Suasana
yang hingar bingar membuat Jaejoong mengeryitkan matanya. Dia tidak suka
suasana ramai dan menyesakkan seperti ini. Dia merindukan kamarnya, kamar
tenang yang damai, tempat dia bisa duduk dan membaca sambil mendengarkan musik
sayup-sayup.
Tapi musik yang sangat keras ini hampir melampaui batas toleransinya, ingin rasanya dia pergi dari tempat ini, tapi dia tidak bisa. Namja itu, namja jahat itu, menurut sumber yang dia dengar akan datang ke tempat ini beberapa saat lagi.
Jaejoong mencoba menarik turun rok hitam pendeknya yang mulai terasa tidak nyaman. Seragam waitress ini amat sangat tidak nyaman, dengan belahan dada yang begitu rendah dan rok yang begitu pendek, Jaejoong seperti dipaksa menyamar menjadi orang yang tidak dikenalnya.
Tapi musik yang sangat keras ini hampir melampaui batas toleransinya, ingin rasanya dia pergi dari tempat ini, tapi dia tidak bisa. Namja itu, namja jahat itu, menurut sumber yang dia dengar akan datang ke tempat ini beberapa saat lagi.
Jaejoong mencoba menarik turun rok hitam pendeknya yang mulai terasa tidak nyaman. Seragam waitress ini amat sangat tidak nyaman, dengan belahan dada yang begitu rendah dan rok yang begitu pendek, Jaejoong seperti dipaksa menyamar menjadi orang yang tidak dikenalnya.
Tetapi
bukankah itu memang tujuannya? Dia tidak ingin namja itu mengenalnya, meskipun
hal itu sepertinya tidak perlu ditakutkannya, mereka hanya pernah bertemu satu
kali, pada pertemuan singkat yang tak disengaja, saat namja itu menemui ayahnya
di ruang kerjanya. Saat itu penampilan Jaejoong tidak seperti sekarang,
rambutnya masih panjang dengan kacamata berbingkai tebal membingkai wajahnya,
bajunya tertutup dan sopan, beda sekali dengan sekarang.
salang-ui
ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with the Devil
©Shanty Agatha
Jaejoong mengernyitkan matanya lagi, “Aku benar-benar berpenampilan seperti yeoja murahan.” desahnya.
Suara
berisik dari arah pintu masuk mengalihkan perhatian Jaejoong, matanya
mencari-cari dan itu dia! Namja itu ada disana, dengan kedatangannya
yang begitu heboh dikelilingi banyak sekali bodyguard berbadan kekar. Tanpa
sadar Jaejoong mendengus, yah karena dia namja jahat yang suka menyakiti orang,
dia pasti punya banyak musuh yang ingin membunuhnya.
Dengan penaYeongwongn Jaejoong menjinjitkan kakinya, berusaha melihat dengan jelas sosok namja itu, Jung Yunho. Sosok yang ditakuti dalam dunia bisnis karena tidak segan-segan menggilas siapapun yang menghalangi jalannya. Siapapun yang berani melawan Jung Yunho, akan berakhir dalam tragedi. Seperti ayahnya, seperti seluruh keluarganya. Desah Jaejoong pahit.
Dulu keluarga Jaejoong adalah keluarga berada, ayahnya adalah seorang pengusaha sukses di bidang furniture, kebun mereka ada berhektar-hektar di luar pulau, dan mereka sangat kaya. Bagi Jaejoong keluarga mereka adalah keluarga bahagia, meskipun ibunya adalah wanita lemah yang sakit-sakitan, tapi selain itu dia adalah ibu yang sempurna.
Dengan penaYeongwongn Jaejoong menjinjitkan kakinya, berusaha melihat dengan jelas sosok namja itu, Jung Yunho. Sosok yang ditakuti dalam dunia bisnis karena tidak segan-segan menggilas siapapun yang menghalangi jalannya. Siapapun yang berani melawan Jung Yunho, akan berakhir dalam tragedi. Seperti ayahnya, seperti seluruh keluarganya. Desah Jaejoong pahit.
Dulu keluarga Jaejoong adalah keluarga berada, ayahnya adalah seorang pengusaha sukses di bidang furniture, kebun mereka ada berhektar-hektar di luar pulau, dan mereka sangat kaya. Bagi Jaejoong keluarga mereka adalah keluarga bahagia, meskipun ibunya adalah wanita lemah yang sakit-sakitan, tapi selain itu dia adalah ibu yang sempurna.
