Wednesday, September 30

[REMAKE] The Violiniest Chapter V



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e


Chapter 5,
"Kelas Yunho akan dimulai lusa."
Changmin yang datang pagi-pagi ke rumah Jaejoong untuk menumpang sarapan - seperti yang biasa dilakukannya hampir setiap hari - menatap Jaejoong dengan pandangan penuh ingin tahu,
"Jadi kau belum berubah pikiran tentang tawaran Yunho?"
Jaejoong menelan susu cokelatnya dengan susah payah ketika topik itu diangkat. Sebenarnya, semalaman dia memikirkan keputusannya, dan kemudian bertanya-tanya dalam hati, apakah dia terlah bertindak terlalu dangkal dan bodoh? Apakah sebetulnya Changmin benar-benar tidak apa-apa kalau Jaejoong mengambil kesempatan yang ditawarkan Yunho kepadanya itu?
Changmin sendiri tampaknya tidak memperhatikan pikiran yang berkecamuk di benak Jaejoong, dia sibuk mengunyah wafel enak buatan ibu Jaejoong, dan kemudian lelaki itu seolah teringat sesuatu, dan mendongakkan kepalanya,
"Biasanya sebelum kelas Yunho akan ada pesta perayaan, sejenis pesta dansa dan diadakan di akademi dengan mengundang semua murid, sekaligus sebagai pesta tutup tahun. Para guru akan datang, dan orang-orang penting di dunia musik akan datang."
"Oh ya, pesta itu." Jaejoong tahu tentang pesta itu, biasanya dihadiri oleh para murid senior, guru dan orang-orang penting di bidang musik. Pesta itu juga menjadi ajang pertemuan antara para siswa yang sedang menapaki karier di bidang musik dengan orang-orang penting yang telah lebih dahulu menanjak. Tetapi sampai sekarang, Jaejoong belum pernah sekalipun ikut ke pesta itu, selain karena dulu dia masih kelas yunior, ibu Jaejoong melarang Jaejoong mengikuti pesta di malam hari ketika usianya masih tujuh belas tahun atau di bawahnya. 
Tetapi sekarang Jaejoong sudah delapan belas tahun. Ibunya mungkin akan mengizinkannya mengikuti pesta itu. 
Diam-diam Jaejoong melirik ke arah Changmin, lelaki itu tampak tampan sekali dengan bibir tipis dan hidung mancung yang terpadu sempurna. Mungkin... mungkin kalau Changmin menemaninya ke pesta itu, ibunya akan lebih setuju lagi untuk membiarkannya datang ke pesta itu.
Jaejoong langsung membayangkan, itu adalah pesta dansa. Jadi kalau dia datang berpasangan dengan Changmin, ada kemungkinan dia akan berdansa dengan Changmin, diiringi musik waltz yang romantis, dalam gaun yang seperti puteri.... ya ampun... rasanya mimpi itu indah sekali.
"Maukah kau datang ke pesta itu bersamaku? setahuku pestanya akan diadakan besok malam."
Tiba-tiba Changmin bergumam, membuat Jaejoong tertegun dengan mulut menganga, tidak percaya akan pendengarannya.
"Apa??"
Changmin meneguk susu cokelatnya dengan santai, "Sebenarnya aku ada janji dengan Kyuhyun, tetapi dia akan datang dengan abojinya, kau tahu ayahnya sangat menjaganya jadi tidak mengizinkannya datang ke pesta dengan namja, apalagi pestanya di malam hari... Abojiku juga sama, dia terus menerus menyuruhku melakukan riset tentang permainan biola setiap malam dan pasti akan melarangku mendatangi pesta, nah kupikir-pikir aku akan mengajakmu datang ke sana saja kita berangkat dari sini berbarengan, jadi. aku bisa beralasan bahwa aku mengantarmu untuk berkompromi dengan Yunho."
Perasaan Jaejoong yang melambung langsung merosot jatuh dengan kerasnya, benaknya terasa sakit dan beku, seperti diguyur oleh air es. Rasa sakit langsung menyeruak di dada Jaejoong, semua impiannya untuk berdansa bersama dengan Changmin, melewatkan malam romantis dengan hubungan lebih dari kakak adik ataupun sahabat dekat langsung musnah begitu saja.
"Jae?" Changmin bertanya ketika Jaejoong hanya terpaku dan tidak memberikan tanggapan apa-apa,
"Jadi bagaimana? Kau akan pergi denganku atau tidak? kau mau membantuku bukan Jaejoong?"
