Summary:
Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara
orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong
membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya
agar tidak tertarik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Rasa lega yang aku harapkan ketika aku
mengemudi keluar dari lampu lalu lintas pertama dari tiga lampu lalu lintas
yang terdapat di Gongju tidak muncul. Mati rasa telah mengambil alih
keseluruhan 4 jam mengemudiku. Kata-kata yang aku dengar dari ucapan ayahku
tentang ibuku terngiang-ngiang terus menerus di dalam benakku sehingga aku
tidak lagi mampu merasakan apapun untuk siapapun.
Aku belok kiri di lampu merah kedua dan
menuju ke pemakaman. Aku perlu berbicara dengan ibuku sebelum aku menginap di
salah satu motel disini. Aku ingin dia tahu bahwa aku sama sekali tak percaya
dengan semua itu. Aku tahu wanita seperti apa dia. Ibu seperti apa dia. Tak ada
yang bisa menandinginya. Dia menjadi sandaranku padahal saat itu dialah yang
sedang sekarat. Tak pernah sedikitpun aku takut dia akan meninggalkanku.
Parkiran pemakaman kosong. Terakhir kalinya
aku datang kemari banyak penduduk kota yang datang memberikan penghormatan
terakhirnya pada Ibuku. Hari ini mentari telah beranjak turun dan hanya
bayanganlah yang menemaniku.
Melangkah keluar dari trukku, aku menelan
gumpalan yang muncul di kerongkonganku. Berada disini lagi. Mengetahui bahwa
dia disini tapi dia tidak ada. Aku berjalan menyusuri jalan yang mengarah ke
makamnya bertanya-tanya jika ada orang yang datang mengunjunginya selama aku
pergi. Dia memiliki teman. Tentu saja seseorang telah mampir dengan bunga-bunga
segar. Mataku terasa perih. Aku tak suka berpikir dia telah ditinggalkan
sendirian selama berminggu-minggu. Aku senang telah meminta mereka menguburkannya
disamping Jaekyung. Itu membuat kepergianku menjadi lebih mudah.
Gundukan tanah yang baru sekarang telah
tertutupi rumput. Tuan Jang, penjaga pemakaman mengatakan padaku bahwa dia akan
menanamkan rumputnya dengan gratis. Aku tak mampu untuk membayar lebih. Melihat
rumput hijau membuatku merasa dia terkubur dengan sempurna terdengar begitu
menggelikan sama seperti kedengarannya. Makamnya sama seperti punya Jaekyung
sekarang. Batu nisannya tidak sebagus milik saudariku. Itu sederhana, hanya itu
yang mampu aku berikan. Aku menghabiskan waktu berjam-jam mencoba memutuskan
apa tepatnya yang ingin aku katakan.
Kim
Kibum
April
19, 1967 – Juni 2, 2015
Cinta
yang ditinggalkannya akan menjadi alasan untuk meraih mimpi. Dia adalah
sandaran ketika dunia mulai runtuh. Kekuatannya akan diingat. Ada di dalam hati
kita.
Keluarga yang mencintaiku sudah tidak ada
lagi disini. Berdiri disini melihat makam mereka mengingatkanku betapa
sendirinya aku sebenarnya. Aku tak memiliki keluarga lagi. Aku takkan pernah
mengakui keberadaan Ayahku setelah hari ini.
"Aku tak menyangka kau kembali begitu
cepat." Aku mendengar suara ribut kerikil di belakangku dan aku tahu siapa
itu tanpa harus berpaling. Aku tak menatapnya. Aku belum siap. Dia akan menatap
menembus ke dalam diriku. Yihan telah menjadi temanku sejak TK. Tahun ketika
kami menjadi sesuatu yang lebih itu telah dapat diduga. Aku mencintainya selama
bertahun-tahun.
"Hidupku disini," balasku
singkat.
"Aku mencoba untuk berdebat tentang
hal itu beberapa minggu yang lalu." Terdeteksi jejak rasa humor dalam
suaranya. Dia senang menjadi benar. Selalu.
"Aku pikir aku membutuhkan bantuan
appaku. Ternyata tidak."
