong.
"Wow..... gaun itu sangat cocok denganmu, Jaejoongie.
Kau benar-benar tampak seperti yeoja."
Pujian yang menggoda itu membuat Jaejoong
membelalakkan matanya, "Memangnya selama ini aku tidak tampak seperti yeoja?"
Changmin tergelak, lalu mengulurkan tangan dan
menggandeng Jaejoong menuju mobilnya,
"Aku baru sadar, selama ini aku jarang sekali
memandangmu sebagai yeoja." gumamnya ringan.
Dalam perjalanan, Jaejoong merenungkan kata-kata Changmin...
jadi begitu, Changmin jarang memikirkannya sebagai perempuan, karena itulah
lelaki itu tampak amat sangat tidak peka dengan perasaan yang dipendam oleh Jaejoong
kepadanya. Jaejoong menghela napas pedih, yah, mungkin selamanya dia harus
bertahan, menahankan sakit hati karena selalu dipandang sebagai anak kecil,
sebagai adik oleh Changmin.
Tapi... bukankah kata-kata Changmin tadi
menyiratkan kalau dia mulai menyadari bahwa Jaejoong tampak seperti seorang
perempuan? Mungkinkah gaun dan penampilan feminim ini memberikan kesempatan baginya?
Mungkinkah Changmin terpesona dengannya hingga mempunyai perasaan lebih?
Yah. Jaejoong sungguh-sungguh berharap itu bisa
terjadi.
.
.
.
Harapan Jaejoong langsung runtuh seketika ketika
dia melihat penampilan Kyuhyun yang rupanya sudah menunggu Changmin di lobby
ruang dansa. Kyuhyun luar biasa cantiknya dengan gaun warna merah gelap yang
kontras dengan kulitnya yang cerah berkilau dan rambut cokelatnya yang panjang
bergelombang sampai ke pinggang. Dan perempuan itu tampak seperti perempuan
dewasa - Jaejoong melirik iri ke arah tubuh yang sintal dengan lekuk menonjol
dan seksi di buah dada dan pinggulnya yang seperti gitar spanyol - Yah
bagaimanapun juga, Jaejoong tampak seperti anak kecil jika dibandingkan dengan Kyuhyun.
Dan sepertinya Changmin juga berpikiran seperti
itu, karena mata lelaki itu langsung berbinar ketika melihat Kyuhyun.
"Kyuhyun, kau cantik sekali." Changmin
mengulurkan tangannya dan Kyuhyun langsung menyambutnya sambil tersenyum lebar.
"Kau terlalu memuji, Changmin ah."
"Aku tidak hanya memuji tapi sungguh-sungguh,
bagiku kau adalah yeoja tercantik di pesta ini."
Kata-kata Changmin langsung membuat hati Jaejoong
mencelos, untung saja dia berhasil menyembunyikannya dalam ekspresi datarnya
ketika Kyuhyun akhirnya melihatnya dan menyapanya,
"Hai Jaejoong, apa kabar?"
Jaejoong mencoba tersenyum manis, "Kabarku
baik."
dia lalu melongok ke dalam ruang dansa,
"Permisi sebentar, ada yang harus kulakukan."
Changmin tersenyum lebar, "Jam setengah
sebelas kita bertemu di sini lagi ya Jaejoong, aku sudah berjanji kepada eommamu,
dan dia akan membunuhku kalau aku tidak membawamu pulang tepat waktu."
Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya, melirik
sekilas kepada Changmin sebelum dia pergi, dan merasakan hatinya seperti
tertusuk ketika menyadari bahwa perhatian Changmin sekarang sudah sepenuhnya
tertuju kepada Kyuhyun.
.
.
.
Pesta itu ramai, dan semua orang tampak bercampur
baur. Jaejoong memilih posisi di paling sudut, mencoba tidak mencolok dan
kemudian menatap ke lantai dansa. Pesta ini meriah tentu saja, dengan jamuan
makan malam yang melimpah ruah, tertata elegan di sudut-sudut ruangan, banyak
orang yang makan sambil mengobrol dan tertawa bersama. Dan ketika musik
dimainkan, beberapa pasangan langsung turun ke lantai dansa untuk berdansa.
Jaejoong menatap senyum-senyum di bibir para
psangan itu. Dia pernah memimpikan berada di posisi yang sama, dengan Changmin
tentunya. Sayangnya mimpi itu tidak terwujud....