Changmin melemparkan tatapan mata penuh permohonan,
"Aku mohon, karena bertemu dengan Kyuhyun amat sangat berarti untukku."
Jaejoong tergeragap, lalu dengan pedih menganggukkan kepalanya, "Tentu saja aku akan pergi denganmu, oppa."
.
.
"Pergi dengan Changmin?" ibunya mengangkat alisnya, "Pesta itu berlangsung jam delapan sampai jauh larut malam, dan sebenarnya diperuntukkan bagi orang dewasa."
ada ketidaksetujuan di dalam suara ibu Jaejoong,
"Lagipula eomma tidak pernah bisa datang ke pesta itu karena eomma tidak kuat terjaga sampai malam..."
Jaejoong menghela napas panjang, ibunya sama saja seperti yang lain, selalu menganggapnya seperti anak kecil.
"Eomma, aku sudah delapan belas tahun.... dan pesta itu juga dihadiri oleh siswa-siswa senior seumuranku, lagipula aku pergi dengan Changmin oppa, dia akan menjagaku."
Sang ibu tampak merenung, mempertimbangkan semuanya, lalu akhirnya menghela napas panjang, 
"Oke baiklah, kau boleh pergi, tapi bilang pada Changmin bahwa dia harus sudah memulangkanmu sebelum pukul sebelas malam."
Ibu Jaejoong mengangkat alisnya sambil menatap anak perempuan semata wayangnya yang cenderung berpenampilan tomboi itu,
"Pestanya besok, dan itu merupakan pesta dansa resmi, apakah kau sudah mempersiapkan gaun, Jae?"
Jaejoong mengernyit. Gaun? hal itu sama sekali tidak terpikirkan olehnya, dia menelaah isi lemarinya dan baru sadar bahwa dia hampir tidak punya gaun yang bagus. Semua gaunnya gaun santai, bukan dipakai untuk pesta, itupun hanya sedikit jumlahnya, selebihnya lemarinya dipenuhi oleh T-shirt dan celana jeans serta kemeja..... 
Ibunya menatap ekspresi Jaejoong dan tersenyum geli,
"Ayo kita pergi dan berbelanja gaun." gumamnya,
Tiba-tiba merasa bersemangat bisa mempunyai kesempatan untuk mendandani Jaejoong yang biasanya tidak mau berdandan itu.
.
.
.
Mereka akhirnya mendapatkan sebuah gaun setelah beberapa kali keluar masuk di kompleks perbelanjaan yang sangat ramai itu.
Gaun itu sederhana, berwarna ungu muda, nyaris putih, modelnya melekuk di tubuh sampai ke pinggang, lalu jatuh terjuntai melebar ke bawah, sampai semata kaki. Ibunya juga memilihkannya sepatu hak tinggi dengan warna senada untuk melengkapi penampilannya.
Jaejoong menatap gaun yang digantungkan oleh ibunya di lemarinya itu dan kemudian tersenyum miris.
Yah... secantik apapun penampilannya nanti, Changmin sepertinya tidak akan meliriknya, karena lelaki itu pasti akan memusatkan perhatiannya kepada Kyuhyun yang pasti beribu kali lebih cantik daripada Jaejoong.
.
.
.
Malam pesta itu tiba. Yunho memasang jas-nya dan menatap cermin, lalu tersenyum muram, dia harus menjemput Ahra, kencannya malam ini. 
Yah, Yunho sedang berperan sebagai kekasih yang sempurna sebelum nanti menghancurkan Ahra jika waktunya tepat. 
Yunho memang selalu memilih pasangan yang lebih tua, dia memilihnya dengan hati dingin dan kejam, mencari yang semirip mungkin dengan ibunya, karena semakin mirip maka akan semakin puas hatinya ketika menyakiti mereka nanti....
Tiba-tiba saja bayangan akan Jaejoong melintas di benak Yunho. Apakah Jaejoong akan datang ke pesta dansa itu? Yunho tersenyum sinis, seharusnya Jaejoong datang, dan dia pasti akan ditemani oleh Changmin, pasangan yang dibelanya mati-matian itu.
Yah... pesta itu akan sangat menarik kalau Jaejoong benar-benar datang, dia akan memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Jaejoong tidak berkutik lagi....
Tiba-tiba saja Yunho tidak sabar untuk segera datang ke pesta itu.
.
.
Jaejoong menatap bayangannya di cermin dan mengernyit, dia tampak seperti perempuan yang berbeda malam ini, dengan gaun feminim dan riasan wajah tipis yang disapukan ibunya ke pesta.
Sang ibu juga menatap cermin, tersenyum melihatnya,
"Nah, sekarang kau sudah siap untuk datang ke pesta."
