Boa menarik napas, ketika sebuah kesimpulan muncul
di benaknya.
Namja musang ini sedang jatuh cinta.
Yunho mencintai Jaejoong
Bagaimana mungkin dia menolak permintaan Yunho?
Kalau saja Yunho hanya namja sombong yang menginginkan bayaran setimpal atas
apa yang diberikannya kepada Jaejoong, Boa akan mengusirnya tanpa ragu. Tapi
Yunho yang ada di depannya ini tampak begitu kesakitan menanggung rasa
bersalah, tampak remuk redam di dera perasaannya sendiri. Namja ini sama
menderitanya dengan Jaejoong. Bagaimana mungkin Boa tega mengusirnya?
"Keunde, jangan menyakiti Jaejoong lagi jika
kalian bertemu nanti, jangan memaksanya....." mata Boa melembut
membayangkan Jaejoong, "sudah cukup beban yang ditanggung anak itu."
"Saya berjanji." Yunho menjawab yakin.
Sekilas Boa mencuri pandang ke arah Yunho. Dan
tersenyum ketika mendapati ekspresi Yunho ikut melembut karena membayangkan
Jaejoong.
Ah Jaejoong, Namja ini benar-benar sedang jatuh
cinta.......
Sacrificio de Amor
©Kitahara
Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their
Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy
Agatha
Ruangan itu hening terletak di lorong paling ujung. Dan
Jaejoong hanya berdiri di depan ruang perawatan sambil menatap melalui jendela
kaca lebar yang membatasinya dengan Changmin, saat ini bukan jam besuk dan
Jaejoong tidak boleh masuk.
Pikiran Jaejoong terasa berat, dia tidak punya pekerjaan
sekarang. Boa dan yang lain-lain bilang akan membantu, tetapi Jaejoong tidak
mungkin menggantungkan hidupnya pada bantuan orang lain terus menerus, apalagi
dengan biaya perawatan Changmin yang begitu mahal yang harus ditanggungnya
setiap bulannya.....
Dengan sedih Jaejoong menatap Changmin, namja itu masih
terbaring dalam kedamaian yang sama, begitu pucat, hanya bunyi mesin-mesin
penunjang kehidupan itulah yang menunjukkan kalau masih ada harapan hidup yang
tersimpan di sana.
Jaejoong mengusap air mata di sudut matanya.
Ah Changminnie.....
Sampai kapan kau tertidur begini? Aku merindukanmu kau tahu. Aku membutuhkanmu.
Saat ini aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, aku takut jika kau tidak
segera bangun nanti aku akan......
Saat itulah Yunho masuk, diantarkan oleh Boa di belakangnya.
Perasaan sedih yang aneh menyeruak di dada Yunho ketika dia melihat Jaejoong
menatap Changmin yang terbaring di balik kaca dengan tatapan sendu.
"Boo Jae...." Yunho bergumam pelan, mendadak
dikuasai keinginan yang dalam untuk mengalihkan perhatian Jaejoong dari
Changmin.
Suaranya seperti menyentakkan Jaejoong hingga yeoja itu
menoleh kaget. Wajahnya langsung pucat pasi, tidak menduga bahwa Yunho akan
muncul di sini, matanya menatap Boa meminta pertolongan.
"Dia datang disini untuk berbicara Jae, dan dia sudah
berjanji tidak akan melakukan atau mengatakan sesuatu yang akan
menyakitimu," gumam Boa lembut, menyadari kegelisahan yang dirasakan
Jaejoong, dia lalu mengamit lengan Jaejoong, "Mari, kuantar kalian ke
ruanganku di mana kalian bisa berbicara dengan tenang, aku akan meninggalkan
kalian di sana."
Seperti kerbau yang di cocok hidungnya, Jaejoong hanya
mengikuti ketika di tuntun ke ruangan Boa, sedangkan Yunho hanya mengikuti di
belakang dalam diam.
Ruangan tetap hening lima menit kemudian ketika Boa menutup
pintu ruangan dari luar.
"Mian Boo, Jeongmal." gumam Yunho dengan lembut
akhirnya.
Jaejoong bersedekap, seolah ingin melindungi dirinya.
