Tuesday, September 29

[REMAKE] The Untittled Story Chapter XXV



Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertarik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Chapter 25
Rasa lega yang aku harapkan ketika aku mengemudi keluar dari lampu lalu lintas pertama dari tiga lampu lalu lintas yang terdapat di Gongju tidak muncul. Mati rasa telah mengambil alih keseluruhan 4 jam mengemudiku. Kata-kata yang aku dengar dari ucapan ayahku tentang ibuku terngiang-ngiang terus menerus di dalam benakku sehingga aku tidak lagi mampu merasakan apapun untuk siapapun.
Aku belok kiri di lampu merah kedua dan menuju ke pemakaman. Aku perlu berbicara dengan ibuku sebelum aku menginap di salah satu motel disini. Aku ingin dia tahu bahwa aku sama sekali tak percaya dengan semua itu. Aku tahu wanita seperti apa dia. Ibu seperti apa dia. Tak ada yang bisa menandinginya. Dia menjadi sandaranku padahal saat itu dialah yang sedang sekarat. Tak pernah sedikitpun aku takut dia akan meninggalkanku.
Parkiran pemakaman kosong. Terakhir kalinya aku datang kemari banyak penduduk kota yang datang memberikan penghormatan terakhirnya pada Ibuku. Hari ini mentari telah beranjak turun dan hanya bayanganlah yang menemaniku.
Melangkah keluar dari trukku, aku menelan gumpalan yang muncul di kerongkonganku. Berada disini lagi. Mengetahui bahwa dia disini tapi dia tidak ada. Aku berjalan menyusuri jalan yang mengarah ke makamnya bertanya-tanya jika ada orang yang datang mengunjunginya selama aku pergi. Dia memiliki teman. Tentu saja seseorang telah mampir dengan bunga-bunga segar. Mataku terasa perih. Aku tak suka berpikir dia telah ditinggalkan sendirian selama berminggu-minggu. Aku senang telah meminta mereka menguburkannya disamping Jaekyung. Itu membuat kepergianku menjadi lebih mudah.
Gundukan tanah yang baru sekarang telah tertutupi rumput. Tuan Jang, penjaga pemakaman mengatakan padaku bahwa dia akan menanamkan rumputnya dengan gratis. Aku tak mampu untuk membayar lebih. Melihat rumput hijau membuatku merasa dia terkubur dengan sempurna terdengar begitu menggelikan sama seperti kedengarannya. Makamnya sama seperti punya Jaekyung sekarang. Batu nisannya tidak sebagus milik saudariku. Itu sederhana, hanya itu yang mampu aku berikan. Aku menghabiskan waktu berjam-jam mencoba memutuskan apa tepatnya yang ingin aku katakan.
Kim Kibum
April 19, 1967 – Juni 2, 2015
Cinta yang ditinggalkannya akan menjadi alasan untuk meraih mimpi. Dia adalah sandaran ketika dunia mulai runtuh. Kekuatannya akan diingat. Ada di dalam hati kita.
Keluarga yang mencintaiku sudah tidak ada lagi disini. Berdiri disini melihat makam mereka mengingatkanku betapa sendirinya aku sebenarnya. Aku tak memiliki keluarga lagi. Aku takkan pernah mengakui keberadaan Ayahku setelah hari ini.
"Aku tak menyangka kau kembali begitu cepat." Aku mendengar suara ribut kerikil di belakangku dan aku tahu siapa itu tanpa harus berpaling. Aku tak menatapnya. Aku belum siap. Dia akan menatap menembus ke dalam diriku. Yihan telah menjadi temanku sejak TK. Tahun ketika kami menjadi sesuatu yang lebih itu telah dapat diduga. Aku mencintainya selama bertahun-tahun.
"Hidupku disini," balasku singkat.
"Aku mencoba untuk berdebat tentang hal itu beberapa minggu yang lalu." Terdeteksi jejak rasa humor dalam suaranya. Dia senang menjadi benar. Selalu.
"Aku pikir aku membutuhkan bantuan appaku. Ternyata tidak."