Ibu Jaejoong mengedipkan sebelah matanya,
"Ayo, temui Changmin yang sudah menunggu di bawah, dia pasti akan sangat terpesona kepadamu." gumam sang ibu, membuat pipi Jaejoong memerah karena malu.
Hati-hati Jaejoong melangkah ke bawah, menuruni tangga, dia memang tidak terbiasa mengenakan sepatu hak tinggi, sekarang saja kakinya sudah terasa pegal. Jaejoong berdoa semoga kakinya bisa bertahan, dia tidak mau jatuh ataupun terkilir gara-gara sepatu ini.
Dan benar, sepertinya Changmin terpesona, karena lelaki itu membelalakkan matanya, lalu bersiul memuji ketika melihat penampilan Jaejoong.
"Wow..... gaun itu sangat cocok denganmu, Jaejoongie. Kau benar-benar tampak seperti yeoja."
Pujian yang menggoda itu membuat Jaejoong membelalakkan matanya, "Memangnya selama ini aku tidak tampak seperti yeoja?"
Changmin tergelak, lalu mengulurkan tangan dan menggandeng Jaejoong menuju mobilnya,
"Aku baru sadar, selama ini aku jarang sekali memandangmu sebagai yeoja." gumamnya ringan.
Dalam perjalanan, Jaejoong merenungkan kata-kata Changmin... jadi begitu, Changmin jarang memikirkannya sebagai perempuan, karena itulah lelaki itu tampak amat sangat tidak peka dengan perasaan yang dipendam oleh Jaejoong kepadanya. Jaejoong menghela napas pedih, yah, mungkin selamanya dia harus bertahan, menahankan sakit hati karena selalu dipandang sebagai anak kecil, sebagai adik oleh Changmin.
Tapi... bukankah kata-kata Changmin tadi menyiratkan kalau dia mulai menyadari bahwa Jaejoong tampak seperti seorang perempuan? Mungkinkah gaun dan penampilan feminim ini memberikan kesempatan baginya? Mungkinkah Changmin terpesona dengannya hingga mempunyai perasaan lebih?
Yah. Jaejoong sungguh-sungguh berharap itu bisa terjadi.
.
.
Harapan Jaejoong langsung runtuh seketika ketika dia melihat penampilan Kyuhyun yang rupanya sudah menunggu Changmin di lobby ruang dansa. Kyuhyun luar biasa cantiknya dengan gaun warna merah gelap yang kontras dengan kulitnya yang cerah berkilau dan rambut cokelatnya yang panjang bergelombang sampai ke pinggang. Dan perempuan itu tampak seperti perempuan dewasa - Jaejoong melirik iri ke arah tubuh yang sintal dengan lekuk menonjol dan seksi di buah dada dan pinggulnya yang seperti gitar spanyol - Yah bagaimanapun juga, Jaejoong tampak seperti anak kecil jika dibandingkan dengan Kyuhyun.
Dan sepertinya Changmin juga berpikiran seperti itu, karena mata lelaki itu langsung berbinar ketika melihat Kyuhyun.
"Kyuhyun, kau cantik sekali." Changmin mengulurkan tangannya dan Kyuhyun langsung menyambutnya sambil tersenyum lebar.
"Kau terlalu memuji, Changmin ah."
"Aku tidak hanya memuji tapi sungguh-sungguh, bagiku kau adalah yeoja tercantik di pesta ini." 
Kata-kata Changmin langsung membuat hati Jaejoong mencelos, untung saja dia berhasil menyembunyikannya dalam ekspresi datarnya ketika Kyuhyun akhirnya melihatnya dan menyapanya,
"Hai Jaejoong, apa kabar?"
Jaejoong mencoba tersenyum manis, "Kabarku baik."
dia lalu melongok ke dalam ruang dansa, "Permisi sebentar, ada yang harus kulakukan."
Changmin tersenyum lebar, "Jam setengah sebelas kita bertemu di sini lagi ya Jaejoong, aku sudah berjanji kepada eommamu, dan dia akan membunuhku kalau aku tidak membawamu pulang tepat waktu."
Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya, melirik sekilas kepada Changmin sebelum dia pergi, dan merasakan hatinya seperti tertusuk ketika menyadari bahwa perhatian Changmin sekarang sudah sepenuhnya tertuju kepada Kyuhyun.
.
.
.