"Ya...Sudah di maafkan...Sekarang...Sekarang bisakah
kau pergi?" Jaejoong mulai menahan tangisnya. Yunho telah benar-benar
melukai hatinya, kehadiran namja itu sekarang, berdiri di depannya, menatapnya
dengan begitu lembut, benar-benar membuat emosinya bergejolak.
"Aku tidak tahu tentang semua ini Boo, baru tadi Junsu
mengungkapkan kebenaran di depanku. Aku tidak tahu. Tidakkah itu bisa membuat
semuanya sedikit dimaklumi?"
sambung Yunho pelan.
"Selama ini aku salah paham, aku berpikiran buruk
tentangmu dan semakin memupuknya dari hari ke hari. Itu... Itu juga menyiksaku,
antara dorongan untuk menyayangimu atau menghukummu karena jauh dilubuk hatiku
aku mengira aku hanya dimanfaatkan," Yunho mengerjapkan matanya pedih,
"Kalau aku tahu tentang semua ini, segalanya akan berbeda Boo."
Jaejoong memejamkan matanya. Mau tak mau permintaan maaf
Yunho yang begitu tulus itu mulai menyentuh hatinya. Yunho memang tidak bisa
disalahkan. Dia tidak tahu. Lagipula apa yang harus dipikirkan Yunho tentang
yeoja yang melemparkan diri padanya demi uang selain bahwa yeoja itu adalah
pelacur?
"Aku...Aku mengerti....tidak apa-apa, pilihanku juga
untuk tidak mengatakan ini semua kepadamu," suara Jaejoong terdengar
serak. "Dan apapun konsekuensinya aku sudah bersedia menanggungnya.... Jadi
kita impas."
Yunho menatap Jaejoong sedih.
"Boo.... Aku...." Yunho mengulurkan tangan hendak
meraih Jaejoong, tapi lalu tertegun ketika Jaejoong mundur seperti ketakutan.
Kesadaran itu menghancurkan Yunho, kesadaran bahwa Jaejoong
takut dengan sentuhannya, mungkin akibat kekasarannya semalam.
Yunho mengusap rambutnya dengan kasar.
"Aku..... Mungkin semua sudah terlambat. Tapi aku harus
mengatakannya.....Aku mencintaimu Boo Jaejoongi, mungkin kau bertanya-tanya
kenapa. Tapi aku juga tidak bisa menjawabnya. Aku juga baru menyadarinya. Itu
terjadi begitu saja,"
Yunho menatap Jaejoong yang hanya termangu dengan wajah
pucat pasi, "Tapi sekarang itu tak penting lagi bukan? Kesalahanku tidak
bisa di maafkan semudah itu. Dosaku terlalu besar."
Dengan ragu Yunho melangkah ke arah pintu, terdiam sejenak.
"Semua hutangmu anggap saja sudah lunas. Aku tidak akan
menuntut apapun darimu, aku akan menjauh darimu dan kau tidak perlu takut harus
menghadapiku lagi. kau bebas sebebas-bebasnya. Dan kalau kau masih mau bekerja
di perusahaanku. Aku akan sangat senang....Tapi aku tidak akan memaksa. Aku
sudah terlalu sering memaksakan kehendakku padamu. Sekarang tidak akan
lagi," punggung Yunho tampak tegang,
"Selamat tinggal Boo." gumamnya pelan sebelum
membuka handle pintu.
Jaejoong termangu menatap punggung yang begitu tegang itu.
Pernyataan cinta Yunho begitu mengejutkannya hingga dia tidak bisa mengatakan
apa-apa, memang Yunho telah menyakitinya, tapi ada saat saat dimana Yunho
berhasil membuat hatinya terasa hangat. Dan kalau dipikir-pikir, selama
kebersamaan mereka itu. Tidak pernah sekalipun Yunho menyakitinya dengan
sengaja, kecuali saat kemarahan menguasainya kemarin.
Sekarang ketika Jaejoong menatap punggung Yunho, yang tampak
begitu tegang sekaligus rapuh. Sebuah perasaan hangat menyeruak ke dalam hatinya,
sebuah perasaan yang tumbuh secara perlahan hingga tidak disadarinya.
"Yun," Jaejoong bergumam pelan, tapi cukup untuk
membuat Yunho membatu di tempat. Tetapi namja itu tidak menoleh, hanya berdiri
di sana. Membeku seperti patung.
"Yunho." kali ini Jaejoong mengulang lagi, lebih
lembut sehingga Yunho menoleh menatap Jaejoong.