Pikiran Jaejoong
menerawang di saat-saat bahagia itu, saat dia, ayahnya dan ibunya berkumpul
bersama di meja makan, menyantap Yeongwongpan pagi yang dibuatkan ibunya dengan
penuh cinta, Ayahnya akan bercerita tentang pengalaman-pengalaman dalam perjalanan
bisnisnya, dan ibunya akan menatap sang ayah dengan tatapan memuja. Semua
terasa begitu bahagia, semua terasa begitu sempurna.
Sampai
kemudian Jung Yunho datang dalam kehidupan mereka. Jung Yunho tertarik dengan
perkembangan pesat bisnis ayah Jaejoong, dan berpikiran untuk menjalin suatu
hubungan kerjasama. Pada awalnya ayahnya tidak tertarik, dia sudah cukup puas
dengan bisnis yang dijalankannya sendiri. Tapi Yunho tidak menyerah, dengan
berbagai cara dia berusaha mendekati ayahnya. Dan entah kenapa ayahnya akhirnya
menyerah ke dalam kuasa Jung Yunho, kuasa iblis kegelapan yang ketika
mencengkeram tidak akan melepaskannya lagi.
Yunho menghancurkan keluarganya secara harfiah, entah kenapa kepemilikan ayahnya atas bisnis itu dimentahkan begitu saja, semuanya diambil oleh Yunho dan dikendalikan di bawah tangannya. Ayahnya tidak punya hak apa-apa lagi selain jatah bulanan untuknya dan keluarganya.
Yunho menghancurkan keluarganya secara harfiah, entah kenapa kepemilikan ayahnya atas bisnis itu dimentahkan begitu saja, semuanya diambil oleh Yunho dan dikendalikan di bawah tangannya. Ayahnya tidak punya hak apa-apa lagi selain jatah bulanan untuknya dan keluarganya.
Keluarga Jaejoong
jatuh miskin seketika. Rumah mewah mereka disita paksa, mereka harus pindah ke
rumah mungil sederhana, berusaha memenuhi kebutuhan sendiri, tanpa
pelayan-pelayan yang biasanya selalu siap sedia melayani kebutuhan mereka.
Jaejoong kuat menanggung itu semua. Tetapi ibunya tidak. Ibunya dari kecil terbiasa bergelimang kekayaan, seperti putri raja. Sampai menikah dengan ayahpun, ayahnya terbiasa memperlakukannya seperti ratu dengan banyak pelayan yang mengelilinginga. Ibunya sudah hancur ketika dipaksa memasak sendiri dengan tangannya yang rapuh dan tidak terampil itu, karena tidak pernah memasak seumur hidupnya. Dan makin hancur ketika mereka makin miskin, makin menderita. Akhirnya penderitaan itu tak tertanggungkan lagi bagi ibunya, dia mulai sakit-sakitan, semakin kurus, semakin sering menangis di malam-malam sepi. Lalu suatu pagi, ibunya meninggal begitu saja.
Jaejoong kuat menanggung itu semua. Tetapi ibunya tidak. Ibunya dari kecil terbiasa bergelimang kekayaan, seperti putri raja. Sampai menikah dengan ayahpun, ayahnya terbiasa memperlakukannya seperti ratu dengan banyak pelayan yang mengelilinginga. Ibunya sudah hancur ketika dipaksa memasak sendiri dengan tangannya yang rapuh dan tidak terampil itu, karena tidak pernah memasak seumur hidupnya. Dan makin hancur ketika mereka makin miskin, makin menderita. Akhirnya penderitaan itu tak tertanggungkan lagi bagi ibunya, dia mulai sakit-sakitan, semakin kurus, semakin sering menangis di malam-malam sepi. Lalu suatu pagi, ibunya meninggal begitu saja.
Jaejoong
masih ingat ketika dia berdiri di samping ayahnya yang membeku, menatap wajah
ibunya yang kurus dan pucat, ekspresinya seperti tertidur, dan merasa sedih,
karena menyadari kenyataan bahwa ibunya mungkin lebih bahagia sekarang setelah
meninggal dunia.
