"Sayang sekali Mr. Jung tidak memberikan seorang anak pun. Anak bisa menjadi hiburan yang menyenangkan di saat duka."
keprihatinan yang paling
palsu yang pernah didengar Jaejoong dalam hidupnya. Andai Jaejoong tidak sedang
bergulat menahan marah, ia pasti sudah menertawai sikap yang sangat berpura-pura
itu.
"Untuk apa anak
baginya, Hwang?" Sepasang mata yang lain, yang sama dengkinya, penuh
prasangka, menatap tubuh Jaejoong. "Kan ada Yunho yang bisa menemaninya
tinggal di rumah itu dan memberikan hiburan yang dibutuhkannya.
"Oh, ya, Yunho.
Kita tidak boleh lupa, ada Yunho tinggal bersama dia."
"Selamat sore, nyonya"
sahut Jaejoong, bergegas. Ia memaksakan diri mengambil barang-barang dalam
daftar yang harus dibeli sebelum langsung pergi ke kasir dan meninggalkan tempat
itu. Penghinaan itu membuat matanya terasa
panas.
.
♥
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho
Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
♥
.
Selama Siwon hidup, tak
seorang pun berani berkata seperti itu padanya, yang mungkin karena takut pembalasan
yang akan dilakukan Siwon. Mereka harus menghormati istri Jung Siwon, seberapa
dalam pun iri hati mereka.
Ternyata, menjadi
jandanya tidak demikian situasinya. Ia kembali menjadi Kim Jaejoong dan
tampaknya stigma latar belakang kehidupan itu akan tetap melekat padanya seumur
hidup. Tak peduli betapa pun bersihnya hidup seseorang, bila ia dibesarkan dari
golongan terbuang, moralnya akan tetap diragukan.
Mengapa ia tidak
meninggalkan kota ini, yang penuh orang-orang picik dan penuh prasangka?
Untuk alasan yang sama, Yunho
juga tidak bisa meninggalkan kota ini. Akar mereka sudah tertanam terlalu
dalam. Yunho berada pada status sosial paling tinggi dalam masyarakat,
sementara dirinya paling bawah. Tetapi cintanya terhadap kota ini sama dalamnya
dengan Yunho. Menjengkelkan memang, menjadikan kota ini sebagai kota kelahiran,
tanpa ada harapan untuk bisa mengubahnya. Tidakkah orangorang itu melihat bahwa
ia mampu mengelola salah satu pabrik pabrik yang terbaik, terbesar, di daerah
sini? Tidakkah mereka memperhitungkan bahwa ia punya gelar sarjana? Atau justru
prestasi-prestasi yang dicapainya menyulut kecemburuan mereka?
Mengapa ia harus
menghukum dirinya seperti ini? Mengapa ia tidak tinggal di kota lain saja, di
tempat yang tidak tahu latar belakang hidupnya?
Jung mansion.
Sepanjang ingatannya, ia
selalu mengkhayalkan dirinya tinggal di rumah itu, di Jung mansion.
Dan kini, ketika Yunho
menuntut rumah itu adalah rumah warisannya, apa yang akan ia lakukan?
Meninggalkan kota kelahirannya? Takkan pernah kembali lagi ke kota ini?
Tidak. Ia akan mencari
rumah tinggal lain di Busan dan kembali berkhayal tinggal di rumah itu, Jung
mansion. Namun ia takkan pernah bisa meninggalkannya secara utuh.
Takkan pernah.
♥
♥Kitahara Saki♥
♥
Ia banyak berdiam diri
sepanjang makan malam. Mereka makan ayam goreng di ruang makan utama, Yunho
mengumumkan acara makan itu sebagai acara perayaan keberhasilan mendapatkan
kontrak kerja sama dengan perusahaan Kim Corp. Boa dan Sungmin ikut gembira, Jaejoong
sulit menikmati kegembiraan itu setelah menerima penghinaan halus di toserba
tadi pagi.
Ia melihat Yunho
menatapnya dengan sorot mata bertanya-tanya karena sikapnya yang lebih banyak
diam, yang terasa amat mengganggu. Selama makan malam, Jaejoong dengan susah
payah berusaha menyembunyikan stresnya.