Entah karena mata Jaejoong yang menatapnya penuh kelembutan,
Entah karena Yunho pada akhirnya sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi. Jaejoong
tidak tahu, yang pasti ekspresi Yunho berubah seketika.
Dia membalikkan tubuh. Menatap Jaejoong ragu-ragu. Dan
ketika dilihatnya Jaejoong membuka lengan menyambutnya, Yunho mengerang.
Kemudian melangkah tergesa ke arah Jaejoong, tersandung-sandung menghampiri
Jaejoong.
Sejenak mereka berdiri berhadapan. Lalu Yunho jatuh berlutut
dan memeluk pinggang Jaejoong, membenamkan wajahnya di perut Jaejoong. Napasnya
tersengal menahan perasaan.
Dengan lembut Jaejoong memeluk dan mengelus rambut Yunho.
"Aku mencintaimu," Yunho berbisik dengan suara
parau, wajahnya masih terbenam di perut Jaejoong,
"entah sejak kapan aku mencintaimu. Mungkin sejak
pertama kali aku melihatmu, aku...." napas Yunho tersengal, "Aku
mungkin manusia paling kejam, paling jahat...tapi aku...Aku tidak....."
"Yun," sekali lagi Jaejoong berbisik lembut. Yunho
mendongakkan wajahnya dan menatap Jaejoong, wajah Jaejoong penuh air mata, dan
tiba-tiba mata Yunho terasa panas.
"Jangan menangis," Tiba-tiba Yunho berdiri dan
merengkuh Jaejoong ke dalam pelukannya, memeluknya erat-erat, "Jangan
menangis lagi, aku bersumpah tidak akan pernah membiarkanmu menangis
lagi."
Jaejoong memeluk Yunho erat-erat. Permintaan maaf Yunho dan
kelembutan sikapnya meluluhkan hatinya, menumbuhkan perasaan baru di dalam
hatinya, mereka telah begitu dekat selama ini, kedekatan yang dipaksakan,
tetapi mau tak mau telah membuka pembatas yang selama ini ada di hati Jaejoong.
Lama mereka berpelukan, dalam keheningan. Jaejoong
menumpahkan tangisnya di pelukan Yunho dan namja itu memeluk Jaejoong
erat-erat, membenamkan wajahnya di rambut Jaejoong.
Setelah tangis Jaejoong mereda, Yunho mengangkat dagu
Jaejoong agar menghadap ke arahnya, mengusap air mata di pipi Jaejoong dengan
lembut.
"Pulanglah bersamaku, kembalilah bersamaku Jaejoong,
bukan karena uang keparat itu. Aku ingin kau melupakan masalah hutang itu, aku
ingin kau bersamaku karena kemauanmu sendiri. Pulanglah bersamaku Jaejoong,
kita mulai lagi semuanya dari awal....Dan jika...Dan jika...." Yunho
menarik napas, menahan perasaannya, "Jika kau memang belum mencintaiku,
aku akan menunggu. Bahkan aku tidak akan menyentuhmu kalau kau tidak mau, aku
tidak akan memaksakan kehendakku, kau bisa tenang. Aku... Aku hanya ingin kau
ada di tempat dimana aku bisa melihatmu setiap hari."
Jaejoong menatap Yunho, dan melihat ketulusan di sana,
melihat cinta di sana yang tidak di tahan-tahan lagi.
Dia baru membuka mulutnya untuk menjawab ketika pintu
ruangan itu terbuka. Boa membuka pintu, terlalu panik dan terengah-engah untuk
merasa malu ketika menemukan Yunho dan Jaejoong sedang berpelukan.
"Jaejoong!!!" Boa berusaha menormalkan nafasnya,
dia tadi setengah berlari ke sini, "Ppali!!! palli!!!! Changmin sadar!!!
Dia terbangun dari komanya!!!!!"
.
.
.
.
.
Jaejoong berlari, tanpa sadar melepaskan diri dari pelukan
Yunho, dia berlari penuh air mata, ke kamar perawatan Changmin, kerinduannya
membuncah, rasa syukurnya tak tertahankan.
Ketika sampai di
depan pintu perawatan nafasnya terengah, dia berhenti karena pintu itu masih di
tutup rapat, Boa tergopoh-gopoh mengejarnya,
"Jaejoong, jangan masuk dulu, dokter baru menstabilkan
kondisinya."