Suara kerikil tergerus terdengar semakin
jelas ketika dia maju ke sampingku. "Dia masih seorang bajingan?"
Aku hanya mengangguk. Aku masih belum siap
mengatakan pada Yihan betapa bajingannya ayahku. Aku tak bisa mengatakannya sekarang. Berterus
terang akan hal itu membuatnya kelihatan nyata. Aku hanya ingin percaya bahwa
itu hanyalah mimpi.
"Kau tidak menyukai keluarga
barunya?" tanya Yihan. Dia takkan menyerah begitu saja. Dia akan terus
bertanya hingga aku luluh dan mengungkapkan segalanya.
"Bagaimana kau tahu aku sudah
kembali?" tanyaku, mengganti topik pembicaraan. Itu hanya pengalihan
sementara untuknya tapi aku tak berminat untuk terus ada disitu.
"Kau tidak benar-benar berharap
mengemudikan trukmu di dalam kota dan tidak menjadi buah bibir dalam waktu 5
menit? Kau kenal tempat ini dengan baik, Joongie."
Joongie. Dia memanggilku Joongie sejak kami
berusia 5 tahun. Dia memanggil Jaekyung, Kyungie. Nama panggilan. Kenangan. Itu
aman. Kota ini aman.
"Apakah aku sudah disini selama 5
menit?" tanyaku sambil melihat makam di depanku. Nama Ibuku terukir di
batu nisan itu.
"Tidak, mungkin belum. Aku sedang
duduk di luar swalayan menunggu Yoona selesai bekerja," dia terdiam. Dia
berkencan dengan Yoona lagi. Tidak mengejutkan. Dia mungkin satu-satunya yang
tak bisa lepas dari ingatannya.
Aku menghela napas panjang dan kemudian
memalingkan kepalaku dan menatap matanya. Gejolak emosi melawan kebekuan yang
membungkusku erat laksana mantel. Ini adalah rumah. Ini aman. Ini semua yang
aku tahu.
"Aku akan tinggal," ucapku
padanya.
Sebuah seringai terbentuk pada bibirnya dan
dia mengangguk. "Aku senang. Kau telah dirindukan. Ini adalah tempat dimana
seharusnya kau berada, Joongie."
Beberapa minggu yang lalu aku mengira
setelah kepergian eomma aku takkan layak tinggal dimanapun. Mungkin aku salah.
Hidupku disini.
"Aku tidak ingin membicarakan tentang appa,"
ujarku padanya dan mengalihkan pandanganku ke makam Ibu.
"Siap. Aku takkan mengungkitnya
lagi."
Aku tak perlu berkata apa-apa lagi.
Kupejamkan mata dan berdoa dalam sunyi bahwa Ibu dan saudariku bersama dan
bahagia. Yihan tidak beranjak. Kami berdiri disana dalam diam sementara mentari
mulai terbenam.
Ketika kegelapan mulai menyelimuti
pemakaman, Yihan menyelipkan lengannya
padaku. "Kkaja Jongie. Mari kita cari tempat untukmu menginap."
Kubiarkan dia menuntunku ke jalan dan ke
trukku. "Maukah kau kuajak ke rumah halmonie? Dia punya kamar tamu dan dia
akan senang bila kau tinggal disana. Dia hanya sendirian dirumah itu. Dia
mungkin akan jarang memanggilku bila ada orang yang menemaninya."
Halmonie Yihan adalah guru sekolah mingguku
selama sekolah dasar. Dia juga sering mengirim makanan seminggu sekali kala
Ibuku sakit keras.
"Aku punya uang. Aku akan menginap di
motel. Aku tak ingin merepotkannya."
Yihan tertawa keras, "Jika dia
menemukanmu di kamar hotel dia akan datang dalam kemurkaan. Kau akan ada
dirumahnya ketika dia sudah selesai memarahimu. Akan lebih mudah datang ke
rumahnya daripada membuat kehebohan. Disamping itu, hanya ada satu motel di
kota ini. Kau dan aku tahu berapa banyak pasangan kencan yang berakhir disana.
Alasan utama sialannya adalah itu."
Dia benar.