.
.
Setelah makan malam, Jaejoong
berjalan-jalan di halaman. Cuaca malam itu sejuk lagi bersih. Angin sepoi-sepoi
di musim panas meniup dedaunan yang melayang-layang di atas kepalanya. Jaejoong
duduk di ayunan di bawah pohon besar di pojok rumah. Itulah bagian Jung mansion
yang paling disukainya. Ada suara riak air sungai yang mengalir di dekatnya.
Lumut menutupi hampir seluruh permukaan tanah di sekeliling pepohonan. Tanaman
kecil tumbuh lebat. Dengan ujung sepatunya yang hampir tidak menekan rumput
yang lembut, ia seperti orang tolol membiarkan dirinya terayun-ayun.
"Kau kenapa, Jae?"
"Kau pasti punya
bakat menjadi detektif. Kau selalu berhasil menguntitku."
"Aku ke sini bukan
hendak bicara soal bakat. Jawab pertanyaanku. Wae gurae?"
"Bagaimana kau tahu
aku di sini?"
"geunyang." Yunho
memegang tali ayunan, menghentikan gerakannya, dan mencondongkan tubuh ke arah Jaejoong.
"Katakan, brengsek, untuk terakhir kali aku bertanya, ada apa?"
Jaejoong memalingkan
muka dengan resah. "Tak ada apa-apa."
"Ada. Apa?"
"Tidak ada."
"Aku tidak akan
beranjak dari tempat ini sebelum kau menjawab pertanyaanku. Gigitan nyamuk di
sini sangat menyakitkan, apalagi setelah gelap. Jadi kau lebih suka diserang
gerombolan pengisap darah itu, atau kau ceritakan padaku apa yang mengganggu
pikiranmu? Apa yang terjadi di pabrik? Aku? Atau apa?"
"Kota ini!"
teriak Jaejoong, meledak sambil bangkit. Yunho terpaksa melepaskan pegangannya
pada tali ayunan. Ledakan kemarahan Jaejoong yang mendadak itu mendorong Yunho
menepi dan memberi jalan pada Jaejoong. Ayunan yang ditinggalkan Jaejoong
terayun-ayun. Jaejoong berjalan ke arah pohon besar, tangannya diletakkan pada
pohon, dan dahinya bersandar di sana.
"Ada apa dengan
kota ini?"
"Kota ini penuh
orang-orang picik!"
Yunho tertawa kecil.
"Kau baru tahu?"
"Tidak. Aku tahu
hal itu sejak bisa berjalan di belakang ibuku yang mendorong kereta pakaian
bersih yang harus diantarnya. Aku tahu penduduk kota ini penuh prasangka dan
suka menghakimi."
Jaejoong berbalik dan
menyandarkan bahunya pada batang pohon yang kokoh. "Hanya, kukira dengan
memiliki titel sarjana, pekerjaan bagus, nama keluarga baru, akan meningkatkan
status diriku di mata mereka, sehingga mereka tidak merendahkan aku lagi."
"Kau harusnya lebih
tahu. Kalau kau dilahirkan di sini dengan anggapan tertentu, anggapan itu akan
melekat pada dirimu selamanya."
"Arra. Aku hanya
agak melupakannya, dan hari ini aku diingatkan kembali."
"Ada apa?"
Jaejoong mengibaskan
rambut dan sambil mengerjapkan matanya yang berkaca-kaca, ia menatap Yunho,
kemudian kembali membuang pandang. "Terlalu tolol dan dangkal bila aku
kecewa karenanya."
"Kalau begitu,
ceritakan padaku supaya kita sama-sama tidak kecewa."
Sambil menarik napas, Jaejoong
menyebut dua nama yeoja yang bicara dengannya tadi.
Yunho mendengus kasar.
"Baru mendengarnya saja aku sudah tidak suka. Teruskan."
"Mereka... mereka
mengatakan betapa beruntungnya aku, yang masih punya kau setelah kematian Siwon,
bisa tinggal satu atap denganmu. Mereka memberi tekanan pada bagian kalimat
itu. Mereka bilang... yah, kau bisa menebak apa yang mereka katakan...."