Penantian itu terasa begitu lama, sampai kemudian Jaejoong
diijinkan masuk, hanya lima menit untuk sekedar menengok Changmin, setelah itu
dokter harus mengevaluasi kondisinya Changmin lagi.
Dadanya sesak tak tertahankan ketika mata itu balas
menatapnya, mata yang selama ini terpejam, tertidur dalam damai, membuat
Jaejoong menanti, mata itu sekarang terbuka, hidup, dan balas menatapnya,
"Changmin-ah,"
suara Jaejoong serak oleh emosi, dan tangisnya meledak, dia
menghampiri tepi ranjang, ke arah Changmin yang masih terbaring, pucat dengan
alat-alat penunjang kehidupan yang masih menopangnya, tapi hidup dan membuka
mata.
Jaejoong meraih tangan Changmin dan menciumnya, lalu
menangis.
"Changmin-ah."
Banyak yang ingin Jaejoong ungkapkan, dia ingin mengucap
syukur karena Changmin akhirnya bangun, dia ingin merajuk karena Changmin
memilih waktu yang begitu lama untuk terbangun, dia ingin menangis kuat-kuat,
tapi semua emosi menyebabkan suaranya tercekat di tenggorokan.
Air mata tampak menetes dari pipi Changmin, namja itu
mencoba berbicara, tetapi tampak begitu susah payah,
“Stttt...Kau tidak boleh bicara dulu,” gumam Jaejoong
lembut, mencegah Changmin berusaha terlalu keras, “mereka memasang selang di
tenggorokanmu, untuk makanan, kau koma selama kurang lebih dua tahun."
Mata Changmin menatap Jaejoong, tampak tersiksa, dan dengan
lembut Jaejoong mengusap air mata di pipi Changmin,
“Nanti, setelah mereka yakin kondisimu membaik, mereka akan
melepas selang itu dan kau akan bisa berbicara lagi, tapi sekarang, kau cukup
mengangguk atau menggeleng saja ya, sekarang...” Jaejoong menelan ludah,
menahan isak tangis yang dalam, “Sekarang kita harus mensyukuri karena kau
akhirnya terbangun, ya?”
Changmin menganggukkan kepalanya, dan seulas senyum dengan
susah payah muncul dari bibirnya,
Sekarang istirahatlah dulu, dokter akan mengecek kondisimu
lagi” bisik Jaejoong lembut ketika melihat isyarat dari dokter yang menunggui
mereka.
Ketika Jaejoong akan beranjak, genggaman Changmin di
tangannya menguat, Dengan lembut Jaejoong menoleh dan memberikan senyuman penuh
cinta kepada Changmin,
“Aku tidak akan kemana-mana, aku harus menyingkir karena
dokter akan memeriksamu lagi, tapi aku tidak akan kemana-mana, aku akan berada
di dekat sini sehingga saat kau butuh nanti aku akan langsung datang.”
Pegangan Changmin mengendor, namja itu mau mengerti. Dengan
lembut Jaejoong mengecup dahi Changmin dan melangkah menjauh keluar ruangan
perawatan. Air matanya mengucur dengan derasnya ketika dia melangkah
menghampiri Boa. Boa masih berdiri di sana dan Jaejoong langsung berlari ke
arahnya, menangis keras-keras.
“Dia sadar uisa...dia akhirnya sadar...aku masih tak
percaya, selama ini aku hampir kehilangan harapan. Mulai berpikir kalau
Changmin memang tidak mau bangun, mulai berpikir kalau semua perjuanganku ini
sia-sia... Tapi sekarang...”, Jaejoong terisak, “Aku tak percaya bahwa pada
akhirnya dia sadar... dia kembali dari tidur panjangnya, dia ada di sini untuk
aku...“
Dengan lembut Boa mengelus rambut Jaejoong,
“Ini semua karena perjuanganmu Jae, Tuhan melihat
keyakinanmu maka ia mengabulkannya.” mata Boa juga berkaca-kaca, terharu
melihat pasangan yang sudah hampir menjadi legenda karena kekuatan cintanya di
rumah sakit ini, akhirnya akan berujung bahagia.