"Kau tak perlu mengantarku. Aku akan
kesana sendirian. Kau punya Yoona yang sedang menunggumu," aku
mengingatkannya.
Dia memutar matanya. "Jangan ungkit
itu, Jaejoongie. Kau tahu dengan baik. Jentikkan jarimu, sayang. Cukup
jentikkan satu jarimu. Hanya itu yang dibutuhkan."
Dia sudah mengatakan tentang hal itu selama
bertahun-tahun. Itu hanyalah lelucon sekarang. Paling tidak untukku. Hatiku
tidak disana. Sepasang mata musang terlintas di pikiranku dan luka yang
menembus kebekuan. Aku tahu dimana hatiku berada dan aku tidak yakin bisa
melihatnya lagi. Tidak jika aku berusaha untuk bertahan.
Granny Q tidak akan membiarkanku merenung.
Dia takkan membiarkanku sendirian. Malam ini aku membutuhkan ketenangan.
Kesunyian.
"Yihan, aku perlu sendiri malam ini.
Aku perlu berpikir. Aku perlu proses. Malam ini aku menginap di motel. Tolong
mengertilah dan bantu halmonie untuk mengerti. Hanya malam ini."
Yihan memandang menembus lewat kepalaku
dengan rengutan frustasi. Aku tahu dia ingin bertanya tapi dia berhati-hati.
"Aku benci ini. Aku tahu kau terluka.
Aku bisa membacanya dari raut wajahmu. Aku telah melihatmu terluka selama
bertahun-tahun. Ini perlahan membunuhku juga. Bicara padaku, Jaejoongie. Kau
perlu berbicara dengan seseorang."
Dia benar. Aku butuh seseorang untuk diajak
bicara tapi untuk saat ini yang harus kukhawatirkan adalah berdamai dengan diri
sendiri. Pada akhirnya aku akan memberitahukannya mengenai pantai Rosemary. Aku
perlu memberitahu seseorang. Yihan adalah teman terdekat yang aku miliki
disini.
"Beri aku waktu," ucapku, menatapnya.
"Waktu," dia mengangguk.
"Aku telah memberimu waktu selama tiga
tahun ini. Aku kira dengan menyediakan waktu sedikit lagi tidak akan
menyakitkan."
Aku membuka pintu trukku dan masuk
kedalamnya. Besok aku sudah siap menghadapi kenyataan. Kenyataan. Aku bisa
melakukannya... besok.
"Apakah kau punya ponsel? Aku
menelponmu sehari setelah kepergianmu dan meninggalkanku disini tapi tidak
tersambung."
Yunho. Wajahnya saat memohon padaku untuk
menyimpan ponsel yang dia akali muncul dipikiranku. Lukanya menekan kedalam
hatiku sedikit lebih jauh lagi.
Aku menggelengkan kepala. "Tidak. Aku
tak punya satupun."
Yihan lebih cemberut. "Sialan. Kau tak
bisa tanpa ponsel."
"Aku punya senjata," aku
mengingatkannya.
"Kau tetap perlu ponsel. Aku ragu kau
pernah menyorongkan itu ke orang lain sepanjang hidupmu."
Disitulah dia salah. Aku hanya mengangkat
bahu.
"Belilah satu besok,"
perintahnya. Aku mengangguk walaupun aku tak berminat kemudian menutup pintu
truk di belakangku.
.
.
.
Aku kembali ke jalan dua jalur. Aku mengemudi
sekitar satu kilo ke lampu merah pertama dan belok kanan. Motel bangunan kedua
di sebelah kiri. Aku tak pernah menginap disini sebelumnya. Aku punya teman
yang datang kesini setelah pesta prom tapi itu hanyalah bagian dari SMA yang
hanyaku dengar sepintas lalu.
Membayar untuk semalam cukup mudah. Gadis
yang menjaga di meja depan tampak akrab tapi dia lebih muda dariku. Mungkin
masih di SMA. Aku mengambil kunciku dan segera menuju keluar.
Range Rover hitam mengkilap terparkir
disebelah trukku kelihatan tidak pantas berada disini. Hati yang kukira telah
mati rasa berdegup kencang di dadaku dalam satu dentuman yang menyakitkan
seiring mataku bertatapan dengan mata Yunho. Dia berdiri sambil menatapku di
depan Range Rover dengan kedua tangan di dalam sakunya.