Pesta itu ramai, dan semua orang tampak bercampur baur. Jaejoong memilih posisi di paling sudut, mencoba tidak mencolok dan kemudian menatap ke lantai dansa. Pesta ini meriah tentu saja, dengan jamuan makan malam yang melimpah ruah, tertata elegan di sudut-sudut ruangan, banyak orang yang makan sambil mengobrol dan tertawa bersama. Dan ketika musik dimainkan, beberapa pasangan langsung turun ke lantai dansa untuk berdansa.
Jaejoong menatap senyum-senyum di bibir para psangan itu. Dia pernah memimpikan berada di posisi yang sama, dengan Changmin tentunya. Sayangnya mimpi itu tidak terwujud....
Matanya tiba-tiba menangkap Changmin yang tengah menggandeng Kyuhyun sambil tertawa, mengajaknya ke lantai dansa. Dia tidak bisa mengalihkan pandangan matanya dari dua manusia yang tampak sangat serasi ketika berdansa itu... dan tiba-tiba saja, Jaejoong merasa seperti manusia paling merana sedunia.
"Apakah kekasihmu sedang berselingkuh?" 
Suara itu terdengar di sampingnya begitu saja, membuat Jaejoong terkejut, dia menoleh dan melihat Yunho sudah berdiri di sampingnya, lelaki itu berpakaian formal dan tampak amat sangat tampan dan elegan. Dan sepertinya lelaki itu terbiasa muncul tiba-tiba tanpa suara.
"Changmin bukan kekasihku, dia menganggapku sebagai adiknya."
Yunho memiringkan kepalanya, ada senyum di sana, "Oh ya, dan kau menganggapnya seperti apa?" 
Pipi Jaejoong memerah, menyadari bahwa Yunho mungkin sedang menghinanya.
"Terserah aku menganggapnya seperti apa, itu bukan urusanmu." gumamnya dingin,
lalu hendak melangkah pergi, tetapi langkahnya tertahan ketika Yunho menahan dengan menggenggam pergelangan tangannya yang mungil.
"Hei, aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung, Jaejoong." suaranya lembut, seperti ajakan perdamaian,
"Ayo kita berdansa."
Dan kemudian tanpa Jaejoong bisa menolaknya, Yunho setengah menyeretnya ke lantai dansa.
Jaejoong berdiri dengan kaku, kebingungan. Dia sebenarnya sama sekali belum pernah turun ke lantai dansa sebelumnya, apalagi bersama seorang lelaki. Tetapi rupanya Yunho adalah pasangan dansa yang sangat sabar, dengan lembut lelaki itu mengatur posisi tangan Jaejoong, dan kemudian membimbingnya bergerak mengikuti musik waltz yang lembut.
"Kau tidak pernah berdansa sebelumnya ya?" tebak Yunho dengan cepat, membuat pipi Jaejoong memerah.
"Tidak." jawabnya singkat.
Yunho terkekeh, "Sudah kuduga." celanya,
"Jangan sampai kau menginjak kakiku." godanya.
Jaejoong membelalakkan matanya menatap Yunho tersinggung,
"Jangan kuatir, aku tidak akan menginjak kakimu yang berharga itu."
Kata-kata Jaejoong yang ketus itu entah kenapa membuat Yunho malahan merasa geli, senyumnya makin melebar,
"Bagaimana dengan tawaranku? apakah kau berubah pikiran?"
Jaejoong tergeragap ketika langsung ditanya seperti itu, sebenarnya tadi dia sedang mencuri-curi pandang ke arah Changmin yang sedang berdansa dengan tubuh merapat ke Kyuhyun. Mereka tampak seperti pasangan kekasih... apakah itu benar? mungkinkah Changmin dan Kyuhyun sudah menjadi pasangan kekasih?
"Jae." Yunho tampak jengkel, "Aku bertanya kepadamu."
Jaejoong berdehem, mencoba mengingat pertanyaan Yunho tadi. Apa kata Yunho tadi? 
Dan sebelum sempat Jaejoong menemukan jawabannya, seseorang menyela mereka, Jaejoong menoleh dan mendapati perempuan dewasa yang sangat cantik dan terlihat matang,
"Yunho, panitia memintaku untuk memanggilmu, kau diminta memberikan sambutan."
Ahra yang menyela tersenyum manis kepada Yunho, dia bahkan tidak memandang ke arah Jaejoong, seolah-olah Jaejoong bukanlah perempuan yang berarti untuknya.
Yunho mengerutkan keningnya, "Aku sedang berdansa, Ahra."
