“Junsu tadi sore menghubungi saya, memberitahu kondisi
Jaejoong, dan entah kenapa saya tahu. Saya tahu bahkan sebelum mereka melakukan
test, saya tahu begitu saja.”
“Dan karena itu anda kecelakaan, anda dalam perjalanan
menemui Jaejoong?”
Yunho tersenyum, tidak
berkata-kata, tapi matanya menjelaskan semuanya.
“Namja bodoh.” gumam Changmin getir. Dan Yunho tertawa
mendengarnya.
“Ya, saya akui itu,” gumamnya dalam tawa, lalu mengulurkan
tangannya kepada Changmin, “Gomapseumnida atas kebaikan hati anda Changmin-shi.”
Changmin menyambut jabatannya dengan hangat.
“Saya melakukannya demi Jaejoong, bukan demi anda, jadi ingat
saja, kapanpun anda berani membuat Jaejoong tidak bahagia, anda akan mendapati
diri anda berhadapan dengan saya.”
Yunho tersenyum mempererat jabatan tangannya,
“Saya berjanji anda tidak akan pernah berhadapan dengan
saya.”
Sacrificio de Amor
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy Agatha
“Ketika Jaejoong membuka matanya, dia mendapati Changmin
duduk di sisi ranjangnya. Menatapnya dalam senyum.
Jaejoong langsung sadar bahwa karena kepanikannya tadi dia
melupakan keberadaan Changmin.
Ya Tuhan!! Apa yang
dipikirkan Changmin ketika menyaksikan semuanya tadi??
Pikiran itu membuatnya panik dan hendak bangkit dari
ranjangnya, tapi Changmin menahannya dengan tangannya.
“Tetaplah berbaring Jaejoongie.” gumamnya lembut.
Jaejoong menurut membaringkan tubuhnya, tetapi menatap
Changmin dengan kepanikan mendalam.
“Chang…Changmin… aku...”
“Sudah kubilang tidak apa-apa, aku sudah tahu semuanya
Jaejoong-ah, dan aku mengerti.”
Kata-kata itu membuat wajah Jaejoong pucat pasi,
“Tahu apa? mereka mengatakan apa padamu?” bisiknya lemah.
“Semuanya, tentang dirimu dan Yunho-shi, dan perasaanmu
kepadanya.”
“Aku tidak punya perasaan apa-apa kepada...”
“Sttttt,” Changmin menghentikan kata-kata Jaejoong
“Tidak perlu membohongi dirimu sendiri lagi Jae, aku sudah
tahu semuanya, kau begitu menyayangiku sehingga mau berkorban untukku, tubuhmu
kau korbankan," Changmin menghela nafasnya pedih, “Dan sekarang, bahkan
jiwa dan kebahagiaanmu mau kau korbankan juga untukku?”
Mata Jaejoong mulai berkaca-kaca.
“Aku tidak merasa mengorbankan apapun Changmin-ah, aku
mencintaimu, aku ingin menjagamu, aku...”
Dengan lembut Changmin meraih tangan Jaejoong dan
menggenggamnya.
“Ya aku yakin, kau sangat mencintaiku, aku percaya itu,”
dengan lembut Changmin menoleh ke arah pintu, “Dia ada di luar, menunggu waktu
untuk menemuimu, aku sudah berbicara dengannya dan yakin bahwa cintanya padamu
begitu besar, bahkan mungkin lebih besar dari cintaku padamu.” desah Changmin
getir.
“Jangan berkata seperti itu.” air mata mulai menetes di pipi
Jaejoong, dan Changmin mengapusnya dengan lembut.
“Itu kenyataannya, dia begitu mencintaimu sehingga mau
mengambil resiko apapun agar kau bahagia, dan dia rela dibenci olehmu agar kau
bahagia,” Changmin tersenyum lembut, “Terus terang aku mengaguminya dan aku
merasa tenang kalau dia yang menjagamu.”
“Jangan berkata seperti itu.” Jaejoong mulai merasa dirinya
seperti kaset yang rusak, mengulang-ulang kalimat yang sama.
“Aku harus mengatakannya.” gumam Changmin sedikit geli dengan
kata-kata Jaejoong. Yah, dia ternyata bisa bahagia juga menyadari bahwa pada
akhirnya dia akan memberikan kebahagiaan pada Jaejoong, kebebasan yang akan di
berikan pada Jaejoong akan membawa perempuan yang dicintainya itu kepada
kebahagiaan, dan Changmin merasakan kebahagiaan tersendiri ketika dia pada
akhirnya merelakan Jaejoong. Semua patah hati dan kesakitannya akan sepadan
dengan senyum dan kebahagiaan Jaejoong pada akhirnya. “Tapi sebelumnya aku
harus bertanya kepadamu, Jae, apakah kau mencintai Yunho-shi?”