"Mereka bilang kita
tinggal sebagai keluarga bukan sekadar saling menyapa. Begitu?"
Jaejoong mengangkat
kepala, menatap Yunho. "Ya."
Yunho mengumpat.
"Mereka mencurigai bisa terjadi sesuatu yang tidak pada tempatnya."
"Ya."
"Berarti, ada yang
tidak benar yang dilakukan?"
"Ya."
"Bahwa hubungan
kita bukan seperti hubungan anak tiri dengan ibu tirinya?"
Jaejoong tidak menjawab,
melainkan hanya mengangguk.
Keheningan menguasai
keduanya. Jangkrik mulai bernyanyi gembira. Kodok mengorek sedih. Keduanya
merasa tidak bisa untuk tidak saling pandang. Dada Jaejoong turun-naik karena
jantung yang berdebar cepat. Jaejoong yakin sekali, dengan melihat denyut di
dahi Yunho, bahwa jantung Yunho pun berdenyut cepat seperti jantungnya.
"Lupakan saja
ocehan para yeoja tua itu, Jae. Bergosip itu hiburan untuk mereka. Kalau bukan
menggosipkan kita, siapa lagi yang akan jadi sasaran mereka? Begitu kehangatan
berita kematian Siwon menyurut, mereka akan mencari-cari bahan gosip
mereka."
"Arra. Logikaku
mengatakan begitu. Hanya saja aku tak tahan menerima sindiran mereka yang
sangat menghina. Aku tak suka diriku dijadikan objek gosip mereka."
Mata mereka kembali
saling pandang sesaat, penuh kemesraan, sebelum dialihkan. Apa yang digosipkan
orang sebetulnya tidak sepenuhnya khayalan belaka.
"Tidak masuk akal
bila salah satu di antara kita ke luar dari rumah sebelum semua urusan hukum
selesai," kata Yunho, memberi alasan. "Bukankah hal itu justru akan
memicu orang untuk makin menggosipkan kita?"
"Kurasa begitu.
Setiap orang ingin tahu siapa yang akan keluar dari rumah ini. Mereka bilang
kau tidak suka padaku."
"Sebagai istri appaku,
maksudmu."
Jaejoong merasa lidahnya
tergigit ketika mengiakannya. "Ya."
"Mengapa mereka
mengira aku tidak senang padamu?"
"Karena latar
belakang hidupku dulu." Jaejoong mengubah posisinya. Pakaiannya tersangkut
kulit kayu pohon. "Karena perbedaan usia antara Siwon dan aku."
Ketika mata mereka
kembali bertemu pandang kali ini, tak ada halangan menghadang lagi. "Nanti
juga berlalu," bisik Yunho sambil merapatkan tubuh ke Jaejoong. "Aku
tidak akan pernah suka kau menjadi istrinya."
"Jangan, Yun."
Jaejoong ingin menjauhkan diri, tetapi jalannya terhalang pohon.
"Mengapa kau
meresahkan gosip itu, Jae?" tanya Yunho, lembut, dan makin merapatkan
tubuhnya. "Suara hatimu masih jernih, kan? Kau tahu pasti, tak ada yang
tidak beres di Jung mansion."
"Tentu saja."
Yunho terus merapatkan
tubuh. "Tak ada pelanggaran norma yang terjadi di antara kita,
bukan?"
"Ya."
"Dusta."
Kata terakhir itu
tercetus dari mulut Yunho dengan penuh kemarahan. Ibu jari Yunho menelusuri
tenggorokan Jaejoong, lalu jari-jari lainnya yang kokoh melingkari lehernya.
Dengan satu ibu jarinya, Yunho mengangkat kepala Jaejoong.
"Katakan, tak ada
daya tarik di antara kita." Sambil merintih pelan, Jaejoong memalingkan
mukanya ke samping.