Suara kerikil tergerus terdengar semakin jelas ketika dia maju ke sampingku. "Dia masih seorang bajingan?"
Aku hanya mengangguk. Aku masih belum siap mengatakan pada Yihan betapa bajingannya ayahku. Aku  tak bisa mengatakannya sekarang. Berterus terang akan hal itu membuatnya kelihatan nyata. Aku hanya ingin percaya bahwa itu hanyalah mimpi.
"Kau tidak menyukai keluarga barunya?" tanya Yihan. Dia takkan menyerah begitu saja. Dia akan terus bertanya hingga aku luluh dan mengungkapkan segalanya.
"Bagaimana kau tahu aku sudah kembali?" tanyaku, mengganti topik pembicaraan. Itu hanya pengalihan sementara untuknya tapi aku tak berminat untuk terus ada disitu.
"Kau tidak benar-benar berharap mengemudikan trukmu di dalam kota dan tidak menjadi buah bibir dalam waktu 5 menit? Kau kenal tempat ini dengan baik, Joongie."
Joongie. Dia memanggilku Joongie sejak kami berusia 5 tahun. Dia memanggil Jaekyung, Kyungie. Nama panggilan. Kenangan. Itu aman. Kota ini aman.
"Apakah aku sudah disini selama 5 menit?" tanyaku sambil melihat makam di depanku. Nama Ibuku terukir di batu nisan itu.
"Tidak, mungkin belum. Aku sedang duduk di luar swalayan menunggu Yoona selesai bekerja," dia terdiam. Dia berkencan dengan Yoona lagi. Tidak mengejutkan. Dia mungkin satu-satunya yang tak bisa lepas dari ingatannya.
Aku menghela napas panjang dan kemudian memalingkan kepalaku dan menatap matanya. Gejolak emosi melawan kebekuan yang membungkusku erat laksana mantel. Ini adalah rumah. Ini aman. Ini semua yang aku tahu.
"Aku akan tinggal," ucapku padanya.
Sebuah seringai terbentuk pada bibirnya dan dia mengangguk. "Aku senang. Kau telah dirindukan. Ini adalah tempat dimana seharusnya kau berada, Joongie."
Beberapa minggu yang lalu aku mengira setelah kepergian eomma aku takkan layak tinggal dimanapun. Mungkin aku salah. Hidupku disini.
"Aku tidak ingin membicarakan tentang appa," ujarku padanya dan mengalihkan pandanganku ke makam Ibu.
"Siap. Aku takkan mengungkitnya lagi."
Aku tak perlu berkata apa-apa lagi. Kupejamkan mata dan berdoa dalam sunyi bahwa Ibu dan saudariku bersama dan bahagia. Yihan tidak beranjak. Kami berdiri disana dalam diam sementara mentari mulai terbenam.
Ketika kegelapan mulai menyelimuti pemakaman, Yihan menyelipkan  lengannya padaku. "Kkaja Jongie. Mari kita cari tempat untukmu menginap."
Kubiarkan dia menuntunku ke jalan dan ke trukku. "Maukah kau kuajak ke rumah halmonie? Dia punya kamar tamu dan dia akan senang bila kau tinggal disana. Dia hanya sendirian dirumah itu. Dia mungkin akan jarang memanggilku bila ada orang yang menemaninya."
Halmonie Yihan adalah guru sekolah mingguku selama sekolah dasar. Dia juga sering mengirim makanan seminggu sekali kala Ibuku sakit keras.
"Aku punya uang. Aku akan menginap di motel. Aku tak ingin merepotkannya."
Yihan tertawa keras, "Jika dia menemukanmu di kamar hotel dia akan datang dalam kemurkaan. Kau akan ada dirumahnya ketika dia sudah selesai memarahimu. Akan lebih mudah datang ke rumahnya daripada membuat kehebohan. Disamping itu, hanya ada satu motel di kota ini. Kau dan aku tahu berapa banyak pasangan kencan yang berakhir disana. Alasan utama sialannya adalah itu."
Dia benar.