Pertanyaan yang diungkapkan secara langsung tanpa diduga itu
membuat Jaejoong tertegun.
“Changmin... aku...”
“Tanyakan kepada hatimu Jae,” bisik Changmin lembut,
mendorong Jaejoong agar mau jujur kepada dirinya sendiri, “Aku yakin kau sudah menyadarinya, kau hanya
perlu mengakuinya kepadaku.”
Di luar, Yunho yang menunggu sambil bersandar di tembok dekat
pintu masuk mendengar semuanya, jantungnya berdetak keras, penuh antisipasi,
ikut menanti jawaban Jaejoong.
Kumohon katakan Ya,
kumohon katakan Ya ,
kau mencintaiku Boo. Jeritnya dalam hati
Di dalam ruangan Jaejoong tertegun, menatap Changmin, menatap
ketulusan yang ada di sana. Tidak apa-apakah kalau dia mengakuinya? Tidak
apa-apakah kalau Changmin akhirnya mendengarnya?
Jaejoong menarik napas dalam dalam, menahankan debar
jantungnya, lalu menghembuskannya pelan-pelan.
"Ya," gumamnya lembut setengah berbisik, "Ya,
aku mencintai Yunho, aku sangat mencintainya." air mata menetes lagi di
pipinya.
Changmin mengusap air mata itu dengan lembut, sedikit melirik
ke pintu, menyadari kehadiran Yunho di sana.
Kau dengar itu Jung
Yunho-shi? Gumamnya dalam hati, tunanganku
mencintaimu, dia sangat berharga dan dia mencintaimu, kau harus menjaganya
baik-baik, jangan pernah menyakitinya...
Di luar Yunho memejamkan matanya mendengar pengakuan Jaejoong
itu, dia dipenuhi kelegaan yang luar biasa. Jaejoong hampir tidak pernah
mengungkapkan perasaan padanya, Yunho harus selalu mengukur-ukur, menebak-nebak
dari mata dan tindakan Jaejoong. Dan mendengar sendiri kalimat itu dari bibir
Jaejoong, diucapkan dengan penuh keyakinan, mau tak mau membuat tubuhnya
dibanjiri aliran kebahagiaan.
"Dia pasti akan menjagamu Jae, kau tidak usah
mencemaskan aku lagi, aku sudah tidak perlu dijaga."
"Keunde..."
Changmin tersenyum dan menggelengkan kepalanya,
"Junsu mengajakku ke jerman. Disana dia punya kenalan
spesialis tulang dan saraf yang sangat ahli, yang bisa menyembuhkanku lebih cepat,
dan kupikir aku akan mengambil kesempatan itu."
Jaejoong membelalakkan matanya, pucat pasi.
"Kau akan pergi? Dengan Junsu-shi?"
Changmin menganggukkan kepalanya.
"Aku akan mengejar kebahagiaanku, aku akan menyembuhkan
diri dan memulai karirku, masih ada harapan dan aku tidak akan menyerah. Kau
sudah memberiku contoh dengan berjuang untukku tanpa putus asa padahal
kemungkinan aku terbangun dari koma sangat kecil, jadi sekarang aku akan
berusaha berjuang."
Jaejoong tertegun, kehabisan kata-kata mendengar kalimat
Changmin. Dia hanya punya satu hal untuk diungkapkan, kata maaf.
maaf karena aku
mencintai orang lain,
maaf karena aku
mengkhianati cintamu,
maaf karena aku
membiarkan hatiku dimiliki orang lain.
Ketika dia akan membuka mulutnya untuk meminta maaf, Changmin
mencegahnya dengan menaruh jemarinya di bibir Jaejoong.
"Jangan meminta maaf, aku tahu kau akan meminta
maaf," Changmin tersenyum simpul, "Kau tidak perlu meminta maaf, kau
tidak pernah berniat mengkhianatiku, bahkan kau malah berniat mengorbankan hati
dan perasaanmu demi aku. Seharusnya aku yang berterimakasih padamu."
Dengan lembut Changmin melepaskan cincin emas pertunangan di
tangannya, dan meletakkannya dalam genggaman Jaejoong.