Aku tak berharap bertemu dia lagi.
Setidaknya tidak dalam waktu dekat ini. Aku ingin membuat perasaanku lebih
jelas. Bagaimana caranya dia bisa tiba disini? Aku tak pernah mengatakan daerah
asalku. Apakah Ayahku? Tidakkah mereka mengerti aku ingin menyendiri?
Terdengar pintu mobil dibanting dan
perhatianku teralihkan dari Yunho untuk melihat Yihan keluar dari truk Ford
merahnya yang didapatnya saat kelulusan.
"Aku berharap dengan sangat kau tahu
siapa pria ini karena dia telah mengikutimu kesini semenjak dari pemakaman. Aku
memperhatikannya diseberang jalan melihat kita kembali tapi aku tak mengatakan
apa-apa," ujar Yihan melangkah maju berdiri sedikit didepanku.
"Aku kenal dia," aku berhasil
menelan sumbatan di tenggorokanku.
Yihan melirik tajam ke arahku, "Dia
alasan kau kembali pulang?"
Tidak. Tidak juga. Bukan dia yang membuatku
pulang. Dialah alasan aku ingin tinggal. Walaupun tahu segala yang kami miliki
adalah hal yang mustahil.
"Tidak," ucapku, menggelengkan
kepala dan berbalik menatap Yunho.
Bahkan di bawah sinar bulan pun wajahnya
terlihat terluka.
"Mengapa kau disini?" tanyaku,
menjaga jarak. Yihan bergeser lebih maju ke depan saat dia menyadari aku tak
akan mendekati Yunho.
"Kau disini," jawabnya.
Tuhan. Bagaimana caranya aku melewati ini
lagi? Melihatnya dan mengetahui aku takkan bisa memilikinya. Apapun yang
diwakilinya hanyalah akan mengotori segala perasaanku padanya.
"Aku tak bisa melakukannya, Yunho."
Dia melangkah maju, "Bicara padaku.
Kumohon, Boo. Begitu banyak yang ingin kujelaskan padamu."
Aku menggelengkan kepalaku dan mundur.
"Tidak. Aku tak bisa."
Yunho mengumpat dan mengalihkan tatapannya
dariku ke Yihan.
"Bisakah kau memberikan kami sedikit
waktu?" tuntutnya.
Yihan menyilangkan tangannya di dadanya dan
melangkah maju lagi didepanku.
"Aku pikir tak bisa. Kelihatannya dia
tidak ingin berbicara denganmu. Akupun tak bisa memaksanya. Dan demikian pula
denganmu."
Aku tak perlu melihat Yunho untuk tahu
betapa Yihan telah membuatnya naik darah. Jika aku tak menghentikannya ini akan
berakhir dengan buruk. Aku melangkah memutari Yihan dan berjalan ke arah Yunho dan
kamarku. Jika kami harus berbicara kami tak memerlukan penonton.
"Tidak apa-apa, Yihan. Dia saudara
tiriku, Jung Yunho. Dia sudah tahu siapa kau. Dia ingin berbicara. Jadi kami
akan berbicara. Kau bisa pergi. Aku akan baik-baik saja," ucapku melewati
bahuku dan kemudian berbalik untuk membuka kunci kamar 4A.
"Saudara tiri? Tunggu… Jung Yunho?
Anak tunggalnya Yukihiro? Sialan Jaejoongie, kau punya hubungan kekerabatan
dengan seorang artis rock."
Aku lupa jika Yihan merupakan penggemar
berat band rock itu. Dia pasti tahu segalanya tentang anak laki-laki tunggal
dari drummer Larc en ciel.
"Pergilah, Yihan," ulangku. Aku
membuka pintuku dan melangkah masuk.
.
.
.
.
To Be Continue

Ternyata Yun ngikutin Jae,,,
ReplyDeleteTerus mereka berduaan lagi,, bisa2 ada adegan this and that nihhhh
Saki,,, update terus ya heeeee
Fighting !!!!