Sepeninggal ibunya, Ayahnya hancur. Hancur total. Dia mulai mabuk-mabukan, kadang berteriak-teriak dan menangis sendirian di malam-malam sepi, lalu pada suatu hari, ayahnya mengendarai mobil mereka, satu-satunya harta mereka yang masih tersisa, dan menabrakkan diri pada tembok pembatas jalan hingga mobil itu terguling beberapa kali, dan ayahnya tewas seketika di tempat. Polisi mengatakan bahwa kandungan alkohol di darah ayahnya sangat tinggi, hingga dapat dikatakan, ayahnya lah yang membunuh dirinya sendiri.
Sepeninggal ibunya, Ayahnya hancur. Hancur total. Dia mulai mabuk-mabukan, kadang berteriak-teriak dan menangis sendirian di malam-malam sepi, lalu pada suatu hari, ayahnya mengendarai mobil mereka, satu-satunya harta mereka yang masih tersisa, dan menabrakkan diri pada tembok pembatas jalan hingga mobil itu terguling beberapa kali, dan ayahnya tewas seketika di tempat. Polisi mengatakan bahwa kandungan alkohol di darah ayahnya sangat tinggi, hingga dapat dikatakan, ayahnya lah yang membunuh dirinya sendiri.
Jaejoong
sebatang kara. Dan rasa dendam yang terpendam dalam hatinya makin menyeruak setelah
kematian kedua orangtuanya. Semua ini berakar dari Jung Yunho. Sejak namja itu
muncul di keluarganya, semuanya hancur dan musnah. Jaejoong harus membalas
dendam, dengan cara apapun, untuk membalaskan kesedihan ibunya, dan kematian
sia-sia ayahnya.
Sejak itu, dia menyelidiki semua hal tentang Jung Yunho, dimana dia tinggal, bagaimana jadwalnya, apa kesukaannya. Semua informasi itu dikumpulkannya baik-baik dan disusunnya. Ketika Jaejoong mendapat informasi, bahwa Yunho sering menghabiskan waktunya dengan kekasih-kekasihnya di klub kelas atas ini, klub Mirotix. Tanpa pikir panjang, Jaejoong meninggalkan pekerjaannya sebagai guru di taman kanak-kanak, pindah dari tempat tinggalnya dan melamar sebagai waitress di sini.
Sejak itu, dia menyelidiki semua hal tentang Jung Yunho, dimana dia tinggal, bagaimana jadwalnya, apa kesukaannya. Semua informasi itu dikumpulkannya baik-baik dan disusunnya. Ketika Jaejoong mendapat informasi, bahwa Yunho sering menghabiskan waktunya dengan kekasih-kekasihnya di klub kelas atas ini, klub Mirotix. Tanpa pikir panjang, Jaejoong meninggalkan pekerjaannya sebagai guru di taman kanak-kanak, pindah dari tempat tinggalnya dan melamar sebagai waitress di sini.
Semua
butuh pengorbanan, Jaejoong menyadari bahwa pembalasan dendam butuh pengorbanan
besar, Seperti ketika dia harus berdandan sebagai wanita murahan dengan rok
mini dan baju seksi, kadang malam demi malam harus menahan diri dari siksaan
kegaduhan dan hingar bingar musik, ataupun harus menahan hati karena banyaknya namja-namja
genit yang selalu berpikir bahwa dia wanita murahan yang bisa dibeli. Semua butuh pengorbanan, mahal
harganya. Tapi Jaejoong merasa itu akan sebanding dengan kepuasan yang akan dia
dapatkan nanti, kepuasan untuk membunuh namja itu dalam siksaan menyakitkan,
seperti yang dilakukan namja itu pada ayah dan ibunya.
Dia sudah
mengoleskan racun yang tidak akan terdeteksi, di dasar gelas yang sudah
disiapkan khusus untuk Jung Yunho malam ini. Jung Yunho tidak mau menggunakan gelas
yang sama dengan orang lain. Gelasnya ekslusif, khusus hanya dipakai dirinya,
dan tadi siang ketika berpura-pura membersihkan bar, Jaejoong menyelinap ke
tempat penyimpanan khusus itu dan mengoleskan racun yang tidak terdeteksi ke
gelas tersebut. Seteguk saja minuman dari gelas yg sudah diolesi racun itu
ditelan oleh Jung Yunho, maka seluruh dendamnya akan terbalaskan.