Matanya tiba-tiba menangkap Changmin yang tengah
menggandeng Kyuhyun sambil tertawa, mengajaknya ke lantai dansa. Dia tidak bisa
mengalihkan pandangan matanya dari dua manusia yang tampak sangat serasi ketika
berdansa itu... dan tiba-tiba saja, Jaejoong merasa seperti manusia paling
merana sedunia.
"Apakah kekasihmu sedang
berselingkuh?"
Suara itu terdengar di sampingnya begitu saja,
membuat Jaejoong terkejut, dia menoleh dan melihat Yunho sudah berdiri di
sampingnya, lelaki itu berpakaian formal dan tampak amat sangat tampan dan
elegan. Dan sepertinya lelaki itu terbiasa muncul tiba-tiba tanpa suara.
"Changmin bukan kekasihku, dia menganggapku
sebagai adiknya."
Yunho memiringkan kepalanya, ada senyum di sana,
"Oh ya, dan kau menganggapnya seperti apa?"
Pipi Jaejoong memerah, menyadari bahwa Yunho
mungkin sedang menghinanya.
"Terserah aku menganggapnya seperti apa, itu
bukan urusanmu." gumamnya dingin,
lalu hendak melangkah pergi, tetapi langkahnya
tertahan ketika Yunho menahan dengan menggenggam pergelangan tangannya yang
mungil.
"Hei, aku tidak bermaksud membuatmu
tersinggung, Jaejoong." suaranya lembut, seperti ajakan perdamaian,
"Ayo kita berdansa."
Dan kemudian tanpa Jaejoong bisa menolaknya, Yunho
setengah menyeretnya ke lantai dansa.
Jaejoong berdiri dengan kaku, kebingungan. Dia
sebenarnya sama sekali belum pernah turun ke lantai dansa sebelumnya, apalagi
bersama seorang lelaki. Tetapi rupanya Yunho adalah pasangan dansa yang sangat
sabar, dengan lembut lelaki itu mengatur posisi tangan Jaejoong, dan kemudian
membimbingnya bergerak mengikuti musik waltz yang lembut.
"Kau tidak pernah berdansa sebelumnya
ya?" tebak Yunho dengan cepat, membuat pipi Jaejoong memerah.
"Tidak." jawabnya singkat.
Yunho terkekeh, "Sudah kuduga." celanya,
"Jangan sampai kau menginjak kakiku."
godanya.
Jaejoong membelalakkan matanya menatap Yunho
tersinggung,
"Jangan kuatir, aku tidak akan menginjak
kakimu yang berharga itu."
Kata-kata Jaejoong yang ketus itu entah kenapa
membuat Yunho malahan merasa geli, senyumnya makin melebar,
"Bagaimana dengan tawaranku? apakah kau
berubah pikiran?"
Jaejoong tergeragap ketika langsung ditanya seperti
itu, sebenarnya tadi dia sedang mencuri-curi pandang ke arah Changmin yang
sedang berdansa dengan tubuh merapat ke Kyuhyun. Mereka tampak seperti pasangan
kekasih... apakah itu benar? mungkinkah Changmin dan Kyuhyun sudah menjadi
pasangan kekasih?
"Jae." Yunho tampak jengkel, "Aku
bertanya kepadamu."
Jaejoong berdehem, mencoba mengingat pertanyaan Yunho
tadi. Apa kata Yunho tadi?
Dan sebelum sempat Jaejoong menemukan jawabannya,
seseorang menyela mereka, Jaejoong menoleh dan mendapati perempuan dewasa yang
sangat cantik dan terlihat matang,
"Yunho, panitia memintaku untuk memanggilmu,
kau diminta memberikan sambutan."
Ahra yang menyela tersenyum manis kepada Yunho, dia
bahkan tidak memandang ke arah Jaejoong, seolah-olah Jaejoong bukanlah
perempuan yang berarti untuknya.
Yunho mengerutkan keningnya, "Aku sedang
berdansa, Ahra."
"Oke." kali ini Ahra mulai memperhatikan Jaejoong
dan sedikit terkejut ketika melihat betapa mudanya Jaejoong. Tadi dia ke kamar
mandi untuk memperbaiki riasannya, dan ketika kembali, dia mendapati bahwa Yunho
sudah berdansa dengan seorang perempuan. Dia memang menginterupsi dansa ini
dengan tujuan memisahkan Yunho dan perempuan itu... tetapi kalau perempuannya
masih ingusan seperti ini, sepertinya Ahra tidak perlu cemas - perempuan ini
jelas bukan selera Yunho, dan bukan saingannya.