Namun Yunho tak
membiarkannya membuang muka. "Ayo katakan padaku, bahwa tiap kali kau
menatapku, aku hanyalah anak tirimu. Bilang padaku kau tidak ingat apa yang
pernah terjadi di antara kita. Coba katakan kau tidak ingat lagi apa yang
terjadi waktu turun hujan hari itu. Katakan padaku kau tidak ingin aku
menciummu lagi. Bilang kau tidak pernah ingin merasakan sentuhanku lagi.
Mampukah kau mengatakan semua itu padaku, Jaejoong?"
Satu-satunya jawaban
yang diberikan Jaejoong hanya isakan.
"Itulah hal yang
ada dalam benakku," kata Yunho marah.
Bibir Yunho menutup
bibir Jaejoong. Jaejoong memukul-mukul Yunho dengan perasaan galau, tapi
akhirnya tangannya berhenti di pundak Yunho dan tak lagi menolak Yunho. Yunho
makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Jaejoong. Seperti potongan puzzle yang
didesain untuk disusun satu persatu membentuk satu gambar, begitulah bentuk
tubuh Yunho dan Jaejoong, cocok sekali. Bibir Yunho menciumi bibir Jaejoong,
menuntut bibir yeoja itu mematuhi apa yang diperintahkannya. Lidah Yunho
menjilati garis bibir Jaejoong.
"Balas ciumanku, Jae.
Kau ingin menciumku. Kau ingin menciumku juga."
Jaejoong memenuhi
permintaan itu. Sambil mendesah pasrah, Jaejoong melingkarkan tangannya pada
leher Yunho. Bibirnya terbujuk lidah Yunho. Lidah itu pun akhirnya memasuki
mulut Jaejoong tanpa perlawanan, disambut dengan hangat dan mesra. Yunho
mengelus bibir Jaejoong, berhenti sesaat, membuat letupan hasrat yang hendak
diredam Jaejoong tak kuasa lagi dilawannya.
Tanpa ampun lagi Yunho
membangkitkan hasrat Jaejoong terhadap dirinya. Ciumannya yang bertubi-tubi.
Simbol kejantanan Yunho yang ada di antara kedua paha Jaejoong memancarkan
gelombang kerinduan dalam dirinya yang tak mampu diredam Jaejoong lebih lama
lagi. Ia ingin Yunho mengisi kekosongan yang menyakitkan dirinya itu. Hanya Yunho
yang mampu mengisi kekosongan itu dan memberikan kepuasan seutuhnya.
Yunho membuka kancing
gaun Jaejoong, menyelipkan tangannya ke baliknya. Payudara Jaejoong terbungkus bra
berenda. Seluruh indra Yunho menggelora saat tangannya menyentuh payudara Jaejoong
yang penuh lagi hangat. Dibelainya bagian itu perlahan tetapi seperti punya
kekuatan menghipnotis dan merangsangnya.
Yunho mengucapkan sumpah
serapah seiring ungkapan kenikmatan yang terdengar bak lagu cinta di telinga Jaejoong.
Ia menangkap desah putus asa Yunho seperti yang dirasakan jiwanya, menanggung
rindu, terbelenggu siksa memendam hasrat yang tak mungkin dipenuhi. Yunho
mengelus renda dan satin yang menutupi payudaranya, mencari dan menyentuh
puncaknya dengan ujung jari. Sentuhan itu memberikan kenikmatan yang amat
sangat pada Jaejoong. Bagian yang peka itu memberi respons, menegang. Yunho
menenggelamkan kepalanya di antara payudara itu dan menyentuh salah satu
puncaknya dengan bibir.
Jaejoong merasakan
gelenyar ciuman itu sampai ke perutnya, bahkan mencapai bagian tubuhnya yang
jauh di bawahnya lagi. Setiap simpul saraf tubuhnya bangkit, sekaligus merintih
pedih. Jaejoong yakin, bila tidak segera menghentikan semua itu, ia akan kalah.
Jaejoong melepaskan
pelukannya pada Yunho. "Jangan, Yun, jangan," cegah Jaejoong.
Ia menutupi payudaranya
dengan kedua tangan, berusaha meredam gelombang gairah yang menggebu. "Aku
tidak bisa. Kita ridak boleh melakukannya.'