"Oke." kali ini Ahra mulai memperhatikan Jaejoong dan sedikit terkejut ketika melihat betapa mudanya Jaejoong. Tadi dia ke kamar mandi untuk memperbaiki riasannya, dan ketika kembali, dia mendapati bahwa Yunho sudah berdansa dengan seorang perempuan. Dia memang menginterupsi dansa ini dengan tujuan memisahkan Yunho dan perempuan itu... tetapi kalau perempuannya masih ingusan seperti ini, sepertinya Ahra tidak perlu cemas - perempuan ini jelas bukan selera Yunho, dan bukan saingannya.
"Tapi panitia mengatakan bahwa kau harus memberi sambutan, Yunho." Ahra tetap keras kepala,
"Aku cuma menyampaikan pesan, dan kalau kau keberatan, kau bisa menyampaikan sendiri kepada mereka."
Jaejoong bisa melihat ada kilatan di mata Yunho, hanya sekejap, tetapi kemudian kilatan itu menghilang dan berubah menjadi tatapan lembut, tatapan lembut yang ditujukan kepada Jaejoong,
"Oke. Maafkan aku Jaejoong. Aku harus memberikan sambutan sialan itu."
dan kemudian dengan sopan, Yunho melepaskan pelukan dansanya, lalu meraih jemari Jaejoong, dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.
Ketika Yunho berlalu, Jaejoong masih tertegun di sana, menatap punggung tangannya yang terasa panas. Kecupan di tangannya ini membawa kembali memori yang sudah berusaha dihapusnya, memori tentang ciuman Yunho waktu itu kepadanya....dan tiba-tiba saja pipinya memerah seperti kepiting rebus.
.
.
Ketika Yunho menaiki panggung, semua orang langsung memusatkan perhatian mereka kepada si tampan jenius biola yang sangat terkenal itu. Semua orang tentu saja mengagumi penampilan Yunho, dan juga keahlian bermainnya yang luar biasa.
Yunho tersenyum kepada semuanya, meski senyum itu tidak sampai ke matanya,
"Terimakasih atas semua yang hadir di pesta ini, dan terimakasih kepada  semua yang menganggap saya pantas berdiri di sini untuk memberi sambutan. Selamat datang juga kepada para siswa senior yang duapuluh di antaranya akan menjalani kelas khusus bersama saya mulai besok. Saya harap kalian semua menyiapkan diri, dan bagi yang belum lolos, saya yakin masih ada kesempatan di tahun depan."
Jaejoong menatap ke arah Yunho, dan mau tak mau mengagumi ketampanan lelaki itu, bahkan dari jauhpun Yunho tampak amat sangat tampan - sayangnya ketampanan itu tidak dibarengi dengan kelakuan yang baik - Jaejoong langsung teringat akan deretan pacar-pacar Yunho yang berjajar dan berganti seakan tiada habisnya.
Ya.. reputasi Yunho sebagai pematah hati perempuan memang sudah melegenda, herannya banyak perempuan yang tetap saja mencoba menaklukkan hati Yunho meskipun mereka tahu bahwa Yunho berbahaya.... mungkin para perempuan itu ingin saling berlomba menjadi perempuan yang berhasil menaklukkan hati sang penghancur perempuan...
Lamunan Jaejoong terputus ketika dia merasakan Yunho menatapnya dalam-dalam, dan sebelum Jaejoong sempat berpikir, tiba-tiba Yunho sudah bergumam di atas panggung.
"Dalam kesempatan ini saya ingin memperkenalkan murid khusus saya, hanya ada satu orang murid yang saya pilih untuk menjadi anak bimbingan saya secara intensif, mungkin dalam beberapa waktu ke depan." Yunho mengedikkan dagunya ke arah Jaejoong, membuat semua mata langsung terpusat kepada Jaejoong.
Yunho tampak tersenyum puas melihat ekspresi Jaejoong yang kebingungan dan tak bisa berkata-kata, lalu melanjutkan,
"Malam ini saya akan mempertunjukkan duet biola saya bersama Jaejoong sebagai persembahan kepada semua orang."
lelaki itu lalu mengulurkan jemarinya ke arah Jaejoong yang terpaku seperti orang bodoh di tengah ruangan, sementara semua mata memandang kepadanya,
"Mari Jaejoong, naiklah ke panggung."
sambung Yunho kemudian, ada senyum puas di sana ketika melihat bahwa Jaejoong sudah mati kutu dan tidak bisa membantah.
Rasakan kau perempuan keras kepala.
Gumam Yunho dalam hati. Sekarang tidak ada alasan bagi Jaejoong untuk menolaknya.
.
.
.
.
To Be Continue

1 comment:

  1. Jj diajak duet lg sama yunho?
    Jj bener2 beruntung tp yunho jg kayaknya cari kesempatan tuh.

    ReplyDelete