Tapi kemudian, Boa menyadari kehadiran Yunho di ujung
ruangan, masih bersandar di pintu lorong ruang perawatan, dengan wajah tanpa
ekspresi.
Dengan lembut dilepaskannya Jaejoong dari pelukannya,
“Eh mungkin aku harus pergi dulu Jae, mungkin masih ada
hal-hal yang ingin kalian bicarakan?“ Boa mengedikkan bahunya ke arah Yunho,
Baru saat itulah sejak pemberitahuan Boa tadi, Jaejoong
menyadari kehadiran Yunho di ruangan itu. Pipinya langsung memerah mengingat
pernyataan cinta Yunho, sesaat sebelumnya. Tapi dia sungguh tidak bisa berkata
apa-apa.
Setelah Boa meninggalkan ruangan itu, suasana menjadi
canggung, dalam keheningan yang tidak menyenangkan.
“Dia sadar.” gumam Yunho akhirnya, memecah keheningan.
Jaejoong menganggukkan kepalanya, belum mampu bersuara.
Yunho tampak berfikir,
“Kau bahagia?” tanyanya kemudian, lembut.
Jaejoong mengernyitkan keningnya, Yunho telah berubah,
menjadi sedikit lebih manusiawi, menjadi sedikit mudah disentuh. Yunho yang
dulu tidak akan mungkin menanyakan itu padanya. Yunho yang dulu pasti akan
langsung memaksa membawanya pulang tanpa peduli perasaan Jaejoong.
“Ya, aku bahagia.” seulas senyum kecil muncul di bibir
Jaejoong, membayangkan Changmin.
Yunho mengernyit melihat senyuman itu. Senyuman itu bagaikan
pisau yang menusuk hatinya, senyuman yang diberikan Jaejoong ketika
membayangkan namja lain, ketika membayangkan Changmin.
“Bagus,” gumamnya datar, kemudian menatap Jaejoong lembut,
“mungkin kita harus melakukan pengaturan kembali dengan perkembangan yang
mendadak ini, tetapi aku tidak mau mengganggumu dulu, kau pasti ingin fokus
dulu dengan kondisi Changmin... jadi kupikir aku akan kembali lagi saja nanti.”
“Gomapta Yun.” akhirnya Jaejoong bisa berkata-kata, pelan.
Yunho tersenyum miring,
“Aku meminta maaf, dan kau malah menjawabnya dengan ucapan
terima kasih, kau memang aneh Boo.” dengan hati-hati Yunho mendekat, lalu
setelah yakin bahwa Jaejoong tak akan menjauh, dia merengkuh Jaejoong ke dalam
pelukannya,
“Ingat kata-kataku tadi.” bisiknya lembut, lalu menunduk dan
memberikan Jaejoong sebuah ciuman yang singkat tetapi menggetarkan kepada
Jaejoong.
Dan pergilah Yunho, meninggalkan Jaejoong yang masih berdiri
terpaku, memegangi bibirnya yang terasa hangat, bekas ciuman Yunho.
.
.
.
.
.
To Be Continue
Saki ngebut, soalnya udah mulai bosen sama ceritanya, jadi pengen cepet2 diselesaiin... tapi Saki baru selesai sampai chap 22, huft masih 5 chap lagi, hwaiting Saki, aja..aja..

akhirnya Changchang sadar juga.
ReplyDeletetapi seneng Yun bisa legowo dan sabar buat Jae
semoga Jae gk lama buat nyadarin perasaannya ma Yun
tapi penasaran jg ma sesuatu antara Min dan Uchun yg menyakitkan buat Uchun.
tapi kyaknya bentar lgi kejawab ya,,,semoga Min gk ngalangin YunJae dehhhh
Saki fighting !!!!!!!
Chankamman, emang di chapt sebelumnya Saki menyiratkan kalau Chun gak suka sama Min ya? bukannya Saki nulisnya Min tu pengacara yang dihormati, Chun hanya sekedar tau Min karena mereka berdua gak dekat? kok Saki malah bingung.
Deleteapa mungkin aq yg salah tanggap ya hhhhhhh
DeleteChangmin sadar tepat saat yun nyatain cinta ke jae
ReplyDeletedan itu bikin jae bingung harus milih siapa ?
Sebenarnya jae juga cinta kan sama yun ..