"Kau tak perlu mengantarku. Aku akan kesana sendirian. Kau punya Yoona yang sedang menunggumu," aku mengingatkannya.
Dia memutar matanya. "Jangan ungkit itu, Jaejoongie. Kau tahu dengan baik. Jentikkan jarimu, sayang. Cukup jentikkan satu jarimu. Hanya itu yang dibutuhkan."
Dia sudah mengatakan tentang hal itu selama bertahun-tahun. Itu hanyalah lelucon sekarang. Paling tidak untukku. Hatiku tidak disana. Sepasang mata musang terlintas di pikiranku dan luka yang menembus kebekuan. Aku tahu dimana hatiku berada dan aku tidak yakin bisa melihatnya lagi. Tidak jika aku berusaha untuk bertahan.
Granny Q tidak akan membiarkanku merenung. Dia takkan membiarkanku sendirian. Malam ini aku membutuhkan ketenangan. Kesunyian.
"Yihan, aku perlu sendiri malam ini. Aku perlu berpikir. Aku perlu proses. Malam ini aku menginap di motel. Tolong mengertilah dan bantu halmonie untuk mengerti. Hanya malam ini."
Yihan memandang menembus lewat kepalaku dengan rengutan frustasi. Aku tahu dia ingin bertanya tapi dia berhati-hati.
"Aku benci ini. Aku tahu kau terluka. Aku bisa membacanya dari raut wajahmu. Aku telah melihatmu terluka selama bertahun-tahun. Ini perlahan membunuhku juga. Bicara padaku, Jaejoongie. Kau perlu berbicara dengan seseorang."
Dia benar. Aku butuh seseorang untuk diajak bicara tapi untuk saat ini yang harus kukhawatirkan adalah berdamai dengan diri sendiri. Pada akhirnya aku akan memberitahukannya mengenai pantai Rosemary. Aku perlu memberitahu seseorang. Yihan adalah teman terdekat yang aku miliki disini.
"Beri aku waktu," ucapku, menatapnya.
"Waktu," dia mengangguk.
"Aku telah memberimu waktu selama tiga tahun ini. Aku kira dengan menyediakan waktu sedikit lagi tidak akan menyakitkan."
Aku membuka pintu trukku dan masuk kedalamnya. Besok aku sudah siap menghadapi kenyataan. Kenyataan. Aku bisa melakukannya... besok.
"Apakah kau punya ponsel? Aku menelponmu sehari setelah kepergianmu dan meninggalkanku disini tapi tidak tersambung."
Yunho. Wajahnya saat memohon padaku untuk menyimpan ponsel yang dia akali muncul dipikiranku. Lukanya menekan kedalam hatiku sedikit lebih jauh lagi.
Aku menggelengkan kepala. "Tidak. Aku tak punya satupun."
Yihan lebih cemberut. "Sialan. Kau tak bisa tanpa ponsel."
"Aku punya senjata," aku mengingatkannya.
"Kau tetap perlu ponsel. Aku ragu kau pernah menyorongkan itu ke orang lain sepanjang hidupmu."
Disitulah dia salah. Aku hanya mengangkat bahu.
"Belilah satu besok," perintahnya. Aku mengangguk walaupun aku tak berminat kemudian menutup pintu truk di belakangku.
.
.
.
Aku kembali ke jalan dua jalur. Aku mengemudi sekitar satu kilo ke lampu merah pertama dan belok kanan. Motel bangunan kedua di sebelah kiri. Aku tak pernah menginap disini sebelumnya. Aku punya teman yang datang kesini setelah pesta prom tapi itu hanyalah bagian dari SMA yang hanyaku dengar sepintas lalu.
Membayar untuk semalam cukup mudah. Gadis yang menjaga di meja depan tampak akrab tapi dia lebih muda dariku. Mungkin masih di SMA. Aku mengambil kunciku dan segera menuju keluar.
Range Rover hitam mengkilap terparkir disebelah trukku kelihatan tidak pantas berada disini. Hati yang kukira telah mati rasa berdegup kencang di dadaku dalam satu dentuman yang menyakitkan seiring mataku bertatapan dengan mata Yunho. Dia berdiri sambil menatapku di depan Range Rover dengan kedua tangan di dalam sakunya.