"Aku melepaskanmu, Jae, tunanganku yang berharga,
sahabat serta kekasih hatiku, Terimakasih untuk cinta yang pernah kita bagi
bersama. Terimakasih untuk semua perjuangan yang telah kau korbankan untukku,
Terimakasih karena pernah mencintaiku," dengan lembut Changmin mengecup
jemari Jaejoong yang terpaku, "sekarang kau bebas, kejarlah kebahagiaanmu
sendiri."
Air mata mengalir deras makin tak terbendung di mata
Jaejoong. Hatinya penuh sesak, campur aduk antara penyesalan dan kelegaan luar
biasa, akhirnya dengan pelan Jaejoong duduk lalu memeluk Changmin erat-erat.
Berbagi tangis bersamanya.
"Terimakasih Changmin-ah, aku mencintaimu." isak
Jaejoong pelan.
"Aku juga mencintaimu." suara Changmin bergetar
oleh air mata yang mulai datang.
.
.
.
.
Semua berlangsung begitu cepat, dokter dan perawat serta
Junsu hilir mudik di ruangan itu untuk memeriksa keadaannya. Jaejoong merasa
sudah baikan, hanya sedikit mual dan demamnya sudah turun, tapi entah kenapa
Junsu bersikeras agar dia tetap di rawat inap di rumah sakit ini. Sebenarnya
dia sakit apa? Jaejoong mulai bertanya-tanya.
Changmin sudah berpamitan tadi, diantar oleh Junsu,
mengatakan akan mempersiapkan kepergian mereka ke Jerman, kemungkinan dua
minggu lagi. Dan saat Jaejoong sendirian, pikirannya melayang. Dimana Yunho?
Apakah dia di rawat di rumah sakit ini? Bagaimana kondisinya? Kenapa Yunho
tidak menemuinya? Pemikiran-pemikiran itu membuatnya terlelap lagi.
Ketika bangun hari sudah sore, suasana kamar tampak
remang-remang karena lagi-lagi hujan turun di luar membuat langit kelihatan
gelap, Jaejoong menatap hujan di jendela dan mendesah.
"Sudah enakan?" suara itu terdengar lembut dan
tiba-tiba sehingga Jaejoong terlonjak kaget, dia menoleh dan mendapati Yunho
duduk di ranjang, di sampingnya. Lelaki itu begitu diam, Jaejoong mengernyit,
pantas dia tidak menyadari kehadirannya.
"Maaf aku mengagetkanmu," Yunho tersenyum samar,
lalu menyentuh dahi Jaejoong, "sudah tidak panas lagi. Syukurlah. Kau
masih memuntahkan makananmu?"
Jaejoong menggelengkan kepalanya, masih belum mampu
berkata-kata.
"Aku... Aku sudah bisa menelan sup panas dari rumah
sakit tadi."
Yunho mengangguk dan tersenyum.
"Aku sudah berbicara dengan Changmin-shi, Boo,"
Yunho segera berseru ketika melihat Jaejoong akan menyela kata-katanya,
"apapun yang akan kau katakan, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku
sudah mendapat kesempatan ini jadi tidak akan kusia-siakan, kau tidak akan dan
tidak boleh menolakku atau melepaskan diri dariku." suara Yunho tegas dan
penuh ancaman, matanya menyala-nyala.
Dalam hati Jaejoong merasa geli, ini Yunhonya yang biasa.
Tidak berubah meski mencintainya, tetap saja arogan dan terbiasa mengungkapkan
keinginannya dengan mengancam. Tapi bagaimanapun juga ini Yunho yang sama yang
dicintainya.
"Ya Bear." jawabnya dalam senyum.
Jawaban sederhana itu membuat Yunho yang begitu tegang karena
antisipasi penolakan yang mungkin dilakukan Jaejoong, terpana.
"Mwo?" Yunho bertanya seperti orang bodoh.
Jaejoong tersenyum lembut, otomatis tangannya bergerak
menyentuh dahi Yunho yang berkerut bingung, mengelusnya lembut, menghilangkan
kerut yang ada di sana.
"Ya Jung Yunnie Bear, aku tidak akan melepaskan diri
darimu."
Yunho seolah kesulitan mencerna jawaban sederhana Jaejoong,
tetapi ketika dia bisa memahaminya, seketika itu juga Yunho merengkuh Jaejoong,
memeluknya erat-erat.
"Demi Tuhan... Aku sepertinya masih butuh berkali-kali
diyakinkan olehmu," bisiknya serak di rambut Jaejoong, "Kau selalu
membuatku bertanya-tanya, dengan mata lebarmu yang selalu tersenyum, dengan
kelembutanmu, kau selalu membuatku bertanya-tanya apakah kau mencintaiku."
Jaejoong membalas pelukan Yunho dengan lembut.