♥Kitahara Saki♥
Yunho merasa muram malam ini. Entah kenapa. Dia sedang ingin menghajar seseorang, atau kalau perlu, membunuh seseorang. Malam ini dia datang ke klub bukan untuk bersenang-senang, tetapi untuk mencari masalah. Dengan dikelilingi para bodyguardnya yang selalu siap menjaganya, meskipun sebenarnya tidak perlu, karena Yunho menguasai taekwondo dan hokaido. Tetapi ketika kau punya uang banyak, maka lebih baik jika kau membiarkan orang lain melakukan segala sesuatunya untukmu.
Pemilik
klub sendiri yang menyambutnya. Tentu saja, mengingat betapa besar hutangnya
kepada Yunho. Dengan tergopoh-gopoh namja berbadan tambun itu menggiringnya ke
kursi VIP terbaik,
“Anda bisa
memilih siapapun untuk menemani anda.” gumam si pemilik Klub dengan nada menjilat.
Yunho
menatap ke sekeliling dengan tak berminat, menatap semua yeoja disana yang
hampir- hampir seperti semut mengelilinginya, dengan tatapan berharap untuk
dipilih. Terlalu murahan. gumamnya dalam hati, semua manusia di dunia ini
murahan dan penjilat.
Yunho memutuskan tidak memilih siapapun, ketika tatapan matanya terpaku pada yeoja itu. Yeoja yang tampak salah tempat di klub malam mewah ini. Mengenakan baju luar biasa sexy tetapi tampak tidak nyaman di dalamnya. Tanpa sadar seulas senyum jahat muncul di bibirnya,
Yunho memutuskan tidak memilih siapapun, ketika tatapan matanya terpaku pada yeoja itu. Yeoja yang tampak salah tempat di klub malam mewah ini. Mengenakan baju luar biasa sexy tetapi tampak tidak nyaman di dalamnya. Tanpa sadar seulas senyum jahat muncul di bibirnya,
“Aku mau
dia.” gumamnya sambil menunjuk yeoja itu.
♥Kitahara Saki♥
“Aku mau dia.”
Kalimat
itu diucapkan dengan nada malas yang tenang, tetapi gaungnya terdengar ke
seluruh ruangan. Entah kenapa suasana hiruk pikuk itu menjadi hening. Dan Jaejoong
merasakan semua tatapan tertuju padanya. Pada dia yang sedang bersandar di meja
bar, sibuk dengan pikirannya sendiri.
Dengan gugup
Jaejoong menegakkan tubuhnya, berusaha membalas tatapan mata semua orang, lalu
matanya terpaku pada mata itu, mata cokelat pucat sehingga nyaris bening,
menyebabkan pupil matanya tampak begitu hitam dan tajam.
“Cepat
kesana. Dia menginginkanmu.” sang bartender yang berdiri di belakangnya
berbisik kepadanya, seolah takut kalau Jaejoong tidak cepat-cepat menuruti
keinginan Yunho, akan berakibat fatal.
Jaejoong
mengernyit pada Yunho, mencoba menantang mata laki-laki itu, yang masih
menatapnya dengan begitu tajam tanpa ekspresi.
“Emm..” Jaejoong
berdehem karena suaranya begitu serak, “Apakah anda ingin dibawakan minuman?”
Yunho
hanya menatapnya beberapa saat yang menegangkan, lalu menganggukkan kepalanya.
“Bawakan satu, minumanku yang biasa.”
“Bawakan satu, minumanku yang biasa.”
Secepat
kilat sang bartender meracik minuman kesukaan Yunho, minuman yang biasa. Tangan
Jaejoong gemetar ketika menerima nampan minuman itu.
“Sedikit
lagi Jae…..” gumamnya mencoba menyemangati
dirinya sendiri. “Sedikit lagi semua dendammu akan terbalaskan…… sedikit lagi….”
Jaejoong
mengucapkan kata-kata itu bagaikan doa, dengan langkah gemetar dia mendekati Yunho
yang duduk bagaikan sang raja, menunggunya.