Buktinya waktu yun mau pergi jae. Manggil yun
yunho udah berubah baik tapi ga tau knapa aku lbih suka yun yang dulu
lanjuttt saki ^_^
Hati Jae selalu untuk Yun kok... hehe
DeleteHiat, kamu suka namja yang dominan ya?
Fighting saki ^__^
ReplyDeleteSemangat .....
Buat lanjutin ff nya <3<3
Q berharap cangmin hilang ingatan...
ReplyDelete# diciumyunpa aw...haha
Kasian yunpa,, antara menyesal, sedih dan cemburu,,, yunpa fighting
Mudah2an jaema hamil, trus itu jd kunci bwat yunpa mempertahankan jaema,,
Unni, q mau tanya,,
Apa q yang salah yak,,
Tp d chap awal jae pinjam 300jt, tp d chap akhir kok bilangnya 30jt yak?
Bknnya jaema d chap awal bilangnya 350jt bwat biaya minie operasi ya un..
Kok d lunasi 34 jt sma utang d perusahaannya ya un..
Apa q yang salah ya un.. Q bingun ma yang nie..
Lanjut unnie,, fighting...
Saki udah ngecek dear, Saki diawal chapter salah nulis 300 juta, bukan 350 juta...
DeleteSaki jelasin ne, di novel asli tertulis 300 juta rupiah, nah berhubung ini korea Saki ubah jadi 30 juta won. Yang belum Saki ubah itu di chapter 3, 4 sama 16 (lebih banyak chapter), yang lain udah Saki tulis 30 juta won kok. habis ini chapt 3, 4, sama 16 saki benerin
jangan panggil Saki unnie, saki 93 line kok...
Anonim Saki yang satu ini siapa ya?
Okay dear,,
DeleteBerarti tar chap yang seterusnya pakek wonkah kah..?
Oh okay yo dongsaeng,,
Salam kenal yak,,,
Q yang pernah komen di Chap VIII
(AuliaCAssie)
Dear, yang de Amor d duluin yak low nge updet, bener2 bgus ceritanya , apalagi maincastnya yunjae,,
Ini blog fav'q low dear..q lbih suka yunjae GS drpd yaoi soalnya,,
Semangat yak,, fighting..
Fithing saki.. ayphh update lg.. ahahahhha...
ReplyDeleteChap ini bikin aq sedih... aku ga nyangka yunho mengungkapkan cintanya dengan tidak romantis gitu #plakkk
Tp dia tetep yahhh kekwuh mempertahankan jeje.
saki ff ini dislesain dulu....
ReplyDeletepokoknya harus ff ini dulu yg di publish
wah unniiee udah update banyak sekalii... ketinggalan euy. makin seru euy.
ReplyDeletesetujuuuu unnie selesai in ff ini dulu updwte tiap hari ya un. hehwhe
changmin sadar jj bigung deh... tapi ak harsp jj galauny g kelamaan..
unniee request ff baru yg gs lg dong... remake lagi gpp. tqpi sy g tw novel yg bagus. xoxoxo
Baru jg yunho bs menyampaikan perasaannya,changmin justru bangun. Kasihan yunho. Moga jaejoong segera sadar perasaan dia yg sebenarnya
ReplyDeletesaki udah bosen, aku malah udah 3x baca sepagian ini >_<
ReplyDeletePlease apdet soon
haha,, aku setuju ama komen yg diatas, semoga umma hamil,, biar yunho bisa rebut umma,, changmin ama aku aja,, mupeng,.,,
ReplyDeletetpi kasihan sekali yunho,,
umma,, kau harus nentuin pilihan tepat, dan semoga itu yunho,,
Beda 2 tahun sama aku, aku berarti manggil unnie. hehe aduh mau komen apa jg udh kehabisan kata" nih! aku sempet pengen nyari novelnya, tapi kayaknya tetep aja nanti pas baca gak ada feel deh karena udh baca versi yunjae punya kamu, dan kebetulan cast tsb favorite aku! Daebak lah :)
ReplyDelete#retno
Akhirnya Changmin sadar...
ReplyDeleteSeneng jg kl inget perjuangan Jaejae selama ini tapi jd sedih kl inget Yunho yg pastinya bakalan ngerasa terabaikan karena Changmin udah sadar, apalagi tadi Yunho udah ngakuin perasaannya ke Jaejae..
Jaejae pasti galau berat!