"Aku mencintaimu."
"Katakan lagi," Yunho mengerang, memejamkan
matanya, mengetatkan pelukannya, "aku butuh diyakinkan."
"Aku mencintaimu." ulang Jaejoong patuh.
Yunho melepaskan pelukannya lalu mengusap rambut Jaejoong lembut,
kemudian meraih tangannya, mengernyit ketika melihat Jaejoong masih memakai
cincin dari Changmin, bersebelahan dengan cincin darinya.
Dengan lembut disentuhnya tangan Jaejoong, disentuhnya cincin
Changmin disana.
"Boleh aku melepaskannya?"
Yunho tetap akan melepaskannya meskipun Jaejoong menggeleng,
Jaejoong tahu itu. Tapi Jaejoong menghargai Yunho yang menyempatkan diri
bertanya kepadanya.
Dengan lembut ia mengangguk.
Hati-hati Yunho melepaskan cincin pertunangan Jaejoong dengan
Changmin, lalu meletakkannya di meja. Setelah itu dikecupnya jemari Jaejoong
yang memakai cincin pemberiannya.
"Aku ingin kau menikah denganku, segera."
Sekali lagi Jaejoong tersenyum, lamaran khas ala Yunho.
Bukannya bertanya 'maukah kau menikah denganku?' lelaki ini malah menyatakan
keinginannya dengan arogansi yang tak terbantahkan. Tiba-tiba Jaejoong
mengerutkan keningnya mencerna kalimat Yunho.
"Kenapa harus segera?"
Dan entah kenapa pertanyaannya itu membuat pipi Yunho
memerah. Jaejoong jadi bertanya-tanya apa yang salah dengan pertanyaannya.
"Kau... Eh, mungkin kau tidak menyadari perubahan
tubuhmu...." Yunho tampak kesulitan menyusun kata-kata. Tapi pada akhirnya
dia melemparkan kebenaran itu, "Kau... Sedang mengandung anakku"
Kata-kata itu membuat Jaejoong ternganga, itu adalah
kebenaran yang sama sekali tidak disangka-sangkanya. Yunho sangat hati-hati
kalau bercinta dengannya. Bahkan dalam kondisi berhasratpun dia selalu ingat
untuk memakai pelindung, jadi Jaejoong tak mungkin hamil. Karena itulah
meskipun tubuh Jaejoong menunjukkan gejala seperti perempuan hamil, tidak
datang bulan, mual, kram di perut dan sebagainya, tidak pernah sedikitpun
terlintas di benaknya kalau dia sedang mengandung.
Kemudian kesadaran itu melintas di benaknya, Jaejoong tidak
mungkin mengandung, kecuali kalau Yunho menginginkannya, Jaejoong tidak mungkin
mengandung, kecuali kalau Yunho sengaja....
"Kau selalu menggunakan pelindung," gumam Jaejoong
menatap Yunho dengan waspada, "Malam itu kau tidak memakainya."
Pipi Yunho agak memerah tapi dia menatap mata Jaejoong tanpa
penyesalan.
"Aku memang sengaja, semua yang terjadi malam itu memang
sudah kurencanakan," dengan angkuh Yunho mengangkat dagunya, "aku
ingin kau memilihku."
Pipi Jaejoong memucat sedikit marah.
"Kau berencana menjebakku dengan kehamilan Jung?"
.
.
.
.
.
To Be Continue
Sakiiiiiii
ReplyDeleteAkhir'y keluar jg yg d tunggu ^^
Pa kbr, kmana aja????
D tunggu crita yunjae berikut'y
(ง'̀⌣'́)ง
Sakiiiiiiii~~~~~~
ReplyDeletebogosippooooooooooooo !!!!!
akhirnya comeback jga,,,hhhhhh
pa kabar ????
akhirnya Jae mengakui perasaannya jg ma Yun. dan Min bisa dgn legowo nerimanya.
semoga Min bisa cepet pulih dan berkarir lgi.
fighting !!!!!
Haduuh saki akhirnya kamu kembali, riwa riwi aq mampir ke 'rumah' mu, tp blm update...welcome home saki
ReplyDeleteSaki saranghe....<3<3<3
ReplyDeleteAq br aja buka blog saki... surprise. ..udh apdet.. saranghae saki......
ReplyDeletekata-katanya minnie buat trenyuuh bangettt ;_;
ReplyDeletehaha xD dasar yunppa nakal .. jebak umma
ReplyDeleteYunho bnr2 jenius..
ReplyDeleteNgejebak Jaejae dgn indahnya...hahaha...