Diletakkannya
gelas itu di meja depan Yunho, “Semoga
kau lekas meminumnya dan lekas mati.” doa Jaejoong dalam hati.
Tetapi
sepertinya Tuhan masih menginginkan Yunho hidup, karena namja itu terlihat
tidak tertarik untuk menyentuh minumannya.
Matanya justru
tertuju pada Jaejoong dan memandangnya tajam.
“Hanja.” Yunho
menjentikkan jarinya. Melirik tempat di sebelahnya.
Sekujur tubuh Jaejoong mengejang menerima perintah yang begitu arogan, tanpa sadar matanya memancarkan kebencian, siapa namja ini berani-beraninya memerintahnya seperti ini?
Sekujur tubuh Jaejoong mengejang menerima perintah yang begitu arogan, tanpa sadar matanya memancarkan kebencian, siapa namja ini berani-beraninya memerintahnya seperti ini?
Ketika Jaejoong
termenung, seorang waitress lain dengan gugup mendorongnya supaya duduk,
menuruti permintaan Yunho, sehingga dengan terpaksa Jaejoong duduk di sebelah Yunho.
“Siapa
namamu?” Yunho menatap tajam ke arah Jaejoong, sama sekali tidak melirik gelas
minuman di mejanya.
Jaejoong
sudah siap dengan pertanyaan ini, nama samarannya, “Yeongwong.” Jawabnya kaku.
Yunho
mengernyit menatapnya dengan seksama, lalu jemari panjang itu tiba-tiba terulur
dan menarik dagu Jaejoong mendekat, supaya dia bisa mengamati wajah Jaejoong
dengan cermat,
“Aku tidak pernah melihat wajahmu sebelumnya di sini.”
“Aku tidak pernah melihat wajahmu sebelumnya di sini.”
“Eh...dia...dia
pegawai baru kami tuan Jung, maafkan ketidak sopanannya, saya belum pernah
mengajarinya bagaimana membawakan minuman untuk tamu sepenting anda,” sang
pemilik klub menyela dengan gugup, wajahnya tampak cemas melihat Jaejoong
melayani tamu pentingnya dengan setengah hati.
Dengan
pandangan memarahi dia memperingatkan Jaejoong, “Ayo Yeongwong perkenalkan
dirimu kepada tuan Jung, tuan Jung telah memilihmu untuk menjadi pelayan
minumannya, itu merupakan suatu kehormatan untukmu, harusnya kau berterima
kasih.”
Perintah
itu membuat Jaejoong menegakkan dagunya dengan angkuh.
“Saya
sudah memperkenalkan diri saya, dan saya sudah membawakan minuman untuk tuan
Jung yang terhormat, karena itu saya akan pergi.” jawab Jaejoong ketus, sambil
beranjak dari tempat duduknya, toh misinya sudah tercapai, gelas minuman
beracun itu sudah ada di meja Yunho, dan sebentar lagi Yunho akan mati karena
sesak napas.
Tetapi
sebelum Jaejoong sempat berdiri, Yunho meraih jemarinya dan menariknya kencang,
supaya terduduk lagi, kali ini di pangkuan Yunho.
“Apa…
apaaan….” Suaranya terhenti ketika bibir yang keras dan dingin itu tiba-tiba
melumat bibirnya, Jaejoong memberontak ketika menyadari bahwa Yunho sedang
memagut bibirnya dengan ciuman yang basah dan panas.
Ciuman itu
sungguh tak sopan karena bibir dingin Yunho tanpa permisi langsung memagut
bibirnya, melumatnya tanpa ditahan-tahan, lidahnya langsung meyeruak masuk
merasakan keseluruhan diri Jaejoong, menghisapnya, menikmatinya dan
menggilasnya tanpa ampun.
Sekujur tubuh Jaejoong terasa terbakar, panas karena amarah dan demam kerena gairah. Namja ini sudah jelas-jelas sangat ahli ketika mencumbu yeoja, sehingga Jaejoong yang belum berpengalamanpun terbawa oleh gairahnya, mengalahkan kebenciannya. Tetapi pikiran bahwa namja ini telah memanfaatkan begitu banyak wanita demi memuaskan rasa arogan dan kekuasaannya mebuat Jaejoong merasa muak, dan tiba-tiba muncul kekuatan dari dalam dirinya untuk mendorong laki-laki itu menjauh, dan menamparnya sekuat tenaga.