Aku tak berharap bertemu dia lagi. Setidaknya tidak dalam waktu dekat ini. Aku ingin membuat perasaanku lebih jelas. Bagaimana caranya dia bisa tiba disini? Aku tak pernah mengatakan daerah asalku. Apakah Ayahku? Tidakkah mereka mengerti aku ingin menyendiri?
Terdengar pintu mobil dibanting dan perhatianku teralihkan dari Yunho untuk melihat Yihan keluar dari truk Ford merahnya yang didapatnya saat kelulusan.
"Aku berharap dengan sangat kau tahu siapa pria ini karena dia telah mengikutimu kesini semenjak dari pemakaman. Aku memperhatikannya diseberang jalan melihat kita kembali tapi aku tak mengatakan apa-apa," ujar Yihan melangkah maju berdiri sedikit didepanku.
"Aku kenal dia," aku berhasil menelan sumbatan di tenggorokanku.
Yihan melirik tajam ke arahku, "Dia alasan kau kembali pulang?"
Tidak. Tidak juga. Bukan dia yang membuatku pulang. Dialah alasan aku ingin tinggal. Walaupun tahu segala yang kami miliki adalah hal yang mustahil.
"Tidak," ucapku, menggelengkan kepala dan berbalik menatap Yunho.
Bahkan di bawah sinar bulan pun wajahnya terlihat terluka.
"Mengapa kau disini?" tanyaku, menjaga jarak. Yihan bergeser lebih maju ke depan saat dia menyadari aku tak akan mendekati Yunho.
"Kau disini," jawabnya.
Tuhan. Bagaimana caranya aku melewati ini lagi? Melihatnya dan mengetahui aku takkan bisa memilikinya. Apapun yang diwakilinya hanyalah akan mengotori segala perasaanku padanya.
"Aku tak bisa melakukannya, Yunho."
Dia melangkah maju, "Bicara padaku. Kumohon, Boo. Begitu banyak yang ingin kujelaskan padamu."
Aku menggelengkan kepalaku dan mundur. "Tidak. Aku tak bisa."
Yunho mengumpat dan mengalihkan tatapannya dariku ke Yihan.
"Bisakah kau memberikan kami sedikit waktu?" tuntutnya.
Yihan menyilangkan tangannya di dadanya dan melangkah maju lagi didepanku.
"Aku pikir tak bisa. Kelihatannya dia tidak ingin berbicara denganmu. Akupun tak bisa memaksanya. Dan demikian pula denganmu."
Aku tak perlu melihat Yunho untuk tahu betapa Yihan telah membuatnya naik darah. Jika aku tak menghentikannya ini akan berakhir dengan buruk. Aku melangkah memutari Yihan dan berjalan ke arah Yunho dan kamarku. Jika kami harus berbicara kami tak memerlukan penonton.
 "Tidak apa-apa, Yihan. Dia saudara tiriku, Jung Yunho. Dia sudah tahu siapa kau. Dia ingin berbicara. Jadi kami akan berbicara. Kau bisa pergi. Aku akan baik-baik saja," ucapku melewati bahuku dan kemudian berbalik untuk membuka kunci kamar 4A.
"Saudara tiri? Tunggu… Jung Yunho? Anak tunggalnya Yukihiro? Sialan Jaejoongie, kau punya hubungan kekerabatan dengan seorang artis rock."
Aku lupa jika Yihan merupakan penggemar berat band rock itu. Dia pasti tahu segalanya tentang anak laki-laki tunggal dari drummer Larc en ciel.
"Pergilah, Yihan," ulangku. Aku membuka pintuku dan melangkah masuk.
.
.
.
.
To Be Continue

1 comment:

  1. Ternyata Yun ngikutin Jae,,,
    Terus mereka berduaan lagi,, bisa2 ada adegan this and that nihhhh
    Saki,,, update terus ya heeeee
    Fighting !!!!

    ReplyDelete