"Tapi panitia mengatakan bahwa kau harus
memberi sambutan, Yunho." Ahra tetap keras kepala,
"Aku cuma menyampaikan pesan, dan kalau kau
keberatan, kau bisa menyampaikan sendiri kepada mereka."
Jaejoong bisa melihat ada kilatan di mata Yunho,
hanya sekejap, tetapi kemudian kilatan itu menghilang dan berubah menjadi
tatapan lembut, tatapan lembut yang ditujukan kepada Jaejoong,
"Oke. Maafkan aku Jaejoong. Aku harus
memberikan sambutan sialan itu."
dan kemudian dengan sopan, Yunho melepaskan pelukan
dansanya, lalu meraih jemari Jaejoong, dan mengecup punggung tangannya dengan
lembut.
Ketika Yunho berlalu, Jaejoong masih tertegun di
sana, menatap punggung tangannya yang terasa panas. Kecupan di tangannya ini
membawa kembali memori yang sudah berusaha dihapusnya, memori tentang ciuman Yunho
waktu itu kepadanya....dan tiba-tiba saja pipinya memerah seperti kepiting
rebus.
.
.
.
Ketika Yunho menaiki panggung, semua orang langsung
memusatkan perhatian mereka kepada si tampan jenius biola yang sangat terkenal
itu. Semua orang tentu saja mengagumi penampilan Yunho, dan juga keahlian
bermainnya yang luar biasa.
Yunho tersenyum kepada semuanya, meski senyum itu
tidak sampai ke matanya,
"Terimakasih atas semua yang hadir di pesta
ini, dan terimakasih kepada semua yang menganggap saya pantas berdiri di
sini untuk memberi sambutan. Selamat datang juga kepada para siswa senior yang
duapuluh di antaranya akan menjalani kelas khusus bersama saya mulai besok.
Saya harap kalian semua menyiapkan diri, dan bagi yang belum lolos, saya yakin
masih ada kesempatan di tahun depan."
Jaejoong menatap ke arah Yunho, dan mau tak mau
mengagumi ketampanan lelaki itu, bahkan dari jauhpun Yunho tampak amat sangat
tampan - sayangnya ketampanan itu tidak dibarengi dengan kelakuan yang
baik - Jaejoong langsung teringat akan deretan pacar-pacar Yunho yang
berjajar dan berganti seakan tiada habisnya.
Ya.. reputasi Yunho sebagai pematah hati perempuan
memang sudah melegenda, herannya banyak perempuan yang tetap saja mencoba
menaklukkan hati Yunho meskipun mereka tahu bahwa Yunho berbahaya.... mungkin
para perempuan itu ingin saling berlomba menjadi perempuan yang berhasil
menaklukkan hati sang penghancur perempuan...
Lamunan Jaejoong terputus ketika dia merasakan Yunho
menatapnya dalam-dalam, dan sebelum Jaejoong sempat berpikir, tiba-tiba Yunho
sudah bergumam di atas panggung.
"Dalam kesempatan ini saya ingin
memperkenalkan murid khusus saya, hanya ada satu orang murid yang saya pilih
untuk menjadi anak bimbingan saya secara intensif, mungkin dalam beberapa waktu
ke depan." Yunho mengedikkan dagunya ke arah Jaejoong, membuat semua mata
langsung terpusat kepada Jaejoong.
Yunho tampak tersenyum puas melihat ekspresi Jaejoong
yang kebingungan dan tak bisa berkata-kata, lalu melanjutkan,
"Malam ini saya akan mempertunjukkan duet
biola saya bersama Jaejoong sebagai persembahan kepada semua orang."
lelaki itu lalu mengulurkan jemarinya ke arah Jaejoong
yang terpaku seperti orang bodoh di tengah ruangan, sementara semua mata
memandang kepadanya,
"Mari Jaejoong, naiklah ke panggung."
sambung Yunho kemudian, ada senyum puas di sana
ketika melihat bahwa Jaejoong sudah mati kutu dan tidak bisa membantah.
Rasakan kau perempuan keras kepala.
Gumam Yunho dalam hati. Sekarang tidak ada alasan
bagi Jaejoong untuk menolaknya.
.
.
.
.
To Be Continue

Jj diajak duet lg sama yunho?
ReplyDeleteJj bener2 beruntung tp yunho jg kayaknya cari kesempatan tuh.