Sekujur tubuh Jaejoong terasa terbakar, panas karena amarah dan demam kerena gairah. Namja ini sudah jelas-jelas sangat ahli ketika mencumbu yeoja, sehingga Jaejoong yang belum berpengalamanpun terbawa oleh gairahnya, mengalahkan kebenciannya. Tetapi pikiran bahwa namja ini telah memanfaatkan begitu banyak wanita demi memuaskan rasa arogan dan kekuasaannya mebuat Jaejoong merasa muak, dan tiba-tiba muncul kekuatan dari dalam dirinya untuk mendorong laki-laki itu menjauh, dan menamparnya sekuat tenaga.
Plakk!!!
Suasana di
klub itu menjadi sangat hening. Luar biasa hening. Bahkan musik yang hiruk
pikuk itupun terhenti karena semua orang berhenti melakukan aktivitasnya dan
menatap ke arah Jaejoong, yang berdiri dengan terengah-engah berhadapan dengan Yunho
yang membatu duduk di sofa VIP nya.
Sedetik
kemudian, sebuah tangan kasar mencengkeram lengan Jaejoong, begitu menyakitkan
hingga membuat Jaejoong menjerit,
“Kurang ajar kau!! berani-beraninya
memukul Tuan Jung.” teriak sebuah suara berat dan kasar, Jaejoong menoleh dan
mendapati dirinya ditelikung oleh namja berbadan besar yang sepertinya salah
satu bodyguard Yunho.
Lengan namja
itu yang besar dan kuat menahannya sampai tangannya terasa kaku dan sakit. Tapi
Jaejoong tidak menyerah, dia meronta sekuat tenaga, mencakar, menggigit lengan
yang tetap terasa sekeras batu itu. Napasnya terengah-engah dan wajahnya merah
padam menahan amarah dan rasa malu karena sebagai yeoja kekuatannya begitu tak
berdaya menahan dominasi kekuatan laki-laki.
“Lepaskan
dia.” suara dingin Yunho terdengar di keheningan.
Orang-orang masih diam menunggu, memusatkan perhatian kepada apa yang akan dilakukan namja yang terkenal luar biasa kejam itu pada yeoja yang berani menamparnya.
Seketika itu juga, bodyguard Yunho yang berbadan kekar melepaskan Jaejoong, membuatnya hampir terjatuh karena kelelahan meronta-ronta.
Orang-orang masih diam menunggu, memusatkan perhatian kepada apa yang akan dilakukan namja yang terkenal luar biasa kejam itu pada yeoja yang berani menamparnya.
Seketika itu juga, bodyguard Yunho yang berbadan kekar melepaskan Jaejoong, membuatnya hampir terjatuh karena kelelahan meronta-ronta.
Mereka
berdiri berhadap-hadapan di bawah tatapan mata banyak orang yang menanti. Yunho
yang masih berdiri dengan wajah dingin tak berekspresi sambil mengusap pipinya,
bekas tamparan Jaejoong.
“Berapa
hargamu?” suara Yunho terdengar tenang dan dingin,
Mata Jaejoong membelalak, “Harga?? Apa yang dibicarakan namja ini?” Matanya melirik ke gelas minuman Yunho yang sudah diracuninya di meja. “Semua berantakan,” serunya menahan kekesalan pada dirinya sendiri.
Mata Jaejoong membelalak, “Harga?? Apa yang dibicarakan namja ini?” Matanya melirik ke gelas minuman Yunho yang sudah diracuninya di meja. “Semua berantakan,” serunya menahan kekesalan pada dirinya sendiri.
Semua
gara-gara dia tidak bisa menahan kebenciannya. Seharusnya ketika Yunho
melecehkannya dia bisa menahan diri dan berpura-pura menjadi yeoja gampangan,
seharusnya dia mau berkorban menahan perasaannya. Setidaknya ketika dia
menurut, Yunho mungkin akan merasa senang dan lengah, lalu meminum minumannya
itu dan mati. Tetapi sekarang semua sudah terlambat, Yunho tampak tidak
tertarik lagi pada minumannya dan tertarik sepenuhnya kepada Jaejoong. Lagipula
Jaejoong tidak bisa berpura-pura menyukai Yunho, kebenciannya terlalu dalam
pada namja itu.