Yunho merasakan dadanya
sesak dan panas tiap kali menarik napas. Rambutnya kusut karena remasan jari-jari
Jaejoong. Matanya menatap penuh gairah, dikerjap-kerjapkan untuk menyadarkan
dirinya. "Wae? Karena appaku?"
Jaejoong menggeleng,
membuat rambutnya tergerai. "Bukan, bukan," tukas Jaejoong sedih
sambil membetulkan gaunnya.
"Karena penduduk
kota ini. Karena aku tidak ingin menjadi orang yang seperti mereka duga. Aku
tidak mau melakukan apa yang mereka bayangkan, perbuatan rendah tak bermoral. Pertama-tama
merayu Siwon, kini anaknya."
"Aku tak peduli apa
yang mereka pikirkan."
"Aku peduli!" Jaejoong
menyadari ia menangis. Air mata bercucuran membasahi pipinya.
"Seperti yang kau katakan
tadi, kita akan tetap seperti saat kita dilahirkan. Kau berdarah Winston dan Jung.
Apa pun yang kaulakukan, tetap akan dianggap pantas. Mereka tidak akan berani
mengkritikmu. Tetapi aku, aku yang datang dari golongan rendah, begitulah
diriku senantiasa di mata mereka. Aku harus peduli pada apa yang mereka
pikirkan."
Menit-menit berlalu,
mereka saling memandang.
Yunho lebih dulu
memalingkan muka sambil melontarkan makian. "Tidak bisa aku tinggal
serumah denganmu tanpa terdorong perasaan ingin bercinta denganmu."
"Arra."
"Nah, aku sudah
mengungkapkannya. Itukah yang ingin kau dengar?" teriak Yunho.
"Ani, Yun. Aku
tidak perlu mendengar pengakuanmu itu, aku sudah tahu." Ketika Yunho
berbalik dan memandangnya, Jaejoong berkata lembut, "Aku juga merasakan
hal yang sama sepertimu. Apa kau pikir tidak demikian yang kurasakan?"
Bisa saja ini hanya
dorongan hasrat sesaat, tetapi Jaejoong melihat mata Yunho berkaca-kaca.
Bibirnya bergerak-gerak, tetapi tak sepatah kata pun meluncur keluar dari
bibirnya. Kedua tangannya sebentar dikepalkan dan dilepaskan di sisi tubuhnya.
Badannya berdiri tegak menahan emosi. Kelihatannya ia hampir tak mampu
menahannya lebih lama lagi.
Jaejoong menyeka air
mata di pipinya. "Kau mengerti mengapa aku tidak bisa bersamamu, Yunho?
Apa yang mereka katakan benar. Aku sangat menginginkanmu. Namun, seperti kau
tidak bisa melupakannya, begitu juga mereka. Aku ini istri Siwon."
Yunho berbalik,
membelakangi Jaejoong beberapa menit lamanya. Ketika ia membalikkan tubuhnya
kembali menghadap Jaejoong, air mukanya sudah berubah, kelihatan keras. "Apa
yang akan kau lakukan setelah pembacaan surat wasiat?"
Jaejoong tidak
menyembunyikan air matanya lagi. "Satu-satunya hal yang dapat kulakukan,
apa yang kutahu harus kulakukan. Aku harus meninggalkan rumah ini."
Yunho mengangguk
seketika, kemudian berbalik dan berjalan ke arah hutan.
Jaejoong duduk di bangku
ayunan sambil menutup muka. Ia menangis tersedu-sedu. Tak satu pun dari mereka
melihat bayangan yang melintas di antara pepohonan, yang menjauh dari tempat
itu.
.
.
.
To Be Continued

gosip emank setajam silet..
ReplyDeletekl tdk kuat pasti akan terluka sendiri.. yunjae ftw!!
kasihan yunjae T.T
ReplyDeleteJaejung-ah~ harus bertahan demi yunho!
ReplyDeleteJaejoong sama Yunho sama sama memiliki sifat keras.
Kalau Yunho pada emosi, Jaejoong padasifat
Itu mulut orang-orang minta di jahit
ReplyDelete