Ahra,
primadona di bar ini mendekati Yunho dengan tatapan merayu, dialah yang
biasanya dipilih Yunho untuk menemani namja itu minum ketika Yunho berkunjung,
dan sekarang hatinya dipenuhi kecemburuan karena Yunho tampak begitu tertarik
kepada anak baru itu. Padahal kalau dilihat dari kecantikannya, anak baru itu
jauh lebih jelek daripada dirinya,
“Sudahlah Yun,” Ahra menyentuhkan tangannya di kerah baju Yunho, “Yeoja jelek itu tidak akan bisa memuaskanmu, lebih baik biarkan aku yang menemani,,,,, aduhhh!!!”
Ahra mengaduh karena Yunho merenggut tangannya yang meraba kerah baju Yunho. Jemari Yunho mencengkeramnya dengan kekuatan tak ditahan-tahan lagi, menyakitinya hingga terasa menusuk ke tulang,
“Sudahlah Yun,” Ahra menyentuhkan tangannya di kerah baju Yunho, “Yeoja jelek itu tidak akan bisa memuaskanmu, lebih baik biarkan aku yang menemani,,,,, aduhhh!!!”
Ahra mengaduh karena Yunho merenggut tangannya yang meraba kerah baju Yunho. Jemari Yunho mencengkeramnya dengan kekuatan tak ditahan-tahan lagi, menyakitinya hingga terasa menusuk ke tulang,
“Minggir.”
gumam Yunho dengan tatapan membunuh pada Ahra, lalu menghempaskan tangan Ahra
dengan kasar sehingga tubuh Ahra terdorong menjauh. Sambil meringis menahan
sakit dan ketakitan. Ahra lekas-lekas menjauh.
“Nah,” Yunho
memusatkan mata dinginnya kembali ke Jaejoong, “Katakan berapa hargamu, dan aku
akan membayarnya.”
♥Kitahara Saki♥
“Aku
harus memiliki yeoja ini.” Yunho
memutuskan dalam hati. “Aku harus memilikinya segera.”
Tuhan tahu
dia sudah berusaha menyelamatkan yeoja ini. Tetapi entah kenapa yeoja satu ini
memiliki tekad yang kuat untuk mencelakainya, hingga lupa bahwa dia sudah
menantang namja paling berbahaya.
Mata Yunho
melirik gelas yang diletakkan Jaejoong di mejanya, dia tahu kalau dia diracuni.
Jaejoong terlalu tidak berpengalaman dalam usaha pertamanya membunuh orang.
Tangannya gemetaran dan matanya gugup, berkali-kali melirik ke gelas minuman
itu. Dan juga nama palsu yang menggelikan itu. Jaejoong bahkan tidak menyadari
bahwa penyamarannya sudah terbongkar dari awal.
Sebenarnya
tadi Yunho memutuskan untuk menertawakan Jaejoong diam-diam, dengan pura-pura akan
meminum minuman beracun itu. Tapi bibir semerah ceri itu, dan penampilan Jaejoong
yang luar biasa seksi memunculkan sisi iblis dalam dirinya, sisi Iblis yang
kehausan.
Mungkin sudah waktunya yeoja yang satu ini menerima pelajaran atas kenekatannya,
Mungkin sudah waktunya yeoja yang satu ini menerima pelajaran atas kenekatannya,
♥Kitahara Saki♥
Jaejoong tertegun marah mendengar pelecehan Yunho atas dirinya. “Berapa harganya? Hah! Dia pikir dia raja yang bisa membeli apa saja yang dia mau?”
Namja
iblis ini harus diajari, bahwa meskipun banyak yeoja yang bertekuk lutut di
kakinya dan memohon-mohon untuk dimilikinya, ada yeoja yang tidak sudi disentuh
olehnya.
Dengan marah Jaejoong mendongakkan dagunya menantang Yunho,
Dengan marah Jaejoong mendongakkan dagunya menantang Yunho,
“Saya
lebih memilih mati daripada menjual diri kepada anda.” gumamnya kasar
Suara di seluruh klub itu langsung dipenuhi dengungan gelisah menanti rekasi Yunho.
Tidak disangka-sangka Yunho tersenyum. Lalu melirik ke arah bodyguardnya,
Suara di seluruh klub itu langsung dipenuhi dengungan gelisah menanti rekasi Yunho.
Tidak disangka-sangka Yunho tersenyum. Lalu melirik ke arah bodyguardnya,
“Tidak ada
sesuatupun yang bisa menolak kalau aku ingin memilikinya.” gumamnya datar dan
memberikan isyarat tangannya kepada para bodyguardnya.
Semuanya
berlangsung cepat, Jaejoong tidak sempat lari ataupun panik, karena tiba-tiba
bodyguard Yunho yang berbadan paling besar, merenggutnya kasar, mengangkatnya
kasar lalu membantingnya di pundaknya seperti sekarung beras
Sekejap
dipenuhi rasa pusing karena posisi kepalanya dibalik mendadak, Jaejoong
tersadar bahwa dia sudah diangkat keluar dari klub itu. Sekuat tenaga Jaejoong
mencoba memberontak, Tangannya memukul-mukul punggung bodyguard itu dan kakinya
menendang-nendang keras sambil berteriak-teriak menahan marah dan frustasi.
Tetapi
tubuh bodyguard itu sekeras batu, tidak bereaksi atas pemberontakan Jaejoong.
Percuma meminta tolong, karena Jaejoong yakin tidak akan ada yang berani menolongnya, semua pengunjung klub yang pengecut itu hanya menatap kejadian di depan mereka dengan muka bodohnya. Sang pemilik Klub masih memandang takjub Yunho yang melenggang dengan santai meninggalkan ruangan dengan Jaejoong yang meronta-ronta dan menjerit-jerit dalam gendongan bodyguardnya.
Percuma meminta tolong, karena Jaejoong yakin tidak akan ada yang berani menolongnya, semua pengunjung klub yang pengecut itu hanya menatap kejadian di depan mereka dengan muka bodohnya. Sang pemilik Klub masih memandang takjub Yunho yang melenggang dengan santai meninggalkan ruangan dengan Jaejoong yang meronta-ronta dan menjerit-jerit dalam gendongan bodyguardnya.
♥Kitahara Saki♥
Sesampainya
di tempat parkir Jaejoong diturunkan, sedetik setelah dia diturunkan, Jaejoong
berlari sekuat tenaga berusaha menjauh, tetapi baru beberapa langkah, tangan
sekeras batu itu menangkapnya lagi.
Jaejoong
meronta tapi tak bisa berontak, frustasi, dia menggigit sekuat tenaga tangan
yang mendekapnya itu. Sang bodyguard mengaduh sambil mengumpat-umpat, sedangkan
Yunho hanya menatap kegaduhan di depannya sambil terkekeh geli.
Jaejoong
mencoba berontak, menggigit dan menendang sampai kelelahan, dia menatap Yunho
terengah-engah dengan pandangan penuh kebencian, masih dalam cengkeraman kuat
tangan bodyguard Yunho.
Yunho
membalas tatapannya dengan senyum manis yang jahat,
“Kalau kau berjanji mau bersikap baik, mungkin aku akan menawarimu tempat yang nyaman, di sebelahku di dalam mobil.”
“Kalau kau berjanji mau bersikap baik, mungkin aku akan menawarimu tempat yang nyaman, di sebelahku di dalam mobil.”
“Mati saja kau!” sembur Jaejoong penuh
kemarahan.
Yunho terkekeh lagi,
Yunho terkekeh lagi,
“Oke, kau
yang minta.” dengan isyarat anggukan kepala Yunho memerintahkan para
bodyguardnya,
“Masukkan dia ke bagasi.”
.
.
.
.
.
To Be Continued

waa...kejam kali abang yunho ini...masa jaejoong yg semanis gulali dimasukin k bagasi...karung beras kaleee...
ReplyDeleteNani?? Bagasi? Di kira Jae koper kali yah =_=
ReplyDeleteOh hidup Jae setelah ini lebih 'ramai' pasti yah .___. .
Keluarga Jae jadi berantakan rupanya akibat Yun gitu yah , hmmm benarkah?
Saki chan... Izin baca lg ya...
ReplyDeletekayaknya seru...^^
Mirip cerita yg prnah ak bca, tp diversiin yunjae,... sma pnulisnya kah?
ReplyDelete